Aku bersyukur karena ada yang telah membaca fic-ku dan meninggalkan jejaknya demi semangatku. Well, itu apresiasi yang besar untuk author atau reader yang telah melakukannya.
Untuk alur, aku akan menyiapkan kejutan di chapter selanjutnya yang rencananya akan ku update full selama liburan-ku ini. Kuharap itu tidak mengecewakan para readerku semua.
Dan masalah lambatnya alurku sebelumnya, well, tebak saja mengapa aku perlu melakukan hal tersebut. Untuk saran, lebih baik kukatakan jangan mengatakannya terang-terangan di review, karena itu akan membuat misteri cerita menjadi hilang. Contact aku dari PM.
Sekian.
SEMOGA CERITAKU TIDAK MEMBOSANKAN.
Chapter 8
Tim yang terbagi
. . . . . . . . .
"aku akan mengajarimu ninjutsu."
Bocah itu memperhatikan dengan baik saat seorang bertopeng langsung membuat segel tangan dengan cepat.
"katon : goukakyou no jutsu!"
Semburan api besar mencuat dari mulut pria itu. Berkumpul kearah lima meter kedepan dan mengumpulkan bola api besar yang panas. Jutsu itu terus bertahan sampai lima menit, dan selama itu hawa panasnya tak penah memudar. Pria tadi mengakhiri jutsunya dengan bangga, kemudian ia melirik kearah bocah disebelahnya yang mengamatinya dengan mata serius.
"kau boleh mencobanya. Akan lebih mudah dengan menggunakan sharingan."
Bocah tadi mengangguk, dan dengan cekatan mengalirkan cakra secukupnya ke kedua matanya. Ia sudah diberitahu perihal sharingan ini sebelumnya, dan bukan masalah sebab setelah beberapa kali menggunakan sharingan maka carkra tak akan terkuras habis seperti saat pertama kali mengaktifkannya. Kedua tangannya di letakkan di depan dada, ia memberi anggukan kepada mentornya dan langsung membuat seal yang sama yang tadi dilihatnya.
"katon : goukakyou no jutsu!"
Dada naruto menggembung, ia menyemburkan sejumlah masa api ke arah depan yang cakupannya kurang lebih tiga meter dari tempatnya berdiri. Tadi api itu masih relatif kecil jika dibandingkan dengan katon yang dikeluarkan sang mentor sebelumnya. Ia mempertahankan bola apinya selama beberapa saat, sebelum akhirnya menakhirinya dan melirik kembali kearah sang mentor yang terlihat bersedekap ringan.
"bagus. Kau menguasainya. Itu cukup mengejutkan."
Naruto mengangguk. "mengapa bola apimu lebih besar dari bola apiku?"
Orang tadi terlihat mengindahkan pertanyaan naruto dan lebih memilih memandangi ujung training ground khusus Anbu ini. Matanya menerawang jauh dari tempatnya berdiri, "itu karena cakraku lebih banyak dari yang kau miliki."
Naruto mengangguk-angguk, ia sudah hendak bertanya lagi sebelum satu kepulan asap muncul di dekat mereka. Seketika, mentor-nya mengaktifkan mata sharingan yang dimilikinya. Naruto juga ikut mengalihkan atensinya tanpa menonaktifkan mata khas uchiha itu.
"tuan memanggilmu."kata orang tadi singkat. "dan untukmu.. tim baru akan menerimamu hari ini."imbuhnya sambil melirik kearah bocah uchiha bersharingan disana. Setelah berkata seperti itu ia langsung menghilang dalam shunshin. Begitu itu terjadi naruto merasakan ada tangan yang mencengkeram bahu-nya.
"mungkin seharusnya kau mempelajari shunshin setelah ini berakhir."kata orang itu dan mereka menghilang dalam kilat samar berwarna hitam.
. . . . . . . .
Setelah tiba di tempat yang telah dipastikan oleh ninja yang membawanya shunshin, naruto langsung mendapatkan seperangkat seragam dalam tumpukan rampi berikut dengan sebuah topeng di atasnya. Ninja yang memberikannya benda itu melakukannya secara otomatis dengan suara tegas yang terlatih dan terkesan tidak penuh tolerir.
"ini se-set seragammu. Kita harus berkumpul beberapa menit lagi di tempat yang biasa."
