Sebelumnya aku berterima kasih pada semua reader dan author yang mengomentari fic ini. Entah bagaimana aku merasa bahwa aku mendapat semangat untuk melanjutkan fic kreasiku agar semua pembaca dan khususnya yang telah me review tulisanku menjadi tidak kecewa. Dan mengenai update kukira aku berencana menggunakan tenggang 7-10 hari untuk mencari inspirasi fic ini. Harapanku agar kalian bisa terus memotivasiku dan memberikan kritik dan saran di review coloumn untuk menambah semangatku dalam menulis. Akhir kata, special thanks untuk :

KozukiShin,Iwas,Dhika-Dobe,mrheza26,guestny guest,Dark,Guest,Yami 69 ,Deri Vlady,jinchuriki kadal,Guest,Thiyahrama,The KidSNo OppAi, , Angga342

SEMOGA CERITAKU TIDAK MEMBOSANKAN.

ROOT OF UCHIHA

Disclaimer : Masashi kishimoto

Rated : T

Chapter 2

. . . . . . .

"apa hari ini kita akan melakukan latihan lagi?"naruto mengangguk antusias kearah ibunya. "kalau ya.."ia langsung memberingkesi beberapa lilin dan satu kotak korek api. "kita kelihatannya memerlukan ini bu."

Wanita yang menginjak usia 18 tahun itu menatapnya ramah, senyumnya mengembang sehangat matahari.

"kenapa tidak?"ujarnya sambil membantu naruto bersiap-siap. Mereka langsung beranjak dari meja makan pagi tadi, meninggalkan segerumbul anak yang langsung bersiap untuk agenda belajar dan bermain di ruang rekreasi. Salju masih turun dan aktivitas di luar ruangan tidak diperbolehkan. Sebenarnya sebuah kebahagiaan bisa bermain sepuasnya, tapi begitu tahu bahwa si ibu ingin mengajaknya pergi jalan-jalan, anak berambut hitam ini langsung bersemangat mengikutinya.

"baiklah mengapa kau tersenyum-senyum hm?"

Naruto tak menjawab apapun. Sebaliknya malah menarik lengan si ibu, "ayo bu. Kita harus berangkat sebelum yang lain melihat,"

"seperti jika kau selalu tak terlihat."selepas berkata seperti itu-pun nonou langsung membuka pintu dan mengunci mereka di luar. Seperti biasa ia berjalan lebih dulu dan membiarkan naruto mengikutinya. Hari ini titik-titik bongkahan salju masih menggunung. Dan udara juga tak berubah, tapi ada satu hal, anak dibelakangnya masih seperti anak biasa yang sering ditemuinya. Oh tidak—cukup luar biasa seperti biasanya karena hanya anak itulah yang kelihatannya cukup menarik dimata seseorang. Dan lagi tak semua anak panti bisa mengeluarkan cakra.

"ibu.."

"hm?"ia melirik sebentar kearah samping. Melihat porsi anak 6 tahunan yang menatapnya dengan mata hitam jernihnya yang berbinar. "ibu seorang ninja ya?"

Nonou tertawa kecil sebentar. Kerongkongannya sedikit kering saat ia menghela napas kemudian. "ya.. ibu bisa sedikit menggunakan ninjutsu."

"kalau begitu ibu seorang kunoichi.."

Nonou menggeleng. "hanya karena kau memiliki kemampuan ninjutsu bukan berarti kau seorang kunoichi. Mengerti?"

Bibir naruto mencebik. "tapi di buku yang kubaca tertulis begitu bu. Ck! Pasti buku itu tidak berguna."naruto menendang bulir salju dibawahnya, kelihatan frustasi dengan informasi palsu yang didapatnya. Mereka terus melangkah kearah tempat yang kemarin mereka kunjungi. Untuk alasan berbeda naruto memilih berjalan dibelakang ibunya hari ini. Tentu saja itu membuat nonou tersenyum.

"kau tahu anak lelaki tak boleh takut pada kegelapan, terlebih karena kau ingin menjadi seorang ninja.."

Dibelakangnya naruto langsung berjalan mempercepat lajunya dan menyamakan langkah mereka. Ia bersikap seolah lebih tinggi satu jengkal dari dirinya sendiri saat ini. "itu tidak masuk akal bu. Lagi pula memangnya hanya karena aku berlatih ninjutsu medis aku akan menjadi seorang ninja?"

Nonou menaikkan sebelah alis. "memangnya kau tidak ingin menjadi ninja?"

"hn. Ibu baru saja bilang seperti itu."rutuk naruto sambil membuang muka kearah samping. Ia bersedekap dengan bibir mengerucut, disebelahnya nonou tertawa kecil tapi tak mengucapkan apapun sebagai tanggapan. Ia melangkah dengan langkah tegaknya mendekati mulut gua, membimbing naruto untuk masuk ketempat yang sama seperti yang sebelumnya telah mereka lakukan.

Tap! Tap!

Sang ibu menggelar scrollnya. Telah bersiap menghadap meja persegi panjang sambil menatap bocah yang dengan sigap langsung meletakkan ranselnya ke tanah dan membukanya. Yang membuat heran dirinya adalah kecepatan anak itu dalam memberingkesi barangnya. Seingatnya tak ada yang bisa melakukan hal-hal secepat itu dalam usia 6 tahun. Tapi yang ini dengan keistimewaannya sendiri malah melakukannya sambil memejamkan mata.

"naruto.."

