makasih buat semua readers. mohon dukungannya di Kolom Review.

Root Of Uchiha

Chapter 10

Yondaime Konoha

. . . . . . . . .

Naruto melompat ke sana ke mari menghindari kunai-kunai yang dilemparkan padanya. Sesekali ia menangkiskan tanto-nya kearah benda-benda melayang itu. Membuat gerakan besi lancip ini berbelok dan mendarat tepat di dekat kakinya. Di depan sana, sebuah dinding besar dengan selongsong pelepas kunai sudah dipersiapkan. Dari cepatnya gerakan benda-benda tajam itu berjatuhan, kentara sekali bahwa jika ia lengah sedikit saja maka nyawanya sendiri menjadi taruhan.

Sriiiiiiing!

Trank! Trank! Trank!

Naruto menangkis beberapa kunai yang melayang, tapi saat ia melompat sudah ada lagi selongsong yang menembakkan kunai kearahnya. Mata sharingannya bergerak dengan gesit memprediksi keadaan. Itu cukup membantu sebab ia belum juga terkena salah satu dari beragam kunai yang dilemparkan tersebut.

Wush!

Dalam gerak lambat, ia bisa melihat arah datangnya kunai, sangat tepat sehingga ia bisa bergerak berpindah lagi jika dinilai ia akan terkena serangan. Tapi sebuah pelatihan melelahkan tak berakhir ini amat menguras tenaga-nya. Termasuk didalamnya cakra yang dikeluarkan untuk menggunakan sharingan terus-menerus. Dari awal pelatihan ia sudah cukup menguasai keterampilan dasar mata ini. Prediksi dan bekas cakra, serta ia juga diajari menggunakan cakra kecil untuk membuat genjutsu mini berdasarkan perantara sharingannya. Tapi itu semua hanyalah awal, dalam praktik taijutsu tubuhnya masih benar-benar lemah.

Sriiiiiiiing!

Naruto melompat ke udara sambil melakukan salto secukupnya dan membuat gerakan menangkis. Beberapa kali, dalam hal ini ia melihat seniornya melakukan gerakan serupa. Dengan menggunakan sharingan ia bisa mencontoh apapun yang ia mau. Tapi disana juga kelemahannya. Ia bisa mencontoh apapun, melihat gerakan apapun secara detail tapi yang menjadi masalahnya..

Tubuhnya belum mampu bergerak secepat para seniornya.

Ctrash!

Matanya mengerjab saat sebuah tanto menebas kearah kepalanya. Beruntung ia cukup cepat menunduk dengan resiko kehilangan sedikit rambutnya yang berada di atas kepala.

Trank!

Dua tanto bertemu. Kedua mata crimsom dengan jumlah tomoe berbeda dipertemukan.

"kau lengah."

Dan seseorang pria besar dengan marga sama menendangnya ke belakang. Naruto sempat terhuyung, tapi ia sempat melakukan serangan balasan berupas shurikken yang melayang kearah Anbu bertopeng tadi. Tentu saja semua selongsong kunai lain masih berhamburan menyerang. Tapi kelihatannya itu bukan berarti apapun, sebab Anbu tadi bergerak seolah lebih cepat dibanding hujanan kunai.

"lihat aku kalau matamu mampu."kata pria itu sambil melompat ke udara. Ia meletakkan tantonya di depan dada, memalangkannya dalam sikap horizontal untuk beberapa saat, dan kemudian melakukan gerakan lincah yang belum pernah tertangkap mata naruto. Orang tadi menangkis kunai di depannya, di sampingnya, kemudian tepat di depan matanya. Belum lagi kunai dari penjuru lain, dengan atau tanpa seal, dari yang ditatap naruto orang tadi langsung menghilang dalam sekejab. Tak lama kemudian dentingan kunai terdengar lagi dari penjuru lain. Begitu berulang-ulang. Orang tadi seolah muncul dimana-mana dan menangkis semua kunai yang ada.

Trank! Trank! Trank!

Sabetan melintang menebas habis kunai-kunai terakhir itu. Di saat terakhir, dalam sisa yang jumlahnya masih cukup untuk membunuh 10 orang civilians, secara tak terduga Anbu tadi mengabaikannya. Itu membuat Naruto bingung sebab jika tidak dihentikan kunai tadi akan merenggut nyawa si Anbu.