"di mengerti."kata naruto pelan dan menyambut set seragam itu dan lekas mencari tempat untuk mengganti setelannya dengan seragam yang baru diberikan. Sebuah celana panjang Anbu hitam dan jaket ulu hati, karena naruto merasa agak terlalu terbuka bila ia hanya mengenakan jaketnya, jadi ia tetap mempertahankan kaos hitam dalamannya. Sepasang tangannya dibalut kedalam kaos tangan hitam polos, sebuah tanto menggantung di salah satu punggungnya searah vertikal. Terakhir dan yang paling utama adalah benda yang berada paling atas dari set seragam tadi, sebuah benda putih dengan lengkungan sedikit dan sorak hitam berikut miniatur telinga lancip di ujung topeng.
'aku harus bergegas.'pikir naruto sambil melompat keluar ruangan gelap itu dengan sigap dan keseimbangan yang cukup menjanjikan.
Di sisi lainnya.
Bocah yang ditunggu akhirnya muncul. Itu tepat seperti waktu yang diminta oleh sang komando Root itu. Kali ini ia didampingi oleh pengawal berambut oranye dan pengawal clan aburame. Sang sannin tak berdiri di sisi manapun. Dihadapannya terlihat beberapa orang yang berlutut. Seperti seharusnya orang terakhir menduduki posisi terbelakang dan merupakan orang nomor dua paling kecil di dalam rombongan.
"aku telah menyatukan kalian dalam satu divisi pengintaian yang telah kubuat. Dan hari ini satu anggota kembali kutambahkan. Ookami. Kuharapkan tak akan terjadi keributan tidak perlu begitu misi-misi desa diemban setelah ini."
Danzou menggendikkan kepalanya memberi isyarat kepada semua pasukan yang menundukan kepala dihadapannya.
"semua boleh pergi. Kecuali ookami. Kau tetap tinggal disini."
Begitu perintah diberikan semua orang langsung menghilang menggunakan shunshin masing-masing. Di sana, hanya terlihat satu manusia yang membungkuk ringkuh dengan topeng putih bercorak hitam berbentuk serigala, danzou menatap kearah anak itu dengan tatapan tegasnya.
"meskipun semua orang tahu kau adalah uchiha. Di dalam NE kau bukanlah siapa-siapa. Bahkan sekalipun hanya nama, disini kau tak punya jati diri, tak punya kasih sayang dan ayah ibumu adalah NE. Kau harus mematuhi semua perintah yang kuberikan padamu dan mengerjakan misi tanpa cela. Kau akan dibayar sesuai misi yang kuberikan dan tentu saja kau tidak boleh tertangkap musuh. Apapun yang terjadi selamatkan diri dan jangan perdulikan rekanmu. Hidupmu untuk dirimu sendiri, tinggalkan rekan yang menyulitkan misimu."
Naruto masih terdiam di tempatnya. Ia memasang telinga-nya baik-baik.
"Untuk menjadi shinobi kau harus rela mengorbankan diri, Menutup mata terhadap sinar matahari, membedakan diri dalam kegelapan.. Itu adalah bentuk sesungguhnya dari ninja." Ia menghela napasnya perlahan. "kau harus mencegah musuh mendapat informasi jika sampai tertangkap, bagaimanapun caranya desa adalah tempat yang harus kau lindungi. Aku mewajibkanmu dan semua anggota lainnya melakukan bunuh diri jika diperlukan."
Tangan Danzou sedikit terangkat, Anbu yang memiliki tato, si anggota dari clan Aburame langsung melangkah maju seiring tanda yang diberikan. Pria itu mendekat kearah bocah yang tengah berlutut disana.
"dan kau harus menjamin bahwa semua tentang markas dan aku tak pernah bocor keluar."
Membuka suaranya, naruto memberikan tanggapan dengan mantap. "ha'i."
Pria Aburame tadi sudah semakin mendekat, Danzou memberikan pernyataan terakhirnya. "dan aku tak akan mempercayaimu semudah itu. Untuk itu aku akan memberimu tanda agar kau tak melakukan apapun hal yang merugikan markas dan aku.."
