maaf untuk jadwal update yang tidak menentu dan terkesan lama. sebenarnya aku tidak bermaksud untuk membuat para readers jengkel atau semacamnya, namun aku yang statusnya masih sebagai pelajar juga memiliki prioritas. mengingat akhir-akhir ini jumlah tugas membludak dan ditambah dengan persiapan untuk ujian aku jadi lebih mengurangi kegiatan menulisku. tapi mengingat sebentar lagi waktu libur akan tiba, aku akan berusaha sebaik-baiknya untuk mengganti jadwal updateku yang ngaret. dan untuk para reader yang menunggui fic ini, yang membaca bahkan yang mereview, aku ucapkan terima kasih. aku sangat menghargai itu.

SEMOGA TIDAK MEMBOSANKAN

Chapter 19

Pertarungan dua sahabat

. . . . . . . . .

Bersama Naruto

"S-siapa k-kau? ANBU-san, bagaimana dengan Minato?"mata Kushina terbuka sedikit. Saat ini angin memainkan rambut merah wanita itu dengan lembut.

Naruto menyelamatkan Kushina dengan cara bershunshin ke luar ruangan dari kuil di atas tebingan itu. Sedangkan Minato namikaze telah menghilang dalam kilat kuningnya ke suatu tempat yang telah mereka janjikan sebelumnya.

"kita telah berada di luar. Yondaime telah pergi ke suatu tempat."

Kushina menggeliat sedikit dalam pelukan pria itu. Ia benar-benar merasa tidak nyaman karena berada dalam gendongan orang yang tak dikenalnya. Sesaat ia menyadari bahwa Menma tidak berada bersamanya, otomatis refleksnya ingin segera mencari putranya itu.

"ANBU-san, dimana.. dimana.. bayiku?"ia berusaha menggeliat untuk turun. Tapi Naruto menahannya dengan kedua tangan yang semakin erat memeluknya.

"kelihatannya putra anda bersama Yondaime-sama.. Kushina-sama."

Di tebing itu hanya terdapat mereka berdua, sementara di seberang sana, terlihat di pinggiran tebing sebuah kuil yang dipenuhi asap dan bara api. Kuil itu telah meledak dan telah terjadi kebakaran hebat disana; yang pasti tak akan menyisakan apapun setelahnya. Kushina menangkap pemandangan yang ditatap ANBU dihadapannya. Wajahnya otomatis berurai air mata.

'tempat itu.. tempat aku melahirkan Menma-kun.'pikirnya dalam hati. Terlihat Kushina yang memandang balik kearah di ANBU, "Turunkan aku ANBU-san! Aku ingin pergi menemui Minato!"ujarnya keras kepala. "Minato pasti sedang berada di suatu tempat sekarang. Ia memerlukanku untuk mengurusi Menma-kun. Antarkan aku kesana ANBU-san!"

Naruto mengamati gestur wajah Kushina sesaat, kemudian menghembuskan napasnya pelan. Wanita itu kelihatan benar-benar segar bugar, tidak seperti seseorang yang merasa lelah sehabis melahirkan. Dalam hati ia mengutuk mengapa semua Uzumaki memiliki stamina yang sangat kuat bahkan setelah mengalami kondisi tersulit sekalipun.

'kurasa ini karena darah Uzumakinya.'pikir Naruto jelas. "kita tidak bisa pergi sementara kondisi anda kurang baik Kushina-sama."

"Aku baik-baik saja! Tenang saja ANBU-san! Hanya.. antarkan aku menemui mereka, mereka pasti sangat membutuhkanku sekarang. Seharusnya ini menjadi hari membahagiakan bagi kami."Kushina menjadi lebih histeris, ia ingin melompat dari pelukan si ANBU namun dicegah Naruto dengan pelukan lebih erat. Ia tidak boleh melepaskan Kushina sekarang.

"aku tidak bisa."Gumam Naruto tegas.

"kenapa?! Kenapa ANBU-san!? Aku hanya ingin menemui keluargaku.. aku benar-benar harus menemui mereka.."

Naruto mengeratkan pelukannya. "Yondaime memintaku menjaga anda."

