NB : aku tak akan mengatakan apapun kecuali terima kasih pada reader yang mendukung fict ini. Untuk yang mengharapkan update-ku semoga ini tidak mengecewakan. Dan mengenai keberadaan Naruto, kukira bisa dikatakan ia mengenakan Henge dengan tambahan Fuinjutsu nantinya, dan ya. Penampilan naruto biar kuperjelas, henge-nya menyerupai sasuke dewasa lengkap dengan gaya rambutnya yang menutupi sebelah mata. Harapanku semoga review para readers terus aktif sampai kedepannya. untuk Guest yang mengucapkan terima kasih, maka aku terima kasih kembali karena telah mengapresiasi karyaku.
Makin banyak Review, maka semakin cepat Updatenya.
SEMOGA TIDAK MEMBOSANKAN
Root Of Uchiha
Chapter 12
Misi Pengawalan Kushina Uzumaki.
. . . . . . . . . .
Di sebuah telaga, seorang anak berdiri sambil memejamkan matanya. Ia menarik kakinya sedikit kebelakang, lalu setelah mengkonsentrasikan aliran cakranya, kedua tangannya mulai bergerak, membentuk segel-segel tangan rumit dalam jumlah banyak sekali dan beberapa kali ulangan.
"suiton : Suiryuudan No jutsu!"
Sekumpulan air berpusar dari bawah telaga dan terus merangkak ke atas dalam bentuk bor biru yang menajam dan mulai membentuk sosok naga berukuran kecil. Naga itu terus tumbuh dari keseluruhan air disekitarnya, melayang di udara setinggi 6 meter kemudian runtuh. Air berjatuhan dari sana, memercik ke sana kemari dan mengenai sedikit bagian dari tubuh si anak sendiri. Kening bocah di pinggiran telaga itu berkerut tidak senang melihat bajunya dibasahi seperti itu.
"masalah pertama nagamu terlalu kecil. Untuk ukuran Anbu nagamu tergolong ukuran naga mini, untuk masalah waktu kau kalah banyak. Lebih jauh, kau seharusnya mengcopy apa yang kulakukan menggunakan sharinganmu. Meski itu menguras tenaga itu pasti akan membuahkan hasil yang lebih memadai dibanding rekor buruk ninjutsu chunnin seperti ini."
Danzou menunjuk kearah gulungan dihadapan mereka dan melangkah lebih dekat ke pinggiran sungai. Ia membentuk serangkaian segel yang lebih singkat dalam waktu cepat.
"suiton : Suiryuudan No Jutsu!"
Groooooar!
Dari permukaan telaga muncul bor air besar yang berpusar dan tumbuh menjulang dihadapan mereka. Bor atau yang lebih tepat dikatakan sebagai pusaran air itu tumbuh, mulai berevolusi memunculkan siluet mulut naga berikut kepalanya dalam waktu yang relatih singkat. Naga tadi terus tumbuh menjulang sampai setinggi 15 meter, dengan diameter satu setengah meter dan berputar di udara. Raungan bunyinya begitu keras, naga tadi terus berputar di dekat Danzou sambil memercikkan sedikit demi sedikit titik-titik air kearah keduanya. Detik berikutnya Danzou melepaskan jutsunya dan menoleh kebelakang. Matanya menyipit sinis.
"dalam dunia Shinobi, kau harus melakukan apapun untuk mendapatkan apapun yang kau butuhkan. Meski itu cara kotor dan buruk, sekalipun harus mencopy, itu bukan masalah. Yang menjadi masalah terbesar adalah jika kau bersikukuh dengan idealis kehormatan yang bisa membuatmu terbunuh seperti sekawanan Orang bodoh yang mengutamakan Kehormatan. Samurai.. dan di dunia ini yang ada hanyalah yang hidup atau yang mati, yang kalah atau menang. Menjadi salah satunya atau tidak sama sekali."
Dengan sharingan menyala Naruto mencopy semua jutsu tadi. Wajahnya begitu puas sebab dengan sharingan tentu saja semua pergerakan segel tangan terbaca dengan baik. Ia hanya perlu mengulangnya lagi, dan itu sudah cukup untuk menguasai jutsu Rank-A suiton itu.
"Ha'i. Aku melakukannya lagi Danzou-sama."Naruto bersiap-siap melakukan jutsu-nya kembali. Ia sekarang melangkah hendak kedepan, tapi Danzou langsung memegang kedua tangannya yang menyatu ingin memulai membentuk seal.
