Chapter 24
. . . . . . . . .
Malam hari Konohagakure yang awalnya penuh kedamaian berubah setelah munculnya hujan senbon bulu gagak itu. Suasana yang awalnya sunyi dan penuh ketenangan berubah menjadi gaduh. Banyak warga yang keluar dari rumahnya dan mulai bertanya-tanya akan apa yang terjadi. Sementara para genin bersiaga di jalanan untuk menjaga ketertiban, para Chunnin dan Jounin serta ANBU langsung bergerak menuju kearah sumber senbon itu di luncurkan. Memang tidak terlalu jelas darimana arahnya, oleh sebab itu berbagai tim disebarkan ke segala penjuru luar Konoha.
Siluet-siluet hitam kelihatan membelah malam di atas atap rumah warga Konoha.
Tap!
Tap!
Tap!
Di atas atap kantor Hokage berdiri Sandaime dengan pakaian perangnya. Berupa pakaian hitam dan baju jarring-jaring ninja dan pelindung wajah khas samurai. Di tangan kanannya terdapat tongkat bercincin emas senjata andalannya. Sementara di hadapannya deretan ANBU berbaris dengan rapi berjongkok menunggu perintah. Sandaime memandang kearah depan sendu, di atas telapak tangan kiri-nya sebuah bulu hitam senbon yang menggegerkan warga Konoha tergeletak.
'apa yang terjadi? Minato.. Kushina.. ada apa sebenarnya?'gumamnya dalam hati. 'jutsu ini…'
Flashback
Minato bersama Sandaime Hokage tengah berjalan di tengah desa. Hampir semua orang selalu menyapa mereka saat mereka melintas. Kedua pria itu berjalan berdampingan,waktu itu Minato belumlah diangkat sebagai Hokage, jadi kadang-kadang ia memperlambat langkahnya sedikit agar Sandaime selalu berada didepannya. Itu membuat Sandaime tersenyum kecil, sambil sesekali ia melirik kearah belakang, mengecek apa yang dilakukan oleh pria blonde itu.
"inikan hanya aku Minato. Mengapa selalu menunda langkahmu seperti itu?"
Minato menggaruk lehernya. "sumimasem Sandaime-sama, aku bukanlah orang yang cocok untuk berjalan berdampingan dengan legenda seperti anda."
Sandaime menghembuskan napas kelabunya keudara. Ia tertawa kecil.
"orang besar selalu merendahkan dirinya seperti itu."ujarnya lembut. "bagaimana dengan tehnikmu? Aku tahu, terlepas dari sumber yang hanya sedikit jutsu Kusagakure itu memang sangat bisa diandalkan."
Minato mengangguk. "apa anda pernah melihat seseorang melepaskan jutsu itu?"
Sandaime menoleh kebelakang, kemudian mengangguk. Matanya yang awas memandang tepat kearah mata Minato. Sang kiroii senkou yang begitu dicintai Konoha. Ekspresinya benar-benar lunak, walau masih terdapat garis ketegasan disana.
"tentu Minato-kun. Aku pernah menghadapi pengguna jutsu itu sebelumnya, pada perang dunia shinobi kedua. Sungguh itu adalah jutsu efektif yang benar-benar mematikan."Sandaime menghela napasnya pelan. Pria tua itu terlihat sedih saat melanjutkan ceritanya.
"jutsu itu benar-benar mampu memukul mundur kami, skala serangannya benar-benar luas. Jika bukan karena Tobirama-sensei aku sanksi kami dapat selamat, kami benar-benar terdesak dengan chakra yang sedikit sekali."
Minato menundukkan kepalanya sedikit. "yurusei Sandaime-sama aku tidak bermaksud mengingatkan anda tentang kejadian buruk itu."
Sandaime Hokage aka Hiruzen Sarutobi hanya tersenyum, ia menggeleng. Sejenak ekspresinya kembali serius.