Naruto mengangkat wajahnya sebentar, tapi saat ia melakukannya yang terjadi benar-benar diluar dugaannya. Pria aburame tadi langsung muncul di depan wajahnya, melepaskan topengnya dan mencekiknya hingga lidahnya terjulur keluar. Orang tadi menariknya dengan paksa, kemudian mengalirkan cakranya paksa kepada daging tak bertulang tersebut dengan tanpa gentar. Naruto menggeliat, ia melebarkan matanya.
"a-ap-"
Seorang lagi datang. Dan dari hawa cakranya naruto mengenali itu sebagai seorang yang dikenalnya sebelumnya. Cakra dingin dan hawa penuh intimidasi yang tegas.
"Uzhiou no juinjutsu!"
Seketika naruto berteriak begitu cakra aneh dari tangan si tetua mengalir menggilas lidahnya. Perlahan-lahan memunculkan 6 garis horizontal tebal memanjang ke pangkal lidah dan menampakkan wujud patahan garis pada dua bagian garis terakhir.
'seorang uchiha memang hanya untuk NE. Apapun itu.'
.
.
.
Gedung hokage konohagakure.
Seorang pria pirang muda tengah menghadap pada hokage ketiga. Ditangannya sebuah kertas terlampir gambar sosok ninja muda lainnya dengan statistik data kemampuan si ninja. Ia menyerahkan benda tersebut dengan sikap sopan kepada sang kepala desa.
"aku ingin mengusulkan kakashi-kun untuk menjadi seorang ANBU hokage-sama."
Pria berambut kecoklatan pudar itu menatap jounin elit-nya itu serius. "apa kau yakin dengan ini Minato? Kita semua tahu bahwa dengan memasuki dunia ANBU tak akan ada lagi kesenangan yang dapat diperolehnya. Itu seperti memasukkan buah segar kedalam lemari tua dalam gudang yang gelap. Ini bukan hal yang biasa, aku yakin Shiroi kiba tak akan terlalu menyukai ini."
"ha'i. Anda benar adanya, tapi tak ada cara lainnya. Ia kehilangan timnya tepat ketika misi itu merenggut keduanya secara berurutan. Uchiha Obito dan Nohara Rin, psikologinya benar-benar terganggu sejak hari itu."jelas Minato sambil menghembuskan napasnya lelah. "Anda sendiri tahu bagaimana sebuah perang bisa merenggut kebahagiaan semua orang. Termasuk didalamnya seorang Prodigy jounin muda yang melaksanakan misi di tengah perang dengan tim genin kecilnya. Kakashi-kun menjadi tertekan sejak peristiwa itu."
Hokage ketiga kelihatan berpikiran serupa. Ia juga menampilkan gurat wajah penuh sesal yang selama ini telah berusaha untuk disembunyikannya.
"perang selalu melahirkan kebencian, kekosongan dan penderitaan. Itulah hidup dan kenyataannya, dan semua hal ini hanya karena permasalahan selisih paham antar kepala negara mereka. Sekalipun semuanya termotivasi dengan kedamaian. Semua orang menjadi begitu egois dengan mengatas namakan perang atas semua kedamaian. Semua perang ini hanya bermotif kedamaian, yang malah sesungguhnya adalah neraka itu sendiri."
Hiruzen memandang kearah diagram kemampuan ninja tadi, meliriknya sebentar sebelum meletakkannya kembali ke atas meja dengan lunglai.
"aku memahami maksudmu Minato. Apa ada hal lainnya yang ingin kau sampaikan?"
"ah tidak Hokage-sama. Kalau begitu aku mohon diri."ujarnya berlalu dari ruangan. Selepas kepergiannya, Hiruzen sarutobi melirik kearah jendela tembus pandangnya. Kelihatan seperti mengenang sesuatu sambil kembali menulis kembali ke atas lembaran-lembaran menggunung kertas di atas meja.
. . . . . . . . . .
Jika ada yang berkata bahwa cabang informasi selayaknya sarang laba-laba, orang itu pasti seratus delapan puluh persen benar adanya. Dalam beberapa detik saja, setelah pertemuan Hokage dengan salah satu Jounin elitnya, bocah bertopeng Serigala itu sudah bisa berlari dengan kecepatan penuhnya kembali kedalam markas mereka di tengah hutan. Sekilas, tampak dengan mata telanjang siluet-siluet hitam berlalu lalang melompati dahan-dahan hutan dengan gerakan gesit. Dari kejauhan tampak juga pita merah-nya berkibar tertiup angin. Tak jauh dari hadapannya, sebuah mulut gua dijaga dua orang bertopeng dengan jubah hitam telah muncul. Ia masuk tanpa ragu-ragu dan menemukan sebuah tempat pertemuan pilar dan jembatan layang di atas kegelapan.