"dibelakangmu!"teriaknya spontan. "awa-"

Dari kantung kunainya orang tadi mengambil masing-masing tiga kunai di tangan kanan dan tiga kunai di tangan kiri. Kunai-kunai tadi dilemparkannya dengan gerakan menyebar, yang tentu saja belum bisa dipahami sepenuhnya oleh bocah bernama Uchiha Naruto itu.

"itu-"

Trank!

Satu kunai menabrak kunai lain, membuat gerakan mendaratnya berbelok. Kunai lain melakukan hal yang sama. Yaitu dibelokkan dengan kunai yang diserang. Jumlah semua kunai yang dibelokkan ada dua belas buah. Dan ternyata dalam jumlah seperti itu hanya diperlukan enam buah kunai untuk menghentikannya.

Tap!

"apa kau kagum pada hasil yang kuciptakan?"

Di dalam training ground itu hanya ada limpahan kunai yang menancap di atap dan di lantai. Seolah-olah baru saja terjadi hujan kunai yang disengaja. Mata naruto yang sebelumnya sharingan tiba-tiba langsung menjadi Nonaktif. Ia menatap mentornya dengan pandangan tanda tanya.

"aku menghabiskan setengah jam penuh untuk menangkis puluhan kunai hingga tubuhku tergores, bagaimana kau bisa melakukan hal tersebut hanya dalam lima menit tanpa kelelahan?"

Anbu bertopeng gagak itu hanya mampu terdiam sebentar. Ia menghela napasnya lalu menyimpan Tanto-nya ke dalam sarung. Mata sharingannya dinonaktifkan. Ia kelihatan ingin sedikit menyampaikan sebuah pesan pada naruto dilihat dari tindak tanduknya.

"apa kau ingin mempelajari hal yang serupa?"

Naruto hendak menjawab, tetapi seorang Anbu langsung muncul dalam ruangan dan mengagetkan keduanya.

"Danzou-sama ingin bertemu denganmu Ookami."ujarnya dingin. "jangan berlama-lama."

Setelah kepergian Anbu tadi dari hadapan mereka. Karasu mendekati Naruto, secara sengaja pria itu mendorong kepala naruto menggunakan dua jari tangannya.

"Gunakan otakmu dalam menggunakan sharingan. Kau tidak bisa terus bergantung padanya, kau juga harus melatih saraf-sarafmu agar jadi lebih sensitif. Meski kita sama-sama memiliki sharingan yang mennadakan sebuah identitas clan, disini tak ada Nama dan marga. Kau harus memahami bahwa aku hanya ingin mengatakan padamu... 'jangan mempermalukan clan'. Lain kali kita akan bertemu dan berbicara tentang clan. Dan jangan pingsan terlebih dahulu-"

Bruk!

Anbu tadi membopong Naruto dalam pangkuannya. Dari geliat matanya kelihatan bahwa ia sedikit menyeringai melihat kejadian ini. Lantas dengan sigap dan tanpa ampun membopong bocah tadi ke tempat dimana si anak pasti sedang dinantikan kehadirannya.

"aku sudah menduga ini akan terjadi."katanya entah pada siapa.

. . . . . . . . . .

Di ruangan lainnya seseorang tua berperban mata kiri memandang lurus-lurus ke arena tepi hutan itu. Jubah hitam kelamnya terlihat sepadan dengan rambut kusut hitamnya yang merupakan ciri khas dari clannya sendiri. Shimura, sbeuah clan dimana rambut mereka tak pernah memudar sampai akhir hayat mereka.

Poooofft!

Seorang Anbu muncul diikuti bocah dalam gendongannya. Mata hitam ketua NE itu langsung menyipit begitu mengetahui siapa yang datang berikut orang yang membawanya. Senyumnya mengembang kurang simpatik.

"ada apa dengan Uchiha-muda itu Kagami?"

Orang yang diajak berbicara melangkah mendekat kearahnya tanpa memberikan jawaban. Dari balik topeng gagaknya, ia menyunggingkan senyum cibiran.

"kau yang memaksanya berlatih sampai seperti ini. Untuk orang yang telah memaksanya dengan cara sedemikian rupa, apakah masih harus ku jelaskan bahwa ia kelelahan?"sahutnya sarkas. Ia membaringkan bocah itu ke pinggiran telaga tempat rerumputan hijau yang lembut menyembul selayaknya rajang empuk.

Danzou mendencih keras.

