"Kalian dari mana saja?" tanya Trevor berpura-pura ketika melihat Theo dan Sakura yang keluar dari rumah.
"Kaukan tau bagaimana tingkah anak ini jika sudah mengusik barang-barang koleksiku." ucap Theo menatap Sakura yang berada disampingnya.
"Hei.. Kau seakan mengatakan pada mereka aku pengacau." ucap Sakura cemberut.
"Bukannya memang begitu?" ucap Theo tersenyum.
"Hoo.. Sepertinya kau berhasil menjarah koleksi Theo lagi." ucap Sky melihat kaca mata hitam dan topi yang dipakai Sakura.
"Kalian taukan aku tidak bisa berkata tidak padanya." ucap Theo santai sedangkan Sakura hanya tertawa kecil.
"Terlihat cocok padamu." puji Sasuke.
"Terima kasih." ucap Sakura bangga.
"Jaga barang-barang itu dengan baik, paham?" ucap Theo mengusap kepala Sakura, seperti berbicara dengan anak kecil.
"Aku tau." gerutu Sakura.
"Jangan cemberut begitu. Aku lebih suka melihat senyummu." ucap Theo mengusap kepala Sakura.
"Oo.. Aku tidak tau kau juga mengoleksi permen jelly Theo." ucap Sky melihat jar berisi permen jelly yang Sakura pegang.
"Hei.. Diakan selalu menyetok permen jelly kalau tau Sakura akan berkunjung." ucap Trevor yang memang saat itu menemani Theo pergi membeli beberapa jenis permen jelly itu.
"Theo memang selalu all out jika ada Sakura. Lihat itu, seharian ini dia selalu tersenyum. Hal yang tidak akan pernah ia lakukan jika sedang bekerja." komentar Trevor.
"Hanya Sakura yang bisa mencairkan kulkas 100 pintu ini." canda Sky lagi.
"Yang seperti ini kulkas 100 pintu?" tanya Sakura sambil memainkan pipi Theo.
"Lihat.. Dia benar-benar rusak." ucap Trevor ngeri melihat Theo yang malah tersenyum dan balas memainkan pipi Sakura.
Keenamnya menghabiskan malam dengan bercanda ringan dan membahas beberapa hal yang harus mereka lakukan besok. Berbagi cerita dan pengalaman masing-masing.
"Theo.." panggil Trevor memberikan kode pada Theo yang hanya tersenyum menanggapi kode itu.
"Aku tau." ucap Theo melirik Sakura yang bersandar disampingnya itu, jar permen itu saja masih Sakura peluk.
"Bawalah dia kedalam, angin malam tidak baik untuknya." saran Sky.
"Aku tau.. Aku kedalam dulu." ucap Theo mengambil jar permen itu dan memberikannnya pada Trevor sebelum menggendong Sakura, merebahkan gadis itu di sofa letter L diruang tamu itu. Dia berniat membereskan kamarnya sedikit sebelum membiarkan Sakura beristirahat disana. "Sakura.. Tunggu disini dulu ya. Aku mau merapikan kasurku dulu." bisik Theo saat merebahkan Sakura di sofa itu.
"Un.." gumam Sakura dengan anggukan kecil sambil berusaha meraih pistol yang masih melekat dipinggang belakangnya itu, membuatnya tidak nyaman.
"Aku letakkan disini ok." ucap Theo yang membantu Sakura mengambil pistolnya itu dan meletakkanya dibawah bantal, seperti kebiasaan Sakura.
"Aku ingin mengambil air. Apakah ada yang mau?" tanya Sasuke menatap keempatnya bergantian.
"Bisakah kau bawakan jus yang ada dikulkas?" tanya Trevor.
"Bukankah kau sudah banyak minum minuman manis hari ini?" tanya Sky tidak percaya.
"Hei.. Sekali-kali tidak apa-apa." ucap Trevor membela diri.
"Terserahmu saja." ucap Sky menyerah secepat itu.
"Baiklah.. 3 botol air mineral dan 1 botol jus benar?" ucap Sasuke memastikan.
"Butuh bantuan?" tanya Juugo mamastikan.
"Tidak.. Aku bisa mengambilnya kalian bersenang-senang saja." ucap Sasuke dengan nada sarkas.
"Okk.. Kami akan bersenang-senang." goda Trevor.
"Apa yang terjadi dengannya?" gumam Sasuke melihat Sakura yang tertidur dalam keadaan gelisah dan nafasnya terdengar berat saat ia ingin pergi kedapur mengambil minuman.
