Chapter 7

Awal yang baru.

. . . . . . . . .

Di dalam sebuah ruangan menyerupai training ground khusus Anbu, dua orang tengah berdiri di balik kaca. Mereka memandang kearah arena tempat segerombolan tes psikologis dilakukan. Suasana begitu sunyi, tapi dari balik kaca dapat dipastikan di dalam sana suasana tidaklah sama—jeritan melolong pasti terdengar di dalam area ruang berpenampilan tempat interogasi itu.

"aku akan memberimu rentang waktu sampai 8 tahun. Ini akan menjadi misi yang panjang."danzou berbicara sambil memandangi pasukannya yang melakukan berbagai terapi mental dibawah sana. Dari ujung mata ia melirik Nonou Yakushi yang matanya tak lepas memandang kearah area terapi Metode genjutsu. Tidak mau dipungkiri meskipun itu hanya menyiksa mental tapi kerusakan yang ditimbulkannya pastilebih dari sekedar parah.

"Konoha hanya akan melahirkan sampah dibanding ninja berkualitas dengan didikan penuh lemah lembut Hokage ketiga. Sebagai ninja kau tidak boleh munafik pada hal itu."

Sebelum misi dilaksanakan, Nonou Yakushi memang dilatih kembali menjadi ninja oleh NE. Itu memakan waktu satu minggu sebelum kepergiannya, dan sekarang ia sudah lebih tidak manusiawi kembali dibanding sebelumnya. Tapi entah bagaimana, saat matanya berpaku pada anak kecil satu-satunya dibawah sana, tiba-tiba hatinya terasa digorok, bola matanya terasa panas.

"pelatihan ini menyesatkan. Seharusnya masih cukup lama sebelum ia diberi pelatihan semacam ini."

Danzou berdecak. "apa kau kelihatan mengembalikan emosimu? Aku sarankan kau agar menghilangkan itu sebelum misi ini berjalan. Mengingat semua perjanjian kita.. kau akan tahu konsekuensinya."

Nonou terlihat mengabaikan Danzou, sebaliknya ia berjalan maju meninggalkan pria itu.

"tenang saja. Aku selalu ingat janjiku, dan ingat saja bagianmu dan NE. Kupastikan misi ini juga tak akan berjalan lancar jika bagianmu tak kau penuhi."setelah berkata seperti itu ia pun menghilang dalam shunshin.

Kepulan asap menghilang, Danzou memandang kearah dalam kaca, matanya berkilat misterius.

"Root.."panggilnya pelan. Dari kegelapan munculah sosok berseragam sama khas NE yang tadi dikenakan Nonou.

"aku ingin mulai saat ini pelatihan bagi Bocah itu ditingkatkan. Berikan ia penderitaan dan pelatihan keras melebihi siapapun di kesatuan. Laksanakan."selepas itu Anbu tadi menghilang dan muncul ke dalam ruang pelatihan mental tersebut. Danzou yang melihatnya hanya mendiamkan diri dan pergi meninggalkan area penuh kegelapan itu.

. . . . . . . . .

Disisi lainnya.

Pria berbendana dengan jubah hitam panjang dan tubuh kekar itu langsung mengangguk begitu seseorang membisikinya sesuatu. Kali ini atensinya berbalik pada bocah yang terikat di kursi dihadapannya yang napasnya terdengar tidak beraturan. Tubuh bocah itu begitu kurus, kali ini ia menatap kearahnya dengan tatapan takut-takut yang sama seperti yang telah dilihatnya kearah ninja lainnya disini. Tiba-tiba, ia berdiri kemudian memberikan isyarat pada ninja lain untuk mencabut sakelar kursi setrum itu. Seketika seringainya mengembang melihat si anak yang kelihatan ketakutan.

"apa kau takut?"

Bocah tadi tidak menjawabnya. Bahkan bergerak sedikitpun tidak, itu membuat kesenangannya semakin meningkat.

"aku memiliki sesuatu untukmu sebagai hadiah."ujarnya lagi. Kali ini beranjak dari tempatnya demi mengambil sebuah baskom berisi air yang terletak di sudut ruangan. Sekejab kemudian ia sudah kembali lagi sambil menenteng tempat air itu.