"lapor Danzou-sama."
Pria tua di ujung sana terlihat melirik kearahnya sebentar. Ia menganggukkan kepalanya sedikit.
"Kiroii-senkou menemui Hokage-sama hari ini. Mereka membicarakan tentang Hatake kakashi.. dan perekrutannya menjadi ANBU Hokage."
Danzou masih memasang wajah tenangnya. Sebaliknya, ia malah merogoh saku-nya, kemudian melemparkan sebuah gulungan sepanjang 2 hasta tangan ke arah Anbu tadi yang ditangkap dengan cukup sigap.
"seseorang akan menemanimu. Kau dan dirinya kutugaskan untuk menukar gulungan itu dengan salah satu sannin di laboratorium Konoha di tengah hutan."
Tiba-tiba dari dalam kegelapan, diikuti dengan isyarat tangan Danzou munculah seorang bocah lainnya yang kelihatannya lebih tua dua atau tiga tahun dari bocah Serigala tadi. Orang itu berambut cokelat, dengan topeng bercorak hijau dan merah.
"Tenzou akan menemanimu dalam perjalanan ini. Ia juga akan menjelaskan tentang medan misi yang kalian hadapi."
Setelah mendengar semua penjelasan itu, secara singkat keduanya pun berlalu pergi dengan melompat keluar dari dalam markas. Ookami, si serigala dengan kepandaian-nya yang cukup mumpuni cukup bisa mengimbangi kecepatan Tenzou. Anak itu kelihatan amat sangat cepat bahkan diusianya yang masih teramat muda. Dengan ini mereka menemukan sebuah hutan hijau milik Konohagakure yang membentang sejauh mata memandang.
"kau cukup cepat."Tenzou menyela diamnya keduanya. "tapi tidak cukup cepat dibandingkan aku."
Mereka berdua menjalani beberapa lompatan dahan dalam hening. Sampai pada satu pohon terbesar, tenzou berhenti. Ia memberi isyarat pada Anbu serigala dibelakangnya untuk mengikutinya dan berdiri disebelahnya.
"aku akan menjelaskan beberapa hal padamu. Termasuk diantaranya lokasi Laboratorium yang terpencil dan dalam pengawasan ekstra ANBU Hokage. Ada beberapa kelemahan disana, meski begitu jika tertangkap berarti kau mati. Jadi berhati-hatilah."
Naruto dari balik topeng Ookami-nya mengangguk mengiyakan. Ia tahu, ia dilarang banyak berbicara sejak sekarang. Jadi seberapapun keingintahuannya akan hal tersebut, ia membungkamnya dalam diam.
"aku mendengar istilah Menukar. Apa artinya kita harus melakukannya diam-diam?"
Tenzou menggeleng.
"kau pasti belum mengerti. Tapi tidak denganku, ini bukan urusan langsung dengan sang sannin Orochimaru. Tetapi dengan salah satu clan yang menjadi objek percobaannya. Dengan begitu artinya kita harus melakukannya dengan hati-hati."
Mereka terus berdiskusi selama beberapa saat. Sebuah rencana telah disusun keduanya untuk mensukseskan rencana ini. Jadi mereka kembali bergerak, sampai tiba akhirnya mereka menemukan sebuah tempat di ujung hutan. Tenzou berhenti berlari diikuti dengan Ookami. Mereka hendak melangkah, secara perlahan untuk masuk ke dalam bangunan tersebut.
Krekek!
Naruto tanpa sengaja menginjak ranting kayu kering, itu sebuah hal yang wajar andai saja tidak ada tanto yang tiba-tiba bersiap menyabet kepalanya. Refleks, ia menunduk, kemudian melakukan pergeseran tubuh hendak memukul orang tadi.
Duakh!
Tapi diluar dugaannya, ia hanya memukul asap. Semuanya berlangsung cepat sampai satu tanto lagi bersiap mengiris tubuhnya menjadi dua.
Syaaaaat!
Ia melompat, mengaktifkan sharingannya secara otomatis dan melemparkan kunai kearah orang yang menyerangnya.
