aku mohon maaf karena minggu kemarin gagal update. kurasa hanya itu, mengenai kesalahan-kesalahanku aku benar-benar minta maaf atas ketidaknyamanan para reader. dan terima kasih atas semua review yang telah diberikan. itu benar-benar berarti untukku
SEMOGA TIDAK MEMBOSANKAN
Chapter 17
Rencana Danzou
. . . . . . . . .
Semua orang terpanah melihat betapa sang Hoshikage berteriak dan tertawa nyaring ditempatnya. Padahal mereka sama sekali tidak melihat sesuatu yang masuk akal terjadi di sana kecuali seorang Uchiha yang sekarang telah melepaskan diri dari ikatannya dan seorang Hoshikage yang tertawa sambil terduduk dan membicarakan sesuatu yang berupa teriakan-teriakan dengan kata sharingan yang berkali-kali muncul.
BRUKH!
Hoshikage terduduk dengan posisi mendongak kearah sosok bertopeng dihadapannya. Hal ini membuat semua ninja bereaksi bingung.
"Ho-HOSHIKAGE SAMA?! APA YANG TERJADI?!"
Akahosi masih terus tertawa seolah tak mendengar teriakan panic dari para ninja nya. "HAHAHA! AKU AKAN MENGUASAI DUNIA DENGAN MATA SHARINGAN INI! MATA LEGENDA SEPERTI MILIK UCHIHA MADARA!"
"HOSHIKAGEEE!"teriakan para Jounin semakin menjadi melihat tangan naruto yang sekarang bebas dan menjangkau bahu sang Hoshikage. Tetapi pemimpin mereka itu tetap tertawa ditempatnya seperti orang sinting.
"HOSHIKAGE! APA YANG TERJADI?!"teriak mereka lagi. Dilain hal Asuma melirik kearah Kurenai, keduanya mengangguk sambil menggenggam kedua kepalan tangan di samping tubuh.
'ini pasti ulah Uchiha itu..'mereka mengamati apa yang terjadi. 'tapi apakah ini bantuan dari Konoha? Mengapa kami tidak diberitahu akan kedatangan Anbu?'
.
"SEKARANG!"
Naruto secara otomatis langsung meletakkan tangannya di atas batu yang berada di dada sang Hoshikage. Matanya otomatis memanas begitu menyadari kekuatan bintang itu begitu dahsyat dan mengerikan. Digenggamnya separuh bola itu dan dicobanya untuk menarik keluar si batu yang tertanam, tapi itu begitu sulit. Sementara ledakan cakra terus-menerus menyebar seiring dengan usahanya.
'sedikit lagi..'pikir naruto dalam hati. Mata sharingannya otomatis berputar dengan cepat, cakra keunguan mulai muncul dan membesar seiring waktu. Sharingannya harus mampu mengendalikan cakra itu sementara ia berusaha mengkonsentrasikan cakra untuk merebut benda itu.
"HAHAHA!"Hoshikage masih terpingkal-pingkal sementara para ninjanya masih berusaha untuk menyadarkannya dengan teriakan-terikan nyaring.
"Hoshikage-sama! Apa yang dilakukannya padamu?!"
"HAHAHAHA! AH! Haha! COUGH!"
HOshikage batuk beberapa kali, kemudian seperti sesuatu menyadarkannya kembali, ia menyadari bahwa ada sesuatu yang mengganggu dada-nya. Itu benar-benar menyakitinya sehingga mampu menyadarkannya dari dunia kesenangannya sebelumnya.
"A-Apa y-yang kau l-lakukan?!"
'sedikit lagi..'pikir Naruto menyemangati, tangannya mulai terasa melemah, cahaya kemilau mulai muncul dari dada sang Hoshikage. 'ayolah…'
Naruto hendak menarik bintang itu lebih jauh, menkonsentrasikan cakra nya ke satu titik agar berhasil menarik batu radiatif itu. Tapi sesuatu seperti menohok kesadarannya, saat tiba-tiba, Hoshikage melotot memandangnya dan berhenti tertawa. Tangan pria itu menggenggam tangannya dengan kuat, seolah-olah siap mematahkannya kapanpun. Tapi naruto tidak putus akal, ia meletakkan tangan lainnya untuk menarik bintang itu keluar dari dada sang Hoshikage. Rambutnya berkibar-kibar saat cahaya terang itu terus membesar seiring waktu diiringi teriakan murka sang Hoshikage.
