Makasih untuk semua reader dan author yang sudah menyempatkan diri untuk mereview ceritaku ini. Apalagi yang memfollows dan favorite untuk karya amatir sepertiku ini. Untuk semua pertanyaan, maaf jika aku tidak bisa menjabarkan semua halnya satu per satu. Aku sendiri sesungguhnya belum terlalu mengerti cara memainkan akun FFN ini.

Dan mengenai pertanyaan reader yang apakah naruto akan mengikuti orochimaru kurasa jawabanku bisa iya dan tidak. Aku sendiri masih mereka-reka apa yang mungkin akan kutuliskan dari chapter ke chapter berikutnya.

Big thanks for : All my reader fic. Aku ada karena kalian ada.

ROOT OF UCHIHA

Chapter 3

Disclaimer : masashi kishimoto

Rated : T

. . . . . . . .

Tap! Tap!

Tap!

Ketiga manusia itu melesak cepat ke dalam hutan meninggalkan kelebatan hitam-hitam putih di udara. Dinginnya suhu bumi juga tak berpengaruh pada manusia-manusia pilihan yang terlatih ini, mereka melalui semua dahan yang diselimuti es dengan lancar tanpa cacat sedikitpun. Bunyi derap ringan kaki menghentak dahan terdengar samar di udara, tak satupun suara dikeluarkan oleh ketiganya.

Hutan konohagakure no sato memang begitu luas dibandingkan dengan negara besar lainnya. Di hutan ini, ada banyak bagian yang bahkan seorang anbu terlatih yang sering berpatroli-pun perlu ratusan kali untuk melintasinya agar tidak tersesat di tengah medan yang bagian hutannya begitu menonjol dengan pepohonan raksasa persis sama dahan demi dahannya. Karena letak hutan pelatihan nonou dan naruto berada tak jauh dari kompleks panti asuhan, maka yang diharuskan untuk dilakukan mereka adalah menyebrangi ke dalam hutan menuju kearah konoha di bagian berbeda dekat permukiman. Tempat dimana sebuah gua pelatihan militer yang sebenarnya digarap.

Sebuah tempat temaram yang amat familiar tapi tak pernah dirindukannya lagi sejak 1 tahun yang lalu. Ada sebuah sensasi yang mendera hati nonou begitu melihat di kejauhan tempat lubang masuk kedalam markas kesatuan kegelapan itu masih tak berubah sejak terakhir kali ia meninggalkannya. Beberapa ANBU dengan pakaian bertudung kepala berjaga di depan mulut gua-nya. Tidak persis seperti yang diingatnya, tapi kali ini kentara sekali bahwa ada lebih banyak pengawal di depan sana.

Sosok berseragam di depannya berhenti melangkah, memanggul naruto di bahunya dan melompat ke depan mulut gua. Disebelahnya rekan misinya melakukan hal yang sama, dan tanpa perlu di komandoi nonou yakushi-pun melakukan hal yang sama.

"masuklah. Tuan sudah menunggumu."kata salah satu dari mereka sambil memanggul naruto di bahu. Rambut anak itu menjuntai saat tubuhnya terkatung-katung dalam pegangan lengan kekar si anbu. Nono yang melihat itu menatapnya dengan mata menyipit, "akan kupastikan ini tak berjalan lancar jika dia sampai kenapa-napa."

Satu-satunya wanita tanpa topeng dengan seragam berbeda itu melangkah masuk ke dalam. Tidak berjalan seperti ke dalam gua kebanyakan, hanya memerlukan lima langkah lebar dan mulut gua menyusur kedalam tanah telah tampak di hadapan mereka. Tentu saja itu tidak alami, dinding bagian dalam ruangan itu adalah beton dengan beberapa tangga untuk menurun ke bawah ke dasar kegelapan. Beberapa pilar besar menyangganya dengan jembatan kayu tua yang menghubungkan ke empat sisi pilar gua itu.

Nonou menghela napasnya sebentar baru setelahnya melompat. Disebelahnya seorang anbu pengawal mengekorinya dengan topeng menutupi wajah.

Keduanya melayang dan menempel ke beberapa tiang pilar gedung, baru setelahnya mendarat mulus di permukaan kayu susun menyerupai jembatan yang melayang diantara kegelapan disekitarnya. Nonou menegakkan tubuh, menyapukan pandangan dengan sekelumit perasaan campur aduk. Kerinduan pada dunia ninja dan..

Pembunuhan tangan dingin olehnya dan ROOT di tempat ini..

Ia menenangkan detak jantung sebelum memutuskan untuk mencari sumber pusat dari segala macam aktivitas militer tanpa celah ini. Menatap ke bawah, kearah lantai lebih dulu baru setelahnya mengangkat dagu dan mengedarkan pandangan dengan darah berdesir karena adrenallin. Suasana ini begitu dingin dan kental jadi pasti mudah untuk menemukan biang masalahnya..

Dan saat ia menengadah apa yang paling dikhawatirkannya terpampang jelas. 10 meter dari tempatnya berdiri dengan perban menutupi separuh wajah. Orang itu memberikannya senyum paling dingin yang pantas diterima oleh seorang bawahan yang mangkir dari misinya.

Danzou shimura menatapnya sambil menyeringai mengerikan.

"selamat datang kembali.. Nonou yakushi.."tiba-tiba ada seseorang yang menyapanya dari arah belakang.

.

.

Nonou terpaku sesaat ketika sebuah suara yang cukup dikenalnya menyapa dari arah belakang tubuh. Seseorang dengan rambut hitam dan mata ular sewarna emas, berkulit pucat dan merupakan sosok sannin konoha.. siapa yang tidak mengenal orang itu?

"o-orochimaru.."

Dari arah seberang danzou shimura berdehem. Matanya menatap datar pada tiga orang dihadapannya. Satu mantan bawahannya yang akan selalu menjadi bawahannya, satu orang pria pengawalnya yang seorang sannin, dan seorang lagi pengawal yang mengawal mantan prajurit root-nya itu. Ini adalah sebuah reuni yang cukup menggembirakan.

"senang melihat gadis berjalan kami kembali,"sapa orochimaru santai.

"langsung saja ke titik permasalahannya.."ujar nonou nama yang diberikannya pada Anbu ROOT wanita itu. Danzou mengamati ekspresi gadis itu baik-baik saat selanjutnya ucapan demi ucapan diperdengarkan. "apa yang kau ingin kulakukan? Kukira kita sedang dalam tahap pemenuhan kesepakatan.. Danzou.."

"-sama."selesai orochimaru sambil tersenyum licik. "kukira lidahmu kehilangan satu kata penting itu. Dan itu amat tidak bagus."ia menjilat bibir bawahnya sendiri, lalu melangkah melewati samping tubuh nonou dan bergerak kearah belakang tubuh danzou shimura. Matanya kembali diarahkan pada gadis bersurai pirang ini, "aku yakin sedikit terapi emosional bisa menghilangkan kebiasaan buruk itu."

Nonou menatap kearahnya memicing, kelihatan marah. "lucu sekali melihat sannin konoha yang diagungkan menjadi bagian dari akar."ia menghembuskan napasnya keras-keras. "lebih buruknya orang itu adalah orang yang biasa dengan popularitas kejeniusan. Kegelapan pasti lambat laun akan berakibat buruk padanya."

Orochimaru menyeringai,"benar-benar lucu. Tapi tidak seaneh jika melihat pendeta panti di dalam markas intelijen."

