Terima kasih untuk semua saran dan dukungannya. Termasuk beberapa masukan akan cerita ini.
Untuk ringkasnya : penampilan naruto itu berbaju Uchiha dengan lengan pendek warna hitam. Sepatu hitam, kemudian rambut seperti sasuke dewasa dengan anak rambut yang menutupi sebelah mata. Celana Anbu dan saat bertugas mengenakan topeng Ookami (serigala).
Mentor naruto : aku memiliki kejutan pada hal ini. Ada beberapa hal yang ingin aku coba dan terapkan dalam fic kreasiku ini. Danzou? Tobi? Kagami? Itu adalah mentor yang jelas sudah kuungkapkan sebelumnya. Tapi diantara ketiganya, aku akan menyertakan kejutan yang pasti akan sulit anda bayangkan.
Untuk pair : aku belum memikirkan hal itu, naruto sendiri masih kecil dan kurasa Uchiha juga tidak terlalu memikirkan perasaan, apalagi cinta. Mungkin jika aku membayangkan akan adanya pair, akan kuberikan itu nanti saat ia telah dewasa dan tumbuh menjadi kuat. Mungkin akan ada beberapa kejutan di chapter depan, akan kupastikan kalau fict ini akan kubuat setidak MAINSTREAM mungkin agar reader-ku tidak merasa bosan.
Untuk review Ryuu-san : aku mengerti, cerita akan menjadi lebih bermartabat jika tidak dibumbui lemon. Dan lagi pula aku tidak berencana membuat hal seperti harem atau poligami. Uchiha ya, Uchiha, aku tak akan membuang karakter asli Uchiha yang tidak bisa menduakan cinta alias setia.
Dan untuk yang telah menantikan update ku. Semoga ini tidak mengecewakan kalian, apalagi membosankan.
Kritik di tunggu. Aku janji akan update kilat.
Root Of Uchiha
Chapter 13
Misi Hoshigakure
. . . . . . . .
Malam berlangsung normal di Konoha. Desa besar di negara api itu terlihat tentram dengan latar bulan purnama sempurna di langit malam yang gelap. Seseorang dengan topeng tengah berdiri di tepian telaga, memandang pemandangan dihadapannya sambil membuat seal tangan standar yang sering digunakan ninja. Tiba-tiba ia menghilang, kemudian muncul di seberang telaga dengan posisi yang sama.
Poooft!
'Shunshin No Jutsu!'
Kepulan asap terlihat lagi, Naruto menghilang menuju tengah-tengah telaga. Dengan segap membuat seal singkat dengan akhiran seal tangan tiger. Seringainya mengembang saat ia menggembungkan dada-nya sendiri dan menyemburkan cakra panas dari dalam paru-parunya.
"katon : Goukakyou No Jutsu!"
Wush!
Naruto membuat seal lagi, menghilang beberapa meter dari jutsu bola api yang mengarah kearahnya sambil membuat hand seal dengan singkat. Mata sharingannya menyala otomatis begitu ia melihat bola api besar yang tadi dikirimkannya sekarang menuju kearahnya sendiri.
"Suiton : Suiryuudan No Jutsu!"
Air-air disekitarnya terangkat, berpusar ke atas dan mulai membentuk moncong naga berikut atribut-nya. Naga itu mengaum, kemudian melayang menuju jutsu api yang sekarang tinggal sedikit lagi menghantam Naruto Anbu Ookami.
DUAAAAAAR!
Asap mengepul disekitar telaga diikuti mendaratnya seorang Anbu di tepiannya. Orang itu memandang kabut hasil ciptaannya dengan pandangan puas dan mata merah yang terus berputar-putar.
"apa kau sedang mencoba mengkombinasikan shunshin dan pertarungan?"
Seseorang dari dalam kegelapan muncul dengan sepasang mata sharingannya. Orang itu berdiri bersandar di salah satu pohon sambil menyilangkan kedua tangan di depan tubuh.
"atau kau sedang berusaha menandingi kecepatanku?"
Naruto mengangkat bahunya. "menggunakan shunshin dalam pertarungan memang menguntungkan, tapi waktu untuk membuat seal akan menjadi merugikan penggunanya belum lagi cakra yang akan terkuras saat melakukan perpindahan tubuh menggunakan shunshin. Aku yakin kau mengetahui lebih jelas tentang hal itu sensei."
Naruto melirik kearah pria dibelakangnya. "dan aku tak suka kau menuduhku meniru. Aku hanya terinspirasi, ini pasti akan jadi jutsu milikku sendiri."
Karasu tertawa, ia melangkah ke depan dan mengusap kepala naruto. Sejenak mereka mengamati pemandangan bulan yang memukau, terpantul di tengah telaga di kelilingi oleh air jernih dan hutan yang kelihatan gelap penuh misteri. Mata Anbu karasu itu tak lepas memandangi wajah orang yang dijadikannya sebagi Murid.