"aku akan perkenalkan padamu apa yang biasanya kulakukan pada ninja-ninja yang kumentori. Kupastikan ini akan jadi malam yang akan selalu kau kenang."

Bocah bernama Naruto itu menggeleng, sesuatu yang dipikirkannya menjadi tidak bagus. Tapi ia tidak bisa melawan, tubuhnya terasa bergetar semuanya karena efek setruman listrik sebelum ini. Dan kali ini ada air, apa yang terjadi berikutnya pasti akan menjadi mengerikan.

"ya. Dan itu benar-benar akan berkesan di otakmu. Jadi bisakah beritahu aku atas apa yang dikatakan semua pelatih yang melatihmu seharian ini?"

Dalam NE, terdapat sebuah standar bagi para anggotanya. Yaitu ingatan tajam yang harus menguasai semua hal yang terjadi atau semua perkataan orang yang dianggap mengandung informasi setiap harinya. Dan itu terjadi setiap hari dengan berbagai topik dan mentor yang berbeda, setiap dari mereka akan memberikan penjelasan panjang dan kau dituntut untuk menghapal semua yang dikatakan tanpa kehilangan kata satupun. Itu diwajibkan agar para Anbu yang mengulik informasi tidak pernah salah perhitungan dan ketinggalan satu kata saja bisa dikatakan sebagai cacat.

". . . . . . . . . ."

Pria berkepala plontos tetapi tertutupi bendana berlambang Konohagakure itu kian melebarkan senyumnya. Lagi-lagi tangannya membuat isyarat tak terlihat, ia memandang bocah dihadapannya penuh intimidasi.

"apa kau tau apa yang terjadi bila dua elemen berpasangan dipertemukan? Seperti misalnya petir dan air?"

"i...i-itu a-aakan.. me-mmembesar.."gumam takut naruto. "apa kau...-"

Ibiki mengangguk mantap. "katakan padaku sebesar apa?"

Badan naruto bergidik. Tapi ia tidak boleh membuka mulut, itu sudah aturan di markas yang ditempatinya 1 minggu ini. Membuka mulut dan kau akan dipukul, tubuhnya sendiri sudah penuh memar. Alhasil ia hanya diam, sambil berharap bahwa apa yang dipikirkannya tidak benar. Tapi orang besar dihadapannya kelihatan tidak mengerti, dengan gerakan tegas ia malah menyipratkan semua air tadi ketubuhnya.

Byuuuur!

"kalau kau begitu keras kepala, maka kita akan memasuki level yang lebih sulit."

Dengan satu jentikan tangan, neraka di dunia anak itu diciptakan. Berupa kilatan berpendar biru yang menyetrum lembut ditubuh basah si anak.

"t-ttidaaaaaaaaaaaak!"

Bruk!

Tiba-tiba, tanpa disadari ibiki Naruto memberontak. Ia melepaskan sebelah ikatan tangannya di kursi beraliran listrik kejut tersebut. Belum sempat ia melakukan beberapa tindakan lainnya, secara instingtif Naruto sudah berdiri. Masih dengan penampilan terikatnya dan kursi yang ikut terangkat. Tubuh bocah itu begitu lebam, seperti hangus-hangus kecil. Tapi ada yang lebih mengejutkan dibandingkan itu semua.

"kau..-"

Naruto maju, ia langsung menubruk ibiki dan memukulnya. Pria tadi langsung menangkisnya, tapi karena sengatan listrik masih menggentayangi tubuh naruto alhasil itu juga ikut menyalur ditubuh ibiki. Mereka berhadapan, mata naruto melotot kearahnya geram.

"apa kau bisa merasakan rasa sakit ini?! A-aaku t-ttidak tahan!"

Ibiki menahan sengatan demi sengatan listrik itu sambil menatap naruto. "apa kau ingin mengeluh dan mengadu pada orang yang kau sebut sebagai ibu itu?"

