Yo! Yoayo! Haha, aku kembali. Aku benar-benar merindukan kalian readers. Dan ini salah satu kabar baiknya, aku kembali menemukan ide untuk fic ini. Semoga ini cukup untuk menjadi salam pembuka untukku yang menghilang selama berbulan-bulan.

Selamat hari raya idul fitri bagi yang merayakan.

Aku menunggu responnya. Fanfic is never die!

SEMOGA TIDAK MEMBOSANKAN

Chapter 25

Skip time.

6 bulan kemudian.

Seorang pria bertopeng serigala tengah duduk di atas patung monument kage. Rambut hitamnya berkibar gagah ditiup angin, ditambah dengan atribut abu-abu ANBU yang dikenakannya. Ia meletakkan katananya di samping tubuh, sementara tangannya perlahan-lahan meraih topeng, melepaskannya dari wajah. Di atas langit, rembulan berkilau lembut, sementara suhu udara benar-benar hangat dan bersahabat. Tampak jelas dari atas sana bahwa Konoha benar-benar menawan, Konoha yang.. sedang dalam perbaikan. Walau masih tetap cantik dari atas sana.

"Nee, Desa yang benar-benar terlindungi,"

Dari balik kegelapan, sesosok lain muncul, dengan topeng khas kucing hutan. Seperti biasa, memakai seragam hitam berpita merah dengan tanto di punggung. Bocah berumur 13 tahunan itu duduk disebelahnya. Mereka memandangi Konoha bersama, dalam keheningan, dan dalam pemikiran yang campur aduk.

"Seragammu terlihat pas, Ookami."mulainya berbasa-basi. Bocah itu duduk bersila sambil memandang kearah langit, seperti orang bodoh mengagumi bulan. Naruto menyeringai dalam hati, berpikir bahwa jika diperhatikan Tenzou adalah orang yang ramah juga.

"Seragammu juga."ujar Naruto pelan. Ia kembali memandangi langit yang bersih dari gangguan awan.

"Seragamku selalu pas baka."Tenzou mencebik, walau tidak terlihat karena tertutupi topeng.

Naruto membuang napasnya asal, "Seragamku juga."

Suara angin dari daun yang bergesekan terdengar. Naruto memejamkan matanya lambat-lambat, kemudian mendongakkan kepalanya kearah angkasa. Disana, bulan yang terang tengah mengambang di langit, menyinari Konoha dalam diam. Begitu cantik, dan tak tersentuh.

"kau tahu Tenzou, kadang-kadang aku berpikir bahwa ini semua lama-lama jadi merepotkan juga. Mengurusi ini, hal-hal semacam ini, tidak ada kedamaiannya sedikitpun. Manusia selalu saja membuat ulah, membuat masalah baru dan perang baru, sementara manusia lain akan turun tangan untuk membereskan masalahnya. Ini kelihatan sedikit ribet dan melelahkan.."kata Naruto pelan, kali ini membaringkan tubuhnya ke permukaan patung yang keras dan dingin sambil meletakkan tangannya dibelakang kepala sebagai bantalan.

"berbicara seolah kau bukan manusia eh?"Tenzou tertawa kecil. "tapi aku paham maksudmu. Aku sudah melaksanakan misi beberapa waktu sebelum kau bergabung, jadi kurasa sebaiknya aku mengeluh juga."

Naruto mendesah.

"ngomong-ngomong para Ansatsu tidak begitu buruk juga."kata Naruto kalem. "hanya sedikit.. ramai. Entahlah, aku hanya tidak mengerti mengapa mereka perlu mengobrol saat misi untuk hal yang tidak perlu. Strategi yang aneh."

Tenzou menyeringai. "kedengaran seperti Ookami telah menyukai Ansatsu.. Sebentar lagi kau akan lebih menyukainya lagi. Rasa kemanusiaan itu, keramaian dan kerepotan itu."

Naruto menggendikkan bahunya. "setidaknya kita tahu, Ookami tidak pernah menjadi emo seperti bocah disebelahku ini."

"APA KAU BILANG?!"awan hitam menghiasi kepala Tenzou. Naruto yang merasakan aura ini tersenyum, kemudian bangkit mengambil katananya dan bersiap melompat. Sementara di tempat Tenzou membuat seal tangan dengan cepat.