"Hidupmu hanya untuk Misi. Kau memang perlu berlatih tapi misi adalah segalanya. Laksanakan misimu dan kembalilah dengan jutsu lebih sempurna minggu depan."katanya tegas. "dan jangan sampai gagal, aku ingin kau melaporkan semua yang kau ketahui tentang Uzumaki Kushina dan Yondaime. Lalu.. Inu Hatake Kakashi."
Secepat kilat orang tua itu berbalik dan berjalan menjauh. Setelah beberapa meter tampak dua Anbu yang menungguinya langsung mengapitnya dari belakang. Naruto menonaktifkan sharingannya. Ia mendekatkan diri pada tepian telaga dan mulai membasuh wajahnya. Disana, tampilan dirinya tampak jelas menyerupai anak 7 tahunan yang kurus dengan wajah tirus dan rambut spikey hitam dengan anak rambut menyamping hampir menutupi sebelah matanya. Kaos lengan panjang khas Jounin dalam ukuran yang pas membingkai tubuhnya.
'ini adalah misiku.. mengapa aku harus kesal karena diberi misi seperti ini? Bukankah aku memang berlatih untuk melaksanakan misi?'
Tiba-tiba ia melihat bayangan seseorang berambut kuning di bawah air. Berkacamata dan menatapnya sambil tersenyum, orang itu menatapnya hangat, seolah-olah wanita itu merindukannya untuk memeluknya. Naruto yang melihat ini terpaku sejenak, wajahnya menjadi lemas, ia hendak melangkah kesana, mengungkapkan semua kerinduannya. Tapi ia teringat akan suatu hal, seseorang yang menghianatinya adalah orang itu. Orang yang sama yang selalu tersenyum bodoh dengan segala kepalsuan yang dimilikinya.
Mata sharingannya aktif, ia mulai bergerak merogoh kantung kunainya. Bersiap untuk melakukan serangan. Orang itu melambaikan tangannya, seolah-olah ia benar-benar ingin meminta dirinya agar kesana dan memeluknya.
"ibu-"sungutnya kesal.
Swinggg!
Naruto yang memngaktifkan mata sharingannya langsung melompat ke samping sambil menangkis kunai tadi. Matanya terarah tepat kearah salah satu pohon yang memiliki daun paling rimbun.
Swush!
Trank!
"refleksmu masih bagus."kata sosok bertopeng gagak itu. Ia mengayunkan kunai-nya hendak menyabet perut naruto. "dengan sharingan yang menyala.. kau ingat bagaimana aku mengatakan kau tidak boleh bergantung pada sharingan?"
Keduanya langsung menjauh. Sikap defensif Anbu tadi mengendur saat ia melangkah kembali kearah Naruto. "itu mungkin adalah kelebihanmu, sesuatu yang special dari kekkai genkai sharingan adalah pencopyan jutsu dan kemampuan membedakan warna cakra berikut pengendalian cakranya yang bisa membuat pemiliknya memiliki control cakra sempurna. Semuanya seperti kelebihan, karena sharingan murni Uchiha tidak akan menghabiskan cakra pemiliknya sendiri. Tapi buruknya.."
Naruto langsung menonaktifkan sharingannya secara otomatis.
"Sharingan menyebabkan penggunanya menjadi malas berlatih karena bisa mendapatkan apapun dengan mudah. Menyebabkan Uchiha kurang bekerja keras, menyebabkan kehilangan kemampuan dan kerja keras. Serta yang paling buruk, menyebabkan para penggunya suka mengcopy. Yang terakhir adalah apa yang paling tabu bagi seorang Uchiha."kata naruto lugas, "M-E-N-G-C-O-P-Y"
"tetapi, dalam dunia Shinobi misi yang diberikan desa tidak boleh sampai mengganggu pelatihan Shinobi itu sendiri dalam artian mereka harus bisa berlatih di sela-sela misi. Tapi kemampuan ninjutsu Rank-A hanya bisa dilakukan setelah Shinobi berhasil membuat jalan pintas tersendiri untuk menyingkat waktu pembuatan segel tangan. Semuanya hanya bisa dilakukan setelah Shinobi berpengalaman. Jadi bagaimana Shinobi berusia 7 tahun melakukannya dalam misi pertama mereka dan harus menguasai Ninjutsu Rank-A untuk mengukuhkan dirinya menjadi Anggota Anbu?"ia menatap Sensei Uchihanya datar.
"jawabannya sederhana, tentu saja kau harus berlatih."Balas Orang tersebut dengan nada enteng. "kau menyukai Ninjutsu Suiton?"
Naruto langsung membereskan gulungan jutsunya. Lalu menyimpannya ke dalam gulungan penyimpanan.
"apa menurut anda semua Uchiha menyukai Suiton?"jawabnya kemudian. "kurasa lebih muda mengatur sesuatu yang disemburkan dibandingkan sesuatu yang asli berada diluar tubuh."