"jutsu yang mematikan, walau resikonya juga sama besarnya."ia memandang Minato lagi, tepat dimata. Pria itu berhenti berjalan dan membalikkan tubuhnya, meletakkan jemarinya di atas Bahu Minato.
"semburan senbon akan mengangkibatkan organ tubuh bagian dalammu terluka. Jantungmu akan collapse, dan akan meremuk seiring waktu kau mengeluarkan jutsu itu. Belum lagi resiko mengenai teman sendiri. Serangan terbuka seperti itu sama saja dengan jutsu bunuh diri. Jadi kuharap kau akan dengan bijak menggunakannya Minato. Dan akan lebih baik kalau kau tidak pernah menggunakannya sama sekali."
"ha'i Sandaime-sama."
. . . . . . . . . .
End flashback
"MINATO."ujar Sandaime pelan. Ia memejamkan matanya rapat-rapat sambil mengeratkan genggamannya pada bulu burung itu. Dihadapannya telah berlutut deretan ANBU siap memberi perintah. Angin terlihat memainkan baju hitam yang dikenakannya, sementara para ANBU berlutut dalam diam dan berekspresi dingin.
"Dajime.. bisakah kau lacak darimana arah jutsu ini?"ucapnya pelan. Sandaime menundukkan pandangannya, terlihat begitu sedih dan kecewa. 'Minato..'
"Hai Sandaime sama. Meskipun angin mengaburkan arahnya aku masih bisa melacaknya."gumam cepat ANBU bertopeng berang-berang aka Dajime itu. "apakah kita sedang dalam masa berperang Sandaime sama?"ucap ragu Dajime. Ia menundukkan wajahnya saat melihat ekspresi sedih sang Sandaime saat memandangnya aneh.
"aku juga tidak mengerti."respon pelan Sandaime, masih tetap memandang ANBU-nya, namun kemudian ia mengeraskan tangannya, diikuti dengan terbakarnya bulu itu menjadi abu. Semua ANBU yang berada disana melebarkan matanya terkejut. Merasakan KI yang ditembakkan secara tiba-tiba oleh Sandaime Hokage.
'Sandaime sama.. KI ini benar-benar menakutkan.'pikir mereka kompak. 'A-aku merasa seperti shinigami tengah melayang diatas kepalaku..'katanya dalam hati merasa horror.
"tunjukkan jalannya Dajime.. kita harus membantu Yondaime mala mini."ujar tegas Sandaime. Ia menatap langit malam dikejauhan, "Konoha kita sedang terancam.. kita harus segera bergegas mengatasi ini."lanjutnya pelan. Ekspresi Sandaime benar-benar merupakan campuran dari kekecewaan dan kesedihan.
'Yondaime.. bertahanlah Minato..'
"Hai!"gumam ANBU kompak.
'kami akan menolongmu Yondaime sama, bertahanlah..'pikir para ANBU serius. 'tapi apa yang terjadi?'
.
Tap!
Para ANBU dan Sandaime bergerak dengan lincah membelah hutan. Gerakan mereka begitu gesit sehingga mata yang tidak terbiasa pasti tidak akan mampu melihat pergerakan mereka. Formasi gerak mereka seperti prisma, dengan Sandaime berada di ujung paling depan pasukan, dibelakang sebelah kanannya Dajime si ANBU berang-berang pemandu arah mendampinginya. Sementara di sebelah kanan terdapat ANBU Black ops berjubah putih yang mengapit Sandaime.
'Apa yang terjadi sebenarnya Minato..'pikir Sandaime sambil terus bergerak dengan cepat. Mata tuanya begitu letih menyiratkan kesedihan yang mendalam. Pikirannya kembali berputar saat terakhir pertemuannya dengan sang Yondaime Hokage. Minato aka Kiroi Sekko yang juga merupakan murid salah satu muridnya. Jiraiya si Gamma Sannin. Masih jelas diingatannya hari itu sepulang dari kantor Hokage keduanya berjalan-jalan di Konoha. Memandang langit sore yang sedang indah-indahnya. Benar, mereka pulang lebih awal karena Minato harus menemani istrinya dalam proses persalinan.