"AAAAAAAAHGG! BANGSAAAAAT KAU! U-Uchiha!"
'tinggal sedikit lagi.'pikir naruto sambil menyipitkan matanya karena intensitas cahaya yang semakin besar. Ia sudah bersiap untuk mencabut bintang itu, ledakan cakra mengelilinginya dan sang Hoshikage, membuat pusaran keunguan dengan cahaya di tengah-tengahnya.
"sebentar lagi!"teriaknya menyemangati diri, ketika merasakan bintang itu sudah semakin keluar, tetapi tangannya mulai mati rasa. Seperti bila ada ribuan jarum yang menelusup kedalam telapak tangannya. Sharingannya secara otomatis semakin melebar tatkala angin akibat ledakan cakra besar itu semakin kuat menerpa tubuhnya. Membuatnya kemudian menyadari bahwa sepasang mata keunguan yang murka tengah memandangnya dengan bengis dan sudah akan meremukkan tangannya.
"MATI KAU UCHIHA!"
WOOOOOOOOM!
Pusaran cakra itu menderas, Naruto merasakan Hoshikage berusaha untuk meremukkan tangannya. Ia meringis, sementara tangan satunya berusaha untuk melawan pria itu. "AKAN KUBUNUH KAU! BERSIAPLAH UNTUK MATI!"
Benang cakra sudah terhubung ke lehernya, menekiknya hingga rasa-rasanya tak ada udara lagi yang bisa melegakan paru-parunya.
'oh tidak. Jangan sekarang..'pikir naruto sambil berusaha membuat rencana untuk membebaskan diri. Tali it uterus mengangkatnya tinggi dan tinggi, sampai ia mencapai ujung paling tinggi pusaran cakra itu dan siap untuk dijatuhkan.
"KAU AKAN MATI! HAHAHA!"
WUSH!
Semua mata diluar tornado membelalak saat dari ujung pusaran cakra setinggi 100 meter itu seseorang dilemparkan dengan deras menyusur tanah kearah mereka. Beberapa bingung sementara Asuma dan Kurenai menatapi ini dengan ngeri.
BUKH!
Sosok bertopeng itu terjerembab. Membentur tanah dengan keras sedangkan tornado yang tadi menyelimuti Hoshikage sekarang menghilang dan berevolusi menjadi naga besar yang siap untuk menyerbu kearah orang yang tadi dilemparkannya.
"SELAMAT TINGGAL UCHIHA!"
GROOOOAR!
Hoshikage menyeringai mengerikan. Membuat semua ninja yang ada merinding ngeri melihatnya, mata orang itu berselaput ungu. Tanda bahwa cakra bintang telah begitu terkonsentrasi untuk membunuh.
"dan mata sharinganmu akan menjadi milikku! Bersiaplah untuk mati Uchiha!"
Tangan orang itu terangkat, dengan itu naga tadi mengaung keangkasa dan menukik kebawah, siap menerkam kearah si bocah.
GLEDOM!
.
"apa ia sudah mati?"seorang dari salah satu ninja melindungi pandangannya dari debu yang terbawa angina kearahnya. tubrukan naga cakra tadi benar-benar membuat getaran yang hebat ditanah.
"ten-tentu saja! Mana mungkin ada orang yang selamat dengan serangan semacam itu?"
"Hoshikage benar-benar kuat."celetuk yang lainnya, mereka bersembunyi di bebatuan besar bukit yang tersebar disekitar area pertarungan. Beberapa tiarap dan menyipitkan mata untuk menelaah kebalik debu.
Asuma yang melihat ini melirik kearah Kurenai. "kau tidak apa-apa?"
Heires clan Yuhii itu menggeleng, "aku tidak apa-apa. Tapi bagaimana dengan Uchiha itu?"
Asuma menggendikkan bahu, "aku belum pernah melihat serangan sebesar itu, apa menurutmu dia selamat?"
"aku tidak yakin. Tapi.."mata rubbynya menyipit dan menyelidik kedalam debu pertarungan. "apa kau percaya seorang Uchiha akan mati semudah itu?"
Kening asuma berkerut. 'suara dentuman tadi bukan karena jutsu Hoshikage. Tapi karena..'
