Maaf jika aku telat mengupdate ceritaku. Aku masih ujian dan sebentar lagi akan selesai, aku suka semua readerku dan semua sarannya. Lain kali setelah aku ujian aku akan mengupdate secepat-cepatnya demi kepuasan kalian. Semoga yang kubuat ini tidak mengecewakan. jangan lupa review, paling tidak itu yang kubutuhkan sebagai semangat dalam menulis ditengah ujian yang terlalu merepotkan ini. dan juga untuk semua reader yang telah mereview aku mengucapkan terimakasih karena telah menyuport seorang author amatiran sepertiku. dan kukatakan kalian tak pernah menyampah dalam mereview, sebaliknya semua kata-kata kalian yang panjang dan penuh saran adalah hal yang paling kutunggu untuk selalu kubaca berulang-ulang.
SEMOGA TIDAK MEMBOSANKAN.
ROOT of UCHIHA
Chapter 5
Ular dalam akar yang menggerogoti konoha.
. . . . . . . . .
"baiklah. Kita bisa mulai sekarang."naruto berkata sambil mengeratkan genggaman pada shurikken di kedua tangannya. "contohkan padaku bagaimana caranya."
Ibu langsung menanggapinya dengan anggukan. Tapi berbeda dari biasanya, kali ini dimata naruto ibu terlihat lebih suram dibanding biasanya. Dari sejak seharian kemarin ibu kelihatan tidak tersenyum atau bersahabat pada dirinya. Entah apa penyebabnya, ia tidak ingin tahu pasti. Yang jelas, ia sedikit menyimpulkan, insiden beberapa waktu tempo hari lah yang menyebabkannya. Tapi toh, dalam dirinya ia tidak merasa bersalah dan merasa perlu meminta maaf. Itu mutlak, dan ia tak pernah tidak mendengarkan kata hatinya. Mengulangi hari dan masalah dengan membahasnya adalah ide terburuk yang pernah ada.
"aku tak akan melatihmu berulang-ulang. Kau harus serius dan tak boleh berlaku meremehkan, hari ini aku begitu banyak memiliki urusan."kata ibu tanpa menoleh kearah naruto. "kalau kau tidak bisa maka kau akan mati."
"karena ini hutan kematian."imbuh naruto datar. "jangan lupa pada janji.. ibu petang nanti."suaranya sedikit berbeda saat menyebut kata ibu. Seperti apapun dirimu, saat kau sedang marah pada seseorang maka itulah yang kau rasakan ketika berbicara dengan orang yang bersangkutan. Kecanggungan, dan naruto menyadari itu.
"semoga kau bisa bertahan dari monster hutan ini untuk petang nanti. Aku harus meninggalkanmu setelah ini."
Naruto melihat ibu melebarkan kakinya ke belakang membentuk kuda-kuda. Jemari ibu yang sebelumnya menutup otomatis terbuka, memperlihatkan masing-masing tiga kunai di tangannya. Mata hijaunya menatap ke arah depan dengan target-target bundar yang diletakkan menempel pada pohon. Hanya ada tiga target dan itu berarti semua target harus terbagi masing-masing dua pada tiap target dan menancap di titik pusat target. Itu bukan perkara yang akan dibilang mudah, dengan dua tangan, satu ayunan, dan satu waktu tapi mengenai tiga sasaran dan membagi tempat bagi kunai-kunai itu.
Ibu menoleh kearah naruto, "kau harus membuat kuda-kuda panjang, pastikan semua kunai terapit oleh kelingking,jari manis dan jari tengah. Jangan mencoba meletakkan kunai terakhir pada jari telunjuk dan mengapitnya dengan ibu jari. Kunaimu akan melenceng saat kau melakukannya."
Setelah berkata seperti itu ibu melontarkan tubuhnya ke depan, membuat salto di udara, saat itu dilakukan naruto sedikitpun tidak mengedipkan mata.
Syuuut! Syuuuut! Syuuuut!
Apa yang dilakukan ibu begitu anggun, ia tidak memungkiri cukup terkejut saat detik berikutnya melihat ibu telah mendarat menatap kearahnya dengan mulus. Dan ajaibnya semua kunai sudah tertancap pada titik tengah target bundar itu.
"saat melakukan salto pastikan ada sedikit cakra yang kau alirkan pada kakimu. Itu akan membuatmu sedikit lebih berat kebawah dan membuat masa pendaratanmu jadi lebih mudah dan kakimu tidak tergelincir."
"itu bukan masalah sekarang. Ibu ingin kemana?"tanya tiba-tiba naruto lagi. Ibu yang melihat ini mulanya tampak sedikit melunakkan emosinya, wajahnya kelihatan berkerut tapi saat naruto yang sebelumnya menunduk mendongak menatapnya, raut ibu kembali tanpa ekspresi.
"tunjukkan saja kalau kau bukan anak manja seperti yang sering kau alamatkan pada anak-anak panti tak berdosa itu. Paling tidak mereka lebih besar darimu dan kurasa jika aku diijinkan melatihnya mereka juga akan lebih hebat dibandingkan anak kecil sepertimu. Dan yang terpenting pasti bisa melawan monster hutan ini.."
Naruto mengeratkan pegangannya pada kunai. Kata-kata ibu begitu menusuk hatinya hari ini. Ia tidak membalas mengatakan apapun, sebaliknya menatap lurus kedepan.
"lihat saja nanti."ujarnya sambil bersiap-siap memasang kuda-kuda.
Awalnya ibu yang mendengar kalimat ini ingin mengatakan sesuatu. Wanita itu kelihatan sedikit bimbang antara ingin meninggalkan anak 'kesayangannya' itu sendirian di hutan kematian seperti ini atau tidak sama sekali. Lagipula ada yang harus dilakukannya dan hal itu tak bisa ditunda-tunda, mungkin sebaiknya ia melakukan sesuatu untuk anak yang kelihatan masih membencinya karena dimarahi itu. Tapi ia juga berpikir, ini adalah untuk naruto juga. Demi kebaikannya dan beberapa hal yang kelihatannya mengalir menjadi darah daging di dalam anak itu.
"-hei, kenapa belum pergi? Aku ingin berlatih sendirian. Urus saja urusan ibu."
Dan untuk pengusiran kali ini ibu tak pernah membolak-balik waktu lagi. Tapi sebelum ia benar-benar pergi ada yang ingin dilakukannya. Ya, ibu mengelus puncak kepala naruto sebentar hingga membuat anak itu tertegun dan menatap kearahnya. Tapi seperti kebanyakan hal yang dilakukan para ninja, hal itu tidak berlangsung lama karena ketika naruto mulai ingin membuka kata-kata untuk ibunya wanita itu sudah menghilang ditelan asap putih pekat.
Anak itu kelihatan bingung. Tapi lebih buruk dari itu dikejauhan, seseorang berjubah dengan penutup kepala menatap kearahnya dengan serius. Berdiam diri di atas pohon dengan dahan kuat yang dijadikannya tempat persembunyian terbaik.
'Aku mulai suka dengan tradisi NE yang satu itu..'pikirnya sambil menyeringai kearah bocah yang mulai memasang kuda-kuda dibawah sana.
.
Konohagakure no sato.