"Tu.. Tunggu!" teriak Theo menyadari Sasuke berniat membangunkan Sakura.
"Hah?!" Sakura tiba-tiba terbangun dan mengarahkan pistol yang ia simpan dibawah bantal kearah Sasuke.
"Sakura berhenti.. Tenanglah.." Theo dengan cepat memeluk Sakura dari belakang dan sebelah tangannya menahan tangan Sakura yang memegang pistol.
"Th.. Theo.." Sakura tersadar dengan apa yang ia lakukan segera menurunkan pistolnya.
"Ssttt.. Tenanglah.. tidak apa-apa." ucap Theo memeluk Sakura erat, mengambil pistol ditangan Sakura perlahan, menenangkan gadis itu.
"Hah.. Hah.." Sakura memeluk erat Theo berusaha melupakan mimpinya.
"Tidak apa-apa Sakura.. Itu hanya mimpi." ucap Theo menenangkan, mengusap pelan punggung Sakura.
"Theo.. Kenapa mimpi itu kembali?" ucap Sakura parau menahan air matanya.
"Kau terlalu lelah hari ini Sakura.. Tidurlah lagi." ucap Theo menenangkan.
"Tidak.. Aku sudah tidak bisa tidur." tolak Sakura.
"Aku akan menemanimu sampai kau tidur." bujuk Theo lagi.
"Sungguh?" tanya Sakura ragu.
"Aku berjanji." ucap Theo lagi. Sakurapun luluh dan mengangguk pelan. Melihat itu segera Theo menggendong Sakura menuju kamarnya.
"Apakah kau butuh bantuan?" tanya Sasuke mengikuti dari belakang.
"Aa.. Bisakah kau bantu aku membukakan pintu?" tanya Theo.
"Tentu." jawab Sasuke yang langsung membantu membukakan pintu kamar Theo itu.
"Sakura.. Gantilah dulu pakaianmu." saran Theo, mengusap lembut punggung Sakura.
"Tidak.." gumam Sakura yang sudah kembali mengantuk.
"Ayolah.. Aku akan menunggu disini. Pergilah ke kamar mandi untuk berganti pakaian. Aku sudah menyiapkan baju yang nyaman untukmu." bujuk Theo yang memang menyiapkan bajunya untuk Sakura karena ia tidak berani menyentuh tas pribadi Sakura akhirnya dipatuhi Sakura, tidak butuh waktu lama hingga Sakura keluar dengan t-shirt kebesaran dan celana pendek itu dan segera merebahkan tubuhnya dikasur setelah menyimpan pistolnya dibawah bantal seperti tadi.
"Untuk apa itu?" tanya Sasuke melihat Theo mengeluarkan sebuah HT dari laci meja tidurnya itu.
"Aa.. Aku selalu meninggalkan HT didekat Sakura supaya dia bisa dengan mudah mencariku jika butuh sesuatu." ucap Theo yang meletakkan satu HT dibawah lampu tidur dan satu lagi ia bawa setelah menyamakan frekuensi-nya.
"Apakah dia selalu was-was seperti itu?" tanya Sasuke memperhatikan Theo.
"Dia punya alasan untuk was-was seperti itu Sasuke. Aku yakin dia akan cerita bila sudah siap." ucap Theo yang memahami Sakura.
"Jika ia sewaspada itu.. Kapan dia benar-benar beristirahat." gumam Sasuke khawatir.
"Hal itu yang masih belum bisa aku pecahkan." ucap Theo yang membiarkan Sakura menggenggam tangannya hingga tertidur pulas. Setelahnya keduanyapun kembali keluar dan berbincang-bincang.
"Aku tau ini tidak penting, tapi aku penasaran bagaimana kalian berdua bisa bertemu?" tanya Juugo menatap Theo.
"Aku?" ucap Theo memastikan.
"Tentu saja kau dan Sakura, memangnya siapa lagi?" tanya Trevor.
"Hmm.. Awal bertemu.. aku awal bertemu dengan Sakura saat ia mengawal presiden kalian ke sini untuk rapat petinggi negara. Saat itu aku juga merupakan ajudan presiden. Awalnya aku mengira dia ajudan ibu negara kalian, ternyata aku salah. Saat itu aku sudah kagum dengannya, aku tidak tau apakah dia ingat atau tidak tapi awal aku berinteraksi dengannya juga karena topi. Kami berdua menjadi akrab dan sempat berfoto berdua, saling follow akun sosmed satu sama lain dan beberapa kali saling DM." ucap Theo menunjukkan foto dirinya yang memakai stelan jas Angkatan darat itu tengah berfoto dengan Sakura yang memakai stelan jas Angkatan udaranya.
