aku berharap ini tak akan mengecewakan kalian. ini sengaja kubuat secara beruntut karena mungkin sabtu minggu ini aku tidak bisa mengupdate ceritaku. dan terima kasih atas semua review dan Fav-nya. aku benar-benar menantikan kesan kalian di chapter ini.
untuk pertanyaan reader biar kupersingkat saja.
: apakah nanti Nonou akan mati seperti di canon?
well, biar kupikir-pikir tentang hal tersebut lebih dulu. bukan maksudku untuk tidak sopan, tapi itu pasti bagian dari cerita nantinya.
sekali lagi, kukatakan aku sangat menghargai review kalian sebagai bentuk penyemangat untukku menulis.
jadi jangan lupa review nantinya.
selamat hari kartini!
Root Of Uchiha.
Chapter 11
Yondaime dan terbitnya kebencian Uchiha.
. . . . . . . . .
'Mulai hari ini kuumumkan bahwa Konoha memiliki Yondaime Baru.. dia adalah Minato Namikaze Kiroii senkou!'
Di atap gedung orange Konoha itu seseorang berseru nyaring. Seseorang yang amat dikagumi dan dihormati, orang tua bercaping kanji 'Hi' itu melepaskan gelar Kehormatannya diikuti dengan peletakan topi bagi Kage yang baru. Dia adalah pahlawan Konoha di perang dunia ketiga atau seseorang yang lebih dikenal sebagai Namikaze terakhir. Semua orang bersorak, menyuarakan 'Hidup Yondaime' atau 'Konoha akan Maju'. Semua clan menghormati keputusan sang Hokage ketiga tanpa banyak protes karena pengangkatan Kage paling muda dalam sejarah Konoha itu.
'Yeaah! Akhirnya kita akan mengalami kemajuan!'
'Kage kita adalah kage yang paling ditakuti se-Elemental Nation!'
'Horeee! Akhirnya Konoha akan berevolusi!'
Semua orang dibubarkan setelah beberapa saat suasana begitu formal dan gembira dalam hari cerah paling bersejarah di Konoha itu. Kage baru telah ditentukan dan orang yang dianggap pantas telah diangkat menjadi sang Kepala Negara api. Banyak yang bilang bahwa Konoha akan jauh lebih kuat dari sebelumnya, atau semua hal yang akan mengarah pada hal tersebut. Semua Perencanaan Kurikulum ditata Ulang, dalam waktu dekat sepertinya Konoha akan mengalami Revolusi besar-besaran.
. . . . . . .
"Aku pergi Kushina!"
Wanita berambut merah itu menganggukkan kepalanya pada lelaki pirang berpakaian kaos Jounin biru terang lengkap dengan jubah berkanji 'Yondaime' yang sekarang tengah dikenakannya dengan gagah. Seperti biasa, dalam sekejab saja pria itu telah menghilang dengan semangat diikuti kilat kuning shunshin Hiraishin yang digunakannya.
"ya! Hati-hati -ttebane!"katanya pada ruang yang sekarang kosong melompong.
Ini adalah tepat dua bulan sejak pengangkatan sang suami menjadi Kage baru Konoha. Semua kebahagiaan desa dan dirinya terasa begitu nyata hanya dengan kepemimpinan pria itu pada desa ini. Walau ia sendiri begitu iri karena seharusnya ia yang menjadi Kage wanita, tapi itu tidak menjadi permasalahan. Bayi mereka akan lahir dalam waktu beberapa minggu. Dan kebahagiaan mereka akan terasa lengkap dengan hadirnya Namikaze kecil itu kelak.
'hm. Menma-Menma.. Nama itu kelihatan benar-benar cocok. Ia akan menjadi sesuatu yang dicintai segala orang, seseorang yang akan melengkapi kebahagiaan orang-orang dan kehadirannya akan selalu dinantikan. Meski agak aneh tapi siapa yang perduli dengan itu? Minato-kun sudah memutuskannya dan aku menyukai keputusannya ini.'
Brush!
Ia mencuci tangannya di wastafel. Lalu mengeringkannya dan membuka kulkas, belanjaan mereka sedikit kurang akhir-akhir ini karena Minato jarang sekali mengajaknya makan dirumah semenjak beberapa petinggi desa mengundang mereka ke tiap acara yang ada. Itu sedikit menyibukkan mereka, terutama dengan keengganan mereka dipanggil dengan sapaan penuh hormat '-Sama'. Bagi pasangan muda itu pasti adalah pencapaian yang besar sekaligus beban yang berat.
"kelihatannya aku akan belanja hari ini –ttebane."ujarnya dan bersiap untuk pergi ke pasar setelah memastikan apa-apa yang akan dibelinya.
Tap! Tap!
Tap!