Suasana menjadi hening setelah ucapan terakhir orochimaru. Untuk beberapa saat ke semua orang disana hanya menghabiskan waktu dengan saling menatap satu sama lain. Di dalam sini, berbuat onar tentu saja tidak mungkin dan tak akan ditemukan yang seperti itu. Ini tengah markas di tengah hutan, siapa yang ingin berbuat onar sedangkan ada beberapa monster keji yang akan melumatmu hidup-hidup?

Tiba-tiba salah seorang anbu ROOT turun dengan bawaan bocah lelaki di atas bahunya. Pria itu mendarat tepat disamping belakang danzou shimura, mata nonou si pendeta melotot saat pria itu tiba.

Danzou menggedikkan jari kedepan. Memberi isyarat pencegahan agar nonou bawahannya tidak maju kedepan.

"kau sudah bilang bahwa kau tak bisa diajak berkompromi. Dan inilah alasan mengapa hari ini kau pasti bisa kuajak berkompromi."mulai danzou datar. "ketahuilah bahwa waktumu sudah semakin dekat. Kau tidak ingin mengecewakan sisa-sisa masa pelatihanmu bersamanya hanya untuk mendidiknya menjadi lebih berperasaan bukan.."

"aku sudah melatihnya."bantah nonou sarkas. Ia bersitegang menatap kearah danzou dengan wajah ditenang-tenangkan, "hanya akibat ulah ROOT-mu yang mengacaukan pelatihannya hari ini. Aku sudah berusaha untuk menepati semua kesepakatan. Kau tak ada hak untuk menahannya."

"kau kelihatannya melupakan bahwa aku tak mengatakan kau harus melatihnya menggunakan cakra medic. Dan semua pembelajaran tentang perasaan sentimentil."balas danzou sambil memicingkan mata. "aku sudah bilang, aku akan mengirim anak buahku untuk mengawasimu.. dan kau salah besar mendidiknya seperti itu."

Danzou memberi isyarat agar anbu-nya yang memanggul bocah lelaki berambut hitam itu kedepan. Tepat kesebelahnya, matanya menatapi bocah itu beberapa saat lamanya.

"kau tidak mengajarinya rasa sakit, kau tahu betapa buruknya ninja yang tidak mengenal rasa sakit."

Nonou menatap danzou di mata, ia tidak gentar sekalipun sebelum hari ini hal tersebut adalah sesuatu yang tabu untuk dilakukannya. Mata hijaunya berkilat mengingatkan, "dia tidak pernah ingin menjadi shinobi. Itu yang dikatakannya padaku."

"kau menyimpulkannya terlalu mudah nonou,"bantah orochimaru mewakili ucapan danzou. "aku sendiri yang mengawasimu sejak hari pertama pelatihan kalian."

"kau.."

Dibagian sana, Danzou melayangkan tangannya ke depan wajah bocah itu, menyentuh dagunya seolah-olah itu barang ringkih yang bisa diremukkan kapan saja. "kau memiliki anak yang menarik. Sesungguhnya aku tak terlalu berharap jika anak panti asuhan bisa mengalirkan cakra dari tubuh mereka tanpa perlatihan khusus."

Tangan danzou dilipat ke belakang tubuh. "kukira kau juga melupakan bahwa dalam tiap misi yang diberikan kau harus melaporiku secara rutin."mata pria itu memicing tajam, "jadi bisa kita dengar bagaimana laporanmu mengenai misi.. ini?"

Nonou terdiam. Orochimaru tertawa keji. "sudah kukira kita harusnya memang menerapkan rencana itu sejak dulu danzou-sama. Aku yakin tak akan berakhir begini jika kita bergerak dari dulu."

Memang dalam kesatuan ROOT hanya Orochimaru yang memiliki kekuasaan untuk berekspresi. Ia juga memiliki beberapa hak istimewa lain yang tak dimiliki semua anggota dengan catatan atas prestasinya sebagai sannin. Danzou memang memasukkannya sebagai bidak ROOT bukan semata-mata hanya dengan sebuah tawaran kecil saja. Ia yang paling istimewa disana, selain mungkin keturunan aburame yang menjadi pengawal pribadi terkuat milik danzou. Tak ada anggota ROOT yang bisa ikut berdiplomasi saat Danzou berbicara. Karena itulah, dengan kata lain orochimaru merupakan salah satu anggotnya yang spesial.

Danzou menatap nonou mengintimidasi. "kau sudah terlalu banyak memiliki rasa sentimentil. Termasuk kemampuanmu yang mulai payah dan pembangkanganmu terhadap konoha."

Nonou masih diam. Membuat danzou melanjutkan ucapannya. "aku ingin kau segera menyudahi latihan itu. Misimu tinggal beberapa waktu lagi."

Nonou menghela napasnya dan berbicara sambil menunduk. "beri aku beberapa waktu untuk membuatnya menguasai kemampuan medic."

Orochimaru yang sudah melesat kesamping ANBU yang membopong anak panti yang dipilih danzou itu membungkukkan tubuhnya, menatap rupa bocah 6 tahunan itu yang terkulai. Manik ularnya mengawasi selama sesaat, sebelum ia menjilat bibir bawahnya sendiri.

"kau kelihatan memiliki anak yang berbakat. Aku bisa merasakan ia bisa menjadi shinobi yang menarik nantinya."komentarnya pada nonou. "aku yakin pasti tidak sulit untuk mengajarinya kan?"

Orochimaru berjalan memutari tubuh si anbu. Matanya mengerling kearah bocah itu terus menerus. "iwagakure masih bisa menunggu. Jadi mengapa kita tidak memberikannya sedikit kesempatan?"

"dalam kasus konoha tak ada yang namanya toleransi."tegas danzou keras. "desa tak boleh dibiarkan berada dalam bahaya."

Suara kaki orochimaru bergema, ia menyeringai sedikit sebelum menyentuh dagu anak yang dimaksud. "kau selalu melupakan bahwa sebuah eksprerimen kecil bisa berakhir besar jika kau ingin bersabar. Lagi pula ia terlihat seperti anak yang cerdas. Intuisiku berkata begitu jadi menurutku kita menunda perjalanan ke iwagakure."

Danzou mendecih. "kita tak bisa menggantungkan konoha pada intuisi yang tidak jelas kebenarannya. Aku ingin nonou berangkat secepatnya."

Dihadapan mereka nonou memberikan reaksi tidak setuju. "bukankah kalian bahkan belum memastikan dana yang akan diberikan pada panti dan atas bayaran terhadap naruto? Kupikir aku masih memiliki peluang dengan catatan kita saling menepati perjanjian kita."

Nonou mengangkat tangannya menyentuh tangkai kacamatanya lagi. "kau tahu aku selalu yang terbaik dalam memata-matai. Kalian bisa mengandalkanku untuk mengejar ketertinggalan itu.. aku pasti melakukan yang terbaik untuk konoha."

Danzou terdiam, wajahnya mengeras. Disisi lain orochimaru juga tak membantu dengan seringai kemenangannya. "apa kubilang? Dia kelihatan amat memiliki minat untuk melatih bocah ini.."

