A/N : sempatkan diri kalian untuk mereview ini oke? maaf jika belum memuaskan keinginan kalian. seperti janjiku, aku mengupdate fic ini setiap sabtu/minggu setiap minggunya. dan satu lagi, terima kasih untuk setiap reader yang telah membaca dan yang berbaik hati menyempatkan diri untuk mereview di tiap chapter. semoga kalian menyukai ini, dan jangan lupa beri aku review lagi. itu adalah asupan semangat untukku. seperti makanan, bila manusia hidup tanpa makan apakah ia akan tetap fresh? tidak. begitu juga dengan author, jika ia tidak mendapat kesan apakah ia akan bersemangat? tidak!
SEMOGA CERITA TIDAK MEMBOSANKAN.
Root Of Uchiha
Chapter 15
Pencurian Bintang Hoshigakure dan Kematian Maito Guy.
. . . . . . . . .
Brakh!
Semua orang mengarahkan atensinya kearah pintu, mendapati sosok bermasker merangsek masuk.
"Kujaku Myohou!"
Sedetik kemudian cakra muncul di sekitar orang itu. Berwarna ungu dan membentuk ekor dalam jumlah banyak sekali.
"Kujaku Myo-"
SRAPH! SRAPH! BRAKH!
Ekor tadi meluluh lantakkan semua ninja muda yang berada disana. Memukul mereka kesana-kemari dengan mudahnya sementara si pemilik mulai melangkah maju sambil membawa sebuah kantung kain hitam. Di tengah sana di atas cakar elang sebuah bintang berpendar tampak menjadi tujuannya. Ia melangkah kearah sana, mengambil benda itu dan memasukkannya ke dalam saku. Dikejauhan, sosok lain sudah menunggunya dengan wajah geram.
"apa yang kau lakukan gha?! Kujaku Myohou!"
Sumaru memasang kuda-kudanya. Ia membuat bentuk seal khusus pengendalian bintangnya. Pendar cakra ungu mulai melingkupi tubuhnya, memunculkan ekor yang siap untuk menyerang si pencuri didepannya.
SRAPH!
BOOM!
Debu mengepul, pencuri tadi melompati serangan itu dan dengan tangkas memasuki celah yang dibuat Sumaru. Tubuhnya melayang ringan dan saat berikutnya yang terlihat hanyalah Sumaru yang tergeletak setelah tengkuknya di pukul oleh si pencuri. Orang itu berlari menjauhi bukit di tengah kawah itu.
. . . . . . . . . .
Tap! Tap! Tap!
Naruto yang tengah berlari tiba-tiba berhenti. Ia dalam wujud henge-nya menepuk bahu Asuma yang sedang berdiri di sampingnya.
"Guy! Ada apa?"
Tapi tidak kali ini, Asuma tak melihat bahwa teman satu timnya itu nyengir lebar atau semua hal konyol yang biasa dilakukannya. Wajah orang itu kelihatan serius, malah kali ini ia memandangnya dengan pandangan yang bukan 'Guy' sama sekali.
'perasaan ini..'pikir Naruto dalam diam.
"kita harus pergi."gumamnya sambil menarik pergelangan tangan Asuma sambil kembali melompat ke atas dahan pohon. Ia bahkan mengindahkan pemandangan segar dari atas pepohonan itu. Sesuatu yang biasanya tidak dilakukan Guy meski dalam kondisi berlatih sedikitpun.
"kita akan kemana?"
Tap!
"kita akan mengejar seseorang."
Setelah berucap seperti itu Guy langsung berlari dengan cepat melompati dahan-dahan. Asuma yang bingung dengan hal ini memilih hanya mengikuti temannya tanpa berkata apa-apa. Mereka terus bergerak tanpa sedikitpun bicara sementara pria berbaju hijau itu terus memimpin. Asuma bukannya tidak senang tetapi merasa ada hal kurang beres. Temannya itu bukan seseorang yang bisa memimpin, bukan juga seseorang yang selalu serius.. dan bukan orang dengan mata hitam menakutkan yang jarang berbicara apalagi memasang wajah datar.