"apa yang harus kubeli? Ah! Aku benar-benar payah untuk mengingat semua hal sekaligus. Lagi pula apa untungnya? Aku sedang tidak menyukai apapun akhir-akhir ini.. dan ya.. Kuharap Menma Kecilku tidak suka berdiet terlalu lama karena itu buruk untuk kesehatannya."Kushina berjalan sambil menyentuh dagu dengan telunjuk dan mengamati sekitar dengan ekspresi riangnya. Wanita itu selalu mendapati orang-orang mengucap salam kepadanya, sesuatu yang pasti dibalasnya dengan senyuman. Dengan menjadi isteri orang Nomor satu di Konoha, tentu saja ia jadi begitu terkenal. Semua warga bahkan ingin memberinya dagangan mereka.
"Kushina-sama! Terimalah.. ini Untuk anda dan Yondaime-sama dirumah!"tukang buah memberikan sekeranjang buah kepadanya. "Kumohon jangan ditolak. Hanya ini yang bisa kuberikan untuk Yondaime-sama terhadap segala jasanya dalam memajukan Konoha."
"Kushina-sama! Ikan ini baru dibeli dari negara tetangga! Kumohon terimalah!"
"Kushina-sama! Aku akan sangat sedih jika anda menolaknya!"
Bahkan ia tak perlu berbelanja. Semua orang seolah berebut memenuhi kebutuhannya dan suaminya. Itu membuatnya sedikit repot karena semua kantung belanjaannya penuh, dengan terpaksa ia menampakkan senyum penuh bersalahnya pada pedagang sayur yang terakhir kali ditemuinya.
"maafkan aku ojisan, aku sudah tidak bisa membawanya. Lain kali aku pasti akan menerimanya."katanya dengan nada bersalah. Ia pun meninggalkan lelaki yang menunduk murung itu setelah sebelumnya mengucapkan kalimat terima kasih. Entah apa yang telah dilakukan Minato Namikaze bagi Konoha, tapi hanya dalam kurun waktu seperti itu mereka sudah banjir akan pujian. Itu sedikit menguntungkan atau juga tidak menguntungkan. Musuh-musuh mereka di perang dunia ketiga dari desa lainnya pasti akan dapat mengetahui segala informasi orang lain jika mereka terlalu populer seperti itu.
'entah aku harus mengatakan apa.. ini mulai membuatku merasa tidak enak. Seolah-olah bahwa akan ada bahaya dengan jadinya Minato menjadi Hokage. Bahkan didalam desa saja aku yakin tak akan ada yang membiarkan karir-nya berjalan mulus. Belum lagi Iwagakure dan Kumogakure.. Kammi-sama semoga semuanya baik-baik saja.'
Tiba-tiba seseorang mengait lengannya. Kushina terkejut bukan main begitu mengetahui tubuhnya ditahan seseorang.
"Kushina-sama."
Suara lembut itu membuatnya menoleh dan melebarkan matanya. Disana, sesosok wanita paling anggun dari clan ternama tengah menatapnya dengan wajah simpatik. Seperti biasa, Mikoto Uchiha membawa Sasuke bersamanya, dibawahnya Itachi yang membawa belanjaan juga terlihat oleh mata violet si istri Yondaime itu.
"Mikoto-chan! Jangan membuatku malu dengan panggilan itu!"kata Kushina sambil berbisik kepada Mikoto Uchiha yang hanya ditanggapi dengan tawa pelan nan merdu. Ia melirik kearah bayi Sasuke dan Itachi bergantian, mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka.
"aku tak menyangka kita akan bertemu disini. Kushina-san, kupikir kau sudah akan jarang sekali beraktivitas diluar rumah. Kukira kelahiran calon bayi kalian pasti tak akan lama lagi."
Keduanya berjalan beriringan. Kushina tertawa sejenak, bukan tawa natural tapi tawa nervous karena tahu apa yang dikatakan sahabatnya itu benar 100 persen.
"hehe.. kau tahu aku tidak bisa bertahan dirumah berlama-lama –ttebane. Lagi pula mana mungkin aku bisa bertemu bayimu yang imut ini dan anakmu yang tampan itu jika aku terus bertahan dirumah. Itu sesekali membuatku bosan, kurasa aku mengerti bagaimana harus berjuangnya seorang ibu hamil. Itu benar-benar sedikit merepotkanku Mikoto-chan."
Mikoto tersenyum, ia memandang Sasuke sebentar lalu kepada Itachi. "kau boleh pergi duluan jika mau Itachi-kun."katanya lembut dan dijawab anggukan oleh bocah tadi. Mereka mengamati kepergian bocah tampan itu dengan senyum merekah.
"pasti hidupmu amat sempurna ya Mikoto-chan. Aku benar-benar ingin segera menyusulmu."
"hm."sahut Mikoto tenang. "bagaimana kabar Minato-san? Kupikir aku juga harus berterima kasih karena dengan kehadirannya Konoha memulih dengan cepat. Kurasa inilah yang dibutuhkan Konoha kedepannya. Sebuah pemimpinan yang sangat menguasai bidangnya. Dan kudengar kalian juga adalah pasangan paling populer di Konoha, cantik dan tampan. Aku jadi ingin segera melihat bayi di dalam perutmu itu Kushina."