"aku tahu ia dan kau berada satu clan. Tapi aku tak perduli itu, aku bukan orang yang siap untuk memberikannya kasih sayang berlimpahan. Meskipun kalian masih bersaudara aku juga tak mempertimbangkannya. Ini adalah pelatihan, aku akan mengajarinya sebuah pelatihan dan bukannya les balita di panti."

"hn. Jangan sampai kau membunuhnya. Kurasa aku hanya akan memperingatkan akan hal tersebut."

Danzou tak menyahut. Matanya menatap kearah rekan lamanya itu datar.

"tinggalkan kami berdua."

Dan kagami-pun pergi meninggalkan keduanya berdua setelah mendaratkan tatapan mewanti-wanti kearah bocah di tepian telaga kecil tersebut.

Tap!

Tap!

Langkah kaki Danzou begitu ringan namun dalam. Ia mendekat kearah si bocah, mendaratkan tatapan analistik baru kemudian memutuskan untuk melakukan hal yang pasti akan selalu dilakukannya pada semua NE yang baru dan perlu didisiplinkan.

"bangunkan dia!"

Dari ketiadaan, satu orang Anbu lain muncul. Membawa ember besar dan memenuhinya dengan air lalu menyiramkannya pada bocah kecil yang sekarang langsung mengerjab-ngerjabkan matanya terkejut.

BYUUR!

"anda.."

"tidur siang bukan kebiasaan NE. Kau harus berlatih Ookami!"

Naruto hendak terbangun. Ia sudah mencoba berdiri tetapi matanya seolah terlem, ia begitu kelelahan walau NE tak menuntut hal tersebut. Dalam NE, tak ada istilah besar, kecil, dewasa, atau anak-anak. Semua pelatihan disama ratakan, termasuk didalamnya pelatihan fisik dan cara hidup ninja. NE tak memandang bulu apakah itu si dewasa, atau bahkan anak-anak. Yang berada dalam NE hanya yang kuat. Dan tak boleh ada yang lemah, apapun itu semuanya harus serba kuat dan sempurna.

Tangan Danzou yang membawa tanto menyorong ke depan, ia menggunakan tanto bersarung itu untuk memaksa Naruto berdiri.

"kudengar kau bisa menguasai Ninjutsu katon dengan cukup mudah."katanya ringan. "bisakah kau menunjukkannya padaku?"

Naruto yang telah berdiri dari tidurnya hanya mengangguk pelan. Ia sedikit meringis saat Danzou memintanya melakukan hal barusan. Tapi itu adalah perintah, dan dalam NE tak ada yang boleh menentang perintah. Alhasil ia pun menghadap kearah telaga itu, membuat seal jutsu Katon yang baru-baru ini di pelajarinya.

"Katon : Goryuuka no jutsu!"

Satu bola api besar di semburkan dari mulutnya, bola api panas yang cukup besar dan mulai membentuk sesuatu berbentuk kepala hewan di ujungnya. Kepala hewan tadi barulah terbentuk sedikit, dan sisanya masih tetap dalam bentuk bola. Naruto terus menyemburkan napas api-nya, dalam beberapa saat kepala naga sempurna terbentuk. Tapi sebelum ia bisa membuat semua bentuk naga napasnya hampir habis, cadangan oksigennya menipis hingga ia melepaskan jutsu itu.

BYUUR!

Asap kecil mengepul tipis dari permukaan telaga tempat bola api setengah kepala naga tadi tercebur. Meninggalkan uap hasil jutsu yang berhembus menghiasi area telaga selama beberapa saat sebelum menghilang tertiup angin. Naruto menunggu reaksi Danzou, lelaki itu kelihatan tidak memberikan ekspresi apapun.

"apa itu tadi jutsu Goryuka Uchiha?"tanyanya pendek. Ia menatap tajam kearah Naruto, "itu kelihatan lain. Apakah ada yang bicara padamu bahwa jutsu itu kelainan? Kau tak membentuk Goukakyou atau Goryuka, apa yang menurutmu kau bentuk?"

Naruto menundukkan kepalanya. Dihadapannya Danzou melangkah ke depan, sambil menatapnya tajam.

"Lagi Ookami!"

"katon : Goryuuka No jutsu!"

BLAAAR!

"lagi!"

"Katon : Goryuka No jutsu!"

