Tanpa terasa dua minggupun berlalu dengan cepat, pertandingan olahraga antar sekolah itupun berjalan dengan lancar. Disaat tidak ada jadwal perlombaan, Sakura akan menyempatkan waktunya untuk menghadiri pertandingan Gaara begitupula sebaliknya. Hari ini adalah pertandingan semifinal Sakura. Gaara yang memang tidak ada pertandingan hari itu memilih menonton pertandingan Sakura untuk memberikan support.
"Saku.. Hei kau kenapa?" tanya Gaara memperhatikan Sakura yang terlihat sangat lemas itu.
"Aaa.. Senpai.. Aku baik-baik saja." jawab Sakura cepat.
"Kau tidak baik-baik saja. Kau terlihat seperti akan pingsan." ucap Gaara kaget.
"Aku sungguh baik-baik saja senpai." jawab Sakura cepat.
"Kau yakin?" tanya Gaara lagi.
"Un.. Sudah dulu senpai. Pertandingannya akan dimulai." ucap Sakura berlalu pergi, mengambil posisinya.
Pertandingan itupun berlangsung dengan cukup sengit, Sakura yang gigih itu akhirnya berhasil memenangkan pertandingan semifinal setelah mengalahkan lawan-lawan beratnya itu.
"Kau keren." puji Gaara saat mereka duduk didekat danau, dengan Sakura yang tengah menikmati takoyaki yang dimintanya sebagai hadiah karena sudah menang pertandingan hari itu, sedangkan Gaara lebih memilih segelas kopi hangat.
"Sungguh?" tanya Sakura tersenyum.
"Jadi.. Apakah kau bisa menepati janjimu sekarang?" tanya Gaara menatap Sakura, menatap Sakura lembut.
"Aku kira senpai tidak akan ingat." ucap Sakura tersenyum getir, mengalihkan pandangannya dari Takoyaki yang berada ditangannya.
"Aku tidak akan bisa melupakannya." ucap Gaara kembali mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
"Tapi.. Bisakah senpai merahasiakannya?" tanya Sakura menatap dalam mata Gaara.
"Tentu. Aku bersumpah." ucap Gaara mantap.
-flashback-
"Hargh.. Nee-chan memang keterlaluan." gerutu Gaara yang berjalan menuju minimarket 24 jam itu, malam itu Temari memintanya membelikan ice cream chestnut karena ia tidak sengaja memberikan ice cream itu pada Ino sore tadi, memang Ino dan Sakura datang berkunjung tadi sore. Gaara harus berjalan menuju beberapa minimarket karena tidak menemukan ice cream itu di minimarket dekat rumahnya. "Ah.. Inikan apartement Sakura." ucap Gaara saat menyadari dirinya melewati apartement Sakura saat berjalan pulang.
TRING~
"Kebetulan apa ini?" gumam Gaara menatap layar handphonenya. "Ya, halo Sakura. Ada apa?" tanya Gaara menerima panggilan itu.
"AKU TIDAK MAU! LEPASKAN AKU!" terdengar suara teriakan Sakura dari sebrang telfone itu, membuat kaget Gaara.
"Sakura? Hei! Ada apa?" tanya Gaara, perasaan tidak enak menyelimutinya.
"Selama ini kau melakukannya dengan baik! Kenapa kau melawan sekarang?!" kali ini terdengar suara pria paruh baya dari telfone itu. Merasa ada yang tidak benar, bergegas Gaara berlari memasuki gedung apartement itu. Gaara memang pernah berkunjung keapartement Sakura bersama Ino mengerahkan semua kemampuannya untuk segera berlari menuju apartement Sakura. Saat sampai, Gaara bisa melihat pintu apartement Sakura yang sedikit terbuka dan suara gaduh dari dalam.
"SAKURA!" Gaara tidak membuang waktu segera menerobos masuk kedalam apartement Sakura itu.
"Se.. Senpai.." Sakura terkejut melihat Gaara yang berada didepan pintu apartementnya itu.
"Tch.." melihat Gaara yang masuk, pria yang tengah menindih Sakura itu segera kabur, menabrak kencang Gaara.
"TUNGGU!" teriak Gaara yang berniat mengejar pria itu.
"Jangan.. Jangan.. Aku mohon jangan.." ucap Sakura yang dengan cepat menahan tangan Gaara.
"Sakura?!" Gaara melihat Sakura yang berantakan itu, luka memar diwajah dan tubuhnya serta rambut yang berantakan.
"Senpai.. Huaa.." tangis Sakurapun pecah dan jatuh terduduk sambil tetap memegang tangan Gaara.