"aku-"

"ingin mengeluh, memelas, menangis dan minta dibacakan dongeng? Apa kau ingin wanita itu untuk menyanyikanmu sebelum tidur? Atau kau ingin menangis terisak-isak dan mengadu padanya bahwa kau takut menjadi ninja?"

"berhenti mengatakan tentang dirinya aku tidak-"

"kau ingin menangis! Mengadu padanya dan meratapi nasibmu! Kau ini hanya bocah lemah yang ingin mengadu pada ibu atas tindakan sewenang-wenang orang lain terhadapmu! Ingin berlindung di balik tubuh ibumu! BETAPA MENYEDIHKAN! Kau masih mengharapkan bahkan orang yang telah menghianatimu! Termasuk didalamnya menontonmu disiksa disini dan ia tetap bisa berdiri tenang dengan senyum melihatmu terluka! Kau bocah yang terbuang nak! Ia pasti sudah pulang dan tidur di kasurnya dan membacakan dongeng untuk teman-teman kesayanganmu itu! Berguling-guling sambil bernyanyi-nyanyi atau menyuapi anak-anaknya yang lebih baik dari dirimu dan menyayanginya sepenuh hati. Dan kau sengaja dibuangnya. Disini!"

"berhenti! Aku tidak ingin mendengar tentangnya! Aku-"naruto sudah siap mengepalkan tangannya lagi. "aku tidak suka kau menghina ku! Jangan samakan aku dengan mereka! Aku ini berbeda dan-"

"dan sama payahnya. Lihat saja ia dengan baik-baik saja melepasmu tanpa terbebani, meninggalkanmu karena kau ini memang tak berharga di depan matanya! Betapa senangnya dia, oh ya dan kudengar panti itu tengah mengadakan sebuah syukuran! Itu pasti tentang dirimu dan perginya anak sepertimu dari sana! Mereka seolah membuang sial dari kehidupan mereka."

Ibiki menatap dalam kearah mata naruto. Bocah itu seolah kehabisan tenaganya dan menunduk menyembunyikan wajahnya. Ia hendak menegakkan tubuh naruto, tapi sebaliknya, ternyata tanpa disadarinya naruto telah mengepalkan tinjunya. Air mata anak itu mengalir deras.

"akan kubuktikan kau salah!"

Duakh!

Selepas berkata seperti itu naruto langsung melepaskan tubuhnya dari lilitan tali. Ia melakukannya dengan cepat dan langsung berlari keluar dari ruangan itu. Ibiki langsung berdiri, pria itu juga langsung bergerak mengejar naruto. Keduanya keluar dari markas NE. Karena seminggu penuh ini naruto dilatih untuk menguasai Control cakra panjat, sehingga dengan mudahnya ia sudah dapat keluar dari markas dan langsung menghambur kesela-sela pepohonan sambil mengalirkan cakra kearah kedua kakinya.

Tap!

Tap!

Tap!

Naruto dengan baju hitam dan celana panjang warna hitam berlari menembus belantara. Ia sudah hafal betul rute menuju panti asuhan di penghujung hutan kematian itu, itu sebabnya ia berlari. Paling tidak ia ingin memastikan apa yang dikatakan oleh ninja tad adalah salah. Dan ia ingin ibu tak melakukan hal itu, menyayangi anak-anak itu dan memeluk mereka. Ia benci membayangkannya, jadi ia cepat-cepat menuju kearah panti.

'ibu tidak mungkin menyayangi mereka kan?'

Tap!

'ibu.. ia hanya menyayangiku kan?!'

.

Tak jauh dari dirinya Ibiki mengikutinya dan dua pengawal NE lainnya.

"apa menurutmu kita harus menghentikannya taichou?"

Ibiki menggeleng, ia menatap lurus kearah punggung bocah yang dimentorinya.

"tak perlu. Aku yakin akan ada hal yang harus dilihatnya. Ini semua akan jadi menyenangkan."

"maksudmu taichou?"tanya Anbu yang lain. Mereka berhenti saat mulai mendekati pinggiran hutan. Dengan talenta terlatih ketiganya menekan cakra mereka sampai titik paling rendah. Mereka memutuskan berhenti bergerak saat jarak tinggal 70 meter lagi dari panti. Di seberang mereka, bocah tadi tengah berjalan pelan mengendap-ngendap kearah jendela panti.