"Sandaime sama, terima kasih karena selalu membantuku melakukan tugasku sebagai kage.. aku tidak yakin akan melakukannya dengan baik tanpa bantuan anda disisiku."ujar Minato lembut memulai pembicaraan, rambut blonde nya berkibar pelan menampakkan kegagahan seorang Minato Namikaze yang tersohor di elemental Nation. Sandaime yang melihat ini hanya tertawa tipis.
"sudah tugasku sebagai seorang pendahulu untuk membantumu Minato. Kau tidak perlu merasa berat dengan itu."jawab Sandaime ramah. Ia mengepulkan asap dari cerutunya tipis. "apa kau sudah menyiapkan nama untuk bayi kalian?"lanjutnya penasaran.
Minato tersenyum, ia menggaruk belakang kepalanya sedikit.
"Menma Namikaze.. aku sudah memutuskannya Sandaime sama. Kushina chan juga sudah menyetujuinya."ia tertawa kecil sedikit nerves ketika Sandaime memandanginya ingin tahu.
"Namikaze Menma ya.."respon Sandaime lembut. Ia kembali menyesap cerutunya. "aku yakin dia akan menjadi sesuatu nantinya."
Minato mengangguk mantap. Mereka berdiam diri sebentar, kemudian memutuskan untuk berhenti di jembatan kayu yang mengarah ke danau Konoha. Danau tempat Minato menghabiskan masa kecilnya berlatih dan bermain disana.
"Sandaime.. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Tapi bila ada sesuatu yang terjadi, kumohon.. jagakan keluargaku untukku."gumamnya memelas. Sandaime yang melihat ini mengerutkan keningnya, seolah tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Kau hanya akan pergi sebentar Minato. Dan selama kau pergi aku akan menjaga Konoha untukmu. Tenanglah dan kembalilah pada Konoha dengan selamat."ujar Sandaime serius. "ada banyak ANBU yang akan mengawal kalian.. jadi percayalah, semuanya akan baik-baik saja."
Minato menghembuskan napasnya dalam-dalam, ia menutup matanya sebentar menikmati angina sore itu.
"aku tahu Sandaime sama.. hanya untuk berjaga-jaga saja."
'Minato..'pikir Sandaime sedih. 'Gomen ne..'
Trak!
Salah satu dahan kelihatan retak saat tekanan chakra Sandaime melintasinya. Membuat ANBU yang berada dibarisan mereka terkejut dan terpaksa memilih dahan lain. Tak ada yang berkata sedikitpun selama perjalanan kecuali Dajime yang ditugaskan Sandaime untuk memimpin jalan. Bahkan untuk bernapas saja kelihatannya sulit sekali.
'apa yang terjadi sebenarnya?'pikir salah satu ANBU bingung. 'Yondaime sama.. apa yang terjadi ini?'
"ke kanan."gumam Dajime serius. Membawa rombongan itu membelok dari jalur sebelumnya. Memang dalam divisi keanbuan namanya begitu dikenal sebagai salah satu sensorik Konoha terbaik. Dajime, Berasal dari klan Yamanaka yang terkenal dengan keahliannya merasakan chakra orang lain. Ia itu membimbing rombongan untuk melintasi wilayah lainnya.
'c-chakra ini..'pikirnya shok. Bau darah menguar di wilayah itu, dan beberapa pepohonan kelihatan terbakar habis meninggalkan bau gosong di udara. Sandaime langsung turun begitu melihat salah satu manusia terbaring menyandar pada pohon, kelihatan sekali bahwa ia tengah melepas ajal.