Syuuut-syuuut-syuuut!
Boooofft!
. . . . . . . . .
Asap kembali mengepul dibawah. Naruto dengan sepasang mata menyalanya mengantisipasi serangan yang akan diarahkan kepadanya.
"keluar kau! Aku bukan musuh!"
Trank!
Dari mata naruto, ia bisa melihat seseorang berkumis yang tampaknya pria dewasa mendesaknya hingga wajah mereka berdekatan. "apa yang kau lakukan disini konoha-nin?! Apa kau ingin menyergap Orochimaru-sama?! Tak akan kubiarkan!"
Naruto melompat kebelakang mengambil jarak. Disisi lain, lawannya melakukan hal yang sama.
"sudah kubilang aku ini bukan musuh!"
Sejenak suasana mendingin. Naruto bisa sedikit melonggarkan napasnya, asap-asap pengganggu tadi menghilang. Disana, hampir di setiap sisi tiba-tiba muncul orang-orang lain. Ada yang muda, tua, dewasa, anak-anak dan beberapa ibu-ibu muda.
"lalu apa yang ingin kau lakukan?"tanya orang tadi memulai. "kau sudah melihat kami dan sekarang apa? Katakan apa maksud dan tujuanmu kemari!"
Mata naruto jelalatan, ia melirik kearah semua orang yang berada disana. "apa yang kalian lakukan disini?"
Naruto bertanya. Ia mencoba melangkah kearah salah satu dari kerumunan orang-orang tersebut. Tapi yang ada pria yang tadi menyerangnya kelihatan marah dan menggertakkan giginya.
"kami adalah pelayan Orochimaru-sama. Mendedikasikan hidup kami untuk-nya dan keselamatannya."
Naruto tertegun. "mengapa begitu?"
Pria dewasa di ujung sana melangkah mendekat. "tak ada yang terlalu perduli pada nasib clan kecil seperti kami. Bahkan sekadar menganggap kekuatan kamipun tidak, kami kehilangan desa dan keturunan kami. Dan Orochimaru-sama membantu kami dengan menyediakan tempat ini serta berjanji untuk keterlanjutan generasi kami dikedepannya."
Naruto kelihatan berpikir. Sejenak ia menurunkan kunai-nya, hendak melangkah kearah salah satu ibu-ibu anak-anak disana. Tapi mereka semua kelihatan mundur dan menyingkir, orang yang diasumsikan naruto sebagai ketua clan ini menatap kearahnya tajam.
"jangan mendekati mereka!"
Tiba-tiba pria itu langsung menyerangnya lagi. Tentu saja naruto menghindarinya dengan melompat keudara. Tapi ada pria lain lagi yang telah menunggu-nya, orang itu hendak menghantamnya kebawah, naruto menangkisnya dengan menyilangkan kedua tangan. Ia melakukan gerakan salto dan menendang orang tersebut dengan sedikit tekanan cakra dikaki-nya.
Brakh!
Tap!
Di bawah, orang yang ditendang naruto langsung dihampiri kolega-nya. Beberapa batuan gua juga ambrol karena terhantam tubuh pria tersebut.
"kau melakukan kesalahan Konoha-nin!"
Mata naruto melebar, saat ia berbalik orang tadi sudah berada di depannya. Tentu saja naruto menghindari sergapan tersebut, ia bermaksud memukul pria tadi. Tapi apa yang terjadi diluar perkiraannya. Kepulan asap menghiasi udara disekitarnya. Naruto langsung melompat mengantisipasi kejadian ini.
Duakh!
Bahu naruto terkena tendangan, ia agak kehilangan keseimbangan tapi masih sempat mendarat pada salah satu gundukan batu dalam gua tersebut.
"aku tak ingin terjadi hal yang tidak bermanfaat. Aku datang kemari untuk mengantarkan sebuah pesan."ujar naruto keras. "kalian tak boleh salah paham padaku. Aku berada di pihak yang sama dengan kalian."
Ketua clan Iburi itu melengos. "kami tak mempercayaimu. Tugas ini selalu dilakukan Tenzou sebelumnya!"
Naruto melebarkan matanya. "aku datang bersama Tenzou! Bagaimana mungkin kau tidak mempercayai apa yang kukatakan!?"
"kebohongan yang menyedihkan! Tangkap dia!"teriaknya pada pria lainnya. "kita harus meringkus musuh Orochimaru-sama!"