Wajah Kushina Uzumaki memerah.
"aku juga sudah menentukan nama untuknya. Namikaze Menma.. Bagaimana menurutmu?"
Mikoto menganggukkan kepalanya. Mereka terus berjalan sampai ketika Mikoto menggiring Kushina kedepan Gerbang Uchiha Compound. Wanita itu berhenti berjalan, ia tersenyum hangat pada teman masa akademi-nya itu.
"kali ini mampirlah. Aku akan senang sekali jika mau melakukannya."kata Mikoto lembut. "kami akan sangat senang jika kau mau melakukan itu, hitung-hitung ini sebagai survei-mu pada Compound Uchiha Konoha. Dan lagi disana kau akan bertemu Itachi-kun, jadi kau melakukannya kan?"
Seperti biasa Kushina mulai bergerak-gerak Gelisah. Ia begitu ingin mengikuti saran tersebut, lagi pula Namikaze Compound 700 meter lagi dari sana. Ia bukanlah orang yang bisa menolak orang lain dengan mudah, kecuali jika itu dihadapkan pada Minato Namikaze. Mungkin iya, ia hanya akan menolak permintaan orang lain jika itu datang dari mulut suami-nya itu.
"err.."
"Kushina-sama?"panggil Mikoto menggoda sahabatnya. "kau harus bersedia. Kau sudah tidak mengunjungiku di Uchiha Compound sejak lama."
"jika kau mau berhenti melakukan itu. Baiklah Mikoto-chan. Tapi dengan satu syarat."Mohon Kushina menggunakan wajah memohonnya. "..-aku yang menggendong Sasuke-chan ya?"
"hn. Tentu saja."Mikoto berujar pelan sambil menyerahkan Sasuke kedalam gendongan sahabatnya itu. "wah, kau kelihatan pantas menggendongnya Kushina-san."
"yee. Tentu-saja –ttebane! Aku akan jadi ibu yang hebat nantinya. Lihat betapa imutnya Sasuke-chan! Aku benar-benar gemas ingin bermain dengannya. Ya kan Sasuke-chan?"Kushina mendekatkan wajahnya pada bayi Sasuke. Ia mengulurkan jari telunjuknya untuk menggoda bayi kecil itu. Sesuatu yang biasanya langsung dibalas dengan genggaman erat dari tangan-tangan mungil si bocah yang begitu mempesona ini.
"Fugaku-san benar-benar menghasilkan keturunan yang tampan!"puji Kushina sambil membiarkan Sasuke mengggenggam tangannya. Mereka memasuki Kompleks clan dengan tenang hingga smeua mata tertuju kearahnya. Beberapa pedagang memberinya salam. Seperti biasa, ia hanya bisa tersenyum, lalu melirik sahabatnya yang juga mendapat salam serupa.
"apa keamanan Konoha baik-baik saja Mikoto-chan?"tanya Kushina setiba-nya mereka di depan rumah Mikoto Uchiha. Wanita itu melepaskan sendalnya dan masuk. Di dalam ruangan sosok bocah lain tengah menunggu sambil duduk di dekat kantung belanjaan. Di sepasang kakinya telah dipasang sepatu standar ninja.
"sugoi! Anakmu akan berlatih Mikoto-chan?"
Mikoto tersenyum dan melemparkan pandangannya kearah Itachi. "hati-hati Itachi-kun."
Jadi secara otomatis keduanya hanya berdua saat ini. Di atas tikar tatami, Kushina duduk di meja makan lesehan kediaman Uchiha itu. Mikoto melangkah kedapur untuk membuatkannya teh, dan dalam sekejab merek telah bercengkrama di ruang tersebut.
"Nee. Jadi bagaimana dengan keamanan Konoha Mikoto-chan? Kau tidak menjawab pertanyaanku sebelumnya."Kushina menimang-nimang Sasuke. Lalu mengangkatnya ke Udara selama beberapa saat. Mikoto menghirup tehnya dengan anggun, sikapnya begitu tampak natural dari kedisiplinan yang ditegakkan keluarga Uchiha selama turun-temurun.
"Tentu. Fugaku-kun telah memastikan bahwa setelah pengangkatan Yondaime tak ada Kriminalitas berarti yang berarti ada penyusupan pada desa. Mengapa kau menanyakan hal tersebut Kushina-san?"
Refleks, Kushina menutup mulutnya setelah tertawa melihat tingkah imut sasuke yang menurutnya benar-benar lucu.
"aku hanya merasa sedikit heran, semua Polisi Uchiha kelihatan benar-benar serius tadi, seolah-olah mereka sedang benar-benar waspada akan sesuatu. Itu jadi membuatku berpikir kalau desa sedang berada dalam bahaya. Karena ya, seperti mereka sedang tertekan."
