Chapter 9
Pertemuan dengan Uchiha lain.
. . . . . . . .
'ini...'
"apa kau merasa terkejut?"tanya sosok berjubah berpenutup kepala itu datar. "kukira aku sudah mengatakan kita akan bertemu kembali."
Mata naruto memicing, otomatis ia berusaha melindungi gulungan bagian dari misi-nya. Mata sharingan dua tomoe-nya berputar menganalisa keadaan. Sementara orang dihadapannya kelihatan memandangnya dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Sosok bertopeng itu seperti melakukan penilaian terhadap bocah dihadapannya.
"kau sudah membangkitkannya. Sharingan itu,"
"jangan mengalihkan pembicaraan. Aku yakin kau pasti menginginkan sesuatu."tegas naruto sambil mengambil kunai di kantungnya.
"jadi lekas katakan!"
Sunyi sebentar. Sosok tegap itu kelihatan tidak terpengaruh.
"aku tak ingin mencari masalah. Aku datang karena aku ingin menawarimu sesuatu."ujarnya sambil bergerak turun kebawah pohon. Naruto yang melihat ini mengikuti pergerakan si lawan. Sepintas, ia seperti teringat akan sesuatu, senyum kecilnya mengembang setelah beberapa lama kelihatan bertepekur.
"kau orang yang melakukan Ninjutsu waktu itu."
Dengusan napas terdengar mengikuti komentar naruto. Pria tadi menghadapkan diri kearah hutan kematian, "untuk anak kecil seusiamu kau cukup berbakat. Seperti kataku waktu itu, aku ingin menguji sesuatu.. bukankah kau selalu ingin mempelajari ninjutsu?"
Naruto berpikir sejenak. Perlahan, mata sharingannya kembali menjadi hitam seperti sedia kala.
"ha'i. Tapi aku telah diperingatkan akan satu hal oleh seseorang, dan kelihatannya aku tidak bisa belajar apapun darimu karena hal itu."
Anbu tadi berbalik. Ia memandang naruto lekat-lekat meminta penjelasan.
"kau kelihatan tidak tahu diuntung."tukasnya datar. "aku datang untuk mengajarimu sesuatu, aku tidak tanya apakah kau berminat atau tidak. Aku tak perduli, apakah kau sudah merasa lebih kuat dariku? Bocah sepertimu hanya akan mati diluaran sana."
Naruto membuang napasnya asal, "seseorang memperingatiku. Tak ada non Uchiha yang bisa menjadi Sensei Uchiha. Aku tak perduli apa yang kau katakan. Aku harus pergi."
Naruto bersiap-siap hendak pergi. Tapi seketika ia hendak berlari menjauh dua buah kunai melayang didekatnya, lengkap dengan dua buah kertas peledak yang telah dinyalakan.
"kalau begitu kau harus membuktikan kapasitasmu dulu dihadapanku!"
DUAAAAAAAAR!
Asap mengepul memenuhi udara. Naruto menghilang ke antara pepohonan setelah melakukan jutsu kawarimi sambil bersembunyi. Matanya memandang kebawah dengan pandangan waspada.
"apa kau mencariku?"
. . . . . . . .
Trank!
Beruntung naruto cukup cepat meletakkan kunai-nya di depan wajah sebab paling tidak katana Anbu dihadapannya tidak jadi mengenai wajahnya.
"kau pikir kau sudah cukup hebat?"
Naruto melompat mundur. Ia melayang di udara sambil melemparkan tiga buah shurikken.
Sriiiiing!
Trank! trank! trank!
Tiba-tiba sosok tadi menghilang, ia muncul kembali kearah naruto lewat belakang.
Syaaaaaaat!
Naruto menghindar. Ia melompat lebih tinggi sambil mengayunkan kakinya kearah wajah si Anbu. Tendangan itu dihindari dengan mudah, naruto melompat kembali ke belakang untuk mengambil ancang-ancang.
"sebenarnya apa yang kau inginkan?"