"S-sandaime sama.."ucap Dajime ngeri saat melihat Sandaime mendekat kearah ANBU itu dan menyentuh lehernya. Ekspresi wajahnya tidak terlihat karena tertutup oleh rimbunnya hutan yang gelap sehingga tak ada yang melihat bahwa setetes air mata meleleh di wajahnya. Semua ANBU yang berada di wilayah itu kelihatan tewas, tanpa terkecuali beberapa ninja berpakaian hitam yang kelihatan tergeletak di tempat.
'pakaian hitam berkerah tinggi.. Uchiha clan, apa yang terjadi sebenarnya?'pikir Sandaime bingung. Hal ini tentu saja lumrah bahwa seorang ANBU tewas dalam mempertahankan wilayah desanya, tetapi di tangan pasukan keamanan Konoha sendiri? Tidak ada alasan mengapa kedua pihak harus bertarung sampai menemui titik darah penghabisan.
"apa yang akan kita lakukan dengan para Uchiha ini Sandaime sama?"gumam salah satu ANBU bingung. Sebab terlihat banyak sekali pasukan yang terbunuh di wilayah itu. "ANBU dan Uchiha clan, yang mana yang harus di evakuasi terlebih dahulu?"
Sandaime memandang ANBU tadi serius. "aku mempercayakan ini pada kalian. Bereskan jasad para Uchiha terlebih dahulu mengingat sharingan yang ada pada mereka."ANBU tadi mengangguk mantap. "Dajime, dan sisanya mari lanjutkan perjalanan."
"S-sandaime sama.."belum sempat Sandaime membalikkan tubuh, sebuah bunga api melayang di udara. Berwarna kebiruan, symbol dari lokasi yang ditemukan. Sandaime yang melihat ini langsung mengeraskan rahangnya, aura membunuh yang tadi sempat tidak dirasakan oleh sekelompok ANBU itu kembali terasa. Begitu pekat dan mengerikan di udara sekitar mereka.
"cepat."
.. . . . . . . . .
Tcrash!
Dibelakang baying-bayang pohon seseorang berdiri dengan tegap. Ya tidak lain adalah ANBU berang-berang aka Dajime tadi menebas leher salah satu ANBU yang berdiri paling belakang dari rombongan. Pria itu meletakkan mayat seorang Uchiha yang matanya sudah diambilnya kedalam sebuah setoples ke dalam semak-semak. Semuanya dilakukan secara hati-hati dan professional olehnya tanpa cacat sedikitpun.
'kau salah besar ingin mengadukanku pada Sandaime Kitori.. benar-benar salah.'pikirnya sambil menyeringai. Ia langsung bershunshin mengikuti rombongan tadi setelah membersihakan tangannya dari darah dengan cara mengelapkannya ke dedauan saat ia melintasi pepohonan.
Memang benar tadi salah satu ANBU bertopeng burung memanggil Sandaime ingin menyampaikan penemuannya akan kelakukan Dajime yang mencabut bola mata salah satu Uchiha yang mati dalam pertarungan itu. Tapi sayang, belum sempat ia melapor semuanya sudah berakhir dengan matinya si ANBU dalam kegelapan hutan dan bayang-bayangnya.
'Danzō sama aku menyelesaikan misi dengan baik.'pikirnya senang. Tak jauh dihadapan mereka sebuah jurang menganga dengan kabut asap memenuhi wilayah itu. Berwarna keunguan yang begitu menyesakkan dada. Sandaime yang melihat ini langsung berhenti, ia mengangkat tangannya sejenak, membuat semua orang langsung mengerem langkahnya. Beberapa meter di hadapan mereka terdapat barrier berwarna kemerahan, masih aktif dan terlihat melindungi sesuatu yang berupa kabut keunguan di dalam barrier tersebut.
'barrier ini..'pikir Sandaime serius. 'mirip dengan barrier hashirama sama, namun tidak sekuat itu..'pemikirannya diinterupsi dengan ledakan tembakan biru lain di udara. Kelihatannya pasukan Jōnin yang dikirimnya telah menemukan sisi lain barrier. Mereka semua terpisah oleh lembah berisi kabut keunguan itu.