'siapa orang ini sebenarnya?'
Ujung hutan sudah tampak. Mereka mendekati sebuah tepian tanah tandus dekat jurang. Guy memperlambat larinya, disebelahnya Asuma melakukan hal yang sama.
"Guy, apa yang kita lakukan sebenarnya?"
Naruto mengabaikannya. Membuat Asuma yang sudah semakin curiga merogoh saku-nya. Remaja itu membuang puntung rokoknya.
"kau tahu apa yang kupikirkan Guy?"gumam Asuma pelan. Tapi Guy tidak melirik kearahnya, hanya berfokus sambil menundukkan diri kearah depan.
"hn.."
"pembohong itu adalah sesuatu yang perlu dibinasakan bukan? Apa kau setuju dengan itu?"tanya Asuma sambil menggenggam kunai-nya dengan erat. Lagi-lagi Guy tidak melirik kearahnya, membuat Asuma mendengus dengan suara dibesar-besarkan.
"dan apa yang pantas bagi seorang pembohong Guy?"imbuh Asuma dengan menekankan kata 'Guy'.
"Mati."kali ini Guy melirik kearah Asuma yang bersiap menikamnya. Ia menghindarinya dengan mudah, kemudian melompat ke atas sambil membuat seal jutsu.
"Katon : Goukakyou No Jutsu!"
Bola api besar muncul dan melesat begitu saja melewati atas kepala Asuma. Kali ini dari arah tenggara sosok lain dengan masker yang tengah berlari kelihatan berdiri tak jauh dari atensi mereka. Membawa sebuah bungkusan hitam berisi sesuatu menyerupai bola.
"Kujaku Myouhou!"
Seketika selaput ungu menyerupai barier terbentuk di depan sana. Membentuk dinding yang menghalangi jutsu bola api itu untuk menyembur kearah si pembuat jutsu. Asap mengepul disana, sedangkan Guy melompat mendarat di dekat Asuma yang kelihatan melebarkan matanya.
"G-Guy.. sejak kapan kau menguasai n-ninjutsu?"kata Asuma sambil memandang kearah orang disebelahnya ngeri. "kau bukan Guy! Guy tidak bisa melakukan Ninjutsu seperti itu!"
Dari kepulan asap kelihatan lengan cakra besar yang berwarna keunguan berpendar-pendar. Di belakangnya seseorang bermasker itu mempertahankan jutsunya dengan kuda-kuda yang sama. Naruto menarik kaki kirinya kebelakang, ia memalangkan kunai-nya di depan dada, memasang sikap defensifnya.
"bisakah kau melapor pada Hoshikage mengenai hal ini?"ujar Naruto pada Asuma masih dengan wujud henge Guy-nya. Ia tidak melirik ke belakang saat mengatakan hal tersebut.
"maksudmu?! Beraninya KAU-"
Asuma belum sempat menyelesaikan ucapannya saat kepala musang cakra menyerbu kearahnya. Naruto yang melihat ini langsung melompat sambil memegang baju Asuma dan membawanya menyingkir dari sana. Tak sampai di situ, musang lainnya segera memberi serangan kedua, memaksa Naruto melompat kembali sambil tetap mencengkram baju Asuma untuk membawanya menghindari serangan.
BRUKH!
BOOOOM!
"k-kau.."gumam Asuma saat mereka mendarat pada salah satu bebatuan. Ia memandang kearah orang yang menyelamatkannya dengan pandangan campur aduk.
"siapa kau sebenarnya hah?!"tanyanya kesal. "mengapa kau ada disini? Mengapa kau menyamar jadi Guy?! Mengapa kau menyelamatkanku? Siapa kau sebenarnya?!"
Dikejauhan sana, cakra tadi lagi-lagi membentuk musang. Bersiap menerjang kearah keduanya.
"katakan padaku! Siapa kau sebenarnya?!"
Wush!
"Katon : Goukakyou No jutsu!"
