Chapter 18

Kudeta di Konoha

3 hari berikutnya.

Naruto tengah memandang kearah telaga dihadapannya. Airnya begitu tenang memantulkan cahaya bulan yang berselimutkan awan di atasnya. Keningnya berkerut ringan, sementara tangannya meraba sampul buku di dalam saku celananya. Mengingat hari-harinya belakangan ini.

'apa memang dunia seburuk ini?'pikirannya mengambang, seiring dengan mata sharingannya yang menyala sempurna di kegelapan malam. Ia melihat cerminan dirinya sendiri di dalam telaga yang menghitam, memandang lurus-lurus kearah siluet dihadapannya. Entah bagaimana tapi warna sharingan jadi lebih menyeramkan di kegelapan malam.

Situasi desa begitu tenang, entah desanya yang tenang atau karena telah terjadi sabotase. Otomatis kepala Naruto menoleh saat bunyi letupan kecil yang memunculkan sosok Pria yang memandanginya datar, disebelahnya ada sosok Anbu Tenzou, Terai, dan Torune.

"kita akan mulai bergerak sebentar lagi Ookami."gumam Nezumi si pemimpin divisi pengintaian mereka.

Naruto masih terdiam ditempatnya. Tapi ia berdiri, sambil kembali mengingat misinya kali ini.

Flashback

. . . . . . . . .

Angin berhembus pelan. Naruto berlari-lari menuju telaga Uchiha Compound. Sebuah tempat yang terletak tidak terlalu jauh dari tempatnya tadi berada. Itu tidak mengejutkannya, orang yang akan ditemuinya ini pasti sudah mengamatinya sejak tadi. Mendengar pembicaraannya dengan Tenzou dan sekarang memintanya menemuinya. Sesekali ia melirik keatas awan, berusaha mengukur waktu yang dimilikinya sejak sekarang. Ia bahkan belum beristirahat sejak kepulangannya dari misi.

Swing!

Naruto otomatis menghindari kunai yang diarahkan kearahnya. ia melompat dan bersalto di udara, kemudian mendarat tepat di dahan tempatnya sebelumnya berdiri.

"keluarlah."gumam Naruto langsung. Mata sharingannya aktif secara otomatis. "kau sudah menyerangku dua kali hari ini."

Sesuatu dari semak-semak muncul. Lengkap dengan topeng polos yang dikenakannya. Tatapan mata Naruto tidak terlepas dari bagaimana pembawaan orang itu keluar dari persembunyiannya. Itu sudah jelas bahwa sosok itu benar-benar tenang dan bukanlah amatir.

"jadi, bagaimana misi terakhirmu Naruto-kun?"

"hm, berjalan dengan lancar. Kukira kau ingin memberitahuku sesuatu.. Tobi."

Orang itu hanya diam ditempatnya selama beberapa saat. "kau tahu tentang pertemuan para Uchiha?"

Naruto melebarkan matanya. "aku tahu. Lalu?"

"kau tidak menghadirinya. Karena misi yang diberikan padamu. Jadi dengan jelas kukatakan kau ketinggalan banyak informasi."orang itu bersedekap. Naruto yang mendengar ini menelengkan kepalanya sedikit.

"bagaimana kau tahu? Aku tidak menghadirinya?"gumam bingung Naruto. Seingatnya dirinya telah digantikan oleh seorang agen NE selama misinya yang terakhir kali.

"hm,"Entah bagaimana tapi Naruto tahu orang dihadapannya tengah memandangnya dengan pandangan mencemooh. "orang yang menggantikanmu terlalu bodoh untuk menipu seorang Uchiha."

Sejenak naruto mengingat hari-hari terakhirnya sebelum keberangkatannya dalam misi tempo hari. Otaknya yang cerdas secara otomatis mengingat setiap detail yang terjadi, semua hal yang dilakukannya waktu itu. Mata hitam keduanya bertemu lagi dan ia mengangguk ringan. Bahkan sampai sekarang dua dari Uchiha yang dikenalnya tak pernah menunjukkan wajah mereka.

"kau tahu hal-hal tentang Jinchuriiki?"Tanya Tobi lagi. "ia akan melahirkan dalam waktu dekat."

"apa yang direncanakan para Uchiha?" ujar Naruto ingin tahu. Ia sudah menghitung hari menjelang persalinan istri Yondaime itu.

