Sebelumnya aku berterima kasih pada semua reader dan author yang telah menyempatkan diri untuk mereview, memberi follows, favorite, atau bahkan saran-saran yang aku yakin sangat kubutuhkan dalam melanjutkan fic-ku ini. Tapi tak hanya itu, entah sillent reader, atau siapapun aku pasti sangat bersyukur karena karyaku dihargai oleh kalian. Mengenai akun, ya, kurasa aku sendiri cukup ceroboh hingga beberapa review dari senpai-senpai reader yang memberikan sarannya jadi menghilang dari akunku. Tapi lagi-lagi beruntunglah aku karena telah membacanya meski tak bisa mengingat semua nama author dan guest yang berbaik hati memberiku saran itu.
Untuk beberapa pertanyaan oke, mungkin akan kuberi kisi-kisinya.
Mengenai ayah naruto, sebab mengapa seorang uchiha dimasukkan kedalam panti : ini adalah nyawa dari fic-ku. Bagian dari misterinya. Aku akan memberikan tanda-tanda-nya dan membiarkan kalian berasumsi sesuka hati dalam menafsirkan siapa orang tuanya. Jadi hanya masalah waktu sebelum aku menguak misteri ini pada kalian.
Mengenai usia naruto : naruto tidak seumuran dengan kakashi. Di zaman PD 3 kakashi sudah memiliki tim kan? :v tapi naruto masih anak-anak. Jadi sudah jelas dia tidak seumuran kakashi tapi lebih muda dari setengah usia kakashi.
Kekuatan naruto : elemen uchiha so pasti katon. Tapi aku akan memberikan elemen tambahan, nah terima kasih untuk sarannya, aku pasti pertimbangkan.
Kemampuan medic : aku setuju dengan pandangan anda yang tidak mendukung naruto jadi suster. Jadi oke aku tak akan menjadikan uchiha menjadi suster :D
Naruto ikut orochimaru : kalian bisa menebak apa yang akan terjadi berikutnya. Kurasa sesuai dengan jalan cerita, naruto itu berdarah uchiha yang tidak suka meniru orang lain atau mengikutinya. Mereka power hungry tapi bukan berarti mereka bisa diperbudak karena iming-iming kekuatan. So, lihat kedepannya aja bangbro.
Intinya aku lupa semua pertanyaan yang lain. Jika masih ada maka silahkan bertanya padaku. dan, jadwal update pasti akan kupercepat. Kurasa nanti setelah ulangan akan jadi lebih cepat lagi. Makasih buat supportnya dan saran agar aku mempercepat update-ku. Mohon di maklumi karena aku masih dalam tahap pra semester sekolah. Tapi aku tidak akan menyia-nyiakan sedikitpun waktu untuk membuat cerita untuk kalian kok. AKU SUKA SEMUA READER KU.
SEMOGA TIDAK MEMBOSANKAN.
ROOT of UCHIHA
Chapter 4
. . . . . . . .
Musim semi menyambut konohagakure no sato. Tak terkecuali para anak panti yang hari ini diperbolehkan bermain di luar ruangan. Naruto yang melihat ini juga turut melebarkan matanya, tapi sebelum ia ingat kembali apa yang telah ia janjikan pada ibunya malam sebelumnya.
Ia harus melakukan apa yang ibunya ingin ia lakukan.
Jadi yang dilakukannya adalah memakan sarapan dan menyelesaikannya lebih dini dari siapapun di meja makan. Selepas itu kembali kearah kamarnya untuk mengambil beberapa peralatan yang mungkin akan diperlukannya dalam latihan.
'aku tak akan membawa jaket. Lilin juga tidak mungkin, jadi kurasa.. buku itu boleh juga.'
Ia menyelesaikan pemberingkesannya dan keluar dari rumah hanya dengan membawa buku serta pakaian warna hitam tanpa pola dan bawahan celana pendek selutut. Kakinya dengan otomatis menuntunnya pada satu hal yang pasti diyakininya dengan benar akan keberadaan sosok yang dicintainya. Ibunya! Ia melangkah cepat-cepat kearah halaman depan rumah. Entah bagaimana tapi ada dari bagian dirinya yang terdorong untuk mengikuti insting tak berdasar itu. Dan ia tak memberontak. Kakinya terus melangkah tanpa kenal arti arah tidak rasional itu.
'kenapa aku merasa sangat yakin dengan ini?'
. . . . . . . .
Dihalaman depan panti asuhan nonou tengah berdiri sambil menatap kearah depan. Angin sejuk menerpa lembut membelai kulit pualamnya. Mata hijaunya menerawang jauh sementara tangannya menggenggam pena dan satu buku kecil. Sebentar-sebentar ia mengalihkan matanya kearah buku itu dan menuliskan sesuatu lengkap dengan sebuah gambaran. Tak ada yang tahu apa itu tapi nonou langsung terkesiap begitu sesuatu terasa berlari kearahnya. Keningnya berkerut otomatis.
"ibu!"ia menangkap bocah berambut hitam dengan mata onixnya yang lucu sedang berlari kearahnya. Seketika alisnya terangkat, tapi lebih dari itu ada sesuatu yang mengganjal dalam pikirannya. Ia tersenyum kearah bocah tadi, sambil menutup buku dan menyimpan pena-nya kembali. Wajah penuh keingintahuannya ditampilkan.
"bagaimana kau bisa menemukan aku disini?"tanya-nya pada naruto kecil. "seingatku aku belum menemui siapapun atau mengatakan apapun bahwa aku sedang berada di halaman panti."
"entahlah. Aku hanya tahu bahwa aku merasa ibu ada disini."gumam anak itu ceria. "jadi ayo mulai latihan?"
Nonou tersenyum.
"kalau begitu mari ikut ibu. Kita akan melihat sesuatu yang lebih menarik dari sebelumnya."
Skip time.
Disebuah danau di tengah-tengah hutan. Seorang anak berdiri sambil memandangi wanita dewasa yang berdiri dengan anggunnya di atas air di permukaan danau. Matanya membelalak lebar, sedangkan wanita yang ditatapnya malah memberikan isyarat kecil menggunakan tangan seolah menyuruhnya untuk mengurungkan niatnya mengejar dirinya.
"jangan ke tengah sini."
Tapi naruto tidak habis akal dan tak mungkin bisa dihentikan hanya menggunakan satu larangan saja. Jadi karena telah mengamati bagaimana cara si ibu mengalirkan cakra ke permukaan kaki ia juga turut mencobakan diri melangkah di atas air. Awalnya hanya satu langkah kecil, satu kaki baru setelah beberapa saat ia memastikan ia bisa berdiri dengan dua kaki di tepian danau. Matanya tak henti-hentinya takjub menatap telaga besar berhiaskan sinar matahari pagi yang berpendar itu bahkan sekalipun ia sudah pernah kemari sebelumnya—tentu saja dalam situasi berbeda. Tapi ia tetap saja tak bisa menolak pesona danau ini.
"wah. Aku bisa melakukannya ibu!"teriaknya gembira.
'ini terlalu mudah'pikirnya sambil mencoba menatap nonou dengan gaya angkuhnya. Naruto, entah bagaimana si kecil ini bisa menunjukkan ekspresi itu. "aku bisa berdiri dengan cepat bahkan tanpa kesulitan."
"benarkah?"komen wanita pirang itu. "kenapa tidak tunjukkan pada ibu dengan berlari kearah tengah sini?"tunjuknya tepat kearah tempatnya berdiri. Di tengah danau dan ditempat yang terdalam dan dikelilingi air. Sejenak, naruto memikirkan sesuatu sebelum akhirnya menganggukkan kepala setuju. "kalau aku bisa melakukannya ibu harus melakukan sesuatu untukku!"
Nonou mengangguk. Dan naruto sudah siap berlari. Itu begitu mudah saat dengan senyuman manisnya bocah kecil itu mulai berlari kearah tengah danau.
Cprat!
Cprat!
'ternyata aku bisa melakukannya dengan mudah!'pikir naruto girang sambil berusaha mempercepat laju larinya yang sebelumnya hanya langkah-langkah besar. "aku dataaaaaaaaang-"
Byuuuuur!
Sesi latihan ini berakhir dengan naruto yang meronta melawan air agar tidak tenggelam diiringi senyuman hangat si ibu.
(setelah beberapa saat si ibu menolong naruto dan menghanduki bocah itu)
"kenapa ibu malah kelihatan senang?!"