"untuk kali ini tak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku bisa memastikan akan hal itu atas nama Uchiha."ujar Mikoto lugas. Tiba-tiba ia melirikkan wajahnya kearah pintu depan, tepat saat seorang pria menggeser pintu rumah mereka dan masuk.
"tadaima."
Kushina langsung menurunkan sasuke dan mendekapnya dalam gendongan. Ia sedikit tersenyum saat melihat suami sahabatnya yang muncul dari luar rumah. Pria itu menatapnya sekilas, wajahnya benar-benar datar sampai Kushina merasa senyumnya tidak bisa melunturkan kedinginan hati Komandan Pasukan Polisi Militer Uchiha itu.
"Kushina-sama."sapanya datar. Mikoto menuju keruangan itu pada waktu yang tepat sementara Fugaku menyelinap keruangan lain untuk mengambil suatu hal.
"Apa Fugaku-san selalu pulang pada jam yang sama setiap hari?"
Mikoto menggeleng, ia belum sempat menjawab begitu Fugaku keluar ruang kerjanya dan kembali berpapasan dengan mereka. "aku pergi dulu."kata pria itu bahkan tanpa menoleh kearah Kushina sama sekali, seolah-olah kehadiran wanita berambut merah itu tidak tertangkap mata awas sang Head Clan Uchiha.
"apa dia selalu begitu dingin?"
Mikoto membalasnya dengan senyuman. "kurasa dia sedang memiliki masalah pekerjaan. Dan ya, tadi Fugaku-kun mengatakan bahwa Minato-san mencarimu di kediaman kalian. Sebaiknya kau bergegas, ia pasti khawatir mencarimu kemana-mana."
Kushina tampak sedikit kecewa karena tidak bisa berlama-lama dengan sasuke. Ia mencium bocah itu sebentar lalu berdiri dan mengangkut belanjaannya. Tentu saja itu membuatnya kerepotan, dengan tubuh menggelembung khas ibu hamil beban belanjaan pasti akan sangat merepotkan bagi calon ibu itu.
"aku akan mencarikan satu Polisi Uchiha untuk menolongmu. Tunggulah sebentar,"kata Mikoto dan melangkah keluar dari rumah mereka. Tapi belum sempat ia keluar dari gerbang, siluet seorang pemuda telah tampak di depan matanya. Orang itu tampak begitu pucat, mengenakan pakaian khas Uchiha berwarna hitam dan merupakan Shinobi dilihat dati Hittae-ate yang dikenakannya. Dan secara kebetulan orang itu melihat kearahnya, otomatis tangannya melambai membuat isyarat agar si pemuda mendatanginya.
"Ada yang bisa kubantu.. Mikoto-sama?"
"bisakah kau mengantarkan Kushina-sama Istri Yondaime pulang dan membawakan belanjaannya?"
Orang itu mengangguk. Mikoto menatap mata pemuda itu menganalisis, "aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Bisakah aku mengetahui siapa Namamu?"
"Naruto. Panggil saja aku begitu Mikoto-sama."
Di depan pintu rumah keluarga Uchiha itu Kushina telah berdiri, ia membawa belanjaannya dengan susah payah dan mendekat begitu Mikoto memberikan lambaian tangannya. Lagi-lagi ia melirik si pemuda yang langsung mengambil alih belanjaan itu dari pelukan sang istri Yondaime. Mereka tengah berdiri di depan Kediaman Mikoto saat ini.
"kau harus menjaganya Naruto-san. Yondaime akan murka jika istrinya sampai kelelahan."gumam Mikoto mewanti-wanti pemuda itu. "berhati-hatilah di jalan ya!"
Sore itu Kushina berjalan pulang diikuti oleh pemuda yang berjalan setengah langkah dibelakangnya. Orang itu membawakannya belanjaan yang tadi sebenarnya bukan dibelinya melainkan merupakan hasil pemberian. Sebenarnya Kushina bukan orang yang menyukai keheningan, jadi ia memutuskan untuk menunda setengah langkahnya agar mereka berjalan beriringan. Sepintas ia melihat pemuda tadi juga ikut menunda setengah langkahnya, tapi dengan sigap ia meraih lengan si pemuda Uchiha.
"kau tidak perlu merasa terlalu sungkan padaku. Berjalanlah di sampingku, dan ceritakan padaku tentang kehidupanmu. Kulihat kau adalah orang yang cukup ramah di Uchiha clan.. Naruto-san."mulai Kushina membuka pembicaraan. "sayang sekali meskipun para Uchiha menawan tapi mereka jarang sekali menawarkan keramahan. Mengapa begitu Naruto-san?"