Sesaat sebelum musang tadi kembali menyambar mereka naruto membentuk seal jutsu dengan cepat. Mengeluarkan bola api besar tepat kearah musang yang mengarah kearah mereka. Tabrakan dua jutsu tak lagi terhindarkan, menimbulkan gemuruh besar dan asap yang mengepul dimana-mana.
DUAR!
"tak bisakah kau hanya pergi dan menyampaikan hal ini?"
Asuma memandang kearah orang dihadapannya dengan pandangan sama. Curiga dan bertanya. "mengapa?!"
"tak bisakah kau menyerahkan masalah ini padaku untuk kali ini saja asuma-san?"
"Guy.."kata Asuma terputus saat ia melirik kearah Guy yang berkeringat dan memberikannya jempol andalannya. Orang itu memandanginya dengan semangat muda-nya.
"aku telah berlatih lama untuk ini. Memastikan aku bisa menguasai ninjutsu agar bisa mendapat pengakuan kalian. Aku ingin berlatih karena aku ingin melindungi temanku dan memastikan aku berguna lebih banyak bagi tim 9. A-aku membuat semuanya menjadi rahasia, untuk memastikan bahwa itu akan membuat kalian terpukau saat mengetahui aku bisa menguasai ninjutsu.."
Kali ini dikejauhan orang tadi membentuk kepala Naga. Asuma yang shock tidak memperhatikan hal tersebut. Ia masih bingung dan tak percaya pada ucapan orang dihadapannya.
"tapi bagaimana kau bisa menjadi.. setenang sebelumnya?"
"tak bisakah kau menyadari bagi dirimu sendiri bahwa kau merasa aneh bila aku melakukan hal tersebut? Aku hanya ingin membuat kalian merasa nyaman di sampingku. Tanpa berpikir akan merasa dipandang bodoh oleh orang lain karena ada aku bersama kalian. Aku melakukannya karena aku ingin melihat kita semua nyaman dan apakah itu salah Asuma-san?!"
Swush!
Kepala Naga tadi menyambar kearah mereka. Guy yang melihat ini tentu saja bisa menghindarinya dengan lebih baik, tetapi hal itu akan berbeda pada Asuma yang tidak siap. Alhasil, karena Asuma tak menyadari hal tersebut, Guy yang aslinya naruto tetap berada ditempatnya, tidak berusaha menghindari serangan itu karena tahu akan mengenai Asuma.
BRAKH!
Mereka terseret sejauh beberapa meter, Asuma ikut terseret tapi hanya Guy yang terluka karena memasang punggungnya untuk menghindarkan Asuma dari serangan tersebut.
"u-huk.. u-huk!"
Guy terbatuk saat mereka mendarat beberapa meter dari tempat sebelumnya. Dihadapannya Asuma memandanginya dengan pandangan aneh, antara sedih dan merasa tidak nyaman.
"aku bisa melakukannya. Ini misi tim 9 bukan?"kata Guy sambil berusaha bangkit berdiri. "aku akan memastikan diri bahwa aku bisa menahannya. Pergilah Asuma-san.. kau akan menyakitiku jika tidak meninggalkanku.."
"apa maksudmu!? Aku tak akan membiarkanmu menghadapinya seorang diri! Aku akan-"Asuma ingin membantah. Tapi Guy mengangkat dagunya dan memandangnya tepat di mata, tersenyum dengan dipaksakan.
"Kau mengejekku jika tidak ingin mempercayakan ini padaku.. dan lagi.."Guy masih menatap Asuma sambil tersenyum. "pastikan kau cepat untuk melaporkan hal ini.. untuk berjaga-jaga bila aku tak kuat untuk menahannya lagi."
Asuma masih bimbang. Tapi Guy menatapnya sambil memberikan dua jempolnya sekilas.
"percayakan padaku.. jangan membuat konoha malu dengan SEMANGAT TEKAD APINYA ASUMA-SAN!"
"Guy.."Asuma tersenyum terharu.