Ibunya menggeleng. "kegagalan adalah kunci dari sebuah keberhasilan. Dengan tekad yang didapat dari sebuah kegagalan seseorang baru bisa mencapai keberhasilan."ia mengusap rambut lepek naruto dengan handuk. "Dan sekalipun suatu hal terlihat mudah itu belum tentu mudah, kau tidak boleh meremehkan sesuatu yang ringan. Karena apa? Karena itulah yang akan bisa membuatmu gagal dan terjatuh."
Nonou tertawa kecil. Naruto merengut sambil bersedekap.
"kita harus mulai lagi! Akan kubuktikan bahwa aku itu mampu!"katanya sambil melangkah dengan kaki menghentak-hentak kearah danau. Nonou hampir mengira bahwa naruto akan langsung melangkah lagi kearea danau yang berair, tapi asumsinya langsung terpatahkan begitu melihat bocah itu menatapnya dengan mata dipincingkan.
"kenapa ibu tak menunjukkan caranya padaku lagi sih?!"tukasnya kesal.
.
Dibalik rerimbunnya pepohonan seseorang tengah duduk sambil mengamati kegiatan kecil di tepi danau itu. Matanya tak berkedip menyaksikan interaksi dua orang shinobi yang berlatih di bawah. Tanto-nya menenggrek di punggung dengan erat. Ditangannya sebuah buku telah menanti untuk ditulisi dengan berbagai hal yang diperlukan dalam misinya kali ini.
'apa aku harus mencatat semua kronologinya?'pikir orang itu sambil mengerutkan kening.
.
Kali ini naruto tidak berlaku meremehkan seperti sebelumnya. Tapi sebaliknya ia penuh perhitungan sambil mengamati si ibu yang kelihatan menyemangatinya dengan senyuman. Perlahan,dari bawah kakinya ada pendar biru cakra yang melapisi seluruh bagian telapaknya mengingat ia tak memiliki sepatu cadangan dari satu-satunya sepatu yang diberikan panti padanya. Alhasil ia hanya menggunakan kaki telanjang untukmelakukan latihan ini.
"ibu."katanya sambil menatap air dan bersiap melangkah. "aku mau ibu memberikanku hadiah jika aku bisa berjalan di atas air."
Diseberangnya nonou menyentuh ujung kaca matanya. Wanita itu memberikan anggukan setuju-nya. "baiklah. Ibu akan memberikan hadiah jika kau bisa berjalan di atas air."
Naruto memandangi ibunya. "berjanjilah padaku kalau begitu."
"ya. Ibu berjanji."
Selepas mendengar pernyataan itu naruto sejenak mengalihkan pandangannya kearah danau yang luas itu. Ia bukan melihat-lihat pemandangan tanpa tujuan, tapi sebaliknya ia mempertimbangkan sesuatu dan mengkonsentrasikan aliran cakra dalam tubuhnya pada telapak kaki. Setelah merasa siap, langkah pertama kakinya-pun menyusul. Seperti sensasi sebelumnya, rasanya tetap seperti berjalan di atas daratan, tapi ada sedikit perbedaan, disini aliran airnya terasa agak mendayu-dayu. Jadi seolah-olah tubuhnya meringan..
Ringan.
"aku bisa melakukan ini."ujarnya pelan diikuti langkah kakinya yang satunya. Dahinya berkerut karena konsentrasi. "apa ibu beran-benar akan memberiku hadiah setelah ini?"
Sang ibu menggeleng, "kalau kau berdiri itu bukan termasuk dalam perjanjian. Kau harus bisa berjalan baru perjanjian dipenuhi."
"tapi berjalan sama mudahnya dengan berdiri."kata naruto masih memperhatikan air dibawahnya. "jangan bilang ibu mau ingkar janji."
Naruto tak menoleh kearah si ibu saat berikutnya ada seseorang yang mendatanginya dan mendorongnya ke depan. Refleks, ia terhuyung dan hampir jatuh, konsentrasinya terpecah dan sebelah kakinya tercebur ke dalam air. Tanpa perlu menoleh pun ia sudah tahu siapa yang menjadi pelakunya kali ini.
"tunjukkan bahwa kau itu bisa berdiri menyebrang kesana tanpa terjatuh."
Naruto mencoba membenarkan kakinya yang tercebur kedalam air. Ia masih berusaha sebelum dorongan berikutnya menyusul. "kalau kau tidak ingin mengecewakan ibu maka kau harus bisa melakukannya."
Ia terhuyung. Rasanya tidak menyenangkan saat kau didorong dan tubuhmu menjadi terendam. Beruntung ia masih di pinggiran danau, mulutnya baru saja akan berbicara sebelum orang di belakangnya mendorongnya lagi. Kali ini dengan kurang berperasaan dan membuatnya sedikit terperosok kedalam bagian danau yang lumayan dalam.
"kenapa kau malah mendorongku sih?!"
Tapi orang itu tidak menggubrisnya. Melainkan makin mendorongnya maju untuk menyambut bagian danau yang lebih dalam dan gelap. Beberapa kali air sempat mengisi hidungnya dan masuk kedalam paru-parunya. Naruto terbatuk-batuk. Itu tidak menyenangkan jadi ia berusaha berdiri dan bangkit. Tapi tangan itu kelihatannya berusaha untuk mendorongnya makin ke tengah-tengah danau.
"kau akan mengecewakan ibu jika tidak berhasil untuk berlari ke ujung sana dan mendapatkan hadiahmu."
Jadi sebelum dorongan berikutnya menyusul, naruto dengan gerakan berenang asal-asalan merangkak mencoba menjauh dari arah orang tadi. Dengan insting yang masih diingatnya sedikit tentang kegunaan sebuah cakra ia mengalirkan tenaganya ke bagian kaki. Jadi renangnya menjadi lebih cepat, dan naruto mengakui bahwa dengan begini ia bisa menyingkir dari orang tadi. Tapi yang lebih berbahaya menantinya di depan, bagian danau yang lebih dalam!
Jadi ia memutarkan tubuh, itu sulit, tapi ia mengalirkan cakra ke kaki. Dan dengan usaha sulit, akhirnya seolah kakinya bisa menjejak pada daratan, naruto bisa menjejak kembali. Di atas air, dan itu membuatnya bersyukur hingga bisa mendudukkan tubuh sejenak sebelum keseimbangannya mulai hilang kembali dan tubuhnya kembali tercebur.
'sial! Dia akan mendorongku lagi!'pikir naruto sambil berusaha keras menjauh dan mencoba kembali untuk berdiri dengan bantuan cakra di kakinya. Disana, tak jauh dari sana seorang wanita dewasa sudah siap mendorongnya lagi sebelum ia berhasil berlutut dan menahan dirinya untuk berdiri. Jadi ketika tangan itu menyentuhnya yang dilakukannya adalah menangkapnya, matanya melotot kesal.
"kenapa kau-"
Tapi satu tangan lagi mencoba mendorongnya. Dan naruto tahu akan hal itu jadi yang dilakukannya adalah menunduk dan berlari secepat yang ia bisa ke arah lainnya.
Cprat! Cprat!
Kaki kecilnya menapak mantap di atas air. Menciptakan bulir air yang menciprat di sekelilingnya. Di belakangnya sosok bertudung itu terus mengejarnya, jadi yang dilakukan naruto adalah berlari secepat yang ia bisa untuk menggapai ujung danau atau kemanapun itu agar terhindar dari dorongan tangan jahat itu lagi.
'mengapa dengan dia?! Apa ibu sudah kesurupan?'
Disisi lain nonou yang mengejar naruto tak kurang akal. Dia melompat kearah depan mendahului bocah itu, tangannya sudah siap untuk mendorong sebelum lagi-lagi anak tadi membelokkan tubuhnya kearah lain. Tapi pengalaman di dunia ninja tak akan membuatnya menjadi terkecoh dan bodoh. Jadilah ia terus menghalangi gerakan naruto menuju ujung danau untuk menghindari dirinya dan bersembunyi di balik pohon.
Tap!
"mau kemana kau? Ini tak akan berakhir."katanya datar sambil mencoba mendorong kepala naruto. Tapi anak itu benar-benar serius, jadi ia gagal melakukan niatannya dan mendapati naruto sudah menyingkir mencoba lewat dari samping tubuhnya.
"gagal."ujarnya sambil mendorong kepala naruto dan mengakibatkan bocah itu tersungkur ke samping.
"cih! Bagaimana aku bisa berhasil kalau kau terus-terusan mendorongku?!"ketus naruto sambil mencoba berdiri. "kau jadi jahat sekali! Aku tidak percaya aku memiliki ibu yang sejahat dirimu!"
