YO, kembali lagi. aku minta maaf karena update yg lama. terima kasih karena telah membaca cerita ini semoga chapter ini tidak membosankan. dan untuk para reader yg mereview, aku benar2 mengapresiasi. itu adalah salah satu alasan aku terus melanjutkan fic ini. semoga ini tidak mengecewakan kalian.
Chapter 23
Ookami No Konoha
.
Beberapa waktu sebelumnya.
Minato mengeraskan rahangnya, ia tidak tahu apa yang akan diperbuatnya setelah ini. Bayi Menma sudah pasti akan membuat posisinya terus terdesak, dan membunuhnya adalah tidak mungkin. Namun untuk menghukum para penghianat itu, itu soal yang lain. Ia benar-benar butuh seorang sekutu, sekutu yang dapat dipercaya untuk mengawal keluarganya.
'Anbu mana yang harus kupercaya?'pikirnya kesal. Ia membuat list beberapa Anbu yang cukup dikenalnya karena beberapa hal, Anbu Karasu, Anbu Inu dan Anbu...
Ookami.
'aku benar-benar berharap akan ada satu keajaiban lagi. Seperti saat sebelumnya,'pikirnya mengenang waktu-waktu sempit saat ruang persalinan akan diledakkan dan Anbu bertopeng serigala itu muncul. 'Meski ia Uchiha kelihatannya Anbu Ookami sama sekali tidak berpihak pada mereka..'ia menghela napas berat, kembali berdoa dalam hati.
'dan Kushina menyukainya. Walau ia tidak biasanya menyukai seorang Uchiha..'pikir Minato sedih. Wajah pria itu sudah mulai bertransformasi, matanya mulai menjadi gelap dan irisnya berubah, perlahan-lahan giginya mulai memanjang, persis seperti gigi macan tutul.
'perasaan ini.. aku benar-benar tidak bisa menahannya lebih lama lagi.'pikir Minato kalut. Transformasi itu mulai memakan kesadarannya, digantikan dengan keliaran yang sulit dikendalikan.
GRRRRRR!
'Naruto Uchiha... dimana kau sebenarnya.. Aku..'saat kegilaan benar-benar mulai merambati dirinya, ia merasakan sesuatu, dari arah belakangnya muncul aliran chakra seseorang yang sangat familiar.. chakra dingin beraura biru gelap yang kental..
"Katon : Goukakyou No Jutsu!"
Teriakan itu menyadarkan sang Yondaime, kali ini ia bergerak gesit seperti yang diharapkan dari seorang Kage. Matanya tajam memandang kearah sisi barrier di belakang tubuhnya tadi, sambil memeluk Menma sekadarnya agar anak itu tidak terjatuh.
"Katon : Goukakyou No Jutsu!"
'kuharap ini berhasil.'pikirnya sebelum mendarat dengan sisa-sisa kesadaran yang dimiliknya.
GLEDOOOOOOOM!
. . . . . . . . . . .
GRRRR!
Debu mengepul dimana-dimana membuat jarak pandang menjadi sulit, tetapi itu bukan masalah, Minato tidaklah terpengaruh dengan itu, sedangkan bayi Menma sudah hampir terjatuh dari gendongannya, cengkraman pria itu mengendur pada bayinya, berganti pada cengkraman kuat pada senjatanya.
Swush!
Siluat hitam menangkap bayi Menma sebelum bayi itu terjatuh. Menampilkan sosok pria berambut hitam dengan topeng berbentuk serigala, mata orang itu menyala dalam kegelapan malam, membuat suasana menjadi bertambah angker dipadukan dengan mata kuning vertikal Yondaime.
"kau datang.. terima kasih."Gumam Minato tak bernada. Pria itu memakukan pandangannya kedepan, seolah-olah tidak ada seseorang didekatnya sama sekali.
Anbu Ookami dibelakangnya mengangguk, dan bangkit dari posisi berjongkoknya ketika memposisikan diri untuk menangkap bayi Menma. Pria itu menggendong bayi dipelukannya dengan gendongan yang sedikit agak mengkhawatirkan, walau mesti diakui bahwa bayi Menma tetap aman.
"aku telah berjanji untuk menjaga Kushina-san dan bayi anda Yondaime."gumamnya singkat. Mereka sama-sama memandang kearah depan, sedangkan asap mulai menipis.
"kalau begitu berjanjilah lagi. Jaga mereka untukku."gumam Yondaime sambil memandang liar kedepan. Ia tertawa horor, memandangi Danzou yang kelihatan kebingungan.
"HAHAHA! KARENA DIA BERSAMAKU DANZOU! DAN AKAN KUPASTIKAN HARI INI PARA PENGHIANAT AKAN MATI DITANGANKU!"teriak Minato diikuti dengan ledakan chakra hitam. Ia yang saat ini berdiri di dekat bebatuan itu bukanlah lagi Minato yang dikenal orang-orang. Kedua matanya sudah sepenuhnya hitam, dengan iris berwarna kuning menyala yang terlihat kelaparan.
"Shurikken Kage Bunshin No Jutsu!"teriak Minato sambil melempar kunai Hiraishinnya.
.
Kunai cabang tiga itu tersebar disegala penjuru. Dan dengan kecepatan kilat, Minato Namikaze aka Yondaime Hokage tertawa liar sambil menebas tubuh Anbu-Anbu yang sekarang berusaha menyerangnya. Pemandangan itu benar-benar seperti perang sungguhan. Pembantaian, mayat, potongan tubuh dan organ dimana-mana. Dan diatas itu semua sang Yondaime Hokage malah menunjukkan tawa semangatnya. Ia menghilang, kemudian muncul dan mengeliminasi tiap Anbu yang muncul dihadapannya.
Trank!
Salah satu Anbu mencoba menebas tubuhnya, sesuatu yang ditahan oleh Yondaime hanya dengan sebelah tangan. Pria itu menghilang, dan sekejab berikutnya muncul di belakang Anbu tadi sambil menusukkan kunainya.
Crash!
"HAHAHA! MANA ANBU YANG KAU BANGGAKAN DANZOU! KELUARKAN SEMUA! HIBUR AKU DENGAN SESUATU YANG BUKAN SAMPAH!"
"Katon : Karyuu Endan!"
Naga api sebesar 2 meter itu menyerbu kearah Yondaime. Pria itu hanya menyambut serangan itu dengan seringai, kemudian ia kembali menghilang ke sisi kunai lainnya sambil mengayunkan kunai hiraishin dalam genggamannya untuk menebas tangan Anbu yang tadi menyerangnya.
"GRRRRR! AKH! Sakit Sekali!"
Pria tadi sedang melolong kesakitan, sebelah tangannya dipotong oleh Yondaime; mata vertikal kuning itu memandangnya dengan pandangan dingin yang sangat menakutkan.
"kau berutang nyawa ANBU-ANBU ku yang kau bunuh."ujar Yondaime dingin. "akan kupastikan pembalasan terbaik untuk keloyalan mereka."
Sriiing!
Dari arah lain muncul lagi serbuan Shurikken. Yondaime hanya melompat ringan menghindari serangan senjata-senjata itu kearahnya.
"hanya itu yang kau dapat dari ROOT?"ia mencibir. Kemudian menyeringai, "akan kuperlihatkan kenapa Iwagakure menghindariku di Perang Dunia ke-3."