DUAAAAAAAR!

Keduanya hanya mampu memandangi kehancuran kuil yang lebih dikenal sebagai goa pelatihan Yondaime itu. Memandangi kehancuran bangunan itu sambil tenggelam dalam pikiran masing-masing.

. . . . . . . . . . .

Bersama Minato

Minato yang menggunakan Hiraishin berhasil melacak keberadaan Fugaku Uchiha yang membawa putranya. Di hadapannya sekarang tengah membentang sebuah pemandangan dimana bebatuan berjumlah banyak sekali mengelilingi tempat itu, batu-batu yang menjulang tinggi dengan gagah dan seharusnya indah untuk dipandang mata. Tapi tidak menjadi indah karena di salah satu ujung paling lancip bebatuan yang ada disana, terlihat seorang Uchiha tengah menggendong bocah berambut pirang yang sedang terlelap; orang itu terlihat tenang sekali padahal akan melemparkan bocah tersebut kearah bebatuan yang lancip kapanpun.

'Kushina..'lagi-lagi Minato membayangkan wajah dari istrinya itu. Di hari yang seharusnya menjadi hari yang indah dan bersejarah bagi keluarga mereka malah terjadi keributan seperti ini. Mata birunya menatap kearah depan, tepat kearah pria yang sekarang tengah memandangnya dengan pandangan serius.

"kau terlambat dari biasanya."gumam Fugaku tenang. "apa ada masalah dengan Hiraishin-mu?"ujarnya dengan nada sedikit mengejek.

"apa yang kau inginkan?"gumam Minato berusaha menjaga nada bicaranya tetap terdengar lebih tenang. "apa rencanamu dengan semua ini?"

Fugaku melirik kearah bayi dalam gendongannya. Kemudian menyentuh pipinya pelan.

"bayi ini begitu ringkih.. lembut dan rawan dihancurkan.. Minato."Fugaku mengangkat kepalanya lagi. "bahkan tanpa perlu bersusah-susah untuk menghancurkannya. Bayi ini akan hancur dengan sendirinya dengan jarak tak seberapa dari atas sini menuju bebatuan di bawah sana."

"aku tak akan membiarkanmu melakukannya!"Minato mengambil kuda-kuda. Ia menyiapkan kunai hiraishinnya di depan wajah, kemudian mulai mencondongkan tubuh ke depan siap menyerang.

"pergerakanmu hanya akan membuatnya terjatuh ke bawah sana Minato. Jadi sebaiknya jangan terburu-buru."

"Fugaku."gumam Minato penuh penekanan. Matanya tidak terlepas dari bayi itu, sedangkan pria tadi tetap di tempatnya sambil tersenyum kecil.

"mari berduel. Minato, buktikan siapa yang terhebat diantara kita berdua."ajak Fugaku sambil memandang pria berjubah Hokage ke empat itu serius. "lakukan itu sampai salah satu dari kita berdua mati.."

Ucapan itu menggantung membuat alis Minato terangkat sedikit. Jubbah hokage nya melambai di belakang tubuh, sedangkan suara angin bersiur-siur. Ia tidak tahu apa yang terjadi di luar sana, tapi dari penciumannya terhadap udara, dari bau yang dibawa oleh angin, ia paham bahwa goa tempat persalinan istrinya telah hancur. Yang diharapkannya adalah keselamatan wanita itu, bersama ANBU yang paling tidak ingin dipercayainya. ANBU yang paling disukai istrinya..

'itu bukan masalah selama Kushina selamat.. setidaknya dengan hal itu keluarga ini akan selamat.. Menma masih membutuhkan ibu untuk menjaganya.'

"mengapa harus? Maksudku.. kita sudah berteman lama Fugaku. Mengapa kau melakukan hal ini? Memberontak terhadap desa yang selama ini kita perjuangkan bersama?"

Fugaku tertawa sinis. "maksudmu pastilah memberontak melawanmu. Aku tak pernah melawan Konoha, hanya dirimu.. Kiroii senkou. Bukan Konohagakure."