Semua pasukan itu berbaris rapi tanpa cela sedikitpun. Semuanya mengenakan topeng dan membawa tanto masing-masing di punggung. Pakaian yang dikenakan mereka pun beragam, mayoritas jaket ulu hati dengan pita merah dan sisanya campuran orang-orang mengenakan jubah yang bertopeng dan armor abu-abu lengkap dengan pelindung tangan dan katana ninjato berbeda yang dipasang melintangi punggung. Satu hal yang pasti, hari ini sosok pria di depan sana akan memberikan perintah seperti hari-hari biasanya.
"aku mengumpulkan kalian untuk menjalankan satu lagi misi rahasia untuk merampungkan segala rencana konoha sebelum hari ini."mulai danzou sambil melempar pandangan kearah pengawal sanninnya yang menyeringai. Lelaki tua itu menatap kembali kearah pasukannya, "ini adalah bagian dari cita-cita konoha dan ROOT. Aku tak mentolerir kegagalan karena ini berkaitan dengan konoha dan masa depannya. Dan lagi ini diperlukan demi perkembangan shinobi di konoha no sato sendiri."
Mata pria itu memicing ke dalam kegelapan.
"dan bukan dibawah kendali hokage tentunya. Kita semua tahu bahwa hokage ketiga hanya ingin menghambat kemajuan konoha. Ini berarti misi ini menjadi amat sangat rahasia dan tak boleh tercium sedikitpun oleh para ANBU hokage."matanya melirik kearah ninja-ninja yang berderet dengan armor keabuan, memberi intimidasi seiring dengan dipalingkannya wajahnya kesana.
"semua itu kupercayakan pada agen ganda yang kita miliki. Kutekankan bahwa konoha tak membutuhkan seorang penghianat dalam misi dan kehidupan desanya."
Suasana menjadi begitu hening. Danzou melirik kearah orochimaru yang berdiri disebelahnya, "kau bisa mengatakan semua rencana pada mereka."
Orochimaru berdehem, ia membuka perkamennya dan melirik kearah satu batalion pasukan itu.
"-Konoha dan aku membutuhkan.. shinobi sebanyak mungkin untuk uji coba satu eksperimen ninjutsu yag kukembangkan.."ia menyebarkan pandangannya kearah semua orang yang tertunduk. Sungguh sebuah kepuasaan tersendiri bisa memerintah sebanyak itu shinobi terlatih terlebih pada era sandaime dan perang dunia ketiga; Nilai Sebuah kekuasaan waktu itu bernilai mahal sekali.
"dan itu berarti kalian harus merekrut sebanyak-banyaknya shinobi konoha dan penduduk clan yang tertarik pada rencana ini. Demi pengorbanan besar bagi konoha."orochimaru menutup perkamennya sebentar. Ia menyunggingkan senyum tipisnya sedikit, matanya menerawang jauh entah kemana.
"kukira aku diperbolehkan untuk mengambil alih. Kalian mulai bisa melaksanakan misi itu.."
"ha'i!"
Selepas berkata seperti itu semua orang menghilang menggunakan shunshin masing-masing meninggalkan kepulan asap sedikit di tempat dimana mereka tadi berbaris menghadap kearah sang komandan dan sannin konoha yang melegendaris itu. Tak dipungkiri saat tinggal bertiga, orochimaru menjilat bibirnya sebelum ia melirik kearah danzou. Mata emasnya berkilat penuh binar.
"jadi masalah utama sekarang adalah... bagaimana jika Hokage ketiga sampai mengetahui hal ini?"
"maksudmu kau meragukan kemampuanku?"decak Danzou memicingkan mata. Mereka berdua bertatapan lama, "kau tahu apa yang kupikirkan. Sarutobi sensei bukan orang yang mendapat julukan the proffesor hanya dengan duduk-duduk santai di kursi hokagenya dan menatapi konoha seperti para Daimyou Bodoh itu. Ia memiliki kelasnya sendiri dan bahkan aku sendiri tak akan percaya jika kau dan aku bergabung bisa membuatnya tersudut."
Wajah danzou mengeras. "seberapa jauh kau tahu hiruzen? Itu tak akan sepercikpun dari semua pengetahuan yang kumiliki tentangnya."
Suasana makin memanas, itu terasa dari tekanan KI yang makin pekat menguasai tempat itu. Rupanya Danzou mengeluarkan tekanan membunuhnya begitu orochimaru meremehkannya, tapi pria itu sudah jelas tidak akan mendapat julukan 'prodigy' sannin apabila ia langsung tumbang dengan intimidasi pria tua komandan ROOT dihadapannya.
"apa kau merasa aku merendahkanmu?"orochimaru mendengus. Ia membuang napasnya meremehkan, seolah-olah memang tidak terpengaruh intimidasi itu. "bintang kejeniusan itu selalu bersinar dari luar dan ditatap oleh matahari dengan sinar kebanggaannya. Sementara pohon adalah pilar tempat para daun keemasan bernaung dan menempel, tapi yang selalu berjasa dari semuanya adalah akar yang menopang pilar pohon berdaun emas itu.."
Danzou mengira ia akan mendengar filosofi ROOT-nya. Tapi sebaliknya, yang ia dengar hanyalah tatapan penuh pembangkangan yang ditunjukkan oleh pria pengkochiyose Ular ini.
"dan sekalipun sepotong akar ditebang.. apakah pilar akan runtuh dan daun gemilang tadi menjadi berguguran? Itu pertanyaan yang amat mudah jawabannya."
Kelihatan dari ekor mata orochimaru jika danzou mengeraskan rahangnya. Pria itu menatapnya penuh ancaman, "ular kecil tak akan bisa menghancurkan kukuhnya akar. Seperti apapun ia mencoba, akar selalu menang. Seperti apapun daun berkilau.. ia tetap membutuhkan akar. Seperti berbahaya apapun akar itu sendiri bagi sebuah pohon.. sepenuh kegelapan apapun ia pohon tetap membutuhkan akar."
Senyum orochimaru mengembang aneh. Ia menatap bangunan gedung di sekitarnya. "bukan kemustahilan layaknya api yang dimuntahkan dari mulut atau petir yang keluar dari tangan, bahkan beton dengan ribuan kertas fuinjutsu juga bisa dibobol dengan kejeniusan. Seburuk apapun ia tetaplah senseiku yang jenius, dan sekalipun aku bersama rivalnya bukan berarti itu mengurangi kejeniusannya atau rasa hormatku menjadi muridnya."
"sannin yang sedikit di pangkas."jelas danzou lebih tenang. "akar itu bagian pohon atau pondasi dari sebuah menara. Mereka abadi dan kokoh selamanya, sekalipun ular tak lagi mampu beregenerasi dan mati menjadi sampah. Aku akan selalu mengingat itu."
"batu kecil akan menjatuhkan seseorang tidak selayaknya batu gunung."
Danzou bergeming, tetap dengan wajah tenangnya danzou melangkah meninggalkan orochimaru. Ia masih tetap tanpa ekspresi seperti biasanya selayaknya orang tua yang bosan menghadapi celotehan anak mereka yang walaupun menyakitkan tapi menyerupai angin lalu. Ia melangkah menjauh dari sannin bawahannya itu, kelihatan sedikit tidak senang dan dipenuhi wajah skeptis, Tapi sebelum jauh ia sempat berkata sedikit, "itu adalah urusanku. Serahkan semuanya padaku dan tepati bagianmu."
Entah apa yang dipikirkan orochimaru tapi ia menganggukkan hal itu. "kalau begitu aku pergi dulu."
