BoBoiBoy © Monsta
Sunshine After the Rain © Roux Marlet
Alternate Universe, Family, Friendship, Hurt/Comfort, Angst
BoBoiBoy's elemental siblings (septuplet)
Sequel of "Through the Darkness" & "Harapan yang Menyingsing"
.
.
.
.
.
Chapter 1: Nightfall is Partial Darkness
.
.
.
.
.
Ice bin Amato sepertinya sudah pernah merasa jantungnya nyaris copot seperti setengah jam yang lalu. Entahlah, agaknya kejadiannya juga belum terlalu lama di masa lalu, tapi Ice tidak segera bisa mengingatnya. Fokusnya saat ini tercurah pada sang adik yang tadi dilaporkan terjatuh di kelasnya. Tangan Ice masih tremor sampai sekarang, pucatnya wajah Solar seolah menular pada dirinya meski kalau dinalar itu mustahil.
'Solar jatuh di kelas.'
Berita tertulis itu baru beberapa detik mengudara di ruang obrolan para kembarannya dan Ice masih akan mengetik lagi, namun sebuah panggilan tak sabaran sudah keburu masuk.
Dari Halilintar.
Ice menyentuh tombol merah, menolak panggilan itu. Ketikannya hampir selesai—
'Dia nggak luka, leg brace-'
—tapi Halilintar meneleponnya sekali lagi dan layar ponselnya dipenuhi gambar profil lambang petir warna merah. Ice menarik napas dalam-dalam sebelum memilih untuk menjawab kali ini dan terlambat menyadari bahwa abang sulungnya itu ternyata minta video call.
"Assalamualaikum."
"Gimana Solar?" tanya Halilintar di seberang tanpa menjawab salam. Mukanya tampak masam—maskernya dilepas, apa dia sedang makan?
"Dia nggak luka, leg brace-nya yang bermasalah." Ice menyuarakan jawaban tertulis yang sudah hampir dikirimnya tadi. "Kak Hali jangan kebiasaan telepon kayak gitu, dong."
"Iya, nih! Jawab dulu salamnya Ice!" Terdengar suara Taufan di belakang layar. Detik berikutnya, wajah yang serupa dengan warna mata yang sama dengan Ice tampak di sisi Halilintar. "Walaikumsalam, Ice! Jadi, Solar nggak apa-apa, ya?"
Belum sempat Ice bicara lagi, terlihat notifikasi yang lain dari grup obrolan. Gempa meminta panggilan video di grup.
"Alamak, Kak Gempa," rutuk Ice pelan. Gara-gara jari tangannya gemetaran sejak tadi, pesan tertulisnya yang berikut jadi terlambat terkirim dan Ice membayangkan kelima saudaranya pasti panik hanya dengan membaca pesan singkatnya yang pertama. Diliriknya sang adik bungsu yang terbaring di ranjang klinik, menatapnya balik dengan ekspresi tak terbaca dan bekas air mata yang telah kering di pipi.
"Mana Solar?" Suara cempreng familier kini mengisi ruangan.
"Sabar, Kak Blaze. Aku belum tanya apa Solar mau ikut video call."
"Mau lihat Solar!" timpal Duri di seberang sambungan.
"Solar nggak apa-apa?" Suara cemas Gempa terdengar di dekat Duri.
"Kalian semua, sabar dulu!" Bukan Ice namanya kalau sampai mengentakkan kaki karena kesal. Suaranya boleh saja meninggi tapi rautnya tetap kalem. Dia menoleh dengan ponselnya tetap di tangan, kamera tetap terarah pada pemiliknya sendiri. "Solar, ini video call di grup 7 Wonders, yang lain mau tahu keadaanmu …."
Di tempat tidur itu, Solar menggelengkan kepala kuat-kuat dan itu sudah cukup bagi Ice.
"Solar nggak mau, nih, Kakak-kakak sekalian. Sudah dulu, ya."
Ice mengakhiri panggilan video grup itu tanpa menunggu respon yang lain (yang pastinya banyak protes, tapi bisa apa mereka di seberang lautan?) lalu mendekati ranjang dan mengusap-usap kepala adiknya dengan lembut.
"Solar tenang, kamu baik-baik aja … kata dokter tadi, nggak ada luka, cuma memar sedikit di lutut."