"kau akan tahu. Ini juga merupakan bagian dari eksperimen Tuan."

.

Dari luar kaca jendela tampak satu meja makan panjang tengah dipenuhi penerangan lilin. Suasana-nya begitu mewah dan hangat. Semua anak terlihat bahagia, mereka semua duduk di kursi masing-masing.

'rupanya mereka tetap mengosongkan kursiku.'pikir naruto sedikit senang. Ia mengintip, dan menunggu. Seingatnya ibu pasti akan keluar sebentar lagi, dan pastur telah mengambil tempat. Nyonya tua juga telah berada ditempatnya. Tapi ia juga berpikir, bukankah ibu mengatakan bahwa ia beserta ibu akan pergi dari panti?

Makan malam dihidangkan. Naruto menungguinya dengan sabar, sesekali ia melirik kearah koridor yang mengarah ke dapur, berharap bahwa tidak akan ada seseorang yang keluar dari sana. Jadi ia bersabar, sampai semua orang hampir selesai makan dan ia masih menunggu. Paling tidak ia senang akan satu hal, ibu tak membohonginya bahwa mereka akan meninggalkan panti bersama-sama.

'aku yakin aku harus pergi. Orang itu hanya menipuku saja.'naruto dengan riang. Ia hendak berbalik, tapi sebelum suara lirih menggugahnya.

"mengapa kalian langsung beranjak tidur? Tidak maukah kalian ibu bacakan dongeng?"

Deg!

Mata naruto melebar. Ia membelalak dan membalikkan tubuh langsung mengahadap kembali kearah dalam ruangan. Disana, sosok yang amat disayanginya sekaligus orang yang menghianatinya! Ibunya tengah berdiri dan dengan tatapan sayangnya mengelus kepala salah satu bocah.

"kalian tak perlu takut. Ibu ada disini dan menyayangi kalian. Tidak perlu khawatir.. bocah sial itu tak ada lagi disini."ibu memeluk salah satu anak. "kalian bisa meminta ibu membacakan dongeng lagi. Kali ini tak akan ada yang memarahi kalian. Ibu menyayangi kalian, jadi kita harus merayakan perginya naruto dari panti."

Salah satu anak yang dikenal naruto langsung mengangguk. "ibu benar-benar menyayangi kami kan? Selama ini ibu hanya berpura-pura menyayangi bocah itu kan?"

Tangan naruto terkepal.

"tentu saja. Ibu hanya berpura-pura menyayangi bocah itu karena dia akan mengganggu kalian jika tidak seperti itu. Sekarang bersyukurlah. Kita tak perlu berpura-pura lagi."

Salah satu bocah memeluk ibu erat, ibu membalas pelukannya sayang. "baguslah. Kami juga lelah berpura-pura. Memangnya siapa yang sudi membuatnya tinggal berlama-lama disini? Dia itu hanya mengyusahkan panti dan ibu. Sudah seharusnya dia disingkirkan ya kan bu?"

Tetes mata naruto perlahan menuruni pipi. Anak itu masih berdiri mendengarkan.

"dan semua kebohongan itu harus tampak nyata. Terima kasih karena kalian telah berakting bodoh didepan anak itu, ibu suka dan ibu bangga pada kalian. Tak tahu kah kalian bahwa ibu merasa sangat bahagia sekali ia pergi dari sini? Itu seperti parasit telah dihilangkan. Sekarang kalian bisa mendapatkan kasih sayang ibu tanpa ada yang memarahi lagi!"

Semua anak bersorak. Mereka menyanyikan lagi asing yang baru didengar naruto dengan gembira. Menari-nari bahkan ibu mengeluarkan sebuah kue. Kue indah yang kelihatan besar, dan mahal.

"buat permintan. Ada yang mau memberi usul?"

Bahkan naruto dapat melihat pastur tersenyum dan nyonya tua tertawa. Suasana itu berbanding terbalik dengan saat ia berada di panti. Pastur jarang tersenyum dan bahagia begitupun nyonya tua.