". . . . . . . ."
'ada sesuatu yang menarik yang ingin kusaksikan.. tapi entah apa yang dilakukan danzou dalam hal ini. Memangnya mengapa sarutobi-sensei diberi julukan proffesor? Khukhuku, ini semua membuatku semakin tertarik..'pikir orochimaru sambil menudungkan tutup kepala jubahnya ke atas kepala. Ia menatap kearah tengah hutan menghijau dikejauhan sana, "kita akan melihat sesuatu yang menarik hari ini."
"aku akan memberitahumu satu hal. Aku akan mengikuti sebuah eksperimen ninjutsu agar bisa lebih kuat untuk melindungi konohagakure."kata satu jounin serius. "ini semua adalah program konoha untuk membuat ninja-nya menjadi lebih kuat. Dan lagi aku tak akan tahan untuk meninggalkan semua keluargaku hanya karena keterbatasanku."
Ninja lain menatapnya tak kalah serius. "dari mana kau tahu mengenai eksperimen itu?"
"dari sumber rahasia yang terpercaya. Dan kudengar ini tidak boleh sampai diketahui oleh sembarangan orang, kalau semuanya tahu maka semua orang akan berebut untuk ikut mengikuti eksperimen ini."
Temannya mengangguk. "siapa yang melakukan percobaan?"
Si jounin menaikkan alisnya sebelah. "kau pasti tak akan mempercayai ini. Tapi inilah dia.. sannin konoha yang paling jenius, Orochimaru-sannin. Aku tak akan meragukannya sebab ia adalah jenius dan sannin.. aku yakin sebentar lagi aku akan menjadi shinobi kelas elit."
Orang itu terdiam sebentar. Temannya yang melihat ini menepuk bahunya.
"kau tak perlu jadi pembimbing akademi ninja. Kita bisa melakukan misi-misi dengan rank lebih tinggi dan mendapat bayaran lebih banyak. Ikutlah, aku akan melakukannya. Lagipula.."ia menurunkan suaranya sedikit. "laboratorium itu tidak jauh dari desa. Kita bisa melakukannya hari ini kalau kau mau."
"tapi.."
"aku akan pergi. Kalau kau berubah pikiran susul aku di depan gerbang shi no mori."
Orang itu beranjak pergi sambil ditatapi temannya yang ternganga. Dan keramaian hiruk pikuk konoha kembali kedai itu.
Di satu sisi di meja lainnya dua orang ninja konoha lain dengan warna rambut mencolok duduk. Mereka hanya makan berdua dan kelihatan baru pulang dari misi yang dijalani. Hittae-ate konoha melingkari kepala mereka. Dua orang mahluk berbeda gender itu kelihatan amat sangat bahagia.
"aku bersyukur perang bisa berakhir. Entah bagaimana dunia ini tanpa kedamaian."mulai satu-satunya pemilik rambut merah di konoha itu. Habanero red, Kushina Uzumaki yang menggandeng sosok pria berambut pirang yang santer di kenal kiroii senkou itu.
"ya. Dan ini misi terakhirku. Jadi tersenyumlah sedikit Minato."
Jounin berkaus biru terang itu menggaruk tengkuknya sedikit. Bukan rahasia lagi bahwa keduanya telah menjadi pasangan suami istri sejak beberapa bulan lalu. Kini sang Uzumaki Habanero tengah mengandung Anak keduanya. Masalahnya istri kiroii senkou itu begitu ngotot untuk terus mengabdikan diri pada desa dengan menjalankan misi-misi yang kadang rank-nya begitu membahayakan kandungannya. tapi meskipun begitu kelihatannya tak ada satupun yang mampu membendung semangat itu bahkan sang suami Minato Namikaze sendiri. Padahal hakikatnya di zaman itu lelaki yang tidak memuliakan istrinya saat mengandung bisa di cap sebagai lelaki pecundang.
"h-hehe, seharusnya kau melakukan itu sejak hari pertama kandunganmu."
Kushina memberikan tatapan jengkelnya. Tapi ia tidak membalas ucapan dari suaminya itu. Perhatiannya lebih teralih pada kenyataan bahwa ia akan memakan makanan yang diinginkan bayi-nya hari ini.
"aku suka dango. Suka sekali dango!"tiba-tiba suara kushina berubah menjadi kekanakan. "ayo datanglah pada ibu dangooo!"
Tanpa bisa menolak apapun minato namikaze hanya bisa memandangi pemandangan tersebut. Satu hal yang paling diinginkannya setelah perang adalah membahagiakan istrinya. Dan satu-satunya alasan ia mengambil cuti hari ini dan menemani Kushina Namikaze adalah hanya sebagai bagian dari kasih sayangnya pada sang bayi yang sebentar lagi pasti akan melihat dunia ini. Tak muluk-muluk, ia hanya ingin menjalani hidup normal layaknya keluarga biasa pada umumnya dan menikmati satu dua hari menjadi seorang warga desa tanpa embel-embel 'Kiroii senkou'nya.
Paling tidak kali ini perdamaian berhasil ditegakkan. Setidaknya beberapa waktu ini konoha tetap aman meskipun suasana menjadi lebih sepi. Itu bukan karena alasan, semua orang menjadi takut keluar rumah karena takut pada kasus invasi konoha yang diperkirakan disebarkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
'aku yakin tak mungkin orang ini jauh dari konoha. Ia ada di dalam konoha dan hidup berdampingan dengan hokage.. tak mungkin yang lainnya, aku yakin bahwa ini adalah bagian dari shinobi konoha sendiri..'
"Minato, Minato kau tak mau makan?"Kushina menawari sambil menggeserkan piring dango kearah suaminya. Tapi pria pirang itu malah mendiamkannya, entah apa penyebabnya tapi Kushina kelihatan kurang menyukai reaksi itu.
"KAU MAU MAKAN ATAU TIDAK SIH?!"
Otomatis setelah terdengar sentakan bernada seperti itu Minato Namikaze tidak bisa berkutik. Pria itu kelihatan ketakutan dengan keringat dingin mengaliri tengkuk. Kushina masih dengan gaya Habanero-nya menyuapkan dengan paksa Tusuk demi tusuk dango ke dalam mulut suaminya. Keluarga itu kelihatan disibukkan dengan aktivitas pribadi sendiri.
Tiba-tiba tirai kedai tersibak memunculkan dua orang manusia berambut hitam. Tiga. Satu dalam gendongan, satu si penggendong dan satu lagi yang dibawa oleh orang yang menggendong. Keduanya tampak akrab dengan situasi kedai, mereka ingin berjalan untuk ke salah satu meja dari beberapa meja yang tersedia, tapi mata violet itu terburu menangkap adegan keluarga kecil ini. Kushina langsung berdiri dan melambaikan tangannya dengan riang.
"mikoto!"
"kushina."sapa mikoto datar. Wanita itu lantas melangkah kearah keluarga Namikaze berada, "sejak kapan kushina-san menyukai Dango?"
Minato menggaruk belakang telinganya sejenak. Kushina tersenyum lebar, "anakku yang menginginkan ini mikoto-chan."
"dan Minato-san, Itachi, beri salam pada Minato-san dan kushina-san."
Satu-satunya anak lelaki dengan plaster di sisi wajah membungkukkan tubuh. Kushina yang melihat ini langsung melempar pandang kearah Minato, keduanya kelihahatan tengah berkomunikasi tanpa suara.