Beberapa saat setelah jutsu-jutsu itu dikeluarkan wilayah itu mulai dipenuhi kepulan asap tipis dan beberapa kali air telaga yang terlihat bergelembung. Di sana, di pinggiran sana seorang pria dengan kepala berperban dan berjubah hitam tetap berdiri sambil bersedekap tangan ke belakang tubuh dengan bocah disebelahnya yang terlihat terengah-engah. Sudut bibir anak itu sedikit mengeluarkan lecet-lecet akibat mulut yang dipaksa membuka oleh udara panas dari paru-paru. Ia kini terduduk dengan lutut menyangga tubuh dan dada yang sedikit tertekuk ke depan.

"bagaimana dengan elemenmu yang lain?"tiba-tiba Danzou bertanya pada Naruto yang kelelahan. "apa kau memiliki elemen lainnya?"

Desau napas naruto memenuhi keheningan di telaga itu. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab perintah orang yang sekarang menjadi tuannya itu.

"suiton."

Danzou kelihatan mengarahkan wajah menatapnya. Kali ini lebih serius, "apa kau juga bisa melakukan jutsu suiton?"

Naruto menggeleng pelan. Kali ini ia berusaha berdiri kembali, "tidak. Aku belum belajar apapun."

Mata Danzou berkilat melihat hal tersebut, menyadari bahwa ia juga memiliki sedikitnya kemampuan menengah pengendalian atas suiton. Diliriknya sekali lagi anak itu, bocah berambut raven yang kelihatan lebih kurus dan jangkung dari saat anak itu datang kemari. Matanya terpatri pada guratan simetris horizontal yang tercetak di atas lidah sang bocah. Juinjutsu kekal itu membuat dirinya kelihatan mempertimbangkan sesuatu. Tangannya tiba-tiba kembali meraba saku dalam jubah gelapnya.

PLUK! PLUK!

Dua buah scroll jutsu dilemparkannya keluar. Kali ini ia memandang sang bocah yang menatapinya penuh tanya.

"kau harus mempelajarinya. Dan jangan lupakan akan kontrol cakra. Aku akan melatihmu tiap akhir pekan, dan selama itu kau harus menjalankan misi yang ku berikan."

Naruto mengangguk-angguk. Ia kelihatan hendak tersenyum seperti kebanyakan anak lain dan mengucapkan terima kasih. Tapi ucapan sang pemimpin selanjutnya benar-benar membuat ia harus mengoreksi diri. NE tak pernah boleh menunjukkan perasaan mereka yang sebenarnya. Alhasil ia tertunduk, dengan mata si ketua yang menatapnya antara memperingatkan atau ingin melumatnya hidup-hidup.

"aku mengerti."

Danzou-pun berjalan menjauh dari sana.

"ingat kataku, jangan tunjukkan emosi dan buang jauh-jauh sikap kekanakan. Jaga kualitas diri dan jangan seperti balita yang lemah dan cengeng. Kau hidup di dunia ninja yang siap melukaimu kapanpun, membunuh atau dibunuh adalah biasa asal semuanya beralaskan akan satu hal."

"-Konoha."

Sepeninggal sang pemimpin naruto langsung membereskan scroll yang baru di dapatnya. Ia melirik kearah sebuah gulungan, gulungan fuinjutsu yang dimilikinya sampai saat ini dengan Cuma-Cuma. Jika melihatnya ia akan merasa sedih, kesal, marah atau bahkan murka. Tapi bagaimana ia bisa membuangnya sementara ia tak memiliki kenangan lain dengan si pemilik bendanya? Lebih parah lagi ia bahkan tidak boleh menampakkan barang-barang miliknya kepada umum, jadi bagaimana ia bisa membawanya tanpa fuinjutsu itu?

'... Naruto.. jangan dibuang sekalipun kau menginginkannya. Itu pasti berguna untukmu..'

Ia memasukan benda-benda tadi dengan insou ke dalam gulungan. Lalu dengan sigap menyimpannya kembali ke saku celana. Di saku lain sebuah buku hitam yang juga ditinggalkan baginya bersarang. Ia meraba-nya sebentar, sedikit tergoda untuk mengetahui isinya tapi kemarahannya yang meluap-luap akan penghianatan membuatnya mengurungkan hal tersebut. Mata sharingannya otomatis aktif kembali, sementara ia menggertakkan rahang dengan kuat menahan air mata yang hendak membasahi pipinya.

'sesungguhnya aku merindukanmu ibu..'

.

.

.

Disisi lain di pusat desa.