Minato terdiam sebentar. Ia memikirkan jawaban yang tepat. "apa yang kau inginkan dengan melawanku? Menghancurkan desa setelah hokage mereka mati? Betapa memalukan bahwa seorang elite Uchiha melakukan Kudeta terhadap desanya sendiri!"

Keduanya saling beradu pandang. Kemudian dengan mata yang dalam sekejab berubah menjadi sharingan, fugaku melirik kearah Minato sambil menghadap kearah Menma. "dengan membunuhmu aku akan mendapat pengakuan. Aku bisa mengalahkan dominasi senju dalam tahta Hokage, aku bisa membuat revolusi yang tak bisa dilakukan dengan kepemimpinan lembekmu. Sesuatu yang hanya menjadi cacat berkepanjangan dari pemimpin sebelumnya."

"menjadi Hokage bukanlah impianku."tegas Minato sambil menghela napasnya berat. Tapi Fugaku mengabaikannya, kemudian dengan santai mengangkat katana dibelakang punggungnya. Gerakannya begitu perlahan sementara Minato hanya mampu berdiam diri di tempatnya dengan pandangan tak terdefinisikan.

"aku akan membunuhnya.. dan kau tetap menjadi Hokage. Atau kau membunuh dirimu sendiri, dan anak ini akan hidup. Aku ingin kau memilihnya,"

Bilah katana itu berdesing lembut sesaat menebas udara. Suaranya menyiu, seolah-olah merepresentasikan jiwa pemiliknya. Katana itu telah membunuh semua ANBU pengawal persalinan, dan melindungi pemiliknya dengan baik. Kuat, dingin, dan tanpa ampun, Minato yakin Fugaku tak akan segan membunuh bocah dalam pelukannya itu meski hanya untuk sebuah jabatan.

'kushina..'

Membunuh bayi itu sama saja membunuh hati istrinya. Tapi menyerahkan jabatan Hokage pada Fugaku sama saja menyerahkan semua Konoha pada elite clan itu. Semuanya berikut rakyat dan sumber dayanya pada orang dihadapannya. Orang yang bisa saja membunuh semua ninja yang membantahnya. Orang yang akan menghilangkan semua hambatan demi jabatan dan desa.

JLEGAR!

Tes! Tes!

Minato mengangkat telapak tangannya, ia memandang Fugaku dengan pandangan buram, kemudian menutup matanya sambil memandang kearah langit yang kelabu. Titik-titik air mulai berjatuhan dari langit, menghujani dua orang ninja yang sangat dihormati di Konoha itu.

"apa kau benar-benar tidak bisa menunda pertarungan ini? Kau hanya akan membuat perpecahan pada desa. Bukankah kau sendiri yang menginginkan adanya keadilan? Aku tengah berusaha untuk memberikannya padamu dan para Uchiha. Melakukan yang terbaik, aku tak pernah sekalipun berpikir untuk mendahulukan Senju dibanding Uchiha. Bukankah kalian adalah Konoha dan ini bukanlah semata tentang clan?"

"Minato, kau tak akan pernah mengerti apa itu keadilan yang sebenarnya. Tidak sebelum kau merasakan ketidakadilan itu sendiri."baju mereka mulai menjadi basah, tapi tak satupun bergerak dari tempatnya bahkan hanya untuk berteduh.

Jlegar!

Petir menggelegar di atas kepala mereka kembali. Mulai memperderas hujan yang membasahi keduanya. Dengan itu Minato memandang Fugaku sekali lagi, kemudian melepas jubahnya dan meletakkannya ke atas puncak salah satu batu yang berada disana. Pria itu mengeluarkan kunai Hiraishinnya dan menggenggamnya dengan erat, kemudian mengacungkannya di depan teman akademi nya itu.

"kalau begitu lakukan ini dengan cepat. Aku khawatir Menma akan kedinginan karena cuaca buruk ini."ujar Minato mantap. Fugaku memandanginya dengan pandangan merendahkan, kemudian meletakkan bocah itu ke salah satu permukaan batu yang lebih datar.

"kalau begitu mulai saja."

. . . . . . . . . . .