Setelah berkata seperti itu, seperti sebelumnya, Yondaime menghilang, kemudian masih dengan wajah liarnya ia muncul di belakang pria tadi, bersiap melakukan pukulan kearah punggung pria itu.
BUKH!
Pukulan itu memang keras, itu terlihat dari bagaimana Anbu itu terdorong kebelakang karena serangan yang dilancarkan Yondaime. Meski begitu, Tidak semudah itu menjatuhkan seorang Anbu yang terlatih, apalagi lawan Yondaime ini bertubuh besar tinggi melebihi ukuran tubuh Yondaime itu sendiri. Pria itu menahan pukulanya dengan kedua tangannya, kemudian dengan cekatan menyapukan kakinya kearah lutut pria blonde itu.
"Aku tidak akan membiarkan anda lolos Yondaime."gumamnya keras. "dan inilah spesialisku, taijutsu."
Yondaime menarik tangannya, kemudian dengan sigap menyapukan tumit kakinya ke belakang tubuh sang Anbu, ia menariknya dengan cepat, membuat keseimbangan tubuh Anbu tadi menjadi agak oleng.
"Taijutsu, 4.0.. siapa yang tidak mengenalmu Tora?"gumam Yondaime sinis. "tapi perlu 100 tahun lagi untuk membunuhku dengan 1 spesialis saja."
Minato membungkukkan tubuhnya sedikit, meloloskan diri dari sentuhan tangan Anbu Tora dan saat berada tepat di depan dadanya, sebuah bola pijar muncul ditelapak tangannya. Menghujam kearah jantung pria itu.
"Rasengan!"
Hampir sama dengan kejadian yang dialami Kushina Uzumaki, walau kali ini Yondaime kelihatan lebih bernafsu daripada sebelumnya. Ia terus merongrong dada pria itu dengan jutsunya. Hingga tak berapa lama kemudian telapak tangannya akhirnya menembus kearah tubuh si Anbu.
"AKHHHHHHHHHh!"
Cipratan darah menghiasi wajah Minato, membuatnya bertambah seram dibanding sebelumnya.
"HAHAHA! NIKMATILAH BUAH DARI PENGHIANATANMU SENDIRI!"gumamnya berapi-api.
"MANA LAGI ANBUMU DANZOU! DATANGLAH PADAKU!"teriaknya sambil menghilang dan menyerbu pasukan yang lain.
. . . . . . . . . .
'caranya bertarung masih sama seperti sebelumnya. Bahkan cenderung lebih liar.'analisis Danzou serius. Mata milik keturunan Shimura itu terus memperhatikan detail pertarungan tidak imbang antara punggawa anbu-nya dengan Yondaime hokage. Pria itu bagaikan kilat yang cepat dan berbahaya, yang menyerang ke segala penjuru arah.
'kalau begini terus bisa-bisa-'
Sriiing!
6 buah kunai mengarah kearahnya, Danzou yang melihat itu langsung melebarkan mata, dan melompat ke belakang. Namun disitulah masalahnya, Yondaime muncul sambil menebaskan kunai cabang tiga di tangannya, siap memotong leher Danzou dengan sadis.
Trang!
'Yondaime.. sial kau.'rutuk Danzou dalam hati. Pria itu memandang Yondaime keras. "tidak semudah itu untuk membunuhku Yondaime."
Dengan kemampuan yang didapatnya selama hidup, Danzou mengayunkan kunainya kedepan, mendorong kunai hiraishin itu untuk menjauh dari wajahnya, lalu dengan tenang berkayang dan menundukkan tubuhnya sedikit. Kilat api berbentuk anak panah muncul dari belakangnya sebagai jutsu dari salah satu anbu.
Tap! Tap!
Rambut blonde Minato berkibar seiring dengan gerakannya dalam menghindari anak panah itu. Melompat-lompat hingga menyisahkan bekas tumbukan anak panah di tanah yang hancur akibat jutsu api buatan salah satu Anbu Ne yang menyerangnya. Pria itu melemparkan kunainya kedepan, kemudian kembali menghilang dalam kejapan mata.
Ctrash!
"akh- aku.-"
Darah kembali berciprat mengenai jubah putih Yondaime. Pria itu memandang korbannya dengan tatapan liar yang dingin.
"kau sebenarnya berbakat. Tapi bakatmu, kau memakainya dengan bodoh. Dengan percuma.. jadi itulah matimu, mati yang juga percuma."ia berjalan, mengeluarkan dua kunai dan memegangnya masing-masing 1 di tangan kanan dan kiri. Suara desing ringan terdengar dari goresan kunai itu. Bagaikan monster psikopat, minato memandang lawan dihadapannya dengan pandangan serius.
"aku memberikan kesempatan bagi kalian yang berbakat untuk kembali padaku dan konoha. Seperti kau, mokuton, sharingan.., aburame, byakugan.. kembangkan kemampuan kalian bagi desa dibawah perintahku. Maka akan kubiarkan kalian hidup."gumam Minato penuh penekanan.
Sriing! Sriiing! Sriiiiing!
Suara itu terus terdengar seiring dengan melangkahnya Minato ke samping, ia memandang lawan-lawan nya dengan tatapan monster yang menakutkan.
"kau mendengarnya bukan.. aku menerima kalian.. ini adalah kesempatan terakhir kalian. Jika tidak maka.. terpaksa akan ada pembantaian malam ini. Kalian pasti tidak menginginkannya kan?"
"KAU TIDAK LEBIH DARI SEORANG MONSTER BERWAJAH MENARIK YONDAIME, DAN AKU, SAMA SEKALI TIDAK AKAN MENYESAL MENYERANGMU MALAM INI. SERANG!"
1 peleton Anbu itu langsung menyerbu ke depan, menggunakan tanto masing-masing membuat sabetan kearah Yondaime yang langsung menghilang detik demi detik untuk mengeliminasi lawannya.
Trank!
"pilihan yang benar-benar salah.."gumamnya sambil menahan salah satu tanto yang diarahkan untuk menebas kearahnya. "seekor tikus yang berusaha untuk membunuh harimau. Kau akan tahu kenapa orang-orang takut pada harimau itu."
Minato dengan lancar melompat ke udara, bersalto lalu melemparkan masing-masing 5 buah shuriken di tangannya. Anbu yang melihat ini menghindar dengan cara bershunshin ke tempat lain, tetapi beberapa dengan kukuh menangkisnya agar tidak mengenai tubuh. Mereka bersiap menyerang Yondaime dengan kuda-kuda baru.
"KAU TIDAK AKAN KAMI BIARKAN LOLOS YONDAIME!"
Minato tertawa horor. "sampaikan salamku pada shinigami sama nantinya.. AH! BETAPA MUDAHNYA INI!"ia mulai berteriak kesetanan lagi. Minato, aka Yondaime melompat keudara, masih dengan cara salto, dan menarik benang chakra yang tadi di lilitkannya pada shuriken sebelum di lempar.
"Katon : Goukakyou No Jutsu!"
"ap-T-TIIDAAAAAAAAK!"gumam Horor para Anbu saat melihat bola api sebesar 5 meter mengarah kearah mereka yang sekarang sedang terikat tak berdaya.
DOOOOOOOM!
.
