Chapter 2: Don't Mess With a Malfoy
Dengan kepalanya yang berada di atas meja, Draco menghela napas untuk yang kesepuluh kalinya hari ini. Ia bahkan tidak memiliki niat untuk keluar dari kelas meskipun kuliahnya telah berakhir. Kedua temannya, Blaise dan Theodore saling bertukar pandang, bingung dengan tingkah pemuda Malfoy itu.
"What's wrong?" tanya Blaise setelah mengambil tempat duduk di samping Draco.
Draco kembali menghela napas sebelum menjawab. Ia masih belum mengangkat kepalanya. "I slept with him," desah Draco terdengar frustrasi.
Baik Theodore maupun Blaise mengerutkan kening bingung. Ini bukan pertama kalinya Draco melakukan one night stand. Tapi kenapa pemuda itu terlihat seperti baru saja melakukan tindak kriminal?
"Dan apa yang terjadi sampai kau terlihat kusut begini?" tanya Theodore penasaran. "Apa dia orang yang tidak kau suka?"
Draco akhirnya mengangkat kepalanya. Ia berpikir lama sebelum menjawab. "Well, sebenarnya dia orang yang kusuka."
Blaise dan Theodore saling bertukar pandang, tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Mendapati Draco bicara tentang orang yang disukainya adalah hal yang baru bagi mereka. Jangankan untuk tahu siapa orang yang disukai Draco, mendengar pemuda itu tertarik pada seseorang saja sudah merupakan kejadian langka. Tidak salah jika keduanya menatap Draco penuh dengan pertanyaan.
"Lalu, bukankah seharusnya kau senang?" tanya Blaise. "Kau tidur dengan orang yang kau suka. Atau, malah dia yang tidak suka padamu?"
Draco hanya diam, sama sekali tidak membalas. Ia hanya merasa tidak pantas menceritakan yang sebenarnya. Sekali pun Blaise dan Theodore adalah temannya, tetap saja Draco tidak bisa mengatakan bahwa ia tidur dengan orang yang sudah memiliki pacar.
Berdiri, Draco akhirnya mengajak kedua temannya itu untuk keluar. Theodore dan Blaise pun tidak banyak bertanya lagi. Bagi mereka Draco yang sudah membicarakan sedikit masalahnya sudah merupakan keajaiban. Ketiganya pun segera keluar kelas dan pergi menuju kantin.
"Kalian mau apa? Biar aku saja yang pergi," Theodore menawarkan diri. Ia mendengar permintaan kedua temannya dan segera pergi mengambil makanan.
Sementara itu, Draco dan Blaise segera pergi mencari tempat untuk mereka bertiga. Mendapatkan satu meja yang kosong, keduanya pun segera duduk dan menunggu hingga Theodore kembali. Namun baru beberapa menit Draco duduk, ia sudah merasa ingin pergi lagi. Alasannya tidak lain karena manik kelabunya tidak sengaja menangkap sosok pemuda yang memenuhi pikirannya sejak kemarin.
Dengan canggung, Draco memalingkan wajahnya saat Harry menoleh padanya. Draco mencoba untuk melirik dan mendapati Harry menatapnya datar dan kemudian segera berpaling. Saat itulah Draco menyadari jika Harry tidak sendirian. Pacarnya, Cedric, juga bersamanya.
"Kau kenapa?" tanya Blaise yang menyadari bahwa Draco bertingkah aneh.
Draco menggeleng, dia mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Meski begitu, Draco masih saja curi-curi pandang ke arah pasangan kekasih itu. Melihat Harry yang terus tersenyum saat berbicara dengan Cedric anehnya membuat Draco kesal.
Draco bahkan masih belum mau mengalihkan perhatiannya saat Theodore datang dengan makanan mereka. Setiap kali Draco menyuap makanannya, dia akan melirik sekilas pada Harry.
Ketika Harry tiba-tiba berdiri dan pergi dari meja, saat itu juga Draco memutuskan untuk mengikutinya. Dia sama sekali tidak menjawab pertanyaan kedua temannya saat ia sudah berdiri dari tempatnya.
Harry ternyata hanya pergi ke toilet. Saat ia sedang mencuci tangan di wastafel, saat itu juga Draco masuk dan berdiri di sampingnya. Dia menggunakan wastafel di samping Harry, tapi dia sama sekali tidak menoleh apalagi menyapa Harry.
Kening Harry sampai berkerut melihat Draco yang berada di sampingnya. Setelah selesai mencuci tangan, Harry pun masih memperhatikan Draco. "Kau mengikutiku?"