Mereka berdua langsung menyerang kearah masing-masing. Berusaha mendaratkan sayatan senjata yang dimiliki ke masing-masing tubuh lawannya. Minato dengan kunai cabang tiga nya, dan Fugaku dengan katana khas clannya. Mereka bertemu tepat ditengah-tengah sambil berusaha menebas leher masing-masing.

Trank!

Minato langsung menendang Fugaku dibagian lehernya, pria itu menahannya menggunakan sebelah tangan dan membalas Minato menggunakan liukan senjata yang berusaha menebas rusuknya. Minato menghindari serangan itu dengan melompat kebelakang, kemudian mendaratkan kakinya di salah satu ujung bebatuan dan bertolak kembali kearah Fugaku. Kali ini ia melemparkan kunainya sambil membentuk seal jutsu.

"Shuriken Kage Bunshin!"

Pooof!

Kunai yang semula hanya hanya 1 itu menggandakan dirinya menjadi 20, mengarah tepat kearah Fugaku yang langsung menyimpan Katananya dan melemparkan kunai nya sendiri kearah Minato sambil membuat seal serupa. Bedanya Kunai-kunai tersebut telah ditempeli kertas peledak sebelumnya.

"Shuriken kage Bunshin!"

Trank! Trank!

BOOOM!

Keduanya melompat menjauh dari ledakan yang terjadi. Membuahkan asap ledakan kecil yang langsung menghilang tertelan air hujan. Masing-masing mendarat pada rerumputan yang becek, tanpa menghiraukan pakaian dan wajah yang basah, mereka kembali menyerang dengan ganas.

Buagh!

Fugaku mendaratkan kakinya menyapu kaki Minato, kemudian hendak menendang bahu pria itu disaat yang sama saat sang Yondaime hendak menyikutnya. Minato memutar tubuhnya, memunggungi lengan Fugaku dan mendaratkan pukulan ke dada pria Uchiha itu. Ia juga mendaratkan lututnya kearah perut sang head clan Uchiha.

Buagh!

Fugaku tersurut kebelakang. Tapi dengan cepat kembali menguasai keadaan dengan melompat ke udara dan membuat seal tangan dengan cepat. Ia meletakkan kedua jarinya di depan wajah dan menggelembungkan dadanya.

"Katon : Goukakyou No Jutsu!"

Minato melemparkan kunai-nya kearah lain, kemudian dengan cepat menteleport dirinya menghindari serangan tersebut. Bola api cakra tersebut membentur kearah gugusan bebatuan, menimbulkan ledakan yang hebat dan meruntuhkan bebatuan yang terkena oleh jutsunya.

Brak!

Fugaku mengejar Minato, ia mendaratkan kakinya langsung kearah dada pria itu begitu Minato selesai berteleport. Di lain pihak Minato menahan tendangannya dengan kedua tangan. Adu taijutsu keduanya berlangsung kembali.

"seperti saat itu.. Fugaku."kenang Minato sambil mengarahkan tinjunya kearah Fugaku yang langsung ditepis dengan keras.

Flashback

Hari itu murid-murid akademi ninja Konoha tengah berkumpul di lapangan akademi. Masing-masing anak saling melirik anak yang lain sementara seorang jounin sensei akademi tengah memegang papan bertempelkan nama-nama murid kelas yang diajarnya. Beberapa anak dari klan-klan besar konoha berkumpul, sementara sisanya kelihatan tidak perduli atau hanya sibuk makan. Sedangkan seperti biasa, anak-anak murid akademi yang tidak berasal dari keluarga ninja terlihat menatap kedepan dengan kedua tangan terkepal erat menahan nerves.

"aku yakin Minato akan mengalahkan lawannya dengan cepat."gumam salah satu anak kepada anak yang lain. "dia itu begitu… hebat. Aku yakin tidak sulit baginya untuk lulus dari akademi."

Anak lain yang sedang sibuk makan mengangguk lambat. "oh aku juga berpikir begitu."

Diantara semua percakapan itu, seorang anak berambut hitam tengah menyandarkan tubuhnya kearah dinding sambil bersedekap. Wajahnya benar-benar dingin dan terlihat tidak ramah, tapi, meskipun begitu tetap saja banyak calon kunoichi yang memandanginya dengan pandangan memuja.