Bersama para Uchiha
"Taichou.. kelihatannya ini tidak berjalan dengan baik."gumam Uchiha Teka sambil menyentuh bahu Fugaku Uchiha. Sementara pria yang diajak berbicara hanya memandangi pertarungan dihadapan mereka itu dengan pandangan menyipit.
"kita masih memiliki kartu as. Dan lagi belum ada yang menggunakan busur panah untuk menyerang. Kurasa sebaiknya kita mulai bersiap."
Dikejauhan ia melihat kearah Orochimaru dan Danzou yang tengah berbincang.
'kuharap apapun yang kau rencanakan akan berhasil Orochimaru.'batinnya tenang.
.
Kembali ke pertarungan
"kau benar-benar liar Yondaime.. ah aku tidak menyangka ini benar-benar Yondaime Konoha No Sato yang tengah berhadapan denganku."gumam Orochimaru sambil menjilat bibirnya sendiri. Ia bersedekap ringan, matanya tak lepas memandangi Yondaime yang membunuh lawannya tanpa peduli lagi rasa kemanusiaan.
Trank!
Salah satu pasukan Uchiha menyerang kearahnya, menyabetkan kunai di bahu Yondaime. Hal itu gagal, dan berakhir dengan Yondaime yang mematahkan lengan Uchiha itu dan menggigit lehernya untuk kemudian di putar kearah berlawanan.
"AKHH! KAU MONST-"
Ninja tadi mengakhiri hidupnya dengan tragis, posisi tangan yang patah dan leher yang juga patah. Darah menetes dari mulut Yondaime. Ia memandang kearah Orochimaru dengan pandangan tak terkendali.
"HAHAHA! MAJU! MAJU KAU!"
Orochimaru menghembuskan napasnya lembut. "sayang sekali, waktu bermain sudah selesai Yondaime. Benar-benar disayangkan."Orochimaru menggelengkan kepalanya dengan dramatis, ia membuat seal dengan cepat, kemudian menempelkan tangannya ke arah tanah.
"KUCHIYOSE NO JUTSU : EDO TENSEI!"
"Kau.. Bagaimana ini mungkin?! Ini tidak mungkin Orochimaru.."
Sroook!
Sebuah peti keluar dari dalam tanah. Kemudian keluarlah sesosok manusia bertubuh tinggi tegap dengan armor merahnya. Rambut hitam panjangnya terurai di belakang tubuh, melambai searah dengan arah angin. Mata orang itu sepenuhnya gelap, sementara orang-orang yang berada disekitar sana memandang ini dengan pandangan tidak percaya.
"Sho-Shodai-s-ssama.."
Orochimaru yang melihat ini menyeringai, menikmati reaksi dari Yondaime Hokage yang seperti sedikit muncul kewarasannya.
"k-kau.."
Orochimaru tertawa. "khu khu khu. Selamat datang jenius. Kau akan menyukai ini Yondaime."dari kantung ninjanya Orochimaru mengeluarkan kunai bergantung fuinjutsu. Ia meletakkannya di dalam kepala Shodaime, dan dan dengan sigap melompat ke samping area pertarungan.
"SELAMAT BETARUNG."
.
"Mokuton : Daijurin No Jutsu!"
Lengan Shodaime secara langsung memanjang, mengarah kearah Yondaime yang langsung menghilang menggunakan shunshinnya. Pria itu kembali muncul dan menghilang, menghindari lengan-lengan yang berusaha menangkapnya.
"teruslah berlari Yondaime!"teriak Orochimaru dari samping pertarungan. 'ini akan menjadi sesuatu yang menarik..'batinnya sambil mengamati pergerakan Yondaime. Pria itu mengeluarkan kunai lain dari kantung ninjanya, kemudian melemparkan benda itu kedepan.
"Shuriken kage bunshin No Jutsu!"
Shodaime menghindarinya dengan cara melompat keudara. Kemudian dengan cepat membuat seal baru, sebelum ia mendarat, tangan-tangan lain muncul di sekitar areal pertarungan, berkejaran dalam menangkap pergerakan Yondaime.
"Mokuton : Hotei No Jutsu!"
Tangan-tangan besar itu berhasil menangkap Yondaime. Pria itu gagal bergerak karena tangan, kaki, dan tubuhnya di peluk erat oleh lengan-lengan kayu itu. Orochimaru yang memandang ini melebarkan matanya, sedikit terkejut tetapi tetap merasa aneh. "apa kau benar-benar secepat ini kalah Yondaime?"gumamnya pada diri sendiri.
Shodaime melangkah maju, berlari dan siap untuk mendaratkan pukulannya di dada Minato Namikaze, saat tiba-tiba dari belakang punggungnya seseorang bersurai kuning muncul. Meninju punggungnya dengan bola chakra spiral biru yang berpijar.
"Rasengan!"
DOOOOOOM!
Tanah di areal itu terangkat, Yondaime terus menekankan jutsunya ke punggung shodaime sampai tanah terus tergerus hingga kedalaman 30 cm. Jutsu itu berakhir sesaat setelah punggung shodaime berlubang. Minato yang mengetahui lawannya tidak lagi bergerak menghentikan jutsunya. Ia melirik kearah Orochimaru yang memandanginya dengan pandangan ingin tahu.
"licik sekali. Benar-benar seperti dirimu, ular. Yang memanfaatkan leluhurnya sendiri untuk kepentingannya. Walau bagaimanapun, jutsu ini tentulah memiliki kekurangannya sendiri."gumam Yondaime sambil melangkah keluar dari lubang itu. Ia memandang Orochimaru sinis. "sebentar lagi giliranmu Orochimaru.. kau- uhuk!"
Crash!
Dari belakang tubuh Yondaime muncul Shodaime yang menusukkan kunainya kearah dada atas pria blonde itu. Membuatnya sejenak berhenti dan memuntahkan darah segar. Di lain pihak Orochimaru tertawa kecil. "dan mari kita tebak, kau tidak tahu apa kekurangannya Yondaime."ia berjalan kearah depan, tempat Yondaime terpaku karena kunai yang di tusukkan oleh shodaime.
"Sensei-ku tak akan memberikan rahasia jutsu mengerikan ini padamu. Karena apa? Karena kau begitu.. penurut. Tak lebih dari seorang anjing Konoha yang terus menerus menghamba pada aturan bodoh yang kau ciptakan sendiri."
"Kau.. Orochimaru.."
Orochimaru memandang kearah Shodaime edo tensei yang berdiri di belakang Yondaime. Ia mengangkat tangannya membentuk segel ram sebelah tangan. "tak kusangka aku hanya akan membutuhkan bantuan shodaime dalam waktu yang begitu... singkat. Benar-benar memalukan."decaknya sambil menghilangkan edo tensei sang hokage pertama. Angin menerbangkan sisa tubuh pria bermarga senju itu, menyisahkan Yondaime yang jatuh berlutut menahan sakit.
"kau bisa ikut bersamaku. Meninggalkan desa konyol ini dan memulai mempelajari segala hal. Keabadian.. semua jutsu. Tidakkah kau tertarik?"Orochimaru menyentuh bahu Minato pelan. "kau dan aku. Tidak ada lagi terikat dengan Konoha. Dan kita bisa melakukan apa yang kita mau."
"grrr..."tubuh Minato bergetar. Ia seperti tengah menahan sesuatu yang bergerak di dada-nya. "tawaran yang begitu menarik Orochimaru.."