"kau tunggulah disini.. aku akan datang secepatnya. Bertahanlah! Aku percaya kau bisa melakukannya! Kali ini.. akan kuserahkan padamu sisanya!"dengan begitu Asuma pergi meninggalkan Guy. Ia melompati dahan-dahan dengan cepat meninggalkan area itu, menyisahkan hanya dua orang yang sekarang masih bersiap dengan sikap defensif masing-masing.
"menyedihkan sekali. Apa kau benar-benar yakin bisa mengalahkanku Konoha-nin?"
Kali ini tidak seperti sebelumnya. Guy berdiri, menghilangkan senyum bodohnya sambil mengangkat kedua tangan di depan dada. Matanya menyorot kearah ninja asing dihadapannya itu.
"kau salah besar jika mengatakan aku tidak mempertimbangkan apapun."gumam-nya sambil menyeringai menyebalkan. "dan satu lagi.."
"apa kau ingin mengatakan permintaan terakhirmu Konoha-nin?"
Disana, naga besar mengaung-aung dari bentukan cakra ungu itu. Mereka berdiri dalam jarak 15 meter dengan sisa jurang di sebelah kanan mereka. Udara mengepul menghilangkan debu-debu sisa pertempuran sebelumnya sekaligus menerbangkan rambut Maito Guy ke arah belakang telinganya.
"kau tidak akan bisa pergi dengan bola cakra itu.. tak akan kubiarkan kau melarikan diri."
GROAR!
Aungan naga itu masih membayangi tebing itu. Si ninja bermasker memberikan tawa pendek. "apa maksudmu jika aku bisa melangkahi mayatmu aku boleh membawa pergi benda ini?"
Guy menggendikkan bahu. "tinggalkan benda itu dan kita tak perlu bertarung."
"kalau begitu aku memilih bertarung denganmu."gumam si orang bermasker sambil memajukan tangannya. "KUJAKU MYOUHOU!"
Naga terbang melesat kearah naruto yang berdiri di tempatnya. Menukik ke atas terlebih dahulu sebelum membuat gerakan menubruk keras.
"kai!"
Dengan begitu sebelum naga tadi sempat menabraknya seseorang bersiluet hitam meninggalkan tempatnya dan berpindah ketempat lainnya.
BOOM!
.
Bersama Asuma.
. . . . . . . . .
BOOOM!
'suara itu.. Guy..'pikir Asuma sambil mempercepat larinya. Posisi mereka memang sedikit lebih jauh untuk menuju desa, Asuma yang bergegas hanya mampu menggerutu dalam hati terlebih karena ia tidak bisa menggunakan kecepatan maksimalnya sebab area itu belum cukup dihapalnya dan ia kurang menguasai trek ini. Memang benar jalanan hutan di Hoshigakure lebih mirip kepada struktur trek Konohagakure, tetapi tidak bisa dikatakan persis karena disini terdapat jalur-jalur lain yang tak kalah membingungkan untuk mencapai desa melalui jalur hutan. Itu membuat kecepatannya sedikit terhambat karena Asuma harus memperhatikan detil jalanan itu sebelum melaluinya untuk menghindari jalur salah yang bisa menghambatnya menuju kantor Hoshikage.
'bertahanlah Guy.. aku akan segera datang.'pikir Asuma sambil memperhatikan pohon disekelilingnya. Hampir semua pohon disana adalah mirip, seperti jika satu pohon memiliki kembaran pohon lain dan kembaran pohon itu memiliki kembaran yang lainnya lagi.
"ck!"Asuma bahkan tidak sempat merokok lagi.
"bagaimana bisa kau menghapal jalanan yang sesulit ini Guy?!"ujarnya sambil memandang kearah jalanan dihadapannya dengan saksama sebelum kembali melaju dalam kecepatan di paksakan.
'tapi bertahanlah Guy.. karena aku percaya padamu..'
.
Kembali ke pertarungan.
Debu mengepul memenuhi tebing itu. Menyisahkan sosok bermasker yang sekarang tengah memandang penasaran kearah beberapa meter dihdapannya. Ia kelihatan cukup puas dengan hasil serangannya yang menimbulkan retakan di tanah. Meski begitu ia juga cukup penasaran pada musuhnya yang sekarang menghilang. Ia yakin pasti orang itu belum mati karena ia bisa merasakan hawa keberadaannya.