"sebentar."berikutnya yang terdengar hanya suara korek api yang digesekkan pada kotaknya. Itu berlalu sangat cepat sambil bunga-bunga api mulai muncul dan ditempelkan ke sumbu lilin. Suasana gua yang gelap membantu membuat titik kecil cahaya itu menjadi satu-satunya yang paling cemerlang diantara semua benda. Berikutnya yang terlihat lilin ke dua dan ketiga. Dengan cara sederhana gua ini tak lagi sepenuhnya gelap gulita.

"ibu mau aku meletakkan satu disana?"naruto menatap ibunya yang terdiam mematung di tempat. "aku bisa menyiapkan satu untuk penerangan kita."

"dan membuat uang lebih cepat habis untuk memberi lilin? Tidak. Ibu sudah terbiasa melihat dalam gelap."

Naruto menatap kearah lilin ditangannya sebentar. Kemudian melangkah ke lilin lain dengan masih membawa lilin tersebut di tangan.

"fuuuuuh! Fuuuuuuuuuh!"

"kenapa di matikan?"

Bocah itu terlihat melangkah kearahnya, berdiri disebelahnya sambil membuka matanya hati-hati. Sebagai ninja mungkin ia akan terbiasa dengan keadaan seperti ini, tapi sebagai anak kecil, itu pasti masalah yang berbeda. Tapi anak disebelahnya menggeleng patuh dan langsung memfokuskan diri dengan mata menyipit kearah scroll dihadapan mereka. Menatap kelinci yang kakinya terluka dengan moncong berkedut-kedut.

"aku suka kelincinya."

Nonou tersenyum dan mengangguk. "kalau begitu kau harus mengobatinya."

Naruto mengangguk patuh dan mulai berkonsentrasi pada aliran cakra ditelapak tangannya. Masih cukup sulit sampai pendar kebiruan menguar dari sana dan mulai membesar. Ia terus berkonsentrasi, mengalirkan energi dalam jumlah sempurna dari semua kapasitas yang dimilikinya. Disebelahnya nonou mengamati kejadian itu. Mencoba memberi support sampai semuanya mulai jadi kurang terkendali.

"itu.."pendar hijau yang diharapkannya tak kunjung keluar. Malah sebaliknya dari tangan naruto yang keluar hanyalah pendar berwarna kebiruan yang nyalanya makin lama makin besar. Itu kelihatan tidak normal dalam dunia medis dan lagi apa yang akan terjadi selanjutnya?

Kriiiiik!

Suara kelinci menguik. Naruto masih berkonsentrasi dan cakra yang dialirkan makin lama instensitasnya makin maksimal dengan pola aliran cakra yang makin stabil dengan ujung-ujung berbentuk runcing yang menajam.

"naruto.."

Jrash! KIIIIIIiiiiiik!

Semua baju naruto tertumpah ceceran darah dan organ. Semua pecahan tubuh kelinci tadi menyebar kemana-mana. Baik itu telinga, moncong dan mata rubbynya beserta kepala yang terpenggal. Sang ibu terdiam disebelahnya. Scroll tertumpah lagi oleh ceceran darah. Hal terakhir yang dilihat si ibu adalah keterkejutan, dan semua itu tampak dari mata naruto yang melebar dan tangannya yang berlumuran darah serta wajah yang rupanya kurang lebih sama. Bocah itu langsung menyembunyikan tangannya, menariknya kebelakang tubuh dan menatap ibunya ngeri.

"k-kenapa? A-aku m-menghancurkannya lagi? Ibu! A-aku menghancurkannya! A-aaku ini j-jahat bu!"naruto mengangkat kedua tangannya dan menatapnya sebal. Ia menggerakkan jemarinya berulang-ulang dan meremaskannya setelahnya. "kenapa aku harus menghancurkannya sih?! Aku.. aku ini monster. Dan kelinci itu.. IBU kelincinya masih BISA DIHIDUPKAN KAN?! Ya kan?! Ibu.. kelincinya bu.."

Naruto mengalihkan matanya kearah kepala terpenggal kelinci tadi, melihat bulunya dan mata rubbynya yang masih terbuka dengan baik dan kelihatan sehat. Ia meraih benda itu, menyentuhkannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi kearah sang ibu. "ini masih bisa dihidupkan kan bu?! Bisa kan?! Aku tidak membunuhnya kan!?"

"naruto.."nonou menjauhkan benda tadi dan mengambil anak itu kedalam pelukan. Ia mengusap bekas darah anyir si kelinci yang menempel di wajah bocah itu. "itu tidak bisa dihidupkan.. itu terpenggal. Kita bisa cari yang lain ya?"

"tapi.."

"shhhh. Kita bisa cari yang lain.. kita bisa mengulangnya lagi."kedua lengan penuh kasihnya diulurkan untuk memeluk naruto. Mengusap kepala bocah itu dengan lembut dan penuh kasih sayang. Tak ada pemberontakan lainnya, kecuali bahwa anak itu hanya menatap kosong melompong pada gua gelap yang ditakutinya tanpa bisa mengeluarkan suatu suara apapun.

"dengar, kau tak perlu takut naruto.. ini suatu permulaan yang bagus. Dalam dunia ninja kau selalu bisa mengalami ini disaat pertama tahap pembelajaran."

"apa ibu tidak marah padaku?"tanya naruto sambil menarik diri dari pelukan ibunya. "katakan bu.."