Duakh!
Naruto terlempar ke bawah. Beruntung ia cukup sigap untuk memasang kuda-kuda.
"caramu berbicara benar-benar percaya diri seperti kebanyakan Uchiha."Anbu tadi menyusul turun dan mendarat menggunakan kedua kakinya santai begitu menyentuh tanah. "tapi sayang, cara bertarungmu benar-benar bukan seperti kebanyakan Uchiha. Menyedihkan sekali."
"aku tak meminta pendapat darimu! Tidak penting apakah aku bertarung seperti Uchiha atau tidak, aku memiliki sharingan. Dan itu sudah pasti membuktikan bahwa aku adalah Uchiha!"
Anbu tadi tertawa mengejek.
"para Uchiha tak memperdulikan apakah kau memiliki sharingan atau tidak. Itu tidak penting! Clan uchiha adalah pengendali Katon yang baik. Semua clan berelemen katon, dan mereka mampu mengendalikannya dengan baik. Apa harus kukatakan bahwa tanpa elemen katon kau tidaklah diakui sebagai uchiha?"
Naruto mematung ditempatnya.
"apa harus kupanggilkan dulu ibu yang kau sayangi itu agar kau bisa merengek? Uchiha mana yang selemah dirimu. Dan bahkan kau bukan anaknya! Betapa bodoh dirimu sampai mengharapkan orang asing itu. Tak tahu kah kau bahwa Uchiha adalah clan yang terbaik? Kelihatannya kau hanya bisa mempermalukan clan. Lihat dirimu, betapa rendah kau hingga..-"
"Katon : Goukakyou no jutsu!"
Naruto yang sudah tidak tahan langsung menyemburkan api besar itu ke arah si Anbu. Ia menggembungkan dada-nya dan meletakkan dua jari depan mulut seperti yang telah diajarkan oleh mentornya sebelum hari ini. Tapi bukannya hal lain yang didapatkannya seperti kematian si Anbu malah sebaliknya. Orang tadi hanya perlu berdiri ditempatnya sambil bersedekap karena bola api-nya tak bisa bergerak sampai menyentuh radius tempat pria itu berdiri.
Naruto langsung menghentikan jutsunya. Dihadapannya, Anbu tadi kelihatan masih seperti sebelumnya. Berdiri dengan pose tenang tanpa kekurangan suatu apapun.
"para Uchiha bisa membuat lebih baik dibandingkan itu. Itu agak terlalu kecil bagi Uchiha se-usiamu sebenarnya."
"berhentilah berbicara!"
"apa aku sudah menyinggung dirimu?"balas di Anbu santai. "atau seperti kataku tadi. Kau harusnya-"
Naruto langsung berlari kearah si Anbu. Mengepalkan tangannya dengan tatapan mata sharingan yang berapi-api. Dihadapannya hanya ada satu orang Anbu yang dengan kata-katanya sangat menyakitkan hati. Tak perduli harusnya ia sudah kembali dari misi, Naruto memutuskan bahwa ia benar-benar harus membunuh orang dihadapannya. Atau paling tidak menyakiti, rasanya begitu sakit saat itu hingga yang berada dipikirannya hanya satu.
DUAKH!
Anbu tadi tidak menangkis atau mengelak. Ia tetap berdiri, sekalipun itu membuatnya menerima pukulan bocah dihadapannya. Tepat di wajah, hingga topeng yang dikenakannya sedikit bergeser walau itu tidak sampai mengungkapkan identitas dirinya. Mata mereka berhadapan, sebelah tangannya menangkap lengan bocah yang memukulnya sebelum bocah itu berhasil mendarat.
"kebencianmu itu. Aku merasakannya.. bukankah itu kebencian karena kau telah dihianati orang yang kau sayangi? Wanita berambut pirang yang dulu begitu kau hormati itu?"
Naruto terdiam. Ia bahkan tidak berontak saat tubuhnya ditahan di udara.