"aku ingin tahu bagaimana ekspresimu dibalik topeng itu. Apa itu sama seperti yang kau tunjukkan pada istri Yondaime? Dan satu lagi.. senyummu itu agak memuakkan. Pernahkah aku mengatakan bahwa lebih baik tidak tersenyum sama sekali dibandingkan menyajikan senyum palsu? Itu menyedihkan. Jika kau memang Uchiha maka lebih baik kau tidak melakukannya,"
Naruto secara tiba-tiba melepaskan topengnya. Benda itu tergantung di lehernya. Wajahnya kelihatan datar, tapi bibirnya kelihatan mencebik tidak senang.
"kau selalu mengatas namakan segala ucapanmu atas nama uchiha. Tapi kau sendiri mengatakan jika aku tidak boleh melalaikan misi. Aku memiliki misiku, misi Yondaime dan Misi kesatuan. Jadi apalagi setelah ini yang boleh atau tidak boleh kulakukan? Itu semua menjengkelkan. Jika aku tersenyum, senyumku palsu. Jika aku diam, orang-orang akan menilaiku arogan dan Kushina-sama akan menjadi emosi yang membahayakan Kyuubi lepas, jika aku tidak mematuhi ucapanmu maka aku bukan Uchiha. Jika aku melalaikan kehendak Yondaime, maka Misi ini akan gagal. Apa yang sebaiknya kulakukan?!"
Anbu itu berjengit, saat sepasang mata crimson bertomoe tiga milik si anak menatapnya dengan pandangan benci setengah mati. Ia sendiri buru-buru menonaktifkan sharingannya, kemudian menatap lurus-lurus ke seberang telaga tempat pohon-pohon berbaris membentuk lorong kegelapan.
"wajah adalah ekspresi asli dari jiwa. Aku hanya ingin kau jujur pada dirimu sendiri. Aku tak ingin memaksamu dengan segala ocehan tentang peraturan yang juga selalu di taati Uchiha. Clan itu mendapat superioritas karena kedisiplinan mereka dan pendiamnya mereka, itu benar-benar pembatasan emosi.. walau itu baik tapi itu tidak membuat apa yang berada dalam dirimu dikeluarkan secara sempurna. Itu akan membuatmu jadi barang palsu, membuatmu jadi kurang berharga. Kalau kau menjadi dirimu sendiri maka itu akan jadi lebih baik."
Naruto terdiam. Ia menonaktifkan mata sharingannya dan melangkah maju, mendekati tepian telaga tepat di jembatan kayu-nya. Kakinya terjulur ke arah air, ia duduk disana sambil memandangi pantulan bulan purnama.
"Yurusei sensei, aku tak bermaksud membentakmu seperti tadi."
Keduanya berdiam diri lama. Karasu menghilang, dan kembali muncul untuk duduk disebelah Naruto.
"coba lihat kearah telaga sana."ujarnya sambil menunjuk kearah telaga dihadapan mereka. "indah kan? Tapi coba lihat apa yang berada disana. Bulan penuh cahaya yang asli dan bukan hanya pantulan palsu.. apa itu lebih indah?"
Naruto menggeleng, kali ini ia tidak menanggapi ucapan tersebut.
"apa yang sebenarnya kau inginkan sensei?"
Sejenak terlihat wajah dibalik topeng itu tertegun. Naruto menghadapkan wajahnya kearah pria tersebut.
"aku yakin kau tidak ingin membuang waktumu secara percuma disini, kau menginginkann sesuatu."
Anbu itu langsung merogoh saku dalam jubahnya. Ia mengeluarkan sebuah perkamen dari sana dan melemparkannya kepada Naruto.
"kita mendapat misi."
Naruto membuka perkamen tersebut dan membacanya dengan cepat. Ia menggulungnya kembali, lalu menyerahkannya pada Anbu Karasu.
"aku sedang dalam misi. Yondaime akan memergoki NE jika aku menghilang."
"tidak jika kau digantikan. Dalam dunia shinobi kau bisa melakukan apapun yang tak bisa dicapai oleh logika Civilians. Akan ada penggantimu, Danzou sendiri yang menunjukmu."
Naruto bergeming. Ia menyepak aliran air dibawahnya.
"saat kau bilang 'kita' aku tahu kita akan pergi bersama. Jadi apa tindakan semacam pencurian itu dibenarkan?"gumam naruto murung. "apa dunia ini begitu menyedihkannya hingga petinggi desa-pun menyukai tindakan rendahan itu?"lanjut Naruto sambil memandang Karasu lemah.
"itu kewajiban... Naruto-kun."
. . . . . . . . . . .
Flashback.
Hari itu musim semi Konoha dan Hi No Kunni. Semua anak di panti asuhan bersuka cita ingin menyambut musim dingin, tapi sebelum itu tak ada yang melewatkan musim gugur yang memukau. Semua orang keluar dari ruangan, berdiri di luar, beberapa anak bermain-main dengan latar pepohonan yang menggugurkan daunnya. Semuanya komplit, itu adalah hari dimana bahkan ibu tua tersenyum dan menjadi lebih baik dari hari segala hari di panti Asuhan.