Wajah bocah itu mengeras. Matanya memicing menatap nonou yang menatapnya dengan sorot mata tenang. "adakah aturan di dunia shinobi untuk tidak menjadi jahat?"
Naruto hendak menyangkal. Tapi ia tahu ia tidak mengerti apa-apa. Jadi ia mengatakan dengan keras "aku ini anakmu ibu!"
Tapi nonou malah tertawa. "apa ada larangan untuk tidak menyakiti orang yang menjadi keluargamu? Memangnya apa menurutmu dunia shinobi memberlakukan hal-hal semacam itu?"
Wanita itu melangkah. Dan naruto makin mencoba menahan diri untuk tidak kabur, meski artinya ia menantang untuk ditenggelamkan. Ia benci merasa dipecundangi seperti ini. Seolah-olah ia hanya dijadikan bahan mainan saja.
"aku akan mengatakan padamu bahwa kau boleh membunuh, merampas, atau apapun itu demi misi dan desamu. Dan karena melindungi sebuah desa dan isinya adalah kewajiban semua shinobi jadi tak dibatasi untuk membunuh bahkan keluarga terdekatmu."kata nonou sambil mengeluarkan sebuah kunai. Naruto yang melihat ini melebarkan matanya.
"j-jadi kau ingin membunuhku?!"katanya tegang. "lalu untuk apa kau menyayangiku selama ini?"
Nonou terus melangkah maju. Naruto melangkah ke belakang perlahan-lahan. Entah mengapa ia jadi begitu ketakutan, ingin rasanya ia menyesali mengapa ia begitu bodoh ingin menuruti semua keinginan orang dihadapannya selama ini.
"kau benar-benar akan membunuhku?!"
Nonou menggendikkan bahu. Tangannya memutar-mutar kunai dengan lihai, "hanya perlu satu sayatan di leher,"ia melangkah dan berhasil meraih naruto dan menekannya untuk diam. Tangannya menyentuh leher anak itu, "di leher, kemudian di pelipis.."tangannya menyentuh kearah pelipis naruto, "atau di jantung."katanya sambil menunjuk kearah dada naruto sebelah kiri. Anak itu membeku dalam ketakutannya.
"kalau kau benar-benar ingin membunuhku maka seharusnya lakukan dengan cepat!"
Nonou tertawa lagi. Matanya menatap naruto tepat di mata, merasakan aura ketakutan anak itu dan merasakan kekesalan mendalam akibat dibodohi. Tangannya yang tidak memegang kunai terarah untuk menyentuh kepala naruto sedangkan bocah itu balas menatapnya dengan tatapan mata penuh kekesalan untuk yang terakhir kalinya.
"berhenti bersikap seolah kau menyayangiku dan-"
Pluk!
Bukannya sebuah sayatan yang didapat naruto melainkan sebuah tepukan di kepala dan senyuman menenangkan ibunya. Matanya berkilat menatap kearah kunai sang ibu yang sama sekali tidak terasa seolah mendekat untuk merenggut nyawanya.
"apa yang kau lakukan gha!? Apa kau ingin membunuhku dengan pelan-pelan!?"serunya dengan suara tercekat. "kau mau apa?! Mengakali anak bodoh ini lagi? Melatihnya seolah-olah kau benar-benar akan melatihnya dan malah menjauhkannya untuk kau bunuh di tepi danau di tengah hutan yang sunyi dan menjauhkannya dari semua anak yang mungkin akan mencarinya?! Atau kau ingin menenggelamkannya pelan-pelan untuk dimakan hewan buas di dalam danau atau-"
Greb!
Mata naruto membelalak. Nonou memeluknya dengan erat dan kunai yang masih tergenggam di tangannya.
"kau boleh marah pada ibu. Tapi ini ibu lakukan untuk kebaikanmu sendiri.."gumam nonou sambil melepaskan pelukannya, "tidakkah kau bisa menyadari apa keuntungan dari semua hal hari ini?"
"apa maksudmu?! Tentu saja aku hampir mati dan-"
Nonou memotong ucapannya sambil menunjuk kearah kaki mereka. "kau bisa berdiri diatas air dan berlari tanpa kesulitan. Tidakkah kau menyadarinya?"
Naruto menatap kearah bawah dengan tidak percaya. "ap-apa maksudmu! Bukankah.. bukankah kau.."
Satu tangan mengusap kepala hitam itu.
"ada yang bilang padaku bahwa shinobi akan lebih cepat berkembang jika berada dalam keadaan tertekan.. saat mereka dalam bahaya dan membuat semua apa yang mereka punya dikeluarkan tanpa keraguan sedikitpun atau dibatasi. Itu menyebabkan insting melindungi diri terpicu dan mengeluarkan bakat tersembunyi dari batas potensi tubuh yang selama ini tidak diketahui."
. . . . . . . . .
"singkatnya.."lanjut nonou. "kurasa aku harus memberimu hadiah setelah ini semua diselesaikan."
Naruto membelalak keheranan dan menghambur memeluk kearah ibunya setelahnya.
.
Konohagakure pusat kota.
Seorang hokage tengah menatap desanya dari atas menara kage. Jubahnya melambai tertiup angin, cerutunya mengepulkan asap. Hokage ketiga, itulah kanji yang tertulis di jubah baju yang dikenakannya. Beberapa jengkal dari tempatnya berdiri, seorang pria dengan mata biru berdiri mengawalnya. Sosok pirang menawan itu ikut-ikutan memandangi konoha hari itu. Wajahnya kelihatan benar-benar damai, matanya yang sebiru samudera menatap kearah atensi di dekatnya dihadapannya.
"jadi apa yang anda ingin sampaikan pada saya hokage-sama?"tanya-nya sopan. Ia adalah kiroii senko kepunyaan konohagakure no sato. Sudah sewajarnyalah ia menanyakan hal itu sebab setelah kepulangannya seorang jounin ninja konoha langsung menemui dirinya sebagai utusan dari sang pemimpin desa. Alhasil, disinilah ia sekarang, berdiri sambil menatap konohakure tercintanya menunggu gerangan misi apa yang diembankankan oleh sang hokage padanya.
"kau boleh meninggalkan kesenjangan antara pemimpin desa dan bawahannya sejenak Minato.. aku berada disini untuk menemuimu bukan karena suatu misi yang akan kuembankan padamu."
Suara angin bersiur-siur. Minato hanya mendiamkan perkataan dari hokage ketiga, sebaliknya atensinya terserap habis hanya pada konoha-nya saja. "anda selalu berbaik hati kepada siapapun. Tapi sekalipun begitu, aku tetap tidak boleh menurunkan derajat anda dengan ungkapan tidak sopan."
"baiklah. Lupakan saja sejenak urusan hormat menghormati itu."canda sandaime sambil memegang cerutunya. "bukankah indah sekali konoha ini Minato?"
Mata biru itu menatap hokagenya lamat-lamat.
"aku memiliki sebuah cerita.. tentang bagaimana orang pertama konoha yang merangkap sebagai hokage memperjuangkan kehidupan desa ini dari sebuah serangan paling fenomenal dan tercatat sejarah karena kekuatannya.. kekuatan yang mampu membelah gunung hanya dalam satu kali tebasan pedangnya."mata sandaime menatap kearah minato yang terdiam.
"..-Entah kekuatan macam apa itu tapi kau bisa membayangkan betapa mengerikannya kekuatan seperti itu hidup dan ada terlebih lahir di sebuah desa baru yang didirikan dengan banyak perseteruan panjang. Waktu itu sudah ada bakal ke empat negara elemental lainnya. Tapi mereka semua masih berupa rintisan.. konoha no sato ini yang pertama."sandaime menghela napasnya sejenak.
"orang itu sebenarnya humoris, tidak terlalu jenius atau memiliki intelegensi yang setara dengan si manusia yang mampu membelah gunung. Ia juga tidak terlalu menghargai nilai sebuah kekuatan dan lebih mementingkan arti kasih sayang dan kedamaian. Bercita-cita supaya suatu saat nanti dunia ini bisa meraih kedamaian itu sendiri.. tapi orang ini tidak begitu egois sehingga ia tidak mengabaikan clan lain selain dari clannya sendiri. Perseteruan panjang masih berlaku sedangkan pria ini lama-kelamaan dipertemukan waktu pada pria lainnya dari clan yang selalu berseteru dengan clannya."
"Hashirama Senju dan Madara Uchiha. Dan itulah cikal bakal konoha."ujar Minato menimpali. "memang tak ada yang meragukan kemampuan keduanya."