"jadi dimana fugaku-san Mikoto-san?"kata Minato ramah.
Wanita yang dimaksud tersenyum kecil, "anda tahu sendiri jika keadaan desa sedang tidak stabil. Ia menghabiskan waktu di kantor kepolisian konoha."
"yataa! Anakmu benar-benar manis mikoto-chan!"ujar kushina sambil mencolek dagu itachi kecil. Mata wanita itu terpaku pada plaster kecil yang tertempel di sudut mulut itachi. "jadi mengapa ia terluka ha? Bukankah sangat disayangkan anak semanis ini sampai terluka?"
Tanpa diduga oleh Minato dan kushina, Itachi berinisiatif menjawab pertanyaan tersebut. "berlatih Kushina-san."
"waah. Kelihatannya kau memiliki anak yang berbakat ya. Dan anakmu kelihatan manis sekali, kurasa aku mulai berharap anakku akan segera lahir dan bisa kulatih juga."renung kushina lagi. Disana ia melihat Minato hanya diam dan sesekali tersenyum. Obrolan akan mulai menjadi kurang menyenangkan jika ada pria diantara pembicaraan wanita. Alhasil kushina menyikut Minato yang tersenyum nerves.
"ya, kelihatannya Minato-kun harus pergi yakan Minato-kun? Kulihat kau harus mengurusi beberapa persoalan misi beberapa menit lagi."
"e-eeh?"
"heh, bukannya tadi kau yang minta diingatkan? Ah! Minato-kun, kau benar-benar bisa bercanda."kata kushina sambil menginjak kaki Minato keras-keras dan memberikan pukulan kecil di kepala pria pirang itu.
Duakh!
"pulanglah!"seru kushina pelan sambil beberapa kali melirik kearah Mikoto Uchiha sambil tersenyum-senyum. "kami ingin berjalan-jalan sebentar –ttebane!"
Tidak jauh dari sana seorang jounin 13 tahunan berdiri sambil memandangi kegiatan dihadapannya dengan pandangan datarnya. Mata obsidiannya sesekali melirik kearah kertas yang dibawakannya untuk seseorang. Dari caranya memandang dan tinggi tubuh, dapat diketahui bahwa bocah ini tidaklah lebih dari pada umur rata-rata ninja genin, ya. Si prodigy ini mengunjungi salah satu ninja yang makan di kedai itu sambil membawa berkas misi yang mungkin akan dibutuhkan oleh pria jounin yang tengah di desak istrinya di dalam sana.
"o-oke! Aku akan pulang! Berhati-hatilah kushina-chan!"
"jangan kembali lagi ya!"teriak kushina sambil melambaikan tangannya. Mikoto yang masih disana hanya mampu memandangi keluarga ini dengan pandangan tenang, wanita itu memang uchiha yang tenang tanpa melepaskan title 'pendiam' khas uchihanya. Walau begitu ia bukanlah uchiha yang dingin seperti kebanyakan para Uchiha. Cukup sering tersenyum, walau ia tak banyak berbicara.
"jadi apa yang ingin kau bicarakan?"tanya Mikoto begitu mereka keluar dari kedai. Wanita itu kelihatan tidak jadi membeli dango-nya hari ini.
"haaah.. akhirnya kau menanyakan itu juga."kushina berjalan dberdampingan dengannya. "a-ano, aku hanya ingin menanyakan padamu tentang bagaimana rasanya nanti sa-at.. p-persalinan."
Mikoto yang mendengar ini tersenyum kecil. Ada semacam keriangan yang tampak dari wajahnya saat membicarakan hal ini, "dari sekian banyak hal di dunia ini aku tak bisa melihat apa yang kau takuti. Aku berpikir kau tak memiliki rasa takut bahkan sekalipun harus menghadapi musuh terkuat. Rupanya aku salah besar, kau memiliki ketakutan. Dan itu hanya dengan persalinan?"
"m-maksudku.. apa itu benar-benar tidak sakit –ttebane? Kau tahu? Membayangkan saat seorang calon ibu melahirkan anak mereka.. kesakitan dan berteriak-teriak, itu membuatku sedikit.. takut."
Mikoto menghela napasnya sejenak. Ia mengalihkan matanya pada bayi kecil ditangannya, "melahirkan calon manusia baru itu memang tidak mudah. Tapi dengan cara itulah kau jadi tahu apa rasanya menjadi sosok yang mempertaruhkan hidupmu dengan memperjuangkan kehidupan baru. Kau menjadi seorang wanita seutuhnya, shinobi yang sebenarnya. Itu tak akan berbeda dengan saat kau bertarung melawan kesakitan untuk menyelamatkan nyawamu dari sergapan musuh. Sakit.. tapi tak akan semenyenangkan begitu kau mampu melihatnya tersenyum setelah semua yang harus kau alami itu."
Kushina merenggut bahu mikoto. Wajahnya kelihatan semakin pasi.
"apa rasanya lebih dari saat tertusuk kunai? Apa.. seperti tertancap anak panah? Seperti jika terkena ninjutsu lawan? Atau.."mata wanita itu membelalak. Entah apa yang dipikirkannya tapi Mikoto uchiha tampak tenang-tenang saja.
"kau tahu rasa sakit itu tidak ada duanya di dunia ini. Tidak bisa di definisikan, itu antara kau menyukainya dan kesakitan yang teramat sakit. Saat itu tidak seperti jika kau terluka karena ada ninja medic disekitarmu.. itu lebih menyerupai antara apakah kau ingin bertahan atau menyerah dengan kesakitannya. Kau tahu itu sulit sekali, dan semua wanita pasti akan merasakannya."
Kushina berjengit. "itu tidak kedengaran seperti rasa sakit yang bisa kutahan."gumamnya ngeri.
"hn. Aku tidak tahu itu."
"ide bagusnya kau membuatku semakin ketakutan –ttebane."
Keduanya berjalan pelan menapaki jalanan konoha. Memandangi kios-kios dagang ang kosong ditinggal pemiliknya.
"ah, sepekan terakhir sudah semua orang menjadi menghilang. Kelihatannya berita tentang invasi itu benar-benar akan meremukkan perekonomian konoha. Rasanya rindu sekali melihat tempat ini ramai dan bahkan saat berjalan harus berhimpit-himpitan dengan pengunjung lain."bibir kushina tertekuk ke atas. Tubuhnya kelihatan kurang bergairah melihat pemandangan kosong melompong dihadapannya.
"semua orang konoha tentu saja mengkhawatirkan konoha. Ini bisa berlangsung selama beberapa waktu."sahut Mikoto netral. "Kudengar Hokage ketiga akan segera mencari penggantinya."
Kushina hanya mengangguk ringan. Sudah sejak setengah bulan terakhir berita itu santer terdengar kemana-mana. Banyak nama nominasi akan ditangguhkan dalam hal ini, tapi tetap saja itu menjadi tanda tanya. Siapa orang itu? Apa ia mampu mengurusi masalah konoha? Apa cukup kuat untuk menghadapi musuh konoha? Semua orang tahu bahwa yang memenuhi kapasitas itu dalam hal ini barulah sang Hokage Ketiga.
"aku hanya berharap siapapun ia ia bisa memperbaiki konoha. Aku sudah lelah melihat penduduk yang ketakutan seperti ini –ttebane."