Mata mereka berdua bertemu, sesaat Nonou yakushi menggeleng pelan. Tangannya bergerak ke arah wajah bocah itu dan membingkainya dengan kedua tangan. Mengusap percikan darah disana, "ibu tidak akan marah kalau kau melakukannya secara tak sengaja. Dan ini masih permulaan. Kalau begitu kita akan melatihmu untuk menjadi lebih baik dari sekarang."

Naruto melirik kearah meja tempat mereka meletakkan scroll jutsu-nya. Berjalan kearah sana sambil terus diperhatikan oleh sepasang mata hijau dibalik kacamata. Ia melirik kearah ember yang di dalamnya terdapat beberapa ikan yang terluka dan tak bisa menggelepar. Matanya menatap kearah ibunya tak sabar.

"kita tidak selamanya disini dan menunggui kegelapan kan?"

Dari ekor mata ia melihat ibunya mengangguk dan melangkah kearahnya sambil membuang napas, "kalau kau menyukai gelap. Tapi itu mustahil dan kita bisa memulainya.. sekarang."

Dua ikan tergeletak lagi di atas scroll. Di sisi nonou satu dan disisi lainnya dihadapi oleh naruto. Mereka berlomba untuk mengalirkan hawa kehidupan ke dalam sana. Nonou memberi panduan dengan segala taktikal medisnya, memberi tahu bagaimana caranya memberhentikan aliran cakra pada saat terdesak dan mengubahnya menjadi cakra medis dan bukannya cakra pembunuh. Tentu saja itu bukan masalah besar selain naruto yang kesulitan karena bingung mengubah cakra birunya menjadi hijau. Bocah itu mendengus beberapa kali sambil berusaha sekonsentrasi mungkin mengobati luka ikan di dekat telapak tangannya.

"lakukan seperti yang ibu lakukan."

Bibirnya mengerucut, kening naruto berkerut-kerut. "apa aku kelihatan tidak mengikuti cara ibu? Itu sama saja. Tapi kenapa cakraku tidak berubah?"

Nonou menggeleng lagi, ia mengamati cara naruto mengalirkan cakra medisnya. "kau tidak mengontrol cakranya dengan baik. Kalau seperti itu ikannya akan mati lagi."ia menggeser tubuh naruto ke samping, lalu meletakkan kedua tangannya mencondong kearah ikan disamping tangan naruto. Seketika hawa hijau terang dalam jumlah besar mengalir dari sana, begitu sejuk dan terasa menentramkan.

"alirkan cakramu dan usahakan ritmenya beraturan. Jika dalam kesempatan pertama kau melakukannya dengan aliran cakra berjumlah banyak maka kau harus meneruskannya dalam cakra sejumlah banyak pula. Begitu pun sebaliknya."

Hanya dalam waktu beberapa saat dan naruto merasakan bahwa ikan itu mulai bergerak dan mulutnya mengatub-ngatub. Luka-nya telah menutup dan sepersekian detik berikutnya sang ibu menarik tangan kesamping tubuh. Ikan tadi melompat kedalam ember yang didalamnya telah diberisikan air. Berenang dengan semangat di dalamnya.

Pluk!

Naruto menengadah, dihadapannya ibunya telah meletakkan kedua tangan di atas bahunya, meskipun ia berjongkok tetap saja tinggi mereka sama. "yang terpenting dari ninjutsu adalah bukan seberapa kuat dan terbiasa kau melakukannya. Atau seberapa mahir dan seberapa cakra yang ada padamu. Itu tentang bagaimana niatmu bekerja disini."ujarnya sambil menunjuk kearah dada naruto.

"itu tentang bagaimana niatmu. Jika keinginanmu amat besar untuk menyelamatkan sesuatu maka sesuatu itu akan tertolong. Rahasia besar ilmu medic adalah kemampuan mereka untuk menyembuhkan. Dan itu tidak terpengaruh dari kemahiranmu melainkan apa yang kau niatkan. Niatkan dengan sungguh-sungguh, dan cakra yang akan mengubahnya sendiri menjadi apa yang kau inginkan."

Naruto mengerutkan keningnya. "tapi niat tak bisa membuatku menyembuhkan kelinci itu. Bahkan ikan yang sebelumnya, aku malah membunuhnya, apakah cakra tidak bisa membaca apa yang kuinginkan?"

Nonou berdehem, kemudian tersenyum hangat. "memang benar. Tapi niat jauh lebih penting dari segala hal. Itu membuatmu bisa memulai apapun dan menyelesaikannya sesuai target yang diharapkan."

Wajah serius naruto mulai terbentuk lagi. Anak itu terlihat seperti menimbang-nimbang sesuatu selama sepersekian detik, lalu memutuskannya di detik berikutnya. "bisakah kita melanjutkannya?"

Nonou mengacak rambutnya. "kita bisa melanjutkannya.."jawabnya menggantung. "tapi setelah kau bisa mengontrol cakramu."

Naruto memalingkan wajah kearah ibunya dengan mata melebar. "maksudnya?"

Wanita itu berdiri, ia merapatkan mantelnya sedikit. Kemudian melirik kembali kearah naruto dan gua di luar sana dimana angin sedingin salju bertiup bersiur-siur. Musim dingin tengah berada pada fase suhu terendahnya, tangannya kembali menyentuh bahu naruto, mengusap serpihan salju yang berada di pundak anak itu.

"berbereslah. Ada hal lain yang ingin ibu tunjukkan padamu."