Matanya melebar ketika merasakan hawa lain di dalam area pertarungan yang berdebu. Sesuatu yang kuat dan beraura dingin telah muncul ditengah arena.
"a-apa itu?!"sahut mereka berbarengan.
.
Debu mengepul dimana-mana sedangkan Hoshikage telah kembali meraih kesadaran penuhnya. Matanya tak lagi berselimut cakra keunguan. Ia sudah hendak berjalan kedepan dan meraih buruannya si mata special, senyumnya begitu sumringah saat ia hendak berjalan kedepan menemui mangsanya.
'kurasa aku akan langsung menggunakan mata itu..'pikirnya. ia berjalan kearah musuhnya dengan perlahan-lahan. 'aku akan langsung memakainya!'pikirannya begitu girang ingin mendapat hal yang benar-benar diinginkannya dalam hidup. Sebuah hadiah yang begitu special dari Konoha yang memiliki banyak legenda menakutkan..
'aku akan..'ia berhenti sejenak. Debu mulai menghilang, sedangkan ia memandang tepat kearah direksi lawannya yang pasti telah tewas saat ini.
'betapa beruntungnya aku..'pikirnya bahagia. Ia melangkah lagi, tapi setelah debu sudah separuh menghilang, matanya kembali melebar, karena di tengah rekahan besar itu sesuatu berwarna kebiruan tengah berdiri gagah melindungi sosok yang dikenalnya sebagai lawan bebuyutannya tadi.
"A-Apa apaan ini!?"
Angin meniupkan debu-debu yang tersisa, menyingkirkan segala penghalang pandangan sang Hoshikage yang sekarang terkejut bukan kepalang. Di tengah sana, diantara rekahan bekas jurusnya, dua orang dengan pakaian yang sama tengah berdiri berdampingan. Yang satu adalah yang bertopeng serigala dan yang satu bertopeng gagak. Keduanya memandangnya dengan horror, tapi lebih dari itu, wajahnya langsung memutih begitu menyadari sesuatu..
Benda kebiru-biruan yang melindungi mereka, bertulang dan berbara api, dengan sosok mata yang memandangnya dengan sengit dan samurai yang siap disabetkan kapan saja.
"ap-ap… appa itu? S-sumoning?"
Orang yang diajaknya berbicara hanya menggeleng pasif. Mereka mulai berjalan mendekat kearahnya sementara mahluk biru itu juga mengikuti setiap langkahnya.
"kau tahu apa kesalahanmu?"gumam salah satu dari mereka. Otomatis Hoshikage menyurutkan langkahnya. "Kau terlalu meremehkan Uchiha. Dan kau akan membayar untuk itu."
Karasu melirik kearah Naruto, Susano'o nya mengangkat tangan, pedang besar itu terangkat tinggi-tinggi ke udara, sedangkan naruto melemparkan tiga shurikennya kearah Hoshikage. Pria itu terkejut, tapi lebih terkejut lagi karena ternyata ia terperangkap dalam kapitan kawat cakra sang Uchiha.
"Kau..-"ujarnya menggantung. Kagami hanya menyeringai dalam diam. "ya, bersipalah untuk kematianmu."
Dari atas udara pedang besar tadi menyabet kearah sang Hoshikage yang terikat, tepat vertical membelah tubuhnya dan disaat bersamaan juga benda yang dibawanya.
Ledakan besar terjadi, dan cahaya menyilaukan mulai memenuhi pandangan mata semua orang yang berada di lembah itu.
. . . . . . . . . .
"a-apa yang terjadi?"gumam Asuma sambil melihat kearah tengah medan tempat cahaya menyilaukan tadi berasal. Ia bangkit dan meninggalkan kurenai begitu saja saat menyadari bahwa cahaya itu telah menghilang. Ninja Hoshigakure yang lain juga mulai bangkit dari tempatnya, mereka langsung berangsur-angsur mendekati pusat pertarungan yang sekarang telah dipenuhi rekahan-rekahan tanah bekas pertempuran itu. Tapi tak ada apapun yang tersisa, kecuali sang Hoshikage yang terkapar, dengan dada berlubang dan berpuluh meter dari sana, sesuatu yang tadi berkilau tampak di depan mata mereka.