"Tenanglah.. Aku disini.. Tenanglah." ucap Gaara membawa Sakura kedalam pelukan hangat, berusaha menenangkan Sakura.
"Senpai.. Aku.. Takut.." isak Sakura, memeluk erat tubuh pria itu.
"Sttt.. Tidak apa-apa.. Aku disini." ucap Gaara menenangkan gadis itu.
Sakura yang terus menangis membuat panik Gaara, Gaarapun menghubungi Temari untuk meminta bantuan. Tidak butuh waktu lama untuk Temari datang ketempat itu. Temari datang bersama beberapa anggota polisi lain.
"Kau baik-baik saja? Tidak terluka?" ucap Temari menatap adiknya itu.
"Aku baik-baik saja. Ini darahnya, bukan darahku." jawab Gaara menatap Sakura yang menangis didalam pelukan pria berambut merah itu setelah mendapat pertolongan medis. Sakura enggan untuk dibawa kerumah sakit. Dia bersikeras tidak mau masuk rumah sakit. Untungnya luka dipelipisnya tidak dalam, sisanya hanya luka memar saja.
"Kau yakin?" ucap Temari lagi.
"Aku baik-baik saja. Bagaimana dengannya?" tanya Gaara, tangis Sakura menyayat hatinya.
"Dia akan baik-baik saja. Aku yakin Sasori-san bisa menenangkannya." ucap Temari meyakinkan Gaara.
"Nee-chan.. Aku tau kau mengetahui sesuatukan?" ucap Gaara menatap intens Temari.
"Hah.. Tolong biarkan aku dan teamku yang menyelesaikan ini ok. Kau focus saja pada pertandinganmu besok." saran Temari.
"Tapi.."
"Pulanglah Gaara. Kaa-san dan Tou-san mencemaskanmu." pinta Temari.
"Hah.. Baiklah.." ucap Gaara mengalah.
"Neji-san, apakah kau bisa mengantarkannya pulang?" tanya Temari pada pria berambut coklat panjang itu.
"Tentu." ucap Neji menyanggupi.
-end flashback-
"Jadi siapa pria itu dan apa yang ia lakukan di apartement itu?" tanya Gaara menatap Sakura.
"Dia pamanku, lebih tepatnya aku mengira dia adalah pamanku yang merawatku setelah ibuku meninggal. Aku baru mengetahu kenyataan bahwa aku dijual oleh ayahku yang seorang pecandu obat-obatan kepadanya untuk menutupi hutangnya dan juga untuk mendapatkan beberapa obat terlarang. Aku adalah kelinci percobaannya untuk beberapa obat illegal yang ia kembangkan. Obat dosis tinggi yang tidak dijual bebas dipasaran, sebelum obat itu diberikan pada client-nya dia akan memaksaku untuk mencobanya untuk mengetahui efek samping dari obat itu." terang Sakura.
"A.. Apa?" Gaara tidak yakin ia mendengar ucapan Sakura dengan benar atau tidak.
"Dengan keberuntunganku yang tidak seberapa, akhirnya aku bisa terbebas darinya berkat bantuan Sasori-nii. Akhirnya aku pindah kesini agar tidak terdeteksi oleh pamanku. Tapi tidak lama setelah aku pindah kesini dia berhasil menemukanku dan siklus itu kembali berputar." lanjut Sakura.
"Kenapa kau tidak melaporkannya?" tanya Gaara bingung.
"Aku tidak bisa. Aku tau dia mampu melakukan apapun yang dia inginkan." jawab Sakura.
"Apa maksudnya itu?" tanya Gaara bingung.
"Aku sempat ingin memberitahu Sasori-nii. Tetapi dia mengancam akan melakukan hal buruk padamu, Sasori-nii, Ino, Temari-nee dan Itachi-nii. Aku tidak mungkin membiarkannya menyakiti kalian." jawab Sakura menunduk merasa bersalah.
"Sakura.."
"Aku sudah terbiasa, aku yakin aku bisa menahannya. Itu lebih baik daripada kalian terluka karenaku." ucap Sakura tertunduk.
"Jangan katakan itu." ucap Gaara, membawa Sakura kedalam pelukan hangat.
"Se.. Senpai.." Sakura kaget mendapat pelukan itu.
"Sakura, kau tidak harus menanggung semuanya sendiri. Kau punya aku, Ino, Temari-nee dan Sasori-san." ucap Gaara.
"Tapi senpai.."
"Ayo laporkan dia. Kita selesaikan ini semua agar kau bisa hidup bebas darinya." ucap Gaara.
"Tapi.."
