BoBoiBoy © Monsta
Sunshine After the Rain © Roux Marlet
Alternate Universe, Family, Friendship, Hurt/Comfort, Angst
BoBoiBoy's elemental siblings (septuplet)
Sequel of "Through the Darkness" & "Harapan yang Menyingsing"
.
.
.
.
.
Chapter 2: Dirt on You
.
Chapter warning: suicidal action, gross stuff
.
.
.
.
.
"Kak Blaze, aku bisa bantu apa?" Suara lembut barusan mengejutkan si anak nomor empat yang sedang membersihkan daging ayam di dapur sore itu. Blaze menoleh dan mendapati Duri tersenyum di belakangnya.
"Erm, kamu cuci aja sayurnya, Duri."
Duri mengangguk dan meraih seikat sawi yang sudah tergeletak di meja dan bergegas membawanya ke bawah keran dapur. Langkahnya agak diseret, Blaze bisa melihatnya dan segera menyambar,
"Kamu nggak istirahat dulu?"
Ada embusan napas yang tertahan. "Enggak, Kak. Nanti yang lain makannya telat."
"Duri, kamu kelihatan capek." Blaze mengernyit dengan daging ayam kemerahan menjuntai di tangannya.
"Duri nggak apa-apa, Kak."
"Berapa jam kamu mondar-mandir tadi?" selidik sang kakak.
"Eum …." Duri termenung dengan kucuran air membasahi sayurannya. "Emm … Duri nggak ingat."
Blaze menggeram pelan, lebih pada diri sendiri. "Kamu nggak bilang Kak Gempa sakit. Tahu gitu, aku izin pulang kuliah lebih awal."
"Ehehehe. Duri bisa bantu Atok, kok …."
"Iya, tapi kamu lupa Atok udah nggak bisa banyak jalan?"
Duri hanya diam. Suara air mengalir terasa agak menyesakkan.
"Ya, udah. Jangan memaksakan diri." Blaze kembali mencincang daging ayamnya.
"Eum … Duri memang capek, tapi Duri mau bantu Kak Blaze masak." Akhirnya si nomor enam mengakui.
Segera protes itu terlontar, "Nanti kamu juga sakit—"
"—biar Kak Blaze enggak sakit kalau masak sendirian," lanjut Duri dengan tulus hati.
Senyum miring tercetak di wajah yang biasanya jahil itu. "Duri, seandainya tanganku bersih, kamu pasti sudah kupeluk, tahu?"
"Ih, bekas darah ayam, Kak." Duri terkikik.
"Hei. Kamu lupa pernah peluk-peluk aku sehabis berkebun dengan tanah belepotan lumpur?! Kasihan yang cuci baju, tahu?!"
.
.
.
.
.
Sekarang Gempa tahu mengapa Halilintar jadi senewen kalau vertigonya kumat. Isi kepala yang berputar membuatnya tak bisa berpikir jernih dan Gempa merasa sangat mual sampai harus berbaring. Dia terpaksa membiarkan Blaze dan Duri yang menangani dapur bersama kakek mereka.
Atau, hanya Blaze dan Duri berdua saja yang menyiapkan makan malam. Belakangan, Tok Aba nyeri lututnya kalau banyak berjalan dan berdiri. Tak bisa dipungkiri bahwa kakek mereka itu sudah hampir umur kepala tujuh. Pekerjaan di Kokotiam tak lagi sanggup dijalani beliau seorang diri, kondisinya rupanya sangat menurun sejak pulang dari liburan mereka di Jerman untuk meninjau kampus Ice dan Solar.
Adalah keputusan sangat besar yang dibuat Duri dengan tidak melanjutkan pendidikan tinggi. Dia mau membantu Tok Aba di rumah dan di kedai secara penuh waktu, yang tidak mungkin dilakukan kalau menjalani sekolah lanjutan seperti Gempa atau Blaze, apalagi yang berkuliah di luar Pulau Rintis. Duri tak punya ambisi menjadi ahli botani, guru biologi, atau apa pun yang orang-orang pikir berhubungan dengan hobinya berkebun dan kecintaannya pada tumbuh-tumbuhan. Ada diskusi yang sangat panjang dan berlarut-larut sebelum akhirnya keputusan itu bisa diterima oleh semua orang di rumah.
"Kak Gempa?" Suara manis di celah pintu itu mengusik pikiran Gempa yang masih dibayangi pusaran imajiner. "Oh, sudah bangun, ya? Makan malam sebentar lagi siap, Kak."
"Ya, Duri," balas Gempa dengan suara lemah. Dia berguling perlahan dan berusaha bangun dari tempat tidur untuk mendadak berhenti karena kepalanya kembali berputar.
"Perlu bantuan, Kak?" Duri menyalakan lampu kamar dan mendekat.
