"Tok Aba, kalau Boboiboy bisa terus pecah tujuh begini bukankah pahalanya pun akan semakin banyak?"

Tok Aba menatap satu per satu pecahan cucunya itu. Baju mereka pun ternyata sesuai dengan warna baju mereka setiap berpecah untuk bertarung. Sepertinya Boboiboy sudah memikirkan ini sejak jauh hari. Senyum Tok Aba mengembang, beliau mengusap kepala para Boboiboy bergiliran.

"Biarlah itu menjadi urusan Allah, Boboiboy."

o

o

o

Boboiboy milik Animonsta Studio

Fanfiksi Islami spesial Ramadan dari Lio

happy reading~

o

o

o

Blaze yang sudah yakin sekali tanggal satu Ramadhan akan jatuh pada esok hari, sudah lebih dulu menyiapkan delapan sejadah dan delapan sarung di ruang keluarga. Meski akhirnya, dia tetap berusaha sabar menunggu pengumuman dari Kementrian Agama.

Ada 7 remaja berwajah sama, juga Tok Aba yang ikut menyaksikan keputusan itu. Tok Aba duduk di kursi, sementara tujuh orang lagi duduk di atas karpet. Awalnya, Tok Aba sempat sedih karena mendapat kabar bahwa Amato tidak bisa pulang sekarang. Sedih karena akan kembali menjalani puasa Ramadan hanya berdua dengan cucunya saja. Namun, ternyata Boboiboy memiliki rencana.

"Horeeee!!! Tarawih~"

Blaze, yang baru saja berseru itu langsung berdiri dengan semangat sampai pecinya hampir terlepas. Taufan ikut bangkit sama girangnya.

"Yuhuuu! Kita berburu takjil! Hahaha ...!"

"Kalian berisik!"

"Hati-hati semua!" Solar berseru panik sambil buru-buru menekan tubuh Duri agar tiarap.

Semua, kecuali Blaze dan Taufan merunduk. Pasalnya, karena terlalu semangat, Blaze memutar-mutar sejadahnya seolah baling-baling helikopter. Taufan sendiri, yang kelewat senang pun tanpa sadar mengeluarkan kekuatan sehingga beberapa barang ringan seperti bantal duduk, tumpukan sejadah dan cemilan di atas meja terhempas tidak teratur.

"Hati-hati, Blaze!"

"Hei, Taufan! Berhenti!"

Gempa kebingungan sendiri melihat kekacauan tiba-tiba ini.

"Tanah pencekam!"

"Akar pengikat!"

Bruk!

"ADUH! TURUN KAU DARI TUBUHKU!"

Terjadi gempa lokal di rumah Tok Aba karena Gempa menggunakan kekuatan untuk menahan Taufan. Duri pun ikut membantu dengan mengikat tubuh Blaze yang sudah hampir mengeluarkan api. Suhu di dalam rumah pun sudah terasa naik. Namun, pendaratan Blaze tidak mulus. Dia jatuh menimpa tubuh Ice yang tengah nyaman tertidur di atas gelembung air hingga keduanya terguling ke lantai dengan Ice yang ada di bawah.

"Nah, jadi berantakan rumah Atok." Tok Aba berkacak pinggang dengan wajah kesal.

"Ehehehe ... maaf, Tok."

"Sudahlah, biarkan dulu. Kita pergi ke masjid sekarang. Nanti tertinggal pula."

Pagi tadi, Bobiboy dan Yaya diantar pulang untuk cuti selama bulan Ramadan. Hanya mereka berdua, sisanya tetap di markas dan tetap menjalankan misi. Seperti cuti sebelumnya, kali ini pun mereka disambut masing-masing keluarga. Yaya terlihat begitu bahagia sampai tidak sadar memeluk ibunya sangat erat hingga sedikit terangkat karena kekuatannya. Boboiboy tertawa melihatnya. Ia pun berjalan perlahan menghampiri Tok Aba dan memberi salam dengan hormat.

Tidak langsung beristirahat, Boboiboy langsung berpecah tujuh dan membagi tugas. Sebagian membantu di kedai, sebagian lagi sibuk menata ulang interior, merenovasi sedikit, dan mengecat ulang rumah tua milik Tok Aba. Kemudian malam ini, semua lelah siang itu menjadi sia-sia belaka karena dua orang hiperaktif di antara mereka.

o

o

o

"Ice, ayo semangat. Tarawih hanya ada di bulan Ramadhan, lho. Kamu yakin mau tidur?"