Orochimaru mengerenyitkan kening saat dirasakannya tubuh Minato semakin bergetar. Namun, pria itu tetap menunduk, walau untuk sementara waktu Orochimaru benar-benar ingin melihat ekspresi wajah pria itu.
"itu memang menarik. Hanya saja.."ucapan sang sannin ular menggantung. Matanya tiba-tiba menyipit, "apapun yang kau usahakan untuk lakukan.. itu benar-benar akan gagal Yondaime. Percayalah, tidak ada gunanya lagi melawan. Atau kau akan-"
"akan membunuhmu.. SANIN.."
"KIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIK!"
. . . . . . . . .
Di luar area pertarungan
Bersama Anbu Karasu
.
Deg!
Pria bertopeng gagak yang tengah duduk di atas salah satu dahan pohon itu membuka matanya. Matanya otomatis melirik kearah pusat desa. Dan secara tiba-tiba semua suasana yang sebelumnya tenang perlahan berubah, diikuti dengan burung-burung yang bergerak menjauh kearah luar desa. Sayup-sayup suara teriakan terdengar dibawa angin. Teriakan memekik, yang terdengar memilukan di telinganya. Secara otomatis sharingannya aktif. Pria itu berdiri dari tempat duduknya, tidak lagi bersikap santai seperti sebelumnya.
Tap!
Ia melompat ke udara, mendarat di dahan tertinggi. Tangannya dibuka dan telapaknya diarahkan kearah langit, seperti menunggu sesuatu untuk terjatuh. Dan benar, perlahan-lahan bulu hitam mirip bulu gagak berjatuhan dari arah langit. Seolah tertiup angin sampai ke areal garis luar pertahanan desa. Wajahnya otomatis mengeras dibalik topeng.
"sial. Jutsu ini.. apa yang kau lakukan kali ini Danzou.."gumamnya kesal. Tangannya menggenggam erat bulu tadi, dan perlahan-lahan api mulai membakar bulu hitam itu.
"tidak bisakah kau membiarkan desa tenang sebentar saja?!"gerutunya sambil berlari kearah tengah desa. Kecepatannya begitu tinggi, dan sesekali muncul kepulan asap pertanda sang Anbu melakukan sunshin demi shunshin untuk mempercepat langkahnya.
'kuharap aku tidak terlambat.. semoga..'
. . . . . . . . .
Kembali ke areal pertarungan
"KIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIK"
Tchrash!
Crash!
Suara mengaduh diikuti dengan berjatuhannya orang-orang terdengar memenuhi areal itu. Suara mengerikan membelah malam yang sarat akan rasa sakit luar biasa. Ditempatnya duduk berlutut Yondaime terus membuka mulutnya, menyemburkan senbon-senbon itu ke udara. Tak ada lagi target, ia menyerang kearah seluruh areal secara langsung.
"Tolong-!"
"AAAAAAAAAAKh!"
"LARIIIIIIIIIIIIIIIIII- AKH!"
Ribuan senbon berbentuk bulu gagak meluncur dari mulut Yondaime. Hujan senbon meluncur ke segala arah, menghujam ke semua tubuh Anbu yang berada disana. Meski dalam waktu singkat, Yondaime telah berhasil membunuh hampir semua orang yang berada disana. Tak ada yang dapat melawan, mereka hanya dapat menghindari hujan senbon itu jika ingin tetap hidup.
Jrash!
Jrash!
"TOLOOOOOOOONG!..-Jrash!"teriakan itu mendominasi wilayah pertarungan. Seiring dengan berjatuhannya lawan-lawan Minato yang bertaburan darah di tanah. Tak ada yang mampu melawannya, mengingat bentuk serangan ini berupa hujan senbon dan bukannya serangan frontal dari arah depan atau 12 arah mata angin.
"TAICHOU LARI!"
Bahkan sampai beberapa Uchiha harus melarikan diri guna memastikan keselamatan dirinya yang tentu saja sia-sia. Udara malam itu benar-benar mendukung jutsu Yondaime Hokage. Berupa angin lembab yang meniupkan semua senbon ke segala penjuru.
'Menma..'bersama dengan sisa-sisa kesadarannya hanya satu kata itu yang terlintas dipikiran Yondaime Konoha. 'maafkan aku..'
. . . . . . . . .
Naruto langsung melompat menghindari serbuan senbon-senbon itu. Di gendongannya Menma menangis, sambil bergerak-gerak gelisah. Bayi itu terlihat benar-benar histeris, walau ia belum bisa berkata-kata tapi dari gerakan tubuh dan tangisannya Naruto tahu, pasti ada yang tidak beres disini.
"diamlah. Jangan membuatku semakin kerepotan."gumamnya panik. Suasana benar-benar tidak menolong, Naruto yang panik harus dengan lincah menghindari senbon-senbon gagak itu sambil menggendong Menma, belum lagi dengan struktur wilayah yang penuh bebatuan runcing. Semuanya benar-benar semrawut, belum termasuk dengan nyawa para ninja yang berserakan. Di kejauhan, Nezumi orang pertama yang dilihatnya memberikan lambaian. Pria itu berlindung di balik tembok tanah melengkung yang dibuat menggunakan jutsu doton yang dimilikinya.
"OEEEEEEEE! OEEEEEEEEEEEE!"
"bersabarlah.."gumamnya sambil menggeram. Dengan beberapa usaha akhirnya Naruto dapat mencapai tempat perlindungan itu. Tangisan bayi Menma masih terus bergema di udara.0
"Kau bisa meninggalkan bayi itu disini. Atau kau akan mati bersama bayi itu. Pikirkanlah."gumam Nezumi kesal. "kau disini untuk misi, bukan untuk mengasuh bayi Yondaime, Ookami."
"OEEEEEEEEE! OEEEEEEEEEEE!"
Naruto menggendong Menma dengan tangan bergetar. Ia kebingungan, bagaimana ia harus menenangkan bayi itu?
"AKH!"
Satu lagi jeritan dari arah luar. Sementara bayi Menma ikut-ikutan menjerit; bersahut-sahutan untuk hal yang berbeda. Entah bagaimana caranya dalam sesaat bayi Menma sudah berada dalam pelukan ANBU Nezumi, pria itu siap untuk melemparkannya keluar dari tembok tanah perlindungan mereka.
"JANGAN!"teriak Naruto tiba-tiba tersadar. "kau tidak boleh melakukannya."ia kembali menarik bayi blonde itu ke pelukannya.
"KAU INGIN MELAWANKU DAN MATI DEMI BAYI INI?!"teriakan Nezumi benar-benar sama gaduhnya dengan teriakan melolong penuh kesakitan di luar sana. "KAU TAHU TUGASMU! KITA HARUS MENGELIMINASI YONDAIME SECEPATNYA SETELAH INI! BERPIKIRLAH OOKAMI!"
"beri aku sedikit waktu."Naruto memutar kepalanya mencari cara agar mereka semua bisa selamat melewati ini. 'Menma.. Gaki.. apa yang kau pikirkan? Apa yang membuatmu terus membuat kegaduhan? Pikir Naruto, Pikir.. seorang bayi, sebuah keluarga, ayah.. ibu.. anak.. apa yang kurang? Apa yang diinginkannya?!'
"OEEEE! OEEEEEEEEEEE!"