Gempa mau menggeleng, tapi dia telanjur dilanda mual dan malah berakhir muntah. Si anak nomor tiga terkulai di tepi ranjangnya dan ada sepasang tangan yang mendorongnya kembali berbaring. Tangan itu juga menyeka wajahnya yang kotor.
"Duri … maaf … jadi kotor semua."
"Nanti kubersihkan, Kak. Aku panggil Kak Blaze sebentar, biar Kak Gempa pindah kamar dulu, ya!"
.
.
.
.
.
Blaze, yang sudah pernah menyaksikan adik bungsunya mencoba bunuh diri untuk kedua kali, telah memaksa dirinya untuk menjadi seorang saudara yang peduli.
Banyak hal terjadi sejak Solar membulatkan tekad untuk masuk sekolah lagi di tahun terakhir mereka bersekolah. Hanya satu hari Solar datang ke sekolah di bulan Oktober 2021 dan Blaze berharap hari itu tidak akan terulang kembali.
Setahunya, Solar bersama Ice dan Duri mau ke perpustakaan saat jam istirahat. Solar mau mencari buku tentang ilmu kedokteran yang pernah dilihatnya. Semua sudah sepakat bahwa Solar harus ditemani minimal dua orang agar dia tidak kesulitan dalam mobilitas. Nah, di jam istirahat hari itu, Blaze mengajak Fang main basket sebentar di lapangan. Dari lapangan itu, mereka bisa melihat jendela dan lorong di sisi selatan perpustakaan.
Blaze waktu itu tidak tahu apa yang terjadi di dalam perpustakaan. Yang dilihatnya adalah kursi roda itu tiba-tiba keluar tanpa ada yang menemani. Solar berhenti persis di ujung lorong dan apa yang Blaze saksikan selanjutnya membuatnya melempar bola di tangannya ke arah jendela di tengah lorong.
PRAAAANG!
Sebelum Fang sempat berteriak kaget, Blaze sudah berlari menuju lorong itu dan melompat masuk lewat jendela yang kacanya berlubang.
"SOLAR!"
Si bungsu ada dekat terali jendela, syal jingga di lehernya terlilit—dililitkan—ke batang besi itu oleh pemiliknya sendiri; satu tarikan tangan sekuat tenaga mungkin cukup mengantarnya pergi dari dunia ini dan itu persisnya yang sedang coba dilakukan oleh Solar. Ada keributan dari arah perpustakaan dan memang itulah yang diharapkan Blaze, tapi dia sendiri bergerak lebih cepat dari siapa pun termasuk Solar sendiri. Blaze merenggut tangan kiri Solar dari ujung syalnya yang terpilin. Sang adik terbatuk, wajahnya yang bersimbah air mata sedikit membiru, dan saat itulah Blaze melihat Ice dan Duri.
"Astagfirullah!" pekik Ice, dan tak hanya dia yang mengucapkannya.
"Ada apa, sih?"
"Dia mau bunuh diri?"
"Entahlah. Sepertinya begitu."
Orang-orang mulai berkerumun, suara-suara mulai tertimbun. Ice segera melepaskan syal Solar dari jendela, Blaze mendorong kursi roda itu menjauh, dan Duri mengekor di belakang mereka. Ruang kesehatan adalah tujuan Blaze dan di tengah jalan Fang mendatangi mereka tanpa bicara apa-apa meski tampak ingin bertanya. Lebih banyak orang menengok-nengok ingin tahu di sepanjang lorong dan Blaze menyalak galak,
"MINGGIR! MINGGIR KALIAN!"
Fang berinisiatif untuk maju di depan kursi roda dan ikut berseru-seru agar para penghalang itu minggir. Solar sesenggukan tanpa suara, sesekali terbatuk sambil menutupi wajahnya dengan syal.
Hari itu, si kembar tujuh diizinkan oleh para wali kelas untuk pulang sekolah lebih awal. Siang itu, Solar sekali lagi hampir kehilangan nyawa dan menangis sampai malam. Tok Aba dan sang ibu menemaninya di kamar sampai Solar tertidur karena kelelahan.
Sementara itu, Amato dan keenam putranya berbincang di ruang makan.
"Apa yang terjadi?" Halilintar menggeram, menatap dua orang penuh amarah.
Ice, salah satu yang dipelototi si sulung, cepat-cepat berujar, "Maaf, Kak. Aku memang pergi sebentar karena Pak Guru Papa Zola memanggil—"
"KITA SUDAH SEPAKAT, ICE!" bentak Halilintar tanpa berusaha memelankan suara. "KAMU DAN DURI HARUS SELALU TEMANI SOLAR DI SEKOLAH!"
Duri, orang yang namanya juga disebut, terisak. "T-tangan Duri tadi kena tinta, takut mengotori buku—"
"KENAPA KALIAN BIARKAN SOLAR SENDIRIAN?!" sambar si sulung, wajah merah penuh murka.