'dimana orang itu?'pikirnya dalam hati sambil mengamati kearah keadaan disekitarnya.
"apa kau mencariku?"tiba-tiba dari arah atas kepalanya seseorang melemparkan tiga buah kunai, menggantunginya juga dengan kertas peledak aktif.
"karena aku juga ingin kau menemukanku.. Katsu!"
DUAAR!
Naruto melompat ke belakang. Ia menjauhi area ledakan dari kertas peledaknya yang dilemparkannya barusan. Menggunakan kecepatannya yang terlatih ia mendarat pada salah satu ujung batu yang runcing dan tinggi. Matanya mengawasi kearah tempat berkepul asap dihadapannya, memastikan sesuatu mengenai lawan bertarungnya.
Dikejauhan sana, seseorang berdiri kokoh. Lagi-lagi dengan lengan cakra yang melindunginya dari serangan barusan meski ia juga harus berpindah tempat.
"seorang ANBU kah?"gumamnya bertanya.
Naruto berdiri di tempatnya sambil menggenggam tanto, ia telah bertransformasi dari wujud henge-nya menjadi sosok ANBU Ookami dengan seragam NE-nya. Rambut hitam spikey-nya berayun seiring dengan tertiupnya angin lembah kearahnya. Ia melompat turun dari puncak bebatuan itu. Memasang gestur tubuh yang tenang sambil melangkah ke depan menuju kearah lawannya.
"aku tak menyangka seorang ANBU akan dikirimkan Hokage dalam hal ini. Kelihatannya Hokage kalian benar-benar orang yang berhati-hati bahkan bisa memperkirakan segala hal yang akan terjadi disini hanya dengan satu pemberitahuan misi."
"kuanggap itu sebagai pujian bagi Konoha."ujar Naruto sambil mengangkat Tanto-nya dan mengarahkan ujungnya ke depan. "serahkan padaku bintang cakra Hoshigakure itu Hoshigakure-nin!"
"kau benar-benar sok tahu rupanya ya,"mereka berjalan berhadapan dengan gerakan memutar. Naruto bergerak kearah kiri sedangkan ninja asing itu mengambil rute kearah kanan, memastikan gerakan mereka tak bertemu dan hanya berhadap-hadapan agar masing-masing bisa saling meningkatkan kewaspadaan akan serangan.
"dan satu lagi.. demi nama kedamaian maka aku tak akan pernah menyerahkannya padamu!"balas ninja bermasker itu sengit. Ia mengacungkan kantung hitam itu ke depan wajahnya, "benda ini hanya akan menimbulkan bencana yang lebih besar jika dipertahankan. Aku mencintai desaku lebih dari apapun dan tak akan kubiarkan benda itu menghancurkannya pelan-pelan."
"waktumu tidak banyak. Ninja desa dan Hoshikage akan segera menawanmu.. hukumanmu akan menjadi lebih berat dengan bukti tersebut."
Orang dihadapannya itu berhenti bergerak, membuat Naruto juga berhenti bergerak.
"dengarlah Konoha-nin. Ini bukan masalahmu.. ini masalah internal desaku dan biarkan aku menyelesaikannya. Kukatakan padamu, sekalipun Hoshikage datang kemari dia tak akan bisa menangkapku.. tidak akan bahkan meski ia membawa ninja Hoshigakure pengawalnya. Aku tak ingin dipaksa, tapi kuharap kau mengerti.. bagiku masalah desaku akan terselesaikan oleh shinobi desaku sendiri."
"souka.."gumam Naruto pelan. "tapi pemikiran Hoshikage kelihatannya berlawanan denganmu. Itu sebabnya aku dikirim kemari.. aku akan menghentikanmu!"
"seperti jika kau mampu.."ujar Si ninja bermasker sambil meletakkan bungkusan bola tadi ke dalam saku-nya kembali. Kali ini ia membuat posisi kuda-kuda seperti sebelumnya.