Di sisi lain, seorang anak tengah menyembunyikan sepatu salah satu bocah panti teman mereka. Disana terlihat seorang berkepala berambut botak dengan empa temannya yang lain tengah berunding. Naruto, tentu saja tidak seperti anak-anak lainnya, ia memandang kearah buku pertamanya dengan tekun. Itu adalah usianya tepat ke empat tahun.
'buku ini menarik.'pikir naruto sambil terus membaca. Ia tidak mengganggu siapapun kecuali ia diganggu. Ia berdiri tanpa perduli pada empat bocah penghuni panti yang saat itu paling besar yang memandang kearahnya dengan pandangan jahil.
"naruto, bisa tolong kami disini?"ujar mereka gembira. "bisakah kau berdiri disini dan memegang kedua sepatu ini? Kami ingin mengambil makanan ringan yang kemarin di beli ibu di dapur."
"hn."ujar Naruto kecil sambil melangkah kearah ke empat anak tadi. "cepatlah."
Ke empatnya dengan semangat pergi, meninggalkan naruto yang memegangi sepasang sepatu tersebut dengan mata tak henti memandang kearah pemandangan musim gugur disekitarnya. Mata hitam bocah itu kelihatan melebar dengan penuh ingin tahu, sesekali naruto menangkap dedaunan yang jatuh. Ia menunggu dengan sabar bahkan tanpa membuka buku-nya untuk sementara waktu.
'suatu hari aku akan setinggi itu.'pikir Naruto kecil sambil memandang pohon yang tigginya kurang lebih setinggi tubuh ibu. Wanita itu bertinggi 168 cm, dan naruto mencatatkan dalam hati bahwa itu tinggi yang cukup ideal. Tapi ia harus melampaui ibu, ia harus lebih besar dari ibu dan lebih cerdas tentunya. Ia haru membanggakan ibu dan melindunginya nanti, pada saat itu tiba ibu tak perlu lagi bekerja keras untuk panti.
Di sisi koridor dalam ruangan, ke empat bocah tadi memandang kearah bocah berambut spikey di luar sana yang menenteng sepasang sepatu. Mereka kelihatan saling lirik, sambil tersenyum gembira.
"rencana kita akan berhasil."ujar bocah pertama. Ia melirik kearah Naruto melalui pintu yang terbuka, "habisnya dia adalah yang paling aneh. Maksudku hanya orang dewasakan yang bisa membaca buku?"
Anak lain mengangguk setuju. "paling-paling ia sedang mencari perhatian ibu. Lihat saja, ibu memandanginya dengan pandangan berbeda.. seolah-olah dia adalah anak yang special."
Bocah yang botak berbadan paling besar ikut-ikutan mengintip. Ia mengamati keadaan disekeliling mereka sambil mengerutkan kening.
"saat aku menguntit Nyonya tua ke kota, aku melihat ada banyak orang yang ciri-cirinya sama dengan Naruto. Mereka semua mengenakan baju berleher tinggi berwarna gelap dengan lambang kipas merah bercorak putih di punggungnya. Jadi aku penasaran, dan aku bertanya pada ibu. Itu adalah lambang apa? Ibu berkata padaku itu lambang sebuah clan yang dihormati di Konoha."
Ketiga temannya mengangguk-angguk mengerti.
"kalau begitu ia tidak boleh dihormati juga disini, sudah cukup orang konoha memberi hormat padanya. Ia tidak boleh jadi lebih special dari kita?! Siapa setujuu?"
"ha'i!"ujar sisanya sambil tertawa puas. Anak yang berbadan lebih besar dengan kepala botak itu langsung mengacungkan jari jempolnya. "kalau begitu kita harus memberinya pelajaran. Dan saatnya mulai!"
Singkat kata anak tadi langsung masuk ke dalam, melakukan sesuatu dan bertemu anak yang kelihatannya ringkih dan cengeng. Bocah itu tiba-tiba menghancurkan keadaaan damai di panti, ia berlari keluar dari kamarnya dengan tangisan di wajah. Rambut potongan mangkoknya bergoyang-goyang saat ia berlari dan menemui ibu.
"ibu! Sepatuku hilang!"
Ibu kelihatan menenangkannya, tapi tangisan anak itu langsung menarik perhatian semua bocah kecuali Naruto. Anak itu kelihatan tetap menepati janjinya dan mengabaikan dunia disekitarnya.
"apa? Ada apa?!"tanya seorang anak ingin tahu. "kau kenapa?"
"ya? Mengapa kau menangis?"
"ibu mengapa Takoji menangis?"
Anak tadi bertambah sesengukan. "sepatuku hilang!"
"sshhhh!"ujar ibu akhirnya sambil memeluk menenangkan bocah itu. Kali ini Naruto melihatnya, wajahnya langsung terlihat tidak senang, bibirnya mengerucut dari kejauhan.
"itu tidak mungkin hilang. Semua Saudaramu disini adalah anak yang baik. Mereka tidak mencuri, itu pasti hanya belum ditemukan, bisa jadi hanya terselip di suatu tempat. Kita akan mencarinya."
Semua anak langsung membuat deklarasi bahwa mereka tiak tahu. Ada yang menunjuk sepatu masing-masing untuk membuktikan bahwa sepatu yang mereka kenakan adalah sepatu mereka sendiri.