Danzou memandangi keduanya keras. Wajahnya berkerut-kerut dengan lipatan lebih banyak. Dilain hal ia dihadapkan pada pilihan antara eksperimen dan keamanan desa. Pasti cukup menarik untuk mengetahui hasil akhir eksperimen kali ini, dan lagi pula nonou memang benar-benar bisa diandalkan.. serta iwagakure juga belum menunjukkan pergerakan signifikan. Dan masalah perjanjian.. rasanya tidak ada salahnya untuk memberi sedikit kelebihan waktu.. ya. Cukup sekali ini kelihatannya.

"aku akan memberikan sedikit kelonggaran waktu tapi bocah itu haruslah menguasai paling tidak pengendalian cakra untuk diserahkan padaku. Dan jika gagal maka kau akan mengetahui resikonya."kecamnya akhirnya.

Mereka langsung memutuskan kontak mata sedangkan danzou memberi isyarat tangan kearah Anbu ROOT yang membopong naruto. "antarkan dia kembali."ujarnya sambil melirik nonou sekali lagi. "kau akan menyesal jika misi ini gagal.."ancamnya sambil menembakkan KI pekat.

"aku akan terus mengawasimu."

Tanpa berkata apapun nonou membalikkan tubuh dan melompat pergi diikuti oleh anbu yang membopong salah satu anak panti kesayangannya. Wajahnya terlihat tenang dengan manik hijau menenangkan tatkala menyongsong udara luar dari gua gelap ROOT itu. Sedangkan lamat-lamat otaknya berpikir keras.

'konoha ya.. kelihatannya waktuku tinggal sebentar lagi.'pikirnya sambil terus menjauh dari gua itu.

. . . . . . . . .

Mereka tiba di area panti beberapa saat setelahnya. Matahari sudah condong kearah barat tanpa diketahui secara pasti karena iklim yang buruk. Dan tanpa kesulitan sedikitpun, menggunakan sisa-sisa kemampuan ninja yang dimilikinya nonou bershunshin ke dalam kamar naruto untuk menidurkannya. Wanita itu melakukannya dengan luwes tanpa membangunkan naruto yang kelelahan. Ia meletakkan bocah itu di atas ranjangnya tepat beberapa saat sebelum ada bocah yang merangsek masuk dan melebarkan mata dari balik pintu.

"k-kau.."

Nonou tersenyum. "ya? Ada apa nak?"

Bocah tadi langsung tergelak dan berlari memeluk kearah si ibu. "kukira kau tidak akan pulang! Ibu sebenarnya dari mana saja!? Aku sudah mencari ibu seharian ini! Dan ibu tahu tidak? Aku makan sendirian bersama yang lainnya. Kami merindukan ibu dan mencari-cari ibu. Bahkan kami sempat berpikir kalau ibu sedang sakit dan kami tidak berniat makan dan ingin mencari ibu! Dan kami-"

Nonou menggeleng sambil menarik diri dari pelukan anak tadi sedikit. Menunduk dan menyamakan tinggi mereka. "dan ibu tetap baik-baik saja. Semuanya baik-baik saja."

Bocah tadi mengangguk dan memeluk ibunya lagi. Mereka berpelukan erat, "ibu jangan pergi lagi ya."

Mereka berpelukan lama. Hingga tanpa disadari dibalik pintu ada seorang pendeta tua yang meringis melihat kejadian itu dan merapatkan pintu agar tidak terlihat oleh tatapan orang bernama ibu itu. Wajahnya memucat, ia kelihatan benar-benar sedang bimbang sambil tangannya meremas-remas jari.

'aku harus mendiskusikan ini. Ini tidak baik dan hokage ketiga harus mengetahuinya..'

"baiklah. Kakira kita harus bersiap-siap untuk makan malam."ajak nonou sambil melepas pelukan mereka. "ayo."

Kedua orang itu pun terlarut dalam kesenangan masing-masing. Meninggalkan kamar naruto yang di dalamnya didiami seorang anak yang tergeletak belum sadar. Naruto.. tentu saja.

Skip time

Keesokan harinya.

Pagi hari masih belum berubah dari hari lainnya sebelum hari ini. Cuaca dingin masih menyelimuti seantero negara api. Tapi meski begitu tanda-tanda musim semi sudah mulai muncul, salju-salju sudah tidak turun dan pohon tak lagi berselimut benda putih pekat yang dingin membeku. Seorang anak terbangun dari sebuah ranjang dimana saat ia terjaga tak ada lagi satu anak-pun dikamarnya. Musim itu adalah sebuah kamar bagi empat orang anak, jadi tentu saja ia kebingungan mengapa disana hanya ia sendiri yang menempati.

'kemana semua orang?'ia mengucek matanya untuk menyesuaikan cahaya. Dan tirai jendela sudah menampakkan tanda-tanda hari sudah siang—benda itu tersingkap ke samping jendela. Itu membuatnya melebarkan matanya sendiri.

'sial! Hari sudah siang dan aku melewatkan waktu sarapan!'pikirnya panik sambil melompat dari tempat tidur. Tapi karena keseimbangan tubuhnya belum terlalu siap, jadilah ia terjatuh menubruk lantai meninggalkan bunyi bergedebuk kuat.

"a-aduh!"

Bunyi itu cukup kuat. Dan lututnya tergesruk oleh lantai kayu hingga memar. Ia menggigit bibirnya sendiri, tapi karena merasa ia adalah yang paling tertinggal oleh hari makanya ia ingin cepat-cepat berdiri.

Tiba-tiba daun pintu terbuka lebar.

"naruto! Apa yang terjadi?"seketika suara wanita muda itu memasuki indra pendengarannya. "apa terjadi sesuatu?"kedua tangan ibu langsung terarah kearah luka kecilnya, dari sana pendar kehijauan muncul. Naruto menyadari sesuatu dan mulai mengerucutkan bibir sendiri. Ternyata ia melupakan sesuatu, ia bisa mengobati dirinya sendiri!

"naruto?"ulang si ibu lagi. "kau tidak apa-apa?"tanyanya khawatir.

"tidak apa-apa bu."

Nonou mengguncang bahu anak itu. "kau tidak terlihat tidak apa-apa, ayo katakan mana yang sakit?"

Hening sejenak. Naruto membuang napasnya keras-keras, "aku hanya merasa bodoh. Ibu telah mengajariku untuk mengeluarkan cakra medic, mengapa aku sampai melupakan itu? Aku merasa benar-benar payah."

Keluhan itu tak bersambut. Nonou menyelesaikan pengobatannya dan mengusap kepala si surai hitam sejenak. Mereka bertatapan selama beberapa saat.

"kau tidak payah. Kau hanya gugup dan kurang berpengalaman."

Naruto menggeleng, "aku payah bu. Bahkan hanya untuk menyembuhkan diriku-pun aku tak mampu. Kelihatannya aku benar-benar buruk dan tak bisa menjadi shinobi seperti yang ibu inginkan."ia menunduk menatap lantai. Nonou masih mengusap kepalanya, belum sampai memberi reaksi sebelum suara perut naruto yang nyaring terdengar. Ternyata bocah itu kelaparan.

Senyum nonou mengembang, "jadi mengapa tidak ingin makan siang?"

Naruto menatap kearah ibunya, ia yakin hari ini sudah lebih dari siang. "aku tidak yakin.. ini kelihatan sudah lewat dari waktu makan siang dan.."ia melirik kearah jam di kamarnya. Jam dinding tua yang diletakkan nonou untuk melatih anak-anak dalam menghitung jam dan jamnya di pindahkan tiap bulan ke kamar yang satu dan kamar lainnya. Beruntungnya saat itu giliran kamar naruto yang mendapat giliran jam.