"bagaimana jika.."salah satu anak memberi usul. Dia adalah anak sekamar naruto yang sering meminta dibacakan buku, "bocah sial bernama naruto itu tidak kembali lagi ke panti selamanya?! Seperti mati dibunuh saat misi? Semua orang juga tahu dia adalah yang paling lemah kan? Bagaimana?"

Anak lain bertepuk tangan. Dan ibu bahkan tersenyum lebar. "semoga naruto tak pernah kembali dan dia mati di bunuh monster!"

Di luar panti naruto menggertakkan gigi. Kedua tangannya terkepal erat, matanya sudah sembab. Dan sekarang memerah, tapi lebih dari itu ia merasa sesuatu seolah ingin keluar dari dirinya. Sesuatu yang meminta dibebaskan dari dalam dirinya.

"kenapa kau begitu tega ibu?!"ia lelah. Tapi dalam dirinya masih terdapat emosi, emosi yang terus bergejolak ingin keluar. Ia mulai melangkah mencoba berjalan meninggalkan tempat itu, tapi tiba-tiba pintu depan terbuka. Dan sosok pirang memandangnya berikut anak-anak yang tiba-tiba keluar ruangan.

"mengapa kau kemari?!"tanya tiba-tiba ibu. "kami tak mengharapkanmu disini!"

"ya disini kau tak memiliki tempat!"teriak anak lain sambil memelu ibu seolah melindunginya. "kau tidak puas melihat ibu yang menderita?!"

Anak lain menyahut. "kau tahu!? Ibumu itu sebenarnya jalang! Dan kau itu lebih rendah daripada kami! Kami hanya berpura-pura melemah dimatamu agar kau merasa cukup berharga. Tapi sekarang tidak lagi, kami akan menghajarmu kalau kembali lagi kemari!"

"jadi kalian-"geram naruto. "dan kau ibu.."

"aku bukan ibumu. Jangan panggil aku seperti itu lagi."

Semua anak panti tiba-tiba mengepungnya.

"apa yang ingin kalian lakukan gha?!"

Tiba-tiba satu pukulan menghantam wajah naruto. Disusul anak lain yang langsung mengerubunginya dan mendaratkan pukulan. Naruto dikeroyok, ia dipukuli habis-habisan.

"kau sialan! Kenapa kembali lagi!?"

Duakh!

"kau membuat ibu kami sedih! Mati saja kau!"

Duakh! Duakh!

"kau itu menjijikkan! Kau lebih rendah dari sampah!"

Duakh!

"dasar anak jalang! Pergi saja sana! Harusnya kau tidak dilahirkan saja! Kau itu pembawa sial."

"uhuk-uhuk! Berhenti kata..ku! uhuk!"

Naruto tidak bisa melawan. Ia sudah kehabisan tenaga sampai anak-anak tadi menyudahi aksinya dan berhenti. Ia mendongakkan wajah saat ibu mendekat kearahnya. Tangan wanita itu begitu bersih, ia berharap ibu akan menyayanginya dan mengelus kepalanya seperti biasanya. Tapi diluar dugaan, ibu menjambak rambutnya.

"kau anak yang tidak tahu diuntung."katanya dingin.

"ibu.. maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk memarahi ibu sebelumnya. Aku hanya.."

"aku tak perduli. Kau itu hina! Anak jalang yang tak pantas untuk disebut manusia."ibu mendorongkan kepala naruto. Ia bahkan mengabaikan naruto. Itu mendorong sesuatu yang sama besarnya seperti sebelumnya untuk keluar dari naruto. Tapi bocah itu masih menahannya.

"kau kan hina. Jadi tidak apakan kami membuang kotoran diatasmu?"salah satu anak membuka celananya. Serombongan anak laki-laki melakukan hal yang sama. Mereka mengencingi naruto. Dan tertawa-tawa atasnya. Naruto yang menyadari ini tak tinggal diam, ia bahkan berdiri, dan dengan kesedihan penuhnya ia menghempaskan anak terdekat yang mengencinginya.