"KUJAKU MYOHOU!"
BOOOOM!
Ledakan cakra ungu besar mengitari ninja bermasker itu. Menghasilkan tekanan dahsyat yang sanggup membuat tanah disekitarnya terkikis, tekanan membunuh orang itu memenuhi wilayah jurang ini. Suatu tekanan yang bahkan sanggup membuat ninja sekaliber chunnin untuk meringkuk ketakutan.
"RYUU CHAKURATO!"
GROOAR!
Lengan-lengan cakra itu muncul lagi, kemudian perlahan membentuk naga besar yang mengaum ganas kearah ninja Konoha muda bertopeng itu. Dengan siaga Naruto mengeratkan genggamannya pada tanto ditangan, mengambil ancang-ancang dengan menarik sebelah kakinya kebelakang untuk menopang berat tubuh.
WUSH!
Naruto langsung melompat menghindar, satu sabetan lengan cakra hampir mengenainya. Ia menghilang meninggalkan siluet hitam, muncul kembali di atas bebatuan lain yang jaraknya masih disekitar pertarungan.
BRUAKH!
"kau ingin menghindarinya Konoha-nin?!"
WUSH!
Naruto melompat ke atas, menghindari serangan itu kemudian mulai berlari kearah depan. Beberapa ekor lengan sudah siap menerjangnya, sesuatu yang dihindarinya dengan cara menghilang detik demi detik mendekati si ninja.
WUSH!
SYUUUUT! SYUUUT! SYUUUUT!
Naruto melemparkan masing-masing shurikken di tangannya kearah musuhnya, berharap bahwa itu cukup memberikan efek.
Trank! Trank!
"apa kau berharap bisa mengalahkanku hanya dengan tehnik itu?"
Naruto menunduk, satu sabetan lengan cakra berhasil dihindarinya lagi. Kali ini ia sudah cukup dekat dengan si ninja, tangannya memegang tanto dengan erat.
SYAAAAT!
WUSH!
Tebasannya tidak sampai mengenai tapi tubuh si ninja malah ia yang terkena sabetan. Naruto terpelanting beberapa meter dari arah lawannya kemudian bangkit kembali sambil menyiapkan strategi baru. Matanya mengenalasisi dengan cekatan sesaat setelah tubuhnya terpelanting. Ia membuat perhitungan, sampai-sampai melupakan bahwa naga cakra itu sudah bersiap untuk menerkamnya. Mata Naruto melebar begitu kepala naga itu sudah berada dekat sekali dengan tubuhnya.
"Shunsin!"
BRUAKH!
Naga tadi menubruk kearah bebatuan kosong. Kali ini naruto menghilang dekat dengan si ninja dan langsung mendaratkan pukulan kearah dagu Hoshigakure-nin itu.
DUAKH!
"pelajaran pertama jangan remehkan petarung jarak dekat!"gumam naruto sambil membalik tubuhnya di udara dan mendaratkan punggung kaki kanannya kearah kepala ninja itu. "pelajaran kedua.. dan yang paling utama."
"JANGAN REMEHKAN NINJA KONOHA!"
BRAKH!
Ninja itu terguling kearah lain beberapa meter dari tempatnya tadi berdiri. Menyisahkan naruto yang menatapinya dengan pandangan sinis, ANBU itu bergerak kearah si Hoshikage-nin, kemudian mendekat kearahnya hendak mengambil bungkusan hitam yang diletakkan di pinggang oleh si ninja.
"dan pelajaran pertama Konoha-nin.."
Naruto memandang kearah orang di bawahnya dengan pandangan bertanya.
"kau tak tahu apa-apa tentang petarung dari Hoshigakure!"
Tiba-tiba dari punggung ninja itu mengeluarkan ekor cakra yang memanjang dan membesar. Benda itu langsung menyergap kearah Anbu bertopeng serigala dihadapannya dan mengikatnya dengan erat. Naruto yang terkesiap tak bisa langsung memberontak, ia terikat sementara lengan cakra tadi secara perlahan mulai mendekapnya dengan erat hingga tulang-tulangnya terasa diremukkan.