Selepas berkata seperti itu nonou yakushi langsung mendekati meja tempat ia meletakkan segala peralatan scroll dan fuinjutsu untuk pelatihan medic nin. Ia menggulung semuanya menjadi satu lantas memasukkannya ke dalam segel penyimpanan. Naruto melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan ibunya, meski ragu ia tak pernah tak menuruti kemauan sang ibu. Beberapa menit setelahnya keduanya telah berhadapan dan siap dengan segala peralatan yang telah dibereskan.

"kita akan pergi ke suatu tempat."kata nonou sambil mengenakan tudung kepala mantelnya. Naruto melakukan hal yang sama dan mengikuti wanita itu tanpa berkata apapun. Perjalanan dengan angin bersiur-siur di awali mereka sesaat setelah keluar dari gua pelatihan. Udara benar-benar bersahabat, masih saja menurunkan salju abadi dari ketiadaan udara. Gunungan es seputih kristal menghampiri mereka. Melekat dan mendarat empuk ke semua tempat yang bisa dijangkaunya. Gigi naruto bergemeletukkan, tapi perjalanan masih baru saja dimulai.

Dua orang itu berjalan berdampingan tanpa kenal lelah ditengah dinginnya suhu konohagakure hari itu. Terus melangkah sampai ratusan meter kearah hutan yang jalurnya telah dihapal oleh si ibu. Jejak-jejak kaki bertebaran di atas lahan seputih berlian, mereka terus melangkah sekalipun udara berusaha mengibarkan mereka. Beruntung ada mantel yang cukup hangat untuk menutupi kebutuhan kehangatan ditengah cuaca ini. Jika tidak begitu mungkin dua patung es pahatan alam pasti sudah berada di tengah-tengah perjalanan mereka.

"sampai."akhirnya kata pertama itulah yang didengar naruto setelah beberapa lama mereka berjalan. "ayo lihat apa yang kulihat."

Naruto tak mengerti mengapa ibu memerintahnya begitu. Tapi ia tetap melakukannya, mendongak dan mendapati gugusan tipis mirip kaca menghampar dihadapannya. Itu sedikit lebih berbeda dari salju yang pernah dilihatnya, tapi ia tahu apa yang membedakan itu semua. Tak ada pohon dalam cakupan kristal mirip kaca itu. Dan saat ia mencoba berdiri yang terjadi adalah ia terpeleset dan jatuh. Tapi berbeda darinya sang ibu malah berdiri dengan tenang di atas permukaan benda mirip kaca itu.

"aku yakin ini adalah.."ucapan naruto terputus. Tapi nonou melompat keatas dan mendarat tepat dibagian tengah area cermin itu. "danau yang membeku."

"kemarilah."kata nonou sambil mengangkat tangan dan menggerak-gerakkan jarinya mengundang naruto. "kemari naruto."

Tentu saja naruto menurut. Tapi tidak bisa, permukaan itu begitu licin dan mengkilap, hanya beberapa langkah dan akhirnya ia terpeleset. Wajahnya membentur kaca alam itu. "aduuh!"

Ia tak tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Karena setiap ia membuat gerakan maka setiap kali itulah ia terjatuh. Satu langkah dan jatuh, bergeser sedikit dan jatuh, menggerakan tangan dan jatuh, berjalan merangkak dan jatuh. Wajahnya berkali-kali menubruk es tanpa kenal ampun.

Bruk!

Bruk!

Bruk!

"aku bisa.."katanya sambil merangkak tapi permukaan itu seolah diolesi mentega cair. Dan akhirnya ia terjatuh lagi dengan hidung mencium permukaan.

Bruk!

Mungkin inilah yang namanya berkeringat ditengah badai salju. Kau merasa panas dan lelah tapi tubuhmu tak bisa mengeluarkan apa-apa. Walaupun begitu setidaknya permukaan tubuhmu menghangat, dan resiko membeku jadi sedikit lebih bisa dihindari. Nonou yakushi mendekat kearah naruto sambil tertawa kecil.

"dengar naruto, kau pasti berpikir sebuah keajaiban ibu bisa berjalan disini."gumamnya tanpa menyembunyikan senyum. "jadi apa menurutmu ibu ajaib?"

Naruto mendongak menatap ibunya. Tangannya mencoba meremas es, mencoba mencari pegangan guna berdiri dan tidak terjatuh. Rasanya benar-benar tidak menyenangkan berbicara dengan kondisi tengkurap yang menyebalkan. Itu membuat seolah dirimu sangat rendah dimata orang yang kau ajak bicara. Dengan napas memburu dan sedikit terengah-engah naruto langsung menarik tangannya, meski keinginannya begitu kuat tapi dinginnya permukaan es dibawahnya jauh lebih kuat. Itu membuatnya frustasi ditambah tangannya menjadi kebas.

"apalagi kalau bukan ajaib?!"rutuknya sebelum melihat sesuatu yang berpendar dihadapannya. Tentu saja ada yang mengganggunya, bagaimana bisa si ibu berdiri dengan tenang sementara ia kesulitan setengah mati? Tapi otaknya masih bisa diajak kompromi. Ada yang salah dan ia tahu itu. Kaki ibu memiliki pendar kebiruan.

"itu.."ujarnya menggantung. "cakra kah?"

Nonou mengangguk dan menepuk-nepuk kepala-nya. Terlihat amat sumringah, "jadi bagaimana aku bisa berdiri menurutmu?"