"Mokuton :-"

"Katsu!"

Dari belakang Tenzou kertas peledak meledak, membuat konsentrasi Anbu itu terpecah sementara ketika ia melihat kearah tempat Naruto berdiri, pemuda itu—Bocah—sudah tidak ada ditempatnya. Lagi-lagi hanya patung kepala kage yang sunyi, dan gemerisik daun yang tertiup angin. Salah satu dari daun itu terjatuh, dan tenzou menangkapnya dengan sigap.

"Ah.. aku tidak tahu kalau kau bertumbuh dengan cepat ya Ookami.. licin seperti biasa.. si emo itu."ujarnya tertawa sambil membalik daun digenggaman tangannya.

'waktunya patroli.'pikirnya lalu menghilang dalam kegelapan malam, mengikuti jejak Anbu lain yang lebih dulu telah meninggalkannya.

. . . . . . . . .

Bersama Naruto

"..Jadi singkatnya begini, ada banyak sekali kejadian di Konohagakure sejak beberapa saat sebelum hari ini. Mulai dari meninggalnya Yondaime Hokage akibat Kyuubi, para Uchiha yang dibantai, dan peperangan dari pihak yang tidak dikenal di lembah batu. Tidak semua orang di Konoha mengetahui ini semua dan hanya sekelompok elite ninja yang diberitahu, walau dalam beberapa hal seperti berita meninggalnya Yondaime benar-benar tidak dapat dirahasiakan. "

Naruto dalam armor abu-abunya hanya diam mendengarkan penjelasan para Chunnin baru diangkat itu. Matanya terlihat bosan mengamati para Chunnin yang mengobrol di areal tempat makan sambil sesekali tertawa genit kearah gadis-gadis yang lewat. Seperti biasa kehidupan para ninja juga dikenal dengan istilah kehidupan malam. Dan dengan desa yang kondisinya lambat laun sudah mulai stabil ini, hal tersebut sudah tak terelakan lagi, kenyataan bahwa banyak sekali ninja yang mulai mangkir dari tugas patrolinya.

Naruto mendesah.

'apa yang kubilang tentang pekerjaan aneh para Ansatsu ini..'batinnya menggerutu.

Dari tadi dia bersembunyi di atas rerimbunan pohon. Tugasnya adalah berpatroli dan sedikit banyak.. mengambil alih tugas kepolisian Uchiha yang kebanyakan anggotanya sudah tewas. Dalam hal ini, sedikit terdapat pergeseran porsi untuk skuad kepolisian, tidak lagi didominasi oleh klan Uchiha untuk sekarang. Namun tetap saja, itu dampaknya besar sekali bagi desa. Adalah tugas para polisi Uchiha yang akan membereskan masalah ninja yang mangkir patroli atau menyebarkan info yang tidak seharusnya diketahui civilians dengan sembrono.

'dulu..'

Dan sekarang, itu termasuk ke dalam tugas hariannya.

'oke, ini akan berlangsung cepat.'pikir Naruto sambil melihat daftar list ninja yang berpatroli hari ini. Ia mencocokkan datanya, baru kemudian menyimpan kembali daftar tersebut ke balik armor. Matanya lagi-lagi melirik kearah bulan, membayangkan betapa enaknya bisa memandangi benda berkilau itu tanpa terganggu misi.

"…aku? Kau Tanya aku tahu dari mana? Tentu saja aku diberitahu karena aku adalah seorang elite! Hahaha!"koar ninja itu sambil menepuk dada, didekatnya sudah bergerombol gadis-gadis malam. Mereka kelihatannya berusaha menikmati malam yang dingin.

"…dan sebentar lagi akan ada rencana-"

Trap!

Kunai itu melayang tepat disebelah Chunnin itu, sedikit menyerempet armornya tapi tetap tidak melukainya terlalu banyak. Semua atensi mengarah kearah pohon besar dekat stand makanan yang saat ini semua penghuninya menjadi diam.

"Ogare Utataki.."sesosok bertopeng serigala turun. Dia memandang Chunnin yang terdiam baru kemudian memandang rekan Chunnin tersebut. "dan rekannya, Kaminari Sarutobi."