"AKH!"
"apakah rasanya menyenangkan?"gumam si ninja sambil bangkit berdiri dan memandangi sanderanya yang kesakitan. "katakan padaku Konoha-nin.. apakah itu sakit?"
Naruto merasakan tekanan di tubuhnya semakin menguat. Ia tak bisa mengatakan apapun kecuali menggertakkan gigi, kedua bahunya bahkan serasa hampir bertemu. Matanya melotot marah, meski begitu tak ada yang bisa dilakukannya.
"sekarang apakah kau mengerti bagaimana itu rasa sakit yang sesungguhnya?"
Naruto menggeram. Ia menggigit lidahnya sendiri hingga rasanya berdarah. Ia tak bisa mengatakan apapun kecuali menatap kearah lawannya dengan pandangan menusuk. Tubuhnya begitu sakit bahkan hanya sekedar untuk bergerak saja.
"kau..."
"apakah jika seperti ini lebih nyaman?"
Tekanan yang dirasakan Naruto semakin mengetat. Bahkan ia mulai kesulitan bernapas, tubuhnya benar-benar seperti di tekuk, ia mengganggam tangannya sendiri dengan kuat sebagai pelampiasan rasa sakit.
"AKHhhhhhh!"
"apakah.. kau ingin mengadu pada ibu jika sudah seperti ini?"
"-Kau.."gumam Naruto kaku. "kau akan menyesal telah mengatakan itu padaku!"
"dan bagaimana aku akan menyesalinya? KONOHA-NIN?"tanya mengejek ninja itu. Ia sekarang telah berdiri dihadapan Naruto, bersiap untuk membuat tekanan terakhir bagi ninja Konoha itu untuk mengakhirnya. Tapi ia memikirkan banyak hal, sampai akhirnya memutuskan untuk membuka jati diri lawannya terlebih dahulu.
"membunuh tanpa mengenal itu akan jadi buruk. Terlebih bila kau tidak tahu siapa yang kau bunuh nantinya."gumamnya sambil mendekat kearah Naruto. "bisakah aku mengenali ANBU malang ini?"
Langkah demi langkah orang itu semakin mendekat kearah Naruto. Ia dengan gestur lambat kelihatan mengulurkan tangannya ke depan tepat saat mendekati Naruto. Memutuskan bahwa ingin melepaskan topeng milik Anbu itu sebagai kesan terakhir sebelum ia melenyapkannya.
"sudah berapa orang yang telah kau bunuh dengan topeng ini Konoha-nin?"gumamnya mengejek. "aku akan menjadi Shinigami-mu!"
"seperti jika kau mampu!"gumam Naruto parau. "kau tak akan jadi Shinigamiku!"
"dan saatnya."tangan si ninja langsung meraih topeng Serigala Naruto dan menariknya terbuka. Ia mendekatkan wajahnya kearah bocah Anbu itu itu dan memandangnya dengan pandangan mencemooh.
"bisakah kau mengatakan mengapa aku tidak bisa menjadi Shinigami-mu?"
"Karena satu hal.."Naruto perlahan membuka matanya yang sebelumnya tertutup. Dengan hati-hati ia menurunkan dagunya yang terangkat angkuh, kemudian membalas tepat kearah ninja tadi.
"KARENA AKULAH YANG TERCIPTA MENJADI SHINIGAMI!"gumam Naruto penuh tekanan. Ninja tadi kelihatan melebarkan matanya, saat melihat kearah sepasang bola mata crimson milik lawannya itu. Tiga tomoe yang berputar pelan dengan aura mengerikan. "k-kau.."
"Sharingan!"
.
Bersama Asuma.
"kita harus bergegas!"Gumam Asuma membimbing dua ninja yang dikirim Hoshikage sendiri untuk menemaninya kembali kearah jurang tempat pertempuran temannya. "cepat pimpin jalan!"