Dari ekor mata Kushina melihat bahwa Pemuda Uchiha itu terlihat menawan dengan Kulit pucatnya. Sekilas, tampak jelas bahwa postur tubuhnya kurang lebih tinggi sedikit dibanding dirinya. Tubuhnya begitu kurus, dan matanya kelihatan menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Terlebih karena semua mata para Uchiha adalah hitam kelam, jadi Kushina sedikit kesulitan menebak isi hati si pemuda yang mengantarkannya itu.
"hn. Kurasa itu karena menghormati anda.. Kushina-sama."
Kushina mengerucutkan bibirnya kedepan. Sesuatu yang selalu dilakukannya ketika berpikir, "para Uchiha memang selalu misterius. Bukankah begitu Naruto-san? Mengapa kalian begitu tertutup seperti itu?"
Naruto tidak menjawab, ia hanya melemparkan sedikit senyum yang pasti cukup menawan sampai membuat mata istri Hokage keempat itu kelihatan berbinar.
'kuharap Menma-kun akan menjadi semenawan dirimu.. Naruto-san.'pikir Kushina sambil mengelus perutnya yang membuncit. "jadi kulihat kau adalah seorang Jounin Anbu. Bukankah begitu Naruto-san?"
Tanpa disadari Kushina orang bernama Naruto itu melebarkan matanya. Otomatis ia melirik wajah Kushina dalam waktu yang sama, "bagaimana anda mengetahuinya Kushina-sama?"
Kushina tertawa. "Kurasa itu kalimat pertamamu yang paling panjang. Baiklah Naruto-san, akan kujelaskan."ia tertawa pelan. "aku adalah seorang Jounin sebelum menjadi istri dari Yondaime-sama, tentu saja aku tahu semua wajah Ninja desa Konoha. Dan aku belum pernah melihatmu, tentu saja karena kau selalu menutupi diri dengan topeng bukan? Wajahmu pucat. Itu berarti kau selalu bekerja tertutup tanpa terkena sinar matahari. Logikanya markas para Anbu berada di bawah tanah. Bukankah itu akan sangat minim melihat cahaya?"
Naruto memperhatikan Kushina Uzumaki secara serius. Ia bahkan mengamati tiap gerak-gerik wanita itu.
"yokatta! Aku benar-benar akan memiliki anak yang cerdas, bukankah begitu Naruto-san?"
Naruto kelihatan berpikir sebentar. Lalu ia menganggukkan kepalanya singkat. "tentu. Kushina-sama."
Mereka terus berjalan. Sesekali Kushina tersenyum menatapi orang-orang yang melantunkan salam kepadanya. Itu juga sedikit menambah beban bagi pemuda Uchiha disampingnya, bawaan mereka sedikit lebih padat dari pada sebelumnya. Jadi saat melewati telaga yang sekarang mulai memantulkan pendar keorenan langit sore, Kushina langsung mengisyaratkan Naruto Uchiha untuk mengikutinya ke sisi telaga. Mereka berdua memandang sore yang mulai menjemput, Naruto berdiri beberapa senti dari Kushina Uzumaki sedangkan wanita itu duduk meletakkan kedua kakinya menjulur di ujung kayu jembatan itu.
"sore yang indah bukan Naruto-san?"
Naruto hanya mengangguk mengiyakan. Ia juga ikut-ikutan memandang langit sore hari itu.
"jadi anda menyukai langit sore?"tanya Naruto memastikan. Kushina meliriknya sesaat, lalu tertawa sedikit. "aku hanya menyukai kenangan yang kutinggalkan disini sejak masa genin dulu. Hanya ada aku, Mikoto Uchiha dan Minato Namikaze yang menemani telaga ini seusai kami mengikuti upacara kelulusan hari itu. Kau tahu betapa menyenangkannya masa lalu setelah apa yang sudah lewat."
Angin bertiup lambat-lambat, menyapu dedaunan dan meninggalkan suara berisik di udara.
"jadi apakah kau juga menamatkan Akademi ninja di usia muda sepert para Prodigy lainnya Naruto-san?"
"maafkan saya Kushina-sama, tapi itu bukan sesuatu yang harus saya jawab."
Kushina mengerti, ia tidak bertanya apapun sampai malam mulai menjemput. Masih di tempat yang sama ia melihat Pemudia Uchiha yang mengantarkannya menunggu ditempat, menggendong kantung belanjaan super penuh dan tanpa sedikitpun mengeluhkan waktu yang bisa dipastikannya berlalu dengan cepat tanpa ia sadari. Mereka telah menghabiskan waktu 3 jam lebih hanya untuk menantikan matahari tenggelam, itu mengharuskan Kushina bangkit dan langsung mengajak Naruto Uchiha pulang ke kediamannya.
"waktu selalu berlalu begitu cepat bukan Naruto-san? Aku tidak menyangka aku telah melewatkan berjam-jam tanpa kusadari."senyumnya yang lembut ditujukan pada Naruto. "terima kasih karena terus menungguiku dengan penjagaan tanpa mengeluh sedikitpun. Kau benar-benar Uchiha yang baik Naruto-san."
