Terima kasihku yang sebesar-besarnya pada semua reader. Dan yang menyempatkan diri mereview, tanpa kalian aku tak akan mengetik akhir pekan ini

Anyway, aku memiliki pemberitahuan. Yaitu, tentang wajah naruto, kumohon jangan bayangkan naruto dengan whisker ya? Soalnya kan disini naruto adalah bukan jinchuuriki kyuubi. Dan menurutku wiskher turun karena pengaruh cakra kyuubi di kandungan ibu jinchuriiki. Jadi karena ibu naruto bukan jinchuriiki so naruto tanpa whisker. Kalau mau membayangkan kusarankan liat saja pada gambar fic ini. Jadi biar dari awal ini bisa diantisipasi untuk imaginasi semua reader kedepan agar tidak membuat naruto memiliki whisker.

Tentang sharingan? Oh ya. Sebentar lagi.

Tentang alur, oke. Saya setuju, well, kurasa memang alurnya terkadang harus lebih kupercepat. :v thanks saran.

Tentang naruto kedepannya? Kuharap cerita ini bisa menghibur pembaca dan kusarankan secepatnya tentang penggambaran masa depan naruto.

Dan update, siapa yang setuju aku update sabtu & minggu? Silahkan kolom ya atau no di Kolom review.

Dan banyakin reviewnya juga. Biar aku lebih bersemangat*sedikit maksa :v

SEMOGA TIDAK MEMBOSANKAN.

Root Of Uchiha

Chapter 6

Mimpi Buruk seumur hidup.

. . . . . . . .

Nyonya tua sedang mencuci piring sehabis makan malam. Orang tua itu melakukannya demi membantu ibu yang sudah pasti kelelahan setelah seharian ini melakukan berbagai hal berkaitan dengan urusannya yang rahasia itu.

'konoha benar-benar dalam situasi yang buruk. Jika sudah seperti ini apakah mengadu pada Hokage ketiga akan menjadi pilihan yang bagus? Semua pasar dan kota menjadi sepi.'pikirnya sambil terus mencuci piring. Suara air yang memancar dari wastafel memenuhi seisi dapur.

'apa akan menjadi ide baik jika aku nekat mengadukan segala permasalahan biaya ini pada Hokage? Tapi ibu..'

Braaak!

Tubuh nyonya tua berjengit. Instingnya secara naluriah menuntunnya untuk melongok kearah ventilasi udara yang didobrak secara paksa oleh seseorang. Bulu kuduknya meremang, ia berhenti sejenak dari aktivitasnya dan bersiap mengambil ancang-ancang kabur dan menemui ibu jika keadaan benar-benar tidak bisa dikendalikan.

"s-ssiapa disana?"tanyanya merinding. "k-katakan padaku atau ku.. k-kkulaporkan pada Ibu dan Hokage ketiga.."

Suaranya terdengar berat karena ketakutan. Nyonya tua mulai bergeser jengkal demi jengkal ingin menjauh dari sana dan secepat mungkin menemui ibu di ruangannya. Tapi sebelum ia bisa menjauh, sebuah benda tampak begitu menyilaukan tertuju kearahnya. Otomatis ia menutup mata dan telinga, takut-takut jika benda itu akan melukainya dan membunuhnya di waktu yang sama.

"j-jangan."katanya. Tapi rasa sakit itu tak pernah sampai, dirasakannya angin berdesau lembut saat benda itu melewati sisi wajahnya. Hanya beberapa sentimeter melenceng dan mendarat tepat dekat lantai kakinya berdiri. Suaranya begitu mantap ditelinga hingga nyonya tua membuka matanya kembali.

Trap!

'k-kunai?!'ia melirik kearah belakang. Mendapati benda hitam berujung lancip yang menancap pada lantai berikut selembar kertas yang tergantung di gagangnya. Nyonya tua secara instingtif menunduk, meraih benda itu dan melirik lagi kearah kegelapan. Ia masih ketakutan, tapi kelihatannya tekanan keberadaan orang tadi sudah menghilang. Alhasil ia mengangkat surat yang tergantung di gagang kunai dan membacanya secara cepat. Untuk pertama kalinya ia bisa bernapas lagi, jantungnya langsung berpacu dengan cepat.

"i-ibu!"serunya tiba-tiba langsung berlari kearah koridor ruang lain tanpa repot-repot menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu.

. . . . . . . . .

Naruto tengah bersiap-siap berangkat dengan ibu. Untuk berkamuflase dari pandangan mata anak lain, mereka bepergian di malam hari menggunakan setelan hitam. Naruto mengenakan sepatunya dan menggendong ransel hitam di punggung, Nonou sepeti biasa, cukup mengenakan kaos lengan panjang jounin konohagakure dan celana hitam panjang shinobi. Keduanya tengah bersiap saat tiba-tiba nonou berhenti melangkah di depan pintu dan memandangi naruto serius.

"kita harus bergegas."kata naruto pelan. "kalau ibu tak mau terlambat."

Suara tapak kaki menghentak memasuki ruangan. Ibu menoleh kearah belakang secara otomatis. Ia mendapati sosok nyonya tua tengah berlari sambil membawa sebuah benda yang kelihatan tidak terlalu asing di matanya. Wanita itu kelihatan panik dan terburu-buru.

"i-ibu.."panggilnya serak. "a-aaku.."

Naruto hendak berbalik mengikuti pandangan ibu dan bertanya mengapa wanita tua itu berlaku seperti itu. Tapi ibu langsung memberinya tatapan memperingati, "tunggu ibu diluar naruto."

"tapi-"

"kubilang apa tentang peraturan shinobi?"

Naruto tanpa berkata apa-apa langsung keluar menuruti kemauan ibu. Sekarang hanya ada ibu dan nyonya tua yang kelihatan kepayahan bernapas, ibu mengisyaratkan agar wanita tua itu berbicara sambil menenangkan napasnya lebih dulu.

"ada apa? Kenapa kau begitu terburu-buru seperti itu? Apa ada yang menyerangmu?"tanya nonou hati-hati.

"i-ibu.."

Nonou menepuk kedua bahu wanita itu. "bicaralah. Jika kau terus menerus berkata secara terpotong aku tak akan mengerti apa yang telah terjadi. Aku ada disini, katakan semuanya padaku."

"ba-bagaimana.. mereka mengirimimu sebuah misi! Tapi kau bahkan belum bersiap dan bocah itu.."

Ternyata nyonya tua tak pernah mengetahui bahwa ibu telah mengerjakan berbagai misi akhir-akhir ini. Misi dalam artian dibawah kendali intelijen, wanita itu kelihatan tak kuasa menahan kesedihannya.

"apakah i-ibu akan menerimanya?"tanyanya sambil menyodorkan kunai bersurat tadi. "me-mereka menyelinap dan melemparkan benda ini padaku. Ini adalah perbuatan para shinobi itu!"

Ibu menahan napasnya, ia mengambil kunai tadi dan membaca suratnya. Tiba-tiba rahangnya mengeras, walau begitu ibu begitu bisa mengendalikan emosinya hingga tak terlihat oleh mata si nyonya tua.

"kurasa ini sudah akhirnya.."

"tapi, k-kita masih punya rencana cadangan! Ibu berkata kalau mereka menginginkan anak itu, maka mereka harus mendapatkan anak itu saat ia sudah mampu menguasai tehnik ninja dan..-"

Ibu menggeleng. Wajahnya tetap biasa tanpa emosi, "kita salah. Maksudku, anak itu memang berbeda. Dalam artian dia bisa menguasai segala yang kuajarkan tentang dasar penggunaan cakra shinobi. Ia telah menguasai semuanya. Kita telah kalah dan aku harus menyelesaikan ini secepatnya."