Dengan mendongakkan wajahnya Naruto menyadari bahwa senseinya melangkah menghampirinya. Ia menatapnya penuh ingin tahu apakah jawabannya yang sedikit menyakitkan hati dan penuh sarkasme akan membuat lelaki itu marah. Tapi apa yang didapatnya benar-benar diluar perkiraannya, orang itu kembali mengetuk kepalanya dengan dua jari sambil tertawa pelan.
"aku memiliki bocah lain yang lebih hebat darimu. Jadi bagaimana kalau kita buat sedikit tantangan?"
Naruto menganggukkan kepalanya pasti. "apa?"
Anbu karasu menggeleng. Lagi-lagi ia tertawa, "hahaha, sebaiknya selesaikan dulu urusanmu dengan istri Yondaime. Semua berkas penyamaranmu telah dipersiapkan untuk itu."
"ya. Kurasa ada baiknya menemaninya melakukan hal yang tidak penting."keluh Naruto sambil membuat seal singkat. "Henge No Jutsu!"
"ayo sensei!"
Keduanya langsung melompat menjauh dari training Ground NE tengah hutan itu. Karasu memimpin di depan, sedangkan Naruto mengekor dibelakangnya. Satu seorang pria bertopeng dan satunya lagi sosok pemuda bertinggi 168 cm dengan pakaian hitam lengan pendek berlogo Uchiha. Anak rambutnya dibelah ke samping menutupi sebelah matanya.
"kudengar Uchiha clan akan mengadakan rapat beberapa hari kedepan. Apa kau akan menyertakan diri?"Karasu berkata penuh ingin tahu. "kau bisa mendapatkan banyak informasi disana. Dan mengenal clan lebih jauh, termasuk di dalamnya apartemen baru yang sengaja di siapkan untukmu di Uchiha Compound."
Memang benar, dalam misi kali ini Naruto diberikan apartemen di Uchiha Compound. Bahkan apartemen tersebut telah difasilitasi oleh alat-alat keperluan rumah tangga, berikut satu kulkas berisi penuh bahan makanan. Tentu saja sisanya hanyalah properti lanjutan seperti pakaian khas Uchiha. Naruto diminta mengisinya selama melakukan misi penyamarannya ini.
"aku tidak tertarik dengan hal itu, tapi akan kupastikan aku datang. Tapi dari segalanya yang lebih menjadi misterinya adalah dirimu. Aku yakin aku akan segera melihat wajah aslimu sensei, kau tak bisa bersembunyi dibalik topeng itu terus-menerus."
Karasu melirik Naruto sejenak, lagi-lagi tawanya pecah.
"hanya tinggal menunggu hari, aku yakin kau bisa melihatnya. Dan Naruto,"sela Karasu sambil tetap berlari, "aku ingin kau mengawasi seorang bocah untukku. Dia adalah orang yang akan menjadi lawanmu nantinya,"
"hn. Ya?"
"Shisui Uchiha. Dan jangan lupa."Karasu mendarat pada salah satu dahan pohon dengan tegap. "laksanakan misimu dengan baik."
Mereka berpisah di ujung belantara tepat dekat pusat desa dan Uchiha Compound. Karasu terus melanjutkan perjalanannya sedangkan Naruto melompat mendekati desa. Sekarang ia mulai mendaratkan kaki di atas atap-atap rumah penduduk. Sesuatu yang selalu disenanginya sebab angin benar-benar seolah memanjakannya dalam hal ini. Dari situ pula ia bisa mengamati segala aktivitas semua orang Konoha. Dan yang terakhir yang paling Utama, ia sedang melangkah mendekat kearah gedung paling mewah nan mencolok itu. Gedung yang paling dekat dengan pahatan kepala Kage.
"Shunshin No jutsu!"
. . . . . . . . . .
Brakh!
"apa kau serius dengan apa yang kau katakan –ttebane?!"
Minato berjengit saat wanita berambut merah itu masuk dengan tangan diacungkan kearahnya. Bahkan ketenangannya sendiri bisa goyah saat wanita berkulit seputih susu itu masuk dan mulai menuangkan segala kekesalannya padanya.
"Mana Orang yang Kuminta untuk m-e-n-j-a-g-a-k-u kemarin.. Hokage-Sama?!"Kushina menekankan kalimat 'menjaga'-nya sambil menghela napas. Ia masih agak belum terbiasa untuk memanggil Minato Namikaze dengan sebutan Hokage-sama, dan karena itulah, meski amarahnya meledak-ledak ia masih berusaha untuk melakukan hal penuh sopan santun tersebut.