Solar menunduk, mencari lututnya. Celana panjangnya telah digulung sampai setinggi lutut dan di sana tampak warna kebiruan yang lebar.
"Salep heparinmu masih ada, 'kan?" Ice masih bicara dengan tenang. Solar kembali menatapnya dan mengangguk perlahan.
"Kita pulang sekarang?"
Solar mengangguk lagi.
"Kusiapkan kursi roda sebentar, ya."
Sesaat berikutnya, Solar sudah duduk di pinggir ranjang, kedua tangannya bertumpu ke belakang. Lengan kanannya terbungkus oleh rangka logam yang untungnya masih berfungsi baik sehingga Solar bisa berusaha duduk sendiri. Ice berjongkok di depan kaki Solar yang menjuntai dan mulai memasangkan sepatunya.
"Habis ini, aku akan telepon Paman Pian. Kamu tenang saja."
Ice mendongak ketika ada tetesan air yang jatuh ke lantai selagi dia menalikan sepatu sang adik. Rupanya Solar menangis lagi.
"Solar masih mau nangis?" Ice bangkit berdiri dan merangkulnya. "Nggak apa-apa."
Solar menggeleng, tapi air matanya terus membanjir sampai membasahi baju kakaknya. Ice terus mengusap-usap punggungnya sampai Solar cukup merasa tenang. Kemudian, sang kakak mundur sambil tersenyum. "Nah, kita pulang, ya?"
Tetap tak ada suara dari mulut Solar, dia hanya mengangguk lemah. Segala keterbatasan ini sungguh menguras energinya, fisik maupun mental. Ice sudah menekuk lutut dan meraih pinggang Solar, yang otomatis mengalungkan kedua tangan melewati bahu Ice.
"Ukh, hanya perasaanku, atau berat badanmu bertambah, ya, Solar? Hehehe." Ice agak kesulitan memindahkan adiknya dari ranjang ke atas kursi roda. Solar akhirnya menggerakkan tangan membentuk isyarat.
'Kak Ice kuliahnya gimana?'
"Nggak apa-apa, aku sudah minta izin ke dosen. Nanti bisa pinjam catatan teman."
Sebelum meninggalkan ruang klinik, Ice tak lupa meraih sepasang rangka lain dari sudut ruang: leg braces milik Solar, alat seperti rangka kaki robotik yang membantu kaki lumpuhnya untuk bisa bergerak. Alat yang entah mengapa tadi sempat malfungsi saat Solar masuk ke kelas jam satu siang. Menurut cerita teman lelaki Solar yang mengantarnya ke klinik (dan meneleponnya di tengah jam kuliah), Solar jatuh saat hendak menaiki undakan lantai di ruang kelas yang modelnya amphitheater—berbeda dengan ruang-ruang kelas di fakultas Ice yang lurus lantainya seperti sekolah. Biasanya Solar selalu duduk di barisan terdepan sehingga tak perlu naik undak-undakan itu, tapi siang ini dia kalah cepat dengan yang lain sehingga harus duduk agak belakang di tempat yang lebih tinggi.
Ice tidak tahu mengapa hari Jumat siang yang sejam lalu terasa penuh berkat ini menjadi kelam dan suram. Sejam yang lalu, dia dan Solar ikut salat Jumat di masjid dekat apartemen mereka. Ini adalah minggu pertama mereka berkuliah secara luring sejak pandemi terkendali dan dinyatakan sebagai endemi. Semester tiga di tahun kedua, Ice di jurusan Biologi Maritim sedangkan Solar di Fakultas Kedokteran.
Si Matahari, perlahan tapi pasti, sedang berusaha memanjat naik untuk kembali bersinar menggapai impian.
Namun, hari ini, Solar kembali terempas oleh keterbatasan.
Ice sesungguhnya tahu mengapa Solar menangis lagi tadi, waktu dia memakaikan sepatu adiknya. Mereka sama-sama tahu, Solar tak bisa apa-apa tanpa alat-alat bantu gerak buatan perusahaan Paman Pian itu, bahkan untuk kegiatan sesederhana memakai sepatu.
Di dalam taksi yang dipesan Ice, Solar sekali lagi menangis dalam kebisuan.
.
.
.
.
.