Gempa yang berada satu saf dengan Ice berusaha menjaga pecahan tukang tidur itu untuk tetap melanjutkan ibadah salat tarawih. Beberapa kali dia menyaksikan Ice yang menguap, bahkan oleng ketika berdiri.

Hanya Halilintar dan Solar yang tetap mengikuti tarawih dengan tenang. Taufan dan Blaze terdengar cekikikan di belakang. Beberapa kali terasa angin hangat berembus dari arah mereka berada. Duri pun terkena imbas harus mengulang salatnya karena tidak tahan dengan tingkah dua pecahan paling aktif itu yang membuatnya sulit menahan tawa.

Ketika salam kedua, Gempa melihat Halilintar keluar dari saf menuju ke belakang. Sepertinya pecahan paling waras dan lembut itu tahu apa yang akan terjadi.

BZZZZT!

BZZZZT!

Gempa mendengar suara sengatan itu, tapi kenapa tidak ada teriakan, ya? Lalu, yang Gempa temukan setelah salam berikutnya adalah Taufan, Blaze, dan Duri berdiri tenang di saf berbeda—dengan sedikit asap mengepul dari tubuh dua orang pertama.

o

o

o

Selesai tarawih, Tok Aba, juga tentunya Boboiboy—yang sudah bersatu lagi, tetap di sana. Ikut mendengarkan ceramah oleh orang yang sama yang mengimami mereka salat.

"Di waktu sahur, Allah dan para malaikat bershalawat kepada orang yang makan sahur. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad, dari Abu Sa'id Al Khudri, Nabi Muhammad SAW bersabda yang artinya makan sahur adalah makan penuh berkah. Janganlah kalian meninggalkannya walau dengan seteguk air karena Allah dan malaikat-Nya bershalawat kepada orang yang makan sahur."

Boboiboy mengangguk-angguk pelan, mulai memahami alasan di Ramadan tahun-tahun sebelumnya Tok Aba dan juga orangtuanya selalu bersikeras membangunkan dia setiap sahur. Meski saat itu Boboiboy yakin ia mampu berpuasa tanpa sahur sekalipun, mereka tidak pernah membiarkannya melewatkan makan sahur.

"Waktu sahur pun bertepatan dengan sepertiga malam yang terakhir, yang paling utama. Tempat dimana doa kita mustajab...."

Konsentrasi Boboiboy terpecah ketika mendengar bunyi-bunyi kembang api bersahutan di luar. Karena misi-misi yang ia jalani itu, otaknya menjadi selalu waspada setiap kali mendengar ledakan.

Tok Aba tersenyum melihat reaksi Boboiboy beberapa saat yang lalu. Pria itu mendekatkan bibirnya dan berbisik yakin, "Semuanya aman, Nak."

Ini ramadan pertamanya sejak resmi menjadi anggota TAPOPS. Komandan Koko Ci menjamin keamanan bumi selama sebulan penuh dengan mengaktifkan kekuatan power sphera Halimunan sekaligus kuasa penembus milik Fang yang sudah di-upgrade. Entah seluas apa kekuatan itu mampu menyembunyikan bumi dari alien jahat di luar angkasa. Yang pasti, Koko Ci tidak akan mengganggu mereka selama bulan yang paling suci dalam agama Boboiboy ini.

o

o

o

"Boboiboy kuasa tujuh!"

Boboiboy yang masih mengenakan piyama kini telah berpecah dan menjadi orang yang terlihat layaknya kembar tujuh.

Tujuh orang wajah serupa dengan warna mata berbeda.

"Whoa ... kalaulah Boboiboy bisa ikut keluar sebagai pecahan ke delapan, aku akan menyuruhnya agar kalian melepas pakaian. Cukup ini untuk dia tidur tujuh hari ke depan!"

"Benar juga! Jom kita lepas baju ini!"

"Jangan bercanda!"