Dalam sekejab, di ruangan tersebut mulai tampak asap-asap yang menguar memenuhi ruangan. Naruto dengan sharingannya tahu itu bukan asap buatan bom asap ninja. Jadi saat asap tersebut mendekatinya, ia membuat handseal dengan cepat. Di dalam pikirannya hanya ada sebuah peringatan. Dan peringatan itu menuntunnya pada jutsu yang baru dipelajarinya.
"katon : Goukakyou no jutsu!"
Seketika asap-asap tadi menghilang digantikan orang-orang yang sekarang menghindar. Naruto menyemburkan bola apinya sampai menggembung sebesar 2 meter.
"lari!"
Gledebooom!
Api tadi menabrak dinding gua. Mengakibatkan reruntuhan-reruntuhan kecil gua. Para anggota clan Iburi langsung menyingkir menghindari ledakan jutsu.
Brakh!
Tap-tap!
Naruto mendarat ketanah dengan ringan. Ia memandang kearah para anggota clan yang berada disana. "jadi apa kalian masih-"
"serang dia!"
Dari segala penjuru semua pria disana menyerbu kearah naruto. Ada yang bergerak memukul, ada yang bergerak menendang, dan ada yang bersiap menerkam kepala naruto.
"Tenzou! Dimana kau?!"teriak naruto mencari rekannya untuk memohon pertolongan. "mereka ini menyusahkanku!"
Duakh!
Naruto menyingkirkan salah satu anggota clan, tapi serangan lain langsung terarah kearah wajahnya. Ia tak sempat menghindar, alhasil serangan tersebut mengenainya dengan telak. Tubuhnya terhuyung ke samping. Ia mendapati si ketua clan sudah bersiap menusuknya dengan senjata berjenis tanto.
Jrush!
Naruto menusuknya, ia berpikir itu bisa menghentikan semuanya. Tapi apa yang diperkirakannya salah. Ternyata tubuh tadi hanyalah sebuah kawarimi menggantikan asap dari arah atas gua yang terarah padanya.
. . . . . . . .
Brukh!
"a-aapa yang kau lakukan?!"naruto menggelepar-gelepar. "ini sakit sekali!"
Salah satu anggota berdiri di dekatnya. Memandangnya tanpa ampun, "itu jutsu rahasia clan kami."
Semua orang menonton. Naruto merasakan lehernya tertekik, ia memegangi lehernya. Tapi saraf jantungnya terasa di tikam, ia terus menggelepar-gelepar menahan sakit.
"aaaah!"
"jika kau menginginkan pengetahuan. Seketika jutsu itu berhenti di jantung maka hanya hitungan beberapa detik kau akan mati."
Naruto ikut merasakan hal tersebut, bahkan mata sharingannya juga telah secara otomatis nonaktif karena gangguan di dalam tubuhnya.
"a-..aapa yang k-kkau lakukan gha?!"
Tiba-tiba dari atas undak-undakan batu gua. Seseorang bertopeng muncul, ia mendarat tepat dekat Anbu yang menggelepar-gelepar tersebut.
"lepaskan dia."
Salah satu anggota clan langsung berteriak. "Tenzou!"ia bersiap lari untuk memeluk bocah bernama tenzou itu. Tapi ibunya menghalanginya, tenzou dengan wajah datar yang sama masih berdiri di dekat Anbu tadi. Kali ini diikuti dengan sejumlah KI yang ditembakkannya.
"kubilang berhenti atau kau juga akan mati bersamanya!"
Salah satu pria hendak mencegahnya. Tapi Tenzou menghindar dengan baik dan memukul orang tadi ringan.
"jika rekanku mati maka ketua clan kalian juga mati. Jika sudah begitu maka kalian akan kehilangan satu anggota clan lagi."
Semua orang terdiam di tempatnya.
"kalau kalian tak ingin juga menghentikan ini maka akan kulakukan dengan cara kasar."ujar Tenzou sambil membuat serangkaian seal jutsu.
"Mokuton : Mokujuheki!"
Seketika dari depan mereka muncul satu kubah kayu berlapis-lapis, kubah tersebut muncul mengungkung sang Anbu yang menggeliat-geliat. Dalam beberapa waktu tampak jelas bahwa kubah buatan itu membuat tekanan penuh ketubuh di bawahnya. Semua anggota clan Iburi yang melihat ini kelihatan membelalakan mata panik.