Kedua lengan wanita itu membantu naruto berdiri, masih tetap tersenyum hangat seolah-olah suhu udara tidak bisa mendinginkan senyumnya. "dengar, kalau kau ingin bisa berdiri disini maka kau harus bisa mengontrol aliran cakra di kaki-mu."

"seperti ini?"naruto mencoba mengalirkan cakra di kakinya. Awalnya sedikit sulit, tapi beberapa detik bisa membuatnya menyesuaikan tubuh agar berdiri secara lebih baik. "ini mudah."

"kalau mudah maka larilah keujung sana dan kembali kesini setelahnya."imbuh nonou menunjuk kearah permukaan danau diseberang mereka. "mulai!"

Pemikiran naruto mengungkapkan bahwa itu adalah hal yang cukup mudah dilakukan. Dan ia langsung berlari begitu suara si ibu memerintahnya untuk berlari, letupan semangat membakar keinginannya untuk segera menunjukkan bahwa ia bisa melakukan hal yang diinginkan oleh sang ibu. Menunjukkan bahwa ia bisa langsung menguasai tiap pembelajaran pertama-nya. Tapi saat ia melangkah rasanya ada yang aneh, dan sesuatu yang aneh itu begitu nyata terasa saat ia membalik tubuh dan menatap kearah ibunya dengan dagu terangkat.

Akar-akar retakan pecahan kaca terlihat, tapi karena begitu antusias dengan apa yang dilakukannya naruto tak menyadari itu semua.

"ibu aku bisa."gumamnya sambil mengangkat dagunya keatas. Bersedekap sejenak setelah setibanya di ujung danau. "sekarang kita bisa mula-"

KREEEEEEEEK! JBUUUURR!

Disisi lainnya nonou yakushi melebarkan senyum, dahinya mengerut dengan sebelah alis terangkat. "sudah kuduga ini pasti terlalu mudah kan."katanya sebelum melangkah kearah lubang tempat naruto yang melambai-lambaikan tangan meminta pertolongan darinya.

. . . . . . . . . .

"TIIIIIIIIIIIIIIIIDAAAAAAAAK!"

Nonou yakushi berjengit ketika mendengar teriakan bocah lelaki kecil dihadapannya itu. Matanya tak habis-habisnya dikerjabkan untuk mengetahui motif yang menyebabkan naruto berteriak. Bahkan ia sampai harus mengecek kebersihan lensa kacamatanya sendiri untuk mengetahui bahwa yang dilihatnya adalah nyata dan bukan sekadar delusi. Tangannya dengan otomatis menghalangi arah pandang naruto yang menunjukkan sesuatu hal yang sebenarnya wajar. Ia melambai dihadapan anak itu.

"hei.. naruto. Ada apa?"ujarnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh anak itu. "kau melihat sesuatu?"

Naruto tersentak dengan segera ia menutup mulutnya. Matanya melihat sepasang iris mata sang ibu yang menatapnya ingin tahu, tapi ia menggeleng. Ada satu hal yang paling tak diinginkannya saat ini, dan itu adalah..

"kalau kau bagik-baik saja. Sebaiknya coba lari-"ucapan nonou dipotong naruto. "tidak. Aku tidak mau."

Kening nonou berkerut. "mengapa tidak?"

Naruto menggeleng cepat-cepat; lagi. Ia menatap kearah ibunya serius, "tadi kau bilang bahwa yang harus kulakukan adalah mengontrol cakraku. Dan kita sudah pergi ketempat ini, jadi apa yang harus kulakukan agar bisa mengontrol cakraku?"

Ia melihat ibunya menimbang-nimbang sesuatu sebentar. Kemudian memiringkan kepalanya masih dengan mata yang memandanginya seolah-olah pandangan mata itu sudah dipaku kearahnya. Tapi sebagian dirinya jadi semangat ketika melihat si ibu menganggukkan kepala sambil tersenyum. Wanita itu memegangi sebelah tangannya agar ia tidak kehilangan keseimbangan dan jatuh.

'dan membuat danau ini retak dan tercebur kedalam lubang dingin yang menyeramkan.'pikir naruto ngeri.

"kau hanya perlu melakukan seal ram. Seperti ini."nonou mencontohkannya dengan baik, "kemudian buka kakimu selebar bahu. Pusatkan semua konsentrasimu keseluruh tubuh, tahan dan pastikan semua tubuhmu dialiri cakra."

Naruto sebenarnya ingin langsung mempraktikan apa yang dikatakan ibunya. Tapi terlebih dahulu ia ingin memastikan sesuatu, ujung kakinya digerakkan mengetuk-ngetuk permukaan danau. Bahkan pantulan bayangannya terlihat disana, dan itu menjelaskan bahwa semua ini terlihat amat.. rapuh.

"ini tidak akan ambrol kan?"

Nonou menyentuh ujung kaca matanya. "sebenarnya tidak. Kecuali kalau kau.."mata naruto melebar saat mendengar sang ibu menjeda kalimatnya dan membalikkan tubuh misterius.

"apa?"tukasnya tidak sabar. "apa yang akan terjadi?"

"ah. Tidak apa-apa. Lakukan saja apa yang tadi kutunjukkan padamu."gumam nonou sambil melangkah mundur kembali ke lapisan salju yang lebih tebal dan putih. "ram dan konsentrasi."

Dengan ragu-ragu naruto melebarkan kakinya sedikit. Lalu menyiapkan tangan membuat seal ram dengan jemari terkait yang bertumpuk.