"hn. Kurasa kami hampir sampai ke Uchiha compound. Apa kau ingin mampir?"
Kushina membuang napasnya kuat-kuat. Ia memandang kearah bocah 6 tahunan yang berdiri di dekatnya, anak yang dari tadi hanya diam seolah tak berada di antara pembicaraannya dan Mikoto. Reflek, ia mengelus kepala bocah itu lembut.
"aku juga ingin anak lelaki. Kupikir anakku dan anakmu akan menjadi sahabat dekat seperti kita nantinya."
Mikoto tertawa pelan, "apa kau sudah menyiapkan sebuah nama untuknya?"
Kushina menerawang. Ia belum memikirkan apapun tentang ini kecuali satu hal.
"tentu saja.. Namanya akan dikenal oleh seluruh konoha nantinya –ttebane!"
Setelahnya kedua orang itu pun pergi kearah jalan yang berbeda.
Di suatu tempat.
"kita harus membawanya dengan sigap."seorang wanita bertopeng berbicara tegas. "aku akan melumpuhkan target lain. Pastikan semuanya dibawa ke laboratorium Konoha."
Lima orang Anbu lain berpencar. Wanita itu juga berpencar, ia menyudutkan salah satu ninja yang tertawan. Matanya tanpa ekspresi begitu melihat chunnin itu terpojok menyedihkan di pinggiran hutan. Kayu-kayu dalam area hutan itu sangatlah lebat. Lagi pula disana sudah dipasangi perangkap fuinjutsu yang memungkinkan semua orang terkurung dalam jarak area yang ditentukan.
"a-aampuni aku!"
"kau datang pada kami. Kau menginginkan kekuatan, jadi jangan menyingkir."katanya dingin sambil terus menyudutkan orang tadi. Di sisi lain, ada beberapa buah gelas dan botol khas laboratorium yang bertebaran di atas tanah. Di bagian lainnya, ada beberapa ninja yang menggelepar-gelepar dan adapula yang seolah mendapatkan suntikan cakra berwarna magma yang meninggalkan tato api di tubuhnya. Tapi tak hanya itu, setelah mendapat reaksi serupa ninja-ninja tadi tergolek tak berdaya. Ada beberapa tumpukan mayat yang dikumpulkan Anbu lain dekat dengan sungai tepi hutan itu.
"a-aku mohon.. a-aku t-ttidak tahu j-jika r-rreaksi nya s-sseperti itu."
"sayangnya aku tak tahu itu. Kau datang dan semuanya selesai."katanya sambil mencabut sebuah tanto dari punggung. "menyerahlah atau kau benar-benar akan kubuat mati."
Orang tadi masih berusaha menyingkir. Tapi tetap saja tidak ada perbedaan, Anbu ini dengan sigap langsung memukul tengkuknya saat pria itu lengah. Menjatuhkannya ke tanah baru meraihnya untuk di panggul ke atas bahu. Ia menoleh kearah ninja bertopengnya yang lain.
"jangan tinggalkan apapun untuk ANBU Hokage. Bawa sisanya dan yang mampu bertahan ke Laboratorium. Lakukan dengan cepat, aku merasakan ada tekanan cakra mendekat."
Ninja lain mengangguk. Entah dengan cara apa mereka akan membereskannya tapi semua ninja Anbu ROOT itu sudah bersiap akan pergi. Si wanita mengambil jalan di depan, matanya menelisik dengan tajam sementara gerahamnya bergeretak keras. Seketika ia menoleh kearah Anbu lainnya yang bertugas bersamanya.
"bawa tawanan ini. Aku akan tinggal mengurus urusan yang satu ini."
Setelah berkata seperti itu ia melirik kearah Anbu-Anbu yang sedang bekerja menyingkirkan bekas mayat eksperimen yang gagal. Tapi matanya tak sepenuhnya terkunci kesana melainkan pada apa di balik semua pohon dekat eksekusi itu. Dari sana sebuah celah menampakkan bola mata warna merah. Tanto yang sedari tadi berada ditangannya pun digenggam erat-erat.
"kelihatannya akan ada mainan kecil yang harus disingkirkan.."katanya entah pada siapa dan menghilang dalam shunshin.
. . . . . . . . .
Duakh!
"ahk!"
Kakashi membelalakkan matanya begitu satu pukulan tangan menghantam rahangnya begitu keras. Meskipun ia memiliki sharingan di mata Kiri-nya, itu tak mengubah keadaan dimana sosok pemukulnya jauh lebih cepat dibandingkan dengan gerak tubuhnya meskipun sharingannya bisa mengobservasi gerakan sang lawan.
Bruaaak! Bruaak!
Tubuhnya menghantam pohon dibelakangnya. Beberapa daun berguguran begitu itu terjadi.
"ternyata hanya seorang anak ingusan."decak seseorang dibelakangnya. Kali ini untuk kesekian kalinya ia membulatkan mata, satu lagi tendangan yang hendak bersarang ke kepalanya tapi berhasil di tepis sementara ia melompat mundur.
"kau berada di tempat yang salah di waktu yang salah bocah."ujar sosok bertopeng dengan rambut panjang itu. "bukankah bukan waktu yang tepat untuk berkeliaran saat konoha sedang berada dalam masa krisis dan rentan invasi, Kau kelihatan begitu berani berkeliaran di tempat dengan gelar 'kematian' ini."
Wajah kakashi tetap netral, perlahan-lahan ia mulai bangkit dari posisi kuda-kuda bertarungnya. Untuk kali ini ia lebih berhati-hati dan waspada.
"kau Anbu konoha bukan?"katanya datar. "apa yang kalian lakukan pada ninja-ninja konoha itu?"
Terdengar dengusan napas keras. "kau tak memiliki hubungan dengan semuanya. Katakan padaku apa kau juga termasuk kedalam orang-orang yang menginginkan uji coba kekuatan itu? Jika iya maka ikutlah denganku. Tapi jika sebaliknya maka jangan ganggu urusan kami dan lekaslah pergi dari sini."
"uji coba kekuatan? Apa maksudmu.. yang tadi sempat dibicarakan orang-orang?"balas kakashi dengan nada tertarik. "apa yang kalian lakukan pada mereka?"
Kakashi tahu dan tidak cukup bodoh untuk mengatakan bahwa uji coba itu hanyalah bualan semata. Ia tahu bahwa ada banyak mayat dibelakang semak-semak sana, tapi meski begitu otaknya masih bekerja dengan baik. Berbicara tentang kegagalan hanya akan membuahkan kematian baginya. Satu Anbu mungkin.. tapi sisa Anbu lainnya? Ia tak akan selamat sampai di desa konoha untuk melaporkan semua ini.
"apa hokage ketiga yang memerintahkan ini?"tanya-nya lagi.
"bukan wewenangku untuk memberitahu semuanya. Sekarang putuskan untuk pergi atau tinggal."
"apa kau mengancamku?"tanya balik kakashi sambil meletakkan kunai di depan wajah. "atau harus kulaporkan semua tindakan kriminal ilegal ini pada hokage-sama?"
"kau mengancam orang yang salah.."
. . . . . . . . .
Trank!
Trank! Trank!