Nyonya tua kelihatan terpukul. Di kejauhan tampak pastur yang berjalan kearah keduanya.

"jadi apa ini akhirnya ibu?"

Ibu tak langsung menjawab. Ia menyimpan kunai tadi kedalam saku celana-nya. Seketika ia membalikkan tubuh membelakangi kedua orang itu.

"ini sudah jalannya. Maafkan aku karena tidak bisa menjaga kalian untuk selama waktu yang ada. Maafkan jika selama ini berbagai urusanku telah mengganggu kenyamanan kalian, atau bahkan merepotkan kalian dengan segala macam permasalahan masa laluku. Aku akan merindukan kasih sayang kalian dan anak-anak panti ini. Dan aku juga akan kembali jika waktunya telah tiba, tapi sebelum itu aku juga harus meninggalkan kalian."untuk kali ini ibu melirik keduanya dan tersenyum.

"jika memang ini akhir keputusan yang harus kuambil maka aku bersyukur bisa membela kalian dengan caraku itu. Kesempatan terbaik bagiku adalah melindungi kalian dan bisa hidup diantara kalian walau itu hanya sebentar. Aku belajar banyak hal dari kalian, kalian bisa membuatku mengenal dengan sebenarnya arti kasih sayang dan senyum yang tulus. Aku bangga akan hal itu, tapi maaf, kurasa aku memang benar-benar harus meninggalkan kalian untuk waktu yang lama."

"jadi.. apakah ibu."tanya menggantung nyonya tua sambil menitikkan air mata. Nonou mengangguk.

"bersikaplah lebih baik. Ini hanya perpisahan kecil, jika memang hari ini adalah yang terakhir, paling tidak aku harus meninggalkan kenang-kenangan untuk orang yang akan mengawasi kalian setelah ini."kata ibu rasional. Pastur tua mengangguk, pria itu juga menitikkan air mata.

"apa yang kau maksud bocah itu?"

Nonou tersenyum singkat. "dia bukan hanya bocah. Dia lebih dari itu. Dia akan melindungi kalian selama aku tidak ada. Karena dia adalah shinobi.. percayalah padaku bahwa ia akan selalu mengawasi kalian untukku."

Selepas berkata seperti itu ibu membuka pintu. Dari celah yang sedikit ia bisa melihat naruto tengah menunggunya sambil menatap bintang malam.

"tetap tutup pintu hingga kami kembali, aku tak akan lama. Dan kita tak perlu berhemat lagi. Hidup bisa dijalani seperti biasa walaupun kami tak ada disini. Semua makanan kalian akan tercukupi."

"s-selamat t-tinggal bu.."

Sreeek.

Ibu menutup pintu sambil memandang kearah langit mengikuti arah pandang naruto. Ia melangkah ke samping bocah itu sambil mengulurkan tangannya. Meminta bocah itu menggenggamnya, "kita harus bergegas. Tak akan banyak yang tersisa dari konoha bagi kita."

"ayo. Ibu harus menepati janji ibu padaku."ajak naruto lebih bersemangat. Tapi nonou tak mau bergerak, sejenak wanita itu menyarungkan sebelah tangannya ke dalam saku celana. Seperti hendak mengambil sesuatu, naruto membalikkan tubuh menunggu ibunya mengatakan hal yang membuat perjalanan mereka terhambat.

"ada apa bu?"

Dengusan napas nonou sampai ke wajah naruto. Wanita itu menekuk sebelah lututnya menyamakan tinggi mereka. Ia menatap naruto lembut, sesuatu yang tidak dilakukannya beberapa minggu ini.

"ingat tentang pelajaran ninjutsu kita?"katanya lambat-lambat. "aku tahu kau tak bisa menguasainya dengan baik walaupun aku sangat berharap kau bisa menguasai itu. Sebenarnya itu adalah bagian diriku yang akan kutinggalkan padamu. Walau pada akhirnya kau juga tak menguasainya."

"apa aku membuatmu kecewa? Maksudku aku tak bisa selalu menjadi seperti yang ibu kehendaki. Apa ibu bersedih karena aku gagal?"

Nonou menggeleng. "kau adalah anakku yang paling manis. Kau juga paling cerdas diantara anak lainnya. Mana mungkin aku tidak menyukai anugerah seindah ini? Aku hanyalah seorang ibu yang harusnya menyusyukuri karunia yang diberikan padaku. Kau adalah penerusku, walau kau tak bisa menguasainya apa itu bisa mengubah fakta bahwa kau tetap anak sekaligus murid tunggal terbaik yang kumiliki?"

Mata naruto melebar. "tapi ibu tak pernah memujiku selain hari ini. Ibu bahkan tidak mengatakan banyak hal padaku. Jadi mengapa kali ini ibu mengatakan bahwa aku ini membanggakan? Aku tetap tidak bisa menjadi shinobi sempurna seperti yang ibu ingin kulakukan."

Nonou mengusap rambut naruto lembut. Wanita itu berlama-lama di tiap helai rambut si bocah.

"lupakan semua hal itu. Ibu ingin memberimu sesuatu."tangan nonou bergerak kearah saku celana-nya. Ia meraih sebuah benda berbentuk persegi panjang mungil di dalam sana. Terlihat sampulnya berwarna hitam. Ibu meletakkan itu di atas tangan naruto, menggenggamkan bocah itu pada hadiah yang diberikannya.

"aku selalu ingin kau memiliki ini. Tak perduli kau bisa menguasai ninjutsu medis atau tidak aku akan tetap memberikannya padamu. Dan pesanku apapun yang terjadi dikedepannya, jangan pernah lupakan akan benda ini. Ini adalah sebagian diriku yang akan selalu menyertaimu, sekalipun aku tak ada didekatmu, dengan benda ini kita akan selalu dekat."

Naruto meletakkan benda tadi kedalam saku celana-nya. Kali ini ia menatap ibunya lebih serius, "mengapa ibu berkata seolah-olah ibu akan berada jauh dariku? Bukankah ibu selalu mengatakan kita akan bersama? Ibu ingin pergi kemana? Apa ibu ingin meninggalkanku pada babi monster lagi seperti sebelumnya? Atau menenggelamkanku di dalam air sedingin es? Apa ibu akan memukulku kembali? Membuatku kehilangan arah di dalam kegelapan?"

Nonou menggeleng. Ia kelihatan sedang dalam situasi antara menyetujui perkataan naruto dan tidak menyetujuinya diwaktu yang bersamaan pula.

"aku akan melakukannya padamu. Mungkin jauh lebih buruk dari itu. Aku akan meninggalkanmu dalam kegelapan dimana kau akan berada didasarnya sampai waktu itu tiba, aku akan menitipkanmu pada malam yang dinginnya melebihi suhu danau es itu. Aku juga Akan meninggalkanmu pada monster yang jauh lebih berbahaya dibandingkan seekor babi yang pernah kau lawan waktu itu. Dan setelah semuanya aku hanya berharap kau tak akan membenciku dan panti ini, seperti keinginan mulukku bahwa kau tak akan pernah membenci tempat mengerikan ini."

"aku benar-benar tidak mengerti bu. Apa ini berkaitan dengan pekerjaan yang kau lakukan?"

Nonou terdiam. Ia sedikit terperanjat saat naruto mengatakan hal tersebut.

"ingatkah kau tentang bagaimana menjadi shinobi? Atau apa yang harus dilakukannya?"

". . . . . . . ."

Angin meniup rambut lembut naruto. Bocah itu memberikan tatapan 'ya' sebagai jawaban.

"aku selalu mengingatnya. Perkataan ibu itu.. apakah semua ini berkaitan dengan rencana bahwa aku akan menjadi shinobi dan meninggalkan panti ini?"