'keunguan.. racun kah?'pikir Sandaime serius. Salah satu ANBU yang tadi mengawalnya maju, melepas hodie nya dan memandang Sandaime penuh respek. "apa yang harus kulakukan Sandaime sama?"
'udara yang terkekang dalam kekai, berwarna keunguan gelap pastilah sangat beracun. Dan Konoha tidak memiliki ahli racun yang benar-benar mumpuni seperti Sunagakure dan Amegakure..'mata Sandaime melebar saat ia menyadari sesuatu. 'jadi racun dari luar, dibantu dengan pembuat barrier dari dalam Konoha.'pikirnya mantap.
"Sandaime sama.."ANBU itu memanggil lagi. Sebenarnya ia sedikit takut untuk memanggil Sandaime saat ninja itu kelihatan bisa melumat siapapun hidup-hidup bila mengganggunya. Tapi barrier itu soal lain, dan ia dengan jelas dapat merasakan bau pertarungan di daerah itu.
"baiklah kita akan-"
"SANDAIME SAMA! SANDAIME SAMA!"tiba-tiba dari balik pepohonan muncul seorang Jōnin yang tergesa-gesa langsung menjatuh diri di depan Sandaime Hokage. Pria itu terengah-engah seperti benar-benar baru melarikan diri dari cengkerama shinigami. Tentu saja para ANBU yang melihat ini langsung bereaksi, mereka hendak menumpas Jōnin itu karena telah bersikap tidak sopan seperti itu dihadapan Sandaime. Namun tangan Sandaime buru-buru menyergah, membuat mereka urung melakukan itu.
"ada apa?"Tanya tegas Sandaime tanpa bertele-tele. "tenangkan dirimu dan katakana padaku, ada apa."imbuhnya masih dengan ketegasan yang sama. Sandaime memandang Jōnin itu serius dan menyentuh bahunya. "katakanlah. Aku disini."
"S-sandaime s-sama.. kami menemukan Kushina sama dan putra Yondaime disisi lain jurang. Keadaan mereka begitu kritis dan.."
BOOM!
Leadakan chakra menggunung Sandaime terasa di penghujung tebing itu. Meruntuhkan beberapa bebatuan yang langsung terjun ke dalam lembah dan tanah disekitar tempatnya berdiri retak. Jōnin tadi tak kalah ketakutannya, ngeri melihat ledakan chakra Sandaime yang mampu membuatnya jatuh berlutut di kaki pria itu.
"medic!"gumam Sandaime tegas. "segera cek yang dimaksud, dan Toroi."ujarnya sambil memandang ANBU Black ops yang sedari tadi mengikutinya intens. "bersiaplah, kita akan segera membongkar barrier ini."
"hai."respon ANBU itu cepat. Sandaime tanpa membuang waktu langsung membuat segel tangan, mensummon 4 buah kage bunshin yang langsung mengambil ke empat posisi dari sudut-sudut kubah barrier itu. Tangannya menyatu antara satu telapak dan telapak lainnya.
'Minato..'pikirnya lagi sebelum membuat segel tangan dengan cepat. "Shuisou Fuin!"
Secara bersamaan klon Sandaime langsung meletakkan tangannya ke permukaan barrier. Tidak seperti sebelumnya, barrier yang menghancurkan apapun itu tidak lagi bersifat menghancurkan, lapisan itu seolah menelan tangan sandaime, kemudian secara perlahan tapi pasti tubuh clone clone itu berhasil masuk ke dalam barrier.
'Sandaime Sama.. sangat wajar jika anda mendapat julukan profesor'ucap mereka pada diri sendiri. Takjub dengan apa yang mereka saksikan, barrier itu bersikap seolah tidak berbahaya sama sekali, bahkan seolah mampu menelan apapun, dan menyilakannya masuk kedalam wilayah yang dilindunginya.