"sebuah misi besar. Dan aku ingin kau mengambil andil di dalamnya."

Naruto tahu dan merasakan ada nada mengintimidasi dari suara pria itu. Jadi ia memutuskan untuk mengangguk mengikuti permainan dari clan nya ini. "apa rencananya?"

"Yondaime tidak bisa memimpin desa. Ia tidak cukup cakap untuk membawa perubahan menuju arah yang lebih baik bagi Konoha. Sementara para petugas keamanan dan para ANBU memberontak. Hal ini akan menimbulkan pembelotan jika tidak segera diatasi. Sedangkan Yondaime tidak mungkin turun dari jabatannya karena kecintaan civilian padanya. Jika dibiarkan terus menerus terjadi akan terjadi pembantaian civilian oleh para ninja Konoha."

Naruto memandang kearah Tobi dengan heran. "saat pengangkatan Yondaime, tidak ada sedikitpun protes yang diajukan para ninja. Bagaimana mungkin sekarang mereka membelot?"

Tobi kelihatan menghela napasnya ringan. "masalahnya tidak sesederhana itu. Ninja yang membelot akan dieksekusi saat itu juga bila ketahuan. Dan sekarang bibit-bibit kehancuran Konoha telah muncul. Bagaimana kau bisa mengatakan Konoha akan terus ada jika sudah seperti itu?"

Naruto tidak menjawab. Tobi memutuskan itu adalah waktunya untuk melanjutkan.

"Konoha perlu revolusi. Bukan hanya akan dipimpin pemimpin penuh kelembutan tidak jelas dari masa ke masa. Para tetua memutuskan hal tersebut dan memerintahkan para Anbu untuk berkumpul dengan para pasukan keamanan, kami memutuskan dibanding dengan kehilangan nyawa seluruh penduduk Konoha dan mencatat sejarah buruk Konoha, lebih baik kami mengorbankan sedikit hal saja. Dan malam kelahiran Jincuriiki akan jadi titik awalnya."

"mengorbankan sedikit hal.. kau ingin mengorbankan Yondaime?"

Tobi mengangguk. "kau harus ikut andil dalam hal ini."

Naruto tidak begitu mengenal Yondaime. Tapi jika keadaannya memang benar-benar seperti itu, berarti kekosongan kepemimpinan di Konoha tak dapat dihindari. Itu adalah masalah kedua yang dipikirkannya setelah masalah ini.

"siapa calon pemimpin selanjutnya?"

"tentu saja. Calon tunggalnya adalah Fugaku Uchiha."

Naruto tidak menanyakan apa-apa meski Tobi kelihatannya ingin ia menanyakan sesuatu. Tapi karena Naruto hanya diam saja, maka ia memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan mereka.

"tim mu akan dipimpin oleh seorang ANBU. Kalian akan berkumpul di telaga tengah hutan kematian dekat markas NE. dan Ookami.."pria itu menjeda kalimatnya sejenak.

"aku ingin kau memakai henge dalam misi itu. Gunakanlah wujud dewasamu saat misi berlangsung."

Setelah memberi intruksi seperti itu. Tobi pun menghilang dari pandangan mata.

Flashback end.

Naruto menghadap kearah tim-nya, kemudian dengan tenang membuat seal henge untuk memanipulasi wujud fisiknya.

"Henge no Jutsu!"

Poooft!

Tak ada yang berbicara atau mengomentari wujud baru Anbu Ookami itu. Segera setelah ia bergabung dalam formasi tim nya sang pemimpin Nezumi memberi pengarahan kearah yang lain.

"Kudeta ini harusnya berjalan lancar. Kita akan menghabisi semua ANBU yang mengawal persalinan. Empat tim yang lain akan mengurus jincuriiki sedangkan bagian kita adalah Yondaime."

"Kiroii senkou tidak akan mudah untuk dikalahkan, bagaimana dengan Hiraishinnya?"Tanya Torune monoton. Nezumi yang mendengar ini hanya mengangguk dan mengabaikannya.

"biar aku yang mengurus akan hal itu. Seranglah sebisa mungkin dengan segala kemampuan kalian."

"Ha'i!"

"baiklah, ayo bergerak!"

.

Di tim lainnya.