Asuma mendekatinya, ia benar-benar yakin itu bintang yang sama yang dilindunginya. Alhasil ia mengangkat benda itu, tapi sesuatu yang mengejutkan terjadi, benda itu tidak lagi utuh, melainkan hanya separuh dari apa yang sebelumnya ia lihat.
"hey! Apa itu bintang cakra milik kami?"gumam tiba-tiba teman-teman Sumaru yang entah sejak kapan telah ikut andil berada di sana. Asuma menyerahkan benda itu kepadanya, "bukankah ini bintang kalian?"
Sejenak mereka terpaku. "M-Mustahil.. i-ini.."
Asuma mengerutkan dahinya. "apa yang mustahil?"
Ninja Hoshigakure yang lain beradu pandang sejenak, baru memutuskan menjawab pertanyaan Asuma. "kau tahu, bintang ini sudah pernah dicoba untuk dibelah berkali-kali. Dengan jutsu apapun, dengan cakra besar pun, tapi bintang ini membatu.. seolah-olah memang tidak bisa dipotong oleh apapun juga. Dan sekarang.."ia menimang bintang itu ditangannya. "ini kelihatan tinggal separuh. Aku penasaran dimana separuhnya lagi."pikirnya merenung. Sejenak pikiran Asuma juga melayang kemana-mana, ia berusaha mencari jawaban yang pas untuk menanggapi ucapan ninja dihadapannya. Otaknya sedang berkelana, mencari hubungan demi hubungan yang terjalin dalam misinya kali ini.
'kematian Guy..'
'hilangnya Sumaru..'
'kemunculan Uchiha.. kerusuhan Hoshigakure dan kematian Hoshikage, berakhir dengan terbelahnya bintang itu. Apa hubungannya semua ini?'ia sedang berusaha menerka-nerka sampai dirinya dikejutkan oleh teriakan ninja Hoshigakure yang membawa bintang tadi.
"tapi, hey! Aku tidak merasa begitu sakit lagi berada di dekat bintang ini!"gumam ninja yang bertongkat. Asuma mengenalinya sebagai salah satu anak-anak yang diprogramkan untuk menguasai cakra bintang itu.
"ya! Dan radiasinya sudah tidak begitu kentara! Kurasa akan lebih mudah untuk mengendalikannya jika seperti ini!"teriak yang lain. Ninja-ninja yang lain pun mulai mendekat. Sedangkan anak tadi mengambil pecahan bintang itu dari tangan Asuma dan bersorak ringan.
"apapun yang terjadi Konoha-nin! Kami benar-benar berhutang padamu dan pertarungan ini! Paling tidak, bintang ini menjadi lebih mudah dikendalikan!"
Mereka melirik kearah Akahosi yang terbaring tak berdaya di tanah. Asuma meliriknya dengan tatapan bersalah, "bagaimana dengan kage kalian?"
'dan separuh bintang itu..'tambahnya dalam hati.
Salah satu Jounin berkumis melangkah maju, ia memimpin teman-temannya dengan wajah penuh semangat. "kalau boleh jujur kami lebih suka melihat Hoshigakure tanpa Akahosi, dan dengan dua orang bertopeng tadi.. kurasa kami harus berterima kasih. Karena berkat kalian kami terbebaskan."
"HORE!"
Entah bagaimana tapi hari itu berakhir dengan kebahagiaan semua ninja Hoshigakure. Mereka semua bersorak sorai, melupakan semua yang terjadi disana. Pertarungan itu semacam rahmat bagi mereka yang selama ini tertindas oleh Hoshikage yang sekarang telah mati itu.
"kalian harus meletakkan bintang ini di atas tempat pelatihan. Kurasa kita bisa mulai berlatih menguasainya dalam waktu secepatnya. Bintang ini tidak lagi terlalu berbahaya seperti sebelumnya."gumam salah satu Jounin memberi instruksi. Hal yang sama disambut dengan sorak sorai kemenangan oleh ninja yang lain.
"baiklah!"teriak mereka sambil berlalu meninggalkan tebing yang menjadi saksi bisu pertarungan besar itu. Asuma, Kurenai, dan Jounin tadi tetap tinggal ditempatnya. Disisi lain, Sumaru masih terduduk ditempatnya, sambil memangku mayat ibunya.
"Hiks! HIks! Kenapa kau meninggalkanku Kaa-chan?!"