"Baterainya harusnya masih aman, Paman, karena aku mengisi ulang dayanya setiap malam. Lima hari ini dipakai berkuliah nggak pernah ada masalah. Mungkin ada teknisi yang bisa ke sini untuk mengecek? Kami libur di hari Sabtu dan Minggu. Jadi, Solar baru kembali kuliah besok Senin."
Di seberang sambungan telepon ada Paman Pian, kawan baik Amato yang adalah pemilik Destar Corp, perusahaan multinasional di bidang teknologi digital. Alat bantu gerak yang diciptakannya menggunakan daya baterai dengan sistem artificial intelligence yang masih diuji coba sebagai motornya.
"Jangan-jangan, sistemnya nggak bisa memproses gerakan menaiki tangga?" Ice melontarkan isi pikiran yang baru terlintas. "Biasanya kami selalu naik lift di kampus maupun apartemen."
"Mungkin saja, Ice. Akan kukirim teknisi Berlin sore ini juga. Apa Solar baik-baik saja?" Suara Pian terdengar cemas.
"Hanya memar sedikit lututnya, Paman," ucap Ice, melirik ke arah Solar yang sudah berganti baju dan terbaring di tempat tidurnya di apartemen. Adiknya itu belum tidur dan matanya sembab sekali. Ice menyimak sejenak, lalu berujar, "Baik, terima kasih, Paman Pian. Assalamualaikum." Kini si anak nomor lima ganti bicara pada adiknya, "Solar mau mandi sekarang atau nanti?"
Solar tak menjawab, malah menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ice kembali mendekat dan mengusap kepalanya. Solar terisak pelan, air mata mengalir dari sela jarinya.
"Nanti matamu pedas kalau kebanyakan nangis, Solar," seloroh Ice lembut. "Mau baca buku atau nonton sesuatu dulu biar senang?"
Solar menggeleng dengan tangannya masih menutupi muka.
"Solar mau minta Kak Ice ngapain biar Solar senang?" Ice mengubah pertanyaannya dengan sabar.
Tidak segera ada respon dari sang adik. Sekadar curhat saja sulit sekali kalau kemampuan bicara juga lenyap. Solar menurunkan satu tangannya dan berisyarat,
'Kak Ice temani aku.'
"Tentu saja. Tapi kalau Solar nangis terus, aku yang menemani juga ikut sedih."
Solar menurunkan tangan yang satu lagi, menatap sang kakak sejenak, sebelum berisyarat lagi,
'Aku malu.'
Ice mengangguk maklum. "Karena jatuh?"
Si anak bungsu tidak mengangguk maupun menggeleng.
'Teman pertama yang menolongku seorang perempuan.'
Hati Ice mendadak seperti diremas. Dia paham arah pembicaraan dan air matanya sendiri merebak tanpa bisa ditahan.
'Aku nggak terlalu ingat, tapi mungkin aku nggak sengaja menamparnya karena panik. Lalu teman-teman lelaki yang membawaku ke klinik.'
Ice kehilangan kata-kata, tapi dia kembali mengelus-elus kepala Solar.
'Jatuhku juga konyol sekali. Bukuku berantakan semua.'
Ice masih mencerna cerita yang patah-patah lewat isyarat itu. Masih menebak mana hal yang paling mengganggu Solar dari kejadian hari ini.
'Aku nggak tahu gimana mau menghadapi teman-teman besok Senin. Seandainya aku nggak jatuh. Semua orang melihatku, mendengarku, menyaksikan reaksiku. Bahkan dosenku juga. Memalukan.'
Tetesan air mata berjatuhan lagi ke bantal Solar.
'Dulu aku senang jadi pusat perhatian, tapi sekarang ….'
Solar menatap Ice tanpa berisyarat lagi. Ice sendiri masih ingat bahwa Solar sama sekali tidak datang ke sekolah di dua semester terakhir sekolah menengah, dengan pengecualian satu hari di bulan Oktober saat kelas luring mulai diadakan dan Solar mencoba masuk kelas seperti yang lainnya hanya untuk mendapat hujan pandangan kasihan dan bisik-bisik sok prihatin di belakang punggungnya.
Lebih dari apa pun, Solar teramat tidak suka mendapat perhatian dengan cara begitu.