Hokage tengah berdiri was-was di kantornya. Ia memandang beberapa civilians dihadapannya dengan wajah tenang, walau dapat dipastikan ia sering kali menghabiskan berdetik-detik hanya untuk melirik ke bawah. Tepatnya sejak hari ini aktivitas pasar, ekonomi dan semua kegiatan perdagangan terhenti. Para warga tak lagi bersembunyi dan kondisi desa telah berubah dari kesenyapannya menjadi amat ramai. Ramai hingga sampai-sampai semua orang berkumpul di bawah gedung Hokage berwarna merah di pusat desa itu.

"kami ingin kejelasan Hokage-sama!"teriak salah satu warga. "semuanya telah kacau! Istri dan anakku hilang! Bagaimana ini Hokage-sama! Aku tak mau mereka mati begitu saja! Lakukan sesuatu Hokage-sama!"

"ya! Kami takut desa lain menyerang Konoha! Tapi keluarga kami kelaparan!"

"anda harus mengambil kebijakan Hokage-sama! Jika tidak kami akan pergi dari konoha! Disini tak lagi menjanjikan apapun! Semua keluargaku mati sia-sia saja!"

"JIKA TIDAK BISA MEMIMPIN MUNDUR SAJA!"

Untuk seruan yang terakhir ia bisa membayangkan betapa telah menderitanya orang tersebut, sampai-sampai hatinya bergetar. Ia memejamkan matanya sejenak, sedangkan seruan-seruan di luaran gedung tetap tidak menunjukkan reaksi untuk berhenti. Semua hal di Konoha telah mati total, tak ada yang melakukan perdagangan, tak ada aktivitas, hanyaylah kota mati yang penduduknya di rundung ketakutan.

"bagaimana ini Hokage-sama?"salah satu dewan civilians berbicara dengan cukup sopan. "kami semua hampir mati kelaparan. Tak adanya kejelasan antara rencana spesifik desa lain untuk menyerang konoha membuat warga ketakutan. Mereka tak mau keluar rumah. Seperti yang anda bisa lihat, dan semua warga menghilang. Bukankah saya rasa desa lain tengah mencoba melakukan penculikan-penculikan?"

"JIKA TAK BISA MELINDUNGI RAKYATNYA SEBAIKNYA MUNDUR! KAMI PERLU HOKAGE BARU!"

"sandaime-sama.."

Sandaime menghela napasnya lelah. Ia menghembuskan asap cerutunya lambat-lambat.

"Konoha tidak sedang berada dalam kondisi perang. Perang telah berakhir dan semuanya telah diakhiri dengan damai. Tak akan ada ancaman dari desa lainnya yang akan menyerang."jawabnya lelah.

"Tapi Hokage-sama-"

Brakh!

"Kubilang tak akan ada yang menyerang! Mengapa kalian begitu ingin ada yang menyerang!? Tak ada serangan dan kita tak berada dalam kondisi peperangan!"wajah Sandaime mengeras setelah menggebrak meja begitu keras. Ia mendapati civilians itu ketakutan hingga bermenit-menit suasana menjadi hening.

"Tapi Hokage-sama, semua warga menghilang! Bagaimana kami semua bisa tenang?"

Lagi-lagi sang hokage memejamkan matanya. Kerutan di wajahnya tak pernah menghilang karena tekanan batin yang begitu berat.

"Untuk saat ini aku tak bisa menjelaskannya. Dan aku tak berjanji akan apapun karena itu adalah urusan diluar dari campur tangan civilians. Semuanya adalah urusan para shinobi. Dan hal itu tak bisa diganggu-gugat, karena rahasia shinobi hanya boleh diketahui shinobi."

"tapi-"

"Apakah kau ingin melanggar kesepakatan undang-undang yang telah dibuat sebelumnya?"tukas sang Hokage tajam. Ia menatap civilians tadi dengan pandangan mata Lurus. "katakan bahwa tak akan ada peperangan. Aku Hokage sendiri yang menjaminnya. Katakan agar semua masa dibubarkan dan kembali beraktivitas seperti biasanya."

Pada akhirnya civilians yang ketakutan tadi menyerah dan pergi. Sandaime Hiruzen Sarutobi menatap kepergiannya sambil menahan napas. Pintu kembali diketuk, namun kali ini ada sosok aura bertekanan di baliknya. Hokage ketiga itu langsung meletakkan kedua siku-nya di atas meja, menautkan jari-jarinya membuat sikap bertahan dari amarahnya yang sepertinya mau meledak.

"masuk!"