"Percayalah padaku Sakura. Aku yakin Sasori-san juga menginginkan ini kan? Bukankah kau juga lelah terus-terus kabur?" tebak Gaara.
"Tapi.. Aku bahkan tidak tau tempat persembunyiannya? Dia yang selalu mendatangiku." ucap Sakura lagi.
"Jadi kau ingin melaporkannya dengan benar kali ini?" tanya Gaara memastikan.
"Ya.. Aku ingin semuanya berakhir. Aku lelah." jawab Sakura mantap.
"Bagus, ayo." ucap Gaara membantu Sakura berdiri.
"Mau kemana?" tanya Sakura bingung.
"Membuat laporan. Temari-nee dan Sasori-san saat ini sedang lembur dikantor kepolisian." ucap Gaara.
"Sasori-nii memang sudah mengusut kasus ini senpai. Tetapi mereka tidak tau kemana kaburnya jii-chan." terang Sakura.
"Dengan ini bisakan?" ucap Gaara menunjukkan layar handphone-nya.
"Lokasi airpod?" tanya Sakura bingung.
"Saat dia berusaha kabur dan menabrakku, sebelah airpodku terjatuh dan sepertinya masuk kedalam tasnya. Aku tidak tau harus merasa beruntung atau sial." ucap Gaara.
"Kenapa senpai tidak segera melaporkannya?" tanya Sakura kaget.
"Hei.. Aku juga awalnya hanya iseng dan mengira salah meletakkan airpodku. Baru tadi siang aku iseng mengecheck lokasinya dan ternyata aku mendapatkan lokasi ini." ucap Gaara santai.
"Senpai.. Aku tidak tau harus memujimu atau memarahimu." ucap Sakura menghela nafas.
"Saki? Kenapa kau disini?" tanya Sasori saat melihat Sakura yang berlari menghampirinya itu didepan kantor kepolisian itu.
"Nii-chan.. Aku ingin menyelesaikannya. Aku lelah kabur." ucap Sakura spontan membuat kaget Sasori.
"Saki? Apa yang kau lakukan disini? Bagaimana dengan pertandinganmu?" ucap Sasori kaget melihat Sakura yang memeluknya itu.
"Pertandingannya sudah selesai, finalnya besok." ucap Sakura tersenyum.
"Ayo kita bicara didalam saja, disini dingin." ucap Sasori merasa tidak nyaman dan merasa ada yang memperhatikannya sejak tadi. Apalagi kasus Sakura yang tengah ia kerjakan merupakan kasus tertutup dan hanya ada 3 anggota kepolisian termasuk dirinya yang mengetahu kasus itu.
"Maaf lancang tapi kenapa harus sembunyi-sembunyi seperti ini?" tanya Gaara saat memasuki ruang kerja Sasori itu.
"Kasus ini hanya diketahui segelintir orang saja karena ada kecurigaan data Sakura dibocorkan seseorang. Jadi kenapa kau berubah pikiran Sakura?" terang Sasori mempersilahkan keduanya duduk.
"Aku sudah lelah kabur nii-chan. Sudah saatnya mengakhiri semuanyakan." ucap Sakura mantap.
"Aku senang kau akhirnya mau bekerja sama tapi disisi lain aku harus mengecewakanmu karena sampai saat ini dia tidak ditemukan." ucap Sasori sembari membuat 2 cangkir kopi dan segelas coklat hangat.
"Saya rasa, saya bisa membantu untuk hal itu." ucap Gaara mengeluarkan handphonenya.
"Apa maksudmu?" tanya Sasori meletakkan secangkir kopi dihadapan Gaara dan segelas coklat hangat itu untuk Sakura.
"Aku rasa pria itu bersembunyi dititik ini." ucap Gaara menunjukkan layar handphonenya, memperlihatkan sebuah peta dan gambar airpods ditengah-tengahnya.
"Airpods tracker?" ucap Sasori bingung.
"Aa.. Kejadian kemarin.. Pria itu menabrak saya cukup kencang dan airpods daya sepertinya terjatuh dan masuk kedalam tasnya." terang Gaara.
"Itu terdengar konyol dan tidak mungkin." ucap Sasori lagi.
"Aku tidak mungkin berbohong dan lagi kenapa aku harus berkeliaran disekitar area gelap Tokyo itu." ucap Gaara lagi.
"Percayalah nii-chan. Gaara-san tidak mungkin berbohong." ucap Sakura menatap Sasori.
"Baiklah, tolong hubungkan tracker itu ke handphoneku. Sekarang kalian pulanglah.. Akan sangat berbahaya jika masih berkeliaran dijam ini." ucap Sasori menasehati.
"Tapi.."