"mulai!"

.

.

.

Panti asuhan.

"kau melihat naruto dari tadi? Aku belum melihatnya."seorang anak menyenggol bahu anak lainnya untuk membuat celah guna melongok ke sana ke mari. Jam makan siang telah lewat beberapa menit yang lalu, dan sekarang dihadapan mereka hanya tersedia hidangan siap saji. Tapi yang menjadi masalahnya, hari ini semuanya menjadi agak lain. Ibu tak ada di semua tempat.

"aku juga tidak melihat ibu, padahal aku takut diasuh oleh nyonya tua."keluh bocah lain disebelahnya. Ia memandang makanannya tidak selera, "dari tadi nyonya tua hanya mengocehiku. Aku takut."

Bocah yang lain ikut kedalam percakapan kecil itu. "bahkan ibu tidak tampak dari tadi pagi,"ia menyuapkan makanan kedalam mulutnya. Mengunyahnya pelan-pelan, "makanan ini tak akan seenak jika ibu ada disini."

Pendeta wanita tua berkeliling, memastikan semua anak mendapatkan makanan yang sama dalam jumlah sama. Ia membagikan makanan di meja makan mereka yang panjang, di kepala meja pendeta pria duduk sambil memakan makanan siang bagiannya. Pria itu tidak mengeluarkan suara bahkan hanya sekadar untuk menenangkan anak-anak yang agak gaduh.

"aku jadi khawatir, jangan-jangan ibu-"

Ada suara didekatnya. Seseorang dengan pakaian pendeta lengkap dengan tabir tutup kepala berwarna kombinasi dasar hitam dan putih. Orang itu menatapnya dengan pandangan keras memperingatkan, jemari telunjuknya di angkat di depan bibir. "ssst! Adakah yang tahu bahwa saat makan bukan untuk bicara?!"

Anak tadi tertunduk. Dan semua anak terdiam, makan siang pun berlangsung dalam keheningan sejenak.

"ibu.. apakah nyonya tua tahu dia diamana?"tiba-tiba salah satu dari mereka menyeletuk. "aku.. tidak melihatnya dari sejak sarapan."

Di seberang meja si nyonya tua menarik kursi dan duduk. Wanita itu menghadapi makanan dalam piringnya sendiri, "dia tidak apa-apa. Hanya sedang mengurusi suatu urusan."katanya sambil mulai mengolah makanan di dalam piring. Mulutnya sudah bersiap untuk suapan makanan pertama-nya sebelum anak lainnya bertanya lagi.

"kalau begitu kenapa ibu meninggalkan kami tanpa mengucapkan apapun? Biasanya ia akan langsung menyuapi kami saat makan siang seperti ini.."

Pendeta tua itu menghela napasnya sejenak, "aku tidak tahu menahu tentang urusannya."ia kembali bersiap untuk menyantap makanannya sebelum anak lain menyambung ucapan anak yang bertanya sebelumnya. "jadi kenapa kau sampai tidak tahu? Ini suatu keanehan dan kenapa kau tak khawatir? Ini musim dingin.. mungkin saja ibu terjeb-"

"tidak bisakah kalian membiarkanku makan!?"decaknya kesal. Lalu memulai menyuapkan sendok demi sendok makanannya. "makan saja apa yang disajikan!"

Semua anak terperanjat. Bahu mereka menaik sebentar baru selanjutnya turun terkulai. "ibu bahkan tak pernah memarahi kami.."

Keadaan benar-benar menjadi hening dan perasaan tidak enak mulai merambati suasana meja makan. Akhirnya setelah beberapa menit mengetahui bahwa tak satupun anak bergerak untuk makan bagiannya si nyonya tua berhenti menyantap bagiannya. Ia kelihatan kesal dan hampir naik pitam. Wajahnya memerah karena menahan kesal. Anak-anak itu terlalu pembangkang dimatanya, dan ia tidak suka itu.

"kalian makan saja makanan ini atau tidak sama sekali!"ia melotot kearah semua anak yang ketakutan. "ayo makan! Apa kalian hanya ingin merepotkan ibu jika kalian sakit?! Makan!"

"tapi nyonya.."

Si pendeta tua ingin menjawab sebelum sebelah tangan mencegahnya. Itu adalah tangan pria di kepala meja yang masih dengan tenang menatap kearahnya dan semua anak. Ia memberi isyarat agar rekannya ini kembali duduk. Senyumnya mengembang kecil, tidak terlalu menyenangkan tapi cukup membuat anak-anak tidak segan berkata jujur akan perasaan mereka padanya.

"kenapa kalian tidak memakan makanannya?"tanyanya lebih lembut. "tidak tahukah kalian bahwa semua ini adalah masakan ibu?"

Semua anak melebarkan matanya. Memandang lurus-lurus kedalam piring masing-masing. Mulanya mereka seperti bersemangat ingin makan, tapi semua hasrat itu musnah saat mereka menyadari tetap saja ada yang kurang. Ibu.

"kenapa.. kenapa ibu tidak makan bersama kami?"tanya salah satu anak sambil memainkan sendok di atas piring. Mengaduk-aduk makanan, "apa ia sakit?"

"kalau masalah itu ibu kelihatannya baik-baik saja. Dan kenyataannya memang ia sangat sehat malah, kalian tak perlu khawatir."jawab si pria sambil mengumbar senyum. "jadi mengapa tidak makan?"tanyanya ramah.