"Pangkat Sakura satu tingkat diatasmu?" ucap Juugo menyadari pangkat dipundak Sakura dan Theo itu.
"Itulah yang membuatku semakin kagum dengannya. Bisa dibilang dia adik tingkatku tapi karirnya sangat meroket dan dia seorang wanita. Hal itu jarang terjadikan. Karena itu juga aku mati-matian menaikkan jabatanku dengan mengambil pendidikan lagi ketika aku sudah tidak menjadi ajudan presiden. Siapa sangka saat aku tengah mati-matian mengejar pangkat aku malah bertemu dengannya lagi di Amerika. Dia sedang pendidikan juga disana, awalnya aku juga terkejut melihat dia disana dan pangkat kami yang sudah setara." ucap Theo.
"Tunggu dulu.. Aku sudah sangat lama penasaraan dengan hal ini. Kenapa Sakura yang satu tingkat diatasmu bisa jadi setara denganmu jabatannya?" ucap Sky bingung.
"Aa.. Saat itu Sakura harus menjadi ajudan duta besar negara untuk cina. Dari yang aku dengar selama menjadi ajudannya Sakura benar-benar diperas tenaga dan pikirannya hingga tidak bisa naik jabatan." ucap Juugo menjawab pertanyaan Sky kenapa pangkat keduanya akhirnya bisa sama.
"Juugo benar.. Lalu mulai dari sana aku bertekat untuk tidak menyianyiakan kesempataku dan mulai mendekatinya, kami jadi semakin dekat dan saling bertukar nomer handphone dan yaaa.. dari sana kami mulai dekat dan berpacaran. Saat pendidikan kami di Amerika selesai aku sangat sedih harus berpisah lagi dengannya tapi kami tetap menjalin hubungan dengan baik sampai dipertemukan untuk pendidikan lagi di Inggris." terang Theo.
"Lalu apa yang terjadi? Kenapa kalian bisa putus?" tanya Sasuke penasaran.
"Aku adalah prajurit dari Indonesia dan dia prajurit dari Jepang. Dari awal hubungan kami tidak akan pernah bisa berhasil. Bagi masing-masing negara hubungan kami ini dipandang sangat berbahaya dan bagi negaraku Sakura dianggap mata-mata yang mencoba mencari celah pertahanan negara begitu juga dengan Sakura. Akhirnya Sakura memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami karena tekanan dari pimpinannya dan juga dia tidak ingin merusak karirku. Akupun harus berbesar hati karena aku juga tidak ingin merusak karirnya yang ia rintis susah payah." ucap Theo mengakhiri ceritanya.
"Aa.. Aku pernah mendengar hal itu saat awal menjadi ajudan Gaara-san. Berita tentang prajurit yang diduga akan menjual negaranya ke negara lain demi keuntungan pribadi." ucap Sasuke teringat kejadian saat ia tidak sengaja mendengar gossip itu saat mengawal Gaara yang rapat dengan petinggi negara itu.
"Yah.. Begitulah akhirnya.. Sejujurnya sampai saat ini aku masih berharap ada cara lain agar bisa bersama dengannya karena aku sangat mencintainya. Tapi setiap aku memikirkan hal itu aku teringat saat ia punya pemikiran nekat untuk berhenti menjadi tentara dan pindah ke sini agar keegoisanku untuk selalu bersamanya terwujud." ucap Theo mengenang kejadian itu.
"Aku tidak pernah menyangka dikehidupan nyata ada kisah cinta yang seperti ini. Selama ini aku mengira hal seperti itu hanya bisa muncul dinovel saja." ucap Juugo diikuti anggukan setuju dari yang lain.
"Itu menjelaskan kejadian saat dia menangis sampai matanya bengkak dulu." ucap Sky menyikut Trevor.
"Benar." jawab Trevor yang ingat Theo diam-diam undur diri dan kembali dalam keadaan berantakan dan mata bengkak akibat menangis saat mereka makan-makan dirumah tuan Liam saat itu.
"Aku merasa tuhan sedang mengejekku saat mendengar berita Sakura ditepatkan sebagai ajudan Menteri pertahanan sepertiku dan kami harus kembali dipaksa bertemu disaat-saat seperti ini. Entah kejahatan apa yang aku lakukan hingga tuhan menghukumku seperti ini." ucap Theo memainkan gitar dipangkuannya.
"Hei.. Jangan berkata seperti itu." ucap Juugo merasa prihatin. Ntah bagaimana kelimanya menjadi dekat karena pembahasan tentang hubungan Theo dan Sakura itu.