"sial! Apa yang kau lakukan?! Taichou!"
Tenzou mempertahankan Jutsu-nya. "keluarlah! Kau tak perlu membunuhnya. Biarkan aku menangani ini."
Beberapa menit berlalu. Tapi asap yang ditunggu mereka tak juga keluar. Hal ini membuat Tenzou mengeraskan rahangnya.
"kau tak akan pernah tahu mengapa aku berada disini. Dan apa yang kubawa. Kubilang hentikan!"
Krap! Krap! Krap!
Beberapa lembar lapisan kayu menutup kubah tadi. Melapisinya untuk memastikan benda didalamnya kehabisan pasokan udara. Semua anggota clan hanya bisa terdiam memperhatikan hal ini, mereka tak bisa melakukan apapun sebab orang paling kuat diantara mereka masih berada disana. Jika ketua mereka saja kalah, bagaimana dengan mereka. Detik-detik berlangsung alot, sebelum akhirnya sebuah asap keluar dari celah antara kayu-kayu itu.
Sesosok manusia terbentuk. Kubah tadi menghilang dengan diakhirinya seal Tenzou.
"kau begitu keras kepala. Tahukah kau bahwa aku bisa membunuhnya kapanpun aku mau? Menghentikan detak jantungnya akan terasa sama mudahnya dengan membalikkan telapak tangan."kecam ketua clan itu. "jadi katakan apa yang ingin kau katakan?"
Tenzou mengabaikan hal tersebut. Ia melangkah mendekati Anbu Ookami yang topengnya telah melorot.
"apa kau ingin menyelamatkannya?"tanya dingin ketua clan itu. "kalau begitu kau sama sekali tak boleh dianggap sebagai sekutu kami."
"TENZOU!"salah satu anggota clan memanggil kearah bocah 12 tahunan itu histeris. Ia berusaha untuk menghambur ke arah anak lelaki itu. "Aku merindukanmu saudaraku!"katanya sambil memeluk Tenzou erat. Melihat interaksi ini Tenzou hanya bergeming, sementara ketua clan kelihatan tidak senang.
"aku akan membereskannya untuk diinterogasi. Lagipula ia kelihatan kelelahan."desis Tenzou sambil melepaskan pelukan bocah wanita itu terhadapnya. "aku akan melakukannya dengan cepat."
Setelah berkata seperti itu Tenzou melangkah kearah tubuh Ookami. Ia memeriksanya sebentar, sementara ketua clan tadi mengisyaratkan anak wanita-nya untuk berbalik bersama anggota lainnya.
"jangan coba-coba untuk melepaskannya."ujarnya memperingati sambil melangkah pergi.
.
Setelah semua orang pergi, Tenzou menatap kedalam kegelapan secara serius. Di dalam sana, samar-samar seseorang bergerak, dengan cahaya yang didapat dari sepasang mata angker berwarna merah yang berputar pelan. Disana, orang tersebut telah memanggul sebuah gulungan. Gulungan dengan panjang sama tapi ketebalan berbeda yang disampirkan ke atas punggung. Tenzou yang melihat ini memberikan anggukan kecilnya. Ia dengan kesigapan memadai langsung meraba ke atas kantung senjatanya, mencari-cari sesuatu berbentuk kertas fuinjutsu yang ditempelkannya secara dengan segera keatas permukaan wajah si Anbu yang tergeletak.
"kau harus cepat. Aku akan menyelesaikannya tanpa membuat mereka curiga."Tenzou berujar simpel. Di dalam kegelapan sana, seseorang dibalik topengnya menganggukkan perintah tersebut.
"jaga dirimu. Buat pertunjukan lain yang lebih menarik."setelah berkata seperti itu sosok tadipun pergi menyelinap keluar gua. Meninggalkan Tenzou yang mengamati tiruan tubuh di dekatnya.
Ya. Siapa yang tahu bahwa semua yang dilakukan mereka hanyalah pengalih perhatian semata?
Selepas melakukan hal tersebut ia kembali memasuki gua dengan sebelumnya mengikat clon sandra tersebut dengan tali dan di gantungkan di kedua sisi gua.
. . . . . . . . .