Minato menggaruk tengkuknya ngeri, seharian ini memang yang dilakukannya hanya duduk disana, tanpa menyelesaikan tugas yang sekarang ditangani oleh sekretarisnya sedangkan ia membaca data-data mengenai ninja bernama 'Naruto Uchiha' itu. Sejujurnya ia hanya ingin menyelidiki mengenai orang ini, memastikan ia benar-benar ninja Konoha dan bukannya musuh yang sedang menyamar menjadi ninja Konoha.
"kau tidak sedang berusaha untuk mengecewakan rakyatmu ini kan?!"gumam Kushina lagi. Kali ini rambutnya mulai melambai-lambai mengerikan.
"e-eh, t-ttidak. Aku bahkan telah mengirimkan Anbu-ku untuk mencari keberadaannya. Kurasa sebentar lagi ia akan datang."
Kushina menggeleng kesal, meski rambutnya sudah turun. "kalau kau sampai menipuku-"ancamnya terhenti begitu ketukan dipintu terdengar sampai ke telinga-nya. Itu membuatnya makin kesal sampai rasa-rasanya ia bisa menghancurkan apapun karenanya. Tapi berhubung pintu tadi tidak tertutup, ia bisa melihat siapa yang berani mengganggunya hari itu.
"S-sugoii!"
Minato langsung sweatdrop melihat perubahan Mood Kushina yang terasa begitu tiba-tiba itu. Dan masalahnya hanya dengan melihat seseorang berpakaian hitam dengan baju Uchiha-nya? Hal yang sama juga dirasakan oleh asistennya. Orang itu memandang nyonya Yondaime dengan pandangan penuh tanya-nya.
'apa Kushinya-sama memang selalu seperti ini?'
"Naruto-kun.."ujar Kushina lambat-lambat. "kau kah itu?"
Pemuda di depan pintu itu melangkah masuk sambil memberi hormat kepada Minato Namikaze. Ia bahkan sampai menekukkan lututnya di depan pria pirang itu, senyum tipisnya mengembang diikuti dengan wajah Kushina yang makin kelihatan bersemangat.
"anda memanggilku?"
Minato melirik kearah istrinya dan pemuda itu bergantian, sampai akhirnya ia memutuskan untuk mengambil pilihan paling sulit. Ia ingin berbicara empat mata dengan pemuda tersebut, alhasil ia pun memberikan isyarat pada assistennya untuk meninggalkan ruangan sejenak.
"Kushina.. aku ingin berbicara sebentar dengan Naruto-san. Bolehkah?"
Assisten tadi hendak mengajak Kushina keluar, tapi wanita itu ngotot untuk memandang Minato sebelum ia pergi.
"awas jika kau melupakan keinginanku –tebane!"ancamnya dengan senyum mengerikan. "kau akan tahu akibatnya nanti."
Minato dengan sabar menanti kedua orang tadi keluar ruangan. Sekarang pintu telah ditutup kembali dan hanya ada mereka berdua di dalam ruangan. Mata biru sang Yondaime memandang Anbu di depannya yang terus membungkuk seperti halnya sikap seorang Anbu biasanya.
"kau bisa berdiri Naruto-san, aku hanya ingin membicarakan beberapa hal mendesak kepadamu."
Saat mata keduanya bertemu, Minato mencoba menelusuri kekelaman jiwa si Uchiha. Ia berdeham kaku, "jadi aku ingin tahu kau berasal dari divisi Anbu?"
"ha'i, 13 Hokage-sama."
Tubuh kurus pemuda itu menarik perhatian Minato. "jadi apa semua ANBU memiliki tubuh sepertimu?"
"ha'i, tidak Hokage-sama. Mungkin beberapa, tapi hamba yakin tidak semuanya jika itu yang anda maksudkan."
Ucapan simpel, sederhana, praktis dan mudah dipahami. Minato sendiri yang pernah masuk ke Divisi Keanbuan mengetahui dengan jelas sikap didikan ANBU yang satu itu. Tapi seperti apapun ia melihat kearah orang dihadapannya, ia seolah selalu merasa ada yang salah. Itu membuatnya sedikit frustasi karena selain perasaannya tak ada yang salah dengan penampilan orang dihadapannya. Sosok kurus, jangkung, berwajah imut yang pasti bisa menarik perhatian lawan jenisnya termasuk-istrinya. Berambut spikey hitam, dengan sebelah mata tertutup anak rambut.
"aku ingin memberimu sebuah misi. Ini adalah misi penting yang pasti akan berbahaya."ujar Minato serius. "tapi sebelum itu aku ingin tahu apa Code name yang kau gunakan terlebih dulu."