"Kenapa aku merasa kesal ya.. Kenapa kalian jadi bersatu dan semakin akrab karena cerita ini." ucap Theo kesal.
"Selama masa pendidikan apakah Sakura tidak pernah berbuat onar?" tanya Juugo penasaran.
"Hmm.. Dari pada berbuat onar dia lebih sering menjadi bahan candaan tentara lain karena badannya yang kecil." ucap Theo mengingat kejadian dimasa pendidikannya di amerika.
-flashback-
"Oh, akhirnya kau bisa membawanya datang." ucap seorang pria berbadan tinggi besar itu melihat 2 orang menghampiri meja mereka.
"Apa kau tau betapa sulitnya membujuk bocah ini agar mau ikut Kevin?" ucap pria itu.
"Kau memancingnya dengan apa Nick? Diakan tidak minum." tanya Kevin penasaran.
"Dia." jawab Nick menunjuk seorang gadis yang setengah sadar itu.
"Dia berhasil membawanya, maka kau harus membayar semua tagihan malam ini Kevin." ucap seorang pria lagi tertawa puas.
"Sial, aku kira dia tidak akan berhasil Vic." ucap Kevil kesal.
"Hei, aku tidak akan gagal selama ada dia." ucap Nick santai, duduk disamping Victor untuk menikmati birnya.
"Kau bilang ada hal urgent. Urgent apanya?" tanya pria itu kesal.
"Bukankah itu termasuk urgent?" Ucap Victor menunjuk gadis yang duduk disebrang mejanya.
"Kami sudah berusaha menghentikannya, tetapi dia tidak mau dengar. Aku rasa dia baru akan mendengar jika kau yang menasehatinya." ujar Nick santai.
"Apa yang kalian lakukan padanya?" ucap pria yang datang bersama Nick itu meradang.
"Minum sedikit tidak akan membunuhnya Theo." ucap Nick santai.
"Apa kalian gila?! Dia tidak pernah minum!" ucap Theo kesal.
"Theo *hic* Wa~~ Kau datang.." racau Sakura yang sudah mabuk parah memeluk Theo yang berusaha menyadarkannya.
"Kami hanya bercanda. Siapa sangka dia akan semabuk itu hanya karena segelas bir dan langsung minum dengan gila." komentar Victor.
"Kalian tidak menghentikannya?" tanya Theo kesal.
"Kau cobalah rebut gelas birnya itu jika bisa." tantang Victor.
"Sakura, sudah cukup minumnya." ucap Theo berusaha merebut gelas bir besar yang dipegang Sakura saat ia menyadari Theo akan mengambil gelas itu.
"Tidak *hic* Aku masih bisa minum *hic* Ayo bersulang!" racau Sakura.
"Lihat?" ucap Victor, sedangkan Kevin dan Nick menahan tawa mereka melihat Theo yang berusaha melepaskan gelas bir itu dari tangan Sakura yang mabuk berat.
"Lagipula ini malam kelulusan kita, apa salahnya bersenang-senang?" ucap Kevin lagi.
"Tidak dengan cara ini!" bentak Theo kesal.
"Wow, tenangkan dirimu." ucap Nick yang kaget melihat reaksi berlebihan Theo.
"Sakura, ayo pulang." ucap Theo berusaha menyadarkan gadis itu.
"Hee~ Aku masih *hic* bisa minum." tolak Sakura keras.
"Sudah cukup minumnya Sakura. Kalau begini kau bisa sakit kepala besok dan lagi kau akan lebih marah dan menyesal jika aku tidak menghentikanmu." nasehat Theo.
"Tidak mau." tolak Sakura menolak.
"Sakura kalau kau mendengarkanku akan aku belikan permen sebanyak yang kau mau." bujuk Theo.
"Kau *hic* selalu bilang begitu *hic* tetapi tidak pernah ditepati." ucap Sakura kesal.
"Kali ini aku benar-benar akan membelikannya ok? Jadi lepaskan gelas ini." Theo terus membujuk Sakura agar mau melepaskan gelas itu.
"Kau selalu berbohong." ucap Sakura tiba-tiba terisak menahan tangis.
"Sa-Sakura?" Theo jelas kaget melihat hal itu.
"Kau selalu berbohong *hic*. Bukan begitu Nick?" ucap Sakura mencari pembelaan.
"Wow.. Jangan bawa-bawa aku dalam perdebatan kalian. Selesaikan masalahmu dengannya baik-baik Sakura." ucap Nick tidak mau ikut campur.