Di luar gua Naruto berlari-lari dengan sigap. Satu demi satu pohon dilewatinya dengan ringan dan mudah.
Tap!
Tap!
Tap!
Kali ini perjalananya begitu hening. Ia sendirian dan itu bukan masalah, yang terpenting adalah keberhasilannya membawa scroll tersebut dan menukarnya dengan gulungan lain yang entah apa isinya. Bagi seorang Anbu gulungan misi yang dibawa jauh lebih penting dibandingkan dengan nyawa dan keselamatan diri sendiri. itu mutlak, dan dengan pengajaran yang baru didapatnya naruto sadar bahwa itu adalah sebuah keharusan baginya mensukseskan misi ini tanpa banyak bertanya tentang isi dari gulungan.
Sebuah gulungan dengan ketebalan beberapa inchi yang mengancam nyawa. Hal itu mengingatkannya akan sesuatu.
'...Naruto. tahukah kau apa yang paling penting dari sebuah ninjutsu?'
'..cakra. tanpa cakra ninjutsu tidak mungkin dilakukan.'
'tapi tahukah kau bahwa dalam ninjutsu itu lebih penting sebuah gulungan?'
'apa maksudmu kertas-kertas ini?'
'hahaha.. kau belum mengerti naruto. Ini bukan hanya sekadar barang tak berharga.. di dalamnya bisa jadi terdapat sebuah bom waktu yang bisa mengejutkan semua orang. Kau tak akan mengerti kapan itu akan aktif dan meledak. Bahkan untuk menyadarkan diri dari itu saja bisa jadi kau tidak bisa.'
'ibu benar-benar aneh. Ini adalah kertas biasa, katakan padaku dimana leluconnya!'
Satu tepukan di atas kepala mendarat.
'itu artinya jika yang kau bawa sebuah ninjutsu penting yang bisa kau pelajari dan suwaktu-waktu bisa menjadi bom. Tahukah kau bahwa tanpa gulungan bahkan cakra-pun akan jadi tidak berguna? Dalam dunia ninja menukar ninjutsu misi dengan nyawa adalah sebuah tindakan yang biasa. Akan jadi bodoh jika bom waktu itu berada di tangan musuhmu dan dimanfaatkan dengan baik oleh mereka. Itu berarti keberhasilanmu untuk membawa gulungan yang kau antar haruslah besar, itu penting. Sepenting mengorbankan nyawamu sendiri.'
. . . . . . . . .
'dan mengapa aku harus mengorbankan nyawaku? Bukankah itu artinya aku hanya dijadikan alat?'
'itu kenyataannya. Tapi memang sebuah shinobi selalu menjadi alat. Kau akan mengerti, meskipun itu menjengkelkan tapi itu adalah fakta kebenaran. Dan hidup tanpa tanggung jawab sosial itu jauh lebih buruk dibanding kesepian. Karena itulah definisi kesepian yang sesungguhnya. Hidup tanpa arah dan tujuan dan menjadi sampah. Tidakkah kau berfikir bahwa hidup itu memerlukan sebuah pencapaian? Mengorbankan diri untuk orang lain akan menjadi pencapaianpaling diinginkan semua pengabdi di dunia ini.'
'kalau begitu aku akan menjadi pengabdi. Tentu saja aku akan mengabdi bersama ibu setelah ini berakhir!'
Rasanya naruto ingin mencibir semua ucapan itu. Dia yang begitu tolol dan naif untuk mengakui itu, tapi itulah ia, seseorang yang telah dibuang dan dijadikan bahan olok-olok. Mengingat dulu betapa ia memuja ibu, lambat-laun membuatnya ingin muntah. Bagaimana bisa ia tertipu sedemikian lama?
Sriiiiing!
Naruto yang sedang dalam perjalanan dan kurang berkonsentrasi terpaksa harus menghentikan langkahnya. Seseorang telah menyerangnya dengan kunai, dan kunai tersebut mendarat tepat beberapa senti dari wajahnya.
"siapa kau?"
Tak ada basa-basi yang terdengar, namun berikutnya naruto merasa ada seseorang yang lewat disekitarnya. Mata sharingannya otomatis diaktifkan, tapi begitu ia berbalik sesuatu telah menunggunya. Sesuatu yang amat mengejutkan dan membuatnya sampai menyipitkan matanya.
'ini..'
TBC.