Danzou memandang kearah pasukannya yang lain, saat ini ia tengah memakai armor perang miliknya sementara dibelakangnya ada beberapa ninja Anbu Root yang mengawal. Mereka berdiri di atas perbukitan, mengamati kearah bangunan di pinggir tebing di salah satu daerah dekat perbatasan luar desa Konoha itu. Mereka kelihatan tengah memperhitungkan sesuatu, sedangkan mata Danzou tak pernah berhenti melirik kearah masker udara yang bergantung di lehernya. Di tangannya sebuah bungkusan kecil misterius bersarang.

"awasi pergerakan tim lainnya. Jika sudah terdapat sinyal yang memungkinkan. Kita harus bergegas, moment terbaik adalah saat sang Jinchuriiki tengah berusaha mengeluarkan bayinya. Saat itu para ANBU akan berjaga dengan lebih ketat sementara Yondaime akan disibukkan untuk menghibur istrinya. Saat itu terjadi keadaan akan menjadi lenggang dan Yondaime akan lebih mudah ditaklukan."

Anbu NE dibelakangnya mengangguk diikuti dengan para Uchiha lainnya. Hal ini dengan jelas tampak dari sinar-sinar kemerahan dari berpasang-pasang mata yang hadir di puncak bukit itu. Mereka seolah-olah menjadi hantu di tengah kelamnya hutan buatan sang Shodaime Hokage. Sejenak, Danzou bersedekap, kepalanya seolah berkerut penuh pertimbangan.

"Tuan,"tiba-tiba salah satu Anbu NE mendekatinya. "Orochimaru sannin telah datang."

Danzou melirik kebelakang, disana, dibelakang barisannya seorang pendatang baru telah muncul. Berkulit pucat dengan hodie penutup kepala. Mata emas itu bergerak-gerak liar memandangnya dengan pandangan yang lebih dikatakan sebagai pandangan penuh kesenangan.

"khu-khukhu.. selamat malam Danzou-sama."sapa Orochimaru sambil membuka Hodie-nya. Saat ini ia berjalan mendekati Danzou yang berada paling depan dari pasukan itu. Senyum liciknya mengembang tanpa beban.

"Orochimaru sannin."sapa Danzou kaku. "apa kau sudah mengurus bagianmu?"

Orochimaru mendesah puas. "apa aku pernah mengecewakanmu? Tentu saja aku telah melakukannya sesuai rencana."

Takaji Uchiha berdehem. "kami tidak ingin kau membuat kesalahan. Apa kau telah mengeceknya kembali?"

Orochimaru melirik kearah orang-orang dengan sepasang mata menyala disekitarnya. Seringaian muncul dibibirnya saat menyadari paling tidak, ada 8 orang Uchiha yang mengaktifkan Sharingan mereka disana. "aku tak menyangka kalian akan membawa banyak pasukan keamanan disini. Sungguh sebuah rencana yang luar biasa."

Uchiha itu mendengus. "kami tak pernah bermain-main dengan bagian kami. Sekarang katakan bagaimana dengan bagianmu."

'dingin seperti biasa.'pikir Orochimaru dalam hati. Ia mengangkat sebelah tangannya, menampakkan tato kanji-kanji fuinjutsu yang terdapat disana. "aku bisa mensummonnya kapanpun. Lagi pula kita belum mengeluarkan kartu as yang kujanjikan."

Danzou memandang Orochimaru serius. "kita harus melaksanakannya dengan cepat. Sebelum mereka berhasil menyampaikan berita ini pada desa dan meminta bantuan. Aku ingin semua Uchiha menyabotase segala alat komunikasi ANBU yang ada. dan bagianmu adalah memastikan kekkai selama kita melaksanakan misi ini."tunjuknya pada Orochimaru.

Uchiha tekka melirik kearah 3 orang Uchiha lainnya, memberi isyarat dan melirik kearah Danzou kembali. "kalau begitu kami akan berpatroli."

"pergilah. Dan kembalilah secepat mungkin, berikan laporan padaku setelahnya."ucap Danzou dengan mata tak lepas dari bangunan kuil yang cukup jauh dari hadapannya. Ia membuat perkiraan selama beberapa saat, disebelahnya Orochimaru juga memikirkan sesuatu, tapi tidak lebih dari sekedar gagasan dan gagasan saja. Dalam kesepakatan kali ini ia akan diuntungkan dengan lisensi uji coba oleh konoha atas anak-anak semua clan. Jadi ini cukup menguntungkan baginya untuk terus meneliti semua jutsu dan mencapai tujuannya sendiri.