"Ookami."
Minato mengangguk. "aku ingin kau mengawal istriku, menjelang hari persalinannya, dan pasca persalinannya. Dalam hal ini aku ingin kau selalu siap berada disampingnya mengingat kemungkinan dirimu menggunakan sharingan untuk menenangkannya. Disaat persalinannya kelak, segelnya akan melemah. Kukatakan demikian agar kau bisa menjaga emosinya, termasuk didalamnya untuk melindunginya dari serangan musuh yang mungkin selalu mengincarnya dan memanfaatnya melemahnya segel bijuu seiring hari kelahiran putra pertama kami."
"lalu.."
Minato berucap setelah menjeda kalimatnya untuk mengambil jeda napas sejenak.
"setiap kemarahannya akan lebih mudah menyulut melemahnya segel Bijuu. Aku ingin kau menjaga perasaannya dan tidak membuatnya marah. Terlebih karena kau terlanjur menunjukkan wajah aslimu, dalam misi kali ini kau akan kubiarkan boleh memperlihatkan diri."
"ha'i."Naruto menyanggupi, "ada yang lainnya yang bisa saya lakukan Hokage-sama?"
Minato sejenak melirik kearah jendela kacanya. "jaga emosinya. Kurasa hanya itu, sekarang dan seterusnya kau boleh mengawalnya. Kau boleh pergi."
Naruto-pun membungkukkan tubuh memberi hormat kearah Hokage Yondaime itu. Pria berambut kuning itu kelihatan amat gelisah, entah apa yang menjadi masalahnya. Sekarang setelah Naruto keluar ruangan, ia makin menjadi gelisah. itu terjadi secara Intuitif di luar kesadarannya.
'perasaan ini.. ini bukan karena aku cemburu kan? Tidak. Aku yakin ada yang salah.. tapi apa?'pikir Minato serius. Ia berdiri, kemudian duduk kembali, melangkah mendekati jendela sambil bertepekur dan secara berkala melirik terus-terusan ke kawasan patung kepala Kage. Ia memang selalu melakukan hal itu saat masalah krisis mendesak jawaban penyelesaiannya, tapi apa yang krisis disini? Jalan pikirannya begitu buntu. Tapi yang menjadi masalah adalah mengapa ia begitu menjadi gelisah seperti ini?
"Inu!"
Poffft!
Sekepulan asap muncul di tengah ruangan. Seorang remaja berusia 14 tahun muncul, menggunakan topeng pola anjing dengan posisi tubuh membungkuk dihadapan sang Hokage. Minato menautkan jemarinya di belakang tubuh. Keningnya berkerut-kerut frustasi.
"tolong awasi istriku dan pengawalnya. Ia adalah seorang Uchiha dan akan terus mengawasinya sampai pasca kelahiran anak pertamaku. Laksanakan!"
Poofft!
'apa yang sebenarnya kurasakan?'pikirnya aneh. Ia pun kembali duduk di tempatnya, melirik kearah berkas kemampuan Naruto Uchiha itu.
'Kenjutsu, Ninjutsu 2 elemen, taijutsu, dan sedikit pengetahuan akan fuinjutsu.. tunggu dulu, Uchiha mana saja yang menjadi anggota ANBU?'pikir Minato panik.
.
.
.
"Naruto-kun."
"hn. Ya Kushina-sama?"
"bisakah kau membawaku ke sana?"
Keduanya telah keluar dari ruangan Kage tadi. Kali ini Naruto berjalan berdampingan dengan Kushina Uzumaki. Wanita itu mencolek lengannya dan menunjuk kearah pahatan patung Kage.
"apa yang anda maksud dengan patung kepala Kage?"
Wanita berambut merah itu mengangguk antusias. Ia sendiri sudah sering bermain di sana jauh sebelum hari ini, tetapi entah bagaimana 9 bulan terakhir ini ia telah diberentikan paksa dari aktivitasnya itu. Menginjak usia kehamilannya yang ke sepuluh ini, hal tersebut semakin dan semakin menjadi. Ia tidak diperbolehkan beraktivitas berhubungan dengan Ninja dan fisik sedikitpun, itu memang benar. Dan karena usia kandungan anak pertama-nya yang lebih bulan, hingga ia harus ekstra melakukan berbagai aktivitas dalam kehati-hatian. Itu membuatnya kesal setengah mati.
"ha'i! Aku benar-benar merindukan tempat itu –ttebane! Maukah kau membawaku kesana?"
Naruto mengerutkan kening. Ia sedikit tidak mengerti dalam urusan seperti ini.