Dari sisi pintu seseorang dengan jubah hitamnya menampakkan diri. Sebelah matanya berperban, ia datang bersama dua pengawal setianya.

"kau kelihatan sedang dalam kondisi tertekan. Apa akhirnya kau akan menyerah juga menatapi para civilians yang kau lindungi itu memprotesmu seperti itu? Bahkan para shinobi menghargaimu sedemikian tinggi tapi kau malah takluk pada orang-orang lemah dengan mulut mereka yang tidak bisa dijaga. Sungguh sebuah ironis, seorang yang ditakuti di Konoha begitu takluk.. oleh segelintir rakyat bodohnya yang banyak bicara."

Pria bernama Danzou itu berjalan mendekat kearah jendela. Kedua pengawalnya berdiri tak jauh darinya.

"jika itu aku pasti akan kuhargai rakyatku. Karena sudah sepantasnyalah sebagai Kage itu kulakukan. Aku hadir untuk memimpin mereka dan melindungi mereka, dari semua bahaya termasuk dari dalam dan luar desa."ujar sandaime tenang. "sekarang Danzou, apa yang kau inginkan kali ini?"

"heh, andai kau melihat apa yang mereka lakukan diluar sana. Kelihatannya gaya memimpinmu yang penuh kasih itu tak terlihat di mata mereka. Lalu apa yang sekarang dilakukan mereka benar-benar menunjukkan seolah-olah semua shinobi ini boleh direndahkan begitu saja. Itu sebuah kekeliruan besar, shinobi hadir juga untuk melindungi civilians dan untuk membimbing mereka dalam tiap hal kecil dalam kehidupan. Lalu apa yang kau lihat akan terlihat terlalu miris. Bahkan tak satupun dari para pahlawan perang itu mendapat tempat kehormatan dari orang yang mereka lindungi."

Mata sandaime terpancang pada salah satu Anbu yang mengawal Danzou. Alisnya bergerak naik sedikit, "paling tidak kita sendiri punya contoh shinobi yang tak menghargai shinobinya sendiri. Itu terlalu nyata hingga bahkan pengorbanan yang dilakukan oleh mereka seperti tak terlihat dimatanya. Bukankah sudah kewajiban bahwa tiap shinobi harus menghargai shinobi lainnya? Sekalipun itu adalah sebuah kedisiplinan. Kedisiplinan yang agak tidak mendasar akan menjadi sikap kurang menghargai seseorang sebagai... Manusia."

Danzou mengabaikannya. Ia merogoh jubahnya dan mengeluarkan sebuah gulungan.

"kau tahu apa yang terjadi? Kepemimpinanmu ini telah melahirkan pemikiran berbeda dari para Daimyou tanah. Menambah daftar buruk ninja Konoha dengan menurunnya misi yang dijalani beberapa waktu terakhir. Bahkan sebuah surat dilayangkan, sesuatu yang aku tahu pasti mempertanyakan akan kekuasaanmu sebagai seorang Kage. Kau telah benar-benar berhasil membuat Konoha mendapat nama buruk."

Hiruzen sarutobi menerima gulungan surat tadi. Sebaliknya, ia meletakkannya ke atas meja. Sesuatu yang membuat Danzou mengeraskan rahangnya sedang pria tadi mengeluarkan cerutunya dan berdiri.

"aku tak akan mengatakan apapun Danzou. Seperti katamu, itu adalah sebuah keputusan dan Konsekuensi. Mungkin aku akan segera memundurkan diri, tapi sebelum itu semua terjadi."

Raut kegirangan diwajah pria tua berambut hitam kusut itu mulai memudar.

"akar tak akan keluar dari sarangnya. Ia akan terus abadi di bawah bayangan daun emas Konoha.. apapun yang terjadi itu pasti akan menjadi akhirnya."

Sandaime pun keluar dari kantornya sambil mengepulkan asap cerutu. Pria itu melangkah keluar gedung Orange itu, berjalan ke atas sebuah puncak tiang listrik besar Konoha dan mendarat di atasnya. Di tatapnya semua Konoha Hari itu, beberapa saat beberapa burung bersautan seolah menyahutinya dengan cicitan merdu. Jubah putih Kage-nya berkibar gagah di terbangkan angin, ia memandangi seantero Konoha sambil menghisap cerutunya terus mengedarkan pandangan sebelum matanya membentur siluet patung para Kage.