Naruto mengangguk. Mereka berjalan menelusuri sisa gang-gang yang anda dan akhirnya menemukan satu Apartemen besar yang kelihatan terang benderang. Di depan sana, pintu terbuka, Minato Namikaze telah menunggu kedatangan sang istri di depan rumah dengan wajah khawatir.
"Kau benar-benar membuatku kahawatir Kushina-Chan! Kukira kau mengalami kejadian yang tidak-tidak! Aku bahkan sampai menyesal karena kau tidak membawa kunai Hiraishin milikku. Itu membuatku cemas, kau menghilang seharian penuh ini."
"aku tidak akan sebodoh itu. Mari persilahkan Pada Naruto-san untuk membawa belanjaanku kedalam."
Minato kelihatan melongo melihat istrinya membawa pemuda itu di saat kepulangannya. Alisnya otomatis mengkerut, "siapa ini Kushina-chan?"
Kushina menggendikkan bahu cuek. "Bukankah dia tampan –ttebane? Dia adalah malaikat yang mengawalku seharian ini. Ah tidak! Dia yang menemaniku saat suamiku sedang tidak ada."
Minato tahu bahwa itu kesalahannya karena ia tidak bisa terus menemani istrinya yang hamil ke semua tempat yang diinginkannya. Jadi ia merasa sangat bersalah begitu ada pria lain yang mengawasi istrinya, dengan suka hati dan selama seharian. Mungkin iya, ia sedikit cemburu, tapi perasaan itu ditepisnya. Meski ia bertanya-tanya kemana seharian sang istri hari ini? Dengan pemuda yang usianya pasti tidak jauh dari mereka, apakah yang harus diharapkan akan hal tersebut?
Kushina menepuk bahu Minato lambat-lambat. "izinkan Naruto-san meletakkan belanjaannya Minato-kun."
Dengan berat hati Minato memberikan jalan bagi pria yang pasti bisa membuatnya penasaran setengah mati itu. Orang itu langsung masuk kerumahnya setelah memberikan salam padanya, untuk kali ini saja ia bisa memastikan bahwa lelaki itu cukup tampan untuk bisa menggaet hati istrinya. Itu membuatnya sedikit lesu, bagaimana jika Kushina benar-benar telah jatuh hati pada pangeran tampan itu?
"Terima kasih Naruto-kun. Kau boleh pergi,"kata Kushina sambil tersenyum anggun. "sampai jumpa –ttebane!"
Orang itu berlalu. Minato menutup pintu, dan bergegas ke dapur menyusul Kushina. Ia meminum air segelas penuh sambil terengah-engah dan melihat istrinya yang kelihatannya amat bahagia.
"dia seorang Uchiha kan Kushina-chan?"
"ya."
"jadi kau menghabiskan sepenuhnya hari bersamanya?"
"setengah. Aku menghabiskan separuhnya di rumah Mikoto-chan –ttebane. Memangnya ada apa?"Kushina mengeluarkan semua belanjaannya dan mulai menyusun semua itu di kulkas. Minato menggaruk belakang kepalanya sebentar. Kelihatan gerogi, "apakah menurutmu dia tampan?"
Srek!
Kushina berhenti bergerak. Ia menatap Minato tajam, tapi matanya langsung berubah menjadi tatapan penuh cinta setelahnya. "kau bercanda! Tentu saja Naruto-kun Tampan! Ya ampun Minato, kau harus melihat saat aku berjalan bersamanya! semua gadis menatap kearah kami! Itu membuatku seolah tersanjung seharian ini. Lagi pula ia adalah Uchiha yang cukup manis, sedikit misterius, tenang, seorang yang mengerti wanita dan lembut. Siapa yang tidak menyukai laki-laki seperti itu?"
Minato sweatdrop mendengarnya. 'aku kalah darinya?'pikirnya frustasi.
"aku jadi tidak heran mengapa Mikoto-chan memilih menikah dengan lelaki Uchiha. Dan kurasa ia benar, jika lelaki Uchiha sudah mencintai seseorang, ia akan bisa bersikap manis terhadap orang yang disukainya!"
Perasaan Minato jadi makin terombang-ambing. "Apa menurutmu Uchiha-san itu jatuh cinta padamu?"tanyanya ragu-ragu. "maksudku.. kau sudah menikah, lagipula kau adalah istri seorang Yondaime.. err jadi apa itu.. menjadi sesuatu yang kau perhatikan? Maksudku? Apakah kau tahu ia juga mencintaimu?"
Kushina berdiri. Ia menatap Minato serius sambil mengerucutkan bibirnya kedepan. "jangan bilang jika aku jadi jelek dengan tubuh seperti ini! Kau benar-benar jahat Minato! Dan ya! Aku masih cantik, lagipula Menma-kun tidak akan jadi jelek, jadi ibunya pasti cantik. Kupikir, Mungkin jika aku belum menikah, aku pasti akan menjadi fansgirl sekarang."ia merenung sendiri.