Asuma menghela napasnya dan mulai berjalan mendekati Sumaru. Anak lelaki itu terus saja menangis di tempatnya.
"Sumaru.."panggilnya dengan nada menenangkan. "kau tidak boleh terus menangisi kepergiannya seperti ini."
"APA MAKSUDMU HA?! KAU TIDAK MENGERTI APA YANG KURASAKAN!"teriak Sumaru langsung menghadap kearah wajahnya. Asuma tersentak, tapi ia tidak beranjak dari sana. "kau tahu aku turut berduka dengan kematian ibumu."
"Kaachan.. ini semua tak akan terjadi jika aku tidak terlalu bodoh untuk menuruti semua perintah akahosi."gumam sumaru sambil terus mengelus wajah ibunya. Wanita itu tersenyum dalam tidur panjangnya. Sementara di sisinya Sumaru kelihatan depresi karena apa yang telah diperbuatnya.
"andai aku bisa memutar ulang waktu Kaachan.."
Jounin tadi berjalan mendekati Sumaru. Disebelahnya Kurenai mengikuti.
"Kematian memang menyedihkan, tapi itu merupakan bagian mutlak bagi dunia shinobi. Kau harus mulai belajar banyak Sumaru."gumam pria berkumis itu sambil berjongkok dan merentangkan tangannya.
"kemari Sumaru."
"apa.. takdirku memang seburuk ini jisan?!"ujar Sumaru sambil memeluk pria itu. Air matanya tak berhenti menetes, sedangkan dihadapannya tepat tergeletak seorang wanita yang telah lama dirindukannya, ibunya. Daerah itu benar-benar sesuai untuk kondisi mental sumaru saat ini. Berantakan. Banyak terdapat rekahan-rekahan akibat jutsu di tanah, bekas ledakan kertas peleda dan beberapa api bekas jutsu katon yang dilakukan lawan sang Hoshikage. shurikken dan Kunai juga berserakan di berbagai tempat.
Dibelakang mereka, Asuma menutup matanya sejenak. Kelihatan lelah mental dan fisik. Tubuhnya terasa siap melumer kapanpun.
"aku hanya berharap kau bisa menjadi ninja yang hebat setelah ini berakhir Sumaru-san."gumamnya kemudian. Asuma menghela napasnya dengan berat. "kalian harus menyiapkan pemakaman untuk salah satu pahlawan Hoshigakure ini. Untuk mengenangnya sebagai Kunoichi terkuat, dan.. Ibu terbaik bagimu."
Sumaru melepaskan pelukannya dari pria yang merupakan pamannya itu.
"Jisan? Bisakah kita segera bergegas untuk mengurus pemakaman Kaachan?"
Orang yang diajak berbicara mengangguk. Ia kembali menepuk kepala Sumaru dengan lembut, "kita akan menyiapkannya secepatnya."
Mereka segera berdiri. Sumaru masih memakukan pandangannya pada wanita yang sekarang terbaring nyaman di hadapannya itu. Wajahnya begitu sedih, tapi setelah ia menyadari bahwa orang yang menyebabkan kematian ibunya telah mati dengan kondisi mengenaskan di tempat yang tak jauh dari sana hatinya terasa sedikit lega.
"aku tak menyangka ternyata orang yang memegang jabatan Hoshikage bisa bertindak serendah itu. Padahal kupikir, menjadi Hoshikage adalah sesuatu yang mengharuskan dirinya untuk melindungi semua warga Hoshigakure. Ini membuatku.. sedikit menyesal mengapa aku pernah membayangkan akan duduk di posisi itu."ucap Sumaru sambil menunduk. Disebelahnya Jounin yang dipanggilnya dengan sebutan paman tadi hanya mengangguk mengerti. Ia menatap kearah Asuma dan Kurenai dengan pandangan penuh penyesalan.
"kurasa ini sudah lebih dari tanggung jawab kalian dalam misi. Kami bahkan tidak berpikir pada akhirnya Konoha lah yang akan membereskan masalah internal desa kami. Dan aib mengenai pemimpin desa kami.. kuharap Hi No Kunni tak akan menyebarkannya. Aku memohon dengan sangat pada kalian berdua, desa kami bukanlah desa besar. Kematiannya dan aib dari desa kami hanya akan mengundang desa lain untuk menginvasi tanah kami. Itu akan membuat sengsara semua penduduk."pria itu membungkukkan tubuhnya. Disebelahnya Sumaru mengikutinya.