Senyum penuh ketulusan terpapar di wajah ibu. Naruto mengamatinya dengan jelas begitu wanita itu menjauhkan diri mereka. Nonou berdiri sambil terus menatap anaknya.

"setelah ini kau harus meninggalkan panti. Kita harus bekerja. Dan semua itu demi panti, seperti yang seharusnya. Aku telah menjadikanmu sebagai shinobi."

Naruto terperangah. Ia menarik lengan ibunya dan melangkah kedepan dengan lebih bergairah walau tak melupakan kesukaannya akan ketenangan.

"kalau begitu baguslah."

Nonou memandang punggung naruto bingung. Sehingga ia terkesiap saat memandang wajah penuh senyum anak itu kearahnya di detik berikutnya. Hal itu sedikit berbeda dari apa yang diperkirakannya. Ia sewaktu kecil bahkan telah menyesalkan diri akan pendidikannya sebagai shinobi. Tidak memiliki teman, selalu berlatih dan berlatih bahkan lupa berinteraksi dengan teman sebayanya. Ia bahkan tak memiliki teman, kecuali orang-orang yang dibodohinya bisa dikatakan sebagai teman. Baginya teman adalah orang yang siap berbagi bersamamu, tapi apa yang didapatkannya? Ia bahkan harus melupakan perasaan kemanusiannya sendiri. Itu menyesatkan, dan bagaimana seorang anak belia mengakui itu sebagai kebahagiaan?

"bagi ibu mungkin ini terdengar di luar dugaan."naruto memulai. "tapi ketahuilah itu sesuai harapanku. Ibu dan aku.. kita akan selalu bersama. Aku akan menjaga ibu dengan menjadi shinobi dan melindungi ibu dari musuh.. kita akan melakukan misi bersama-sama. Itu pasti hal yang akan dicita-citakan semua orang.. menjaga orang yang mereka sayangi."

"naruto... kau-"

Naruto menggeleng.

"ibu harus menjadikanku seorang shinobi secara sempurna. Ibu harus membuatku menjadi shinobi yang sebenarnya. Ayo bu,"

Anak itu menuntun nonou ke depan. Melangkah diterangi cahaya temaram bulan setengah penuh yang menggantung di udara sana.

"naruto.."

"aku selalu percaya bahwa aku akan mengabdikan diri pada hokage secepatnya. Aku tidak sabar ingin menemui hokage dan menerima misi darinya. Aku tahu shinobi mendapat uang dari misi yang dikerjakannya, kalau begitu kita akan bekerja bersama-sama dan mengumpulkan banyak uang bu. Panti akan makmur dan kita bisa selalu melindungi. Aku tahu ibu berpikiran begitu.. kalau begitu bergegaslah sebelum toko dikonoha sana tutup untuk hadiahku."

'kau memang berbeda naruto, lebih dari apa yang dipikirkan oleh orang lain tentangmu. Kau memang paling berbeda, dan itu mengapa kau terlihat selalu spesial. Caramu memandang semua ini.. itu bukan hal yang lazim dilakukan dan terkesan menyimpang. Tapi apapun itu penyimpanganmu ini malah membuatku bangga, kurasa entah siapapun itu orang tuamu memang memiliki sikap-sikap itu pada dirimu dan tertanam secara tidak langsung. Entah mereka menyukainya atau tidak, aku selalu bisa melihatmu dan membayangkanmu tumbuh.. dimanapun itu dan kuharap hingga kapanpun. Jika ada sebuah penyesalan, itu pasti mengapa aku membiarkanmu direkrut mereka malam itu..'pikir ibu sambil membalas genggaman tangan naruto. "kalau begitu ayo. Kita harus bergegas naruto."

. . . . . . . . .

Keduanya berjalan melintasi hutan dengan langkah-langkah ringan. Naruto menggandeng ibunya erat sambil terus memandang kearah jalanan di depan. Disebelahnya, Nonou hanya tersenyum hangat, wanita itu melirik naruto beberapa kali sebelum mengucapkan diri untuk berbicara.

"apakah kau tahu tentang sebuah cerita legenda?"

Naruto memalingkan wajah kearah ibunya. Wajahnya kelihatan netral, "kalau yang ibu maksud tentang sejarah konoha tentu saja. Aku tahu bahwa semuanya berawalkan dari dua klan paling berjasa dari pendiri desa ini. Termasuk didalamnya nama-nama kage terdahulu, berikut ninjutsu yang dimiliki. Dan tentu saja, mengapa desa ini dinamai seperti daun."

"naruto, apa pendapatmu apabila kau harus meninggalkan panti hari ini?"

Mata naruto membelalak. "apa ibu akan meninggalkanku ditengah hutan di malam hari seperti ini?"

Nonou menggeleng, "tidak. Tapi itu pasti bisa terjadi kapanpun. Kau tahu dalam dunia ninja tak ada hal yang mustahil. Termasuk didalamnya meninggalkan seorang anak panti yang takut kegelapan di tengah hutan."

Tangan naruto memegang ibunya erat. "tak perduli bagaimanapun caranya kalau begitu aku akan mengejar ibu. Mengikuti ibu kemanapun dan aku tak akan tersesat. Kegelapan ini membuatku takut, tidak dalam makna lainnya aku hanya takut tak bisa menyelamatkan diriku dari bahaya yang ada didepan. Aku takut jika kegelapan itu menyembunyikan musuh dari mataku sehingga suatu waktu mereka bisa saja menyerangku kalau mereka mau. Dan karena aku tak mengetahui keberadaan mereka sudah pasti saat itu aku kalah."

"kau tahu naruto, sebuah kekalahan itu tak selamanya kalah. Kau tahu, kadang kau juga harus mengalah dan lebih mementingkan hal itu dibandingkan menjadi pemenang. Menang juga tak selamanya menang, kadang pemenang yang sebenarnya adalah si pecundang yang dikalahkan. Kau tahu maksud ibu?"tanya nonou lagi. Naruto menjawabnya dengan menggeleng.

"pemenang bahkan bisa jadi adalah pecundang. Karena apa? Kadang dengan kelicikan, keculasan. Sementara seseorang yang disebut pecundang adalah orang yang berjiwa besar. Mereka menerima kekalahan dengan kejujuran dan tanggung jawab, menyiasati diri untuk melatih kekuatan hingga mereka menjadi pemenang. Kau tahu? Mereka telah memberikan semuanya. Mereka berjuang dan mereka akan menang, berbeda dengan para pecundang yang dilabeli pemenang itu, kadang ada hal yang membohongi mereka sendiri tapi masih tetap mereka lakukan."

Bocah berambut hitam disebelahnya mengangguk. "apa maksudmu membohongi diri sendiri?"

"tepat sekali. Dan itu akan berhubungan dengan kehidupanmu selanjutnya. Kuharap kapanpun kau kalah kau harus tetap berjuang hingga menjadi seorang pemenang."

Naruto menggeleng. "bagaimana jika kalah berarti mati? Apa hal yang seperti itu juga dikatakan menang?"

Nonou mengelus rambut naruto ringan. "iya jika kau mati dan tidak menyesalinya sama sekali serta semua keinginanmu sudah tercapai. Tidak jika itu membuatmu kalah oleh musuh dan kematianmu masih meninggalkan banyak impian serta misi yang gagal."

"meski ibu memberiku pilihan antara keduanya aku akan tetap selalu berusaha menjadi pemenang. Sesulit apapun itu, meski aku harus mengalami penderitaan yang berepanjangan aku akan selalu bermimpi akan satu hal. Aku akan jadi pemenang."