"Fugaku-kun.."

Fugaku mengabaikannya, ia tetap memandang lurus-lurus kearah bocah blonde lain yang tengah membaca buku sambil berdiri menunggu gilirannya. Hari itu mereka dijadwalkan akan melakukan uji coba pertarungan.

"PERHATIAN!"akhirnya jounin sensei itu berbicara. "aku akan memanggil kalian satu per satu dan majulah kedepan, kemudian bertarunglah dengan kemampuan maksimal kalian."

. . . . . . . .

"Minato Namikaze!"

Sontak si blonde yang dipanggil langsung menutup buku bacaannya. Ia melangkah kedepan diikuti dengan tatapan teman-temannya, ada yang iri, ada yang ketakutan, dan para kunoichi yang memandanginya dengan pandangan memuja khas fansgirl.

"Ganbatte Minato-kun!"

Disisi lain, seorang anak mengeratkan kepalan tangannya saat melihat ini. Bocah berambut hitam itu memandang kearah Minato dengan pandangan meremehkan.

"ck. Aku bisa mengalahkannya dengan mudah."gumamnya pelan.

"Fugaku Uchiha!"

Semua anak bernapas lega saat tahu siapa yang menjadi lawan Minato Namikaze. Paling tidak, bocah yang melawannya jugalah seorang jenius di kelas mereka, jadi hari ini seorang jenius akan dilawan oleh seorang jenius. Semua anak bergerombol mengamati pertarungan keduanya.

"Hajime!"

Keduanya membuat seal ram dan saling berhadapan, selanjutnya setelah menerima aba-aba Fugaku langsung menyerang Minato dengan taijutsu tingkat genin yang telah dikuasainya. Keduanya langsung terlibat dalam duel yang mencengangkan dan menarik perhatian semua orang.

Duakh!

Fugaku terseret kebelakang, tapi bocah itu tidak kelihatan kehilangan kendali atas keseimbangan tubuhnya. Ia meletakkan sebelah tangannya kedepan, kemudian melompat keudara dan membuat segel tangan. Semua anak terpanah melihatnya, sebab tidak mungkin seorang murid akademi dapat membuat ninjutsu mengingat jumlah cakra yang diperlukan.

"ah tidak mungkin!"decak salah satu murid akademi. "dia pasti hanya bercanda kan?"

Semua orang mengabaikan hal itu, tapi tidak dengan Minato yang malah bersiap-siap menghadapi apa yang akan diarahkan Fugaku kepadanya. Bocah itu membuat seal tangan dan mengalirkan cakra miliknya kesekeliling tubuh, kemudian dilanjutkan dengan melakukan segel-segel tangan dengan terampil.

"apa mereka sudah gila?"gumam tak percaya seorang anak. "itu kan mustahil!"

"apa yang akan mereka lakukan?"gumam yang lain ingin tahu. Tapi seorang anak yang selalu mengantuk tiba-tiba merasa perlu melihat kejadian ini, bocah nara yang selalu menguap dan kebosanan itu akhirnya berujar ringan. "kurasa sebaiknya kita sedikit mengambil jarak dari area pertarungan. Merepotkan."

"huh?"gumam bocah lainnya. Tapi tak lama kemudian sebuah ninjutsu diteriakkan, dan api besar berbentuk bola dari udara meluncur kearah Minato namikaze.

"MUNDUUR!"teriak bocah lain dan mulai berlari ketakutan menghindari arena. Sang jounin sensei masih berada di sekitar areal pertarungan, tetap mengobservasi kedua muridnya.

"shunshin no jutsu!"

. . . . . . . .

Flashback end.

"kita telah berubah. Kurasa pasti berbeda antara keduanya."bantah Fugaku sambil memukulkan tangannya kearah leher Minato, pria itu menghindar dan memukulkan tinjunya kearah perut Fugaku dan berusaha membuat gerakan sapuan saat pria itu melompat dan memberikan tendangan kearah bahunya. Keduanya tak mau kalah dalam adu taijutsu tersebut.

"Katon Goukakyou No jutsu!"