"Halilintar, tenang dulu," sela Amato dengan dahi berkerut dalam. "Biarkan mereka cerita dulu."
Gempa menghela napas, parasnya juga cemas. Dia termasuk yang pulang belakangan demi mengurus izin semua saudaranya. Taufan dan Blaze, sementara itu, hanya terdiam. Mereka berdua sama-sama tahu bukan saatnya mencoba berceletuk mengenai apa pun.
Masalah ini sungguh serius. Tidak ada yang menduga Solar masih berusaha untuk bunuh diri.
"Ice, coba ceritakan," pinta Amato perlahan.
Mata biru itu menatap pada ayahnya penuh penyesalan. "Pak Guru memanggilku untuk mempersiapkan pameran sains akhir tahun. Biasanya memang ketua kelas yang menjalankannya."
Semua juga tahu, Ice terpilih menjadi ketua kelas jurusan Ilmu Alam di tahun terakhir sekolah menengah.
"Aku masih sempat lihat Duri membawa Solar ke dekat meja dengan setumpuk buku. Kupikir mereka akan lama di sana, Solar pasti mau banyak baca-baca. Aku dan Pak Guru berdiskusi di lorong sebelah barat. Kemudian aku dengar suara kaca pecah dari lorong selatan."
"Duri juga masih cuci tangan waktu kacanya pecah," sambung Duri dengan suara pelan.
"Kalau bukan karena Blaze—" Halilintar bersuara lagi, yang disela oleh Taufan,
"Iya, Kak Hali. Kita masih bersyukur Blaze bisa bertindak di waktu yang tepat."
Blaze sendiri menunduk, tangannya ikut gemetar mengingat apa yang terjadi. Sebagai orang yang juga pernah dilanda pikiran untuk bunuh diri, Blaze sangat paham perasaan Solar. Sekaligus tersisip rasa takut yang merayap di hati, bahwa Solar ternyata tidak ragu-ragu untuk beraksi segera setelah pikiran itu hinggap di kepalanya. Aksinya begitu cepat, untungnya diimbangi dengan kecepatan si penolong. Blaze tak mau membayangkan apa yang akan terjadi kalau dia tidak memecahkan kaca jendela dengan bola dan masuk lewat situ—abaikan denda yang harus dibayar dengan uang sakunya—tidak akan ada keributan dengan segera, Blaze tidak mungkin sampai dalam beberapa detik saja, Solar mungkin betul-betul ….
"Arghhh, nggak masuk akal!" teriak Blaze tiba-tiba. "Kupikir Solar itu orang paling rasional di rumah kita!"
Semua orang diam, hanya Amato dan Taufan yang menatap Blaze. Lainnya menunduk atau mengalihkan pandangan.
"Ya, aku tahu rasanya," seloroh Blaze lagi, suaranya bergetar. "Aku tahu rasanya sebegitu putus asa pada hidup sampai pengin mati." Ice mengangkat kepala pada kalimat itu. "Aku tahu rasanya … tapi aku nggak paham kenapa Solar—" Blaze tercekat karena tangis, "Solar yang jenius itu—Solar, adikku … adik kita semua … oh, astaga." Air mata Blaze gagal untuk dibendung, dia menangis meraung. Ice spontan merangkulnya.
Duri ikut menangis heboh dan Gempa juga meneteskan air mata. Ada pertanyaan yang mengudara tanpa perlu ada yang menyuarakannya.
Mengapa Solar harus mengalami semua itu?
Solar sudah menyelesaikan tulisannya dibantu Taufan, terpublikasi di internet dan surat kabar lokal. Kelihatannya dia sudah bisa menerima keadaannya sekarang, sudah kembali bersolek seperti dulu, kembali senang membaca buku sampai larut malam, ikut belajar dan mempersiapkan ujian akhir bersama Ice dan Duri. Hujan badai telah berlalu dan matahari itu mulai bersinar lagi.
Rupanya mereka semua salah. Solar tetap rapuh dengan segala lukanya yang terlalu dalam. Dia sudah pernah mencoba mencari kematian saat di rumah sakit dulu dan Duri berhasil mencegahnya. Blaze tidak akan membiarkan ada usaha bunuh diri yang ketiga kali bagaimana pun caranya. Dari Fang dia tahu bahwa hari itu sempat ada celetukan-celetukan keji di kelas, yang mungkin tidak terdengar oleh Ice atau Duri. Yang mungkin berlanjut sampai di ruang perpustakaan. Yang mungkin telah sekali lagi menghancurkan Solar.
"Solar nggak perlu ikut kelas luring lagi." Begitulah usulan Blaze, yang dibantu diurus oleh Amato, dan sampai tiba hari ujian akhir, Solar mengikuti pelajarannya dari kamar secara daring. Mikrofon hanya ada tersemat di kemeja para guru. Tak ada suara-suara yang tidak perlu dari orang lain dan Solar berhasil meraih prestasinya.