"itu sudah pukul.. 3."ujarnya sambil tertunduk. "itu sudah lewat jadwal makan.."tambah naruto tidak semangat. Masa itu adalah saat dimana peraturan panti dengan ketat menegaskan bahwa setiap lewat waktu makan yang ditetapkan maka tak ada istilah anak panti untuk makan. Dan itu semua sudah berlaku sejak lama sekali, gunanya sederhana yaitu untuk menghemat bahan makanan mereka.

Nonou tersenyum, ia mengangkat dagu naruto dan menatapnya sumringah. "kalau begitu makanlah bersama ibu.."

"benarkah?!"kata naruto semangat. "tapi..-"

"shhhh! Kita makan dan setelahnya mencoba latihan lagi.."kata nonou sambil mengedipkan sebelah matanya. Naruto yang melihat ini melebarkan mata, "jadi kita masih latihan?"

Nonou merasa ia bisa merasakan bahwa anak itu tidak terlalu perduli dengan pelatihannya. Tapi ia tetap mengangguk, meskipun ia tahu naruto akan lebih kelelahan lagi dibandingkan pelatihan sebelumnya.

"maaf, kita tidak punya pilihan naruto.."setelah berkata begitu ia beranjak dari ruangan untuk mengambilkan makanan bagi anak itu. Dengan pikiran masih berbayang refleksi bocah 6 tahunan dengan mata lebar, dan wajah seputih seprai serta rambut hitam gelap sewarna matanya.

'maafkan aku naruto..'pikirnya penuh sesal. 'maafkan orang yang tak becus melindungimu ini..'

Nonou kembali dari kamar naruto hanya dalam hitungan detik. Wanita itu begitu sigap menyiapkan semua makanan dalam set piring komplit dan segelas air untuk bocah di dalam kamar sana. Pertama kali ia melangkah memasuki kamar, ia melihat bahwa naruto masih terduduk di tempatnya. Tapi setelah di amati, ternyata bocah itu telah mengambil sebuah buku bacaan yang entah didapatnya dari mana. Nonou berdehem sambil merampas buku itu lembut.

"kau harus makan, kau sudah melewatkan sarapan dan makan siang."gumamnya sambil meletakkan buk itu di bagian lantai lainnya. Ia mulai memandu naruto, memberikannya sesendok suapan makanan. "aku janji akan menghabiskan waktu bersamamu jika kau makan kali ini."

Naruto tak melawan, ia membuka mulut dan mulai menerima suapan demi suapan yang diberikan nonou padanya. Sejenak hanya suara sendok mereka yang terdengar, sebelum naruto membuka percakapan saat di piring makanan yang disiapkan nonou telah habis.

"ibu suka aku jadi ninja?"

Nonou tertegun. "kenapa kau berkata seperti itu?"

Naruto menggendikkan bahunya sebentar. "hanya ingin tahu."katanya acuh tak acuh. "kita harus mulai sebelum sore bu."

Dan karena tak ada alasan lain yang lebih baik nonou mengikuti saran itu. Membereskan sisa makan naruto dan kembali ke dapur. Mata ibu itu terlihat menerawang jauh dari posisi tubuhnya sendiri berada.

'maafkan aku karena tidak bisa menjagamu.. naruto.'

.

.

.

Konohagakure no sato.

Hokage tower.

Hokage ketiga tengah menatap desanya dengan semburat luka diwajah. Pria itu kelihatan amat menderita dibalik wajah tenangnya yang dibagian dahinya berkerut-kerut seolah melebihi kerutan diwajah tua-nya sendiri. Matanya menatap langsung kearah bukit monumen kage konoha. Seperti biasa, hanya satu yang dipikirkannya tanpa henti sepanjang usia; konoha.

Berita buruk dari bagian aliansi ninja konoha karena pasukan yang dikirim untuk memerangi musuh di wilayah amegakure ternyata banyak memakan korban jiwa. Semua anak dan wanita di desa yang ditinggalkan tentu saja akan menerima kabar buruk berikut dengan mayat-mayat ninja konoha yang akan segera dibawa pulang oleh beberapa pasukan chunnin dan ANBU yang dikirimkan. Ini adalah kedukaan terbesar sepanjang sejarah hidup konoha. Tapi di sisi lain berita baiknya adalah bahwa konoha memenangkan perang Amegakure-nya.

Hi no kunni selamat. Tapi bukan berita baik bagi konoha.

'sekarang apa yang harus kulakukan sensei? Aku telah gagal melindungi warisan kalian. Akan banyak sekali anak-anak sebagai bidak masa depan konoha yang menjadi piatu.. bagaimana aku bisa menghadapi para wanita istri ninja-ninja yang telah gugur? Bagaimana aku bisa menghibur mereka?'

Ia menghela napasnya dalam-dalam. Tak kuasa menahan kesedihannya hingga bahkan matanya tak lagi menyorotkan sorot ketentraman yang biasa diperlihatkannya pada siapapun orang di konoha. Sebagai seorang kage ia telah merasa hancur. Hancur berkeping-keping tatkala berita itu datang dan mulai menjadi fenomena mengerikan selayaknya bom yang diletakkan tepat di jantung sebuah sistem kehidupan. Ia telah gagal, tak perduli sekalipun para daimyou memberinya ucapan semangat dan reward banyak untuk konoha dan tanggungan bagi para ninja yang gugur di medan perang.

Kegagalannya tidak bisa ditolerir.

Tok! Tok!

Sandaime menghela napasnya sebentar. Ia menenangkan diri baru kemudian meminta ninja yang mungkin akan melapor itu masuk.

"masuk!"

Dari balik pintu, sesosok lain datang. Seorang jounin, jounin yang dengan bangga mengenakan hittae-ate konohagakure di dahinya. Orang itu datang padanya dengan selembar perkamen, sesuatu yang isinya tentu saja bisa jadi bom kedua dan ketiga dan seterusnya yang bisa menggoncangnya kapanpun itu.

"lapor hokage-sama. Aku menyerahkan ini pada anda."

Sandaime langsung menerimanya tanpa mengatakan apapun. Dirinya sudah terlalu lelah hanya bahkan untuk memperpanjang waktu, karena-nya secara langsung ia membuka perkamen itu. Membacanya dalam hati dan diam.

Daftar ninja konoha yang gugur.

Jounin ninja : 27000 orang.

-Sarutobi klan : 3400 orang.

-Uchiha klan : 5700 orang.

-Hyuuga klan : 6000 orang.

-Nara klan : 2500 orang.

-Akimichi klan : 1500 orang.

-Aburame klan : 7700 klan.

-Yamanaka klan : 998 klan.

-Senju klan : 345 klan (hanya tersisa Senju tsunade).

-Yuuhi, Uzuki, Namikaze, Dan beberapa klan yang tidak diketahui : 1440 orang.

Chunnin ninja : 5600 orang.

Genin ninja : 700 orang.

ANBU : 350 (belum tercatat semuanya)

Jika bukan karena ia adalah seorang pemimpin desa yang menjadi panutan maka sudah pasti ia akan menangis saat ini. Tapi apa yang bisa dilakukannya jika itu malah akan membuat para ninja nya mengurangi semangat hanya karena kage-nya yang begitu lemah? Memperlihatkan kelemahan dan sisi lain dirinya saat ini bukanlah hal yang dianggap tepat. Dan ia tahu, karena semua orang harus diayomi maka ia tak boleh terlihat lemah, ia harus kukuh. Ia tak boleh menyia-nyiakan para ninja yang berjumlah besar itu.