"Arigatou Gozaimasu Asuma-san, Kurenai-san.."
Asuma mengangguk singkat. Jounin tadi tersenyum samar dan menghampiri Asuma, "jadi dimana rekan kalian yang satu lagi? Kudengar ada 3 ninja Konohagakure yang didatangkan Hoshikage."
Kurenai menghela napasnya berat. "di-dia.."ia menenangkan dirinya sejenak. Asuma yang tahu Kurenai tak akan sanggup menjelaskan memilih mengambil alih keadaan.
"kami harus kembali ke Konohagakure dan melaporkan apa yang terjadi pada Hokage kami. Sumimasen, karena tidak bisa ikut melaksanakan pemakaman."
Kedua ninja Hoshigakure itu kelihatan mengerti.
"kuharap kalian akan berkunjung di waktu yang akan datang. Hoshigakure akan selalu terbuka untuk ninja Konoha. Kami berhutang besar pada Hi No Kunni."mereka mohon diri untuk mulai mempersiapkan prosesi pemakaman. Sepeninggal mereka, Asuma hanya memandang kearah langit dengan kosong.
"kurenai.."Asuma meliriknya sambil menghela napasnya berat. "bukankah tugas kita sudah berakhir?"
'aku harap kau akan tenang di alam sana Guy..'pikir Asuma berat.
"ayo. Kita harus bergegas.."ajak Kurenai memandang kearah Asuma yang terus merenung. 'sampai nanti Guy..'
Dengan anggukan kepala keduanya lantas menyeberang kearah tali yang menghubungkan Hoshigakure dan Hi No Kunni itu.
'Maafkan aku… Guy..'
.
.
.
Konohagakure No Sato Markas NE
Dalam kegelapan ruangan, dua orang sosok muncul dalam diam. Mereka berlutut di hadapan seorang pria tua yang matanya terus terpaku dalam perenungannya. Tapi tak dipungkiri, secarik kilat tertarik muncul di bayangan kelam matanya saat melihat kearah dua orang bertopeng dihadapannya. Orang dengan topeng yang selalu dinanti-nantikan kehadirannya setiap hari sejak keberangkatan keduanya dalam misi khusus yang dipilihkannya.
"Lapor Danzou-sama.."salah satu dari mereka mulai berbicara. "misi mengambil bintang Hoshigakure telah berhasil dilaksanakan."
Mata orang itu melebar sedikit. Ia memberi isyarat pada salah satu sosok dihadapannya untuk maju, "dimana bintang itu?"
Dengan cekatan Naruto langsung meraba kantung kain disebelah kantung senjatanya. Ia menyerahkannya hati-hati kepada pria yang menjadi komando NE dihadapannya, lantas kembali berlutut. Danzou mengeluarkan bungkusan itu dan mengeluarkan isinya dengan hati-hati. Tapi bukannya benda bulat seperti yang dibayangkannya, disana, ditelapak tangannya hanya tampak separuh pecahan batu yang kelihatan mengeluarkan aura keunguan. Aura yang kuat, dengan radiasi yang cukup untuk dapat membuat tangannya bergetar sedikit saat mengangkatnya.
"aku tahu bintang ini adalah sebuah kesatuan yang utuh. Berbentuk bola, bulat dan padat."gumamnya kemudian. Ia menyimpan bintang itu kembali kedalam kantung tadi. Matanya memandang Naruto lagi, "jelaskan."
Naruto menghela napasnya pelan-pelan. "pecahan bintang yang lainnya tetap berada di kawasan Hoshigakure. Kami tidak sempat untuk membawanya dan sengaja meninggalkannya. Mengingat Ninja Konoha yang dikirim Hokage adalah putra dari Sandaime Hokage yang memungkinkan diri kami menjadi ketahuan akan lebih besar. Kami memutuskan untuk tidak mengambil resiko dan tetap bekerja di bawah layar, terlebih karena sepasang pecahan bintang akan mengakibatkan kami tidak mampu untuk menempuh perjalanan sejauh Konoha-Hoshigakure."
Danzou melirik kearah kantung bintang tadi, wajahnya kelihatan mempertimbangkan sesuatu.
