DISCLAIMER: Spy x Family © Tatsuya Endo. Tidak ada keuntungan komersial sepeserpun yang saya dapatkan dari fic ini.

Catatan Author: Setelah menempuh pemikiran yang panjang (dan sedikit insiden?), akhirnya saya memutuskan untuk menulis fic inti dari Multiple Modern AU saya ini. Intinya, fic ini akan berisi segala hal mengenai AU tersebut tapi lebih terfokus pada karakter-karakter Spy x Family. Walaupun AU yang dimaksud jenisnya crossover, tapi di dalam fic ini unsur crossovernya hanya akan diulas sedikit saja.

Summary: Tak berselang lama setelah insiden pengeboman yang menyebabkan Raymond dan Reina terbunuh, Loid dan Anya pindah ke Berlin, Jerman, supaya mereka bisa mempersiapkan Anya untuk masuk ke Eden College sesuai permintaan terakhir Reina. Selain itu, tanpa sepengetahuan Loid, ada satu janji kecil diantara Reina dan Anya mengenai satu hal yang masih tersimpan rapat-rapat dalam hati Loid…


After We Moved

.

Chapter 1 – The Promises


'Aku masih ragu…'

Seorang pria muda sedang menggendong putri kecilnya, berjalan memasuki sebuah unit apartemen yang sederhana di kota Berlin, Jerman. Mereka baru saja pindah dari Hungaria, dan mulai hari ini, mereka akan tinggal di apartemen itu. Meski begitu, pria itu memendam keraguan di dalam hatinya, mengenai permintaan mendiang istrinya yang, jika ditelaah lebih lanjut, kemungkinannya kecil sekali untuk terwujud.

"Jadi juga kamu balik ke Berlin, bro," ujar seseorang berambut kribo di belakang pria itu sambil meletakkan sebuah koper di lantai, menyadarkan pria muda itu dari lamunannya. "Aku pikir kamu bakalan tetap tinggal di Hungaria. Maksudku, makam keluargamu kan ada di sana."

"Putriku bilang, kalau kami mau mewujudkan keinginan mamanya, kami harus pindah kesini secepatnya," jelas pria itu saat ia membuka pintu kamar putrinya, yang masih tertidur pulas dalam dekapannya, sebelum akhirnya membaringkan gadis kecil itu diatas tempat tidurnya. "Meski begitu, aku masih ragu, apa kami masih bisa mewujudkan keinginan itu. Kamu sendiri tahu kalau ada satu peraturan disana yang…"

"Bro, aku tahu putrimu baru berumur tiga tahun, tapi kurasa dia jenius," potong orang itu, Franky Franklin. "Kalian masih punya waktu tiga tahun untuk mempersiapkan keadaan kalian, dan ini bukan hanya tentang putrimu. Kalau peraturan yang kaumaksud itu tentang orangtua lengkap, kamu tinggal cari istri baru selama tiga tahun ini. Beres kan?"

"Kurasa nggak akan segampang itu sih," sahut pria itu, Loid Forger. Ia pun menghela napas sebelum menambahkan, "Mulai besok aku akan sibuk bekerja di Rumah Sakit. Untungnya, Rumah Sakit tempatku bekerja dilengkapi dengan tempat penitipan anak, jadi aku masih bisa membawa Anya ke sana, tapi intinya, aku tidak akan punya waktu untuk kencan buta atau semacamnya."

"Justru itu, bro. Kamu bisa aja kerja sambil cari istri baru," celetuk Franky. "Dari semua alumni Eden College seangkatan kita, kamu alumnus yang paling ganteng dan paling ramah, bro."

"Kamu lupa sama kak Lio…"

"Lionel memang kembaranmu, tapi dia cenderung nggak sabaran dan ambisius, juga emosian. Justru aku heran kenapa… mendiang istrimu bisa jatuh cinta sama dia."