Angin hutan bertiup lembut, udara tak terasa terlalu dingin atau menyengat. Malam itu begitu damai dengan ribuan bintang diangkasa. Kedua shinobi itu terus berjalan sambil berpikir dalam kepala masing-masing, dan sesekali naruto melepaskan genggamannya pada tangan ibu. Ya, bocah itu hanya berpegangan tangan dengan ibu untuk mencegah dirinya tertinggal oleh langkah si ibu.

"jika kau sudah pernah mendengar tentang pertarungan Hashirama-sama dan Madara-sama, menurutmu siapa yang lebih benar antara keduanya? Seperti siapa diantara keduanya yang mendapat tempat dihatimu?"

"apakah ini antara Uchiha dan Senju?"sahut Naruto mengerucutkan bibirnya. "Hashirama memenangkan pertarungan diantara keduanya. Konoha menjadikan ia Hokage dan berarti ia pemenang. Ia memliki kekuatan yang tak semua orang memilikinya dan bisa dikatakan hanya satu-satunya. Hokage pertama Konohagakure yang melindungi Desa dari serangan Madara Dan Kyuubi si bijuu. Itu prestasi yang membanggakan. Tentu saja aku menyukai Hashirama."

"bagus. Kau pasti membaca buku yang kuberikan waktu itu. Jadi bagaimana pendapatmu tentang Madara-sama? Hm?"

Sejenak Naruto diam. Ia berpikir sendiri sambil melanjutkan langkahnya.

"entahlah bu. Aku tak mengerti, di mataku ia hanya seperti pecundang yang tidak bisa menerima kekalahan karena menyerang Desa hanya karena mendendam pada Hokage pertama karena beliau dijadikan Hokage sementara ia tidak. Itu tidak akan terlihat seperti sesuatu yang perlu di kagumi. Sekalipun ia bisa mengontrol Bijuu paling kuat itu tak mengubah apapun. Bagiku ia adalah kekalahan.. ya, dan pecundang yang tak bisa menerima kenyataan."

Nonou tersentak mendengar ini. Ia tidak langsung memberikan respon atas perkataan naruto.

"jadi.. bagaimana menurutmu apabila Madara-sama ternyata tidak seburuk itu? Jika ia bukan pecundang dan malah melindungi Desa dengan cara meninggalkan desa? Apa itu mengubah cara pandangmu terhadap dirinya?"

Naruto tersenyum ringan. "itu pasti akan sangat disayangkan. Aku akan mengangguminya tentu saja, sekalipun dunia menilainya sebagai penghianat. Tapi mengapa Madara tidak melindungi desa dengan cara yang benar hingga orang-orang tahu bahwa apa yang dilakukannya adalah semata-mata untuk melindungi desa? Mengapa ia tidak mengatakan pada Konoha bahwa keluar desa untuk menjaga Desa-nya sendiri?"

"ya. Kadang-kadang semua hal yang kau lakukan tak harus dikatakan pada semua orang hanya untuk membuatmu di katakan Pahlawan. Tapi untuk menjadi pahlawan tak perlu dikatakan semua orang dan mendapat pujian. Pahlawan itu penyelamat yang melindungi semua orang, dan dengan pengorbanan itu ia tak meminta balasan apapun termasuk pengakuan. Mengerti?"

"dan bagaimana semua orang bisa tahu kau tak bersalah dan tak berniat menyakiti mereka? Semua orang akan menganggapmu berbahaya dan kau akan dinilai jahat. Apa itu hidup yang ibu maksudkan?"

Nonou tertawa. "yang terpenting apa yang ada dihatimu. Tak perduli apapun apa yang mereka katakan, kau tetap dirimu dan seperti itulah cara kerjanya. Hidupmu untuk dirimu sendiri walaupun tak ada yang mengakuimu. Kau tetap baik, setidaknya hatimu mengetahui itu. Satu pengakuan itu sudah mewakilkan semuanya."

Keduanya melanjutkan perjalanan hingga terasa sudah mencapai sebuah tanah besar yang 100 meter dari arah mereka menunjukkan sebuah gerbang raksasa berkanji Hi di pintu-nya. Gapura itu kelihatan gagah dengan cat merah bagi dindingnya dan hijau bagi pintunya. Naruto yang melihat ini spontan mempercepat langkahnya. Si ibu mengikutinya sambil terus tersenyum dalam diamnya.

"permisi Kotetsu-san, Izumo-san."sapa Nonou ringan. "maaf mengganggu, kami ingin masuk ke Konoha."

Di sana, di bawah pos dekat gerbang dua pria yang sedang bercengkrama itu terpaksa menghentikan obrolan. Si pria berambut cokelat dengan hittae-ate dipakai menyerupai bendana dengan baju dalaman jounin yang dipakai sampai ke dagu menggerakkan matanya melirik kearah sosok yang memanggilnya. Rekannya, si pria berambut hitam jabrik dengan perban melintangi hidung dan janggut tipis di dagu melebarkan senyumnya. Seperti biasa, mereka selalu menjadi petugas penjaga gerbang utama desa.

"Ah.. Nonou-san! Lama tidak kembali kemari. Apakah misi terakhir sudah selesai?"

Naruto melirik kearah ibunya. Di depan mereka Izumo langsung mengalihkan pembicaraan sembari menginjak kaki sahabatnya.

"ha'i, lupakan atas lelucon Kotetsu barusan. Ia sedikit memiliki banyak beban pikiran akhir-akhir ini."tawa Izumo menutupi kecanggungan. "ah, apa kau ingin mengunjungi Toko persenjataan Nonou-san?"

"hm. Kami akan berkunjung kesana."ujar Nonou sambil membimbing naruto untuk melangkah pergi. "kami pergi dulu Izumo-san, Kotetsu-san. Menyenangkan bertemu kalian malam ini."

Sebelum keduanya berjalan menjauh Kotetsu yang tersadar dari apa yang dilakukannya buru-buru berbicara. "Nonou-san, kali ini akan banyak sekali toko yang tutup. Jadi jangan heran ya jika Pasar-pasar menjadi sangat sepi."

Nonou tersenyum, "terima kasih atas sarannya, kami mohon diri."

Keduanya pun menjauh dari sana diikuti oleh tatapan Kotetsu dan Izumo. Kedua pria itu terus memandangi wanita berpakaian Jounin tadi berikut bocah yang dibawanya dengan pandangan lebih bertanya.

"Nonou-san sudah lama sekali tidak ke Konoha. Aku tidak salah kan? Dan misi terakhirnya sudah lebih dari 1 setengah tahun yang lalu. Jadi pertanyaannya darimana ia mendapatkan bocah kecil itu?"Kotetsu melirik kearah Izumo bingung. "apa menurutmu Nonou-san telah menikah? Tapi dengan siapa? Dan anak tadi tidak mirip dengannya sama sekali."

"hahaha."tawa Izumo mengejek sahabatnya. "Nonou-san belum menikah. Itu adalah Anak panti tempatnya bekerja. Dan apa-apaan kau mengatakan tentang misi itu di depan bocah tadi? Maksudku.. Nonou-san adalah sesuatu yang baru bagi kita. Ia begitu tertutup dalam kelembutannya. Tapi kau juga tidak boleh bersikap seperti itu, bisa saja Nonou-san tidak ingin anak tadi mengetahui tentang Misi-Misi yang dulu pernah di embannya. Sebagai Elit jounin wanita itu benar-benar anggun menutupi seberapa berbahayanya dirinya."

Kotetsu mengangguk-angguk.

"ah andai saja aku bisa menjalankan misi bersamanya.."

Lagi-lagi Izumo tertawa. "dan kau akan pulang dalam kantung mayat serta aku akan sendirian menjaga gerbang. Tidak lucu Kotetsu, jika kau selevel Kakashi Hatake mungkin itu baru bisa dibenarkan."