.
.
.
.
.
"Duri sudah memutuskan," ucap si nomor enam dengan wajah berseri, bulan November tahun 2021. "Duri mau jadi pegawai penuh waktu di Kokotiam!"
"Duri, kamu serius?" Gempa bertanya keheranan. "Kupikir kamu mau jadi guru biologi."
"Atau, ahli botani? Kamu, 'kan, suka tumbuh-tumbuhan," imbuh Taufan.
"Duri masih di bawah umur untuk bekerja," sergah Halilintar.
"Tapi, sebentar lagi kita delapan belas tahun!" balas Duri ceria. "Atok tenang saja, Duri nggak perlu digaji!"
"Hei, mana bisa begitu?" timpal Blaze. "Aku nggak setuju kalau Duri kerja pada Atok."
"Tapi, apa salahnya?" sahut Ice tenang. "Kalau Duri dan Atok sama-sama senang, kenapa enggak?"
"Atok senang, kok …." Tok Aba bersuara sambil menepuk kepala cucunya yang nomor enam. "Terima kasih, Duri."
"Tapi, Tok, kalau Duri bekerja pada Atok, nanti ada kewajiban pajak dan hak cuti sesuai peraturan …."
"Kak Hali, please."
Diskusi pertama dengan peserta hanya enam kembar dan Tok Aba berakhir berputar-putar soal undang-undang ketenagakerjaan.
"Tapi tahu nggak, sih, hasil tesnya Pak Guru Kokoci dulu?" ucap Taufan hanya pada Gempa dan Blaze di bulan Desember tahun yang sama. "Duri itu IQ-nya jauh di bawah orang normal."
"Terus kenapa, Kak?" balas Blaze. "Dia bisa sekolah normal dan lulus sampai sejauh ini."
Gempa menanggapi setengah merenung, "Tapi … ada benarnya juga. Kamu juga ingat waktu kelulusan SD, 'kan, Blaze? Duri itu hampir nggak lulus."
"Setelah itu, Duri belajar sama kamu, Gem. Dan setelahnya, sama Ice." Taufan mengingat-ingat. "Barangkali, kayak yang pernah kita bahas, Gem. Hasil tes Pak Guru Kokoci mungkin sudah nggak relevan karena sudah terlalu lama."
"Atau kita minta bantuan Pak Guru Kokoci untuk tes minat dan bakat?" celetuk Blaze asal. "Lagi tren tuh, buat anak seumuran kita yang galau pilih studi lanjut, macam Kak Taufan."
"OI!" protes si nomor dua. "Tapi, idemu boleh juga."
Diskusi yang ketiga dilanjutkan setelah ketujuh kembar menjalani tes minat dan bakat, awal tahun 2022. Khusus Duri juga dilakukan tes IQ sekali lagi. Pak Guru Kokoci diundang Amato untuk ikut serta, Solar juga diajak bergabung kali itu.
"Taufan yakin, kami jadinya mau pilih ini?" Amato memastikan.
"Yakin, Ayah. Aku mau sekampus sama Kak Hali di KL," jawab Taufan sambil nyengir.
"Sekampus sama Yaya, kali," balas Halilintar, yang disambut sikutan maut dari adiknya, yang berbalas tempeleng di kepala si nomor dua.
"Nggak ada hubungannya sama Yaya!" Taufan bersikukuh meski wajahnya memerah. "Aku malah baru tahu Yaya juga mau kuliah di situ!"
Blaze bersuit-suit. "Kak Taufan si politisi, mungkin nanti dia mau meminang Yaya dengan jalur diplomasi …."
Gempa, Ice, dan Duri tertawa mendengarnya. Tak ada yang menduga Taufan akan mendaftar di jurusan Ilmu Politik dan Pemerintahan, di kampus yang sama dengan Halilintar di Fakultas Hukum. Bukannya dari dulu dia pengin jadi jurnalis? Rupanya pengalaman setahun terakhir telah mengubah banyak hal dari si nomor dua.
"Nah, yang lain … pilihannya sudah sesuai dengan yang pernah kalian tulis sebelum ini di kelas dua." Kokoci membaca kertas di tangannya dari balik kacamata hitam. "Halilintar, jurusan hukum … Gempa, pendidikan guru sekolah rendah … Blaze, sekolah bisnis dan manajemen; Ice, biologi kelautan; Solar, kedokteran. Ya, selain Taufan … pilihan yang berbeda adalah Duri …."
Si pemilik nama tersenyum lebar. Solar menoleh keheranan. Sejatinya dia belum pernah tahu apa yang dicita-citakan oleh Duri—bukannya dulu sewaktu mereka membahas hal ini, Duri hanya senyam-senyum saja saat ditanyai Gempa? Lalu, apa bedanya pilihannya waktu itu dengan sekarang?