"PERSETAN BAYI ITU! LEMPAR SAJA ATAU AKU AKAN SEKALIAN MELEMPARMU OOKAMI! DIA MAU IBUNYA! BIAR DIA BERSAMA IBUNYA DILUAR SANA!"
Deg!
'ibunya...'
Wajah wanita berambut pirang dengan mata hijau lumut berikut kacamatanya terbersit di kepalanya. Wanita berpakaian pendeta yang tersenyum kearahnya. Wanita yang sama yang membesarkannya. Wanita itu..0
'ibu...'
Sharingan Naruto otomatis aktif, ia menyapu pandangannya dan tersadar bahwa jaraknya dengan tempat Kushina Uzumaki terbaring hanyalah beberapa meter jauhnya. Dan tanpa menunggu waktu lama ia langsung membuat clone, meninggalkan putra Yondaime bersama clonenya. Dirinya sendiri berangkat kedepan, menghindari serbuan senbon-senbon itu untuk mencapai posisi wanita berambut merah yang tertelungkup di tanah. Beberapa senbon bulu gagak itu terlihat menancap di lengan dan kakinya, wanita itu dalam kondisi yang juga tidak terlalu baik.
'bertahanlah.'
Trash!
Untuk ketiga kalinya malam ini Naruto mengangkatnya, menggendong wanita itu di atas punggungnya dan berlari. Beberapa senbon menancap dibahunya, membuat ia sedikit terhuyung walau masih bisa bergerak dengan cukup cepat kearah tempat perlindungan mereka.
Tap!
Trash!
'sial.. sedikit lagi..'satu lagi senbon mendarat di dekatnya, menyerempet topengnya baru kemudian menusuk bahu kanannya. Di punggung sebelah kirinya kushina juga tertusuk di beberapa bagian. 'bertahanlah.. Kushina-san.'
Tembok tanah itu cukup mudah dicapai, walau harganya juga cukup sebanding. Naruto langsung menurunkan Kushina Uzumaki dari bahunya, kemudian menghilangkan clonenya. Sekarang lengkaplah, putra Yondaime, berbaring di sebelah ibunya. Akaichisio No Habanero. Orang yang berjasa bagi Konoha. Orang yang cantik. Orang yang menjadi pendamping Yondaime. Dan orang yang..
"kau bodoh atau apa?! Lihat dirimu!"tunjuk Nezumi mencemooh. "terluka karena menyelamatkan keluarga musuh?! Kau benar-benar penuh omong kosong Ookami. Kau benar-benar-"
Mata sharingan tiga tomoe itu menyorot kearahnya tajam. Menguarkan aura intimidatif.
"lanjutkan dan kau benar-benar akan menyesal."gumamnya dingin. "lanjutkan dan kau akan mengerti mengapa Uchiha ditakuti karena sharingannya."
'sial. Bocah ini..'
Nezumi memalingkan mukanya kesal. Di kejauhan, nampak Tenzou yang melindungi Danzou, sementara Torune tidak terlihat dimanapun.
'hanya dia satu-satunya sekutu yang kumiliki disini.'pikir Nezumi serius. Walau sedongkol apapun dirinya karena merasa direndahkan, ia benar-benar tahu, mengancam seorang sekutu benar-benar tidak akan menguntungkannya. Belum lagi dengan banyaknya Uchiha yang berkeliaran ditempat itu. Menyerang satu sama saja dengan meminta mereka membunuh dirinya. Sebodoh apapun seorang ninja, insting bertahan hidup tetaplah berada dalam peringkat pertama disaat-saat genting seperti ini.
'gaki ini..'batinnya sambil mendengus dongkol. Ia merogoh kantungnya sendiri, sambil mengeluarkan bola-bola aneh berwarna kehitaman. Ada 8 buah disana, ia menggenggam 4 ditangan kanan dan 4 ditangan kiri. Wajahnya kembali melirik kearah Anbu bertopeng serigala di sebelahnya. Ia menarik napas dalam-dalam, baru kemudian memandang langsung mata sharingan bertomoe 3 itu.
"dengarkan Ookami. Kau tahu sudah tidak banyak yang tersisa dari kita. Hanya kau dan aku disini, dan 2 orang tak berdaya ini."ia menggendikkan dagunya kearah Menma dan Kushina Uzumaki. "aku akan melaksanakan tugasku. Tugas terakhirku, dan kau harus membantuku untuk itu."
Sharingan Naruto berputar pelan, "aku akan membantumu. Jadi apa yang harus kulakukan?"
Hujan senbon masih terus berlangsung di luar. Dan bila perkiraannya benar, maka sebentar lagi tembok tanah jutsu yang melindungi mereka akan menghilang. Naruto memandangi Nezumi serius sementara pria itu memberikannya pistol tanda.
"meskipun Yondaime tidak bergerak ditempatnya, ia tetaplah masih hidup. Satu-satunya cara adalah dengan menahannya cukup lama sampai aku bisa menghabisinya."
Naruto mengerutkan keningnya dibalik topeng. "dan bagaimana jika keadaan tidak sesuai rencana?"
Nezumi mengangkat tangannya, menunjukkan ke-8 bola-bola hitam tadi. "kita akan memakai ini. Jadi menjauhlah."
"apa ini? Kau yakin itu akan berhasil?"Naruto melirik kearah bayi Yondaime dan Kushina Uzumaki secara bergantian. Meskipun tidak sepenuhnya tertidur, bayi Menma kelihatannya lebih tenang dibanding sebelumnya. Sedangkan Nezumi yang melihat ini hanya mendesah pelan.
"kau tahu, kau bahkan mungkin tidak akan selamat melewati ini. Tentu saja hal yang sama akan terjadi pada mereka berdua."
Naruto bergeming. Kemudian ia melirik kearah pistol tanda ditangannya.
"aku akan berusaha. Kau siap?"
Nezumi mengangguk. Detik itu juga Naruto memunculkan kepalanya ke luar bagian dari tembok cekung itu dan menembakkan pistol tanda itu keudara.
"kita harus bergegas."
. . . . . . . . .
Tcrash!
Tcrash!
"ck. Sial. Bangsat kau Yondaime."gerutu Danzou sambil terus bergerak kesana kemari menghindari hujan senbon itu. Ia tidak bisa berhenti bergerak, karena tak ada jalan keluar lain. Jutsu itu masih terus berlangsung, seperti anak panah yang di tembakkan ke arahnya dari langit. Orochimaru tak kalah kesal melihat ini, tak ada yang tak bergerak, kecuali satu hal; kuchiyose milik Danzou, Baku.
Di kejauhan, mata Danzou menangkap siluet berwarna merah darah. Percikan bunga api di langit, pertanda satu hal; ninja Konoha tengah dikirim untuk memeriksa wilayah itu.
'tim pengintai telah mengirim pesan. Sial, ini tak akan berjalan dengan baik bila Hiruzen datang kemari.'
Tjrash!
Dooom!
Letusan bunga api kedua terlihat di angkasa. Mata Danzou melebar melihat ini, binar-binar kesenangan mulai terlihat dimatanya.
'berarti yang harus kulakukan selanjutnya..-'
Tcrash!
"cih!"