"ya.. malangnya nasibku."ujar Kotetsu tertunduk sedih.

. . . . . . . . .

Naruto dan Nonou melintasi gerbang-gerbang Kompound clan lainnya. Ada Nara clan, Uchiha clan, Sarutobi clan, Akimichi clan, Aburame clan, dan terakhir Hyuuga clan. Bocah itu melewati itu semua dengan mata tak lepas memandangi logo-logo clan itu. Mereka mengunjungi toko-toko setelah beberapa saat melewati beragam gerbang kompound clan tersebut. Itu sebuah pasar, dan naruto tidak tahu apa sebabnya disana sangat diluar dari apa yang dibayangkannya.

"mengapa situasi begitu sepi?"tanya-nya bingung. "apa ini yang namanya pasar? Bukankah pasar itu-"

"apa kau mau melewatkan waktu untuk berkunjung kesana?"Nonou menunjuk kearah sebuah toko peralatan shinobi. "tadi kau berkata ingin dijadikan shinobi sejati. Apa menurutmu itu bukan ide yang bagus mengunjungi toko itu?"

Naruto seperti teringat sesuatu dan langsung menyeret ibunya untuk mendatangi Toko itu. Sebuah toko dengan lambang Konoha berikut dua kunai yang saling menyilang. Keduanya langsung masuk begitu tiba disana, seorang pemilik toko teah menunggu kedatangan mereka dan menyambutnya dengan hangat.

"ada yang bisa kubantu?"

Naruto melihat semua koleksi sepatu standar shinobi disana. Mula-mula ia melihat sepatu berwarna biru yang terjajar di salah satu rak yang menempel di dinding. Mulutnya mengerucut sebentar, ia ingin memiliki dua dari sepatu-sepatu ini. Tapi ia tahu bahwa semuanya membutuhkan uang, dan sumber uangnya adalah uang ibu. Dan ibu bekerja untuk uang, jadi bagaimana ia bisa menjadi serakah dengan pendapatan ibu? Akhirnya antusiasme-nya memudar. Ia menghampiri ibunya, dan dengan sedikit senyuman menarik baju ibunya untuk mencari perhatian.

"bisakah ibu memilihkanku sepatu ninja itu? Aku ingin ibu saja yang memilihkannya untukku."

Nonou tersenyum, "kau bisa memilih yang kau suka. Itu hadiahmu."

Mimpi seorang shinobi pemula adalah berpakaian layaknya shinobi sebenarnya pada umumnya. Tapi naruto sendiri tak memiliki sepatu shinobi, alhasil didatangkanlah dirinya kemari oleh ibu. Ia bebas memiih hadiahnya sendiri.

"aku tidak mau.. maksudku.. aku ingin ibu yang memilihkannya untukku. Dan dengan itu aku akan memakainya selalu.. karena itu pilihan ibu."

Penjaga toko yang merupakan pria berjanggut dengan kacamata itu menaikkan alisnya. Senyum ramahnya diarahkan kearah Nonou, "anakmu baik sekali. Aku yakin kau bangga memiliki anak yang sangat mencintaimu sebesar itu. Hm, mari kita lihat warna apa yang kau sukai?"

"aku suka hitam."

"baiklah. Aku akan mengambilkannya. Kau menyukai hitam jadi aku akan mengambilkan untukmu sepatu yang berwarna hitam."pria tadi menghilang sebentar, lalu beberapa saat setelahnya kembali lagi dengan sepasang sepatu ninja di tangannya. Itu adalah sepatu yang mengkilat, seperti yang diinginkan naruto. Jadi mau tidak mau ia tetap lebih ceria memandang benda itu.

"apa kau menyukainya?"

Naruto berpikir sejenak sebelum berbicara. Ia memandang kearah ibunya lagi, "apa ibu menyukainya?"

"kau yang akan mengenakannya. Kau bebas memilih apa yang kau inginkan naruto."

Naruto menggendikkan bahu. "jika itu artinya ia maka aku menyukainya. Aku menyukai apa yang ibu sukai."

Pria tadi mengangguk-angguk ringan. "anak yang menarik. Jadi kau menginginkan ini? Akan kusiapkan."ujar si pria sambil membungkus pesanan naruto. Kedua orang itu menunggunya beberapa saat hingga si pria keluar dari tempatnya. Orang itu menyerahkan sebuah bungkusan pada Nonou.

"semuanya 340 ryo. Harga biasa untuk pelanggan biasa."nonou mengangguk mantap. "jadi di dalamnya sudah lengkap dengan kunai dan shurikken-nya?"

Pria penjaga toko tersenyum ramah. "anakmu pasti memiliki ketelitian seperti dirimu. Tentu, aku telah meletakkan semuanya di dalam."katanya sambil mengedip kearah naruto.

"ibumu memiliki selera tersendiri dengan cara berpakaian. Kau pasti akan menyukai isi bungkusan itu."

"baiklah. Kami mohon diri dulu."

Selepas keluar dari toko tersebut naruto menyikut ibunya sedikit. Anak itu kelihatan sedikit terperangah.

"apa kau lapar?"tanya Nonou kemudian. "kita bisa membeli-"

Naruto cepat-cepat menggandeng ibunya. Lantas memotong ucapan sang ibu, "ibu... bisakah aku meminta sesuatu?"

"hm?"

"aku ingin satu baju seperti itu.. itu mengingatkanku akan pakaian favoritku yang sudah kekecilan."tunjuk naruto kearah salah satu toko. "untuk kali ini saja bu, aku tak akan meminta ini untuk lain kali."

Saat Nonou menegakkan wajahnya. Apa yang dilihatnya adalah sesuatu yang begitu amat mengherankan. Wajahnya berkerut sendiri karena bingung. Sebuah toko dengan penjaga berwajah datar di dalamnya.

'Pakaian c-clan itu?'

. . . . . . . . .

Panti asuhan Konohagakure No sato.

Tiga orang pria itu berdiri dalam hening. Di belakang mereka ada sebuah lemari besi lengkap dengan kunci dan isinya berjumlah ribuan lembar uang. Mereka berdiri dengan wajah datar, walau salah satu dari mereka kelihatan memasang wajah biasa-biasa saja. Dua orang pendeta tua didudukkan di hadapan ketiganya.

"mana Nonou Yakushi?"

Nyonya tua menahan air mata kesedihannya. "dia.. sedang pergi. Sebentar lagi akan kembali."

Sebuah kunai dikeluarkan oleh pria Aburame bertato wajah itu. "dia sedang tidak mencoba bermain-main dengan kami kan?"

Sreeek! Sreeek!

Pria tadi menggoreskan kunainya di atas meja. Sementara lelaki berambut keorenan satu-nya berdiri memandang kearah rekannya dengan pandangan yang sulit diartikan. "kalian beruntung kali ini tuan tak meninginkan untuk ikut. Akan banyak nyawa yang menjadi sasaran apabila itu sampai terjadi. Ini sebuah keberuntungan yang perlu kalian syukuri."

"apa Nonou berencana untuk membuat sedikit kesulitan bagi kami dari tangan Hokage-ketiga?"

Pastur menegakkan wajahnya yang berkerut-kerut dengan lagak kesal. "ia bukan orang seperti itu! Ibu itu shinobi yang selalu memegang penuh perkataannya! Jadi jaga mulut kalian! Ibu tak akan pernah mangkir, ibu bukan orang seperti itu."