Pertanyaan tiba-tiba dari Harry membuat Draco menoleh. "Apa maksudmu?" Draco balik bertanya dengan nada tidak peduli.
Harry menghela napas dan melipat tangannya di dada. "Jangan berpura-pura bodoh. Sudah jelas kau mengikutiku."
Draco mengedikkan bahu dan menatap Harry malas. "Baiklah kalau kau menganggapnya begitu."
Kedua mata Harry menatap Draco tajam. Ia jelas sangat tidak suka dengan nada bicara dan sikap Draco. "What do you want? Bukankah kita sepakat untuk tidak membahas apa yang terjadi malam itu?"
Kening Draco berkerut mendengar perkataan Harry. "Dan aku sama sekali tidak membahas hal itu. Kau yang membawa-bawa topik itu sekarang."
"Aku tidak akan mengungkitnya kalau kau tidak menggangguku."
"Dan kenapa aku mengganggumu? Ini bahkan pertama kalinya aku melihatmu sejak malam itu."
Harry terdiam. Memang benar kalau Draco sama sekali tidak mengganggunya karena mereka belum bertemu lagi sejak malam itu. Tapi Harry sudah merasa jika Draco sangat mengganggu hidupnya tanpa harus memperlihatkan keberadaannya.
Karena Harry hanya diam saja, Draco kembali bicara. "Kenapa kau berpikir aku mengikutimu dan membicarakan tentang apa yang terjadi malam itu?"
"Karena kau adalah seorang bajingan yang bersenang-senang dengan orang lain tanpa peduli pada mereka, karena kau selalu merasa lebih baik dari semua orang yang kautiduri."
Jawaban yang meluncur mulus dari mulut Harry seketika mengubah raut wajah Draco. Kedua manik biru yang dingin itu menatap Harry dengan serius. Wajahnya sama sekali tidak terlihat marah, tapi aura yang dikeluarkannya seolah menyuruh semua orang untuk tunduk di hadapannya.
"Kau mengatakan aku apa?" Suara Draco terdengar lebih rendah dari sebelumnya. Suara yang begitu rendah yang membuat bulu kuduk merinding ketika mendengarnya.
Harry menelan ludah. Bohong kalau ia bilang dirinya tidak gugup. Harry mencoba sebisa mungkin untuk tetap tenang dan tidak terintimidasi dengan tatapan Draco. "Kau, Tuan Muda Malfoy. Orang beruntung yang sudah mendapatkan semuanya sejak kau lahir. Kau hanya perlu mengatakannya, dan kau bisa mendapatkannya. Bahkan jika kau tidak mau repot-repot sekolah, kau sudah bisa mendapatkan pekerjaan di bawah tangan ayahmu. Ah, dan kau bahkan tidak perlu bekerja karena apa yang kau miliki sekarang sudah cukup untuk menghidupi hingga hari tuamu. Yah, sederhananya sih, kau orang menyebalkan yang sudah mendapatkan semuanya bahkan sebelum kau lahir."
Draco mendengus dan tertawa. "Kau bicara tentang aku atau dirimu sendiri?" Draco menunjuk Harry. "Putra tunggal keluarga Potter yang diterima di universitas ayahnya. Apa kau bisa membuktikan kalau kau mendapatkan kursi di sini karena usahamu sendiri?"
Harry mengepalkan tinjunya. Ia berusaha agar tidak melepaskan pukulan pada wajah Draco.
Sudut bibir Draco terangkat. Ia merasa sudah menang melihat wajah Harry yang sudah merah karena marah. "Jangan bicara sembarangan kalau kau tidak tahu dengan siapa kau bicara, Potter. Seorang bajingan sepertiku memang selalu mendapatkan apa yang aku mau. Tapi aku selalu tahu batasanku. Dan jangan pernah mengujiku. Karena saat aku sudah bertekad, setinggi apa pun batasan itu pasti akan aku hancurkan."
Harry sama sekali tidak mengalihkan pandangannya ketika Draco terus saja mendekat. Ia bahkan tidak mendorong Draco menjauh saat pemuda Malfoy itu mulai menunduk dan terus mendekati wajahnya. Tidak perlu waktu lama, hingga bibir mereka kemudian saling bertemu.