"Hmm, kamu malu, Solar … apa tadi ada yang menertawakanmu?" tanya Ice setelah beberapa menit sama-sama diam. Solar menggeleng dan Ice mendapatkan ide.
"Solar … kamu ingat, waktu hari kelulusan? Aku tersandung waktu mau naik ke panggung dan orang-orang menertawakanku." Ice bicara sambil tersenyum.
Hari kelulusan mereka bertujuh dari sekolah menengah? Tentu saja Solar mengingatnya sejelas hari kemarin.
.
.
.
.
.
Pulau Rintis, sekitar setahun sebelumnya ….
.
"Peringkat ketiga di jurusan Ilmu Alam adalah … Ice bin Amato!"
Gemuruh sorak-sorai menggema dengan yang paling berisik berasal dari sebelah kiri Ice, tempat kakaknya, Blaze, berdiri dari kursinya. Tiga peringkat tertinggi tiap jurusan diumumkan untuk menerima medali dan sertifikat dari kepala sekolah, dan Jurusan Ilmu Alam yang disebut pertama, mulai dari nomor tiga.
"ICE! MAJU, ICE! KAMU HEBAT!"
Meskipun Ice puas dengan semua nilai ujiannya, dia tidak menyangka akan dapat peringkat tiga. Dia bangkit dari kursi agak terhuyung, melewati Blaze yang berisik, Gempa dan Taufan yang menepuk-nepuk punggungnya, dan Halilintar yang mengacungkan jempol, baru berjalan menuju panggung. Ice tidak pernah jadi pusat perhatian. Dia selalu ada di pojok ruang kelas, mengamati banyak hal berselimut kantuk. Makanya dia gugup sekali ketika harus maju, apalagi dia yang pertama harus berdiri di panggung itu. Plus diiringi sorakan tanpa henti dari Blaze yang sangat berisik, tapi Ice sebetulnya menyukai hal itu.
Salah satu anak tangga menuju panggung membuat kakinya tersandung, Ice terjatuh di tengah tangga. Bahak tawa muncul di beberapa tempat, ditambah lagi Ice kesulitan untuk segera berdiri sendiri. Pembawa acara mendekatinya dan menawarkan bantuan.
"Terima kasih," gumam Ice tersipu setelah berdiri tegak di atas panggung.
"Bajunya, Nak," bisik si pembawa acara, lalu berdeham untuk mengumumkan nama berikutnya.
Ice menunduk dan mendapati ujung kemejanya tersingkap sedikit karena jatuh tadi. Buru-buru dia merapikannya, masih disambut tawa-tawa beberapa teman.
"Peringkat kedua Jurusan Ilmu Alam … Fang!"
Tawa untuk Ice memudar, digantikan tepuk tangan meriah sekali lagi, dan Blaze kembali bersorak keras. Fang berjalan dengan mantap menuju panggung, terlihat sangat lebar senyumnya di balik masker, dan dia ber-high five dengan Ice di atas sana.
"Selamat, Fang!" seru Ice tulus, ikut senang melihat wajah oriental itu berbinar demikian cerahnya.
"Kamu juga, Ice!" balas Fang, juga senang menyaksikan Ice begitu bersemangat.
"Peringkat pertama Jurusan Ilmu Alam …."
Pembawa acara sengaja menjeda sejenak. Efek dramatis juga dirasakan oleh kedua lulusan di atas panggung.
"... Solar bin Amato!"
Kalau suara orang bisa disebut meledak, maka Blaze baru saja membuat ledakan dengan mulutnya.
"BEST OF THE BEST! WOOHOOOO! ITU ADIKKU!" Teriakan Blaze begitu riuh.
"Adik kita semua, oi!" koreksi Halilintar yang menyingkir dari kursinya agar Solar, duduk di kursi roda, bisa didorong menuju panggung. Taufan ikut maju membantu ayah mereka untuk memindahkan Solar ke atas panggung dibantu si pembawa acara, kursi roda itu dilipat untuk naik tangga, lalu dibuka lagi.
"Solar, selamat, ya!" Fang tak mungkin tampak lebih bahagia dari itu, dia sampai berlutut dan merangkul si bungsu di kursi rodanya. "Kamu memang hebat!"