"ha'i dan bahkan si jenius Madara uchiha menjadi seorang sahabat dekat Hashirama-sama. Keduanya saling merivali satu sama lain dengan kemampuan masing-masing. Legenda Mokuton shodaime yang mampu menciptakan hutan konoha, dan Madara yang mampu mengendalikan seekor Bijuu terkuat. Kyuubi no yokoi.. singkat kata keduanya bisa menaklukkan seelemental nation dalam waktu sekejab dengan kemampuan tersebut."
"Tapi itu semua tak pernah terjadi. Anda tahu benar shodaime-sama tidak menyukai kekerasan dan memilih hidup berdampingan dengan para negara elemental lainnya. Bijuu di bagi-bagi dan konoha mendapat bagian Kyuubi sejak saat itu. Ini berlangsung turun temurun hingga sekarang,"selesai minato menyahuti cerita sandaime. "dan inilah konoha yang subur karena memiliki hutan dan melupakan sejarah tanah Hi no kunni yang terkenal keras dan gersang."
Sandaime mengangguk. "menurutmu mengapa Hi no kunni dan konoha-nya ini begitu makmur?"
Minato menyunggingkan senyum sopannya. "itu tak akan lepas dari peran shodaime yang membuat hutan dan menyuburkan tanah dan tanaman. Tak akan lepas dari peran Nindaime hokage yang menciptakan air terjun dari kegersangan tanah dan ketiadaan air di udara yang kering. Tak akan lepas dari peran anda yang menjaga amanat keduanya dengan membuat irigasi dan terus memperhatikan pembangunan desa dan penduduk."
"Kau terlalu memberiku pujian yang berlebihan Minato."timpal sandaime sambil membuang napasnya pelan. Di atas atap kantor hokage tentu saja udara terasa lebih menyejukkan dibanding daerah manapun di pusat desa kecuali bukit di belakang monumen pahatan kepala kage. Sandaime hokage mematikan cerutunya, membuang sisa tembakau dan menyimpannya ke baik jubah. Sekarang pria itu membalikkan tubuh, menghadap kembali kearah belakang konoha-nya. Dari sini pahatan monumen para kage terdahulu jadi lebih jelas dipandang mata.
"sebelumnya aku ingin berduka tentang meninggalnya rekan setimmu di medan perang. Dan semua shinobi yang telah mendampingimu serta memegang teguh memperjuangkan panji konoha di medan perang. Mereka semua adalah seorang yang berjasa, tentu saja bukan hal mudah mempertahankan tekad api konoha di medan yang begitu sulit dengan berbagai godaan dan rintangan untuk berbelok dan memusuhi konoha. Itu pasti mudah dilakukan oleh seorang shinobi saat semuanya tak bisa diorganisirkan dengan baik."
"anda tak perlu begitu berduka. Itu sudah kewajiban kami sebagai shinobi konoha untuk membela konoha. Lagipula ini amanat yang telah kami emban sebagai manusia yang dikaruniai cakra dan pendidikan ninja. Ini bentuk cinta kami pada konoha dan semua yang kami sayangi di konoha. Demi menjaga bidak-bidak baru bagi generasi lain setelah ini dari konoha dan negara api."
Sandaime melirik kearah minato. Wajahnya digurat oleh rasa keseriusan dan ketenangan yang bercampur aduk, pria itu menepuk bahu Minato sejenak."semua keindahan ini.. semua peninggalan ini. Jika seandainya aku telah tiada maka menurutmu apakah pantas bagiku untuk mempercayakan semuanya padamu?"
Wajah shinobi itu berubah. Sandaime melanjutkan ucapannya yang dijeda.
"bisakah aku mengamanatkan semua konoha berikut tekad api dan generasi muda-nya padamu?"
Mereka beradu tatapan sejenak. Dalam detik-detik itu tampaklah dedaunan baru konoha yang masih kuncup menghiasi mata mereka. Sesuatu yang hijau dan baik yang menyejukkan mata dibandingkan daun lain sisa musim gugur yang baru akan terjatuh di bantu angin musim semi ini. Jubah hokage ketiga melambai seiring dengan terjatuhnya benda hijau layu itu ke atap gedung hokage. Sandaime menangkapnya sebelum terjatuh, mengangkat di depan wajah dan menerawang dari balik lubang di yang menembus tengah-tengah daun.
"Ketika daun pohon jatuh, salah satu akan menemukan api Bayangan api akan menerangi desa, dan sekali lagi, akan ada daun pohon baru dari tunas baru."gumam pelan sandaime. "aku adalah pilar, tapi lebih dari itu konoha memiliki banyak sekali pondasi yang mendukung berdirinya sebuah pilar. Dan sebuah kerusakan pada pilar utama tidak harus menghancurkan pondasi rumah yang telah ada karena yang harus dilakukan oleh seseorang adalah membuat pilar baru dan menyingkirkan yang lama. Itu tak akan terlalu sulit Minato.."
"karena aku berharap bisa mempercayakan konoha padamu. Semua keluargaku dan konoha.."
Selepas berkata seperti itu sandaime melangkah pergi meninggalkan minato yang berdiri di atas atap hokage tower tanpa bisa mengucapkan satu argumen-pun. Jubahnya melambai di depan pintu masuk kembali ke dalam gedung konoha, berharap dalam hati bahwa keputusan yang diambilnya ini benar-benar diterima oleh shinobi yang bahkan telah dekat dan dianggapnya sebagai cucu sendiri.
'aku tak pernah tahu akan sampai batas mana aku akan menjalani kehidupan sebagai hokage. Tapi lebih dari itu semua aku meyakini bahwa kau akan jadi salah satu orang yang pasti berhak untuk memegang kendali konoha ini dikedepannya..'
.
.
Disisi lain konoha.
Desas-desus tentang lemahnya pertahanan konoha dan turunnya derajat negara api dihadapan negara elemental lainnya menyebar dengan cepat. Belum genap beberapa hari setelah perang dinyatakan usai dan konoha menelan bulat-bulat kerugian besar dana serta setengah jumlah kekuatan militernya yang musnah, terdengar lagi kabar bahwa sebentar lagi konoha akan di invasi dengan situasi yang tidak stabil dan kurang ketatnya keamanan desa. Semua warga menjadi resah, dan perbincangan paling hangat akhir-akhir ini adalah 'APA YANG DILAKUKAN HOKAGE?'
Bahkan para civilian yang tak mengerti urusan shinobi-pun angkat bicara. Semua pasar dan tempat perkumpulan di desa termasuk kedai-kedai dibanjiri berita bahwa penyebab kekalahan desa dan meruginya konoha adalah 'HOKAGE KETIGA'. Semua ini mulai mengganggu jalannya kehidupan di konoha. Termasuk perekonomian yang mulai menjadi tidak stabil karena para petani takut tiba-tiba terjadi invasi sehingga tidak mau menanam di lahannya. Para pedagang takut dibunuh jika berdagang karena situasi sedang hangat-hangatnya, para shinobi yang menjadi penuh tanda tanya, dan para polisi yang menjadi geram karena para warga menjadi semakin sulit diatur. Singkat kata, situasi tentram konoha berubah menjadi mencekam dalam waktu yang sangat singkat.
"menurutmu apa benar hokage ketiga yang merencanakan semua kegagalan ekonomi ini?"tanya orang-orang di pasar di selingi tawar-menawar barang makanan yang cukup singkat namun alot. Belakangan ini banyak kios dipasar yang tutup, seolah-olah akan terjadi bencana besar sementara musim semi tidak dirayakan seperti tahun-tahun sebelumnya. Tentu saja barang makan jadi mahal, tiba-tiba konoha seperti menjadi negara kecil yang dililit hutang sehingga semua warganya kelaparan.
Memangnya siapa yang akan memasok sumber makanan kalau bukan petani dan disalurkan pedagang?
"entahlah. Tapi jika itu benar maka matilah semua warga konoha ini. Aku benar-benar tidak menyangka hokage ketiga akan sekejam itu pada rakyatnya."bisik yang lain sambil mengemasi barang belanjaannya. "baiklah aku pulang dulu. Berada di luar terlalu lama akan membuat keluargaku menjadi khawatir. Terlebih para shinobi yang berpatroli juga menjadi sangat kurang dibanding biasanya."
Zaman itu shinobi yang berpatroli adalah simbol keamanan sebuah desa. Semaki banyak shinobi yang berpatroli maka keamanan desa makin terjamin dan warga menjadi tentram karena tak akan ada orang jahat dan pencuri sebab mereka selalu dijaga dan di awasi. Pada umumnya dalam sehari mereka akan berpapasan lebih dari 20 kali oleh shinobi yang berpatroli. Tapi minggu ini saja mereka telah tak berpapasan dengan mereka hampir berhari-hari. Tentu saja ini pertanda buruk karena artinya mereka tak lagi di lindungi.