"baiklah. Siapa yang menyembunyikannya.. ibu tak akan memaafkannya."gumam Nonou serius. Hal tersebut mengintimidasi semua anak, "jadi katakan pada ibu, siapa yang tahu akan sepatu itu?"
Ke empat anak tadi saling sikut takut. Ekspresi itu tidak luput dari pengamatan Nonou. Jadi ibu melangkah kearah mereka, lalu menatap keempatnya dengan pandangan menenangkan yang menyelidik.
"apa kalian mengetahuinya? Jangan takut.. ia akan mendapat hukuman yang setimpal."
"a-ano.."gumam bocah salah satu dari keempatnya. Ia langsung mendapat tatapan ngeri dari sisa temannya. "ibu..-"
"ya?"
Akhirnya si gendut berambut botak membalikkan tubuhnya. Ia kelihatan takut melihat mata ibu yang begitu fokus mengintimidasi.
"sebenarnya.."tunjuknya kearah satu-satunya bocah yang berdiri di bagian lain bangunan panti. Anak yang sama, berambut hitam pekat, dan kulit tubuh seputih salju. "Naruto.."
Ibu tanpa aba-aba langsung mendatangi Naruto. Ia mengambil sepatu dari tangan anak itu, sesuatu yang masih dibalas tatapan kecewa dari mata naruto karena ibu memeluk anak yang tadi menangis. Tapi ibu mengartikannya sebagai sesuatu yang berarti kekesalan Naruto karena ibu membela bocah bernama Takoji itu. Jadi ibu memandang Naruto penuh peringatan dan memberikan isyarat yang belum pernah sekalipun diberikan ibu sebelumnya.
"Naruto.. ibu kecewa padamu. Kau mencuri sepatu saudaramu sendiri."ujarnya dengan nada kecewa. "apa kau tahu betapa rendahnya perbuatan mencuri?"
Naruto yang tidak tahu apa-apa tentang masalah ini langsung memandang ibu penuh tanya. "ibu aku tidak-"
"percayalah. Ibu akan menghukummu. Pencurian adalah opsi terendah yang bisa dilakukan manusia."kata ibu mengakhiri ucapannya dengan nada muram. "berdirilah disini, dan jangan masuk sampai besok pagi."
"tapi-"
"atau ibu akan membencimu.. seumur hidup."kata Nonou masih dengan rona wajah kecewanya. Akhir kata semua anak masuk ke dalam gedung panti sore hari akhir musim dingin itu. Di malam harinya angin bertiup kencang, meninggalkan Naruto di tengah halaman yang memandang tidak mengerti kearah lingkungan disekitarnya. Dan yang selalu menjadi alasannya untuk marah sejak saat itu adalah kecerobohannya untuk menerima permintaan tolong dari anak-anak panti hari itu.
'aku tak akan menolong siapapun.'pikir Naruto sambil memandang kakinya yang kedinginan. Ia memeluk tubuhnya sendiri, sambil sesekali melirik kearah ruangan makan dari kaca jendela yang tampak begitu hangat dan nyaman diisi dengan candaan anak-anak yang lain.
'menolong hanya akan membuatku susah. Aku bahkan tak tahu apa yang terjadi.. tapi ibu kelihatan kecewa padaku. Lihatlah ibu, besok aku tak akan menolong orang lain lagi.'pikir Naruto sambil kedinginan dengan sedih.
Flashback end.
Karasu yang memandang naruto kelihatan memikirkan sesuatu. Wajah anak itu begitu tenang, tapi kerutan di alisnya mengungkapkan bahwa ia tengah berpikir keras. Dari sorot matanya yang tampak seolah menganggap semua yang ada di dunia ini membosankan dan hanya tentang hidup dan mati, lemah dan kuat, salah dan benar. Pandangan tersebut juga mengejutkannya, itu karena ia hanya pernah satu kali melihat pandangan yang sama yang juga dimiliki oleh seorang Uchiha.
'mata itu seolah mengungkapkan bahwa ia telah terluka di masa lalu, dan yang lebih buruk ia membawanya sampai sekarang.'
Pluk!
Tiba-tiba karasu menepuk bahu Naruto, sesuatu yang membuat bocah itu memandangnya. Masih dengan nuansa mata yang sama.
"ada yang ingin kau ceritakan denganku Naruto-kun?"
Sepintas kedua mata hitam itu bertemu pandang. Naruto yang sudah menguasai dirinya kembali langsung berdiri, ia memberi anggukan hormat ke arah sang sensei yang terpaku dengan gerakan tubuhnya yang begitu cepat.
"kurasa pembicaraan kita harus diakhiri sensei. Aku harus menyiapkan diri untuk misiku bersamamu."
Naruto kemudian menghilang diiringi dengan kelebatan hitam. Karasu dengan wajah datarnya kembali mengalihkan wajah kearah telaga. Ia menghembuskan napas, sambil membuka topengnya sendiri.