Solar balas menepuk-nepuk punggung Fang, tak kalah merasa bahagianya. Dia sedang menjadi pusat perhatian karena prestasi akademiknya, bukan lagi karena dia adalah korban kejahatan mengerikan yang membuatnya cacat. Rasanya kacamata Solar agak berembun, mungkin menangis sedikit saja tak masalah. Fang malah sudah meneteskan air mata duluan dan buru-buru disekanya.
"Aku ikut bangga pada kalian," ujar Fang singkat lalu kembali ke posisinya di tengah. Saking hebohnya mereka bertiga di atas panggung, sampai-sampai ketiga juara Jurusan Bahasa sudah selesai diumumkan dan juga naik ke situ. Suzy adalah peringkat tiga, Ying nomor dua, dan Yaya juara satu. Beberapa orang melihat bahwa Taufan ikut bersorak paling keras untuk si juara satu, meski sudah banyak yang bisa menduga kalau Yaya akan jadi lulusan terbaik kelas Bahasa. Mereka semua yang ada di atas panggung saling mengucap selamat dengan sopan.
Jurusan Ilmu Sosial adalah yang terakhir diumumkan. Amar Deep juara ketiga, dia menyalami semua orang dengan riang gembira.
"Peringkat kedua Jurusan Ilmu Sosial … Blaze bin Amato."
"APAAAA?! YEAAAAAY! ALHAMDULILLAH!"
Suara cempreng lantang yang sejak pengumuman pertama tadi sudah berisik, kini ikut menyusul ke panggung; pemiliknya setengah berlari bahkan saat menaiki tangga, untungnya tidak jatuh seperti Ice tadi.
Atlet memang beda, ya, Ice sempat membatin waktu itu, tapi dengan segera dia direngkuh oleh Blaze kuat-kuat. Kakak kembarnya itu wangi kayu manis untuk acara kelulusan. Blaze juga memeluk Fang sama eratnya, sahabat terbaiknya sekaligus kawan tim basketnya, yang dibalas Fang dengan heboh. Terakhir, Blaze juga memeluk Solar sampai mengangkatnya dari kursi roda, berputar di tempat satu kali, lalu mendudukkan lagi adiknya di situ.
"Kak Blaze, bahaya!" tegur Ice yang kaget pada aksi barusan, tapi Solar malah tertawa tanpa suara. Blaze kemudian berdiri di sebelah Amar Deep dan saling menyalami.
"Peringkat pertama, Halilintar bin Amato."
"KAK HALIIIII!" pekik Taufan di kursinya, sambil merangkul sang kakak yang persis di sebelahnya.
"Congrats, Kak!" seru Gempa.
"Kak Hali hebaaaat!" teriak Duri tak kalah heboh.
"Oi, Fan, lepas!" Halilintar setengah tercekik oleh adiknya si nomor dua. Taufan terkekeh-kekeh.
Hari itu bagaikan puncak kebahagiaan keluarga Amato. Ayah, ibu, dan kakek dari si kembar tujuh menyaksikan empat dari mereka berpose gagah di atas panggung dan tiga saudaranya ikut berdiri dari kursi masing-masing sambil terus bertepuk tangan.
"Ayah, Ibu, Atok, lihat! Aku dapat sertifikat! Yahuuuu!" teriak Blaze dari atas panggung sambil mengacungkan lembar penghargaannya. Halilintar di sebelahnya sampai menepuk dahi karena malu, sementara Amar Deep tertawa-tawa bersama seisi ruangan sambil mengacungkan jempol. Seolah-olah Blaze sengaja membalikkan segala riuh tawa yang tadi untuk dirinya dan Ice merasa agak terharu.
Yaya sebagai perwakilan para lulusan terbaik memberikan pidato singkat dan hari itu keluarga Amato pulang ke rumah Tok Aba bagaikan rombongan pahlawan memenangkan medan perang. Tentu saja sudah ada party yang disiapkan.
.
.
.
.
.
"Kejadian jatuh waktu itu membuatku ingat betapa pemalas dan kikuknya aku yang dulu. Tapi, lihat sekarang!"