Minato bershunshin, seperti saat pertama kali pertarungan keduanya dulu dan muncul tepat di dekat Fugaku. "Rasengan!"

'sial!'pikir Fugaku sambil menghindari serangan tersebut. Ia melompat menjauh, tetapi dengan tindakan mengejar yang sama Minato menyerbunya.

BRAAK!

Bebatuan terlihat merekah saat Fugaku melompat menghindari serangan itu. Jutsu Minato mengenai batunya, dan dalam sekejab menghancurkannya tanpa sisa. Seringaian meremehkan lagi-lagi ditunjukkan pria itu, kali ini ia memandangi Minato sambil bersedekap dan wajah yang sedikit ditundukkan, mengingat posisinya yang berada di atas bebatuan sedangkan Minato berada di bawahnya; di atas rerumputan yang berair.

"aku sudah berubah Minato. Aku sudah tahu tentang trik itu. Itu tak akan bekerja dua kali padaku."

"OEEEEE! OEEEEE!"

Bayi menma kelihatan menangis akibat air hujan yang tidak berhenti turun menyirami Konoha. Wajah Minato mengeras, ia memalingkan wajah kearah bayi itu, hendak melangkah kesana saat sebuah kunai mendarat di dekat kakinya. Orang yang melemparkannya tidak lain adalah Fugaku Uchiha.

"duel kita belum berakhir Minato."

Terlihat wajah dingin Minato menoleh kearah Fugaku. Matanya tajam memandang pria itu dengan killing intent yang bisa membuat jounin pun berkeringat. Disatu sisi Fugaku juga melakukan hal yang sama, mereka beradu killing intent dalam pandangan yang saling menusuk.

"kau sudah kalah Fugaku."gumam Minato dingin. "kau sudah telak kalah dariku. Apa lagi yang kau butuhkan?"

"aku masih berdiri disini NAMIKAZE! Bagaimana kau mengatakan bahwa aku sudah kalah? Jangan membuat lelucon yang tidak lucu."

Minato mendengus, ia memandang Fugaku meremehkan, "apakah harus kubuktikan ucapanku? Sekali aku membuktikannya.. maka tidak aka nada jalan kembali lagi. Dan kau akan selamanya-"

"BUKTIKAN!"

Minato memejamkan matanya sebentar. Ia memandangi Fugaku sekali lagi, kemudian mengangkat sebelah tangannya. Sedangkan Fugaku memandanginya dengan pandangan menyelidik, memperkirakan apa yang terjadi.

'apa yang dilakukannya?'batin Fugaku penasaran. Mata sharingannya berputar perlahan-lahan, ia sendiri menyadari bahwa tidak ada aktivitas cakra disekitarnya, tidak ada kertas peledak aktif, dan tidak ada segel hiraishin di tubuhnya. Tapi apa yang dilakukan Minato jika bukan sesuatu yang berkaitan dengan nyawanya?

"kau yang memintanya."ulang Minato lagi.

Setelah itu tinggal kilat kuning yang berpijar. Kemudian diikutin dengan rasa sakit tak terperihkan di dada Fugaku saat salah satu kunai Minato menusuknya. Pria itu melakukannya berulang-ulang, dari semua arah dan membuatnya berlutut di tempat seketika.

"satu-satunya hal yang tak kau amati dariku.."gumam Minato lambat. "kau berdiri di tengah segel pentagon hiraishinku. Tidakkah kau mengerti?"

Fugaku dalam kesakitannya melirik kearah lima arah disekitarnya. Menyaksikan masing-masing 1 buah kunai Hiraishin tertancap disana. Itu membuatnya menutup mata sesaat, merasakan sakit yang berlebihan di tubuhnya. Kemudian menganalisis waktu dimana kira-kira Minato meletakkan segel-segel itu tanpa diketahuinya bahkan luput dari pengawasan mata sharinganya.

"-kau"

"Hiraishin!"

Setelah mengucapkan nama jutsunya Minato menghilang dalam kilat kuning, kemudian muncul dan langsung menggoreskan kunainya kearah tubuh Fugaku di kesempatan pertamanya.

"Satu!"

Ctrash!