'uchiha.. mungkin populasinya hanya tinggal beberapa ratus.. sementara senju..'hokage ketiga membalikkan tubuh dan menunduk. Ia tak kuasa menahan tangisnya, setetes air mata meleleh melewati menghapusnya sambil memebelakangi si ninja yang menunggu di ruangannya dengan menundukkan wajah. Pastilah orang itu sama berdukanya dengan ia, bahkan bisa saja lebih berduka sebab ninja itu langsung kembali dari medan perang meninggalkan mungkin jasad para sanak, keluarga, atau sahabatnya di medan peperangan.

Dan orang itu tetap tabah. Alangkah lemahnya ia hanya untuk menahan diri agar tidak menangisi klan peninggalan sensei-nya?

"apa lagi yang ingin kau sampaikan?"ujar sandaime serak. Ia masih membelakangi ninja itu, tetap memakukan pandangan pada bukit dibalik kaca yang menampilkan guratan wajah sang sensei.

"aku diperintah oleh dewan penasihat desa.. anda diminta segera menghadiri rapat yang diadakan oleh para tetua sekarang."

"baik. Aku mengerti. Kau boleh pergi."kata sandaime dengan suara yang ditenang-tenangkan. Ia membalikkan tubuh sejenak, melirik kearah ninja tadi. "obati luka-lukamu dan beristirahatlah sebentar. Minta ninja medic mengurusi keperluanmu."

Ninja itu pun bangun. Bersiap untuk pergi sebelum sandaimemembalikkan tubuh dan menatapnya dengan wajah temaram, "aku melupakan satu hal. Beri tahu kiroii senko aku menunggu kehadirannya saat pulang nanti."

Ninja tadi sekali lagi mengangguk. Kemudian mohon diri setelah memberi hormat dan salam.

Beberapa saat setelah ruangan kosong dan lenggang sandaime menatap kembali kearah perkamen ditangannya. Membacanya lagi dan lagi sebelum menghela napasnya dengan berat dan mulai beranjak kearah pintu. Ditangannya benda tadi masih tercengkeram dengan erat, ia siap menyongsong hal paling buruk sedunia yang sudah mulai diperkirakannya dalam awang-awang.

Pertama.. jumlah drastis ninja konoha yang tewas.

Kedua.. pertahanan desanya.

Ketiga.. pasti akan ada yang protes jika ia tidak terus mendesak Iwagakure dan Kumogakure untuk ganti rugi. Sekalipun ia mampu tapi semuanya hanya angan, dan itu tidak baik bagi sebuah perdamaian sekalipun sikap yang diambilnya juga akan menuai protes desa.

Ia mulai melangkah di lorong lain dekat ruangan kage. Terus masuk kedalam pintu kayu tua yang cukup berkarisma sejak zaman hokage pertama mendiami kantor ini.

Satu hal yang pasti akan terjadi hari ini.

. . . . . . . . .

Pintu ruangan rapat khusus tetua desa itu terbuka. Menampilkan siluet seorang kakek-kakek tua berambut cokelat pudar dengan pakaian kage khas negara api. Semua mata terarah kearah sana, memperhatikan sosok penuh kedamaian sang hokage ketiga Konoha no sato Hiruzen Sarutobi. Singkat kata sekalipun usia telah memakan sisa-sisa kharismanya pria itu tetap saja terlihat tegar dan gagah daribalik pakaian kebesarannya. Ketiga dewan penasihat desa yang lainnya menahan napas menunggu detik-detik langkah tenang beserta sosoknya itu mendekat kearah mereka.

Suasana begitu lenggang dalam ruangan berpencahayaan redup itu. Dengan dilengkapi sebuah meja dengan empat kursi pendamping yang saling berhadapan. Semuanya telah terisi meninggalkan sisa satu kursi terakhir tempat dimana sang hokage akan menempatinya. Semua wajah disana begitu terlihat tegang dan pasi.

"aku rasa setelah semuanya lengkap kita akan memulai diskusi ini."kata Koharu satu-satunya dewan tetua yang berjenis kelamin wanita. "hiruzen selaku hokage sudah berada disini dan kita bisa mulai menjelaskan segala hal tanpa ada yang perlu di tutup-tutupi lagi."

Hiruzen memasang wajah tenangnya. "aku disini untuk mendengarkan sidang yang bahkan aku sendiri tak tahu menahu tentang mengapa itu diperlukan. Langsung saja, kalian tidak mungkin mengundangku kemari hanya untuk berkumpul dan melakukan reuni yang sekalipun aku sebagai kage konoha tak menghendaki pertemuan ini."matanya menatap lurus kearah sosok di ujung meja yang menopang dagu dengan wajah datarnya. Pria itu meliriknya sejenak, memberikan dengusan napas sebagai balasan.

"ini bukan tentang mengapa kami mengumpulkanmu atau memerlukan persetujuanmu hanya untuk melakukan sidang mengenai kemananan konoha yang terus terang mulai kau abaikan. Ini tentang bagaimana cara kepemimpinanmu kedepannya membawa konoha yang abrakadabra dan tak tentu arah."

Semua orang terdiam, memberi isyarat secara tak langsung untuk orang itu melanjutkan argumennya.

"kau harusnya paham akan situasinya hiruzen! Semua ini tidak bisa hanya mengikuti ideologi kedamaian kolotmu! Konoha telah kehilangan lebih dari setengah pasukannya! Kehilangan lebih dari setengah kas negara hanya untuk membiayai perang! Dan sekarang kau INGIN MEMBIARKAN LAWAN KONOHA UNTUK LARI MENYELAMATKAN DIRI TANPA KEUNTUNGAN SAMA SEKALI BAGI DESA? Jangan bercanda hiruzen! Jangan bercanda! Kami semua tidak setuju dengan rencana perdamaian sepihakmu dengan orang-orang iwagakure dan kumogakure!"

Sandaime menghela napasnya berat. "aku sudah tahu kalian akan berpikiran seperti itu. Dan aku adalah kage yang tak mungkin tidak memikirkan nasib semua rakyatku termasuk desa konoha sendiri. Kau harus mengerti alasan mengapa aku melakukan ini danzou. Itu bukan semata-mata hanya nyawa dan uang yang berhamburan. Aku melakukannya karena tahu semua hal akan menjadi tidak baik dan diluar kendali jika kita terus mendesak Iwagakure dan Kumogakure. Kau harusnya berpikir akan kedamaian se-elemental nation dan bukan hanya semata-mata karena keegoisanmu sendiri."

"Keegoisan katamu?!"suara Danzou meninggi. "kau bilang caraku melindungi konoha bahkan dengan semua pasukanku yang terjun di medan perang sebagai keegoisan?! INI MASALAH PELIK HIRUZEN! SEMUA NEGARA API MENJADI BINGUNG DENGAN CARAMU MENANGGAPI INI! Paling tidak kau harusnya mengerti sudah berapa ribu nyawa ninja konoha yang mati di medan perang! KAU TIDAK BISA TERUS BERLAKU SEPERTI INI! Lama kelamaan desa ini bisa bangkrut dengan cara berpikirmu yang tidak realistis itu!"