"Kai."bisik Sandaime pelan memberi perintah kepada 4 clone nya yang langsung mencabut masing-masing besi hitam di empat penjuru barrier merah itu. Secara perlahan lapisan merah itu mulai menghilang digantikan dengan kabut keunguan yang menguar ke semua penjuru arah.
"giliranmu Toroi."ujar Sandaime datar. Matanya tidak lepas memandang lembah dihapannya, lembah yang dipenuhi dengan asap keunguan mengepul-ngepul yang mematikan. Dikejauhan sana muncul ANBU lain, berpakaian sama seperti toroi yang siap melakukan jutsu. Mata Sandaime memandangi keduanya dengan pandangan serius penuh harap, sementara tangannya terkepal erat disamping tubuh.
"Suiton : Daibakufu No Jutsu!"
"Futon : Atsugai!"
Angin yang dihasilkan oleh jutsu futon penghancur mulai menerjang kedepan, mengaduk-aduk kabut keunguan itu berpadu dengan aliran air yang ditumpahkan dari arah tebingan. Memenuhi lembah bercampur baur menjadi badai yang meraung-raung di tengah lembah. Sandaime hokage yang melihat ini memejamkan matanya sejenak, kemudian membukanya lagi dengan pandangan kosong.
'kuharap ini berhasil.'pikirnya sambil mengawasi kolaborasi jutsu yang sedang berlangsung. 'air dan angin, menghasilkan badai yang akan menggerakan udara yang terkepung. Racun tak akan kuat menahan air dan angina akan menerbangkan sisanya.. sekarang kita tinggal melihat apa yang terjadi didalam sana.'
. . . . . . . . . .
Beberapa hari kemudian.
Disebuah ranjang rumah sakit seorang pemuda tengah tertidur. Poni dari rambut hitamnya membelah wajah, menutup salah satu matanya. Pada tubuhnya terpasang selang infus, sementara dalam dinding, bersembunyi ANBU yang mengawasinya dalam diam. Ruangan itu begitu sepi, tidak ada yang menjenguknya, atau buah tangan oleh-oleh seperti yang biasa terlihat pada ruang-ruang yang lain. Tapi itu bukan masalah sebab saat ini pemuda itu belum juga terbangun dari tidurnya.
Duakh!
Bunyi itu adalah satu-satunya bunyi yang terdengar saat ANBU Hokage yang diminta berjaga di dalam ruangan terjatuh di tempat. Suasana menjadi semakin sunyi saat beberapa ninja masuk dari luar jendela. Mereka mengenakan pakaian yang sama, berpita merah dan bertanto. Salah satu dari mereka yang mengenakan topeng kucing hutan bercorak merah melangkah elegan ke meja dekat ranjang dan meletakkan buah-buahan diatasnya.
"kau tidak biasanya seperti itu Tenzō."komen temannya tanpa nada. Sementara bocah yang dimaksud hanya mengangkat bahu. Ia berdiri lebih dekat kearah kepala ranjang sedangkan pria lainnya hanya bersedekap di tempat.
"hengenya tidak lepas bahkan ketika ia sedang pingsan.. bocah ini menarik."ucap pria itu datar. "Cakranya cukup kuat untuk menyebabkan itu dapat terjadi."
Tenzō mengangguk, ia mendekati Naruto, kemudian menyentuh botol infus yang terasa hampir habis. Kemudian mendekat kearah pemuda itu, meletakkan tangannya di leher dan kembali memandang rekannya.
"dia.. selamat. Aku tidak tahu apa yang terjadi tapi waktu kita begitu singkat. Dokter akan segera dating untung mengecek dan mengganti infusnya."
Tenzō meletakkan tangannya ke lantai, kemudian memejamkan matanya di balik topeng. Ia berkonsentrasi mengalirkan chakranya pada lantai bangunan, menyensor dan merasakan chakra orang yang berada di dalam sana.