Suara tanto dan kunai beradu nyaring di udara. Bunga-bunga api beberapa kali tercipta dari peraduan dua logam nyaring senjata shinobi. Anbu itu langsung mengayunkan tanto-nya dengan kecepatan jounin level kearah kakashi membuat arah sabetan menyayat membelah lehernya. Dengan kecepatan hampir menyamai kakashi langsung memfokuskan arah pandangan menggunakan mata sharingannya. Ia langsung melompat begitu serangan maut itu hampir saja membunuhnya dalam sekejaban mata.
Syaaat! Syaaaat!
"kau anak yang cukup menarik juga. Tak salah orang-orang pernah menggelarimu sebagai prodigy."gumam si Anbu sambil membuat sabetan searah vertikal ingin membelah kakashi. Tapi bocah itu keburu memalangkan kunainya untuk menahan tanto itu. Dua besi hitam berdentang kembali.
Trank!
Mata sharingan kakashi berputar pelan. Dalam sekejapan mata, kakashi langsung menghilang kembali dan muncul di belakang si Anbu.
Duakh!
Anbu tadi hampir terkena serangan itu. Tapi pengalaman bertarungnya membuat ia lebih sigap menghadapi serangan kakashi yang lagi-lagi meleset ke samping tubuhnya. Berikutnya ia membalikkan tubuh 180 derajat dengan kaki melayang di udara terarah kearah kepala kakashi. Kakashi memalangkan kedua tangannya menahan serangan itu dan mencoba memanfaatkan celah yang ada untuk melayangkan pukulan kearah si Anbu. Ia berhasil mendapatkan peluangnya begitu juga si Anbu yang juga mendapat peluang untuk menyikutnya.
Duakh!
Srooooook!
Keduanya melompat ke belakang. Saling menghindar sambil terus memasang wajah waspada.
"kau berhasil mendaratkan pukulan di tubuhku."gumam si Anbu menganalisis. "kurasa ini akan berlangsung menjadi lebih serius dari yang kuduga.."
Kakashi menatap kearahnya datar. "kau terlalu meremehkan lawanmu. Dalam dunia ninja tak ada batas usia muda ataupun tua untuk menentukan pengalaman bertarung. Sekalipun kau lebih tua dariku bukan berarti kau lebih hebat."
Anbu itu melebarkan kuda-kudanya. "apa maksudmu kau lebih hebat? Mari kita lihat mulut rendahan ninja muda yang mampu menantang nyali dengan maut."
Syuuuut! Syuuuut!
Dua buah kunai melayang kearah kakashi yang dihindarinya dengan cukup mudah. Sharingannya mengevolusi dengan cukup baik ditambah dengan pelatihan cukup yang membuat tubuhnya mau diajak bekerja sama sesuai kecepatan perpindahan yang dianalisa sharingannya.
Trap! Trap!
"kau tak bisa mengalahkanku dengan serangan itu!"kata kakashi sambil menghindari dua kunai lagi yang mengarah kearahnya. Bocah atau lebih umum dikatakan sebagai remaja 13 tahunan itu melompat ke dahan-dahan untuk menghindari serangan-serangan Anbu yang diarahkan kearahnya.
"kau terlalu arogan hingga akan terjatuh dengan kearogananmu sendiri.."
Syuuut! Syuuuuut! Syuuut!
Kali ini bukan hanya dua kunai, melainkan enam kunai sekaligus bergantian. Sosok wanita bertopeng itu bergerak dengan anggun sambil meleparkan kunai-kunai ditangannya tepat kearah yang dituju kakashi. Melihat kecepatan serangan itu mau tidak mau kakashi juga harus mengeluarkan kunai miliknya. Beberapa ditangkisnya kunai yang mengarah kearahnya. Tapi tak sampai di situ, belasan shurikken juga mengarah kearahnya di waktu yang sama. Kali ini dari arah depan, samping kanan, kiri, dan yang terakhir..
Matanya membelalak berikut bola mata sharingannya.
"kau akan mati bocah hatake pemilik sharingan."
Syuuut! Syuuut! Syuuut!
Swush!
Dari arah atas lima shurikken mengarah langsung kearahnya berikut dengan Anbu wanita tadi yang keberadaannya kurang ia perhitungkan atau memang tidak bisa ia rasakan. Kemunculan Anbu itu begitu tiba-tiba dengan tangan terhunus tanto yang menghujam kearahnya.
"sial!"decak kakashi sambil berusaha meloloskan diri keudara dengan lompatan panjang kearah lain. Tapi malang baginya karena wanita tadi sama cekatannya dengan dirinya yang memutuskan begitu melihat prediksi sharingan.
Duakh!
Kakashi terpental jauh menghantam pohon. Tapi belum cukup sampai di situ wanita tadi sudah hadir lagi tepat disamping pohon tempatnya terpuruk. Satu kepalan lagi-lagi menghantam wajahnya. Tapi sebelum pukulan ketiga melayang kakashi sudah berhasil membuat sebuah seal tangan kawarimi.
Poooft!
Benda yang dipukul si Anbu berubah menjadi potongan kayu. Kakashi sudah menghilang di dahan lain yang berjarak beberapa meter dari sana dengan wajah lebih kusut dan keringat membanjir.
"apa kau ada disana?"kata si Anbu ringan sambil membalik tubuh dan melemparkan 6 buah kunai. Kakashi langsung melompat begitu benda tajam itu diayunkan, tapi berikutnya seperti sebelumnya lagi-lagi 6 kunai mengarah kearahnya.
Trap!
Trap!
"kau tak bisa menghindariku bocah."gumam si Anbu sambil melempar kunainya lagi. "dan tak ada satupun target yang akan lepas dari mata pemburu."
Selepas berkata seperti itu selayaknya puluhan kunai bersamaan langsung menyerbu kearah kakashi. Untuk kali ini remaja itu langsung kembali membuat kawarimi. Tapi sial baginya setelah jutsu itu dilakukan, karena nyatanya ada hal yang selama ini menjadi rahasia pertarungan si lawan yang kurang diperhitungkannya. Dua kunai dengan dua kertas peledak mengarah kearahnya diiringi wajah si Anbu yang menatapnya remeh dari dahan lain di seberang pohonnya.
"lawanmu itu penyensor.."
Boooooom! Boooooom! Boooooooom!
.
Di beberapa meter dari arah pertarungan.
Kakashi hatake berdiri terhuyung sambil terbatuk-batuk. Remaja itu kelihatan sedikit sulit bernapas dari jebakan ledakan kunai peledak yang kurang diantisipasinya. Tapi paling tidak ada satu hal yang akan dilakukannya setelah itu semua. Ia sudah bersiap akan melapor pada Hokage di tengah desa.
'Anbu.. Anbu itu kelihatan berbeda dari Anbu pada umumnya. Aku tak merasakan hal lain yang lebih mendasar dibandingkan rasa curiga pada orang-orang misterius itu. Dan mereka membunuh banyak shinobi konoha. Apa maksudnya itu?'
Tubuhnya letih. Entah mengapa akhir-akhir ini begitu mata sharingannya di gunakan maka tak ada lain hal lagi kecuali bahwa ia akan melemah dengan drastis. Sayangnya hal ini belum ditemukan solusinya, mata merah peninggalan sang sahabat itu terus saja menggerogoti cakranya bahkan sekalipun ia bertarung tanpa keterampilan ninjutsu. Membayangkan semua cakramu terkuras habis bahkan tanpa kau gunakan untuk bertarung adalah hal yang paling tidak pernah ia bayangkan. Tapi itulah satu-satunya peninggalan Obito Uchiha, dan ia tak bisa menawar apapun kecuali menjaga mata itu dengan nyawanya sendiri.