"aku tahu bagaimana sulitnya hidupmu."imbuh si Anbu sambil perlahan menurunkan bocah tersebut. "kau begitu kurang kasih sayang, menderita sejak kecil dan kehilangan kepercayaan terhadap orang disekitarmu."
Naruto mendongakkan wajahnya. Ia memandang pria besar dihadapannya dengan teliti. "kau tak perlu tahu apapun. Kau hanya terlalu percaya diri, kau tak tahu apapun tentangku."
Orang dihadapannya menyentuhnya, lebih tepatnya mengelus kepalanya dan memaksanya mendongak. Mereka saling memandang satu sama lain hingga naruto bisa menyimpulkan bahwa orang tersebut juga memiliki bola mata berwarna hitam pekat.
"mata sharingan itu yang membuktikannya. Apa kau juga ingin jadi pembohong dengan tidak mengakuinya?"
". . . . . . . . ."
"jika alasanmu untuk menolakku adalah karena aku bukan uchiha dan tak memiliki Sharingan, kau salah besar. Seperti kataku, aku bisa membunuhmu kapanpun aku mau.. tapi aku tak melakukannya. Aku benar-benar ingin melatihmu."
"ap-maksudmu?"
Orang tadi menarik tangannya dari kepala Naruto. Dan tepat waktu ia melakukannya, dari dalam lubang topeng yang teramat gelap, sesuatu sewarna merah darah muncul, lengkap dengan tiga tomoe yang bersinar.
"karena aku juga Uchiha. Kau tak bisa menolakku menjadikanmu sebagai muridku."
Detik itu juga naruto kelihatan berpikir keras. "aku tahu kau pasti membutuhkan imbalan, pasti ada yang kau inginkan. Jadi apakah itu?"
Orang tadi tak langsung menjawab. Sebaliknya ia malah melangkah maju meninggalkan naruto beberapa langkah dibelakangnya.
"aku tak akan memintanya sekarang. Tapi pasti kulakukan dalam waktu dekat, dan lagi kau tak boleh memberitahu siapapun bahwa sejak sekarang aku menjadi gurumu. Termasuk didalamnya kesatuanmu.. jangan beritahu siapapun tentang pertemuan ini. Sampai waktunya nanti kau kuperbolehkan melakukannya."ia bersiap-siap pergi.
"ngomong-ngomong, kita bisa berlatih minggu depan. Di training ground Uchiha yang telah kupilih."
Naruto tercenung. Tapi sebelum orang tadi benar-benar pergi, ia menyatakan sesuatu yang begitu menjadi misteri baginya.
"siapa namamu?"
.
"... Tobi.. panggil saja aku seperti itu."
'jadi uchiha tobi ya?'pikir naruto sambil mengamati orang tadi beranjak menjauh. Sekarang ia sendiri menonaktifkan sharingan dua tomoe-nya, lalu berbalik kearah rute awal-nya yang sebelumnya menuju kearah markas kesatuan ROOT di tengah hutan kematian.
'ucapannya seolah-olah ia sudah mengenalku sejak lama. Apakah ia benar-benar mengenalku? Itu sedikit menjadi misteri. Ia memperlakukanku seolah aku bukan orang baru baginya. Mengapa ia harus memilihku menjadi muridnya dibanding orang lain yang juga uchiha?'
Dengan begitu dua orang berambut hitam dengan topeng itu melaju kearah yang ditujunya masing-masing. Yang satu mengarah kearah tengah hutan, sedangkan yang lain pergi menuju ke arah perkotaan di desa konoha.
'satu langkah lainnya.'pikir Anbu dewasa bertopeng polos tersebut.
.
.
.
Dalam ruangan hokage tiba-tiba seorang Anbu muncul begitu saja. Hokage ketiga yang tengah berdiri sambil menghisap cerutunya langsung mengarahkan atensi-nya kearah sana. Mendapati seseorang dengan armor keabuan yang berjongkok di tengah ruangan.
"lapor Hokage-sama!"