"kita pergi. Akan ada yang datang sebentar lagi."ucapnya santai sambil mengambil salah satu buah yang tadi diletakkannya di atas meja. "sampai jumpa, Ookami."
Kreeeet.
Pintu ruangan terbuka, menampilkan sesosok suster yang langsung mengarahkan pandangannya pada infus yang hampir habis. Wanita muda itu langsung menggantinya dengan sigap, dan dengan muka panik penuh keringat. Kelihatannya ia berlari-lari menuju ruangan itu sejak dari lantai bawah. Entah apa yang membuatnya begitu tergesa-gesa.
"ah infusnya.. astaga aku hampir melupakannya."ucapnya pada diri sendiri linglung. 'mati aku kalau sampai mereka tahu tentang ini..'
"apa dia sudah siuman suster?"
Wanita itu melebarkan matanya. Kemudian melirik kebelakang dan menunduk-nunduk malu, disana, di pintu telah berdiri Sandaime Hokage yang memandangnya tenang. Seperti jika kepanikan si suster tidak sedikitpun merembet padanya.
"S-sandaime sama.."katanya pelan. "ANBU san yang anda maksudkan mungkin akan sadar sebentar lagi. Aku tidak tahu waktu pastinya tapi dari banyaknya jumlah infus yang diserap tubuhnya. Aku yakin pasti tidak akan lama."
"souka.. lanjutkan pekerjaanmu."respon Sandaime lembut. Wanita itu langsung mohon diri keluar dari ruangan untuk melanjutkan tugasnya sementara Sandaime memeriksa kedalam seluruh ruangan. Matanya terpaku pada buah-buahan yang berada di meja di samping ranjang, sedikit mengerutkan keningnya melihat hal itu.
'ANBU yang memiliki pengunjung?'pikirnya analistis. Ia kembali menyapukan pandangannya kedalam ruangan, sampai kemudian menyipitkan mata ketika melihat salah satu ANBU nya tergeletak pingsan di pojok ruangan. Otomatis perhatiannya beralih pada jendela, dahan itu terbuka lebar, membawa udara sejuk masuk kedalam ruangan.
'dan tentu saja membawa tamu tak diundang masuk.'lanjutnya dalam pikiran. Ia meletakkan kepala ANBU tadi bersandar pada dinding, kemudian mendekati jendela. Dari sana pemandangan Konoha terlihat cukup baik, bahkan mendekati lebih baik dari akses pemandangan yang ditawarkan di kantor Hokage sendiri.
'Konoha ya.. begitu banyak harga yang harus ditawarkan untuk melindungi tempat ini.'gumamnya dalam hati. Ia memejamkan matanya sebentar, 'dari zaman Hashirama sama bahkan hingga saat ini, berhasil melewati perang dunia 2 kali dan selamat dari kudeta.'batinnya miris. 'harga apalagi yang akan diambil untuk kedamaian desa ini?'
"Ibu.."
Sandaime tersadar dari nostalgianya, ia melirik kearah pemuda yang saat ini tengah terbaring diatas ranjang itu. Memandanginya dengan raut wajah ingin tahu. Perlahan-lahan tangan si pasien rumah sakit mulai bergerak, Sandaime mengisyaratkan ANBU nya untuk berjaga di pintu, ia pribadi mulai mendekati pemuda itu.
'chakramu adalah Uchiha, dan semua teka teki lainnya.. apa yang sebenarnya terjadi?'pikir Sandaime serius. Secara perlahan-lahan dimatanya terlihat kalau pemuda tadi mulai membuka matanya, walau masih terlalu lambat dalam melakukan itu.
"K-kau.."ucapnya parau, setengah terkejut seperti ingin melarikan diri. Sandaime yang melihat ini langsung meletakkan tangannya dibahu Naruto, membuatnya urung beranjak dari ranjangnya. Suasana begitu hening, Naruto yang terbangun secara tiba-tiba mendudukkan dirinya sambil memegangi kepalanya.