"bahkan meski aku berkata uchiha tak boleh berbohong, aku masih tidak bisa berterus terang padamu tentang wajahku seperti yang kuinginkan."
. . . . . . . . .
Naruto muncul kembali di Uchiha Compound. Karena tempat itu dilindungi oleh kepolisian Militer Konoha dan beberapa kekkai, alhasil yang dilakukannya adalah melewati gerbang Uchiha Compound. Disana seperti biasa, dua orang penjaga sedang berjaga dengan ketat. Di dalam clan memang kelihatan tak ada yang tidak ketat mengenai keamanan. Naruto menyadari itu sejak pertama kali ia menapakkan kakinya di clan ini.
"tunggu."
Naruto menoleh ke belakang, ia mendapati seorang pria tengah memandanginya dengan pandangan analisis. "apa kau penghuni baru?"
Orang itu mengamati cara berpakaian pemuda dihadapannya. Bersepatu shinobi, berpakaian khas clan dengan rambut spikey dan mata yang sama tajamnya dengan mata para Uchiha pada umumnya. Ia melangkah maju, kemudian dengan hati-hati mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
"pertemuan clan di undur. 10 hari dari sekarang hal itu baru akan dilaksanakan. Semua Anggota clan diharapkan hadir, terutama ninja clan Uchiha."ujar orang itu kemudian. "dan Mikoto-sama menyampaikan rasa terima kasihnya padamu. Ia memintamu datang ke kediaman Fugaku-Taichou besok malam."
Naruto menerima surat kecil yang disodorkan pria ini. Ia menganggukkan kepalanya setelah mengucapkan terima kasih.
'Fugaku-Taichou.. bukankah ini ketua clan Uchiha?'
Agak ke ujung compound Naruto berhenti. Disana, di sebuah flat tingkat dua yang lampunya belum dihidupkanlah tempatnya tinggal. Dengan cekatan ia melompat ke beranda lantai atas, menggeser jendela dan masuk. Naruto langsung menghidupkan lampu ruangan begitu ia sampai disana. Sebuah ruangan bercat putih terang dengan lantai kayu ang tersusun rapi. Satu lemari pakaian, satu kamar mandi, dapur berikut perabotannya.
'aku harus belajar memasak sendiri.'pikir Naruto yang lantas melangkah ke dapur dan membuka buku panduan memasak yang disertakan di antara lemari keperluan yang tergantung di dinding. Tapi sebelum itu ia terlebih dahulu mencuci mukanya di wastafel. Tak jauh dari dapurnya sebuah kaca di pajang dekat dinding.
'Misi... Hoshigakure.'pikirnya termenung.
Ia lantas menyiapkan makanannya sendiri. Berupa Omusubi sederhana buatan tangannya, segelas susu cair di kulkas di letakkan di atas piring dan dihidangkan di meja makan dengan dua kursi. Naruto menyantapnya, tanpa mengharapkan apapun pada kursi dihadapannya. Ia tinggal sendiri dan itu mutlak. Selepasnya ia membersihkan diri, mengemasi pakaian dan sebuah buku catatan hitam yang menjadi barang yang selalu dibawanya sesuai pesan terakhir orang yang memberikannya.
"entah apa yang ditulis disini.."
Naruto memasukkan benda tersebut ke dalam scroll penyimpanannya. Terakhir dan yang terpenting, sebuah tanto dan topeng identitasnya. Ia pun melesat keluar, masih menggunakan henge Uchiha Naruto dewasanya. Keluar compound dan melarikan diri dalam malam tanpa batas.
.
.
.
Keesokan harinya.
Pagi hari Konohagakure, desa yang damai dengan burung yang bercicitan riang. Di depan gapura masuk desa yang kokoh dan kanji selamat datangnya, Tim 9 tengah berdiri di tepi gerbang berikut dua anggotanya.
Satu berambut raven hitam panjang yang merupakan remaja perempuan bermata rubby, satu remaja laki-laki yang merokok, dan satu lagi seorang yang paling tua diantara keduanya dan yang paling semangat dengan penampilan nyentrik.
"semangaaaaaaat Paaaaaagi!"teriaknya sambil meninju ke arah langit. Ia memandang kearah kedua temannya yang memandangnya aneh. Tapi dengan percaya dirinya ia menyapa kedua temannya dengan semangat yang tetap membara. "Kurenai-san! Asuma-san! Bisakah kalian lebih bersemangat? Dengan masa muda kita aku yakin misi kali ini akan jadi lebih bermakna! Ayo teriakkan semangat!"
"bisakah kau diam sebentar saja Guy?! Aku benar-benar lelah mendengar ocehanmu."gumam Asuma tidak bersemangat. 'dan yang menjadi pertanyaannya mengapa aku harus setim dengan orang sepertimu sih?'pikir Innernya tak kalah kurang bersemangat.
"setidaknya bersemangatlah! Ini pagi yang cerah, jangan menyambutnya dengan pandangan malas khas rivalku itu! Itu bukan tradisi yang baik."kata Guy masih dengan semangat membara. "tim 9 akan menjalani Misi penuh pengembaraan hari ini!"