Harry bisa merasakan kedua tangan Draco berada di pinggangnya. Ia pun ditarik paksa oleh Draco sehingga mereka semakin menempel. Ciuman mereka pun sama saja. Lidah keduanya saling mendorong dan menarik, tidak ada yang mau kalah. Kepala mereka terus berpindah dari kiri ke kanan mencari posisi terbaik agar ciuman mereka bisa lebih dalam lagi.
Harry sedikit mengerang saat Draco tanpa sengaja menggigit bibir bawahnya. Ia mencoba untuk mendorong Draco. Tapi semua yang dilakukannya sia-sia. Harry bahkan tidak bisa membuat jarak satu senti pun dari Draco. Ia pada akhirnya hanya bisa membiarkan Draco melumat habis bibirnya.
Ciuman itu berlangsung terlalu lama hingga Harry harus memukul Draco berkali-kali agar Draco melepaskannya.
"Bastard..." Harry mengusap sudut bibirnya yang basah karena saliva mereka yang telah tercampur. Harry kemudian menatap Draco tajam seolah ingin membunuhnya.
Di depannya, Draco sama sekali tidak mengatakan apa-apa dan masih tetap dengan raut wajah datarnya. Dia benar-benar tidak terlihat peduli pada Harry.
Setelah mengatakan kata-kata kasar lainnya pada Draco, Harry merapikan dirinya yang terlihat cukup berantakan dan akhirnya pergi. Ia keluar dari toilet dan meninggalkan Draco yang masih diam di tempatnya. Harry tidak mau menoleh sama sekali ke belakang hanya untuk memastikan kalau Draco mengikutinya atau tidak. Yang dia inginkan hanyalah pergi dari sana secepatnya. Menjauh dari Draco sebelum ia kehilangan akal sehat seperti apa yang dilakukannya malam itu.
Sembari berlari, Harry terus mengusap bibirnya. Ia sampai berhenti sebentar untuk melihat di layar ponselnya. Harry harus memastikan kalau dia tidak terlihat seperti orang yang baru saja ciuman di depan pacarnya.
Setelah memastikan kalau dirinya terlihat baik-baik saja, Harry segera menghampiri Cedric yang masih duduk di tempatnya. "Sorry, aku terlalu lama di toilet."
Cedric meletakkan ponselnya setelah Harry datang. "Tidak apa-apa."
Harry mengetuk-ngetuk meja dengan gelisah. Ia sekali lagi melirik sekeliling untuk memastikan bahwa Draco tidak ada di sekitarnya.
"Harry, ada apa?" tanya Cedric bingung.
Harry menggeleng. "Tidak, bukan apa-apa," jawabnya sambil tersenyum. "Er, Cedric, bisakah kita pindah? Aku ingin makan siang di cafe yang kemarin."
"Hm, baiklah kalau begitu," kata Cedric dan kemudian berdiri setelah Harry lebih dahulu berdiri. Ia pun hanya bisa mengikuti Harry dengan bingung karena kekasihnya itu tampak begitu gelisah dan begitu terburu-buru seolah sedang kabur dari seseorang.
Sementara itu, Draco masih belum keluar dari toilet. Ia tetap di tempatnya bahkan setelah Harry pergi. Draco kemudian memukul dinding di sampingnya dengan raut wajah yang sama.
Berbalik, Draco akhirnya berjalan menuju wastafel dan melihat pantulan dirinya di cermin. Dia tiba-tiba tertawa. Ia menertawai dirinya sendiri.
"Aku benar-benar sudah gila." Draco kemudian berhenti tertawa. "Dia punya pacar, bodoh. Meskipun kau menyukainya, tapi kau tetaplah seorang bajingan jika merebutnya begitu saja." Entah pada siapa Draco bicara. Sepertinya pada dirinya sendiri.
Menyentuh bibirnya sekilas, sebuah senyum kemudian muncul di wajah Draco. "But well, jika kesempatan itu datang, aku tidak boleh menyia-nyiakannya begitu saja, kan?"
Draco kemudian segera keluar dari toilet dengan seringai di wajahnya. Ia terlihat seolah pergi menuju panggung yang sudah ia siapkan dan ia akan segera bermain di sana. Ia hanya perlu menunggu hingga lawan mainnya ikut bergabung dan ia sudah mempersiapkan akhir yang bagus untuk mereka. Ingat, seorang Malfoy tidak akan melewati batas. Tapi jika ia begitu menginginkannya, tidak ada yang tidak bisa ia dapatkan.
.
.
TBC
.
.
.
.
A/N
Aku gak janji bakal up tiap Sabtu-Minggu, tapi aku bakal usahain buat up tiap 2 kali seminggu:)