"dan maskudmu menggunakan ideologi kerasmu seperti ROOT? Kau gila! Mana mungkin aku membiarkan semua ninja menjadi seperti orang-orangmu itu."balas hiruzen tak kalah dingin.

Homura yang melihat pertengkaran kedua rekan mantan regu jounin-nya dulu merentangkan tangan saat melihat Danzou sudah siap untuk melayangkan pukulan. Dahinya berkerut, lagi-lagi ia melempar pandang tak mengerti kearah hiruzen sarutobi.

"ini bukan saatnya untuk membahas mengenai ideologi yang terbenar diantara kita semua. Ini adalah tentang konoha dan semua masa depan Hi no kunni."sanggahnya datar.

Koharu yang terbatuk-batuk menajamkan pandangannya kearah hiruzen. "dan kau? Bisakah kau menjelaskan semua ini dengan logika? Ini bukan tentang perdamaian elemental nation hiruzen. Tapi tentang bagaimana kita menghargai jasa para ninja yang telah berkorban. Semudah itukah kau akan melupakan mereka? Dengan biaya yang digelontorkan konoha juga dalam perang. Kita butuh kepastian akan keuntungan kita dalam menyertakan diri dalam perang hiruzen! Kau tahu pasti mengenai itu."wanita tua itu mencoba menahan getaran dalam suaranya.

"dan bagaimana dengan pertahanan desa setelah kepergian 3/4 dari pasukan kita. Jika sudah mencapai angka sesignifikan itu bagaimana konoha selanjutnya? Konoha sudah melemah pasca perang dan kau memberikan bom atom yang mengatakan bahwa konoha tak akan menginvasi Iwagakure atau Kumogakure. Jadi bagaimana menangani semua masalah ini selanjutnya?"

"aku sudah mempertimbangkan semua hal masak-masak. Kau juga tahu aku tak akan mungkin membuat konoha merugi. Tapi ketahuilah bahwa semua ini hanya untuk kedamaian! Tidakkah kalian mengingat apa yang dulu diamanatkan sensei pada kita? Jaga kedamaian! Jika konoha terus mendesak kumogakure dan iwagakure bukan alasan bijaksana sementara keduanya pasti lambat laun akan menganggap konoha sebagai ancaman paling serius dan nantinya membahayakan mereka. Apa menurutmu aku menginginkannya?! Uzushiogakure! Lihatlah bagaimana mereka belum lama ini dilenyapkan oleh aliansi negara besar. Semua tekanan pasti hanya akan berujung pada bencana. Dan aku lebih mementingkan pembangunan desa dibanding terus menguntit peperangan."

"kedamaian katamu? Tidak ingat sensei pernah berkata bahwa 'jaga konoha' dengan segala yang kau punya!?"bantah danzou sarkas. "keputusanmu berbuah pada keraguan negara besar lainnya bahwa konoha telah melemah dan memungkinkan mereka untuk melakukan penyerangan guna menginvasi desa! Dan lagi para investor juga akan mulai mengurangi kepercayaannya pada konoha hanya dengan kasus simpang siur ini. Para daimyou sudah menanyakan semua hal akan kebijakanmu hiruzen! Bagaimana desa bisa terus membangun dengan situasi seperti itu?"

Hiruzen menggebrak meja. "jangan terus memanaskan keadaan danzou!"

"tapi itu kenyataan dan kau-"

"BERHENTI KALIAN BERDUA!"teriak koharu tak kalah seru. "Bukan saatnya untuk saling menyalahkan. Ada masalah pelik yang harus kita selesaikan jadi sebaiknya tahan dulu pertengkaran kalian untuk sementara waktu."

"setidaknya aku masih cukup waras untuk mengingat tentang itu."gumam danzo dingin. Ia memalingkan muka kearah Homura yang tengah mengutak-atik sebuah scroll penyimpanan miliknya. Pria itu tengah membuat insou untuk memunculkan sebuah perkamen merah mewah yang kelihatan mahal. Mata danzo melebar sedikit melihat ini, sementara yang lainnya memberi respon dengan reaksi campur aduk.

"dengar, seorang ANBU telah mengantarkan pada konoha sebuah perkamen Daimyou."katanya pelan, ia meletakkan benda itu di tangan, menyodorkannya ketengah-tengah meja. "yang menjadi masalahnya siapa yang paling tahu apa isi didalamnya?"

Koharu mendelik. "ini bukan saat yang tepat untuk berputar-putar Homura!"

"bisakah kau sedikit tenang?"

Beberapa saat hanya desau napas yang terdengar. Semua orang sudah naik darah dan pasti akan berakibat buruk jika terus melanjutkan perdebatan. Pada akhirnya hiruzen selaku hokage membuka suaranya yang berwibawa, "aku sudah yakin kalau yang kau maksudkan adalah daimyou hi no kunni. Aku juga mendapat perkamen yang sama."

"dan kenapa kau tidak langsung menjelaskan pada kami akan langkahmu selanjutnya?"cibir danzou sarkas. "harusnya diskusi kita telah beralih pada topik keamanan desa dan kebijakan selanjutnya. Kau hanya mengulur waktu untuk mendiskusikan hal yang tidak perlu hiruzen."

Hiruzen yang diajak berbicara mengangguk. "aku sudah memutuskan untuk menggelar sidang antar kepala clan. Bagaimanapun terlalu banyak ninja yang berkurang bagi desa."ia meraih cerutunya dan menyalakannya. Perlahan tensi pembicaraan mulai menurun.

"aku sudah memutuskan untuk mengambil pilihan terbanyak yang dipilih mereka. Itu sudah tanggung jawabku untuk mendengarkan semua nasihat dan kalangan."

Mata danzou berkilat, "mungkin kau bisa menerapkan beberapa metode ROOT untuk pasukan yang baru. Itu bisa jadi akan sangat menguatkan konoha hiruzen. Aku sendiri akan turut campur dalam pelatihan mereka, kau tahu jika pasukan konoha semuanya belevel ANBU.."

"dengan metode gilamu? Jangan berharap."hokage ketiga tersenyum sedikit, "membunuh perasaan mereka terlalu brutal sekalipun mereka adalah ANBU. Aku benar-benar tidak setuju dengan semua opsi ROOT. Akan terlalu banyak shinobi yang kehilangan masa depan mereka kalau itu terjadi. Dan bagaimana aku membiarkannya? Mereka adalah pewaris tekad api konoha. Bidak-bidak masa depan konoha."

"dan membuat mereka mati lebih dulu di medan perang? Kau lucu sekali."sanggah danzou. "tak akan ada shinobi yang cukup kuat dengan metode pelatihan biasa hingga bisa menyelamatkan diri dari medan perang dan bertahan hidup untuk mempertahankan tekad api konoha. Ajaran penuh kasih sayangmu itu sesekali perlu kau tinggalkan agar mereka tetap bisa bertahan hidup."

"apa menurutmu lebih baik menggantinya menjadi ROOT? Selama aku hidup aku tak akan membiarkan bencana itu terjadi."kata sandaime tegas. "aku akan menjalankan konoha dengan ideologi kasih sayang senju yang diajarkan padaku. Aku tak akan menghancurkan naluri perasaan mereka dengan tindakan kotor untuk meraih kepentinganku sendiri."

Asap kelabu muncul dari mulut sandaime hokage. Selama beberapa saat semua orang disibukkan dengan pikiran masing-masing.