"Hidup masa Muda!"teriak Guy sambil melompat ke depan gerbang dengan gerakan akrobatik.
"Masa Muda!"Guy mulai menari di depan kedua temannya. "Masa Muda!"
"Mas-"
"bisakah kau diam Guy?!"kata Kurenai sambil menundukkan wajahnya. Sweatdrop melihat betapa semangatnya rekan yang satu ini. "lagi pula pagi ini bisa terganggu jika kau terus berteriak seperti itu."
Guy tersenyum lebar, ia menggaruk tengkuknya sebentar. "haha. Oke, aku akan diam tanpa menghilangkan semangat masa mudaku dan kalian!"
Disisi lain penjaga gerbang hanya tersenyum simpul melihat interaksi kelompok Chunnin itu. Sepertinya Konoha memang dipenuhi oleh ninja-ninja muda yang semangatnya begitu membara hingga membuat mereka tak bisa diam walau sebentar saja.
'dan lihat bagaimana orang-orang itu melihat kita.'pikir Kurenai sambil menarik paksa Guy dari tarian akrobatiknya. "berdirilah disini dan jangan membuat gerakan apapun lagi."
"ya..."
Guy kelihatan tidak bersemangat, lagi-lagi Kurenai mendapat tatapan penuh pengertian dari si penjaga gerbang. Mereka memberinya jempol untuk aksi yang dilakukannya. Kelompok 9 adalah salah satu rokie Konoha masa itu. Selainnya, ada kelompok 1 sampai 9 yang mana di antara kelompok ninja tersebut hanya tim 7 yang sudah bubar. Rumor mengatakan, tidak malah menyebutkan dengan jelas bahwa anggota pertama dan Uchiha dalam kelompok yang digadang-gadang kelompok terbaik itu tewas di pertempuran jembatan Kannabi. Satu lagi tewas di tangan Iwagakure, dan yang terakhir telah dimasukkan dalam divisi Anbu.
Hatake Kakashi, siapa yang tidak tahu dengan ninja prodigy itu? Satu-satunya tim yang memiliki 2 jounin pada saat itu hanyalah tim 7. Tapi semuanya berubah, dan yang tersisa hanya Hatake terakhir yang begitu misterius ini. Bukan tidak mungkin bahwa dari sekian ninja Chunnin yang dikenal hanya Hatake Kakashi yang amat memiliki penggemar diantara Kunoichi. Dengan catatan meski tak ada satu pun yang pernah melihat wajah tanpa Maskernya, Kakashi pastilah tampan meski hanya terlihat sepasang matanya saja.
Dan disana hanya ada dua orang remaja laki-laki. Yang satu idiot dengan semangat kelewatannya, dan yang satunya merupakan putra sandaime Hokage yang suka merokok. Itu pasti bukan lingkungan yang akan diidamkan semua Kunoichi.
"jadi, apa yang kita tunggu saat ini?"tiba-tiba asuma berujar. Panas matahari pagi benar-benar nyaman, tapi jika mereka hanya berdiri di tepian gerbang desa tanpa maksud yang jelas itu pasti sangat memalukan. "sensei tidak akan ikut kan?"
Untuk ukuran seorang Chunnin, sensei tak lagi diperlukan bagi sebuah kelompok. Mereka dinilai sudah cukup kuat dan dewasa dalam mengatur strategi dan menjalankan misinya, jadi seorang Jounin tak lagi akan mendampingi mereka seperti sata mereka masih menjadi Genin. Ninja Chunnin level dinilai adalah ninja yang hampir sepenuhnya kuat dan akan menggapai level Jounin maka dari itu perlu didewasakan dengan kemandirian dalam misi.
Kurenai menggendikkan bahu. "sebenarnya mungkin-"
Chiuuuuu!
Bunyi elang yang bersuit menukik kearah mereka membuat Guy melebarkan mata dan menangkapnya. Elang cokelat yang biasa digunakan mengirim surat itu kelihatan dikirimkan seseorang untuk mereka, hal itu sudah jelas. Elang itu dikirim dengan lebel '9' di kakinya. Kurenai langsung nimbrung diikuti Asuma, mereka menyentuh elang tadi dan mengambil surat yang diikat di kakinya.
"ini.."Asuma melirik kearah elang tersebut. "pasti dari Hokage-sama."
"untuk tim 9. Maafkan karena aku tidak bisa mengantarkan misi Chunnin pertama kalian. Ninja Konoha dinilai sebagai Ninja yang hebat, dan itu semua diketahui dari pengalaman dan keahlian dalam misi yang diberikan. Lakukan yang terbaik dalam misi kalian atas nama Konohagakure dan negara Hi.
Yondaime Hokage
Semoga berhasil."
Ketiganya beradu pandang, Asuma melirik kearah Guy, Guy terlihat tetap bersemangat sedangkan Kurenai melirik kearah jam dan kearah keduanya.
"tahu apa yang kupikirkan?"kata Kurenai panik.
"KITA HAMPIR TERLAMBAT!"ketiganya pun berlari meninggalkan desa dengan kecepatan lari masing-masing. Di lain hal tampak penjaga gerbang Konoha tertawa terbahak-bahak.