'ini pasti hanya lelucon..'pikirnya pening. Kepalanya begitu sakit akibat penggunaan sharingan berlebihan. Ia hendak melangkah menjauh, tapi sebelum ia benar-benar menyadari ada satu sosok yang bersembunyi di balik rerimbunan pohon.
"Tuan akan menyukai apa yang hari ini kubawa.."katanya pelan sambil muncul tiba-tiba dan menodongkan tanto kearah kakashi. Remaja itu kaget bukan kepalang, tapi tubuhnya tak bisa diajak berkompromi karena rasanya punggungnya begitu keram tak ingin diajak bekerja sama.
'sial.. apakah wanita tadi juga melempariku senbon?! Sejak kapan!?'
Detik terakhirnya adalah matanya yang hampir terpejam dengan orang berjubah dengan penutup kepala yang mendatanginya berikut kegelapan yang menyusul setelahnya.
'siapa yang menyangka bahwa seorang hatake-pun haus akan kekuatan?'
.
.
.
Tempat Pelatihan naruto.
Naruto tengah menatap kearah target-target yang didalamnya telah berisi kunai-kunai itu. Belum genap sehari ia berlatih tapi ia sudah cukup mampu untuk menempatkan paling tidak beberapa kunai di tengah target persis dan sisanya yang melenceng di pinggiran target. Itu bukan hal yang mudah, ia begitu merasa terdorong dengan kekesalannya hari ini. Ibu benar-benar tak mengunjunginya selama seharian. Dan itulah titik masalahnya begitu sore telah tiba.
Kegelapan mulai menjemput konoha dan tak ada yang membimbingnya pulang. Ia takut kegelapan, dan sekarang ia berada di alam liar tanpa ada pemandu pulang. Mungkin cukup bersyukur ia karena seharian ini ancaman binatang buas yang paling dijanjikan si ibu tak muncul-muncul. Tapi masalah lain yang lebih mengerikan datang begitu melihat malam seolah menakutinya dengan kegelapan pekat. Hutan itu begitu rimbun terkecuali jika ia bisa melarikan diri dari sana.
"kemana ibu sebenarnya?!"pikirnya antara takut dan kesal. "ini sudah lewat waktu makan siang dan tak ada yang mengunjungiku. Apa ibu benar-benar melupakan keberadaanku!?"
Krek!
Mata naruto terpicing kearah suara yang bersembunyi dari semak belukar hutan. Ia menggenggam kunainya erat-erat, "siapa disana?!"
Tapi tak ada jawaban.
"kubilang siapa disana!?"
Kreek! Krek!
Tiba-tiba siluet besar muncul dari balik semak. Berupa benda bergerak yang kelihatan hidup dengan tinggi 2 meter dan mulut menjijikkan yang berkedut-kedut serta moncong bertanduk yang seolah tidak bisa dihancurkan apapun. Mata binatang itu melotot kearah naruto, langkah kaki besarnya lama kelamaan mengarah kearah tempat bocah itu berdiri, tentu saja napas bau si binatang terbawa hingga tercium oleh naruto. Bocah itu melabrkan matanya panik.
"sial! Pergi kau!"ia berteriak.
Tapi babi itu seolah malah tertantang dan maju. Naruto yang terdesak semakin mundur dan mundur. Anak itu kelihatan terdesak, ketakutan, dan marah bukan main.
"kubilang berhenti!"
Babi itu melangkah maju. Naruto berlari mundur dan yang terjadi adalah babi itu mengejarnya dengan terburu. Malam semakin gelap dan naruto bingung melihat arah larinya. Ia berlari sekehenda hati.
"sial. Berhenti!"
Suara langkah babi itu tak berhenti. Akhirnya naruto hampir terpojok, ia mengeluarkan keberaniannya untuk menatap babi tadi sambil menggenggam erat kunainya.
"kubilang BERHENTI!"
Tapi babi tadi kelihatan tidak mengerti itu. Ia adalah hewan liar, hingga dengan keleluasaan itu ia berlari menghampiri naruto.
Syuuuuuut! Syuuuuuut!
"kiiiiiiiiik!"
Mata hitam naruto mencoba menerka apa yang membuat babi tadi menguik sebentar. Ia berpikir bahwa ia hampir mampu menghentikan babi tadi, tapi kenyataan yang didapatinya malah sebaliknya. Dengan jelas bahwa ia melihat babi tadi menyiapkan kuda-kuda sambil meloto kearahnya. Ternyata yang dikenai kunainya bukanlah tubuh atau kepala si babi. Melainkan ekor si babi!
"i-ibuuuuu!"
Bruaaak! Bruuuak!
Suara gusuran si babi terdengar begitu kuat di telinganya begitu moncong besar babi itu menabrak setiap pohon muda yang mengganggu jalannya. Ia berlari, dengan sekuat tenaga. Tapi apa yang didapatnya tidaklah sesuai dengan apa yang diharapkannya. Babi tadi seolah mampu menggusur semua hal tanpa sekalipun merasa terhambat.
Naruto memejamkan matanya begitu suara babi tadi begitu dekat dan ia terjatuh. Kegelapan sudah mengganggunya dan babi itu pasti sudah dekat dengannya. Ia tak mampu berkutik hingga yang diharapkannya stau-satunya adalah sang ibu. Paling tidak jika ia tidak jadi dimakan babi ini ia akan berhenti marah pada ibunya.
"kumohon.. i-ibu..."gumamnya sambil menatap babi tadi. "aku menyayangi ibu.. i-ibu.."
Tanpa disadari naruto, sosok pria yang dari tadi mengamatinya mendengar ini. Kemudian dengan tangkas melompat turun sambil sebelumnya menyeringai penuh kemenangan.
'ini benar-benar momentum yang tepat.'pikirnya sambil melompat turun dan berdiri diantara babi tadi dan bocah yang ketakutan itu.
"Futon : Daitoppa!"
Seketika pria itu membuat semburan angin besar yang mengakibatkan babi tadi terdorong menjauh dan menabrak beberapa pohon. Daun-daun bertebaran, dan beberapa tunas pohon baru patah mematah. Melihat hal tersebut orang berjubah tadi menyeringai, ia mengakhiri jutsunya lantas berbalik pada anak di belakangnya yang mengamatinya dengan mata melebar dan sedikit ketakutan. Itu adalah naruto. Bocah panti asuhan konoha yang sedang berlatih.
"a-apa yang kau lakukan!?"tanyanya bingung. "apa itu ninjutsu yang kau gunakan? Apa kau bisa menyemburkan elemen futon dengan baik? Bagaimana kau melakukannya? Bagaimana caranya?"
Orang itu memandang anak dihadapannya sambil menimbang-nimbang. Senyum misteriusnya mengembang sejenak.
"kau adalah shinobi kecil."
Naruto menggeleng protes. "aku sedang beranjak besar! Jangan mengataiku anak kecil!"
"dan kau masih takut kegelapan. Orang dewasa tidak melakukannya. Hanya anak kecil yang takut pada gelap."
Bocah tadi beranjak dari tanah tempatnya tadi terduduk. "kau belum menjawab pertanyaanku. Katakan padaku bagaimana menyemburkan elemen futon!"