"yang jelas aku tidak tahan. Kalau tidak ada kejelasan berikutnya kurasa aku akan pindah saja ke desa lain."kata orang itu sebelum pergi meninggalkan temannya. Saat ini, kondisi pasar konoha tidaklah ramai atau penuh sesak. Suasananya malah begitu lenggang hingga bahkan kekosongan kios pedagang jadi amat kentara. Bahkan yang berani mengisi lapak hanya mampu bertahan selama beberapa jam. Sisanya yang merupakan shinobi atau civilian yang cukup berani mengisi kedai-kedai yang tidak sumpek seperti hari normal di konoha.
"hei, kudengar hokage ketiga menolak desakan dewan untuk menuntut rugi pada Iwagakure. Ceroboh sekali ya? Padahal sudah banyak teman kita yang gugur di luar sana."celetuk salah satu shinobi pada temannya. "apa dia tidak memikirkan bagaimana nasib kita tanpa ganti rugi itu? Semua orang jadi susah karena dirinya."
Ninja yang lain mengangguk menyetujui. Mereka para chunnin ini memang ditinggalkan untuk menjaga desa sedangkan para jounin dan elit terjun ke medan perang. Dan karena perang telah usai, maka ninja-ninja tersebut di alih fungsikan sebagai ninja penjemput jasad para shinobi konoha atau penyelamat bagi ninja yang terluka di area perang terakhir. Tak jarang, jounin-jounin itu juga menjadi relawan pembantu di rumah sakit konoha. Sebenarnya tugas mengawasi desa juga tidaklah terlalu berat, tapi mengingat jumlah chunnin yang banyak menghilang, mau tidak mau banyak yang menggerutu juga.
"malah kudengar bahwa hokage sama ingin berdamai dengan kumogakure dan Iwagakure. Beruntung sekali bukan mereka tidak dirugikan apa-apa?"
"ya! Dan sekarang lihatlah konoha. Negara yang sebelumnya makmur menjadi negara miskin dalam seketika. Hokage sama benar-benar sudah kelewat batas. Seharusnya ganti saja orang tua itu, toh masih ada ninja lain yang lebih berkompeten."
Mereka terus berceloteh tanpa ada yang menginterupsi. Sebaliknya sisa orang di dalam kedai hanya bisa mendengarkan semua celotehan mereka dan merasakan kebenaran di dalamnya. Tapi apa yang harus mereka buat kalaupun itu benar? Mereka hanya bisa menguping para ninja bercengkrama itu sambil mengutip informasi darinya.
"kurasa ada baiknya kita berkampanye memprotes kebijakan ini. Hokage benar-benar harus diganti."tiba-tiba satu ninja yang duduk menyendiri di meja sudut berujar. Semua chunnin itu menoleh kearah sana, "apa yang kau maksud? Mana mungkin ada orang gila yang mau menentang hokage sama? Bahkan musuh pun gentar padanya. Apalagi ninja sekaliber kita? Itu benar-benar tidak masuk akal."
Ninja tadi menghabiskan makanannya. Ia minum sebentar baru menoleh kembali kearah chunnin-chunnin itu, "kalau kita semua bersatu apa hokage sama bisa menolak? Mungkin secara kekuatan hokage sama memang bisa membantai semua sisa ninja yang ada. Tapi apa ia benar-benar akan membantai ninja-nya sendiri? Paling tidak kita masih tahu hokage sama mencintai shinobi desa-nya tanpa pengecualian. Dia pasti tidak akan senang membunuhi kita semua."
Ke empat chunnin tadi berpikir sejenak. "tapi bagaimana mungkin seluruh desa akan mendengarkan? Itu tetap saja terdengar mustahil."
Si ninja yang diajak berbicara berdiri. Meninggalkan mejanya berikut uang makanannya sambil melangkah hendak pergi, "hanya masalah waktu untuk itu."
"tapi-"
Orang tadi langsung berbisik, entah dengan kecepatan apa hanya beberapa saat suara-nya terdengar sebelum sosok itu benar-benar menghilang. "perhatikan ada uchiha disekelilingmu!"
Chunnin ini langsung mengatubkan mulutnya. Sambil mendapati dua orang uchiha melangkah kearahnya dengan wajah tirus datarnya. Orang bermata hitam itu menuding kearahnya sambil mendecak sinis, "kalau sampai ada suara mengutip tentang hokage sama sedikit saja maka kalian akan berurusan dengan kami."ujarnya dingin sambil melangkah keluar kedai.
Suasana kedai-pun kembali seperti sedia kala. Memang di konoha semua uchiha dihormati bahkan hampir menyamai penghormatan terhadap sang hokage sendiri. Tak ada satu orang yang cukup bodoh untuk menentang mereka terlebih karena desas-desus sharingan yang terkenal itu. Sekalipun itu jounin, karena mengingat hebatnya mata itu, siapapun sekalipun masih muda pasti cukup amat mematikan untuk membunuhmu dengan segala kemungkinan genjutsu-nya. Alhasil tak seorangpun akan menentang uchiha, terlebih karena jasa-jasa uchiha dalam menegakkan keamanan konoha.
"kurasa sebaiknya kita berpatroli sebelum ada uchiha yang datang kembali."
. . . . . . . . .
Tak jauh berbeda dari keadaan didesa bahkan di akademi ninja-pun semuanya menjadi sangat amat berbeda. Meski di lingkungan ini semua hal masih cukup terkontrol, tapi tetap saja, anak-anak para civilian yang dimasukkan demi menjadi shinobi banyak yang tidak hadir karena orang tua mereka banyak yang melarang kehadiran mereka ke akademi.
"baiklah. Hari ini kita cukupkan sampai disini. Silahkan pulang dan sampai jumpa."kata pembimbing akademi di akhir jam pelajaran. Jumlah siswa banyak yang berkurang drastis hanya karena permasalahan issue yang sedang santer-santer-nya terdengar. Bahkan ada yang sampai menyatakan 'keluar' dari akademi hanya karena trauma pada perang dunia ninja yang menelan banyak korban.
'keadaan konoha sedang benar-benar terpuruk. Apalagi ini?'pikir sang sensei sambil melambaikan tangan perpisahan pada anak-anak didiknya. Ia melangkah menjauhi gerbang akademi itu. Berjalan kearah gang-gang konoha menuju tempat tinggalnya. Disanalah ia melebarkan mata melihat salah satu bukti dari kedistabilan keamanan desa ini. Seorang wanita yang tengah di palak oleh segerombol pria dewasa yang kelihatannya adalah civilian desa konoha sendiri.
"kammi samma.."gumamnya sebelum melompat kesamping wanita itu dan melemparkan lima shurikken secara sembarangan untuk memberi simbol peringatan.
"n-ninja.. pergi ayo!"segerombolan penduduk itu pun pergi meninggalkan satu-satunya wanita yang ketakutan di tengah gang itu. Tentu saja rasa trauma bukan hanya untuk mereka yang terjun ke dunia peperangan, tapi juga semua orang dan termasuk di dalamnya civilian wanita itu.
"pergilah. Pulanglah secepatnya dan jangan mampir kemana-mana."ujar sensei akademi itu sambil menghampiri wanita tadi dan membantunya membereskan belanjaannya.
"hati-hati. Maaf tidak bisa mengantarkanmu karena ada beberapa urusan yang harus kuselesaikan."secepatnya setelah berkata itu ia pun pergi meninggalkan penduduk itu yang berjalan tergesa-gesa membawa belanjaannya. Dalam hati ia tak habis pikir, 'mengapa kemenangan konoha sepertinya malah berdampak buruk pada desa? Apa nasib pemenang harus menderita sedemikian rupa begini?'
.
Setelah melihat ninja jounin tadi menjauh, dua orang berseragam dengan topeng penutup wajah keluar dari persembunyiannya. Ia menghadang kearah laju wanita tadi yang berlari tergopog-gopoh menuju rumahnya.
"berhenti!"teriaknya nyaring. Tentu saja wanita tadi cukup mengenali perawakan dan tampilan ANBU konohagakure itu. Ia pun memilih berhenti karena merasa akan aman-aman saja sebab ada ninja yang menjaganya. "ada apa?"
"kau harus ikut kami."kata salah satu ANBU sambil melangkah kearahnya. "ini demi konoha! Kau harus patuh!"
"tapi-"
Duakh!