"kau tahu Izumo, kita bukan satu-satunya ninja yang pernah terlambat seperti Asuma-Sama dan timnya!"
Izumo yang mendengar ucapan itu langsung berdiri dari duduknya. Ia menyikut Kotetsu dengan galak. Awan hitam pundung memenuhi kepalanya, "-Hanya Kau.. Kotetsu. Jangan bawa-bawa aku!"
"tapi kita kan-"bantah Kotetsu sambil tertawa. "Kita.."
DUAKH!
Keduanyapun terlarut dalam kegiatan saling sikut menyikut.
. . . . . . . . . .
Tap!
Tap!
Tap!
"kelihatannya putra Sandaime adalah yang paling meyakinkan di kelompok itu."Karasu berujar pelan diikuti gerakan lompatan panjang. Naruto yang berlari disampingnya menganggukkan kepala, ia juga turut melirik kearah tiga Chunnin yang menjadi tiket mereka untuk memasuki desa Asing Hoshigakure itu.
"aku belum pernah menapaki tanah itu. Tapi dengan kondisinya yang diapit jurang aku yakin akan sulit untuk melaluinya tanpa jembatan. Tapi jembatan terlalu ringkih dan itu akan tetap membahayakn musuh. desa itu terlindungi dengan baik, dan kita akan tahu mengapa desa itu dilindungi dari serbuan negara besar yang lain."
"ha'i, kita akan menemui ancaman pelindung desa itu. Chunnin dalam misi inilah yang akan menunjukkannya nanti."kata Naruto sambil melirik lagi kearah tiga ninja tadi. Kali ini ia berhenti sejenak, kemudian melirik kebelakang dan merasakan ada 3 tekanan cakra berbeda yang bergerak dari arah sana.
"kita terlalu cepat. Aku yakin seharusnya kita memperlambat lari sejak pertama kali."gumam Karasu dan mereka kembali menyembunyikan diri di pepohonan.
.
Disisi lain tim 9 tengah berlari dengan kecepatan dipaksakan. Mereka hampir ketinggalan jadwal jika tidak begitu, dalam misi kali ini penjemput dari negara Hoshigakure akan mengantarkan mereka ke pusat desa. Mengingat lokasi Hoshigakure yang terselubung, dengan sedikit shinobi dan merupakan negara kecil, hal ini tentu saja sebagai sesuatu yang wajar. Jika desa itu tak dilindungi apapun, maka pasti sudah sejak dulu bintang cakra di desa ini dicuri negara lainnya.
Tap!
Tap!
Tap!
"apakah masih jauh Asuma-kun?"kali ini Kurenai Yuhii lah yang berbicara. "jika memang Hoshigakure tidak jauh dari Konoha, bukankah seharusnya kita telah menemukannya?"
Mereka berlompatan dengan sigap tapi dengan kecepatan standar. Hari telah memaksa mereka untuk menghemat tenaga yang tadi dipaksakan di waktu keberangkatan mereka.
"jika seperti katamu, maka tak akan jauh dari sini kita akan segera menemukannya."jawab Asuma sambil menoleh ke arah belakang. "apa kau ingin istirahat?"
Kurenai melirik kearah Guy yang kelihatan tetap bersemangat. Ia menggeleng pelan, "kita akan sampai lebih cepat."gumamnya sambil berlalu mendahului dua rekan pria-nya.
"Yosh! Kita harus segera sampai Kurenai-san, Asuma-san! Ini misi yang perlu dihadapi dengan semangat penuh tekad api Konoha!"
Tak jauh dari jangkauan pandangan mereka sebuah celah ujung hutan tampak. Kurenai yang sudah kelelahan menghela napasnya dalam-dalam.
"kalau yang kau maksud itu Hoshigakure, berarti kita harus kesana lebih cepat lagi."ujarnya sambil berlari dengan lebih cepat. Guy yang melihat ini terlihat makin berbinar-binar.
"YATTA! KURENAI-SAN BEGITU BERSEMANGAT! AKU JUGA HARUS BEGITU! AYO ASUMA-SAN! KITA JUGA HARUS BERGEGAS!"teriak Guy dengan semangat membara, ia mencolek bahu Asuma yang kelihatan melamun. "AYO ASUMA-SAN! DIDEPAN MUSUH KITA SUDAH MENUNGGU!"
Tapi mata cokelat Asuma kelihatan tidak berpaku pada pandangan di depannya. Ia tengah memikirkan hal lain.
"-ASUMA-SAN!"
"ASUMA-SAN!"
"-HOY ASUMA-SAN!"Guy berlari di depan Asuma sambil menghadap kearah remaja itu. Ia melambaikan tangannya aneh. "KITA BISA TERTINGGAL MASA MUDA KURENAI-SAN!"
"kau benar."jawab Asuma asal. Ia masih memperhatikan gadis yang berlari dihadapan mereka itu, 'dia pasti kelelahan..'pikir Asuma yang melihat Kurenai memunggungi mereka dan berlari menjauh, ia pun mempercepat larinya. "ayo Guy! Jangan sampai tertinggal!"