Awan keorenan telah menghiasi cakrawala. Hokage ketiga memberikan tanggapan berupa anggukan ringan sebagai jawaban. Ia mengisyaratkan agar Anbu tadi melanjutkan laporan yang akan disampaikannya. Akhir-akhir ini pikirannya sendiri sering terganggu, itu terbukti dari kerutan di dahinya yang tidak juga menghilang sejak beberapa hari terakhir.
"aku mendengarkannya Karasu."timpalnya karena Anbu tadi tak kunjung menyampaikan laporannya.
"apa ada yang ingin kau sampaikan?"
Anbu tadi menggeleng ringan, sesuatu yang membuat Hokage ketiga langsung mengangkat jemarinya dan menjentikkannya ke udara. Seketika semua Anbu yang berada di dalam ruangan keluar dari lokasi persembunyiannya. Entah itu di atap, menempel di dinding, dekat jendela, dekat lantai dan di pojokan ruangan. Kebetulan hari itu asisten Hokage ketiga sedang tidak berada diruangannya. Jadi klop bahwa hanya ada keduanya yang mengisi ruangan.
"maaf jika aku terus-terusan membuat privasi yang merepotkanmu seperti ini."mulai si Anbu yang perlahan berdiri dari jongkoknya. "aku belum bisa mempercayai siapapun. Bahkan jika itu bukan dirimu, entah siapa yang akan kupercayai. Di dunia ini aku tak lagi memiliki kepercayaan meski antar rekan satu kesatuanku."
Sosok bertopeng gagak itu berdiri. Kali ini ia memandang Hokage-nya langsung dimata, sesuatu yang selalu dilakukannya dalam hal krisis seperti saat ini. Konoha belumlah pulih pasca perang dunia ketiga. Dan saat ini, ditengah keadaan yang sedang benar-benar lemah, sudah kewajibannyalah mengawasi para tikus pengerat Konoha yang memanfaatkan keadaan. Ia sebagai shinobi konoha.
"kau tahu.. sepertinya aku sudah mengatakan hal yang sama berulang kali."
Kali ini Anbu tadi melanagkah mendekati jendela tempat Sandaime Hokage berdiri. Ia ikut-ikutan memandang Konoha sore itu.
"aku sudah mengatakannya padamu. Itu adalah jalanku, Shinobi tanpa nama ynag melindungi Konoha dari dalam kegelapan dan tak dikenal."
Hiruzen sarutobi, si Sandaime Hokage mengepulkan asap kelabu-nya ke udara.
"rasanya pasti menyenangkan bisa seperti dirimu. Beraksi di luar sana tanpa terbebani tugas konyol penuh kertas seperti ini. Menghadapi musuh tanpa kenal lelah dan takut, sesungguhnya aku sendiri merasa tidak cocok dengan kehidupan yang kujalani. Kau tahu maksudku kan?"
"Hiruzen.."Anbu tadi menyentuh lengan pemimpin negara tersebut ragu-ragu.
"aku membawakan sebuah berita tak menyenangkan yang aku sendiri pasti akan sukar menyatakannya padamu. Ini begitu mendesak dan aku tak tahu harus mengingkapkan apa, kau adalah pemimpin Konoha dan aku tak memiliki kendali apapun untuk memutuskannya."
Sandaime menatap jauh ke tengah desa. Seolah-olah dirinya tidak berada di dalam ruangan sunyi tersebut. Pria itu masih menghisap cerutunya, tapi beberapa saat setelahnya ia berhenti. Mengeluarkan tembakau dari tempat antik itu, dan menyimpannya ke dalam jubah. Itu semua tak lepas dari pengawasan Anbu berambut hitam itu.
"jadi.. seberapa banyak kali ini pelanggaran yang dilakukannya... Kagami?"
Si Anbu bertopeng menggeleng lemah.
"lebih dari apa yang aku dan dirimu bisa bayangkan. Ia sudah terlalu jauh bergerak kali ini. Kuharap kau bisa mengambil keputusan dengan bijak."