Hanya satu tendangan di tengkuk. Dan kedua ANBU tadi langsung membopong wanita itu ke atas bahu. Yang lainnya memasukkan semua belanjaan yang ditinggalkan kedalam segel penyimpan.
"kita harus cepat. Sebelum ANBU Hokage datang kemari."
Dengan tergesa-gesa keduanya pun menghilang diiringi dengan kepulan asap putih pekat menuju tempat yang tak pernah di ketahui.
.
.
.
Petang hari di Panti asuhan konohagakure.
"apa besok kita akan berlatih itu lagi?"
Nonou menggendikkan bahu. "kita akan berlatih berlari diatas pohon."
Seperti itulah kegiatannya selama seharian ini. Berlatih berjalan, berlari dan mulai menghindari serangan sang ibu walau ia tahu bahwa ibunya masih banyak menahan diri. Naruto tahu apa gunanya sebuah motivasi, ya akhirnya setelah beberapa kali percobaan ia tak lagi mendapati dirinya akan tercelup kedalam air atau lebih parahnya tenggelam. Itu membuatnya paling tidak bahagia hari ini.
"itu tidak akan sesulit berjalan di atas air. Aku tahu ibu harus menyiapkan materi lainnya."
Nonou mengusap kepala naruto, "memangnya kau tahu dari mana itu tak akan sulit?"
"informasi adalah segalanya bagi shinobi. Itu kata buku yang kubaca."gumam naruto dengan nada superior, "lagi pula aku yakin kalau ibu harus membelikanku sesuatu sebagai hadiah."
Mereka tidak berkata apa-apa kecuali masuk kedalam rumah melalui pintu belakang. Semua anak pasti sudah mandi dan akan bersiap untuk makan malam, sementara mereka baru kembali dari pelatihan di tengah hutan. Hari ini baju naruto basah kuyub, rambutnya jadi lebih berantakan dan kulitnya berubah seolah-olah makin menjadi pucat. Dengan kata lainnya, pelatihan di atas air tanpa sepatu membuat anak itu seolah-olah diletakkan di atas es. Lagi pula itu ada benarnya karena suhu air juga belum sepenuhnya netral pasca dibekukan oleh es di musim salju yang telah lewat berhari-hari yang lalu.
"kau harus membersihkan tubuh. Bersikaplah seolah-olah kita tak pernah melakukan apa-apa."
Naruto tidak cukup bodoh untuk membocorkan perihal pelatihan ini. Baginya ia cukup spesial dengan memiliki ibu seorang diri sepanjang hari dan dilatih ibu menjadi shinobi. Tak semua anak akan mendapat situasi itu, dan ia tidak akan membocorkan sedikitpun apa yang dilakukannya karena ia tidak ingin ibu melatih banyak orang dan membuat ia menjadi tidak spesial lagi di mata si ibu.
'ibu hanya milikku seorang.'
Dalam bayangan naruto hanya ada satu sosok. Ibu. Dan ia tidak perlu apapun, ibu mengandungnya dan melahirkannya. Masalah selesai.
'tapi bagaimana caranya ibu mengandung aku? Apa aku langsung muncul begitu saja di perut ibu? Tapi.. mengapa itu juga tidak terjadi pada nyonya tua? Apa semua anak panti ini anak ibu? Atau jangan-jangan..'
"SEMUANYA TOLONG BERSIAP DI MEJA MAKAN!"
Perintah itu sudah cukup membuat naruto berhenti memikirkan asumsinya.
. . . . . . . . .
Naruto kecil menyusul makan malam tepat sebelum orang-orang menuangkan semua piring anggota panti dengan jatah makan. Ia duduk tepat di meja bersebelahan dengan temannya yang lain. Pastur kelihatan mengepalai meja seperti biasanya. Hari-hari di panti kelihatan sama monotonnya bagi anak-anak panti untuk hari ini, kemarin, atau mungkin lusa kedepannya.
"mengapa kau terlambat naruto?!"bisik salah satu anak dengan wajah kesal. "semua orang mencarimu hari ini! Ayo katakan kemana saja kau menghabiskan waktumu tanpa diawasi nyonya tua."desaknya berbisik. Aturan di dalam panti sebenarnya amat sederhana dan menakutkan. Tenanglah saat makan dan bersikaplah seolah-olah kau menjadi bagian dari ritual keheningan. Sehingga tak ada satupun manusia yang berbicara terkecuali memang dibolehkan berbicara. Sesuatu yang amat jarang terjadi.
"bukan urusanmu."
Anak tadi menyikut naruto sambil memasang wajah penuh senyumnya pada nyonya tua dan ibu yang berkeliling meja membagikan makanan. Semua anak sudah duduk dikursi masing-masing. Biasanya kursi makan mereka akan menjadi tempat mereka duduk di meja makan bagi mereka sampai dewasa nanti. Itu artinya setiap anak menempati kursi sama setiap harinya.
"ayo katakan padaku kau pergi kemana! Kau tahu aku bosan sekali dimarahi nyonya tua."bisik anak tadi frustasi.
Tapi naruto tak menjawab, ia mulai makan dengan ketenangan yang memadai. Berbeda dari anak-anak pada umumnya, naruto lebih menyukai keheningan lebih daripada siapapun di lingkungan panti. Alhasil, ia pun mengabaikan teman seangkatannya itu—ia tidak pernah menganggap satu anakpun pantas menjadi saudaranya. Sekalipun ibu selalu membuatnya untuk menganggap orang di dalam panti adalah keluarganya.
"kau menyebalkan."keluh temannya sambil makan dengan lahap. Di dalam panti adalah keberkahan jika ada ibu di meja makan, karena semua makanan menjadi enak dan aura keramahan ibu menyebar keseluruh penjuru meja. Nyonya tua juga tidak akan marah-marah, dan itu pastilah karena ibu akan membela anak panti yang dimarahi. Tapi akhir-akhir ini ibu sering menghilang, dan semua anak pasti akan mengeluhkan tentang hal itu.
"ibu.. aku minta disuap."tiba-tiba salah satu anak merengek minta disuapi. "ibu tak pernah lagi menyuapi kami di waktu makan siang. Jadi kurasa ibu harus menyuapiku di makan malam."
Tentu saja semua orang melirik kearah tersebut. Nyonya tua sudah hendak beranjak dari sisinya untuk mulai mengomel. Tapi semuanya urung, ibu mereka jauh lebih hebat dibanding nyonya tua. Jadilah anak tadi mendapat suapa si ibu, "ayo buka mulutmu."
Satu kali suapan. Dan kali ini lebih banyak anak yang menatap kearah ibu, "aku juga mau bu."
"aku mau ibu menyuapiku dan bercerita dongeng setelahnya."
"aku juga. Ini bu piringku, ibu suapi aku ya.."
Tiba-tiba suasana yang hening menjadi ramai. Hampir semua anak menginginkan disuapi si ibu. Seolah-olah semua anak ini begitu merindukan hal tersebut, tapi mana mungkin ibu bisa makan jika tangannya terus-terusan menyuapi anak-anaknya?
Belum sempat nyonya tua beranjak untuk memarahi anak-anak itu, naruto yang begitu otoriter mendekat kearah ibunya. Ia memalangkan kedua tangan sehingga anak terdekatpun tak bisa menjangkau ibu.
"jangan ganggu ibu!"
"hei tapi aku juga mau disuapi ibu!"protes anak lain. Naruto tak perduli, ia tetap melindungi ibunya. "kalian keterlaluan. Ibu sudah lelah, dan kalian masih ingin mengerecokinya dengan tindakan bodoh kalian? Kalian punya tangan kan? Kenapa harus merepotkan ibu terus?"
Semua anak memandanginya heran. "apa urusanmu jika kami ingin minta disuap ibu? Apa kau iri?"
Naruto melotot kearah anak itu. "karena kalian tidak tahu apa yang telah ibu lakukan sepanjang hari. Bahkan sekalipun ibu lelah mencari uang untuk panti. Kalian tidak tahu kan bagaimana ibu harus mencari uang, berbelanja, masak dan mengurusi kalian? Ibu tak beristirahat sepanjang hari agar bisa terus mengawasi kalian dan memasakkan kalian. Kalian tahu kelelahan itu? Kalian benar-benar tidak tahu diri."gumam naruto dengan nada meninggi.
"jadi anak manja mana yang minta disuap? Menyedihkan sekali."
"tap-tapi panti kan mendapat dana dari konoha! Ibu sendiri yang bilang pada kami ya kan bu?! Ya kan?"
"dasar dungu! Uang tidak datang dengan sendirinya! Ibu harus bekerja untuk mendapat uang. Tidakkah kalian mengerti? Ibu ini lelah setengah mati!"