"bagaimana dengan Hokage ketiga?"Tanya Orochimaru akhirnya. "apa kau sudah mempertimbangkannya? Kau tahu senseiku tak sebodoh itu untuk dikalahkan."

Ucapan Orochimaru itu membuat Danzou melirik kearahnya dengan pandangan tajam, sambil mengeluarkan hawa tidak menyenangkan ia menyemprot Orochimaru dengan semua kekesalannya. "apa kau sendiri sudah dapat memastikan kebenaran kartu as yang kau janjikan? Jika itu gagal, untuk apa kau mempertanyakan hal ini?"

"souka.. kau belum mengambil langkah apapun untuk mengalahkan Sarutobi sensei jika sesuatu terjadi."simpul Orochimaru akhirnya. Ekspresinya kelihatan tak terbaca mengingat cahaya yang temaram, "lalu bagaimana dengan penanganan apabila rencana ini tidak berhasil?"

"aku tidak memintamu untuk mempertimbangkan ketidakberhasilan kita. Biarkan Hiruzen cuci tangan dan jangan biarkan ia ikut campur. Bukankah sudah menjadi tugasmu memastikan semua alat komunikasi terputus dan mengawasi kekkai yang membuat daerah ini terisolasi?"ujarnya tidak senang. "kelihatannya kecerdasanmu telah meluntur Orochimaru."ejeknya sengit.

"baiklah jangan tersinggung. Aku hanya ingin memastikan beberapa hal."gumam Orochimaru santai. Kedatangan ke tiga Uchiha yang dipimpin Uchiha Tekka membuat atensi semua orang otomatis terarah kesana, Danzou yang pertama kali menuntut penjelasan dari para Uchiha itu.

"jadi?"

"semua sektor telah aman. Dalam kondisi siap seperti apa yang kita rencanakan."

Mereka kembali menatap kearah langit malam, mata Danzou melebar dengan munculnya sebuah bunga api yang berada di atas langit tepat di atas kepala mereka.

"bersiaplah. Kudeta akan dimulai."gumamnya sambil memimpin pasukannya bergerak.

.

Bersama Fugaku Uchiha.

Pasukan ini bergerak serentak dengan pasukan lainnya. Mereka langsung memulai penyerangan tepat saat bunga api dilepaskan oleh salah-satu Anbu NE yang menyamar menjadi ANBU pengawal Hokage. Praktis, tanpa membuang waktu ia memimpin pasukannya untuk melumpuhkan semua ANBU yang berada di dalam jangkauannya. Mereka mulai memasuki lembah dan menyingkirkan ANBU-ANBU di penjagaan terluar dari kuil tengah hutan yang lebih familiar disebut sebagai goa pelatihan Yondaime Hokage itu.

"Maju!"gumamnya memberi instruksi kepada pasukannya. Semua Uchiha dengan antusias luar biasa langsung menyerbu dengan pergerakan hati-hati mereka. Tugas utama mereka adalah mengamankan keadaan sampai tim eksekutor datang dan memecah perhatian Yondaime agar lebih mudah untuk dikalahkan.

Ctrash!

Fugaku menusukkan Katana-nya kearah dada salah satu ANBU yang berjaga. Disisi lain para Uchiha yang lain juga melakukan hal yang sama, mereka bergerak diam-diam, kemudian mengunci pergerakan lawan mereka dari belakang dan menyabetkan senjata mereka ke leher para pasukan yang ada. Mengingat kelebihan kekkai genkai mereka yang luar biasa, dapat dipastikan hal tersebut cukup mudah untuk dilakukan.

"Maju!"gumamnya lagi dan kali ini mereka berhadapan dengan ninja ANBU bertubuh besar dan dua ANBU lainnya. Masing-masing dari mereka memegang senjata dan mengacungkannya kearah pasukan yang dipimpin oleh Fugaku.

"kenapa?!"Tanya mereka kesal. "ada apa dengan penyerangan ini?!"

"Argh!"

Suara itu telah menghiasi malam dan bersahut-sahutan. Grup ANBU dihadapan pasukan Uchiha itu melihat kearah Fugaku dengan pandangan geram. "kita ini adalah Ninja Konoha! Ada apa dengan kalian para Uchiha?!"

"ada apa dengan keadilan di Konoha?"Tanya Fugaku mencemooh. "hari ini dan seterusnya Konoha akan berevolusi!"