"Sebetulnya nggak berbeda, Pak Guru!" sahut Duri. "Sama aja, tapi lebih spesifik!"
"Oh, iya. Memang benar," balas Kokoci, ikut tersenyum. "Duri, yang dulu 'ingin jadi orang yang membahagiakan orang lain' lalu sekarang 'ingin bekerja penuh waktu di Kokotiam'."
Halilintar angkat suara, "Hei—"
"Aslinya, Duri benar-benar nggak mau digaji," sela Duri sambil mengangkat tangan, melihat si sulung sudah mau protes—dia yang sejak awal menentang ide itu. "Duri nggak perlu indekos dan makan tersedia tiap hari, itu saja sudah bagus. Hihihi." Taufan tersenyum kecut mendengarnya, menyadari bahwa itulah tantangan yang akan dihadapi dirinya dan Halilintar, dan juga Ice serta Solar saat kuliah nanti. "Tapi, Tok Aba sudah punya perhitungannya. Duri akan dapat gaji yang layak dari penghasilan bersih bulanan, jadi Kak Hali nggak usah khawatir tentang peraturan tenaga kerja. Terima kasih Kak Blaze, yang sudah membantu Atok hitung-hitung!"
"Hehehe, terbaik." Sang kakek mengacungkan jempol sementara si nomor empat mengedipkan mata.
"Ada yang masih keberatan?" Duri mengedarkan pandangan pada semua orang, yang menggeleng, kecuali satu.
"Solar?" panggil Duri, adik satu-satunya itu mengacungkan tangan kirinya.
'Kak Duri nggak pengin kuliah botani?' Taufan membantu menerjemahkan isyarat.
Duri menggeleng. "Nggak, Solar."
'Biologi?'
Gelengan lagi.
'Jadi guru seperti Kak Gem?'
Masih saja Duri tersenyum sambil menggeleng.
'Terus jadi apa?'
"Hei, Solar," desis Taufan, tidak mau menerjemahkan yang barusan itu. Duri masih menatapnya dengan pandang bertanya. Selain Taufan, hanya Gempa yang paham isyarat yang terakhir, tapi sesungguhnya pertanyaan itu terbaca dengan jelas di ekspresi wajah si bungsu.
Solar diam sebentar lalu menggeleng. 'Aku nggak bisa paham.'
"Solar, mungkin kamu menganggap pendidikan tinggi sangat penting, ya?" ucap Amato tiba-tiba. Solar menoleh dan mengangguk. "Memang benar. Ayah juga setuju."
"Ibu senang kalau anak-anak Ibu bisa jadi sarjana," imbuh Amadea. "Tapi nggak semuanya harus begitu."
"Solar mungkin baru kali ini mendengar cita-citaku, ya?" ujar Duri pada adiknya. "Kalau mau ketawa, boleh aja. Tapi memang hanya segitu kemampuanku."
"Oh, Duri …," gumam Gempa dengan mata berkaca-kaca.
"Aku yakin Solar bisa jadi dokter yang hebat!" Duri melanjutkan, membuat Solar tersentak. "Aku juga yakin kakak-kakakku semua bisa jadi orang-orang hebat dengan kuliah! Kalau aku, aku sendiri nggak yakin bisa berkuliah seperti kalian, jadi—"
"Tapi, Duri belum nyoba, 'kan?" Ice bersuara. Mata hijau itu kini menatap kakak yang nomor lima.
"Kak Ice sendiri tahu gimana beratnya aku belajar Ilmu Alam selama ini," jawab Duri dengan nada memelas. "Dengan Kakak dan Solar nggak di sini nantinya, meski masih ada Kak Gempa dan Kak Blaze … aku nggak mau selalu bergantung pada orang lain untuk sekadar dapat kertas ijazah."
Kokoci berdeham. "Duri sendiri yang tahu batasan, sampai sejauh mana dia mampu. Dan aku mendukung keputusannya."
"Duri malah bisa bantu Tok Aba tiap hari, karena part-timer Atok bakal berkurang empat orang, hehehe." Sang kakek tersenyum mendengar penuturan lugu itu. "Daripada Duri memaksakan harus kuliah dan nantinya berakhir drop out karena nggak bisa menyelesaikan … lebih baik aku nggak kuliah."
.
.
.
.
.
"Gempa … Gempa …."
Si anak nomor tiga merasa mendengar suara itu jauh sekali, padahal Tok Aba ada di sampingnya, mengurut bahunya dengan minyak angin. Barusan Gempa muntah lagi, sampai Blaze menelepon Dokter Qually di Klinik Gaharum untuk datang ke rumah. Gempa berkeringat dingin dan jantungnya berdebaran liar.