Nonou yang memandang bagian belakang kepala naruto langsung meletakkan tangannya di atas kepala anak itu. Membuat naruto sedikit melebarkan matanya baru kemudian membalikkan tubuh menghadapi sang ibu. "naruto.. cukup. Ibu tidak apa-apa. Kau tak perlu menyampaikan itu semua ya nak.."
Naruto bergeming. Ia menatap ibunya sekilas baru membalikkan tubuh membelakangi ibunya kembali. "aku tak akan membiarkan kalian menyakiti ibu. Jadi duduklah dan jangan merepotkan ibu lagi."
Semua anak menurut. Kali ini tak ada lagi protes, meski nyonya tua juga akan melakukan hal serupa tapi hal itu keburu diurungkannya begitu melihat bocah pucat itu berhasil menguasai suasana. Paling tidak satu hal yang paling diragukannya terbukti tidak benar. Dan karena semua orang sudah duduk maka naruto pun kembali duduk di kursinya. Makan malam berlanjut kembali seolah tak pernah terjadi apa-apa.
'anak ini memang begitu berbeda.. inikah yang membuat shinobo-shinobi konoha itu ingin merekrutnya sebagai ganti tebusan dana?'pikir si pastur dalam diam. Di sisi lainnya si nyonya tua menatapi bocah yang sama yang membela ibu bahkan tanpa berkedip sedikitpun. Orang tua itu kelihatan tengah berdiam dalam pemikirannya.
'dia anak yang keras.. dan semua orang mematuhinya. Kudengar dia juga bisa membaca.. jadi apa itu alasan mengapa ia terlihat lebih istimewa?'
Di sisi sang ibu wanita itu terdiam sambil menerawang ke depan. Hatinya mencelos meneriakkan satu kata sama berulang kali. Menandakan betapa cemasnya ia.
'naruto...'
Semua hal berlangsung sebagaimana mestinya. Makan malam usai dengan keadaan hening dan anak-anak tidak seperti biasanya merengek ingin dibacakan dongeng oleh ibu menjelang tidur. Itu pasti bukan tanpa sebab karena bocah spikey yang sama terus memelototi siapapun yang mengeluarkan tanda-tanda ingin mengeluh pada ibu. Anak itu mengawal ibunya sampai semua anak pergi kedalam kamar masing-masing. Karena pendeta pergi ke suatu tempat keluar dari sana dan nyonya tua memutuskan untuk mengecek anak-anak di ranjang tidurnya tinggalah naruto dan ibu seorang diri di meja makan.
"mengapa kau melakukan semua ini?"tanya ibu memulai percakapan. "kau tidak harus bersikap seperti itu pada mereka. Mereka tak perlu mengetahui sepercik rencana kita, lagi pula aku tidak pernah merasa lelah untuk mengurusi kalian. Katakan padaku, mengapa kau melarang mereka?"
"apakah aku harus menyampaikan alasannya? Aku sayang ibu! Aku tahu apa yang mereka tidak tahu."
Nonou menggeleng, untuk saat ini wajahnya kelihatan lebih serius dibanding biasanya. "apa yang kau maksud adalah tentang pengetahuan dunia shinobi? Kau tidak boleh menjadi arogan hanya karena kau tahu sedikit hal yang tak kuajarkan pada mereka. Satu jalan menjadi shinobi adalah tetap menjaga kerahasiaan. Ini misi untuk kita, dorongan dari alam bawah sadar untuk melindungi mereka."
"aku hanya ingin membuat mereka mengerti! Dunia ini bukan hanya tentang dongeng dan dimanja ibu saja."kata naruto keras. "mereka tak tahu apa yang aku tahu, dan bahkan ibu tak mengerti apa yang kutahu itu!"
"naruto kau tidak boleh-"
"aku mau tidur."potong naruto tidak mencoba mendengarkan ucapan si ibu. Anak itu membalikkan tubuh menghadap kearah koridor lain menuju lorong penuh kamar anak-anak. "dan itu tak mengubah apapun. Ibu tak tahu apa-apa.. tak akan tahu apa-apa.."
Naruto dengan cepat meninggalkan ibu yang termenung di meja makan. Ia menatap lurus menuju kamarnya dan masuk menyembunyikan diri setelahnya. Di kamar, ia menemukan anak lain yang baru hendak tidur, tapi ia tak perduli dengan bocah-bocah yang menatapnya penuh tanda tanya itu.
"hei, mau membacakan dongeng untukku?"tanya satu anak bangkit dari tempat tidurnya. "ibu memberiku buku.. ya, aku tak bisa membaca jadi aku tak mengerti. Apa kau mau membacakannya untukku?"
Naruto kecil menatap anak itu sekilas. Tidak memberikan tanggapan dan malah menarik selimutnya ke atas tubuh. Anak yang tadi berbicara langsung menundukkan tubuh murung. Disana, mayoritas anak adalah berusia 6 sampai 9 tahun. Tapi sekalipun anak sekamar naruto itu sudah berumur 9 tahun ia belum juga bisa membaca kata-kata. Alhasil, dari sekian banyak orang di dalam panti hanya ada ibu yang bisa dimintai tolong membacakan dongeng, sekalipun semua orang tahu pastur dan nyonya tua bisa membaca tapi tak ada anak yang memberanikan diri untuk meminta pertolongan keduanya.
Dan alternatif lainnya hanya ada Naruto, bocah 6 tahun yang paling muda diantara anak-anak tapi lebih dulu bisa membaca dibanding anak lainnya. Pertama kali bocah itu membacakan rentetan kanji huruf, semua anak tertawa mendengarnya. Tak terkecuali anak sekamar naruto, itu terjadi saat di ruang rekreasi ibu membawa poster berisi kanji-kanji yang berderet-deret. Itu seperti lelucon, tapi saat ibu datang dan naruto mengulangi pengucapannya, ibu langsung memeluknya dan mengusap kepalanya. Semua anak jadi heran dan pada akhirnya tahu bahwa memang itulah arti huruf kanji sebenarnya yang dibacakan naruto.
'HOKAGE NEGARA API : KONOHAGAKURE NO SATO.'
Itu adalah kata awal yang dibacakannya hari itu. Semua anak langsung terdiam begitu ibu mengatakan kalimat naruto benar adanya. Awalnya mungkin semua orang mengata-ngatai naruto sebagai sok tahu, tapi setelah penjelasan dari ibu akhirnya semua orang mengerti.
Ada satu orang yang bisa membaca. Selain ibu, pastur, dan nyonya tua. Dan dia adalah.. bocah yang termuda diantara mereka. Naruto.
Di ranjang tingkat bawah naruto seorang anak tengah menatap kearah buku itu. Membolak-baliknya tanpa mengerti apa yang tertulis disana. Anak itu kelihatan mengerenyitkan kening, berulang kali ia mendecak hingga akhirnya turun dari ranjang dan mendudukkan diri di tepiannya. Berhubung lampu belum di matikan jadi ia pasti bisa membaca dengan jelas—setidaknya jika ia bisa.
"aku bingung. Maksudku coba saja aku bisa membaca aku pasti tahu apa yang tertulis disini."
Lembar demi lembar di bolak balik. Anak lainnya di ranjang diseberang mereka memandanginya dengan mulut terbuka. Jadi sebuah buku adalah barang mahal bagi anak panti.
"maksudku bagaimana caranya kita membaca ini? Aku tidak percaya kau bisa melakukannya. Kupikir jika aku sudah lebih besar itu akan menjadi otomatis."
Anak lain mengangguk menyetujui. "aku akan lihat."katanya dengan percaya diri, "oke, mari kita coba."
Mulut anak itu mengatub-ngatub beberapa kali, tangannya berhitung beberapa saat. Entah apa yang dihitungnya yang jelas akhirnya ia bisa menyimpulkan sesuatu. "elemen.. pe-pem bukan-bukan, elemen pembe.. tidak maksudku.. pebentuk daun kematian! Ya! Itu dia. Elemen pebentuk daun kematian! Horeee!"
"apa benar begitu?"tanya anak di ranjang atasnya. "nanti kau hanya asal sebut dan menipu kami."
Anak tadi memprotes. "kalau bisa baca sendiri! Kalian semua sudah kukalahkan!"tawanya ceria. Anak lain karena tidak bisa membaca jadinya menolak mencoba melihat kanji dalam buku itu. Mereka bersorak dan bertepuk tangan. "ya! Elemen pebentuk daun kematian!"