Sandaime memberikan anggukan. Ia membuat seal singkat hingga sekepulan asap pekat memenuhi udara.
"ini sudah saatnya.. Kagami."
Dari balik kepulan asap, Sandaime telah melepaskan jubah Hokagenya, berganti dengan pakaian jaring-jaring kawat lengkap dengan bendana dengan pelindung kepala dan simbol Konoha di dahi. Seragamnya berwarna hitam pekat, sesuatu yang sedikit berbeda dari kebiasaannya. Melihat hal tersebut Anbu dihadapannya sedikit menghela napasnya agak lelah.
"kau harus memutuskannya. Kuharap kau bisa berlaku sebaik-baiknya kali ini."
Sandaime menggigit ujung jarinya sendiri dan menggelarkan scroll panjang lainnya. Ia mengoleskan darahnya kesana dan kepulan asap lainnya muncul. Sebuah tongkat hitam senada dengan pakaian yang dikenakannya dengan cincin kuning cerah di kedua sisinya muncul. Ia menggenggam tongkat itu dan menyangganya di punggung.
"kali ini aku akan menghentikannya. Kita harus bergegas Kagami!"
"ha'i!"
Mereka pun keluar dengan segera dari gedung Hokage. Pria bertopeng gagak itu memimpin di depan diikuti sang kepala Negara dan satu Anbu lainnya yang mengiringi sang Hokage. Ketiganya melangkah membelah senja. Perjalanan yang dilakukan kali ini amat sedikit sekali pembicaraannya.
"apa yang kau maksud-"perkataan sandaime terpotong oleh kesadaranya sendiri akan sesuatu. Saat itu Karasu si pemimpin jalan meliriknya sedikit lantas memberikan anggukan.
"lebih dari yang kita bayangkan."ulangnya mengulangi perkataannya sebelumnya. "kuharap kau bisa menafsirkan apa yang kumaksud."
Seketika rahang Hokage ketiga mengeras. Ia memacu kaki-nya jauh lebih cepat dari sebelumnya bahkan hingga ia sendiri berlari mendahului Anbu yang memandu-nya. Kali ini, bahkan udara Hutan kematian yang mereka lintasi terasa menjadi begitu pekat akibat kemarahannya. Pria itu berlari laksana angin, bergerak laksana kilat yang mengaburkan daun-daun pohon disekitarnya. Hingga bahkan pergerakan dirinya-pun terasa amat samar, situasi benar-benar tidak sesuai dengan kehadiran bulan purnama penuh yang menerangi malam perjalanan mereka diangkasa sana.
"kita harus bergegas jika tidak ingin tertinggal."kata Karasu sambil melirik Anbu lain yang menjadi bawahannya, "kuharap kau bisa menandingi kecepatan Hokage ketiga."
Tap!
Tap!
Tap!
Malam itu suasana begitu kelam terkecuali dengan kehadiran bulan di angkasa sana. Hokage ketiga berlari secepat-cepatnya ke puncak bukit di dalam satu penjuru bukit yang mengelilingi Konoha dekat dengan Lembah akhir yang airnya berkilauan tertimpa sinar bulan. Mereka langsung menyergap kearah satu arah, menuju ke puncak tempat dua buah makam besar pendiri Konoha dan pemimpin Konoha yang agung disemayamkan. Tetapi pandangan Mata sang Sarutobi langsung menjadi tidak bersemangat saat mendapati apa yang paling di khawatirkannya menjadi kenyataan.
"kosong?!"
Dua Anbu muncul di dekatnya. Yang satu mengikuti arah geraknya sedang yang lain, dengan mata berkilauan kemerahan langsung menyelidik kearah sebaliknya.
Hokage ketiga mengeraskan rahangnya. "berani-beraninya Orochimaru!"