"Tenzou akan menemuimu setelah ini. Jangan melupakan peran yang kau tinggalkan saat misi kali ini."kecam Danzou serius. Naruto mengangguk samar.
"ha'i."
"kalau begitu kau boleh pergi."
Naruto menghilang dalam kepulan asap. Disana tinggalah Kagami dalam balutan seragam Anbu nya.
"ada yang lainnya?"Tanya pria itu sambil bangkit dari berlututnya.
TOK!
TOK!
Tongkat danzou terdengar nyaring membentur lantai. Menambah aura suram ruangan itu, berbaur dengan suara tetesan tetesan air yang menetes di mulut gua di lantai atas.
"Jinchuriiki akan segera melahirkan Kagami. Tinggal menghitung hari dari sekarang."
Mata sharingan pria itu langsung aktif, berputar lamat-lmat menjadi pola yang lain. Sebuah shuriken warna merah dengan pupil hitam yang kelihatan waspada dan berbahaya.
"aku siap untuk mengawal persalinannya. Apakah Yondaime telah berkoordinasi dengan semua kesatuan keamanan mengenai hal ini?"
Danzou, meski sudah berkali-kali melihat mata itu tetap saja tersentak sedikit. Aura mangekyou itu, dari waktu ke waktu seolah-olah semakin bertambah suram dan suram. Seperti yang seharusnya. Nikushimi no Noroi.. dari keturunan ke keturunan.
"sidang telah dilakukan saat kau pergi."gumam Danzou mantap, mata kelabunya tak berhenti menatap kearah Kagami Uchiha. Veteran klan Uchiha itu tetap berada ditempatnya, memasang telinga baik-baik.
"kau akan ditugaskan.. keluar Konoha."
Mata Kagami melebar. Terkejut dengan berita ini.
"aku akan membantu persalinan Kushina, dengan sharingan akan lebih mudah untuk mengontrol Kyuubi seperti yang seharusnya. Apakah mereka tidak mempertimbangkan itu? Atau mereka melupakannya? Maksudku semua sejarah mengenai Mokuton yang mampu untuk mengontrol Bijuu dan Mangekyou yang mampu mengendalikannya?"suara Kagami meninggi. "atau karena Yondaime terlalu arogan untuk meminta bantuan klan Uchiha?"Sharingan itu menyipit, menambah kesan menakutkan. Pergerakannya tetap konstan berputar-putar mengobservasi keadaan.
Danzou mengangkat bahunya ringan. Wajahnya kelihatan acuh tak acuh, "kita bisa berasumsi yang sama. Namun hanya Hokage ketiga yang memutuskan untuk menunjuk Hokage penggantinya. Sang Yondaime.."suaranya kelihatan mencemooh. "kau tahu ia mempercayakan rantai cakra milik sang Jinchuriiki untuk mengendalikan bijuunya sendiri."
Tes!
Hanya suara air yang menetes yang mengisi suasana selama beberapa saat.
"aku hanya berharap kau tetap mensiagakan ROOT di dalam area Konoha. Paling tidak untuk berjaga-jaga.. dan panggil aku kalau Yondaime merasa membutuhkan kekuatanku.. dan Uchiha."gestur tubuh Kagami tetap tegap. Ia memandang Danzou lama, "bagaimana dengan bagianmu?"
Wajah Danzou kelihatan tenang seperti biasanya. Ia menimang bintang tadi, seolah-olah pikirannya tengah teralihkan.
"aku memiliki peranku sendiri."ujarnya tetap berfokus pada benda ditangannya itu. "Kalau begitu kau boleh pergi."
Kepulan asap yang lain langsung meninggalkan Danzou beserta bintang dan ruangannya yang gelap.
.
.
.
Di tengah hutan di kawasan Uchiha Compound
. . . . . . . .
Naruto tengah bersandar di sebuah pohon. Kedua tangannya di silangkan di depan dada, matanya sibuk mengamati sosok bertopeng dihadapannya. Sosok dengan bentuk mata almond yang memandangnya dengan pandangan kosong dan spekulatif. Itu adalah identitas paling mencolok dari rekannya yang satu ini.
"misimu kelihatan cukup menantang."gumam Tenzou sambil duduk di atas pohon dan menggantungkan kakinya kebawah. Untuk beberapa saat ia mengayun-ayunkan kakinya seiring dengan tiupan angin.