"kau tahu bagaimana para daimyou dan kaisar negara api menanggapi ini hiruzen. Semua pihak akan memberontak dan satu-satunya jalan yang ada adalah menjadikan semua shinobi konoha seperti ROOT. Lagipula kurasa itu ada benarnya karena semua ninja memang ditakdirkan untuk mengabdi pada negara-nya sepanjang hidup mereka. Itu termasuk kita di dalamnya dan semua shinobi konoha lainnya. Melindungi konoha jelas merupakan prioritas nomor satu."gumam homura memberi masukan.

"terlebih karena jumlah militer kita berkurang drastis. Kita memerlukan shinobi dalam kuantitas kecil tapi dalam kualitas besar."imbuh koharu lagi. "dan tak cukup hanya dengan hokage semua itu akan tercukupi. Bukan maksudku untuk meragukanmu tapi memang semua dari kita mulai kehilangan tenaga dengan level seperti saat tubuh kita masih muda dan memadai. Itu jelas pilihan paling baik yang bisa kita pertimbangankan. Sebagai hokage bukan kau saja yang diutamakan, tapi semua konoha. Termasuk di dalamnya dalam pengambilan keputusan ini."

"kita masih memiliki kiroii senko dan aku. Dan tentunya kapten kepolisian Fugaku uchiha, termasuk kesatuan ANBU dan para uchiha lainnya. Juga didalamnya ROOT, aku rasa kalian terlalu dini memutuskan hal sepihak semacam itu."tukas hiruzen sambil mengepulkan asap rokoknya. "bagaimanapun keadaannya aku tak akan menyetujui ide konyol kalian dalam membuang kasih sayang para shinobi. Sidang selesai."

Selepas berkata seperti itu hokage ketiga langsung beranjak pergi. Tak ada satu pun dewan yang berusaha mencegahnya kecuali danzou yang kelihatan amat tidak setuju dengan akhir sidang mereka yang tidak sesuai dengan ideologinya. Pria itu menatap sandaime dingin, memandanginya hingga bahkan sang hokage menghilang dari balik pintu seolah-olah ia masih bisa merasakan keberadaan jubah putih berapi merah itu.

'kau salah besar jika beranggapan hokage bisa memutuskan segalanya hiruzen. Kau salah besar dan aku akan membuktikan itu dihadapan matamu.'

.

.

.

Markas ROOT.

Semua orang berkumpul dengan segala topeng beserta armor tubuh masing-masing. Di dalam kegelapan yang penuh hawa tidak mengenakkan berdirilah seorang pria berhadapan dengan puluhan orang terpilih yang membungkuk menghadapnya penuh hormat. Dengan percaya diri lelaki berluka menyilang di dagu itu melangkah maju, menatap lurus-lurus pada pasukannya yang berbaris dalam saf rapi.

"seperti yang kalian ketahui bahwa hokage ketiga telah membuat nama konoha tercoreng di mata elemental nation. Kemungkinan besar hal itu akan mengabatkan kerugian besar bagi desa dan penghapusan status desa militer negara api yang selama ini kita emban. Hokage ketiga melakukan semuannya hanya demi kepentingannya sendiri dan ideologinya yang kolot. Konoha sedang dalam bahaya besar karena kemungkinan besar itu semua. Maka dari itu sebagai pimpinan kalian aku shinobi konoha sekaligus kapten ROOT.."

Matanya menatap satu persatu orang bertopeng yang membungkuk itu.

"kumpulkan semua orang yang menolak keputusan ini dan habisi jika mereka berlawanan dengan tujuan kita. Pastikan semua berita ini tersebar pada para shinobi konoha."matanya memicing kedalam kegelapan. Entah apa yang dilihatnya di sana, tapi seringainya yang tak kentara terkembang.

"laksanakan!"

Semua orang di dalam markas-pun bergegas pergi meninggalkan markas penuh kegelapan itu.

'rencana pertama dimulai.'pikir danzou dalam hati dan bergegas pegi meninggalkan markasnya.

. . . . . . . .

Panti asuhan konohagakure.

"naruto, besok musim semi telah tiba. Kita akan memulai latihan kita dengan lebih fokus."

Naruto satu-satunya anak yang belajar di ruang rekreasi hari itu menatap kearah sang ibu sambil berhenti mencoba menirukan penulisan kanji fuinjutsu yang dicontohnya dari sebuah buku yang diberikan nonou. Sebagai anak kecil rasa penasarannya begitu besar terhadap bentuk rumit tulisan yang amat sulit ditirunya itu.

"apa dari kemarin kita belum memfokuskan latihan?"tanyanya bingung. Seingatnya ia sudah berlatih keras sejak hari kemarin.

"belum. Sayangnya belum sama sekali."

Mata naruto melebar, teringat bagaimana istilah itu benar-benar menjatuhkan mentalnya. Jika belum memfokuskan latihan saja ia sudah kelelahan setengah mati lalu bagaimana jika latihan di fokuskan?

"aku mengerti. Tapi kita tidak punya banyak waktu. Ibu akan mengajarimu semua yang ibu ketahui dan berharap kau mampu menguasainya dengan cepat.."

Karena hari sudah pukul 10 malam maka hanya mereka berdua yang tersisa di dalam ruang rekreasi. Helaian rambut naruto diusap oleh sang ibu, "ibu tahu kekhawatiranmu. Tapi kita tidak punya pilihan."

Jam di dinding berdetak melewatkan 2 kali putaran penuh jarum jam. Naruto belum mengatakan apapun kecuali terdiam terpaku sampai suara pendeta pria muncul dari pintu rekreasi.

"waktunya tidur sudah lewat 1 jam."komen-nya mengingatkan. "sebaiknya kau tidur karena ini sudah lewat waktu tidur."

Naruto-pun mengangguk. Ia berjalan meninggalkan ruang rekreasi kembali ke arah kamar tidurnya. Tapi jauh dari balik wajah polosnya sesungguhnya anak itu tak pernah merasa mengantuk, itu sebabnya saat si ibu datang ia hanya memejamkan mata dan berpura-pura tidur sementara wanita itu membenarkan selimutnya dan mengusap rambut di kepalanya.

"selamat malam naruto."

Suara langkah kecil-kecil teratur itu menghiasi malam di kamar para anak panti. Sedangkan semua anak terlelap naruto sibuk memandangi langit-langit ruangan, menatap kearah sana seolah-olah itu objek yang menarik untuk diamati. Dan karena jam dinding sudah digilirkan sehingga ia kembali buta akan waktu maka yang dilakukannya adalah menghitung domba—dalam imaginasi berharap agar ia segera terserang rasa kantuk dan terjun ke alam mimpi. Tapi apa yang ditunggunya benar-benar tidak kunjung datang. Itu sebuah masalah saat akhirnya ia memutuskan untuk menekuni buku bodohnya yang mengatakan hal sembrono tentang penafsiran kunoichi ninja.

Kriiiet.

Ia mendorong pintu. Menysuri lorong berharap bisa menemukan satu tempat yang cukup memadai untuk membaca buku karena dikamarnya hanya ada sedikit penerangan yang kemudian dimatikan saat semua anak tertidur. Jadi jika ingin membaca buku maka ia harus keluar dari kamar dan menemukan satu tempat yang berpenerangan baik, dan karena persyaratan itu ia keluar dari kamar, mencoba mencari ruangan yang sekring listriknya belum dimatikan.