Dari apa yang terlihat, dua buah makam tersebut sudah terbongkar. Memperlihatkan dua buah peti yang tampaknya telah dikosongkan oleh seseorang. Rahang Hiruzen makin mengeras begitu ia sendiri terjun ke dalam lubang itu untuk memeriksa kedua mayat mendiang kage sebelum dirinya. Belum sekalipun Anbu lain melihat betapa marahnya sang Hokage ketiga.
"Karasu! Lacak kearah mana cakra terakhir yang ditinggalkan Orochimaru-sannin! Kita harus bergegas."
Dari seberang lainnya, seseorang berbaju hitam dengan tanto dan topeng gagak muncul. Mata sharingannya secara langsung dimatikan.
"aku yakin hanya ada satu jalan untuk mengetahuinya Hokage-sama. Cakra disini terlalu banyak percabangannya, seseorang pasti sudah terlibat dalam hal ini. Terlalu banyak jejak cakra disini."lapor Karasu detail. Seketika ia mendekati sang Hokage dan menyentuh lengannya sejenak, "kecuali kalau ingat sesuatu. Aku yakin ini semua ada hubungannya dengan makam yang dicuri."
Mereka beradu pandang sejenak.
"kali ini dia benar-benar sudah kelewatan. Maafkan aku sensei!"desis Hiruzen pada angin. Karasu, kembali menghadapkan wajahnya kearah lain. Mata sharingannya kembali menyala dan detik berikutnya ia melangkah kearah semak-semak. Tak ada yang bisa dilakukan saat ini terkecuali menunggu. Tapi lebih dari itu, Kagami Uchiha dalam wujud Karasu-nya langsung kembali. Ditangannya, sesuatu mirip Pecahan Armor Biru milik Hokage kedua tergenggam dengan erat. Disisi lainnya, sebuah kertas rumit mirip kertas peledak ditemukan. Ia mencolek sandaime dan menyerahkan kedua benda itu.
"ini armor sensei. Dan pecahan kertas.. Fuinjutsu."
Sandaime langsung teringat sesuatu. Ia melirik kearah Karasu penuh makna sebelum memutuskan untuk berlari secepat-cepatnya kearah semak tempat tadi sang Anbu menemukan kedua pecahan tersebut.
"Nindaime.. Fuinjutsu... Terlarang. Aku yakin dia berada disana Karasu!"
Anbu lain yang berada disana hanya mengikuti apa yang dilakukan keduanya. Dalam satu sisi, ia hanyalah anak buah yang dinaungi oleh Hokage dan sang kapten yang kini berada dihadapannya. Mereka langsung melaju dengan cepat kearah sebuah pondok rendah yang mirip tempat persembunyian ditengah hutan. Sandaime berperan sebagai pemimpin rombongan.
BRAKH!
Pintu pondok ditendang lepas. Menampakkan wujud dari gulungan-gulungan tak berjumlah yang berada di dalamnya. Termasuk juga beberapa gelas dengan gelembung udara-nya. Tapi tak jauh dari sana, seseorang berambut hitam panjang berdiri sambil menjilat bibir bawahnya. Mata emasnya berkilat, sedangkan dihadapannya sudah tampak sebuah gulungan Fuinjutsu yang telah terbuka habis hingga scroll terakhir.
"apa yang kau lakukan Orochimaru?"
Pria berseragam Jounin Konoha itu tertawa kecil. "kelihatannya kau sudah berhasil menemukanku Sensei.. tapi semuanya sudah berakhir. Kau begitu terlambat jika datang untuk menghentikanku. Aku sudah berhasil sensei! Aku berhasil menemukan apa yang selama ini hanya misteri dan tak pernah ditemukan! Aku mendapatkannya dari sini sensei! Dari gulungan rahasia yang ternyata kau sembunyikan dariku bertahun-tahun!"
Sudut mata sandaime menangkap kearah siluet gulungan besar itu. Sudah terlambat, Gulungan rahasia itu telah dibaca habis bahkan bisa jadi telah dibuat salinan yang menyerupai isi gulungan aslinya.