"hm. Bukankah tuan menyuruhmu menceritakan sesuatu padaku?"
Mokuton no Tenzou memandangnya serius. "kau masih lebih muda dariku. Apa kau tidak memiliki rasa lelah?"
Naruto hanya diam saja. Ia memandang Tenzou sambil menerawangkan pikirannya kedepan.
'aku tidak boleh lelah'batinnya sambil menarik napas dalam-dalam. "jadi kau menggantikanku selama aku melaksanakan misi?"
"benar. Aku melakukan banyak hal selama misimu berlangsung. Tentu saja aku harus memerankan diriku sebaik mungkin untuk menjadi dirimu. Tidur di tempatmu, memakai pakaianmu, dan mengawal Jinchuriiki yang akan melahirkan. Itu target utama misimu kan?"
Naruto mengangguk. "lalu bagaimana perkembangannya?"
Tenzou mendesah.
"berita utamanya adalah ia akan melahirkan dalam waktu dekat. Dan temperamennya sedikit semakin menyebalkan. Berpura-puralah dengan baik bahwa kau sudah mengetahui itu karena aku telah menjadi dirimu berhari-hari dan selalu menemaninya."
Naruto mengangguk.
"ada lagi?"
Tenzou langsung bangkit dari posisi duduknya. Ia berdiri membelakangi Naruto sambil berucap pelan, "tidak. Tapi kau harus menemuinya sebentar lagi."gumamnya sambil melompat meninggalkan Naruto yang terpaku ditempatnya. Naruto memejamkan matanya sejenak, menikmati udara disekitarnya. Saat matanya terbuka, sepasang sharingan dengan tiga tomoe muncul dan tangannya otomatis menarik tanto untuk menangkis 3 buah kunai yang diarahkan kearahnya.
TRANK!
Stab! Stab! Stab!
Benda itu menempel kearah pepohonan, Naruto secara reflek mengamati apa yang terjadi dan menyadari ada suatu kertas yang tergantung di salah satu kunai yang dilemparkan sebelumnya.
Telaga hutan Uchiha Compound
-Tobi-
Mata naruto langsung berubah menjadi netral, ia menyimpan surat itu kedalam saku nya sendiri. Kemudian memungut ketiga kunai tadi dan memasukkannya kedalam kantung kunainya sendiri. Disisi lain, udara membawakan bau-bauan lain, bau seperti mawar yang harum dan cakra besar yang mendekat kearahnya.
'itu pasti Kushina-sama.'pikir Naruto sambil mengangkat tangannya dan membuat handseal. "Kage Bunshin No Jutsu!"
Tap!
"Naruto-kun?"
Pemuda berpakaian khas clan Uchiha tadi melirik kearah orang yang memanggilnya. Matanya begitu serius memperhatikan wanita berambut merah dengan pakaian lapis warna hijau itu.
"ya Kushina-sama?"
"bukankah kau akan mengajakku berjalan-jalan sebelum hari kelahiran Menma-kun?"tanyanya aneh. Kushina menghampiri tempat Naruto berdiri. "apa yang kau lakukan disini? Aku menunggumu sejak tadi kau tahu?"ujarnya agak ketus. Sekarang ia bersedekap ringan, kakinya diketuk-ketukan ketanah dengan lagak tak sabar.
"sesuai kesepakatan.."
'sesuai kesepakatan?'tanya Naruto dalam hati.
"kau harus menuruti 3 permintaanku hari ini!"gumamnya ceria.
'kapan aku membuat kesepakatan semacam itu?'pikir bingung Naruto. "apa yang anda inginkan Kushina-sama?"
Kushina menyeringai, ia memandang Naruto dengan mata berbinar-binar.
"Naruto kun.."gumamnya dengan senyum manis. "bawa aku ke monument kepala Kage ya?"
Sebelah alis Naruto terangkat. Ia membuat spekulasi mengenai kejadian yang telah berlangsung akhir-akhir ini tanpa diketahuinya tapi terjadi atas nama dirinya.
'apa yang dilakukan tenzou selama aku tidak ada?'batinnya panik membayangkan hal-hal lain yang akan diminta istri Yondaime padanya kali ini.
"H-Hai!"
TBC.
RnR yo