Mereka meninggalkan tempat tinggal Hoshikage menuju kearah tempat yang dimaksud. Asuma sendiri sudah merasa ngeri membayangkan betapa lamanya ia sampai di sana, entah bagaimana nasib Guy sekarang. Di dalam pikirannya hanya akan ada satu hal yang akan disesalinya andai ia terlambat.
Kematian Guy yang berisik itu.
'kammi-sama.. jangan biarkan ia mati. Bertahanlah sebentar lagi Guy!'mereka berlari dengan lebih cepat. Asuma berada di barisan nomor 2 dari ninja pembimbing milik Hoshikage itu. Mereka melaju dengan kecepatan chunnin high level.
'kau tahu aku selalu ingin mengandalkanmu.. memastikan bahwa kau adalah salah satu rokkie yang terkuat. Aku selalu percaya dengan semua semangat mudamu, dengan tekad api yang kau miliki.. bertahanlah untuk itu..'pikir Asuma was-was. Mereka melewati hutan-hutan dengan diburu waktu. Terlebih setelah dikejauhan terasa ada ledakan cakra besar.
"cakra ini.."gumam ninja di depannya. 'bukankah ini...'
"apa maksudmu dengan cakra ini?"tuntut Asuma langsung. "apa maksudmu kau..."
Ucapannya terpotong saat ninja botak berhittae-ate Hoshigakure itu memandangnya serius. "kita harus bergegas. Jika memang seperti yang anda katakan maka teman anda berada dalam bahaya."
Mereka melanjutkan memacu lari dalam diam. Sesekali raut wajah ninja botak di depan Asuma itu bergonta-ganti. Hal ini juga terlepas dari pengamatan Asuma yang sekarang memilih berlari di samping si ninja. Mereka memastikan bahwa pertolongan mereka akan lebih cepat mencapai jurang itu sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi. Di belakang mereka, asisten lain Hoshikage berdehem.
"lewat sini!"gumamnya memberi isyarat pada dua orang didepannya. "aku yakin jalan ini akan lebih cepat."
Mereka langsung berbelok. Semakin memasuki hutan untuk mencapai jurang itu. Asuma mengepalkan kedua tangannya di kedua sisi tubuh, matanya terus menatap kedepan dengan pandangan depresinya terlebih saat merasakan tekanan demi tekanan lain yang terarah ke areal pertarungan itu. Kali ini ia merasa sangat pesimistis, jika tekanan cakranya saja bisa selevel dengan ayahnya bagaimana seorang Guy bisa menghadapinya?
'mungkin aku memang selalu menggerutu dengan sikap kekanakanmu Guy.. mengataimu seperti orang bodoh atau terlalu semangat.. tapi bisakah kau mengerti bahwa aku menghargaimu sebagai temanku bahkan lebih jauh dari semua itu? Kumohon bertahanlah untuk tim 9.. kami akan segera datang Guy.. tolonglah sebentar lagi.'
BOOOOM!
"suara itu.."tiba-tiba ninja botak dihadapannya berdiri. Asuma yang tidak mengerti langsung mendaratkan kakinya mendekat pada ninja itu, berdiri di dekatnya sambil memberikan tatapan meminta penjelasan. Suasana langsung menjadi hening setelah ledakan terakhir, mereka juga telah berhenti berlari dan mendarat ke tanah. Ujung jurang sudah lebih dekat sekarang, tapi tak satupun dari mereka beranjak. Dua ninja Hoshikage yang saling pandang dan Asuma yang menggertakkan gigi penuh amarah.
"apa yang kalian tunggu gha?! Mengapa kita berhenti?"
". . . . . . . ."
"apa kalian tuli!?"Asuma meraih kerah baju mereka. Ia mendesis sambil menatap ninja botak yang berada di jangkauannya itu. "mengapa kita berhenti?!"
"A-asuma-san.."
Asuma memasang telinga-nya baik-baik. Matanya tetap memicing kearah ninja dihadapannya.
"cakra dari pertarungan itu telah.. Hilang."
D-deg!
'g-guy...'pikir Asuma sambil melebarkan matanya dan berlari menjauhi dari kedua ninja itu. "g-GUUUUUYYYYY!"
TBC.