"…"

"Ya, karena kamu terlanjur sebut nama mendiang kakakmu, aku rasa ini saat yang tepat untuk bilang hal ini ke kamu." Franky membenarkan posisi kacamatanya sebelum melanjutkan, "Aku masih nggak habis pikir sama apa yang terjadi dengan keluargamu tiga tahun yang lalu. Kedua orangtuamu dan kakakmu tewas dalam kecelakaan yang mereka alami dalam perjalanan menuju ke pernikahan kakakmu, dan sebagai satu-satunya anggota keluarga yang selamat dari kecelakaan itu, kamu mengambil alih tanggung jawab mendiang kakakmu untuk… menikah dengan mendiang istrimu? Hanya karena dia sedang hamil?"

"Bagaimanapun, harus ada yang melakukan sesuatu untuk memperbaiki keadaan," gumam Loid. "Anya membutuhkan sosok seorang ayah, dan… Kak Lio…"

"Ya ya, aku tahu. Setidaknya, semua itu sudah terjadi, kan?" Franky mengangkat bahu. "Keponakanmu… eh, maksudku putrimu. Kelihatannya, dia dekat sekali denganmu."

"Aku sangat menyayanginya," ujar Loid dengan mantap. "Sekarang, hanya dia satu-satunya yang kumiliki."

"Kalau saja, kalian pindah di tahun reuni. Mungkin saja, diantara teman-teman seangkatan kita di Eden College, ada seseorang yang bisa menarik perhatianmu," sahut Franky, mengalihkan pembicaraan. "Aku rasa, bahkan sampai sekarang kamu masih sering memikirkan dia, kan?"

"Apa maksudmu, Franky?" Loid mengerutkan kening, "Siapa yang kamu rasa masih sering kupikirkan?"

"Yor Briar kan? Alumnus dari Aula Cline yang orangtuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat waktu kita kelas satu SMP, dan nyaris dikeluarkan dari sekolah hanya karena itu, tapi kemudian tidak jadi dikeluarkan karena mendapatkan beasiswa khusus dari Yayasan Garden yang menjalin kerja sama dengan Eden College, kan?" tebak Franky dengan yakin. "Dia itu… cinta pertamamu di sekolah, kan? Pasangan dansa terakhirmu di pesta kelulusan kita?"

"Ah, itu…" kedua pipi Loid merona begitu ia mendengar perkataan sahabatnya itu. "Terkadang, aku memang penasaran tentang keberadaannya, dan… aku memberitahu Reina tentang dia. Reina bahkan sempat menyuruhku untuk menemuinya, tapi…"

"Oh, jadi mendiang istrimu sudah tahu tentang perasaanmu yang sebenarnya, ya?" potong Franky dengan agak terkejut. "Jangan-jangan, dia ingin kamu nikah lagi sama cinta pertamamu?"

"Aku nggak tahu. Reina hanya bilang, aku nggak boleh mengorbankan perasaanku lagi."

"Itu maksudnya. Reina tahu kalau dengan menikahinya, kamu mengorbankan perasaanmu sendiri kepada Yor. Padahal kan, kalau kamu nggak nikahin dia, kamu bisa aja balik kesini supaya bisa ketemu Yor lagi dan menikahinya," jelas Franky. "Kamu boleh nggak percaya sama omongan aku ini, tapi kelihatannya… mendiang istrimu itu sempat bilang ke putrimu, supaya kalian bisa bertemu dengan Yor secepatnya, makanya putrimu mau cepat-cepat pindah kesini."

Franky lalu mengecek jam tangannya sebelum bergegas meninggalkan unit apartemen itu sambil berkata, "Oke, hari ini aku ada kencan buta, jadi aku harus pergi sekarang. Ongkos antarnya…"

"Biar kutransfer saja. Terima kasih," potong Loid sambil melambaikan tangannya. "Nanti akan kuhubungi lagi kalau perlu."

.

Sore harinya…

Setelah memindahkan pakaian yang berada di dalam koper ke dalam lemari, Loid menghampiri putrinya, Anya, yang masih terlelap di dalam kamar barunya. Sambil membelai rambut merah muda putri kecilnya itu, Loid terus memikirkan apa yang dikatakan Franky sebelum pria berambut kribo itu pergi.