"kau keterlaluan! Mengapa kau sampai melakukan ini pada mendiang Hokage Orochimaru! Gulungan itu adalah gulungan terlarang! Kau begitu lancang! Aku tak akan pernah menganggapmu sebagai muridku lagi!"
Orochimaru berdiri, ia menatap orang yang memakinya dengan pandangan bermain-main. Seringaian memenuhi bibirnya.
"khu-khu-khu, kau telah menyembunyikan rahasia besar disini sensei! Bersamamu! Andai kau tahu aku hanya ingin memajukan Konoha dan melindunginya! Aku hanya ingin mempelajarinya sensei! Apa ini begitu terlarang bagiku? Bahkan kau sendiri diperbolehkan membacanya! Mengapa tidak denganku sensei! Aku hanya ingin pengetahuan ini dikembangkan demi Konoha! Aku begitu mencintai Konoha sensei! Aku hanya ingin yang terbaik untuk Konoha!"
"diamlah Orochimaru! Cara gilamu tak pantas disebut sebagai mencintai Konoha! Kau hanya mempermalukan dirimu! Serahkan gulungannya padaku dan menyerahlah. Kau sudah dikepung! Kau tak bisa melarikan diri kembali. Kembalilah kejalan yang benar Orochimaru."
Dengan sigap Orochimaru berbalik kebelakang, ia meraih gulungan itu tanpa rasa penyesalan meskipun ketiga orang dibelakangnya memandanginya dengan pandangan teramat ingin membunuh.
"kau selalu berkata padaku bahwa mempelajari setengah hal itu buruk. Dan kau selalu menuntutku untuk menguasai hal secara sempurna. Apakah aku salah jika aku menginginkan benda ini Sensei?"ditangannya sebuah gulungan besar telah kembali tergulung rapi. Di kedua tangannya dicengkeramnya gulungan tadi begitu erat.
"aku tak bisa membiarkanmu pergi. Menyerahlah Orochimaru dan serahkan Gulungannya!"
Melihat raut muka sandaime yang begitu terluka Karasu langsung berseru lantang. "kau sudah terkepung! Tak ada lagi celah untuk melarikan diri! Letakkan kembali gulungan ke tempatnya dan menyerahlah atas nama Konoha!"
Tapi Orochimaru tak akan mendapat gelar sannin jika ia bisa tumbang dengan ancaman seperti itu sebab dalam sekejaban mata ia langsung melemparkan tiga kunai bergantungan kertas peledak kearah ketiga orang di ambang pintu.
"sayang sekali. Aku harus membawanya sensei!"
DUAR!
Asap memnuhi ruangan sementara ketiga orang tadi melompat menghindar. Pada saat itu Orochimaru langsung berlari menggendong Gulungannya ke arah hutan. Lelaki itu begitu sebat, sementara Sandaime hanya mampu terdiam ditempat merenungi kesalahannya. Wajahnya begitu sedih, hingga bahkan kedua Anbu yang mendampinginya tak mampu mengatakan apapun.
"..mulai saat ini.. Orochimaru-sannin kutetapkan menjadi Missing-nin Konohagakure dengan bayaran 800.000 Ryo untuk kepalanya. Beritahu ini agar dibuat dalam Bingo book dan umumkan kepada semua orang untuk memburunya."
Anbu yang satu langsung mengangguk menyanggupi. Ia langsung berlalu begitu perintah itu dikeluarkan.
"Hiruzen.."
"jangan katakan apapun Kagami. Aku sedang tidak ingin mendengar apapun sekalipun hanya penghiburan.. aku telah gagal. Dan kegagalan ini adalah awal.. awal yang buruk."
"Hiruzen.."
Sandaime berlari keluar. Ia memandang kearah bulan yang sinarnya begitu cemerlang. Seketika air matanya meleleh, tubuhnya benar-benar terasa kehilangan keseimbangan.
'apa salahku sensei hingga harus memikul beban seperti ini? Maafkan aku sensei.. dosaku pasti terlalu besar untuk bisa menemuimu kembali.'
TBC.