Tiga seruan itu berasal dari Taufan dan Blaze yang berbinar dengan ide mereka, yang kemudian disambut oleh Halilintar dengan ketus. Solar tidak setuju dan tidak peduli rencana dua pecahan paling ceria di antara mereka. Ia pun langsung keluar dari kamar Boboiboy dengan menarik Duri bersamanya. Bisa-bisa pecahan serba hijau itu pun akan ikut melaksanakan ide aneh dua orang itu.

"Sudahlah, Halilintar. Simpan tenaga kamu untuk pertarungan saja. Kita berpecah kali ini 'kan untuk mencari berkah dan pahala bulan Ramadan sebanyak-banyaknya." Gempa langsung menarik Halilintar yang baru saja akan mengeluarkan pedangnya dengan marah karena Taufan dan Blaze terus-terusan mendebatnya.

Enam orang itu tidak menyadari salah satu pecahan mereka yang paling malas telah menyelimuti dirinya di atas kasur dan melanjutkan tidur.

"Empat, lima, enam," gumam Duri kebingungan sesaat setelah ia ikut bergabung di meja makan. Dia bahkan mengulang lagi sampai tiga kali menghitung. "Kurang satu, Tok Aba!" lapornya segera.

"Halilintar, Taufan, Gempa, Blaze, I—Ice tidak ada!"

Seperti komando, tiga pecahan terawal melesat kembali ke kamar dengan kekuatan masing-masing, kecuali Gempa tentunya. Bisa gawat kalau dia mengeluarkan kekuatannya.

Halilintar yang lebih dulu sampai di depan kasur. Disusul Taufan yang melompat dari hoverboard, lalu Gempa.

"Ice, bangun! Kau tidak ingat rencana Boboiboy?" Halilintar mengguncang pecahan berwarna biru itu agak kasar. Ice sendiri masih tidak bergerak.

"Ish! Janganlah kasar-kasar. Kasihan dia."

"Dia nggak akan bangun kalau kita lembut-lembut!"

Pedang petir berwarna merah muncul seketika di tangan kanan Halilintar. Gempa segera menengahi sebelum terjadi pertarungan yang tidak diinginkan.

"Golem-golem tanah!"

Raksasa tanah— tidak, tumpukan tanah abstrak berbentuk robot seukuran mereka muncul. Ada dua, satu merebut pedang milik Halilintar, satu lagi mengangkat Ice.

Tidak seperti Halilintar yang wajahnya memerah dan lekas memuang muka, Taufan menatap berbinar dua golem mini yang Gempa keluarkan.

"Lucu banget, Gempa!" Taufan langsung saja melompat untuk mencubit pipi salah satunya dengan gemas.

BZZZT!

"AAAH!!!"

Namun, Taufan salah memilih. Golem yang tengah memegang pedang merahlah yang menjadi sasaran kegemasannya. Bisa dipastikan Taufan berakhir gosong tersengat karena responnya dianggap serangan.

"Eh, Taufan! Kamu baik-baik saja?" Gempa lekas menghampiri Taufan yang wajahnya gosong dengan rambut mencuat beberapa helai.

"HUWAAA!!!"

"Semua kekuatan memang di-setting untuk bertarung dan mempertahankan diri. Termasuk Golem milikmu itu, Gempa."

Halilintarlah yang baru saja bersuara. Pecahan dominan hitam itu tampak menahan tawa ketika menyaksikan gabungan kekuatan antara dirinya dengan Gempa tanpa sengaja.

"Taufan jangan nangis ih, udah besar juga."

Gempa sibuk mengelap wajah Taufan yang sudah basah oleh air mata dan ingusnya sendiri. Bahkan Gempa sulit membedakan mana air dan mana ingus.

Taufan mundur dan segera memekik marah, "Kalau iya pun lepaslah sarung tangan batu kamu dulu, Gempaaa! Huweeee!"

Ah, ya. Gempa baru sadar ketika mengeluarkan Golem tadi secara otomatis kedua tangannya diselimuti batu-batu sejenis dengan makhluk itu.

o

o

o

Karena banyak berdebat tidak penting ketika berniat membangunkan Ice, padahal Ice sudah langsung berhasil dibawa salah satu Golem milik Gempa, tiga pecahan pertama itu makan menjelang imsak. Agak terburu-buru karena takut terlambat.

Meski acara makan sahur telah selesai, tidak ada yang pergi dari ruang makan. Semuanya tetap di tempat, menunggu ketiga orang yang terlambat itu selesai makan.