'Masa sih? Reina menyuruh Anya mencari Yor disini?' pikir Loid tidak percaya, 'Bagaimana caranya? Anya kan…'

Tapi kemudian, Loid menyadari sesuatu. Satu hal yang hanya diketahui olehnya, Anya, juga Reina dan keluarga besarnya, keluarga Beineix.

"Benar juga. Rahasia keluarga Beineix," gumam Loid pelan. "Reina pasti memberitahu Anya lewat pikirannya, di saat-saat terakhir."

Keluarga besar Reina, Keluarga Beineix, adalah sebuah keluarga yang memendam rahasia besar. Konon, salah satu leluhur mereka di masa lalu, George Beineix, menikahi seorang penyihir bernama Tourbillon, dan dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai seorang putra bernama Henry.

Tragedi dimulai saat George Beineix tewas terjatuh dari atas tebing saat ia mencari beberapa buah Raspberi untuk membuat kue kesukaan sang istri, yang pertama kali dibuatnya saat ia melamar istrinya itu. Pria itu akhirnya harus pergi meninggalkan istrinya dan putra mereka yang masih kecil. Kehidupan mereka yang ditinggalkan pun terus berjalan. Saat beranjak dewasa, Henry menikahi seorang gadis yang cantik dan baik hati, lalu mereka dikaruniai lima orang putri dan seorang putra. Sayangnya, sang istri meninggal tak lama setelah ia melahirkan putra mereka, dan sejak saat itu, Henry mengurusi keenam orang anaknya dengan bantuan ibunya, Tourbillon.

Selama bertahun-tahun, keluarga itu menjalani hidup dengan penuh kasih sayang. Tourbillon sangat menyayangi putranya dan keenam cucunya, yang juga menyayanginya dengan tulus, sampai pada suatu ketika saat keenam cucunya itu menyadari ada yang aneh pada nenek mereka.

Tourbillon adalah seorang penyihir, dan seorang penyihir biasanya memiliki umur yang sangat panjang. Keenam cucu Tourbillon melihat dengan mata kepala mereka sendiri, bahwa di saat ayah mereka dan diri mereka sendiri perlahan-lahan terlihat menua, nenek mereka masih saja tetap terlihat muda. Saat mereka beranjak dewasa, penampilan nenek mereka masih sama seperti saat mereka melihatnya waktu mereka masih kecil. Belum lagi, mereka terpengaruh oleh stigma negatif dari orang-orang di sekitar mereka, bahwa penyihir itu jahat, yang akhirnya membuat mereka memutuskan untuk pergi meninggalkan nenek mereka yang selama ini mengasuh mereka sejak kecil. Mereka tidak peduli, walaupun ayah mereka memperingatkan mereka dengan marah untuk tidak pergi. Selama bertahun-tahun, mereka memutuskan kontak dengan nenek dan ayah mereka itu.

Sampai pada suatu ketika, mereka berenam menerima sepucuk surat dari sang nenek, yang berisi kabar duka bahwa ayah mereka telah tiada. Tiga dari mereka, Ingrid sang putri sulung, Angela sang putri kelima, juga Roy sang putra bungsu, bergegas menuju rumah lama mereka, ingin bertemu dengan sang nenek dan ikut memakamkan ayah mereka. Akan tetapi, di tengah perjalanan, mereka mengalami sebuah kecelakaan, yang menyebabkan mereka tidak bisa datang tepat waktu. Saat mereka tiba di rumah itu, semuanya sudah terlambat. Mereka hanya bisa menemukan makam ayah mereka yang berada tepat di sebelah makam ibu mereka, sementara nenek mereka sudah menghilang entah kemana. Penyihir itu hilang bagaikan ditelan bumi, meninggalkan penyesalan yang teramat dalam dirasakan oleh cucu-cucunya itu, terutama Roy. Lelaki itu bahkan menuangkan penyesalannya dalam buku hariannya, yang saat ini disimpan dengan baik oleh kakak Reina, Ronnie.

Sayangnya, rahasia keluarga Beineix tidak berakhir sampai disitu saja.