Salah satu anak menggeleng, "apa ibu sudah makan?"tanyanya lagi. Anak lainnya mengangguk mengiyakan, "apa tidak ada suapan makan siang? Biasanya ibu menyuapi kami.."

Sang pendeta berdehem. Ia menghela napasnya dalam-dalam. "ia sudah makan. Dan kurasa sebaiknya kalian mulai belajar makan sendiri.. kalian tahu karena ia sayang pada kalian makanya ia membiarkan kalian mulai makan sendiri. Ia ingin mengajarkan kalian agar jadi anak yang mandiri. Dan ia pasti tidak akan senang melihat kalian sakit dan kelaparan.. terlebih.."si pendeta menatap kearah sup diatas meja makan itu. Semua anak ikut-ikutan melirik ke sana.

"ia sudah memasak untuk kalian. Pasti ia akan sedih melihat makannya tak disentuh."

Mata anak-anak melebar. "kami tidak bermaksud begitu.. kami-"

Si pendeta menggeleng sedih. "dia akan sangat sedih karena anak-anak yang disayanginya jatuh sakit hanya karena memikirkannya."

Kring!

Bunyi sendok berdenting. Mulainya hanya satu tapi kemudian menjadi lebih banyak dan selanjutnya semua anak mengambil sendok dan mulai menatap makanan tadi dengan penuh gairah.

"ya! Aku akan menghabiskan makanan ini demi ibu!"kata salah satu anak sambil mengangkat sendoknya dihadapan muka, "aku tidak ingin melihat diriku sakit dan membuat ibu sedih."

Anak lainnya melakukan hal yang sama. "dan karena ini makanan ibu maka ini pasti enak. Aku juga tak ingin mengecewakan ibu!"

"ya aku juga!"

Semua anak akhirnya makan. Meninggalkan si pendeta tua yang tertegun sambil menatap kearah pastur tua yang duduk dihadapannya sambil tersenyum lembut. Pria itu mengangguk, meski dari matanya ia dapat melihat kilau kesedihan dimata rekannya. Mereka kembali melanjutkan makan siang yang tertunda. Membiarkan anak-anak sedikit melupakan sosok si ibu dan menggantinya dengan gairah makan yang didapat mereka dari suntikan dana susah payah.

'aku tidak tahu ini akan sampai kapan berhasil. Lambat laun pun ibu pasti akan pergi.. dan bagaimana nasib anak-anak ini selanjutnya?'

Sampai hari yang paling tidak diinginkan mereka datang beberapa saat sebelumnya mereka tak pernah menghadapi makanan dengan gairah tidak menyenangkan seperti ini. Terlebih sejak ibu datang dan mengubah segalanya, membuat anak-anak menjadi ceria dan suasana menjadi hidup. Mereka mungkin tak pernah kekuarangan sebelumnya, karena hokage ketiga tak pernah putus memberikan bantuan untuk makan dan segalanya. Tapi begitu suasana-nya berubah tatkala perang dunia berkecambuk. Semuanya menjadi serba salah hingga akhirnya seperti saat ini, dan semuanya begitu menyedihkan sampai utusan intel itu datang untuk merenggut kembali kebahagiaan yang mulai mewarnai rumah kusam di tepi bukit ini.

Konoha mungkin tak dapat disalahkan. Hokage ketiga memang tak bersalah tapi yang menjadi masalahnya adalah shinobi kotor yang mendatangi mereka tempo hari. Menjanjikan dana tapi bagaimana bisa mereka melakukannya dengan mengorbankan matahari mereka? Ibu adalah segalanya di dalam panti dan mulai menjadi jantung kehidupan bagi rumah kusam di pinggiran konoha yang selama ini seperti mati. Dan ibu sangat berharga bagi mereka tapi bagaimana mereka bisa hidup tanpa dana yang mungkin dicuri rombongan intel tempo hari?

Semua anak masih makan dengan lahap hingga beberapa saat setelahnya menyelesaikannya dengan minum cokelat panas. Makanan yang cukup mewah ditengah keterbatasan ekonomi mereka. Si ibu tua berdiri untuk memandu mereka setelahnya, lantas kembali lagi ke meja makan yang mulai dibereskan oleh pastur lelaki salah satu bagian pengurus panti ini.

"aku tak bisa memikirkan akan bagaimana akhirnya jika ibu sudah pergi. Anak-anak akan kehilangan cahaya hidup mereka selama ini."gumam nyonya tua itu sambil mulai membereskan meja dan meletakkan semua piring kotor ke tempat cuci piring. "kau lihat bagaimana sedihnya mereka ditinggal ibu seharian ini.."

Mereka meletakkan semua barang kotor untuk dicuci di sana. Lalu dengan gerakan pelan mulai mencucinya satu persatu. Suara air dari wastafel memenuhi seisi ruangan. Pastur tadi duduk di kursi dapur dekat wastafel, matanya menatap nanar kearah pancuran air.

"aku juga berpikiran sama. Ini cukup untuk hari ini menenangkan mereka, apakah seterusnya aku bisa melakukannya? Aku mulai bertanya-tanya bagaimana jadinya jika ibu benar-benar pergi."

Hening sejenak. Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing. Deras air mulai jatuh keatas piring yang dicuci oleh wanita tua itu, ia mulai membilasnya satu per satu dan menyusunnya berulang kali ke rak susunan peralatan dapur.