"k-kenapa.. k-kau menyerangku?! A-aku tidak punya masalah denganmu!"Ogare, yang berambut coelat panjang menuding kearah si Anbu, sementara sisa pengunjung kelihatan terdiam dan sibuk memandangi makanan masing-masing.

"kau masih bertanya apa salahmu setelah meninggalkan patroli?"Ookami mengangkat tangannya sebelah kanan. Membuka dan menutupnya beberapa kali.

"mau aku yang menegurmu atau dewan disiplin?"mata Naruto memicing, ia memandangi pria bermarga Sarutobi yang juga berada disana.

"dan kenapa kau malah mengikuti tindakan bodoh temanmu?"lanjut Naruto masih dingin. Sekarang dia memandangi gadis-gadis yang terdiam karna insiden kunai tadi. "lupakan kejadian ini, makanlah, dan kembalilah ke rumah."

"h-hai!"

Ketiganya beranjak pergi sementara pengunjung yang lain masih membisu ditempat. Naruto kembali memandang kearah Ogare, memiringkan kepalanya sedikit seperti meminta penjelasan. Chunnin itu serta merta memandanginya dengan pandangan horror.

"a-aku telah berpatroli, kami hanya beristirahat sejenak dan k-kupikir tidak apa-apa sebab Konoha telah aman d-dan k-kami..-"

Naruto bergeming.

"-mangkir dari tugas."ujarnya pelan menyambung ucapan Chunnin yang ketakutan itu. Di dalam stan perlahan-lahan orang-orang mulai keluar, berusaha menjauh dari konfrontasi Shinobi yang tengah berlangsung, termasuk di dalamnya gadis-gadis yang tadi mengobrol dengan Chunnin-chunnin ini.

'Ugh.. orang yang dingin, aku tidak tahu apa yang terjadi tapi lebih baik aku pergi.'orang-orang mulai beranjak dengan pemikiran yang serupa. Mereka mau tak mau harus menghindarkan diri dari masalah jika ternyata ada pertarungan antara si ANBU dengan ninja-ninja itu.

'padahal aku baru memesan makanan.. oh sake.'

'malam yang tidak diberkati.'batin yang lain sambil ikut melangkah pergi. Mereka bubar ke arah yang bervariasi, intinya hanya ingin menghindar dari stan yang sekarang suasananya tidak lagi hangat bersahabat.

'sial, ANBU yang mengawasi para ninja membuat semua orang keluar. Lain kali harus bagaimana lagi aku mempertahankan pelangganku..'batin si pemilik stan. Dia berusaha untuk tidak terlihat memprotes, tapi malah gesture itulah yang ditampakkannya. Ia membereskan stannya buru-buru, kemudian melirik kearah ANBU bertopeng serigala yang masih berdiri kaku di depan stannya. Saat itu juga ANBU itu memandanginya balik, mengirimkan aura tidak menyenangkan yang membuat bulu kuduknya berdiri.

'ANBU yang mengerikan.. dingin sekali auranya.'pikirnya dongkol. 'bukan tipe yang bisa diajak bekerja sama..'

"k-kami t-tidak melanggar apapun ANBU-san.. sungguh kami hanya beristirahat sejenak karena kelelahan."

ANBU Ookami terlihat bergeming.

"K-kami baru saja sampai. S-sungguh! K-kami..-"

Topeng serigala itu bergerak ke kiri dan ke kanan pelan. Kemudian dengan sigap Anbu Ookami menghilang dan muncul di belakang dua orang Chunnin terduga bersalah itu. Naruto dengan cepat memakai gagang tantonya memukul punggung keduanya keras, menjatuhkan keduanya dalam satu gerakan super kilat.

"baiklah. Jelaskan alibimu pada dewan besok."gumamnya pendek. Pemilik stan yang menyaksikan ini membelalakkan matanya, dia beringsut takut ke dinding. ANBU Ookami yang tadi berdiri di antara dua tersangka tadi ikut-ikutan memandanginya dengan pandangan menilai.

"sampai jumpa."ujarnya lalu bershunshin sambil membawa 2 orang tadi meninggalkan stan makanan itu.