Tap!
Tap!
"kalian harus melihat ini."Gumam Kurenai kehabisan kata-kata. "tak ada jembatan, tak ada penghubung, ada jurang dan kabut asap yang memenuhinya.."
Guy langsung berlari dengan riang. "Yosh! Kita harus cepat-cepat sampai di Hoshigakure."ujarnya sambil mendekati jurang dan bersiap melompat. "Hoshigakure aku data-"
"tunggu dulu!"Asuma melihat seseorang yang terlihat sebagai Ninja pos mengenakan masker terlebih dahulu sebelum terjun ke dalam kabut. Mata cokelatnya berkilat-kilat melihat hal tersebut.
"ini.."
Syuuut! Syuuuut!
Trank!
Dari salah satu pohon tertinggi di kejauhan, satu sosok bermasker bercelana cokelat muda dengan sarung tangan mencapai siku mendatangi mereka. Dengan tenang matanya menyapu kearah tiga Chunnin konohagakure itu.
"kau ninja Konoha?"tanyanya langsung.
"KAU?!"Kata Guy kesal. "mengapa kau menyerang kami?!"
Kurenai langsung memasang sikap defensif, ia sudah menggenggam kunai di kedua tangan. Disana hanya Asuma yang masih berdiri cukup tenang, ia tidak memberikan reaksi apapun pada ninja pendatang tak dikenal itu.
"benar."
Orang tadi langsung melepas Hittae-atenya. Satu sosok remaja berambut hitam dengan mata cokelat menatap mereka santai.
"aku Sumaru dari Hoshigakure. Aku diperintah menjemput kalian."
Guy langsung mengerutkan keningnya. Ia membatalkan sikap defensifnya.
"dan mengapa kami harus dijemput? Apakah kalian meragukan kemampuan kami untuk bisa mencapai Hoshigakure?"
Sumaru menggeleng. Disisi lain, ia langsung mengeluarkan crossbrow-nya dan menebakkan mata tombak bertali melintasi jurang ke dataran di seberang jurang. "kalian tak mengerti? Jurang ini begitu beracun. Aku tak akan mengatakan kalian tak mampu menyebranginya dan menemukan Hoshigakure. Tapi kalian tak tahu bahwa gas ini sangat beracun. Kalian pasti akan mati sebelum sampai ke seberang jurang."
Angin sedikit meniup gas yang mengepul. Menampakkan jurang yang tidak terlalu dalam tapi berisi berbagai rangka binatang. Guy yang melihat ini langsung melirik kearah Sumaru dan memberikan jempol andalannya.
"Kau adalah penyelamat kami! AH Betapa beruntungnya memiliki teman penyelamat!"tangisan haru Guy membuat semua orang sweatdrop. Kecuali Sumaru yang terlihat tetap memberikan ekspresi biasanya.
'bisakah kau tidak mempermalukan dirimu?'pikir Asuma frustasi. "nah. Bisakah kita pergi?"
Kurenai langsung menganggukkan kepala setuju. Guy juga melakukan hal yang sama. Asuma menggendikkan bahu sambil mulai melangkah mendekat kearah tali memanjang itu. "kalau begitu aku akan pergi dulu. Apakah akan baik-baik saja tanpa masker pelindung?"
Belum sempat Sumaru memberikan jawaban, dua sosok lain langsung melesat melompati tali tadi mendahului mereka. Dua kelebatan berjubah hitam itu begitu cepat, sampai-sampai mereka hanya mampu ternga-nga tanpa bisa berbuat apapun saat itu terjadi.
"Hey! Itu?!"wajah sumaru kelihatan bingung. "apakah kalian membawa teman lainnya?"
"apa maksudmu?"kata Kurenai aneh. "kami ini satu-satunya tim yang dikirim Konoha. Kami tak membawa siapapun!"
Wajah Sumaru langsung menegang. Ia memandang siluet hitam yang tadi menghilang di seberang sana.
"berarti itu.."gumamnya terputus. Ia mengeratkan kepalan tangannya kesal. "PENYUSUP!"
Dengan cekatan Sumaru berlari dengan cepat menyebrangi tali jembatan itu meninggalkan tiga ninja Konoha yang sekarang saling pandang tanpa mengatakan apa-apa. Tim 9, dengan asuma yang mengerutkan kening, Kurenai yang memandang kearah tanah seberang mereka tidak mengerti dan Guy yang kelihatan penasaran.
"kelihatannya kita harus menyusul mereka."kata Asuma akhirnya.
Kurenai memandangnya setuju. "lalu?"
Kali ini Guy yang langsung berbicara lantang.
"Seberangi tali itu! Apa lagi?"
Tim 9 pun mengejar ketertinggalan mereka. Tanpa disadari ketiganya, dua pasang mata lain mengamati mereka dari semak-semak belukar. Keduanya berhittae-ate dengan simbol Hoshigakure di atas-nya.
"kita harus melapor. Ternyata Konoha mengirim ninjanya!"
Keduanya pun menghilang dalam shunshin.
TBC