"Kalian semua jahat." ucap Sakura mulai menangis.
"Wah, dia tipe mabuk yang menyusahkan." komentar Kevin.
"Prajurit terbaik ini menangis? Dia bahkan tidak menangis saat dibentak pelatih." ucap Victor kagum.
"Lihat apa yang kalian lakukan?" ucap Theo menatap tajam ketiganya.
"Bawa dia pulang sebelum semua orang mengira kita melakukan sesuatu yang buruk padanya Theo." perintah Kevin.
"Ayo pulang Sakura." ucap Theo lagi.
"Tidak." tolak Sakura cepat.
"Hargh.." Theo yang tidak bisa menerima jawaban tidak segera merebut cepat gelas bir yang sempat terlepas dari tangan Sakura itu dan menggendong Sakura bridal style, membawa gadis itu pergi dari sana.
"Dia selalu saja berlebihan jika sudah menyangkut Sakura." ucap Nick bosan.
"Mau bagaimana lagi. Namanya juga sedang jatuh cinta." ucap Kevin santai.
"Mereka pasangan yang lucu tapi kalian sudah taukan akhirnya akan bagaimana." ucap Victor meneguk birnya itu.
"Yah, sangat disayangkan." ucap Nick lagi.
Theo tidak punya pilihan lain selain membawa Sakura kerumahnya karena gadis itu terus meracau tidak jelas.
"Hargh.. Kau akan benar-benar marah padaku besok." ucap Theo yang baru saja membaringkan Sakura diranjangnya itu.
"Theo~." Panggil Sakura yang terbangun itu.
"Ada apa Sakura? Kau ingin minum air putih?" tanya Theo yang dengan cepat menghampiri Sakura.
"Theo.." Sakura yang meracau itu tiba-tiba bangun dan menangis, jelas membuat kaget dan bingung Theo.
"Ada apa? Apa ada yang sakit? Apa perutmu tidak enak?" tanya Theo cemas.
"Theo.." Bukannya menjawab Sakura hanya terus menyebut nama Theo sambil menangis.
"Tenanglah Sakura, kau sudah dirumah. Aku akan memarahi mereka lagi besok dan kali ini aku sungguh akan membelikanmu permen jelly itu. Tidak apa-apa." ucap Theo sembari memberikan Sakura obat pereda mabuk yang juga sudah ia siapkan.
"Theo.. Kenapa semua orang jahat? Aku padahal tidak melakukan apa-apa pada mereka? Kenapa mereka sejahat itu?" racau Sakura sambil menangis tersedu-sedu.
"Ssttt.. Mereka tidak tau apa-apa tentangmu, mereka melakukan itu semua karena iri padamu. Lupakan saja mereka Sakura. Tidak ada gunanya memikirkan orang-orang seperti itu." ucap Theo mengusap pelan punggung Sakura berusaha menenangkan gadis itu. Ia tau yang dimaksud gadis itu adalah masa lalunya dan bukan kelakuan teman-teman mereka tadi.
"Tapi aku benar-benar tidak melakukan hal-hal yang mereka tuduhkan. Kenapa sejahat itu? Padahal aku menderita dan mereka malah menghakimiku. Kenapa disaat itu kau tidak ada Theo? Kenapa kau jauh sekali?" racau Sakura lagi.
"Tidak apa-apa.. Aku disini, tenanglah." ucap Theo membawa Sakura kedalam pelukannya.
-end flashback-
"Bagaimana dengan Sasuke? Bukankah kau anak dari Jendral polisi? Kenapa tidak ikut jadi polisi saja?" tanya Sky mengganti topik.
"Aku ingin mengambil jalan yang berbeda." jawab Sasuke.
"Hei.. Jangan seperti itu. Theo saja membagi cerita cintanya.. Kenapa kau tidak mau bercerita?" tanya Trevor memancing.
"Hentikan.. Dia akan cerita jika dia nyaman." ucap Theo menghentikan Trevor.
"Karena aku merasa ada yang disembunyikan kepolisian saat menyelesaikan beberapa kasus. Tidak semuanya terbuka dan tidak semuanya diadili dengan benar." jawab Sasuke.
"Bagaimana bisa kau berkata seperti itu? Apakah ada kasus yang menyita perhatianmu?" tanya Juugo kaget mendengar pernyataan Sasuke. Ini hal baru baginya.
"Dulu saat di SMA ada kasus yang menyita perhatianku." ucap Sasuke mengingat kejadian itu.
"Kasus apa?" tanya Sky penasaran.
TBC