'malam lain yang merepotkan.'pikir Naruto dalam diam. Sekilas ia melirik kearah langit, mencermati goresan alam yang indah di sana. Benar-benar hari yang indah, rembulan berkuasa di langit sampai-sampai itu cukup untuk menyinari pepohonan. Malam ini malam benar-benar tenang, alam yang benar-benar bersahabat untuk dinikmati tanpa misi merepotkan.

"baiklah. Ini yang terakhir."gumam Naruto menyemangati diri sendiri sambil memandangi 2 orang Chunnin yang tadi di tangkapnya. "setelah ini aku akan.. oh sudahlah."Naruto menggelengkan kepalanya pelan. 'ya.. sudahlah..'imbuhnya sambil memandang ke depan netral.

Surai hitam itu bergerak pelan ditiup angin, mengiringi langkah pemuda berseragam ANBU itu. Ia telah sampai di depan gedung kepolisian Konohagakure. Sebuah gedung yang diberi logo Uchiha pada bagian depan bangunannya. Langkahnya perlahan, Naruto membawa dua orang tadi untuk di data—kurung—di kantor kepolisian Konoha yang sekarang sangat erat asosiasinya dengan para ANBU. Sesampainya disana yang perlu dia lakukan hanyalah meninggalkan dua orang ini beserta identitas mereka pada polisi yang sedang bertugas.

"Anbu Ookami,"Naruto menunjuk dirinya sendiri. Kali ini yang berada di hadapannya adalah seorang Jōunin Ninja, non Uchiha, dan kelihatannya cukup semangat menghabiskan hari dengan ninja-ninja bermasalah yang ditangkap baik oleh polisi Konoha itu sendiri atau tangkapan para ANBU. Matanya masih memancarkan aura semangat walau malam kelihatannya sudah mulai hampir mencapai titik puncaknya.

"Kaminari Sarutobi dan Ogare Utataki."Naruto menunjuk dua orang tangkapannya bergantian. "Aku menuliskan semua detailnya dalam kertas itu."lanjut Naruto sambil menyerahkan kertas tugasnya tadi, masih tetap dengan topeng di wajah.

"baiklah laporan diterima ANBU-san."petugas itu menganggukkan kepala, sambil mengambil kertas laporan yang diberikan oleh ANBU serigala di hadapannya. Matanya melirik ke arah dua ninja yang masih pingsan di tempat, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.

"ck. Chunnin entah yang ke berapa."ucapnya sambil lalu. Naruto mengabaikan itu, kemudian merapikan posisi katana-nya.

"Sampai nanti."gumam Naruto sopan, tapi sebelum ia sempat bergerak meninggalkan ruang depan kantor kepolisian itu, ninja tadi keburu mengejarnya. Sengaja melompati meja setinggi 1 meter tempat dia biasa menuliskan laporan dan menghentikan langkah Naruto. Di tangannya terdapat sebungkusan makanan, dan buah-buahan.

"ANBU-san, istriku menitipkan ini untuk Kushina-sama."kata pria itu sambil menyerahkan bungkusannya pada Naruto. Yang diserahi hanya mengangguk ringan, tidak terlalu tertarik, tapi juga tidak bersikap tidak sopan.

"katakan pada istrimu, Kushina-sama pasti senang menerimanya. Aku mohon diri."Naruto ingin melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar, tapi Ninja tadi kembali mendahuluinya mengambil langkah. Alhasil ia kembali berhenti, matanya memandangi orang itu dengan pandangan benar-benar kesal, dan lelah.

"ck. Merepotkan."ninja itu menggerutu pelan. "aku turut prihatin dengan apa yang terjadi pada Uchiha clan.. Naruto-san."

Naruto menaikkan alis matanya di balik topeng. Sedikit kaget karena orang dihadapannya ini mengetahui identitasnya. "kau tahu kau tidak seharusnya menyebut identitasku saat aku bertugas.. Nara-san."

Pria berkuncir dihadapannya mengulurkan tangan ke depan, mengarahkannya pada ANBU serigala itu, senyumnya mengembang tulus. 'kau memang cerdas Naruto Uchiha, walau tidak banyak cerita tentangmu sebagaimana cerita tentang Minato..'Shikaku kembali mengenang tentang sahabat blondenya itu.