Sebagai satu-satunya cucu lelaki Tourbillon, Roy, yang menjadi penerus sah keluarga Beineix, memiliki beberapa penerus 'istimewa' dalam garis keturunannya. Selama bertahun-tahun, selalu saja ada generasi lelaki dari keturunannya yang memiliki kemampuan khusus yang berbeda-beda, termasuk diantaranya Raymond Beineix, ayah Ronnie dan Reina, yang dapat berbicara dengan tanaman di sekitarnya. Beliau bahkan sempat bercerita bahwa kakeknya dapat menghentikan waktu selama beberapa saat. Keistimewaan itu terus diturunkan dengan pola yang berulang, sampai akhirnya, secara tak terduga, kedua cucu Raymond ikut mendapatkannya.

Sebagai satu-satunya cucu lelaki Raymond, Robbie, putra Ronnie, sudah sewajarnya mendapatkan keistimewaan itu. Bocah berkacamata itu dapat berbicara dengan hewan-hewan di sekitarnya, bertolak belakang dengan kemampuan sang kakek. Meski begitu, hal yang tak terduga terjadi ketika Raymond menyadari bahwa cucu perempuannya, putri dari Reina dan Lionel, juga mendapatkan keistimewaannya sendiri. Gadis cilik berambut merah muda itu, Anya, dapat membaca pikiran orang-orang di sekitarnya.

Itulah sebabnya, Loid menduga bahwa Reina telah memberitahu Anya tentang Yor lewat pikirannya.

'Tapi kalau itu benar, apa itu juga berarti… Reina sudah memberitahu Anya tentang kak Lio? Apa dia sudah tahu kalau aku… bukan ayah kandungnya? Tapi kenapa sampai saat ini, dia masih memanggilku 'papa'?'

"Papa berisik…" gumam Anya pelan, menyadarkan Loid dari lamunannya. Gadis kecil itu menguap sebentar sebelum memandangi wajah papanya dengan kedua manik zamrudnya yang lebar dan bertanya, "Sudah waktunya makan malam ya?"

"Ah, maaf sayang. Papa nggak bermaksud membangunkanmu. Ini juga belum waktunya makan malam," jawab Loid sebelum mengecup kening putrinya itu dengan lembut. "Kalau kamu masih ngantuk, kamu boleh tidur lagi. Nanti biar papa bangunkan kalau makan malamnya sudah siap, ya."

"Papa mikirin mama ya?" tanya gadis itu, masih dengan suara yang pelan. "Anya tahu kok, kenapa makam mama sebelahan sama makam o- papa Lio…"

"Jadi, mama beneran udah kasih tahu kamu ya?" Loid balik bertanya, "Soal… papa gantiin papa Lio?"

Anya mengangguk, "Mama bilang papa Lio pergi bareng papa mamanya papa, jadi biar mama nggak sedih ditinggal papa Lio, papa nemenin mama."

"Itu benar, sayang." Loid menghela napas, lalu bertanya lagi, "Apa ada hal lain yang mama ceritakan ke kamu?"

"Katanya, kalau mama pergi ninggalin papa, Anya harus janji bantuin papa cari temen lama papa," jawab Anya polos. "Kata mama, yang bisa nemenin papa sekarang cuma Anya dan temen papa itu."

'Reina…' pikir Loid.

"Om kribo mana?" tanya Anya sambil menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. "Udah pulang ya?"

"Iya sayang. Katanya ada urusan penting," balas Loid. "Memangnya kenapa?"

"Kirain om kribo mau makan malam bareng kita…" ujar gadis kecil itu sambil memanyunkan bibirnya. "Koper kita kan berat. Om kribo pasti kecapekan."

"Hei, jangan murung begitu. Om Franky bilang, kapan-kapan dia janji mau mampir ke sini lagi kalau sempat," sahut Loid yang kemudian menggoda putrinya. "Ngomong-ngomong, kalau manyun begini kamu jadi kayak anak bebek."

"Papa, Anya kan bukan bebek!" protes Anya.

"Iya iya, papa tahu, makanya kamu jangan manyun lagi, ya?" tambah Loid sambil tersenyum. "Mendingan, anak papa yang paling cantik ini senyum aja, biar tambah cantik."

"Oke, pa!" Anya pun membalas senyuman Loid.