Solar menatap abangnya itu. Ice, yang sampai dua tahun lalu lambat bergerak, malas, dan agak kelebihan berat badan, kini adalah sosok dengan badan proporsional. Tetap tidak setinggi Taufan yang paling menjulang di antara tujuh saudara, tapi tanpa lemak yang melebar ke mana-mana. Ice juga mengikuti semua pelajaran bela diri bersama saudara yang lain. Tak hanya itu, dia mendaftar kursus ergonomi dan caregiver training bahkan jauh sebelum keluarga mereka memutuskan bahwa Ice yang akan mendampingi Solar di luar negeri. Waktu itu mereka masih kelas tiga SMA dan Ice hanya berusaha mencari tahu apa saja yang perlu mereka pelajari untuk merawat Solar di rumah, karena Kak Gempa sering mengeluh nyeri punggung sehabis menggendong Solar untuk mandi. Harusnya ada cara teraman bagi anggota keluarga untuk mendukung mobilitas pasien yang lumpuh, apalagi kondisi Solar hampir pasti jangka panjang. Dari situlah pikiran visioner Ice telah membawa solusi yang baik bagi mereka sekeluarga.
Pikiran Solar masih belum menemukan terang. Kejadian jatuhnya, 'kan, tak sebanding, bukan apple to apple. Setidaknya, Ice masih bisa menggunakan kakinya, dulu itu dia jatuh karena gugup harus naik ke panggung. Sedangkan Solar …?
"Kalau bukan demi Solar, aku nggak mungkin akan jadi Ice yang seperti ini." Ice senantiasa tersenyum lembut hingga akhir ceritanya, tangannya tanpa sadar meraba sebuah bekas luka di lengan kiri, akibat Halilintar pernah terlalu keras menghajarnya dalam latihan bela diri sampai Ice menabrak salah satu pot tanaman milik Duri.
Si bungsu tersentak. Benar juga. Solar pernah jatuh ditelan kegelapan, tapi keluarganya selalu menariknya kembali meski harus ikut dalam gelap sesaat. Tentunya berat bagi Ice yang jarang berolahraga untuk menjalani latihan bela diri, tapi kakaknya ini telah berkorban. Malam yang kelam di hati Solar jadi tak terasa terlalu gulita.
Solar ikut tersenyum kecil, lalu meraih ke depan untuk memeluk Ice. Sang kakak balas memeluknya erat.
"Mau mandi sebentar lagi?"
Ice bisa merasakan Solar mengangguk dalam pelukannya. Tak lama setelah itu, Ice kembali menekuk lututnya agar siku tangannya sejajar dengan tinggi ranjang. Dibawanya satu lengan ke bawah lutut Solar dan satu lagi ke belakang bahunya. Cara yang benar dan aman untuk membawa sang adik, bagi Solar sendiri maupun bagi punggung Ice.
Kalau Ice yang dulu pemalas dan kikuk, Ice yang sekarang adalah pemuda cemerlang yang cekatan, berjiwa penolong, dan tak ragu-ragu untuk beraksi.
Bersama Ice, Solar merasa aman dan nyaman meski tinggal jauh dari kampung halaman.
.
.
.
.
.
To be continued.
.
.
.
.
.
Author's Note:
Roux makin mantap menulis cerita yang ini setelah menemukan bahwa Toyota menciptakan alat bantu gerak robotik seperti yang dipakai Solar di sini. Pada umumnya, leg/arm braces digunakan untuk menyokong alat gerak yang sedang terluka tapi masih bisa digerakkan terbatas (partial movement) misal pada kasus patah tulang. Ternyata, alat ini juga bisa untuk membantu orang lumpuh :")
Oke, ide tentang ergonomi dan caregiver training terinspirasi dari pelatihan K3 yang Roux jalani di tempat kerja :D semoga bermanfaat!
[10 Februari 2024]
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Jadi, Ice dan Solar berkuliah di Jerman. Bagaimana yang lain? Kokotiam semakin ramai, tapi kayaknya cucu Tok Aba nggak sebanyak dahulu."
Pada akhirnya, Azroy diundang untuk minum teh sebentar di ruang tamu Kaizo.
"Iya, hanya tiga dari tujuh cucu Tok Aba yang tetap tinggal di pulau ini. Dua yang tertua, kuliahnya di ibukota."
"Ooh. Lalu, yang tiga itu melanjutkan sekolah ke mana?"
Kaizo menyesap tehnya perlahan. "Gempa masuk sekolah guru. Blaze sekolah tinggi bisnis dan manajemen. Duri, dia nggak melanjutkan pendidikannya."