"namaku Shikaku Nara, maaf membuatmu jengkel tapi kita tahu bahwa tak ada orang lain yang terjaga di sini kecuali kau dan aku."tangannya menunjuk dirinya sendiri dan Naruto.

Naruto mendesah, kemudian menjabat tangan pria dihadapannya. Ternyata tinggi mereka adalah serupa, mungkin hanya berbeda 1 atau 2 cm, sebenarnya sungguh tidak jelas mana dari mereka yang lebih tinggi. Sebelah tangan Naruto yang lain terarah ke topengnya, menggesernya pelan, cukup agar orang dihadapannya memandang wajahnya, dan mengembalikannya ke posisi semula setelahnya.

"Naruto Uchiha."

Mereka berjabat tangan beberapa saat.

"aku berharap kita bisa mengobrol lain waktu.. Naruto-san."

Naruto menaikkan bahunya. "aku akan mengingat itu. Apa ada lagi hal yang ingin kau sampaikan?"

Shikaku menggelengkan kepalanya pelan, lalu tertawa kecil sambil meletakkan sebelah tangannya ke dalam kantung. "aku akan kembali pada posku. Kupikir kau ingin beristirahat atau apa."ia mengedipkan sebelah matanya cepat.

"aku tahu kau siap membunuh siapapun untuk tidur Naruto-san. Pulanglah. Aku tak akan menghalangimu lagi."ujarnya sambil menepuk bahu Naruto pelan saat melintasinya. Naruto menyeringai dibalik topeng, kemudian kembali memandang ke depan, tepat kearah pintu keluar kantor itu.

"aku mohon diri kalau begitu."gumamnya ringan sambil melangkah meninggalkan kantor yang suasananya masih kental dengan atribut clannya. Sebuah clan yang saat ini sedang benar-benar berduka akibat tragedy yang menimpanya beberapa waktu yang telah lewat.

'malam yang menenangkan..'pikir Naruto sambil berlari menuju kearah rumah mendiang Yondaime Konoha. Rumah yang selalu dikunjunginya setiap habis bertugas sejak hari dimana ia siuman dan ditemukan oleh Sandaime Hokage.

"Yondaime.."gumamnya pada angin. Kepalanya otomatis kembali pada peristiwa itu, hari lain dimana ia harus menjalani hidupnya seperti saat ini.

Flash back.

Mata Naruto memandang ke depan, fokus pada pria berjubah api berkanji 'Sandaime Hokage' itu. Kepalanya masih sakit, namun yang ia masih tidak habis pikir adalah tubuhnya tetaplah tubuh henge dewasanya. Entah bagaimana bisa terjadi, tapi kelihatannya kecuali ia membatalkan henge itu, maka ia tidak akan berubah menjadi bentuk aslinya.

Identitas aslinya.

"Ya. Kau berada bersama mereka, terluka namun selamat."ucap Sandaime mantap. "walaupun harganya adalah nyawa Yondaime Hokage."

"aku.."ucap menggantung Naruto lagi. Sandaime yang melihat ini mencoba-coba membuat kemungkinan dalam pikirannya. Tapi tidak menemukan satu pun opini yang paling cocok. Jadi dia menghadapkan tubuhnya kearah Naruto, memandanginya lekat.

"dia meninggal untuk melindungi Konoha, dan apapun itu yang terjadi disinilah kenapa aku mengunjungimu."

"maksud anda?"mata Naruto menyipit memandang Sandaime ingin tahu. "apa yang anda inginkan?"

"Semua yang kau tahu, termasuk keterlibatanmu dalam kejadian itu tanpa terkecuali."jawab Sandaime tegas. "dan jangan mencoba menutupi apapun dariku, karna sungguh clan mu akan menderita akibatnya bila saja itu terjadi."lanjut Sandaime penuh penekanan.

Naruto memandangi pria bermarga Sarutobi dihadapannya dengan pandangan antara campuran bingung, ketakutan, penasaran, dan aneh. Perasaan yang begitu kompleks untuk dirasakan oleh seorang ninja yang baru saja selamat dari maut peperangan.

"aku.. bersedia."responnya pelan sebelum semuanya menjadi hitam.