"Ada riwayat vertigo sebelum ini?" Sang dokter bertanya, tapi Gempa terlalu lemah untuk menjawab dan hanya bisa menggeleng. Lengannya dimasuki selang infus nutrisi karena Gempa sudah banyak muntah dan tidak bisa menelan apa pun.
"Halilintar, cucuku yang nomor satu, ada vertigo," jawab Tok Aba. "Tapi kalau muntah tidak pernah separah ini."
"Jadi, ini pertama kalinya buat Gempa?" Wajah bundar Qually tampak cemas.
"Benar, ya, Gempa?" Tok Aba memastikan. Gempa mengangguk pelan dan banyak memejamkan mata.
"Apa kegiatannya sepanjang hari ini?"
Tok Aba mengingat-ingat. "Tadi pagi, Gempa berangkat kuliah seperti biasanya. Belum sampai azan Zuhur, dia sudah pulang, muka pucat, katanya pusing berputar."
"Kemarin malam, kami dapat kabar Solar jatuh di kampusnya," sela Blaze.
"Begitu, ya," gumam Qually, menambahkan satu obat suntik ke lengan Gempa. "Lalu, gimana Solar?"
"Memar sedikit, banyak nangis. Ice belum cerita apa-apa lagi." Blaze hanya berharap tidak ada lagi pikiran untuk mengakhiri hidup yang menghinggapi kepala adik bungsunya itu.
"Oh, iya, dari tadi Duri nggak kelihatan, ya?"
Blaze terlonjak dari kursinya sambil merengut. "Iya, dia baru membersihkan kamar Kak Gempa. Katanya aku nggak boleh bantuin, padahal aku udah selesai nyiapin makan malam. Coba kupaksa, deh."
"Berusahalah lembut, Blaze," nasihat Tok Aba.
"Iya, Tok." Blaze sudah menghilang dari ruang tamu menuju kamar Gempa di lantai dua. Tatanan kamar-kamar memang banyak berubah sejak penghuninya berkurang. Tok Aba tetap di lantai bawah ditemani Duri di kamar lama trio kembar tertua, sedangkan Gempa dan Blaze sendiri-sendiri. Gempa di bekas kamar Duri dan Solar, Blaze tetap di kamarnya yang dulu ditempatinya bersama Ice. Mereka masing-masing perlu kamar yang terpisah untuk menggelar semua tugas kuliah, terutama Gempa yang kadang-kadang latihan mengajar tanpa ada pesertanya.
"Duri, kamu sudah selesai?" Blaze langsung mendorong pintu kamar tanpa mengetuk. Yang dilihatnya adalah Duri sedang berdiri di tengah ruangan sambil menatap sesuatu di dinding, lantainya sudah bersih seluruhnya, ada seonggok kain kotor dan ember di sudut kamar. Dari ambang pintu saja Blaze bisa mencium aroma isi ember itu dan berniat segera membuangnya ke kamar mandi.
"Kak Blaze?" Si nomor enam menoleh. "Kayaknya aku tahu kenapa Kak Gempa sakit."
"Kenapa?" Blaze sudah hendak meraih ember, tapi Duri mencegahnya.
"Aku saja yang buang. Nanti tangan Kak Blaze kotor."
"Bisa cuci tangan, lah!"
"Ini hari Sabtu. Kak Gempa hari ini praktik mengajar olahraga," Duri menunjuk papan jadwal. Gempa masih selalu menjadi orang yang penuh rencana. Jadwalnya satu bulan ke depan sudah tertulis rapi dan detail di papan itu, panjangnya tak kurang dari dua meter. Di situ tertulis pada hari dan tanggal ini: roll like a ball dan backward roll.
"Hah? Bukannya waktu sekolah dulu, Kak Gempa bisa dengan mudah berguling—" Blaze berhenti dan menatap Duri dengan takjub sekaligus horor. Dia ingat sesuatu tentang berguling yang pernah jadi pengalaman mengerikan si nomor tiga, dua setengah tahun yang lalu. "... Kak Gempa nggak sekadar vertigo."
Blaze melanjutkan sendiri dalam hati, Pengalaman traumatisnya terpelatuk?
Duri sudah mengangkat ember itu dengan hati-hati karena perhatian Blaze teralih. Dia kalah cepat, Blaze merebut ember dari tangannya.
"Sana, kamu turun duluan dan bilang pada Dokter Qually."
"Yah, Kak Blaze jadi ikutan kotor."
"Dulu juga waktu kita masih bayi, Ayah dan Ibu mau berkotor-kotor ngurusin kita! Buruan, Duri!" Kesabaran Blaze hampir habis.
Duri langsung pergi, setengah terbirit-birit menuruni tangga dan Blaze agak menyesal sudah berteriak. Mendadak, Blaze merasa begitu rindu pada Ice yang selalu berkepala dingin dan tak pernah membentak orang. Kalau barusan adalah Ice yang menyuruh, tak mungkin Duri sampai bereaksi demikian.