"Apa yang telah terjadi?"ucapnya aneh. "bukankah.. siapa yang membawaku kemari?"tanyanya pada Sandaime bingung. "dan kenapa anda berada disini?"
'kepanikan itu..'pikir Sandaime analistis. Ia menepuk-nepuk bahu Naruto, berusaha menenangkannya. Pemuda itu masih terlihat bingung, antara ketakutan, ingin berlari, wajah seperti orang-orang yang baru saja mengalami kejadian mengerikan. Sandaime menghela napasnya pelan, ia sangat mengerti reaksi itu. Reaksi yang sama yang akan ditunjukkan oleh semua ninja yang telah melalui paling tidak peperangan.
"Kau tentu mengenaliku Naruto.. Uchiha."Sandaime memandang Naruto lembut. Berusaha tidak membuat ninja muda itu lebih ketakutan. Naruto yang mendengar ini meresponnya dengan mata melebar, membuat Sandaime mau tidak mau tertawa pelan.
"Kau mengenali identitasku.."ucapnya aneh. Sandaime merespon ini dengan senyum kecil. "Ninja Konoha yang berada di divisi ANBU, tentu aku akan tahu mengenainya."
Naruto menggeleng kecil, kelihatan masih menolak fakta itu.
"kenapa anda berada disini? Tidak biasanya seorang kage akan menunggui pasien di rumah sakit."matanya memandang kearah Sandaime penasaran. "apa yang anda inginkan?"
Sandaime menutup matanya sebentar, kemudian melirik kearah jendela. Naruto memandanginya dengan pandangan ingin tahu.
"beberapa hari yang lalu Kushina Uzumaki ditemukan terluka bersama dengan putranya di dalam hutan kematian tidak jauh dari lembah batu tempat sebuah pertarungan berlangsung."Sandaime melirik kearah Naruto untuk melihat reaksinya. "dan aku juga menemukanmu berada disana, bersama keduanya."
Naruto tidak melihat kearah Sandaime, sebaliknya malah melirik kearah tangannya. Ia seperti bingung, tapi tetap mendengarkan ucapan Hokage Ketiga itu.
"aku.."
"Ya. Kau berada bersama mereka, terluka namun selamat."ucap Sandaime mantap. "walaupun harganya adalah nyawa Yondaime Hokage."
"aku.."ucap menggantung Naruto lagi. Sandaime yang melihat ini mencoba-coba membuat kemungkinan dalam pikirannya. Tapi tidak menemukan satu pun opini yang paling cocok. Jadi dia menghadapkan tubuhnya kearah Naruto, memandanginya lekat.
"dia meninggal untuk melindungi Konoha, dan apapun itu yang terjadi disinilah kenapa aku mengunjungimu."
"maksud anda?"mata Naruto menyipit memandang Sandaime ingin tahu. "apa yang anda inginkan?"
"Semua yang kau tahu, termasuk keterlibatanmu dalam kejadian itu tanpa terkecuali."jawab Sandaime tegas. "dan jangan mencoba menutupi apapun dariku, karna sungguh clan mu akan menderita akibatnya bila saja itu terjadi."lanjut Sandaime penuh penekanan.
Naruto memandangi pria bermarga Sarutobi dihadapannya dengan pandangan antara campuran bingung, ketakutan, penasaran, dan aneh. Perasaan yang begitu kompleks untuk dirasakan oleh seorang ninja yang baru saja selamat dari maut peperangan.
"aku.. bersedia."responnya pelan sebelum semuanya menjadi hitam. Naruto kembali tergeletak di ranjangnya, dengan Sandaime yang menghela napasnya pasrah.
"apa aku melakukan hal yang berlebihan sensei?"gumamnya pada diri sendiri.
TBC.