"Nah, kalian baru dengar semalam tentang makanan yang berkah di waktu sahur, kalian yang makan sahur pun didoakan para malaikat, kemudian kalau berdoa insyaallah akan Allah kabulkan. Maka dari itu meskipun dihukumi sunnah, ayo tetap kita kerjakan. Lagipula, dengan makan sahur kita jadi lebih siap dan kuat beraktivitas meski sedang berpuasa di siang harinya."

Tok Aba tersenyum menatap satu per satu anggota keluarganya.

"Baik, Tok," jawab para Boboiboy bersamaan. Ketujuh wajah itu menampilkan senyum terbaik masing-masing.

"Melihat apa yang kita dapatkan dari ibadah sunnah ini, apa kamu yakin mau melewatkan kesempatan? Ini bulan Ramadan. Bulan dimana semua pahala dilipatgandakan."

o

o

o

Usai salat subuh berjamaah di masjid, Tok Aba segera bersiap untuk belanja. Meski kedai akan buka menjelang sore nanti, tidak ada salahnya jika menyiapkan semua alat dan bahan sejak pagi.

Boboiboy pun memutuskan untuk tetap berpecah sampai selesai membereskan kekacauan yang diperbuat Taufan dan Blaze semalam. Sempat terjadi kekacauan lagi ketika dua pecahan itu bertemu saat akan mencuci. Taufan yang mencuci piring dan Blaze mencuci baju. Mereka bermain gelembung sabun sampai membuat lantai dapur licin dan Halilintar yang akan mengambil perkakas tergelincir di sana. Bisa dibayangkan apa yang terjadi kepada dua orang itu.

o

o

o

"Jadi bagaimana, Boboiboy? Masih mau berpecah?"

Boboiboy yang tengah membantu meracik pesanan pelanggan menoleh kikuk. Saat ini, remaja bertopi terbalik itu sudah kembali bersatu. Baru di malam pertama ramadan sampai pagi, total sudah tiga kekacauan yang terjadi. Dia jadi malu sendiri mengingatnya. Niat hati ingin pahala semakin berlipat, malah diikuti dengan kekacauan berlipat pula.

"Ah itu ... ehehehe ..."

Boboiboy hanya menggaruk kepalanya yang terututup topi dan tertawa garing.

"Tidak apa-apa. Tapi, jangan memaksakan diri, ya."

"Baik, Tok."

Tok Aba memang berencana buka kedai menjelang sore, tapi ternyata mereka lupa semakin lama penduduk Pulau Rintis semakin banyak dan berasal dari berbagai agama pula. Tidak semua di antara mereka ikut berpuasa. Bahkan ada yang tidak tahu sudah masuk bulan Ramadan dan sudah berkumpul di taman untuk sekadar bersantai sambil ngemil di kedai cokelat milik Tok Aba sejak pagi.

Hari semakin siang, matahari pun semakin terasa meyengat. Boboiboy mulai merasakan perutnya kosong. Aneh, padahal secara harfiah dengan berpecah berarti ia makan tujuh porsi saat sahur tadi. Tapi energinya terkalahkan oleh Tok Aba yang terlihat masih saja segar dan bersemangat.

"Atok ... Atok tidak lapar, 'kah?"

Kedua mata Boboiboy tidak lepas memandang orang-orang yang makan dengan santainya di kursi mereka. Melihat gelas-gelas es cokelat yang mengembun dan tampak segar seketika membuat perutnya seketika meronta.

Tok Aba menatap sekilas Boboiboy. Mengerti apa yang mungkin sedang dipikirkan cucu satu-satunya itu.

"Tidak apa, Boboiboy. Semoga menjadi tambahan pahala untuk kita, ya."


assalamualaikum, teman-teman.

marhaban yaa Ramadan. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan

The First di sini, untuk hari pertama bulan Ramadan, sekaligus menjadi Ramadan yang pertama buat Lio. Risetnya pun masih banyak yang kurang. tapi Lio coba buat berbagi apa yang udah Lio tahu. mohon bantuannya, ya.

Ramadan pertama buat Lio. Risetnya pun masih banyak kurangnya. tapi Lio coba buat berbagi apa yang udah Lio tahu. mohon bantuannya.