"kalau begitu ayo,"jawab Naruto langsung. Ia sudah bersiap ingin melompat pergi, tapi lengan Kushina mencekalnya. "aku mengerti kau belum menikah, belum berpengalaman dan tak pernah menghadapi seorang Kunoichi yang sedang hamil Naruto-kun.. tapi bisakah kau mengerti bagaimana aku tidak boleh menggunakan cakra? Aktivitas itu akan membuat Menma-kun kesakitan!"
"lalu bagaimana saya membawa anda kesana?"ujar Naruto polos. "apa perlu saya memanggil sekelompok medic untuk membawa tandu?"
Kushina tersenyum, ia mengangkat sebelah tangannya ke atas. "gendong aku –ttebane!"
Tap!
Naruto berhenti melangkah, ia mengerutkan keningnya benar-benar berpikir. Mana mungkin ia berhasil menggendong orang yang jauh lebih besar darinya? Rasanya agak membingungkan sehingga dengan sedikit akal Naruto mencari pengalihan lain.
"mana mungkin!"gerutunya pelan. Kushina memandangnya heran, "apa Naruto-kun?"
Naruto menggeleng kuat-kuat. 'aku keceplosan..'
"ini musim panas Konoha Kushina-sama, bebatuan akan menjadi lebih panas di siang hari. Bagaimana jika saya mengajak Anda kesana setelah hari tidak terlalu panas lagi?"
"tapi aku ingin sekarang.."rajuk Kushina imut. "antarkan aku ya.."
"disana panas, dan itu tidak baik untuk perkembangan kandungan anda."gumam naruto datar. "aku akan membawa anda ketempat lain."
"apakah itu Indah-ttebane? Bagaimana jika nanti tempatnya kalah indah dengan Pahatan patung Kage?"Kushina meletakkan kedua tangannya bersedekap, ia memandang pemuda disebelahnya horor. "Apa kau bersedia bertanggung jawab dengan apa yang kau katakan? Aku akan menghukummu jika kau sampai membuatku kecewa."
"hn.. sebaiknya kita bergegas, Kushina-sama."
Naruto akhirnya mengajak Kushina pergi. Seperti biasa, mereka melintasi pasar dimana semua orang pasti akan melihat kearah keduanya. Kushina dengan santai menyikut bahu Naruto, membuat pemuda itu menoleh dengan tatapan datarnya.
"apa kau tidak lihat bagaimana semua orang menatap kearahmu?"ujarnya sambil tersenyum geli.
'menurut anda siapa yang tidak heran melihat istri Yondaime berdua dengan orang lain yang tidak mereka kenal?!'pikir Naruto sebal. "Hn. Mereka melihat kearah anda."
"tapi bagaimana dengan.."mata Kushina memicing kearah gadis-gadis yang melirik kearah pemuda disebelahnya. "gadis-gadis itu? Rasanya sedikit mustahil untuk yang satu ini mereka melihat kearahku. Yakan Naruto-kun?"goda kushina sambil berbisik kearah Naruto.
'dimataku itu terlihat seperti warga biasa yang tidak memiliki pekerjaan lain. Apa hebatnya dengan gadis-gadis yang menatap kearahmu?'
Naruto memilih tidak menjawab pertanyaan itu. Mereka melewati keramaian sampai tiba disuatu areal taman bermain. Disana, dipinggir jalan sesuatu dalam kotak di tunggui pemiliknya tengah dipajang. Orang-orang berebut untuk pergi kesana, sesuatu yang misterius di musim panas..
"Kushina-sama bolehkan aku bertanya sesuatu?"tanya naruto penasaran. "apa yang begitu dicari orang-orang di musim panas, sampai mereka benar-benar bersedia mengantri? Benda apa yang berwarna cokelat itu?"tunjuknya kearah salah satu orang dewasa yang menjilat benda basah itu.
"apa itu enak?"
Mata Kushina membelalak lebar.
"ne –ttebane, apa kau memang tidak pernah merasakan es krim? Kalau begitu aku ingin kita pergi kesana! Menma-kun pasti akan menyukai ini!"kata Kushina sambil menyeret lengan Naruto. 'waah. Dia pasti akan memiliki selera yang sama dengan Naruto-kun.. mendekati pada mirip.. dan suatu saat ketika ia lahir kelak ia akan menjadi mirip Naruto-kun! Kita harus bergegeas –tebane! Sebelum Naruto-kun menjadi objek penglihatan gadis-gadis centil itu!'ujar inner Kushina mengingatkan.
"t-tapi.."
"kau tidak ingin menjadi orang yang tidak menuruti kemauanku kan –ttebane?!"sergah Kushina Horor. "a-y-o beli e-s k-r-i-m Naruto-Kun!"