"tak akan kami biarkan kalian masuk!"gumam mereka tak kalah sengit.

"kalau begitu kami sendiri yang akan menyingkirkan kalian."Fugaku mengangkat katana-nya, kemudian dengan pandangan tajam sharingan yang menusuk ia melangkah melesat kearah lawannya. "majulah!"

Trank!

Mereka beradu katana, Fugaku dengan lihai memainkan katana-nya untuk menebas tubuh bagian bawah Anbu itu yang ditangkis dengan cepat oleh si Anbu dan balas menyerang secara vertical kearah kepala sang ketua clan Uchiha. Fugaku tidak tinggal diam, ia menggeser tubuhnya dan melayang dengan cepat memberikan tendangan kearah dagu si Anbu yang tidak berhasil di blok oleh pria itu.

DUAKH!

Anbu tadi melayang sedikit ke udara dan terlempar ke udara. Tubuhnya otomatis mengejang saat benda dingin menyentuh lehernya dari arah belakang.

"K-kau.."

CTrash!

Fugaku langsung menyayat lehernya tanpa menunggu ia menyelesaikan sumpah serapahnya. Setelah itu ia menendang mayat tadi ke samping serta terjun ke tempat lain untuk membanu pasukannya. Kurang lebih ada 12 ANBU yang mengawal kuil bagian depan itu. Saat ini disana sudah banyak nyawa yang bergelimpangan baik itu para Uchiha dan dari ANBU sendiri; namun lebih diuntungkan karena pasukan Uchiha memiliki sharingan sehingga ia dengan mudah dapat mengurangi jumlah korban di pihaknya dan membantai lawan-lawannya.

Trank!

"Bear! Cepat laporkan situasi ini pada Markas Besar untuk meminta-"

Sebuah kunai melayang kearah ANBU itu. Sedetik berikutnya sosok lain dari arah samping muncul dan langsung menyayat pembuluh darah di leher si ANBU. Mata merah darah sharingan kelihatan berputar dengan dramatis seiring dengan mulai berjatuhannya lawan-lawannya.

"Yashiro, berikan tanda di udara!"

"Ha'i Taichou!"

Pria Uchiha berambut kelabu itu mendekat kearah bibir jurang sembari mengeluarkan benda silinder yang di ujungnya terdapat lubang. Ia mengarahkannya kearah udara dan setelahnya tampak benda bulat berpijar yang keluar dari mulut benda itu. Seketika terdengar letupan kecil di udara dan bunga api itu meledak dengan daya jangkau cukup besar.

"rencana dimulai!"gumam Fugaku sambil mengamati pemandangan jurang disekitarnya. Paling tidak ia menyadari ada pergerakan-pergerakan yang berasal dari sana dan menyadari bahwa revolusi yang dimulai mereka akan segera di mulai. Ia merangsek ke dalam bersama beberapa Uchiha yang lain, kemudian mendengar bahwa sesuatu terdengar seperti teriakan wanita yang amat keras.

"Aaaaaaah! Sakit Sekali Ttebane!"

Mata mereka seperti tidak dapat melihat apapun yang berada di depan mata, hanya sebuah dinding kosong tanpa celah. Namun karena pengalaman dan pengetahuannya akan penggunaan Fuinjutsu yang biasa digunakan oleh teman akademi nya Minato Namikaze sang Yondaime, alhasil ia pun menghitung waktu mundur sambil mengerling kearah Uchiha lainnya, kemudian dengan isyarat mata mengisyaratkan mereka untuk langsung melangkah maju dengan menyebar.

'ini pasti fuinjutsu barrier yang direncanakan Minato selama ini.. aku yakin seiring dengan waktu dindingnya akan terlihat. Ia pasti akan sibuk untuk mengatur segel milik sang Jincuriiki.'pikirnya tenang. Saat ini para Uchiha menempelkan Fuinjutsu kertas peledak di sekeliling dinding, sementara dari pintu masuk serombongan pasukan Anbu bertudung muncul berikut dengan pasukan Anbu bertopeng polos yang bergerak dengan lincah dan berhawa dingin. Mereka berkumpul tempat disebelahnya, sebelum salah satu dari mereka yang bertudung putih mendekatinya dan membisikkan rencana mereka.