Minato menghilang lagi dari pandangan Fugaku, kemudian muncul di segel lainnya yang berada di samping belakang pria itu. Sang Hokage ke empat itu tidak repot-repot membuang kesempatan, ia segera menggoreskan kunainya kearah bahu Fugaku, pria itu menyentuh lukanya pelan. Sedangkan Minato berkali-kali muncul dari ke lima arah segel pentagonnya.

"Dua!"

"Tiga!"

"Empat!"

Ctrash! Ctrash! Ctrash!

"aaaarg!"Fugaku mengerang sambil memegangi lukanya. Ia menekannya, tapi terlalu banyak bagian tubuhnya yang terluka. Bahu, rusuk, punggung, kaki, dan paha. Minato kali ini berdiri di atas sebuah batu, ia memandang kearah mantan teman geninnya itu.

"apa pertandingan ini usai Fugaku?"

Fugaku tidak bergeming, ia mengatupkan rahangnya. Menahan rasa sakit ditengah guyuran hujan yang tiada henti dan cucuran darah dari luka-luka yang dideritanya. Matanya memandang Minato berapi-api, meski tidak menunjukan ekspresinya, Minato tahu pasti bahwa pria itu tengah merasa sakit yang teramat sangat. Secara mental dan fisik. Dunia akan tertawa jika melihat seorang Fugaku Uchiha, kepala Clan elit Uchiha tengah terduduk, menahan sakit dihadapan musuhnya sekarang.

"Aku tahu apa yang kau pikirkan tentangku."Gumam Minato pelan, "kau tak akan melupakan hari ini, bukankah begitu?"

Fugaku tidak menjawab. Ia mengeretakkan giginya menahan sakit. Tapi secara perlahan ia mulai berdiri, matanya tidak lagi menunjukkan sharingan kekkai genkai clannya itu.

"kau selalu unggul Minato. Kuakui itu.. kau menguasai hal-hal yang tak kukuasai."

Minato hanya mengabaikannya. Sekarang, pria itu melangkah kearah jubbah hokagenya, kemudian mengambilnya dan segera menjemput putra-nya yang telah kedinginan akibat terkena air hujan. Tangannya secara otomatis melindungi Menma dari serbuan air, jubahnya digunakan untuk memayungi bayi itu. Bayi tangguh berambut pirang yang bertahan dari serbuan air hujan yang dingin.

"kau aman sekarang."gumam Minato menenangkan Menma yang menangis. Ia mendekatkan bocah itu ke wajahnya, mencium dahinya lembut baru memandang pria keturunan Uchiha yang menjadi rivalnya itu.

"kau tahu aku tak pernah berpikir begitu. Aku tak belajar untuk mengunggulimu Fugaku. Aku hanya belajar untuk setiap kesempatan buruk yang mungkin menghampiriku."

Fugaku perlahan-lahan menutup matanya sebentar, meresapi hujan hari itu, kemudian beringsut berdiri. Minato meliriknya sekilas, kemudian kembali menutupi wajah Menma dari serbuan air hujan.

"aku harus pergi Fugaku. Istirku lebih membutuhkanku sekarang."

Tap!

Langkah minato begitu lambat dan mantap, disetiap pergerakan kakinya yang mengirinya adalah tatapan Fugaku Uchiha dan air hujan yang tidak mengenal rasa kasihan padanya dan putranya. Pria itu memeluk Menma dengan erat, sebelah tangannya berusaha untuk melindungi sang bayi dari hujan dengan cara menyanggah jubbah hokage di kepalanya.

"OEEEE! OEEEE!"

"shhh, Menma, Menma, tenanglah.. kita akan segera menemui ibumu."ujar Minato berusaha menenangkan Menma yang menggeliat sambil menangis dan berteriak-teriak. Suara bayi itu bersahut-sahutan dengan derasnya air hujan.

"OEEE! OEEE!"

"shhh, tenanglah Menma. Aku tahu air hujan ini membuat takut, tapi disini ada Tousan yang akan menjagamu. Bersabarlah, kita akan segera menemui ibumu dan mengganti pakaianmu."