"Saki, pulanglah dan beristirahat ok? Kau masih ada pertandingankan besok? Begitu juga denganmukan Gaara. Kalian harus pulang dan memulihkan tenaga kalian. Kasus ini biar aku yang pikirkan." saran Sasori.
"Baiklah tapi berjanjilah satu hal padaku nii-chan." ucap Sakura menatap intens Sasori.
"Berjanji apa?" tanya Sasori bingung.
"Berjanjilah kau akan selalu berhati-hati. Aku tidak mau terjadi hal buruk padamu." pinta Sakura.
"Tentu.. Tentu saja.. Sekarang ayo aku antar kalian pulang." ucap Sasori mengambil jaket dan kunci mobilnya.
"Tidak perlu repot-repot Sasori-san." ucap Gaara merasa tidak enak.
"Santai saja. Lagipula kau adik juniorku, tidak mungkin aku membiarkanmu pulang sendirian malam-malam begini terlebih kasus pencopetan sedang meningkat." ucap Sasori lagi.
"Baiklah, maaf sudah merepotkanmu Sasori-san." ucap Gaara merasa tidak enak.
"Santai saja." ucap Sasori lagi.
Sasori dengan penuh dedikasi diam-diam menyelidiki kasus Sakura ditengah kasus-kasus lain yang harus ia selesaikan, tidak jarang Sasori memilih begadang untuk memecahkan kasus Sakura itu. Tidak terasa sudah satu tahun berlalu tetapi kasus itu mulai menghadapi jalan buntu karena Kabuto sendiri kembali bersembunyi setelah Sasori gagal menangkapnya dilokasi yang ditandai airpods milik Gaara itu.
"Ada apa kau memanggilku sembunyi-sembunyi seperti ini Sasori? Lalu ada apa dengan wajah lelahmu itu?" tanya pria berambut panjang itu, memasuki ruang kerja Sasori.
"Ini tentang kasus Sakura, Itachi." ucap Sasori langsung menarik perhatian Itachi.
"Apa kau menemukan sesuatu?" tanya Itachi tertarik. Sasori sudah mendedikasikan waktunya selama satu tahun penuh untuk mengusut kasus Sakura itu tanpa rasa lelah dan menyerah.
"Aku berusaha membuka beberapa berkas lama Sakura sebelum kasus ini dilimpahkan padaku, tetapi ada yang aneh. Aku tidak bisa mengakses beberapa berkas." ucap Sasori menatap layar komputernya itu.
"Bagaimana mungkin?" ucap Itachi bingung. Jabatan Sasori bukanlah jabatan rendah yang akan menutup akses Sasori pada berkas-berkas penting.
"Ini hanya kecurigaanku, tetapi sepertinya kasus ini lebih besar dari yang kita kira." ucap Sasori bersandar di kursinya itu, merasa lelah.
"Aku juga tidak bisa mengaksesnya." ucap Itachi bingung, ia mencoba membuka file terkunci itu menggunakan ID-nya dan system menolaknya.
"Bukankah ini aneh? Aku bisa membuka data rahasia pembunuhan sadis dan kasus-kasus besar lainnya, tapi hanya berkas milik Sakura ini yang tidak bisa diakses." ucap Sasori bingung.
"Maksudmu.. Ini melibatkan pihak kepolisian?" ucap Itachi menangkap maksud Sasori.
"Kalau bukan itu apa lagi?" ucap Sasori yakin.
"Pejabat?" ucap Itachi membuka kemungkinan lain.
"Aku bisa bertaruh ini bukan pejabat biasa, pasti ada jaringan lain dan pejabat-pejabat hebat dibalik ini semua." ucap Sasori meneguk kopinya yang entah sudah gelas keberapa.
"Kalau itu benar, maka kau harus berhenti melakukan ini Sasori. Nyawamu bisa menjadi taruhannya." ucap Itachi lagi.
"Kau tau aku tidak akan.."
"Sasori-san! Ada kasus!" ucap Temari yang masuk tanpa mengetuk kedalam ruangan Sasori itu.
"Baik." ucap Sasori bergegas mengambil jaketnya.
"Sasori, pertimbangkan ucapanku." saran Itachi.
"Aku akan tetap melakukannya. Kalau kau takut, anggap saja pembicaraan ini tidak pernah ada dan lupakan semuanya." ucap Sasori berlalu pergi dari sana.
Sasori dan Temari bergegas menuju lokasi kejadian itu, setibanya mereka disana lokasi itu sudah diamankan dengan garis polisi agar tidak ada warga yang mendekat sedangkan korban sudah dibawa kerumah sakit untuk mendapatkan pertolongana pertama.