"Ice … ya, ampun, aku kangen kamu …."
Blaze mengernyit menghadapi bau yang memuakkan di tangannya, dan tiba-tiba kepikiran bahwa di waktu awal pubertas dulu, saat Blaze belum mengenal deodoran, mungkin saja Gempa setiap hari tersiksa saat mencuci baju miliknya. Dia terkekeh kecil ketika ingat bahwa Ice pernah pingsan gara-gara dipeluk Blaze sehabis pertandingan basket.
"Kita impas, ya, Kak Gem," gumam Blaze sebelum masuk ke kamar mandi.
.
.
.
.
.
Sejak kecil, Duri memang mudah menangis. Dia sering takut akan banyak hal, tapi adiknya, Solar, lebih pemberani. Dia bisa mengenal ulat yang menggeliat dan kupu-kupu yang cantik berkat Solar yang menemaninya di halaman rumah. Hati Duri juga sangat lembut, dulu dia menangis berhari-hari saat Cattus mati terlindas mobil. Dia juga menangis terus saat Solar kecelakaan di ulang tahun Fang yang kesepuluh dan harus dioperasi.
Saat mereka umur tujuh belas, Duri menangis saat Blaze dan Ice menghilang. Saat kemudian Ice terbaring koma. Saat Blaze mengamuk dan hampir melukai saudaranya. Saat Gempa, Solar, dan Halilintar tak kunjung pulang menjelang hari raya. Duri sudah berjanji untuk tidak menangis lagi saat menemani Solar di rumah sakit, tapi kenekatan Solar waktu itu telah membuatnya melanggar janji sendiri.
'Solar akan sedih kalau lihat Duri nangis,' begitu determinasinya sebelum Solar menyelundupkan garpu itu ke bawah bantal.
Tapi Duri tak pernah, sekalipun tidak pernah, menangis untuk mengasihani dirinya sendiri. Sewaktu awal bersekolah, beberapa anak nakal mengatainya hal-hal yang jahat—mereka bisa melihat Duri memang berbeda dibandingkan saudara-saudaranya dan Duri menangis menyaksikan bagaimana Halilintar sampai mengamuk demi dirinya, membalas anak-anak nakal itu sampai jera. Beberapa kali Duri menangis saat gagal dalam ujian, itu bukan karena dirinya merasa gagal … melainkan karena dia sudah mengecewakan orang tuanya, saudaranya, para gurunya. Banyak kali hanya Tok Aba seorang yang menghiburnya, saat Solar sibuk dengan dirinya sendiri dan Ice sibuk bersama Blaze. Bukan hanya Gempa yang punya hubungan istimewa dengan sang kakek. Tok Aba sesungguhnya adalah yang paling tahu seberapa kapasitas Duri. Kalau bukan karena dukungan orang-orang terdekat, Duri tidak mungkin bisa lulus pendidikan dasar dan menengah.
Karena itulah, Duri tidak mau memperpanjang kemungkinan membuat orang lain kecewa. Dia memilih tidak kuliah dan Tok Aba yang paling mendukung keputusannya. Begitu pula saat Solar memutuskan berkuliah kedokteran di Jerman dengan segala keterbatasannya … Duri tahu dirinya bukan orang yang tepat untuk mendampingi Solar di luar negeri seberapa pun inginnya dia menemani sang adik. Solar tak hanya butuh dukungan mental yang tangguh, namun juga kecerdasan intelektual serta fisik yang kuat, dan Duri jelas keluar dari kualifikasi itu. Tidak ada yang protes saat keluarga mereka sepakat agar Ice mengambil peran itu.
Sejauh inilah yang Duri bisa lakukan, yaitu membantu Tok Aba bekerja di Kokotiam, maka itu yang dia pilih.
"Pagi, Duri. Hari ini cerah." Suara lembut sang kakek menyusup ke pendengaran, diiringi secercah cahaya matahari dari tirai jendela.
"Hmmm?" Duri menggosok pelupuk mata yang terasa berat. Hari Sabtu kemarin sungguh melelahkan, dia sendirian bekerja di Kokotiam tanpa dibantu Gempa karena sakit, sepanjang sore memasak bersama Blaze lalu masih membersihkan kamar Gempa yang terkena muntahan, dan terakhir menjamu Dokter Qually yang baik hati dan yang memberi Gempa obat penenang tanpa perlu diberi tahu apa penyebabnya sakit.
Duri pengin tidur saja seharian di hari Minggu ini ….
"Lihat. Bunga matahari-mu akhirnya bertunas."
"Apa?" Duri melonjak bangun. Tok Aba terkekeh senang melihat si nomor enam buru-buru menyingkirkan selimut dan beranjak ke pinggir jendela.