"dalam hitungan ke 8, jinchuriiki akan mencapai puncak waktu persalinan, saat itu Yondaime akan disibukkan dengan segel di tubuhnya. Pada saat yang sama kami akan mencabut ke empat fuinjutsu yang menutupi pintunya. Anda harus siap untuk menyerangnya disaat yang sama."

Suasana begitu tegang, tapi Fugaku berhasil mengontrol emosinya sendiri. Kapten Anbu tadi dengan cermat berhitung mundur seiring dengan semakin kerasnya teriakan Uzumaki Kushina menjelang kelahiran anak pertamanya. Ke empat Anbu NE telah menyebar mengambil posisi masing-masing di sudut ruangan. Siap diberikan perintah untuk mencabutnya secara bersamaan.

"sedikit lagi!"gumam Biwako memberi semangat kepada Kushina. Tetapi hanya terdengar suara teriakan tertahannya saja. Pasukan yang sudah siap siaga untuk menyerang itu saling berpandangan, kemudian mengangguk secara singkat.

"3…. 2…. 1"

"Kai!"

Letupan debu tampak menghiasi ruangan dalam sekejab. Fugaku menyipitkan matanya untuk memperjelas pandangan. Tepat setelah ke empat segel tercabut, ia melihat sebuah pintu yang terdapat di ujung sebelah kanan ruangan, kemudian dengan cepat melesat kesana masih sambil menekan cakranya.

'setelah ini tidak ada jalan kembali lagi. Maafkan aku Minato.. tapi ini diperlukan demi para Uchiha dan masa depan Konoha.'pikirnya sambil menatap kedepan pintu dan membukanya dengan perlahan. Kakinya melangkah dengan cekatan ke dalam ruangan tersebut, dengan katana yang tersimpan di punggung. Disana, di dalam ruangan berpenerangan 1 buah lampu besar dan 1 buah ranjang dengan salah satu suster Konoha serta istri Hokage ketiga, seorang pria bermata biru dengan rambut pirangnya menatap kearahnya dengan pandangan bertanya. Sementara istrinya tengah tergeletak dan istri Hokage ketiga yang memegang seorang bayi dalam gendongan.

"A-ada apa Fugaku?"Tanya ingin tahu Minato. Sementara kedua wanita yang membantu persalinan kelihatan bingung, prosesi berjalan lambat seiring dengan melangkahnya Fugaku ke dalam ruangan dan beberapa Anbu yang langsung menyerbu kearah Minato. Perkelahian terjadi dengan sengit sedangkan Kiroii senkou itu kelihatan terkejut dan merasa bingung.

"ada apa ini sebenarnya?!"

Ia memukul tengkuk belakang Anbu itu sambil menghindari serangan Anbu yang lainnya. Menggunakan Hiraishin shunshin ia dapat melesat dengan gerakan secepat kilat yang meninggalkan siluet kuning. Di saat yang smaa Fugaku Uchiha memandanginya tanpa mampu bergerak dari tempatnya, selama beberapa saat ia hanya dapat mematung dengan mata sharingan yang mengobservasi cara bertarung Minato.

Trank!

Minato kelihatan menangkis salah satu tanto yang berusaha menyerang lehernya. Ia memutarkan tubuh keatas, menendang keraah udara sembari memegang pundak Anbu tadi dan membantingnya kearah seberang ruangan. Setelah itu menghilang lagi untuk menyerang Anbu yang berusaha menikamnya.

"Fugaku! Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?!"teriak Minato sambil melindungi dirinya dari serangan-serangan yang dilancarkan paling tidak oleh 6 orang Anbu NE itu. Pakaian jounin warna biru muda milik sang Yondaime sudah dipenuhi bercak darah dari musuhnya. Sedangkan kushina yang masih lemah hanya dapat bertahan ditempatnya. Suster Konoha kelihatan ketakutan dan Biwako Senju kelihatan kesal bukan kepalang menatap kearah Fugaku Uchiha.

"kau! Apa kau menghianati desa!?"teriaknya murka. "Kita harus segera memberitahu konoha bahwa terdapat penghianatan disini!"gumam orang tua itu yang dijawab dengan death glare oleh sang kepala clan Uchiha.

"kau tidak akan bisa."gumamnya mengingatkan. "lebih baik diam ditempatmu dan jangan berbuat bodoh."