Bagian armor di bahu kanan Danzou tertusuk oleh bulu-bulu hitam senbon itu. Ia meringis, meskipun benda-benda itu tidak terlalu menyebabkan kerusakan yang parah, itu cukup efektif untuk memancing keributan, membuat chaos dan yang terpenting mengeksekusi banyak shinobi dalam waktu yang relatif cepat.
"Mokuton : Mokujoheki!"
Dinding-dinding kayu pertahanan itu menyelamatkannya dari serbuan maut senbon-senbon yang dilontarkan Minato ke arah langit. Danzou kembali mendecih, kali ini ia mengeluarkan pistol bunga api, di lehernya menempel sebuah masker udara. Ia memandang kearah anbu yang melindunginya. Mokuton No Tenzou, dan memberikan anggukan ringan.
"ini akan menjadi pengorbanan yang besar. Bagi Root, Konoha, Anbu dan para Uchiha. Demi masa depan desa ini, apapun yang terjadi kita harus selamat. Tenzou, setelah ini buka barrier kayu ini dan kita akan melakukan apa yang harus kita lakukan."
"SERBU!"
. . . . . . . . .
Bersama para Uchiha
"SERBU!"
Seruan itu terdengar mengisi udara. Sementara beberapa Uchiha yang tersisa berdiri di belakang Fugaku. Pria itu memejamkan matanya sebentar, di kejauhan bunga api pertanda bahwa terdapat pasukan pro Yondaime menyilaukan langit. Ia menghela napasnya beberapa kali, kemudian mengeratkan genggamannya pada katana di punggungnya.
"Taichou.."
"mari sudahi semua ini. SERBU!"
Dan dengan komando itu satu per satu dari mereka menyerbu kearah Yondaime yang sekarang tengah terduduk ditengah lembah.
'kalau ini adalah akhir maka ini benar-benar akan menjadi akhir.'
Orochimaru dikejauhan yang melihat ini hanya tersenyum simpul. Ia menjilat bibir bawahnya sendiri. Kemudian tertawa kecil sambil lagi-lagi melirik kearah langit malam dengan bunga api yang mulai menghilang itu.
'akan menarik untuk melihat akhirnya. Tapi akan lebih menyenangkan meninggalkan kerusuhan ini sebelum sensei kemari.'matanya berkilat saat memandang Yondaime lagi. "selamat tinggal Yondaime."
Dan kepulan asap putih muncul diikuti dengan menghilangnya sosok sannin Konoha itu.
. . . . . . . . .
Serangan kunai muncul dari segala arah. Yondaime yang menyadari ini langsung menutup mulutnya kemudian mulai bergerak. Pria itu dengan sigap bershunshin sambil menghunus kunai ditangannya.
CTRASH!
"HAHAHA INI BENAR-BENAR MENYENANGKAN SEJAK TERAKHIR KALI-"
Dari arah bawah tanah muncul rantai yang mengikat kedua kakinya. Yondaime yang menyadari ini langsung berusaha mengangkat kakinya, namun saying, benda tadi terlalu kuat dan menyeretnya kea rah si pemilik rantai.
"kau benar-benar liar Yondaime.;. benar-benar liar."gumamnya sambil mengarahkan rantai ditangannya untuk membelit tubuh pria berambut kuning itu. "ini akan memberi cukup banyak waktu.."
Dikejauhan seorang anbu bertopeng Ookami bersama para Uchiha yang tersisa mencabuti kunai hiraishin yang tersebar disegala penjuru tempat itu. Mereka mengumpulkannya dalam satu tempat. Menumpukkannya satu sama lain seolah-olah itu besi tidak terpakai yang tidak berguna.
'selesai, lalu?'
Tepat setelah berpikir seperti itu Naruto mendengar teriakan dari arah belakangnya. Dan dalam sekejab beberapa orang tumbang dengan lengan terpotong yang berserakan di tanah. Lembah itu, entah untuk yang kesekian kali kembali dipenuhi jeritan kesakitan para ninja.
"OOKAMI!"
Dari jauh Nezumi melemparkan padanya satu buah bungkusan hitam. Naruto menangkap itu dengan sigap dan langsung mengeluarkan isinya, berupa ke-8 bola padat yang tadi ditunjukkan Nezumi padanya. Pria itu mengangguk dari balik topengnya, kemudian kembali bershunshin dan dalam sekejab mata rantai-rantai kembali menyelimuti tubuh Yondaime.
"CEPAT!"
Yondaime berusaha melepaskan diri, tetapi rantai itu cukup kuat untuk menahannya. Wajahnya bergerak-gerak sambil menyeringai menyeramkan, ia melirik kearah Nezumi sambil terkekeh pelan.
"KAU BODOH!"teriaknya sambil menyemburkan kembali senbon bulu burung gagak yang menusuk kearah kepala Anbu bertopeng tikus itu. "BENAR-BENAR DUNGU!"
"sial kau Yondaime!"
Lagi-lagi Yondaime menghilang dari jangkauannya. Kembali menyisir lawan yang mencoba menusuknya menggunakan tanto dan katana.
"KAU? AKU AKAN MENGAMBIL SHARINGANMU DAN MEMBERIKANNYA KEPADA CIVILIAN!"
Crash!
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAH!"
Yondaime mencabut mata pria itu sambil tertawa kegirangan. "BERIKAN AKU LAGI!"
Sementara Naruto dengan cepat menggambar lingkaran diatas bidang yang dipilihnya cukup datar. Ia meletakkan ke-8 buah bola hitam tadi secara melingkar dalam jarak yang sama. Dari kejauhan tampak kilauan kuning menghilang kesana kemari walau dalam jangkauan yang lebih kecil dibandingkan sebelumnya.
"Yondaime!"Anbu Nezumi mengejarnya. "MONSTER KEMARI KAU!"
Yondaime berlari-lari sambil sesekali menghilang dan muncul di tempat lain. Ia berlari sedikit berjongkok menyerupai kera yang melompat-lompat.
"KAU KIRA AKU BODOH?! RANTAI CHAKRA MENJIJIKANMU ITU AKAN MENARIK CHAKRAKU, KENAPA AKU HARUS MENDEKAT?!"ia menghindari serbuan dari beberapa Uchiha yang secara tiba-tiba menembakkan shurikkennya. Yondaime menghindari itu dengan cara menebaskan kunainya di depan dada. Semuanya tertangkis, pria itu kembali tertawa dan menghampiri lawannya satu per satu.
TCRASH!
"KAU MAHLUK UCHIHA BODOH!"teriakan kembali terdengar. Ia menghilang lagi sambil melemparkan mayat tadi kesamping. Menghampiri Uchiha lainnya yang sudah siap untuk menusukkan katana mereka ke-dadanya. Yondaime menghindari ini dengan berkayang, kemudian menendang lutut pria itu dan menyabet tenggorokannya. Darah menyiprat dari leher pria itu ke wajahnya.
"MANA PASUKANMU DANZOU?! UCHIHA MANA KAU?!-"
Sriiiiiing!
Dari kejauhan muncul serbuan shuriken kearah pria kuning itu. Sumbernya tak lain dari arah kegelapan yang tidak jelas arah serangannya.
Trank!
Trank!
Syuuut! Syuuut!
"kegilaanmu.. aku harus mengakhirinya. Minato.."
Serbuan shurikken masih menggila. Minato yang melihat ini sebagai tantangan langsung kembali menangkisnya menggunakan kunai kunai cabang tiga yang digenggamnya erat.