". . . . . . . ."
"terima kasih –tebane! Ojii-san benar-benar orang yang baik!"kata Kushina setelah mereka meninggalkan tempat es krim tersebut. Kali ini, Kushina yang membayari mereka berdua. Naruto melirik kearah wanita itu aneh, sesuatu yang terlihat berair dan sedikit kental berbau manis yang kelihatannya agak menjiikkan berada di tangannya. Itu adalah es krim, sesuatu yang diberikan istri Yondaime untuknya.
"ini.."gumam Naruto terputus saat Kushina langsung meletakkan benda tadi ke depan wajahnya. "ayo makan! Jangan bilang kau tak menyukai ini?"
'...aku ingin kau menjaganya dan emosinya. Lakukan apapun yang ingin ia lakukan karena mengingat kelahiran bayinya, segel jinchuuriki akan terus melemah dan semakin melemah, emosinya akan mengakibatkan dampak melemahnya segel secara lebih cepat. Konoha akan berada dalam bahaya jika itu terjadi...'
Naruto membuang napasnya asal. Sekelebatan bisikan Yondaime padanya membuatnya meyakini bahwa ia harus mulai memakan benda menjijikkan di tangannya itu. Jika tidak, sang istri Yondaime yang bertemperamental buruk ini, lengkap dengan Bijuu di dalamnya bisa mengamuk pada desa. Jika sudah begitu kemungkinan kehancuran desa akan menjadi lebih besar. Matanya kelihatan menampakkan cahaya tidak bersemangat.
'demi Konoha..'pikir Naruto sambil mengangkat es krim tadi ke depan mulutnya. "hn. Akan kulakukan."
"Begitulah –ttebane!"seru Kushina kegirangan. "bukankah rasanya menyenangkan?"
'Rasanya manis, memualkan.'pikir Naruto bersungut-sungut. "hn."
Mereka berjalan ke pinggiran lapangan, berdiri merapat pada dinding kawat besi yang dibuat untuk memagari areal tersebut. Di dalam sana, ada beberapa wahana bermain bagi anak-anak kecil se usia 6 tahunan. Mereka berlarian kesana kemari, menendang kaleng kosong dan mengopernya ke pada teman mereka sendiri. Yang lainnya ada yang terus saja mengemil, atau seseorang yang terlihat menunggui teman mereka yang lain.
"indah ya."Kushina tanpa sadar berucap pelan. Ia mengusap lembut perutnya, "kau tahu Naruto-kun, ada hal-hal yang selalu dirindukan oleh seorang wanita di dunia ini. Kau ingin tahu apa itu?"
"ya?"
"anak-anak. Tak ada yang lebih mereka rindukan dibandingkan anak-anak. Tepat saat mereka melahirkan sebuah kehidupan baru, saat itulah hidup mereka terasa penuh nilai dan berharga. Semua wanita pasti pernah bermimpi bahwa suatu hari mereka akan melahirkan bayi mungil yang bisa mereka bawa kemanapun mereka pergi, membayangkan anak itu tersenyum dengan pipi gembul dan lesung pipi, atau sampai ketika mereka menelusuri bahwa bocah tersebut telah berevolusi menjadi anak bandel yang selalu membuat masalah setiap hari. Membayangkan saat kau di dapur, memasak bagi keluargamu dan mereka mencuri makanan lantas pergi.."
Naruto hanya diam saja. Ia ikut melihat kearah tanah penuh bocah itu.
"keluarga yang sempurna. Begitu kau menyebutnya ya.. saat kau melihat mereka berlarian setelah membuat masalah. Itu pasti adalah gambaran paling menyenangkan yang pernah ada di dunia seorang ibu.. semua wanita pasti pernah berpikir serupa."
"hn. Aku yakin anda akan mendapatkan hal yang anda inginkan.. dengan kesempurnaan bersama Yondaime."timpal Naruto kemudian. Ia tersenyum sendiri,"lalu seandainya jika kasusnya wanita itu hanya berpura-pura menyayangi anaknya? Apa menurut anda gambaran akan ibu yang sempurna bagi seorang anak?"
"hahaha! itu mudah sekali Naruto-kun, dia adalah sosok yang mengerti dirimu, mendukungmu, mempercayaimu sepenuh hati sebagai layaknya seorang ibu yang mengasihi anak mereka. Mereka menyayangimu, itulah arti ibu yang sempurna bagiku."