"mungkin tak ada pilihan lain. Kita memang harus melaporkan itu ke hokage ketiga.."ucap nyonya tua itu pelan. Ia meletakkan piring terakhir sambil menatap rekannya lemah, "aku tidak tahan melihat ibu direnggut mereka lagi.."

"dan membuat kita kecurian.. dengar,"mata pria itu menatao kearah pendeta tua dihadapannya. "ibu telah mengorbankan diri demi anak-anak dan panti.. dan tentunya anak yang dipilih oleh komandan intel itu. Tapi kita tidak bisa mengingkari perjuangan mereka dengan mengeluh pada hokage ketiga. Aku tak akan sanggup melihat anak-anak bersedih, tapi lebih tak kan sanggup melihat satu demi satu dari mereka mulai menghilang dari jangkauan mataku. Aku lelah menghadapi hal-hal semacam ini."

"kelihatannya benar-benar tidak ada harapan untuk kita ya? Mengorbankan satu anak atau semuanya."ia menyandarkan diri ke dinding. Matanya memperlihatkan dengan jelas bahwa ia amat kelelahan untuk menghadapi situasi yang ada, "entah bagaimana aku jadi tidak tahu siapa pihak yang pantas disalahkan dalam hal ini."

Pendeta pria mengangguk. "aku pun begitu."

.

.

.

Di sisi tempat pelatihan naruto.

Udara masih bertiup ganas seolah-olah masih ingin menelan dua orang manusia ditengah danau yang membeku itu. Mereka kelihatan berhadapan, sedangkan tubuh anak yang berada di depan wanita muda ini memendarkan kilau kebiruan yang melambaikan mantel salju-nya. Rambut bocah itu berkibar, diseberangnya seorang ibu muda mengamatinya sambil sesekali meniupkan udara dari mulutnya untuk mengurangi rasa dingin. Mungkin hanya karena ada kepulan asap hangat dari mulutnyalah yang membuat ia masih terlihat seperti mahluk hidup dibandingkan patung penghias danau.

"cukup naruto.. kemari."ujarnya akhirnya. Bocah yang dipanggil langsung menghentikan jutsu-nya, ia terlihat berkeringat dan langsung jatuh terduduk begitu melepaskan seal yang selama mungkin coba dipertahankannya. Nonou langsung menghampiri anak itu begitu ia terjatuh ke salju yang dinginnya setengah mati.

"ini melelahkan sekali.."gumam anak itu lemah sebelum tubuhnya dibangkitkan oleh wanita yang menungguinya sedari tadi dengan mata hijaunya yang menenangkan. "aku lelah."

Nonou tak menjawab, ia merapikan mantel naruto dan membangunkan anak itu, senyumnya terus mengembang tulus. "kau anak yang berbakat. Kita akan pulang untuk makan siang."

Naruto menggeleng lemah, "aku tidak kuat bu."

Nonou mengangguk, lalu dengan inisiatifnya langsung mengangkat naruto ke punggung. "kalau begitu beristirahatlah sementara kita pulang."

Naruto mengangguk lemah. Samar-samar ia telah berusaha melupakan kelelahannya dengan cara tertidur sebelum akhirnya ada yang aneh dan semuanya menjadi gelap. Ia berpikir bahwa mungkin ia sudah memasuki alam mimpi, tapi rasanya agak berbeda saat ia menyadari bahwa udara masih juga melambaikan mantel yang dikenakannya. Jadi jawabannya ini bukanlah mimpi, dan ia akan menanyakan kebenaran itu sebelum –rasanya ia mulai menghilang dalam kegelapan karena sentuhan keras di punggungnya.

.

Bersama nonou.

"naruto!"

Wanita itu mengulurkan tangannya menatap kearah ninja berjubah dilengkapi topeng yang merenggut bocah itu dari punggungnya. Tangannya dengan sigap diluruskan, pendar kebiruan menguar dari sana, membentuk semacam pisau cakra yang membahayakan.

"lepaskan dia!"

Dua ninja dihadapannya menggeleng, "kau harus memenuhi permintaan tuan. Ia akan baik-baik saja sementara kau menghadap pada tuan!"

"kau ini!"nonou menggeram sambil melompat menyerang. Ia menyabetkan pisau cakra-nya dengan sigap, mengarahkannya untuk membelah leher anbu yang menghadangnya. Tapi tak semudah itu, kedua orang tadi langsung melompat kebelakang sebelum tersenggol olehnya. Sekarang mereka berhadapan dengan kuda-kuda bertarung, nonou memicingkan matanya lagi.

"kubilang lepaskan!"

Anbu tadi menggeleng, "turuti permintaan tuan."

"huh!"nonou mendecak sinis. "sampai mati-pun aku tak akan menemuinya. Tidak kali ini dan-"

"dan kau tak akan menemui anak ini lagi."lanjut anbu itu sambil melompat pergi meninggalkan danau itu dengan kecepatan elit anbu meninggalkan nonou yang terdiam di tempat dengan pandangan amarahnya.

"kali ini.. aku akan yakinkan ini yang terakhir.."kata nonou sebelum mengakhiri jutsunya dan langsung menyusul kearah dua orang bertopeng tadi menghilang. Mereka semua meninggalkan padang salju tadi dengan tanpa meninggalkan apapun terkecuali jejak-jejak. Termasuk pohon-pohon yang menjadi saksi bisu dari pelatihan si kecil yang dibawa oleh anbu konohagakure.

TBC.

Tinggalkan jejak kalian ya.