"BERI AKU FUGAKU! BERI AKU SEMUA YANG KAU PUNYA!"
Fugaku mendecih. Sementara waktu terus berjalan ia menghentikan serangannya. Minato yang merasakan serangan lawannya mengendur tertawa aneh. Ia menegakkan posisi tubuh yang tadinya merunduk defensive ke pola normal. Saat ini ia meletakkan salah satu tangannya di pinggang, berkacak pinggang sambil memandang sinting kearah Fugaku Uchiha.
"KAU MEMANG SELALU BODOH FUGAKU. AKU MASIH BERDIRI, KENAPA BERHENTI?"tanyannya dungu. "AKU MASIH BERDIRI! KAU LIHAT AKU?!"ia melompat-lompat di tempat.
"APA AKU HARUS MENYERANGMU DULU?"tambahnya dengan wajah linglung.
"kau benar-benar gila Minato, benar-benar gila."ungkap Fugaku sambil merapatkan genggaman tangannya. Secara otomatis benang chakra kasat mata yang tadi dihubungkan ke tiap shurikkennya terhubung satu sama lain, membentuk simpul dan menjebak Minato Namikaze ditengah-tengahnya.
'apa yang membuatmu jadi seperti ini sahabatku..'pikir Fugaku sambil menundukkan kepalanya. Tak jauh darinya, tepat ditengah-tengah lilitan kawat chakranya Minato memandanginya dengan pandangan aneh. Tubuh pria itu bergerak gelisah ditempat. Bukan seperti apa yang biasanya dilakukan oleh Minato Namikaze aka Yondaime Hokage, melainkan sesuatu yang lain.
'apa yang membuatmu menjadi aneh begini..'pikir Fugaku sambil mengeratkan genggamannya pada kawat-kawat chakra itu.
.
Flashback.
. . . . . . . . .
Seorang bocah laki-laki berusia 6 tahun tengah berdiri sambil menyentuh kawat pagar pembatas tempat bermain. Di dalamnya bocah lelaki lain seusianya tengah berlari-lari menendang-nendang kaleng untuk disepak. Mereka kelihatan begitu bahagia, bersendah gurau diselimuti oleh matahari sore yang kemerahan. Tak ada yang berhenti sejenak untuk menyadari keberadaannya bahkan hanya untuk menyapanya. Semua orang seperti tidak melihat keberadaannya sama sekali.
"kenapa kau tidak masuk kedalam? Aku melihatmu seperti orang bodoh berdiri disini."
Mata Fugaku melebar, ia menoleh kearah sebelah kanannya. Disana bocah lain berambut pirang memandanginya sambil memakan es krim. Lagi-lagi matanya melebar, Fugaku Uchiha, tidak pernah makan es krim seumur hidupnya.
"kau mau ini?"Tanya polos Minato sambil menyodorkan es krimnya yang sudah dimakan sebagian.
Fugaku mendengus. "apa kau sedang memberiku makanan sisa? Uchiha tidak memakan makanan sisa."
Minato mengangguk-angguk. Ia menepuk kantung celananya, kemudian meraba bagian dalam kantung. Tidak ada uang yang tersisa di kantung itu.
"tapi aku tidak punya uang untuk membelikanmu es krim."
Fugaku memandang Minato datar. "tak usah. Aku tak terlalu menginginkan benda berair menjijikkan seperti itu."
Sementara Minato yang mendengar ini menggeleng. Anak rambutnya ikut bergerak ketika ia melakukannya.
"kau harus mencobanya! Aku akan meminta pada anak-anak disana untuk memberiku uang. Aku akan membelikanmu es krim."gumam Minato serius. Kemudian ia menghabiskan es krimnya, masih diiringi dengan pandangan penasaran Fugaku ia memasuki pintu pagar tempat bermain itu. Malangnya, ternyata orang yang ia kira seumuran tadi ternyata adalah kakak kelas mereka di akademi ninja. Bocah-bocah itu terlihat lebih besar saat Minato mendekatinya.
Klengkeng!
Minato yang tidak tahu apa-apa menendang kaleng yang sedang perebutkan mereka. Seketika permainan berhenti dan saat itulah semua orang mulai mengerubunginya.
"kau bocah! Apa yang kau lakukan?! Seharusnya aku sudah mencetak poin tadi!"gerutu salah satu anak berambut cokelat sambil memandang Minato jengkel. Bocah lain secara bersahutan mulai mendekati Minato, masih dengan ekspresi yang sama.
"KAU MEMBUAT KAMI KALAH! KAMI KEHILANGAN POIN GARA-GARA KAU!"teriak yang lain.
"DUREN SIALAN KAU!"bocah besar itu sudah siap memukulnya. Tapi Minato buru-buru menyergah. "aku kemari ingin minta uang kalian untuk beli es krim."
Bocah berambut biru yang berada paling luar dari lingkaran itu menaikkan alisnya. Ia mendekat dengan cepat. "KAU INGIN MEMALAK KAMI?! KAU AKAN TAHU APA RASA ES KRIM SEBENARNYA!"
Dan serentak bocah-bocah itu memukuli Minato Namikaze. Sementara Fugaku Uchiha hanya mampu memandangi dari luar dengan pandangan bingung. Ia bukanlah orang yang suka bersosialisasi dengan orang lain terlebih orang-orang di luar klan Uchiha. Tapi apakah seburuk ini jika berinteraksi dengan orang di luar klan?
'aku tidak akan bersosialisasi dengan non Uchiha kalau begitu.'pikir Fugaku kecil sambil membuka pintu pagar dan merangsek masuk ke dalam taman bermain itu. Tak ada yang melihat kehadirannya, karena semua anak sibuk memukuli Minato, beberapa bahkan sampai menendangi bocah itu.
"HEI KALIAN! BERHENTI!"
Semua anak otomatis melihat kearah belakang mereka, hanya untuk mendapati bocah berambut hitam lain yang memandangi mereka dengan pandangan serius. Salah satu dari mereka berkacak pinggang, "kalau kami tidak ingin berhenti kau ingin apa? Ingin ikut dipukuli bersama duren ini?"
Fugaku mendecak. "tinggalkan dia. Atau kau akan menyesal."
Bocah paling besar berambut pendek menghadapkan tubuh kearahnya. Dari tanda lahir di pipinya tampak jelas bahwa anak itu adalah seorang Akimichi.
"buat kami menyesal BOCAH!"seketika teman-temannya tertawa mendengar itu. "uhu.. apakah kau ingin melarikan diri sekarang?"cibirnya sambil memandangi Fugaku yang memandanginya dengan pandangan serius tanda kekesalan. "oh lucu sekali.. apakah bocah ini ingin membunuhku dengan tatapan itu."mereka tertawa lagi.
"atau.-"belum sempat ia mengucapkan cibirannya. Dari arah depan, tepatnya dari kedua mata bocah berambut hitam tadi muncul warna merah yang begitu familiar diingatannya. Sebab mereka adalah murid akademi yang mempelajari sejarah Konoha, tentu saja ia mengenali mata itu. Mata merah bertomoe 2 yang berputar memandanginya sengit.
"AKAN KUBUAT KALIAN MEMBAYAR UNTUK MENGHINAKU!"teriak Fugaku yang langsung merangsek maju menyerang mereka. "DAN AKAN KUBUAT KALIAN MERASAKAN SAKIT YANG TEMANKU RASAKAN!"