"kurasa ini adalah waktunya.. Sensei."gumamnya serius sambil melangkah pergi ke suatu tempat dikonoha yang amat diharapkannya.

.

.

.

Naruto tengah bergeming di pinggiran telaga. Di tangannya, foto seorang bertopeng dengan rambut mencuat ke atas berwarna abu-abu lengkap dengan Armor keanbuannya kelihatan sedang balas menatapnya. Ia memandanginya sebentar, lalu dengan bijak berdiri. Di sisi lain tiba-tiba Anbu lain muncul.

"apakah kau sudah mengamati dengan jelas keturunan Hatake terakhir ini?"

Naruto menganggukkan kepalanya. Ia membenarkan posisi topeng Anbunya. Memang jika sedang berada sendirian, ia lebih suka melepasnya dan hanya menggantungkannya di leher. Itu sedikit menyenangkan sesaat setelah ia memasuki Anbu dan dilarang menampakkan wajahnya sedikitpun pada dunia dan mataharinya yang cemerlang. Wajahnya pun banyak berubah, lebih tirus, lebih pucat, dan kelihatan lebih berkurangnya ekspresi.

"aku akan melakukannya sekarang. Ini adalah waktu para Anbu yang beristirahat keluar dari rumah mereka."kata Naruto sambil melirik kearah jam saku-nya. "baiklah aku harus pergi. Tenzou,"

Anak berambut cokelat bertopeng merah dan corak lain hijau itu mengangguk. Ia juga kelihatan sedang bersiap-siap untuk misi lainnya.

"jangan mengecewakan Konoha dan Tuan.. Ookami."

Mereka lantas berlari secara terpisah. Anbu bercode Ookami itu melarikan diri mendekati desa dan Tenzou melangkah kearah sebaliknya. Hubungan antar Anbu dalam NE biasanya hanya sebatas pemberian misi, pemberitahuan misi, satu asrama, atau senior dan junior. Dalam hal ini Tenzou bertindak sebagai Senior sekaligus sebagai partner untuk Ookami. Lagi pula dengan sharingan hal tersebut tidaklah terlalu berarti lagi, Ookami mempelajari banyak hal dengan cepat akan semua hal yang diketahui Tenzou. Mereka juga cukup akrab, sebab keduanya ditempatkan dalam asrama yang sama.

Tap! Tap!

Tap!

Dari balik sela-sela rumah, sang Anbu serigala berlari. Sekarang ia menyelinap kesalah satu sudut gelap rumah penduduk. Dari balik pakaian Ne-nya, ia menarik sebuah peta. Peta atau lebih tepatnya denah lokasi yang telah ditandai sebelumnya oleh Tenzou yang memberinya informasi akan Anbu baru Kakashi Hatake. Konon, menurut kabar bahwa Anbu itu adalah seseorang yang cukup agresif, itu sebabnya NE hadir dan mengutusnya untuk mengawasi orang yang katanya mengalami Gangguan serius pada emosi terhadap ninja-ninja dari desa Iwagakure.

'tuan memberiku misi agar aku terus mengikutinya. Kudengar ia juga seorang prodigy, tinggal sendirian tanpa ayah atau-pun sudara. Itu tak akan terlalu sulit berarti..'pikir naruto menganalisa. Ia terus memandang kearah peta tadi, satu tanda merah yang tercoreng menjadi tempat yang akan ditujunya. Dengan hati-hati dan sedikit pelatihan penekanan cakra oleh sang mentor, ia berhasil mengawali ini dengan hanya menampakkan lebih sedikit cakra yang dimilikinya. Matanya menatap awas kearah sekeliling, ia melirik kearah jam disakunya lagi.

'jam makan siang. Orang ini akan keluar dan aku hanya perlu untuk melacak kearah mana ia berada dari kedai-kedai di pusat Konoha.'

Tepat seperti perkiraannya beberapa saat setelah terlihat banyak tekanan cakra disekelilingnya. Naruto tentu saja bisa membaca dari mana arah orang yang ditunggu-tunggunya datang. Seringainya terkembang dan secara hati-hati ia mulai bersembunyi di sisi paling gelap rumah-rumah yang tidak terkena sinar matahari.

Dari tengah jalan tampak seseorang bermasker berhittae-ate Konohagakure. Lengkap dengan rambut jabrik berwarna abu-abu dan armor Anbu non Misi serta celana Jounin dan sepatu ninja standar.