Matanya melebar saat mendapati satu ruangan di ujung koridor menuntunnya pada cahaya lampu. Meski hanya sedikit siluet terang ia sudah mampu menduga bahwa listrik dalam ruangan itu belum dipadamkan, kakinya dilangkahkan kesana dengan lebih bergairah. Tapi sebelum ia sampai disana—benar-benar sampai disana—ada suara perdebatan antar tiga orang yang sedikit banyak dikenalnya. Ibu, nyonya tua, dan pastur. Tapi suaranya benar-benar mendesak walaupun nada yang digunakan seperti ditahan-tahan dan agak berbisik. Jadi ia mengambil kesimpulan untuk menguping mendengarka pembicaraan orang-orang itu. Meski ia tidak suka privasinya diganggu tapi ada satu hal yang tak membuat perhatiannya teralih dari sana.

Ya, suara ibu! Yang kelihatan meninggi dan terdesak.

"bagaimana menurutmu ibu?"

Suara lain bergema. "aku tidak setuju ibu diterjunkan lagi kedunia inteligen. Bagaimanapun keberadaan ibu sangat berarti bagi anak-anak panti disini."

Ada suara napas terdengar dihembuskan. Lalu suara lain yang terdengar rendah dan sedih terdengar sampai ketelinga naruto.

"aku ingin. Tapi aku tak punya plihan. Mustahil untuk mengingkari perjanjian dengan mereka. Dan bagaimana aku bisa menjamin keamanan kalian jika aku tak menyanggupi itu?"

"tapi kita masih punya hokage ketiga! Kita bisa mengadukannya!"suara lain membantah dengan kegugupan luar biasa. "mengapa kita tidak bisa melaporkannya?"

"karena itu tidak memungkinkan! Konoha sedang berperang dan semua alokasi biaya akan lari kearah sana. Kita tak bisa menuntut atau menyalahkan siapapun. Aku melakukan ini karena aku menyayangi anak-anak panti dan kalian. Aku akan pergi tapi sebelumnya akan kutinggalkan naruto dengan sedikit bekal pengetahuan cakra agar suatu saat setelah ia pulang dari misinya bisa menjaga kalian! Ini tidak akan makan waktu lama seperti seharusnya. Aku akan melakukannya dengan lebih cepat dan segera kembali kemari setelahnya."

Naruto menggigit bibirnya pelan. Ia tidak terlalu mengerti mengapa semua orang terus-terus menyebut namanya. Sejak malam ia mendatangi orang-orang berjubah hitam itu hingga pelatihannya yang entah untuk apa. Dan ia tidak tahu menahu tentang apa yang dibicarakan orang-orang disana kecuali 'kekuatan', 'ia' 'hokage ketiga' dan 'perang konoha.' Memangnya apa yang sebenarnya terjadi?

"kami tetap tidak sudi itu ditimpakan pada ibu.. aku tahu itu kelihatan seperti sebuah misi yang berbahaya."suara nyonya tua menggelegar berbisik-bisik. "lalu bagaimana jika ibu tidak kembali lagi?"

Seperti perkiraannya. Si ibu yang menjawab kali ini, "aku tidak tahu.."

Karena terlalu merapat pada pintu kayu. Naruto yang terkejut melihat ibunya menangis secara tak sengaja mendorong pintu dan memasukkannya dalam perangkap pandangan ketiga orang tersebut. Ia membelalakkan matanya sambil menatap kearah orang-orang yang menatapinya seolah-olah marah—tentu saja kecuali ibu.

. . . . . . . . .

"ini sudah pukul berapa?! Bukankah sudah kukatakan waktunya tidur?!"suara itu langsung meluncur dari bibir nyonya tua. Tapi dalam sekejab ketakutannya ada sosok lain yang berdiri dihadapannya, itu adalh ibu. Ibu merentangkan kedua tangannya di depan dada. "jangan sakiti dia."

Lagi-lagi naruto tak melihat nyonya tua marah. Wanita itu kelihatan kehilangan nafsu marahnya, "kau terlalu baik pada mereka bu. Mengapa orang sepertimu harus benar-benar.."wanita itu tidak melanjutkan ucapannya. Tapi naruto merasa ibu mendorongnya kebelakang, keluar dari pintu dan menghadap kearahnya.

"apa yang kau lakukan naruto? Mengapa kau belum tidur?"

Mata hijau itu cukup menenangkan naruto. Ia mengangkat bukunya sendiri, "aku tidak bisa tidur. Aku-"

"kau tahu ini pukul berapa?"tanya pastur sambil melangkah mendekat kearah mereka. Di atas pintu ruangan, menempel ketat pada dinding sebuah benda bulat berdetak dengan angka 12 dalam segala lintasannya mengisi suara yang tiba-tiba menjadi hening setelah perkataan si pastur. Mata naruto menatap kearah sana.

"pukul 10 : 30."

Terakhir, nyonya tua berbicara, "kau tahu pukul berapa anak panti harusnya tidur!? Kau sudah lewat batas!"

Dada naruto berdetak. Ia merasa amat tertekan dengan ucapan kuat yang menyinggung itu. Alhasil ia merapat kedinding, ibu langsung bereaksi mencekalnya dan memeluknya sebelum berbicara lembut untuk menuntunnya pergi. "kau anak yang cerdas. Bahkan telah bisa membaca semua kanji ini dalam usia 6 tahun. Tapi kau tetap anak-anak dan seharusnya tidur."

Naruto menggeleng, "mengapa semua orang sibuk dengan uang dan perang konoha, dan naruto? Aku benar-benar tidak mengerti."

Nonou melepaskan pelukannya. Memandang kearah naruto serius, dari awal memang ia tidak bermaksud memandang naruto sebagai anak kecil. Karena seperti apapun lambat laun anak itu harus dewasa mendahului waktu. "kau harus mengerti bahwa konoha sedang dalam perang dan panti membutuhkan uang untuk makan semua orang."

Naruto terdiam.

"dan uang tidak datang dengan sendirinya. Itu alasan mengapa aku melatihmu. Kau harus kuat agar bisa membantu menyokong dana panti dari misi-misi yang nantinya akan kau kerjakan."

Naruto menunduk sebentar, "jadi semua ini hanyalah perkara shinobi? Jadi ibu menginginkanku dan memang berencana menjadikanku sebagai shinobi?"

Nonou diam.

"ini karena kemunculanmu malam itu. Dan komandan itu menunjukmu sejak saat itu.. itu mengapa keesokannya kita langsung berlatih."jelas nonou pelan. "kurasa semuanya telah kujabarkan. Kuharap nantinya kau mengerti dan sebaiknya kita pergi ke kamarmu. Hari sudah benar-benar larut."

Nonou pun mengantarkan naruto ke kamarnya. Ia langsung menyelimuti anak itu dengan selimut yang telah tersedia.

"jaga dirimu baik-baik naruto. Tak ada yang bisa kuandalkan kecuali dirimu.."

Walaupun tidak terlalu mengerti makna perkataan itu naruto tetap mengangguk ia menyempatkan diri menatap wajah si ibu sebelum malam dalam mimpi menjemputnya hari itu. Berharap dengan dada besar bahwa keesokan harinya ia masih bisa menemukan wanita berambut pirang dengan mata hijau dan senyum lembutnya menyambutnya untuk pelatihan yang lebih serius.

'aku akan melakukan apa yang kau ingin kulakukan bu.'pikirnya sebelum tertidur lelap.

TBC.