. . . . . . . . .
Flashback end.
'teman ya..'pikir Fugaku Miris. 'bahkan waktu itu adalah kali pertama kita berbicara, kau sudah menanggung pukulan karenaku.. tapi kau tidak menjadi seperti ini. Apa ini Minato.. apa yang terjadi padamu..'
"BAKU!"
Pikiran Fugaku diinterupsi dengan teriakan Danzou diikuti dengan tarikan udara yang begitu besar kearah selatan. Tempat altar berbentuk segi delapan dipersiapkan. Fugaku sebisa mungkin mengalirkan chakra ke kakinya untuk menahan gerakan itu, tapi sayang, tarikan kuchiyose besar milik Danzou itu begitu kuat. Mereka tersedot kearah altar dengan cepat. Di lain pihak Yondaime Hokage aka Minato yang telah terjerat kawat chakra sebelumnya ikut meronta, berusaha lari dengan cara mengaktifkan hiraishin.
'ini..'
. . . . . . . .
Beberapa menit sebelum Baku melepaskan jutsunya.
Memang jika dikatakan kuchiyose mana yang paling dapat menahan serangan fisik dan senjata, hanya ada dua kuchiyose yang akan mampu menyatatkan nama. Satu Chimera Baku, dan Salamander milik Hanzo. Dua kuchiyose ini memang spesialis kedalam kuchiyose petarung pasif yang lebih banyak melakukan pertahanan, walau juga dapat bersifat menyerang.
Semua orang berlarian kesana-kemari, sementara Kuchiyose ini hanya diem ditempatnya sambil menundukkan kepala. Ia memang tidak terpengaruh dengan jutsu yang dikeluarkan Yondaime. Danzou yang melihat ini menyeringai, kemudian kembali melirik kearah tempat terakhir bunga api melayang diudara. Sekarang jantungnya berdebar lebih kencang. Di kejauhan, salah satu Anbunya telah menyiapkan altar sementara Fugaku Uchiha telah berhasil menangkap Yondaime. Ia berdiri mendekati Kuchiyosenya, menyentuh mahluk itu yang serta merta langsung berdiri.
"giliranmu Baku."
. . . . . . . . . .
Nezumi langsung berkonsentrasi saat melihat Fugaku Uchiha menangkap Yondaime Hokage. Matanya kembali melirik kearah partnernya, Anbu Ookami yang saat ini tengah bersiaga di luar sisi altar.
"inilah akhirnya Ookami. Kau siap?"
Anbu serigala itu mengangguk mantap. Tapi beberapa kali matanya mencuri pandang kearah bayi mungil yang sekarang tengah tertidur dalam pelukan ibunya. Entah wanita itu sudah mati atau belum, tak ada yang dapat memastikan itu lebih baik dari Nezumi. Pria ini memandangi partnernya serius.
"apa yang kau pikirkan?"gumamnya tegas. "tak aka nada yang selamat Ookami. Tak ada."
Tapi tetap saja Anbu serigala itu berulang kali kembali melirik kearah bayi berambut blonde itu. Tatapannya begitu aneh dan sulit diartikan, Nezumi menyipitkan matanya sedikit.
"kau masih berpikir untuk menyelamatkannya bukankah begitu?"
Naruto aka Anbu Ookami mengangguk. "aku mengingat ibuku saat melihat wanita itu. Ibu yang tak pernah bisa kuselamatkan."
Nezumi mengangguk, ia melirik kearah Kuchiyose Baku, hewan chimera oranye itu sudah siap membuka mulutnya. Itu artinya mereka tidak memiliki waktu lagi untuk berdiskusi. Semuanya akan berlangsung dengan cepat setelah itu sebelum semuanya gagal.
Nezumi meraba dadanya, ia menyentuhnya sebentar kemudian bercak kehitaman mulai muncul disana. Bercak berbentuk garis di sepanjang lengan, dan lehernya. Naruto yang memandangi ini kelihatan sedikit terkejut.
"Ookami, apapun yang terjadi sebisa mungkin keluarlah dari altar ini. Aku hanya bias menjanjikan itu sebagai ucapan terima kasih sebagai kapten..-"belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya Chimera raksasa itu telah melepaskan jutsunya, berupa daya tarik luar biasa kearah monster itu. Dilain hal karena posisi berdirinya yang berada di belakang Nezumi maka pria itu harus berusaha sekuat mungkin untuk tidak ikut tertarik. Mereka harus menangkap Yondaime tepat di altar itu.
CKRAK!
Rantai chakra besar muncul dari belakang pinggang Anbu Nezumi, menahannya sekuat tenaga di tanah tempatnya berdiri.
"LARILAH!"gumamnya sambil terus menghadap kedepan siap menyambut Yondaime. "LARI DARI ALTAR INI OOKAMI!"
Naruto sempat kebingungan, untuk beberapa saat ia sempat merasa ragu. Tapi belum sempat ia meneruskan pikirannya, gelombang angin besar yang dikeluarkan oleh hewan buas dibelakang mereka juga turut menariknya.
"LARI! LARI OOKAMI-"
Waktu terasa melambat, diikuti dengan suara angin yang begitu besar, Yondaime masuk kearea altar, diikuti dengan Fugaku Uchiha yang ikut terseret kedalamnya. Detik terasa melambat saat tiba-tiba segel ditubuh Nezumi aktif mengeluarkan cahaya putih terang. Berikut dengan suara ledakan yang begitu besar.
'itu bukan suara ledakan segel..'pikir Anbu serigala itu sebelum akhirnya menutup mata.
.
Danzou yang memakai masker udara langsung melompat keluar dari areal itu. Sebab ledakan segel Nezumi langsung menyusul selang ledakan pertama. Asap keunguan memenuhi lembah itu, seolah-olah menjadi kabut abadi yang memang alami berasal dari sana. Hanya terdapat dua orang anbu dan dua orang Uchiha yang berdiri bersamanya. Mereka memandangi areal itu dengan pandangan campur aduk.
"ck.. APA YANG KAU LAKUKAN DANZOU! KAPTEN FUGAKU BERADA DISANA-"belum sempat pria itu menyelesaikan ucapannya ia keburu terjatuh ketanah. Memegangi dadanya kesakitan sebelum akhirnya tidak bergerak sama sekali.
"KAU… Penghianat."
Dua suara tubuh terjatuh itu menjadi satu-satunya suara yang terdengar di kawasan itu. Danzou mengabsen anbunya, sebelum kemudian membuat segel pengembali Kuchiyose. Langit malam itu terasa begitu terang, entah bagaimana sebab selanjutnya bunga api lain kembali melayang di udara.
'aku sudah mengakhiri rezimmu Yondaime.'pikirnya netral. Tapi entah bagaimana hari itu terasa seperti kemenangan besar baginya. 'tinggal mengurus Orochimaru.'
Sejenak ia memandang bulan di langit, kemudian melirik kearah Tenzou, dan dua anbu bertopeng polos lainnya.
"ayo pergi."
Diikuti dengan siluet hitam, keempatnya melarikan diri dari lembah beracun konoha itu.
'racun Amegakure, racun yang membunuh sensei..'pikir Danzou dalam diam. 'apa yang akan kau lakukan kali ini Hiruzen?'
TBC
review boss