"Apa yang terjadi Tobi?" tanya Sasori mencoba mencari tau kejadian yang terjadi disana.
"Seseorang menyerang dua orang pelajar, satu mendapat luka tusuk dipundaknya dan satu lagi hanya luka kecil saja. Keduanya sudah dibawa kerumah sakit terdekat." terang polisi bernama Tobi itu.
"Apa ada yang melihat pelaku?" tanya Sasori lagi.
"Pelaku memakai pakaian gelap, topi dan masker. Akan sangat sulit menemukannya. Satu-satunya saksi yang mungkin melihat wajah pelaku hanya korban siswa perempuan yang mengalami luka ringan." terang Tobi.
"Aku sudah mendapatkan file dari kamera cctv mini market disana." ucap Temari yang baru menghampiri keduanya setelah mengecheck cctv disebuah mini market saat menyadari ada satu cctv disana yang mungkin menangkap wajah pelaku.
"Temari-san? Kenapa kau disini?" ucap Tobi menghentikan langkah Temari.
"Apa maksudmu?" tanya Temari bingung.
"Korban laki-laki adalah adikmu, kenapa kau malah disini?" ucap Tobi memberitahu.
"A.. Apa?" tanya Temari kaget.
"Pergilah, adikmu mendapat luka tusuk serius dibahunya. Dia dibawa ke Konoha University Hospital." ucap Tobi memberitahu.
"Ayo." ucap Sasori menarik tangan Temari untuk segera pergi dari sana menuju rumah sakit.
Setibanya dirumah sakit, Temari bergegas mencari keberadaan adiknya yang ternyata masih berada didalam ruang operasi. Didepan ruang operasi itu ada seorang gadis berambut pink yang tertunduk lemas, pakaiannya berlumuran darah.
"Saki!" panggil Sasori mengenali sosok gadis itu.
"Nii-chan.." ucap Sakura mengangkat kepalanya dan melihat Sasori berlari kearahnya, memeluk gadis itu.
"Kau baik-baik saja? Ada yang terluka?" tanya Sasori khawatir.
"Aku baik-baik saja, tapi.. Tapi senpai terluka karenaku." isak Sakura.
"Apa yang terjadi Sakura?! Apa maksudmu?!" tanya Temari mencengkram erat bahu Sakura.
"Temari, tenanglah." ucap Sasori berusaha menenangkan Temari.
"Sakura jawab aku! Apa yang terjadi!" teriak Temari.
"Se.. Senpai mencoba melindungiku dari serangan itu. Maafkan aku Temari nee." isak Sakura ketakutan.
"Apakah ada keluarga Gaara-san disini?" tanya dokter yang keluar dari ruang operasi itu.
"Saya.. Saya kakaknya sensei. Bagaimana keadaanya?" tanya Temari memburu.
"Dia sudah stabil, tetapi kedepannya dia sudah tidak bisa bermain baseball lagi. Tidak dengan kondisi pundaknya itu. Lukanya cukup dalam, dia bisa selamat saja sudah merupakan suatu keajaiban." ucap dokter itu.
"Bagaimana dengan terapi sensei?" tanya Temari lagi, ia yakin adiknya itu akan hancur jika mendengar ini.
"Aku tidak bisa menjanjikannya. Tetapi tidak ada salahnya mencoba." ucap dokter itu kemudian pamit undur diri.
"Sakura, ayo kita pulang." ajak Sasori, mengajak gadis berambut pink itu untuk pulang.
"Tapi nii-chan.. Senpai.." isak Sakura, matanya sudah membengkak akibat menangis.
"Gaara masih dalam pantauan dokter, aku yakin dia akan baik-baik saja. Sebaiknya sekarang kau pulang dulu dan beristirahat, pertandingan hari ini sangat melelahkan kan?" ucap Sasori menatap Sakura yang berantakan itu, darah mengotori jaketnya itu.
"Aku yang menyebabkan hal ini terjadi. Kalau saja senpai tidak melindungiku." ucap Sakura menyalahkan dirinya.
"Tidak Sakura, ini bukan salah siapa-siapa tetapi salah pelaku. Aku berjanji akan menangkap pelakunya. Sekarang sebaiknya kau pulang dan beristirahat." saran Sasori lagi.
"Sakura, kau pergilah." usir Temari tidak ingin melihat wajah Sakura saat itu.
"Nee-chan.."
"Aku bukan nee-chanmu! Jadi pergilah! Jangan pernah memperlihatkan wajahmu lagi disini!" teriak Temari kesal.
"Ayo Sakura, Temari butuh waktu." ajak Sasori, membawa Sakura pergi dari sana.
TBC