Tapi sudah menjadi tabiat seorang Senju untuk tidak takluk pada perintah seorang Uchiha. Wanita itu balas memandang kearah Fugaku dengan amarah berapi-api. "kau benar-benar tidak tahu diuntung Uchiha! Akan kupastikan clanmu menyesal setelah ini berlangsung!"

Fugaku hanya diam saja, ia menatap dingin wanita itu. "semua alat komunikasi telah terputus dengan desa."

"seperti jika aku benar-benar bodoh."ejek Biwako. Ia menggigit jarinya sendiri, kemudian bersiap melakukan summoning untuk menyampaikan pesan pada Hokage ketiga di Konoha. Tapi hal itu urung dilakukannya karena saat itu juga Fugaku menarik katana-nya dan menusukkannya kearah jantung wanita itu. Membuat mata Kushina Uzumaki melebar dan suster yang membantu persalinannya juga ketakutan. Hawa membunuh tersebar dimana-mana, bahkan membuat keadaan menjadi lebih buruk.

"ada apa denganmu Fugaku?"Minato berkata sambil menendang Anbu yang menyerangnya. "ada apa dengan semua ini!?"

Fugaku hanya diam saja, ia memanfaatkan keadaan Minato yang sedang kerepotan melawan Anbu dan berjalan mendekati Kushina. Mata sharingannya langsung berhubungan dengan mata wanita itu, membuat Kushina menatapnya dan mulai menunjukkan reaksi kejang-kejang. Segel itu terbuka, dan Fugaku mengulurkan cakra kearah tubuhnya sambil membuat gerakan melawan arah jarum jam. Cakra keorenan mulai muncul memenuhi ruangan dan berusaha menembus loteng ruangan. Pria itu dengan sigap langsung meraih bayi sang Yondaime sambil meleparkan kunai berkertas peledak kearah Minato.

"kau tahu kemana harus melacakku. Dan aku juga meninggalkan sesuatu untukmu."

Kunai itu melayang kearah Minato dengan kertas peledak aktif. Pria berjuluk Kiroii senkou itu melebarkan matanya, kemudian dengan tergesa-gesa menshunshin dirinya ke sudut ruangan lain untuk menghindari ledakan skala kecil di ruangan itu. Tapi dirinya menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh, sebuah suara mendesis kelihatan mengelilingi tempat itu, dan Anbu-Anbu yang selamat langsung melarikan diri dalam hitungan detik saat ia menyadari bahwa ada afinitas cakra kecil yang mengelilingi tempat itu. Cakra dalam ukuran minim yang menyalakan sebuah fuinjutsu dan menjadi pemicu ledakan yang hanya berjarak dalam waktu beberapa detik.

Matanya langsung tertuju kearah Kushina, melihat bahwa wanita itu mulai kesakitan dengan banyaknya cakra Kyuubi no Kitsune yang keluar dari tubuhnya. Saat itu di kepala Yondaime terdapat beberap opsi untuk dilakukan, menuntutnya untuk memilih antara semua pilihan itu atau kehilangan semuanya secara sekaligus.

'pilihan pertama Menma, pilihan kedua menyelamatkan Kushina dan membawanya lari yang rasanya tidak mungkin, atau pilihan terakhir dimana aku akan mati dalam ledakan ini untuk menemani Kushina dan merelakan Menma untuk pasukan ini.. aku benar-benar tidak bisa memilih diantara ketiganya.'

Waktu terus bergerak, tapi disaat detik-detik terakhir, sampai suara kepulan asap kecil menyadarkannya. Seorang Anbu datang, dengan cakra familiar yang dikenalnya melangkah masuk kedalam. Entah bagaimana Minato begitu senang mengetahui siapa Anbu yang datang ini. Ia langsung bergerak ke samping Kushina dan mulai memutar ulang segelnya dengan susah payah, sementara Anbu tadi mendekatinya. Minato tanpa perlu repot-repot untuk melihat kearahnya langsung tahu siapa Anbu itu dari afinitas cakranya.

"kau datang disaat yang tepat. Sekarang bantu aku membatalkan Genjutsunya dan bawa Kushina pergi dari ruangan ini."

Sesuai harapan, tepat 1 detik sebelum ledakan terjadi, keduanya sudah bershunshin keluar dari ruangan dengan dua tujuan yang berbeda. Minato ketempat dimana Menma disandera dan Kushina dengan Anbu yang membawanya entah kemana.

TBC.

Review ok?