Dalam pot kecil itu, sebentuk kehidupan berwarna hijau pucat telah muncul. Duri tersenyum cerah, secerah mentari pagi itu.
"Benihnya memang sudah mati, ya, Tok?" seloroh Duri sambil mengamati tanamannya, mengingat minggu-minggu belakangan ketika dilanda kekecewaan karena tak ada apa-apa tumbuh di pot itu. "Dia mati dan hancur, tertimbun dalam tanah yang kotor. Tapi sesungguhnya, dia akan berubah wujud dan bertumbuh berkat tanah itu!"
Blaze ada di ujung tangga, baru bangun dan sudah menengok ke dapur, ketika mendengar percakapan itu lewat pintu yang terbuka.
"Kadang kita memang perlu berkotor-kotor, ya, Duri?" Blaze menyeringai. "Kamu tahu, Kak Gempa sudah bangun dari tadi dan lagi bikin pastel panggang?"
"Waaah!" Duri mengendusi udara. "Jadi, bau sedap ini karena Kak Gempa, ya? Dia sudah sehat?"
"Sudah on fire untuk kembali jadi Komandan Rumah Tangga," balas Blaze, seringainya masih ada. "Ayo, Duri! Kita lihat apa yang masih bisa kita bantu."
Duri langsung berlari mengikuti Blaze ke arah dapur.
Tok Aba merapikan pot itu, tersenyum simpul sambil mengucap syukurnya di dalam hati. Dia teringat ucapannya pada Gempa semalam, sebelum sang cucu akhirnya terlelap di bawah pengaruh obat,
"Tidur yang tenang, Gempa … ada Atok di sini."
Tak hanya kakekmu yang ada di sampingmu, Gempa. Kamu punya adik-adik yang selalu bisa diandalkan dan tahu peran masing-masing.
.
.
.
.
.
To be continued.
.
.
.
.
.
Author's Note:
Lagi-lagi, Roux terinspirasi dari pelatihan di tempat kerja hahaha XD filosofi "Dirt on You" ini sebetulnya menggambarkan omongan atau perbuatan orang yang jelek-jelek terhadap kita. Anggap saja "kotoran" itu pupuk kandang yang bisa membuat biji jadi bertumbuh :"D Soal biji itu harus mati dulu sebelum bisa jadi tumbuhan, pas banget dengan bacaan misa hari ini :3
Dan lagi-lagi, dalam salah satu pelatihan, ada kegiatan di mana Roux harus berguling-guling di tanah dan itu beneran bikin vertigo kumat :( ternyata perlu mengalami dulu (amit-amit) baru bisa terbayang kayak gimana Gempa dulu jatuh berguling-guling dari atas jurang, ya.
Soal Solar yang suicidal di sekolah … Roux dapat ide dari seorang kawan baik yang sedang membuat fanart untuk serial ini, Namari! Berhubung ada banyak penjelasan dan filosofi dalam fanart-nya, Roux akan tampilkan nanti di akhir cerita :"D
.
Terima kasih sudah membaca! Mohon maaf belum bisa balas review-nya satu per satu tapi sungguh sangat diapresiasi!
Psst, Roux sedang coba bikin video promosi amatiran untuk serial ini (yeay?) Sulit juga bagi waktu belakangan ini :")
.
Akhir kata, selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalaninya!
Jadi ingat kalau awal serial ini juga ditulis saat dan berlatar waktu di bulan puasa tahun 2021.
[17 Maret 2024]
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Sungguh manis," ujar Azroy yang terharu menyimak latar belakang Duri dan pilihannya untuk masa depan. "Aku kagum pada persaudaraan mereka."
"Begitulah." Kaizo meletakkan cangkirnya sambil tersenyum. "Blaze sudah mulai mengembangkan promosi Kokotiam di internet, bekerja sama dengan usaha ojek lokal. Layanan pesan antar sekarang mudah didapat."
"Hei, Kaizo, jangan-jangan kamu di-endorse mereka buat promosi?"
Kaizo hanya tertawa. Azroy berseluncur di ponselnya sejenak dan mendapati beberapa hal baru pada toko daring Kokotiam.
"Juga buka jasa bunga rangkai untuk acara wisuda?"
"Iya, itu idenya Duri, dan Gempa yang membantunya. Kalau menurut Fang, Gempa memang pernah ikut klub handicraft dan Duri klub merangkai bunga. Dengan sentuhan bisnis dari Blaze, mereka sudah membuka pasar baru di samping minuman cokelat."
"Luar biasa, anak-anak ini," decak Azroy. "Lalu, gimana dua saudara mereka yang tertua?"
Kaizo merenung sejenak. "Yah, mereka berdua … tampaknya adalah yang paling serius menghadapi apa yang pernah terjadi. Mengejar tegaknya keadilan."