"apa aku memintamu untuk menjawab?! Apa aku perlu menyumpal mulutmu juga?"katanya sambi terus menggesek permukaan meja dengan ketenangan memadai. "kau harusnya bersyukur, satu anak dan orang yang kalian anggap 'ibu' itu mau berkorban demi kalian dan hidup disini. Asal kalian tahu saja, itu bukan ibu. Itu adalah 'Nonou Yakushi' intel elit konoha. Jadi sebaiknya tutup mulut saja atas apa yang kalian tidak ketahui."

"atau kalian ingin menjadi santapan makan malam peliharaanku. Aku yakin tidak terlalu keberatan dengan hal itu."dari celah tangan pria berjubah ketiga munculah ular-ular kecil berjumlah lima ekor. Kelima-nya menjulur keatas meja tempat pria aburame bertato itu menggoreskan kunai-nya yang sekarang telah membentuk sudut lambang konohagakure.

"itu tinggal bagaimana kalian menanganinya. Semakin lama Nonou kembali itu akan terasa semaki bagus."

"kalian benar-benar kelewatan! Bagaimana mungkin shinobi seperti kalian menindas orang-orang yang seharusnya kalian lindungi?!"gertak nyonya tua menahan tangis. "apa semua shinobi selalu seperti ini?!"

Pria yang mengeluarkan ular tadi, si sannin Orochimaru memberikan senyum tipisnya.

"seperti kata rekanku. Bisakah kalian diam dan tak membuka mulut sebentar saja?"

"kalian keterlaluan! Jika bukan karena ibu aku pasti sudah mengadukan kalian pada Hokage ketiga! Entah bagaimana caranya ibu memaafkan kalian! Kalian tak layak di sebut sebagai shinobi! Shinobi tak pernah menindas yang lemah! Kalian benar-benar telah kelewatan! Harusnya dari dulu konoha sudah memberhentikan orang-orang seperti kalian!"

"lalu menyuruh orang-orang sepertimu melindungi konoha? Itu lelucon yang konyol sekali."

Suhu di ruangan semakin mendingin. Nyonya tua dan pastur hanya bisa terdiam di tatapi orang-orang itu. Mereka hanya mampu pasrah sambil menahan diri agar tidak tergelimpang dan jatuh, seperti kebanyakan civilian, hal semacam ini bukanlah keahlian bagi orang-orang seperti mereka.

"kalian benar-benar.. melawan orang tua seperti kami yang tidak berdaya. Kalian benar-benar tidak memiliki martabat."

Orochimaru menjilat bibir bawahnya sebentar. "kami tak butuh martabat, itu bukan pekerjaan yang diperuntukan shinobi agar menjadi ahli di dalam bidangnya. Dan kalian tahu mengapa begitu? Jika kami bermartabat, maka kalian pasti sudah mati. Jadi perlukah ku jelaskan kembali?"

"tidak. Kau tak perlu mengatakan apapun lagi."balas nyonya tua sambil terduduk lemas di kursinya. Wanita itu memandang menerawang kosong ke balik tubuh tiga ninja itu, seolah mencari-cari apa yang tak terlihat dari sana.

Dua orang sosok, yang satu wanita malaikat yang menyelamatkan mereka. Dan yang satu lagi malaikat kecil lainnya yang dijanjikan malaikat pertama yang akan menjaga mereka setelahnya.

'bisakah aku mempercayai ini semua bu? Aku ingin mengingat kembali waktu dimana kehadiranmu sangat kunantikan. Saat kau belajar semuanya untuk menyayangi kami dan melindungi kami, saat kau membuat semua keadaan penuh kekurangan tempat ini menjadi lebih berwarna. Bisakah kami menemukan sisi itu pada bocah pendiam yang kau janjikan itu? Aku mulai merindukan hari dimana seharusnya anak-anak tertidur lelap di tempatnya pada pukul 09.00 dan kau mendongengkan mereka cerita-cerita ninja yang bahkan tak pernah kudengar. Dan semuanya telah musnah sejak malam itu, bisakah kami mendapatkan dirimu kembali?'

Keduanya merenung di tempat. Sibuk dengan pemikiran masing-masing dan ular sang sannin yang mulai merambati meja mendekat kearah mereka.

"waktu berhitung dimulai."gumam orochimaru menyeringai.

.

Disisi Naruto dan Nonou.

Keduanya baru keluar dari sebuah toko untuk membeli sesuatu yang sekarang terbungkus rapi di dalam ransel naruto. Ibu melirik kearah jam berantai di kantungnya, matanya tiba-tiba melebar sementara naruto yang mengamatinya terlihat bergerak-gerak gelisah.

"ibu ada apa?"

"naruto.."suara ibu tercekik. "kita bisa melanjutkan jalan-jalannya lain kali. Ibu janji akan hal itu.. bisakah kita pulang?"

Naruto terlihat berpikir sejenak. Tapi anak itu mengangguk memberikan jawaban singkatnya. Seketika ibu meraupnya dalam gendongan di punggung, naruto yang menyaksikan ini bingung.

"ibu.."

"kau selalu ingin tahu tentang shinobi bukan? Ibu akan menunjukkan padamu beberapa caranya. Perhatikan, dan mulailah untuk tidak takut akan kegelapan."

Nada yang digunakan ibu terdengar terdesak. Wanita itu tiba-tiba merasakan firasat yang tidak bagus. Naruto merasakan iklim emosional yang satu ini, jadi ia mengangguk untuk menutup semua argumen dan tanda tanya besar dikepalanya mengiringi sikap sang ibu.

'kau tahu ibu. Aku tak pernah takut berjalan dalam gelap selama kau ada di sampingku. Itu tak akan membuatku takut sama sekali.'pikir naruto sambil mengeratkan pelukannya ke leher ibu. Lamat-lamat ia mulai merasakan tubuhnya seolah meninggi meninggalkan tanah. Ibu mulai melompat, dan angin mulai bertiup disekelilingnya. Rasanya singkat, ringan dan jelas bahwa pohon-pohon mulai berjalan melintasi sekeliling mereka. Ini membuat naruto mempelajari satu hal lagi. Menjadi shinobi bisa membebaskan dirinya dari waktu yang diulur-ulur.

"kita akan ke panti.."gumam naruto spontan. Ia tahu rute ini pernah di lewatinya. Tentu saja bukan rute yang sama persis mengingat perjalanan mereka sebelumnya adalah berjalan di atas tanah dan bukannya di pepohonan.

"apa kau keberatan? Tapi kita harus cepat. Maaf jika ibu mengecewakanmu dan.."

Naruto menggeleng, ia mempererat pelukannya pada ibu. "tidak bu. Jangan berkata apapun lagi. Kurasa aku sudah paham akan semua yang ibu maksudkan sebelumnya.. sebaiknya ibu bergegas saja. Biarkan aku memeluk ibu seperti ini."

Tap!

Tap!

Tap!

Singkat kata ibu hanya berdiam diri dalam menit-menit penuh keheningan selanjutnya. Keduanya tak berbicara sedikitpun kecuali jika ibu benar-benar membutuhkannya seperti meminta naruto menundukkan tubuh untuk menghindari ranting pohon atau apapun itu. Rasanya begitu cepat, naruto benar-benar terasa dibawa angin.

Tiba-tiba bocah itu teringat akan suatu hal, ia meraba hadiah pertama pemberian ibu.

"bisakah aku mengetahui isi ini?"

Ibu melesat ke pohon besar, ia menuntaskan lompatannya baru menjawab setelahnya. "tentu. Kau akan segera mengetahuinya naruto-kun."

"dan bisakah aku me.. menanyakan sesuatu?"suara naruto sedikit gamang di akhir nada ucapannya. Mata anak itu menatap nanar jalanan pepohonan didepannya. "dan aku ingin tahu bagaimana caranya. Aku ingin ibu menjawabnya sebelum kita sampai di panti."