Tangan Kushina menyentuh jaring-jaring jeruji pembatas halaman di depan mereka. Ia merapatkan diri pada lapangan penuh anak itu, sesekali tersenyum sambil mencuri pandang melihat wajah naruto yang kelihatan sedang mengenang sesuatu. Tiba-tiba ia sengaja mendekatkan wajahnya kearah pipi pemuda itu, meniupnya dengan lembut. Naruto yang tersadar dari lamunannya langsung menatapnya penuh tanya.
"mengapa kau meniupku?"
Kushina menggeleng. Ia tidak mengatakan apapun kecuali tersenyum menghabiskan waktu bersama orang di dekatnya.
'kau berbeda.. itu bukan reaksi yang kuharapkan. Naruto-kun..'
.
.
.
Disisi lainnya, seseorang dalam kegelapan tengah melaporkan sesuatu pada Komandannya. Pria tadi meninggalkan sebuah gulungan misi, lalu kembali menghilang meninggalkan siluet tubuhnya yang berbalut jubah putih. Dari dalam remang-remang, Danzou kelihatan menghitung sesuatu, wajahnya penuh perhitungan sedangkan dihadapannya sebuah peta kelima negara besar di gelar dengan bantuan penerangan empat batang lilin.
Disudut, dua anak buahnya dengan setia menunggu. Mereka menghadapai peta itu bersama-sama.
"apa levelnya sudah ditentukan?"ujarnya entah pada siapa. "kalian harus memastikannya. Aku ingin semuanya berjalan sesuai rencanaku."
Terai mengangguk khidmat. "ini akan tergolong kedalam misi rank-S Danzou-sama. Hamba sendiri yang mencuri dengar dari kantor Hokage Yondaime."
Danzou berpikir lagi. "apa kau sudah menghitung semua anggota aktif di dalam desa? Aku tidak ingin desa jadi terancam bahaya meski hanya mendekati. Konoha adalah harga mati dan satu-satunya yang harus diprioritaskan, jika ada yang lainnya maka itulah yang akan kita lakukan. Perampasan dan sabotase,"
Dari sisi lain, Torune melangkah sambil menyerahkan laporan.
"Danzou-sama, kita memiliki beberapa anggota NE aktif yang bebas dan siap diterjunkan kapan saja. Aku telah merangkum kedalam list-nya dan mengelompokkannya dalam golongan yang sesuai. Ada 7 tipe sensor yang kita miliki dan 2 Uchiha aktif, kemudian 5 lainnya adalah spesialis penyusupan. 1 diantara semuanya yang merangkap sebagai anggota Uchiha memiliki kemampuan kesemuannya."
'jadi hanya tinggal Karasu?'Danzou bertepekur lagi. Ia meletakkan kedua tangannya di depan wajah, "apa waktu Kelahiran Jinchuriiki Kyuubi sudah ditentukan?"
Kali ini Ninja Aburame yang menyahut.
"menurut analisis dari semua orang ahli medic yang dipercaya Yondaime, Kushina-sama akan melahirkan sekitar 2 minggu dari sekarang."
Danzou melepas tautan tangannya. Ia melihat kembali kearah peta di hadapan mereka.
"jarak Hoshigakure dan Konohagakure adalah 3 hari perjalanan, dihitung jarak kembali berarti 6 hari dan ditambah waktu misi selama 3 hari. Jadi jika dijumlahkan keseluruhannya maka akan tersisa 4 hari bebas, itu akan jadi waktu saat Jinchuriiki di keluarkan dari desa untuk melakukan persalinan. Saat itu terjadi misi ini sudah selesai dilaksanakan."ujar Danzou lagi. Ia melirik kearah anggotanya yang lain, "Uchiha akan bisa mengendalikan cakra lebih baik dari siapapun.. kalau begitu aku meminta salah satu dari kalian untuk memanggil Ookami dalam misi ini."
Terai langsung pergi begitu misi tersebut ditegaskan Danzou. Torune masih berada ditempatnya menunggu perintah.
"dan kau Torune.."Danzou menggulung peta dihadapan mereka.
"aku ingin kau melakukan sesuatu sebagai bentuk kontribusi terhadap misi ini. Jangan lupa memanggil Karasu setelah ini."
Anbu Torune mengangguk. Ia meletakkan laporannya di meja Danzou, "aku akan pergi Danzou-sama!"
Pria dalam kegelapan tersebut langsung berdiri, ia memandang kearah jembatan dimana satu-satunya sumber cahaya lain dari ruang kerjanya yang penuh kegelapan. Matanya menyipit dalam gelap, di sudut lainnya sebuah kalender diletakkan. Danzou sudah menandainya dengan cermat akan beberapa hal penting dari tiap misi yang diberikannya pada Anbu bawahannya.
'satu langkah lebih dekat Yondaime.. waktumu hampir tiba.'
. . . . . . . . . .
TBC.