'Hatake.. Kakashi..'pikir naruto sambil mengikuti orang itu keluar dari rumahnya.

.

.

"jadi apakah yang harus kulakukan.. Sandaime-sama?"

Minato yang termenung kelihatan menghadapi Sandaime di rumahnya. Mereka duduk berhadap-hadapan diikuti kepulan asap cerutu Sang Hokage yang terus menerus hadir dalam pertemuan mengejutkan mereka yang singkat.

"aku merasa aku belum siap akan hal tersebut. Apakah anda sudah mempertimbangkan hal ini masak-masak? Saya yakin anda tak seperti yang orang lain ceritakan."

Terdengar deru napas dibuang. Sandaime mematikan cerutunya, dengan tenang. Ia sudah mendatangi Kediaman dari pasangan suami isteri Namikaze. Si ninja cerdas Minato tengah sendirian dirumahnya begitu ia sampai. Tapi lebih baik dari itu ia sudah menyampaikan semua niatannya kemari. Di luar sana suara burung yang bercicitan saat sore menjelang memenuhi suasana.

"di Konoha hanya tinggal ada kau dan Muridku Orochimaru-sannin, Jiraiya sannin sedang berkelana untuk menjadi mata-mata Konoha. Tsunade senju seperti yang kau ketahui ia telah menghilang sejak insiden perang berakhir. Tak ada yang bisa diharapkan dari ketiganya, yang satu mengerikan, yang satu tak ingin terikat, dan yang satu sedang terlalu depresi. Andai kau mengerti, aku begitu mencintai Konoha lebih dari yang bisa kuungkapkan. Sekarang hanya tinggal dirimu yang masih tersisa, kupikir hanya itu yang bisa kuharapkan dari sisa umurku yang renta ini."

Minato terdiam. Ia memandangi teh di cangkirnya dalam-dalam.

"Kau tahu Root akan membuat abad baru yang mengerikan bagi Konoha jika jabatan Kage kutinggalkan. Kau sudah mengetahui mengenai hal itu, jadi kusarankan kau memenuhi permintaan ini. Anggap saja sebagai hadiah bagiku setelah lebih dari setengah abad masa jabatanku di Konoha ini."

Dari arah pintu tiba-tiba terdengar gerakan pada engsel-nya. Seseorang berambut merah, berpakaian putih dengan kulit bersinarnya masuk. Perut membuncitnya seolah tak mengurangi kecantikannya. Wanita itu kelihatan senang sekali, tapi ia langsung membungkukkan kepalanya begitu melihat siapa yang berada di rumah mereka.

"Tadaima.. Minato-kun. Sandaime-sama.."

Hiruzen sarutobi tersenyum lembut. Ia mengangkat sebelah tangannya menyilahkan Kushina Uzumaki masuk ke dalam dapur untuk meletakkan belanjaannya.

"kau sudah melihat bagaimana perekonomian Konoha yang mati. Kehidupan ini akan menjadi lebih buruk jika dibiarkan berlarut-larut nantinya."ia melirik kearah ruangan tempat wanita berambut merah tadi menghilang. "Jika Kushina tidak sedang mengandung tentu saja aku akan menawarkan hal yang sama dengannya. Kau tahu inilah yang paling diinginkannya sejak datang Ke Konoha pada saat Mito-sama masih hidup."

"ha'i. Kalau begitu tak ada yang bisa kulakukan. Semua ini akan kulakukan demi Konoha dan Anda.."

Hiruzen bangkit dari duduknya diikuti Minato, lelaki itu menepuk bahu Namikaze terakhir itu sambil tersenyum penuh kelembutan. "datanglah besok, dan kita akan meresmikan pengangkatanmu sebagai Kage-Yondaime Konoha."katanya sambil menghilang dari balik pintu.

Di luar sana, malam begitu damai dengan bulan sabit yang menghiasi langit. Bintang-bintang berkerlap-kerlip indah, disisi lainnya seseorang bertopeng memandangi interaksi antara Sang kage dengan Sang sensei dari atao rumah penduduk. Wajahnya kelihatan penuh ingin tahu tapi ia memutuskan bukan waktu yang tepat untuk menghampiri sensei-nya dan bertanya. Sebaliknya ia membalikkan diri, pulang kerumah tapi lebih dulu menghampiri tugu pahlawan Konoha.

Dari balik kegelapan seseorang bertopeng dengan kedua bola mata sharingannya diam-diam mengamatinya dari kejauhan.

TBC.