Berhubung ibu berlari dalam kecepatan tinggi, mereka sudah berada di penghujung hutan kematian. Sedikit lagi akan mencapai pinggiran desa konoha dan menara jam panti telah tampak dari kejauhan. Ibu mendiamkan dirinya, wajah wanita itu kelihata sedih saat ia berhenti berlari sengaja untuk memberikan naruto kesempatan untuk menyelesaikan ucapannya.

"apa aku anak ibu?"tanya spontan naruto. "dan apa semua anak panti anak ibu? Lalu bagaimana ibu memiliki anak? Apa semua anak berada dalam satu kandungan? Maksudku akhir-akhir ini aku baru menyadari sesuatu bu.. hal yang kecil tapi tak pernah kuperhatikan."

Naruto menundukkan wajahnya. Ia mengangkat kedua tangannya di depan wajah, membuka tutupkannya beberapa kali dalam tempo lambat.

"rambut.. mata.. wajah dan kulit.. mengapa aku tak menyerupai ibu sama sekali?"

"naruto.."desis ibu pelan. Wanita itu memandang puncak kepala bocah dihadapannya sedih. Tapi bocah yang dimaksud tak kunjung mendongakkan wajahnya. Pandangannya seolah terpaku pada kedua kakinya.

"katakan padaku bu.. apa aku anak ibu? Mengapa kita tidak mirip? Apa ibu menyayangiku? Maksudku setelah semua sikapku pada ibu itu? Semua rasa sayangku pada ibu? Apa ibu hanya berbohong saat dulu datang dan mengatakan padaku bahwa ibu adalah ibuku yang menitipkanku di panti dan kembali untuk menjagaku? Apa semua itu hanya omong kosong dan semua kasih sayang yang ibu berikan juga palsu?! Apa itu benar?!"

Tes. Tes.

Air mata naruto menuruni pipinya. Tubuh kecilnya bergetar, buliran air itu terus jatuh ke atas permukaan pohon.

"mengapa ibu tidak menjawab gha?! Apa semua... semua-nya hanya p-ppalsu?!"

". . . . . . . ."

"ibu jawab aku bu!"

Nonou tak menjawab, air matanya sendiri meleleh. Ia menunduk, menyamakan tingginya dan naruto. Lalu membenamkan bocah itu kedalam pelukan. Dari dekat Nonou bisa mendengar suara tangisan naruto yang terisak-isak.

"jadi semuanya benar kan?! Dugaanku benar?! Mengapa ibu tega membohongiku? Aku sudah menganggap ibu sebagai ibuku dan menyayangi ibu sepenuh hati! Apa ini kenyataannya?!"

"naruto...sssh!"

Naruto diam. Bocah itu tidak ingin membalas pelukan ibu. Baru disadarinya bahwa rasa pelukan itu menjadi amat asing bagi dirinya. Ia seolah, ingin menjauhkan ibu yang telah berbohong dari dirinya. Segera dihapusnya semua air mata yang meleleh, naruto menatap ke depan lagi.

"ma-mmaafkan ibu naruto.. ibu tahu ibu salah. Ibu tak seharusnya mengatakan kebohongan semacam itu. Ibu kalah, kau mengetahui semuanya bahkan jauh sebelum ibu memperkirakan kau akan mengetahuinya. Dan... naruto.. kasih sayang yang ibu berikan padamu itu-"

"palsu?! Aku juga sudah memperhitungkan itu bu! Kau tahu rasanya begitu sakit mengetahui bahwa selama ini kau hanya ditipu oleh orang terdekatmu sendiri! tidak bisakah kau tidak berbohong!? Aku sudah muak semua ini bu! Kalau semuanya sudah selesai bisakah aku pergi saja?!"

"naruto.."

"berhentilah menangis. Bukankah ini yang selalu kau bicarakan, ini yang kau inginkan! Bukankah kau ingin menjauhkanku darimu!? Dengan menjadikanku ninja dan mengelabui pikiran polosku?! Kau keterlaluan bu.. inilah yang selalu kau nantikan selama beberapa bulan ini kan?! Memastikan aku menuruti semua alasan konyolmu? Terima kasih! Ini akan jadi hadiah terindah untuk ibu dariku!"

Bug. Bug!

Karena merasa amat marah, naruto membuang tas ranselnya yang berisi pakaian pemberian ibu. Ia juga membuang benda hitam yang diberikan ibu dari saku-nya. Jarak tanah dan pohon tak terlalu tinggi, dengan nekat ia melompat, menghindari pelukan ibu dan langsung berlari begitu turun. Bocah itu melarikan diri, ia langsung pulang kearah panti saat itu juga.

"naruto!"teriak ibu membelah malam, tapi bocah tadi sudah tak mendengarkannya. Jadi yang dilakukan ibu adalah turun dan memberesi semua barang yang dibelikannya untuk naruto dan mengumpulkannya. Hatinya terasa pedih, seolah teriris sembilu. Beginikah rasanya saat ditinggal oleh orang yang kau sayangi?

Tapi jika memang begitu. Apa tidak lebih sakit dibohongi selama bertahun-tahun oleh orang yang kau sayangi?

'sekalipun kau benar kau akan selalu salah satu hal naruto.. kasih sayangku padamu itu tidak palsu. Dan.. untuk semua kenangan manis bersamamu.. terima kasih.. bocah manis-ku yang sekarang membenciku. Maaf jika ini mengecewakanmu.. maaf telah menjadi ibu yang buruk dengan membohongimu.'

. . . . . . . .

Dari depan panti, tiga orang manusia berjubah hitam itu seolah tengah menunggu kehadiran seseorang. Mata meraka melihat kearah hutan, menyensorkan sebagian cakra mereka melalui berbagai media untuk mengetahui akan keberadaan orang yang ditunggu-tunggunya. Seketika seringai kecil terpampang di wajah salah satu dari mereka begitu mendapati sosok kecil berambut hitam tengah berlari-lari kearah mereka seolah tak sabar akan apa yang dihadiahkan mereka kepadanya kelak. Disamping ketiganya, ada pastur tua dan nyonya tua yang berdiri menenteng sebuah ransel berisi pakaian-pakaian si anak yang dimaksud. Tapi berbeda dari tatapan yang ditunjukkan oleh ketiga orang sebelumnya, dua orang tua renta ini kelihatan lebih terkejut dan sedih.

Anak tadi pulang sendirian tanpa ibu. Lebih buruknya kelihatannya anak itu tidak bisa memenuhi standar bagi mereka untuk bisa diandalkan agar bisa menjaga mereka.

"dimana ibu?!"Nyonya tua langsung berseru tanpa bisa ditahan. "mengapa kau pulang sendirian?! Mengapa kau tinggalkan ibu?"

Bocah tadi terengah-engah. Sekarang di kakinya telah terpasang sepatu shinobi yang telah dipakainya sebelum pulang kemari dan setelah pulang dari toko sepatu shinobi. Naruto sebenarnya enggan memandangi benda ini, ini hanya mengingatkannya pada penghianatan.

"apa kau tuli?! Ibu dimana?! Dimana kau meninggalkannya dan-"

Tiba-tiba ia muncul dari kepulan asap. Wanita itu langsung mengejutkan kedua civilians yang baru kali ini melihatnya melakukan jutsu.

"naruto tidak meninggalkanku. Aku tertinggal darinya, jadi mengapa tidak kita tunaikan semua kesepakatannya saja?"nada suara ibu mendingin di akhir kalimatnya.

"kalian bisa membawaku dan naruto. Dan berikan dana yang kalian janjikan."

Salah satu trio berjubah tadi mendencih. Ia mengambil scroll sepanjang 3 jengkal dari balik jubahnya. Wajahnya amat sangat merendahkan.