Orang tadi menggendikkan bahu ringan, "kelihatannya kau memiliki minat yang baik untuk menjadi shinobi. Apa kau berlatih untuk menjadi shinobi yan tangguh? Kelihatannya kau berhasil melempar beberapa kunai disini. Menurutku itu cukup berbakat juga.."
Naruto memandang ke arah orang itu sambil menunjukkan wajah penuh penilaiannya. Ia mengerucutkan bibir sejenak, ada hal yang dirasakannya familiar disana. Ya! Ia ingat pernah melihat pakaian yang digunakan si pria, pakaian berjubah hitam! Seketika ia membeku dalam diam.
"apa kau juga orang jahat yang menyakiti ibu waktu itu?"
Sosok tadi menyipitkan matanya. Tapi ia cukup terkejut, "apa yang kau bicarakan?"
Naruto berpikir itu bukan masalah. Yang menjadi masalahnya kali ini adalah bagaimana ia bisa melakukan hal yang sama yang dilakukan pria itu tadi.
"katakan padaku bagaimana? Apa kau juga bisa mengeluarkan katon, raiton, suiton, atau doton? Katakan padaku!"
Orang tadi menggeleng. Ia tertawa sedikit, "apa kau tidak pernah diajari untuk mengeluarkan jutsu?"
Naruto menggeleng. Ia bisa melakukan ninjutsu. "aku bisa melakukan ninjutsu medic.."
Seketika orang tadi menaikkan alisnya. "kalau begitu tunjukkan padaku."
Dengusan napas terdengar dari mulut naruto. Ia menatap pria tadi lekat-lekat, "ibu selalu bilang padaku bahwa aku tidak boleh mempercayai orang diluar panti dengan begitu mudah. ia berkata padaku semua hal harus dipertimbangkan untung dan ruginya. Jadi apa keuntungannya bagiku jika aku bisa melakukannya?"
Sosok tadi terdiam dalam pikirannya sendiri. Tanpa diketahui naruto sebuah senyum tipis mengembang di sudut bibir si pria berjubah. Ia meraba sakunya. Mengeluarkan sebuah benda putih seperti kertas yang biasanya selalu dibawanya dalam beberapa keadaan. Diulurkannya benda itu ketangan naruto.
"ambil ini. Akan kuberi tahu sesuatu."naruto mengambilnya dengan sigap. Ia mengangkat benda tadi di depan wajah, "apa ini yang disebut kertas ninjutsu?"
Orang tadi lebih merapatkan diri kearah naruto. Ia bahkan bisa mengelus kepala bocah itu jika ia mau.
"sekarang yang harus kau lakukan adalah mengalirkan cakramu kesana. Aku akan memperlihatkan sesuatu.."tapi saat naruto mulai mengalirkan cakranya pria tadi merubah nada biacarany dan berdiri sambil membuang wajah kearah lain dengan mata waspadanya. Itu membuat naruto terganggu, tapi sebelum ia sempat berkata apapun, pria tadi sudah keburu memotong.
"aku harus pergi. Rahasiakan pertemuan kita hari ini.. ada seseorang yang datang menghampirimu."ujarnya tergesa-gesa. "kita akan bertemu lain kali."setelah mengucapkan ucapan itu pria tadi langsung melompat kearah belakang punggung naruto. Meninggalkan si anak dalam keheningan dengan kertas yang menempel di tangan. Pendar kebiruan mulai muncul merambati kertas itu, tanpa naruto sadari secara tidak langsung cakranya telah membakar benda putih itu. Spontan naruto menjatuhkannya karena sebagian kertas langsung menyala dan bocah itu takut pada panas apinya.
"naruto?!"satu suara memanggilnya tiba-tiba. Dari ujung mata ia bisa melihat seseorang yang berdiri tak jauh darinya, berpakaian anggun seperti biasa dengan rambut ikal pirang dan mata hijau yang lembut. Orang itu memandangnya heran. "apa kau hanya sendirian disini?"tanyanya bingung.
Seingat nonou ia melihat lapangan tadi tertinggal dengan bentuk sempurna tanpa kerusakan pertarungan. Tapi apa yang dilihatnya sama sekali terbalik. Mungkin iya, naruto dikejar oleh binatang hutan kematian yang sebesar monster, yang tentu saja merusak semua lahan yang dilaluinya. Tapi bekas sayatan angin seperti tornado? Ini musim semi yang menyenangkan. Mana ada gejala alam seperti itu?
"ibu."kata naruto pelan. "tadi aku..-"tiba-tiba naruto menutup mulutnya. Nonou yang melihat ini mendekat kearahnya sambil memberikan senyuman menenangkan yang diharapkannya bisa mengurangi tekanan mental naruto. Penampakan bocah itu kelihatan lebih kusut, berkeringat, dan bajunya sedikit kotor. Rasanya benar jika ia berasumsi bahwa tadi sedikit ada aksi kejar-kejaran disini.
"ya?"
Naruto terdiam. Ia tidak jadi mengatakan apa yang ingin hatinya katakan. Ia ingat satu pesan orang asing yang tadi ditemuinya. 'rahasiakan pertemuan kita..' jadi itulah yang dilakukannya. Ia menahan ceritanya pada sang ibu dan mencoba memendamnya sendiri.
"ya? Apa kau ketakutan? Apa ada sesuatu yang terjadi?"
Naruto menggeleng. "aku bisa menguasai melempar shurikken, dan kunai.. ibu harus memberiku hadiah yang ibu janjikan sore ini."
Perasaan nonou terhanyut. Tadinya ia sempat berpikir bahwa naruto akan mengatakan hal yang penting semacam.. sebuah ketakutan atau apapun itu berhubungan dengan pekerjaannya. Tapi ia masih tidak habis pikir, bagaimana sebuah angin bisa muncul diwaktu yang sangat amat tepat tanpa mencelakakan naruto?
"apa kau tadi berbicara bersama seseorang?"
Mata naruto bergerak panik. Tapi ia menutupinya dengan langsung melirik kearah kunai-kunainya yang tertempel di target papan dan berlari menghampirinya untuk mengemasnya ke dalam kantung kunai.
"ibu mempertemukanku pada babi. Apa itu yang ibu ingin tanyakan?"
Kalimat itu membuat nonou sedikit tersentak. "lalu bagaimana kau.."
Naruto tidak lagi menjawab melainkan membereskan kunainya. Ia berniat untuk menghindari percakapan ini dan pergi ke pusat konoha hari ini untuk mendapatkan hadiahnya.
"ayo bu. Kita harus kembali untuk bersiap. Aku tidak ingin melewatkan hadiahku hari ini."dengan tergesa naruto mengajak ibunya pergi. Nonou mengikuti keinginan itu tanpa penjelasan apapun lagi. Mereka berjalan keluar hutan. Berniat kembali ke panti konoha untuk melakukan persiapan dan pergi mengunjungi toko spesial yang dijanjikan oleh nonou disana. Sebuah kegiatan luar biasa, bagi nonou jarang sekali naruto bersikap ramah seperti ini dan bagi naruto bahwa ia harus sesegera mungkin pergi dari hutan mengerikan penuh kegelapan itu.
Tanpa disadari, kertas yang tadi dijatuhkan naruto ketanah tidak langsung terbakar menjadi abu secara keseluruhan, melainkan juga basah lembek dengan cairan air yang mengalir dari permukaannya.
TBC.