"aku sudah cukup muak dengan semuanya."kata naruto dengan suara bergetar. "aku benci hidup yang kalian katakan. Aku benci penghianatan ini. Dan semua yang telah kupercayai hancur. Aku benci kalian semua!"

Tiba-tiba, naruto melepaskan segala ikatan yang menyumbat hatinya. Ia melepaskan apa yang selama ini ia berusaha untuk tahan. Dari dalam kegelapan sepasang mata merah bersinar cemerlang. Memutarkan dua tomoe di sepasang bola matanya sedangkan semua anak yang menatap ini menjadi panik.

"aku tak akan kembali lagi kemari! Ini adalah janji seumur hidupku! Aku membenci penghianatan dan selamanya aku akan mengingat ini! Wajah-wajah menyedihkan kalian! Aku akan mengingatnya! Aku tak akan perduli lagi pada kalian! Aku akan meninggalkan kalian seorang diri sejak sekarang!"

. . . . . . . . .

Ibiki dan Orochimaru berjengit begitu saja saat seusai Naruto berteriak ia membuka mata dan yang menatap mereka tak lagi mata yang sama. Bukan mata hitam berkilat bocah itu yang kental nuansa mengintimidasi, tapi mata penuh kebencian yang nyata.

"d-dia.."lirih orochimaru. Tapi sebelum ia sampai mengucapkan satu katapun, naruto langsung pingsan. Bocah itu terkulai dikursinya tempat mereka memasangkan genjutsu sebelumnya. Bahkan dirasa mustahil untuk bocah seukuran naruto mematahkan genjutsu itu. Walau sekejab, tapi ternyata bocah itu berhasil melakukan hal yang bahkan tak semua jounin atau hanya selevelan jounin yang bisa mematahkannya.

"khu-khuku.. kau lihat apa yang kulihat Ibiki?"

Pria botak itu mengangguk. "sharingan.. tapi mengapa bocah ini tidak tinggal di uchiha compound?"

Orochimaru mendekati kursi tempat bocah berambut hitam itu bersender. Ia menjilat bibirnya sejenak, "siapa yang tahu? Sebuah panti menyimpan benda berharga seperti ini. Tak perduli apapun alasannya.."

Mata emas itu bertemu dengan mata si interogator.

"Uchiha tetaplah Uchiha. Itu bisa diurus nanti.. yang terpenting kita harus melaporkan hal ini terlebih dulu pada tuan."

Ibiki mengangguk setuju. Ia melepaskan ikatan tubuh Naruto dan memanggulnya. Mereka keluar dari dalam ruangan hitam tersebut.

'aku sudah menduga bahwa anak ini memiliki keistimewaan. Sebuah Doujutsu..'pikir Orochimaru sambil keluar. Ia melangkah dengan tenang menyebrangi lorong gelap tersebut, mereka menuju kearah pintu keluar markas yang berhubungan langsung dengan jembatan kayu melayang tempat mereka para Root menerima misi.

"tunggu dulu ibiki."tiba-tiba orochimaru berhenti berjalan.

"apa yang kau tunggu?"

Seringai mengerikan itu muncul lagi. Orochimaru berdehem, ia kembali menyarungkan tutup kepalanya ke atas kepala.

"ada yang harus kulakukan. Aku tak boleh melewatkannya lagi. Kau temuilah Danzou-sama seorang diri,"

Dalam shunshin apinya orochimaru menghilang. Ibiki Morino kembali melangkah menuju tuannya yang tengah berdiri memandang kedalam kegelapan.

"lapor tuan.."

Ibiki langsung membungkuk begitu sampai di depan si tetua. "ini semua diluar perkiraan kita. Ternyata bocah bernama Naruto ini adalah.."danzou belum mengarahkan atensinya kearah Ibiki.

"...-Uchiha."

Detik itu juga sang tetua mengganti ekspresinya menjadi sesuatu yang lain. Dan mulai saat itu sesuatu akan berubah untuk masa depan bocah tanpa marga yang adalah seorang Uchiha!

TBC.