Bayi itu tidak juga berhenti menangis. Hal ini membuat Minato menjadi bingung sekaligus takut jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada Menma. Maka seketika itu juga ia berhenti, di belakang punggungnya Fugaku masih melirik kearahnya. Ia benar-benar merasakan tatapan pria itu.

'aku.. tidak terlalu mengetahui tentang bagaimana caranya mengurus bayi dan menjadi ayah..'pikir Minato sedih. Ia berhenti melangkah, kemudian ragu-ragu melirik kebelakang, Fugaku tengah memejamkan matanya saat ia melakukannya.

"Fugaku.. aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan pada Menma.. tidak bisakah kau membantuku?"

Pria berambut hitam itu hanya diam saja, tapi beberapa saat setelahnya ia menghembuskan napasnya pelan. Kemudian membuka matanya dan memandang kearah langit, "aku bisa menghentikan hujannya untuk sementara waktu."

Wajah Minato berkerut sebentar. Tapi ia begitu senang mendengarnya.

"kalau begitu lakukan itu.."

'anak itu..'pikir Fugaku sambil mengangkat tubuh dan membuat seal. Tak jauh darinya Minato memandang kearahnya penuh harap, pria blonde itu juga tersenyum saat menyadari bahwa sahabatnya tetaplah menjadi sahabatnya.

'Uchiha tidak pernah seburuk itu.'pikirnya tenang. Ia mengamati urutan segel tangan yang dilakukan Fugaku Uchiha, menyadari itu sebagai segel tangan daru ninjutsu suiton yang bahkan belum pernah dilihatnya. 'ninjutsu apa yang akan digunakannya?'

Minato melirik kearah langit, entah bagaimana tapi langit itu seolah-olah menuruti kehendak dari Fugaku Uchiha. Perlahan-perlahan, hujan mulai berkurang intensitasnya, namun begitu segerumbul kabut mulai bermunculan.

"jadi, ini pasti termasuk manipulasi dari katonmu, menahan air dengan suiton ninjutsu diawal-awal dan menguapkannya menjadi kabut dengan cakra katon yang kau miliki. Hujan akan berkurang ditahan oleh kabut-kabut itu, bukankah begitu Fugaku?"ujar Minato analistik. Di sisi lain ia melirik sahabatnya, merasa bangga padanya dan tersenyum. "Arigatou Fugaku."

Fugaku Uc hiha hanya diam saja mendengar itu. Ia bangkit berdiri dari tempatnya sebelum kembali memandang sahabatnya tepat dimata. Menma tetap tidak mau didiamkan, hal itu membuat Minato sedikit frustasi.

"OEEE! OEEEEEEE!"

"Shhh, Menma, Menma, tenanglah. Hujannya sudah berhenti, kita akan segera kembali pada ibumu. Kau merindukannya bukan?"

"OEEE! OEEEEEEEEEE!"

Tangis bayi Menma kelihatannya tidak berkurang. Bayi laki-laki ini terus saja memberontak, menangis dan berteriak-teriak.

. . . . . . . . . .

Tap!

Fugaku melangkah kearah berlawanan dari Minato. Kemudian dengan perlahan mulai menggulung lengan baju nya sampai ke siku. Wajahnya benar-benar kosong tanpa ekspresi.

'bayi ini..'pikirnya dalam diam. Setelah 10 meter lebih jauh dari jarak sebelumnya, Fugaku berhenti, ia melihat kearah sekeliling baru kemudian bersedekap. Matanya bukan lagi mata seorang manusia berkornea hitam.

"Minato.. kau tahu apa sebenarnya kabut ini?"

"Fugaku, apa maksudmu?"Tanya Minato bingung sambil tetap berusaha menenangkan Menma. Bayi itu benar-benar tidak mau diajak bekerja sama kali ini.

"kabut ini adalah kematianmu sendiri."gumam Fugaku sambil menjentikkan tangannya keudara. Selanjutnya dari kelima dua belas arah mata angin, ninja-ninja yang telah dipersiapkan disekitar areal itu menembakkan jutsu katonnya.

"Katon : Goukakyou No Jutsu!"

. . . . . . . . .

TBC

review guys?