"tapi Minato. Karena aku sudah menikah, aku pasti akan berkomitmen pada pernikahan ini. Lagipula buah hati kita akan segera lahir, dan kebahagiaan kita akan jadi sempurna. Keluarga Namikaze yang sempurna. Kau bisa membayangkannya Minato?"wajah Kushina bertambah cerah ketika mengungkapkannya. "kita akan memiliki anak yang suatu saat akan selalu menjadi pembuat masalah di dalam rumah, sehingga rumah ini tidak begitu sunyi saat kau berangkat ke gedung hokage! Aku yakin ia akan jadi malaikat yang menyelamatkan hidup ibunya dari Neraka kesepian!"
Senyum Minato mengembang. "aku mengerti. Ia pasti akan jadi cantik sepertimu, tak ada anak yang tak mewarisi gen menawannya orang tua mereka."ujarnya bangga. Tapi Kushina langsung menggeleng mendengar beberapa kalimat terakhirnya.
"tapi kuharap ia mewarisi ketampanan Naruto-kun! Ia pasti akan jadi bayi yang mempesona jika sudah begitu! Benarkan –ttebane?!"
Untuk kali ini awan hitam memenuhi kepala Minato. Harapannya terasa tercabik-cabik oleh nama pemuda yang begitu di agungkan istrinya itu.
'apa semua Uchiha harus semenawan itu?'
Kushina berhenti melakukan kegiatannya. Itu membuat Minato langsung mengambil alih posisi istrinya untuk menata isi kulkas mereka yang begitu penuh belanjaan.
"Minato-kun.. bolehkah aku meminta sesuatu?"
Minato mengerutkan dahinya. Untuk hal yang satu ini ia pasti bisa lebih baik dari Uchiha Naruto itu. Jadi ia langsung mendongakkan wajahnya dengan semangat. Memandang istrinya dengan penuh harap seolah ia bisa memberikan gunung sekalipun istrinya memintanya.
"ya?"
Dengan wajah Puppy eyes, Kushina langsung menatapnya penuh cinta.
"kumohon.. Minato-kun.."katanya sambil memastikan wajah penuh permintaannya menjadi lebih imut. "jadikan Naruto-kun sebagai Pengawal pribadi-ku ya?"
Untuk saat itu Minato tahu bahwa perutnya merosot diikuti keringat jatuh yang memenuhi atmosfer dirinya. Setelah bertahun-tahun hidup tanpa kegagalan sedikitpun yang bisa membuat ia merasa rendah diri ia mengalaminya. Untuk saat yang bisa dikatakan tepat sebagai saat kemenangannya, kegemilangannya. Ia gagal menjadi pria paling tampan di mata istrinya!
'Kushina. Tahu tidak apakah aku cemburu pada pemuda itu? Apa yang kau bayangkan saat memintanya padaku? Suami mana yang tak ingin memenuhi permintaan istrinya dan membuat mereka bahagia. Tapi bagaimana bisa dipenuhi jika permintaan itu membuat kau mendekat dengan lelaki lain yang bisa membuatmu jatuh cinta dengan kemungkinan yang nyata? Dan lagi sebuah misi untuk pria Uchiha itu, sebagai kage aku pasti bisa memberikannya, tapi yang menjadi masalahnya kau adalah istriku dan pasti permintaanmu juga dituruti olehnya. Entah dasar apa, aku yakin ia pasti akan melakukan semua hal yang kau ingin ia lakukan. Oh! Kammi-sama! Mengapa Anakku memiliki keinginan yang begitu membuatku frustasi seperti ini?!'pikirnya frustasi. "baiklah.."
"Yeaay! Terima kasih Minato-kun! Aku mencintaimu Anata!"seru Kushina sambil memeluk Minato dari samping.
.
.
.
"lapor Danzou-sama!"pria dalam kegelapan itu mengangguk.
"misi sukses. Aku telah menyusup kedalam kehidupan keluarga Yondaime sekaligus mengawasi aktivitas Anbu Inu Hatake Kakashi!"
Danzou hanya berdiam diri ditempatnya. Ia kelihatan tengah mengukur sesuatu yang tak terlihat, "bisakah kau memastikan padaku tentang kapan jinchuriiki itu akan melahirkan?"
Anbu Ookami yang tengah berhenge itu menganggukkan wajahnya. Ia melangkah maju dan mengulurkan sebuah buku catatan. "Aku memperkirakan tidak lebih dari 1 bulan ini. Sikap dan tingkah lakunya menunjukkan hal yang sama."
"baiklah."Danzou melangkah ke area yang lebih tampak penerangan temaramnya. "lakukan dengan hati-hati. Aku merasa kau harus tetap mengawasinya dengan baik."