"kau yang harusnya berterima kasih. Kami hampir saja pergi dan menyeretmu dan menggagalkan perjanjian ini. Bersyukurlah karena dewi keberuntungan masih memberkatimu dan panti civilians ini."orangtadi melemparkan scroll kearah Nonou. Disaat yang sama Naruto menerima ransel berisi semua barang-barangnya selama enam tahun ini ke dalam pelukan.

"ini semua barangmu dan.."

Naruto menggeleng. "ada barangku yang pasti tertinggal. Aku akan mengambilnya."bocah itu langsung berlari masuk kedalam meninggalkan pastur, dan semua orang dewasa lainnya yang tidak bisa memprotes. Bahkan meskipun mengurusi kebutuhan naruto, tak ada yang benar-benar dekat dengan anak itu. Tidak, ibu pengecualian untuk itu. Tapi itu dulu sekali.. sebelum naruto tahu bahwa ia terhianati perasaannya sendiri.

Sreeek!

Ia membuka pintu kamar dengan tergesa. Tiba-tiba langsung berlari menuju ranjang dan mencari sesuatu yang disembunyikannya secara pribadi dibawah bantal tidur. Ternyata tak seorangpun anak telah tertidur, alhasil mereka memandangi Naruto dengan tatapan penuh tanya.

"kau akan kemana Naruto? Maksudku semua orang terus mempertanyakan keberadaanmu sejak tadi. Kami menginginkan kau membaca buku kemarin. Kau membuat kami menunggu.. dan ibu tua mengemasi barang-barangmu. Kau akan pergi kemana naruto?"

Naruto meraih bukunya. Ia membuka ransel dan menyimpannya begitu saja.

"aku akan pergi. Panti ini tak akan cukup untuk membuatku menjadi shinobi.. aku akan bekerja."

Anak itu membelalak. "ba-bagaimana bisa?! Kau yang termuda diantara kami! Mengapa kau harus bekerja dan ibu.. ibu masih bisa bekerja! Dan konoha akan memberikan-"

"kau melupakan satu hal terpenting."naruto memotong ringkas. "uang tak datang dengan sendirinya. Aku harus bekerja untuk membantu biaya panti.."

Selepas berkata seperti itu naruto keluar dari ruangan. Ia melangkah melewati koridor, tapi anak-anak lain yang belum tertidur keluar dari kamar mereka. Hari itu suasana panti terasa sangat asing dan tidak mengenakkan.

"apa kau akan meninggalkan kami naruto?! Apa kau tidak ingin bersama dengan kami?"

Tap! Tap!

Naruto terus melangkah. Tapi anak dibelakangnya juga ikut melangkah. "apa kau tidak ingin membacakan cerita kami lagi?"

". . . . . . . ."

Semua anak mengejar langkahnya. Naruto mengabaikan itu dan tak pernah menoleh kebelakang sebelum ia mencapai pintu keluar. Anak-anak tadi menyebut namanya berkali-kali, berniat memanggilnya.

"apa kau ingin menghabiskan waktu 6 tahunmu disini dengan percuma? Kembalilah naruto! Kami ini saudaramu! Kau adalah bagian dari kami! Apa kau tidak ingin mempertimbangkannya kembali? Kau bisa kembali naruto... ada kami disini dan besok akan berjalan seperti biasa. Kita bisa makan bersama-sama dan bermain. Apa kau tidak ingin tinggal dan lebih memilih menyia-nyiakan waktu itu?"

Dengan gerakan goyah, perlahan naruto membalikkan tubuh menatap anak-anak itu. Bocah-bocah itu mengulurkan tangan kearahnya dengan penuh harap dan tersenyum, berharap pada naruto. Tapi bocah itu tak kunjung memberikan isyarat uluran tangan yang sama.

"-kumohon.."

Mata naruto beralih ke dinding. Ia membaca jam disana sebentar, "apa kalian tahu bahwa saat ini waktunya untuk tidur?"setelah itu Naruto membalikkan diri dan melangkah keluar dari pintu. Langsung disambut oleh orang-orang dewasa berbaju hitam yang kelihatan tengah menunggu sesuatu.

"kita bisa pergi."ujarnya hampa. "aku tidak ingin melihat wajah-wajah itu menggentayangiku lagi."

Lantas ketiganya pun bersiap pergi. Tapi sebelum pergi, seseorang meraih tangan naruto. Mencengkeramnya erat.

"lepaskan.."gumam naruto mengantisipasi. Ternyata ia benar, itu adalah tangan ibu. Tapi bukannya jawaban, yang didapatnya adalah kecupatan hangat di kepala. Ibu menciumnya singkat dan memberikan sebuah benda hitam yang sama yang tadi dibuangnya ke tangannya. Di tangan lain, ibu telah menyiapkan sebuah gulungan kecil. Naruto tahu itu adalah fuinjutsu. Dugaannya langsung berarah pada ninjutsu medis. Itu membuatnya benar-benar muak.

"jika kau akan memberikan ninjutsu itu lagi aku tak akan perduli. Aku tak ingin melatih diriku menjadi seorang medic-nin."

Ibu yang menangkap ketidaksukaan naruto menggeleng. Ia memberikan benda itu, tetap melakukannya sekalipun sepasang mata hitam kelam bocah tadi mencoba mengintimidasinya dengan hawa tidak menyenangkan.

"terimalah. Aku tak akan berharap apapun selain kau ingin memilikinya. Itu pasti kau butuhkan. Percayalah bahwa aku tak menyiasati itu untuk meninggalkan peninggalanku untukmu."

"ini tak akan berhasil. Aku akan membuangnya nanti."naruto berkata dingin sambil menarik paksa gulungan itu dan benda hitam yang tadi diselipkan nonou di tangannya. "kalau begitu aku akan pergi. Tak ada lagi yang bisa menahanku disini."

"jangan dibuang.. kuharap kau bersedia menyimpannya meski tidak ingin. Itu pasti akan berguna untukmu. Itu satu-satunya yang bisa kujanjikan untukmu sebagai hadiah atas kasih sayangmu selama ini."

Naruto tak menggubrisnya. Ia langsung berjalan menghampiri ketiga orang berjubah tadi, menggenggam tangan salah satu pria untuk diajak bershunshin.

"kami akan merindukanmu naruto! Akan selalu merindukanmu!"teriak anak-anak dari ambang pintu. Mereka melambaikan tangan sedangkan naruto menatap mereka sekilas, ia membuang wajahnya jauh-jauh dari kenangan lama menyedihkan itu dan berlama-lama memandang kearah jam besar di atas pintu utama. Masih lama sekali sebelum ia dapat melihat jam tua itu kembali.

"apa kau siap?"

Mendengar pertanyaan itu naruto langsung menatap orang yang mengajaknya berbicara. Pria tadi tak meliriknya, dan ia memastikan bahwa ia harus mulai belajar membiasakan diri untuk berbicara tanpa menatap lawan bicara.

"siap."

"selamat datang pada dunia barumu... Shunshin!"

. . . . . . . . . .

Diiringi kepulan asap tebal keempat orang itu pun menghilang dalam kepulan asap menyisahkan Nonou, pastur tua, dan nyonya tua serta anak-anak yang belum tertidur. Tanpa diperhatikan oleh semua orang salah satu dari mereka tengah menundukkan wajah, seolah meratapi nasibnya dengan ketegaran yang dipaksakan.

'dan selamat tinggal juga semuanya..'pikir ibu sambil mengangkat tangan membuat seal. Ia tersenyum miris kearah pastur dan nyonya tua.

'selamat tinggal..'pikirnya.

"shunshin!"

.

TBC