Tapi tiba-tiba semua anak menjadi diam saat anak di bawah ranjang naruto sebagai pemilik asli buku pinjaman ini menggeleng seolah-olah kurang yakin. "memangnya itu ada maknannya? Maksudku mana ada elemen pebentuk daun kematian? Daun? Kematian? Daun macam apa itu? Seharusnya kita dapat informasi!"
Jadi semua anak membanting pandang kearah bocah yang tadi membaca. "katakan pada kami artinya."
Anak tadi menunduk sebentar, keningnya berkerut dan tubuhnya bergerak-gerak gelisah. Ia mencoba menghitung lagi, tapi karena terlalu lama semua anak menjadi sebal.
"kau sebenarnya bisa membaca tidak sih?"celetuk salah satu anak itu. Tentu saja bocah yang dimaksud mengangguk, "aku tahu kanji-kanji ini! Maksudku.. kanji shi, dan.."
"apa?"tanya temannya bingung saat melihat bocah tadi menghitung lagi. Kali ini jemari tangannya menunjuk-nunjuk buku, "entah kenapa bentuk kanjinya jadi aneh, ini tida seperti yang kuingat.."
Semua orang tertunduk kecewa. "sudah kuduga kau hanya mengada-ada.."
"hei! Tapi setidaknya kalian tidak bisa membacanya juga kan!"hardiknya bangga. "tetap saja aku nomor satu.."
Anak lain mendengus. Tapi tak dipungkiri bahwa ucapan itu benar, setidaknya meski sedikit menebak-nebak teman merek cukup kenal beberapa kanji dan membacakannya untuk mereka.
"tunggu. Jika tidak ada ibu kita masih memiliki naruto.. kita suruh saja dia membacakannya!"
Anak lain mengangguk setuju. Jadilah mereka bertiga, turun dari ranjang masing-masing dan menggenggam buku tadi mendekati ranjang naruto. Mereka berjajar di sisi ranjang, seolah-olah memelas memohon pertolongan pada tuan yang paling tahu.
"sssh.. naruto! Bangun! Aku tahu kau belum tidur kan?! Bacakan kami sesuatu tolonglah!"anak tadi berbicara setengah berbisik ke dekat kepala naruto. "ayolah. Kalau aku bisa membacanya pasti sudah kubaca sendiri. Jadinya bacakan ya!"
"naruto.."panggilnya lagi kali ini sambil melakukan aksi nyata menyenggol anak itu. "mau ya?"
"ya naruto ya?"
"naruto.."
"nar-"
"berisik! Berhenti menggangguku!"akhirnya naruto menghempaskan tangan bocah yang hendak menggoyangkan bahunya lagi. Matanya terbuka, menampilkan raut datar dan kesal, "menyingkir dariku!"
"tapi aku mau kau membacakan ini! Ini menarik sekali!"bantah anak itu. "ya naruto.. kami ingin tahu isinya.. baca sedikit saja. Kau tadi sudah melarang kami merengek pada ibu. Sekarang gantinya kau harus membacakan kami cerita."
"ya naruto! Kau harus ganti rugi!"imbuh teman yang lain dari bawah. "kami sudah menurutimu jadi sekarang kau harus membaca untuk kami!"
"ayolah naruto.. sebentar saja. Aku yakin ini ceritanya menarik."melas anak itu pada naruto. Tapi wajah naruto tak juga menunjukkan ketertarikan. Ia sudah ingin bersiap menutup diri dari balik selimut kembali sebelum beberapa kata ajaib meluncur dari salah satu temannya. Sebuah kata-kata yang diharapkannya untuk muncul dan akhirnya muncul..
"elemen apa ya? Apa ini tentang ninja? Padahal ibu bilang naruto pasti mengerti dan aku jadi penasaran.. tunggu kata apa? Kematian.. ah.. mungkin harusnya kau mengemb-"
"kau bilang elemen?"tiba-tiba naruto terbangun dari ranjangnya. "elemen dan.. kematian? Coba kulihat!"
Jadi semua anak menunggui kesimpulan naruto. Karena kali ini bukan hanya tebak-tebakan dan itu kenyataan benar. Sebentar kemudian semua anak sudah siap duduk di bawah, naruto yang akhirnya menyadari sesuatu melepaskan pandangan dari bukunya. Ia ingin berkata, tapi teman-temannya kelihatan sudah menghilang. Jadi ia memutuskan ingin memanggil mereka, tapi satu panggilan menyadarkannya, bocah itu melirik kebawah dan melebarkan mata.
"kenapa kalian duduk di sana?"
Bocah lain menggendikkan bahu, kelihatan berbinar. "bacakan. Kami akan mendengarkan ceritanya.."
Naruto menggeleng, ada bagian paling menarik dari buku itu yang tidak mungkin dibacakannya. Tapi, ya, semua anak bila perlu harus membacanya. Itu sesuatu yang menarik, tiba-tiba perasaannya menjadi lebih baik dan ia tertantang untuk membacakan satu cerita tentang ninja. Bukan, tapi informasi, ia tidak mau menyimpannya sendirian. Untuk alasan sederhana ia ingin semua anak tahu itu. Dan rasanya itu tidak melanggar kesepakatan dengan ibu. Jadi ia menganggukkan kepala dan turun dari ranjangnya. Memilih duduk di ranjang bagian bawah, sementara anak lainnya mengerubunginya dengan duduk di lantai.
"oke. Ini cerita yang menarik. Tapi aku tak bisa menemukan kata daun kematian yang kalian katakan. Tapi ada yang harus kalian tahu..."
Semua anak mengangguk-angguk. "bacakan! Kami ingin dengar!"
Naruto yang melihat ini untuk pertama kalinya menjadi lebih bergairah. Seolah-olah ia tengah mencoba membuka satu rahasia besar dunia shinobi pada teman-temannya yang tidak memiliki kekuatan.
"ini tentang sejarah konohagakure.. desa daun tersembunyi tempat kita berada dan hutan kematiannya..."ujar naruto mulai bercerita dan di dengarkan semua anak.
. . . . . . . . .
Diluar ruangan nonou yang menguping tersenyum lembut. Tapi ia langsung menghilangkan senyumnya setelah beberapa saat dan beranjak dari sana. Untuk malam ini saja setidaknya ia enggan mematikan sekring lampu di kamar anak didiknya itu. Anak berbeda yang istimewa dan masih polos.. ia melangkah menuju ruangan kerjaya—kamarnya. Dari sana nonou menutup pintu dan menguncinya. Ia yakin harus bergegas karena ada hal yang harus segera dilakukannya.
Perlahan-lahan ia menuju kearah lemari pakaian. Tempat ia menyimpan bendana dan seragam pendeta-nya. Tapi ia tidak melirik sedikitpun pada pakaian tidur atau kimono hitam yang tergantung disana dan biasa dipakai untuk acara formal atau upacara kematian. Sebaliknya ia melangkah kearah sebuah gulungan yang tersembunyi dibalik pakaian-pakaian itu. Tangannya sejenak bergetar, ia menggigit bibirnya rapat-rapat untuk beberapa saat.
"aku tidak percaya harus melakukan ini.. tapi apa lagi pilihanku?"katanya pada diri sendiri. Setelahnya ia dengan sigap meraih gulungan itu, melirik kearah meja tempatnya menulis dan meletakkan beberapa buku yang salah satunya dibaca naruto. Ya, karena anak panti dan narutolah ia melakukan semua ini.
Napasnya dibuang pelan-pelan. Tangan nonou terangkat dan membuka gulungan itu, ia memejamkan matanya sejenak dan memfokuskan cakranya pada satu titik penyimpanan benda-benda lama miliknya.
'insou..'
Seketika kepulan asap kecil muncul. Menghempas ke udara selama beberapa saat dan menutupi apa yang berada dibaliknya. Nonou memandang kearah gulungannya, yakin dengan pasti bahwa sudah ada sesuatu yang tertinggal disana.
'akhirnya aku harus hidup di jalan ini kembali..'pikirnya sambil mengamati seragam NE-nya lengkap dengan baju dalaman hitam dan tanto yang tertumpuk rapi. Wajahnya kelihatan tidak bergairah, tapi ia langsung mengganti pakaiannya dengan semua benda itu dan tak lupa meletakkan senjata kebesaran inteligennya di atas punggung.
'Nonou yakushi... aku harus jadi gadis berjalan lagi.. meski hanya sementara sebelum waktu itu datang..'
Daun pintu terbuka dan sang gadis berjalan kembali memulai catatan perjalanannya menembus kegelapan malam dan dinginnya suhu konoha..
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya! Aku ingin dengar saran dan kritiknya, dan semua kesan kalian.