"ha'i!" kata Naruto menyanggupi. Danzou melangkah lebih dekat, ia ingin melirik kepada sharingan yang sekarang bertomoe tiga itu. Senyumnya bertengger puas, sebab selama dua bulan terakhir ia bisa mendapatkan apa yang diinginkannya itu.
"awasi juga para Uchiha. Aku ingin tahu semua yang terjadi seputar kehidupan mereka."
Naruto mengangguk singkat. "kalau begitu aku permisi Danzou-sama."
Dengan kepulan asap kecil ia pun menghilang ke tempat yang tidak diketahui.
'Lihatlah apa yang akan kupersiapkan untukmu Yondaime..'
. . . . . . . . .
Uchiha Compound.
"apakah kita hanya akan mendiamkan hal ini Taichou?"Uchiha Inabi berkata serius. "bahkan Konoha tak menganggap kehadiranmu! Mereka tak melihat jasa Uchiha untuk Konoha! Sekalipun itu hanya untuk mencalonkan anda menjadi salah satu Kandidat Yondaime! Dan sekarang mereka sudah berhasil kembali. Kurasa mereka tak akan benar-benar mewujudkan impian kita. Semua kage berasal dari Senju meski Uchiha juga berjasa bagi desa."
Uchiha Yashiro mengangguk.
"aku benar-benar tidak menyukai cara-cara itu Taichou! Itu seolah menginterpensi hak kita untuk menjadi Kage. Mereka seolah sengaja melakukan semua hal itu, bahkan secara terang-terangan berusaha menutupi semua jasa yang telah anda lakukan pada Konoha. Senju, Senju, Sarutobi dan sekarang seseorang yang juga berpemikiran Senju. Aku yakin semua ini memang sudah direncanakan oleh desa Taichou. Mereka menjadikan kita seperti penangkaran yang selalu di awasi, ini membuatku berpikir bahwa kedudukan kita hanya diberi mereka sebagai tempat untuk mengepung kita dan terus mengawasi kita. Kekkai genkai Sharingan memang begitu membuat semua orang terobesesi."
"kita harus segera Protes Taichou! Ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut."suara Uchiha Taki terdengar begitu menggebu-gebu. "kita bisa melakukan protes sebagai hak prerogatif clan! Kita juga berjasa besar atas lahirnya Konoha ini Taichou!"
Suara pintu berderit sedikit. Fugaku Uchiha langsung menoleh kearah sumber suara.
"jaga suara kalian. Anakku akan mendengar pembicaraan ini."desisnya datar. Di depan sana, sosok kecil bocah berambut sebahu di kuncir tengah mengintip. Fugaku langsung mengisyaratkan agar anggotanya keluar sebentar.
"jadi apa yang ingin kau bicarakan Itachi?"tanya Fugaku langsung. "kemarilah. Aku tahu kau sudah mengintip dari tadi."
Itachi Uchiha berjengit sambil berjalan pelan mendekat kearah ayahnya. Ia mendudukkan diri di depan ayahnya sopan.
"aku ingin bertanya mengenai cara melakukan Ninjutsu. Bisakah Tousan mengajariku?"
"aku tidak melihat itu sebagai urusan yang sangat darurat. Kita tinggalkan itu, aku akan mengajarimu nanti."Kata Fugaku otoriter. "ada yang lainnya?"
Itachi menggeleng. Ia langsung berdiri begitu ayahnya menyuruhnya keluar.
"aku akan mengajarimu Ninjutsu setelah semua urusanku selesai. Tinggalkan ruangan ini."
Tanpa banyak bertanya Itachi-pun meninggalkan ruang kerja ayahnya sambil diawasi oleh sepasang mata yang menatapnya memastikan bahwa ia keluar ruangan. Sementara setelahnya, Selepas perginya bocah itu ketiga anggota yang sebelumnya berdiskusi itu langsung muncul kembali. Ternyata mereka hanya keluar ruangan itu sebentar selama pembicaraan kapten Polisi Fugaku dan anaknya Itachi Uchiha.
"kurasa kita harus mengadakan rapat kapten. Ini harus dibahas pada semua Shinobi clan. Desa sangat membahayakan karena mereka hanya ingin mengawasi kita dan perkembangan Sharingan para Uchiha."
Fugaku menghela napasnya sebentar.
"aku akan mempertimbangkan ini. Kita akan mengadakan rapat 1 minggu lagi di Kuil Nakano. Beritahukan ini pada semua Ninja Clan Uchiha."ujarnya berwibawa. "tapi selama itu berlangsung jangan mengambil tindakan apapun yang akan membuat clan dicurigai. Bisa saja ada para Anbu yang menyamar di clan kita dan mengadukan ini pada dewan desa. Itu malah akan membuat kita makin terpojok dan disingkirkan dari pemerintahan nantinya."
"kalau begitu kami mohon diri Taichou. Sampai jumpa di Kuil Nakano minggu depan."ujar ketiganya sambil berdiri dan menghilang dalam shunshin masing-masing.
TBC