Di hari yang sama, dia menemukan dirinya berada dalam satu markas, dibawah tanah, namun bukan training ground NE. itu sama sekali berbeda, dan disana dia melihat seseorang yang sudah sangat dikenalinya, berbendana dengan tubuh besar bersama dengan seorang Sandaime yang berada di kejauhan.

"Ibiki-san."ucapnya pelan, masih terduduk di tempatnya. Pria tadi mengangguk, mereka saling mengenal karena misi dan intensitas pertemuan yang diadakan NE. "Naruto Uchiha."sapa balik pria itu. Saat ini dia memandangi Naruto, intens, seolah menyampaikan pesan yang tak tersampaikan lewat ucapan. Pria itu melanjutkan membaca kertas di tangannya.

"Nama : Uchiha Naruto

Code Name : Ookami (Serigala)

Umur : 18 Tahun

Tinggi Badan : 168 cm

Klasifikasi : B-Rank Ninja

Kemampuan :

-Ninjutsu 3.0

-Taijutsu 3.0

-Kenjutsu 3.0

-Genjutsu 4.0

Informasi tambahan : ANBU sejak umur 15 tahun

Divisi ANBU : Divisi 13

Spesialisasi : Spionase dan Pengintaian.

Penugasan : Black Ops"

Naruto terperangah, dia ingin memprotes sebelum Ibiki mendekatinya dan meremas tangannya. Mereka diawasi oleh banyak sekali ANBU dan satu gerakan kode tentu akan sangat Nampak dimata orang-orang itu.

"kau akan dituntut untuk menjelaskan mengenai peranmu dalam konflik yang terjadi dalam lembah batu. Mengenai absensimu dalam melapor pada kesatuan ANBU dan Hokage, serta dintuntut untuk menjadi lebih intensif menjalankan tugasmu sebagai ANBU mulai saat ini dan seterusnya. Apa kau bersedia?"

Naruto merasa pening, tapi dia tetap harus melayani kerusuhan ini sebelum bisa beristirahat dengan tenang.

"Aku bersedia."

Dari arah belakang muncul dua orang ANBU lain, berarmor abu-abu, yang membawa besi panas berlogo spiral air. Naruto yang melihat ini melebarkan matanya, tahu bahwa besi itu benar-benar telah dipanaskan dengan sempurna.

"kalau begitu status Black Ops-mu dicabut dan akan digantikan dengan status menjadi ANBU resmi mulai saat ini."lanjut Ibiki tegas. Dia memberi 2 orang tadi sinyal, sedangkan Naruto yang tidak tahu apa-apa cukup terkejut saat satu dari orang itu merobek sebelah lengan bajunya.

"peresmianmu dihadiri oleh Sandaime sendiri. Mulai saat ini kau akan menjalani masa pengabdian sebagai ganti masa absensimu dan diminta untuk menyerahkan laporan mengenai peranmu dalam peristiwa lembah batu."

Flash back end.

"ya…"gumam Naruto sambil mengelus lengan kanannya. Disana sebuah tato spiral air membekas dengan tegas, kembali membuatnya ingat hari dimana Sandaime menjemputnya dari rumah sakit untuk dibangunkan dalam ruangan yang saat ini dikenalnya sebagai markas ANBU Hokage. Markas para ANBU yang berisiknya luar biasa.

'para Ansatsu..'

Naruto terus berlari dalam diam, dia melewati atap-atap rumah sambil sesekali melirik bulan yang seperti mengikutinya. Ia memejamkan matanya sejenak, menikmati udara yang saat ini melewatinya.

'oh ayolah.. Menma tidak seburuk itu.'

Tap!

Naruto berhenti, dia memandangi lampu rumah besar itu, disana, dibawah naungan sinar lampu, sebuah tangga tampak begitu bersih dan benar-benar terawat. Tangga yang selalu dilihatnya setiap hari mulai hari itu, dan akan selalu dilihatnya sejak saat itu.

'baiklah. Akan kulakukan.'naruto menghembuskan napasnya asal. 'ayo Konoha. Demi Konoha.'batinnya mencoba menyemangati diri.

Naruto melangkah dengan tegap menapaki tiap anak tangga, saat itu jam telah mencapai pukul 11.30 dimana malam hampir mencapai titik puncaknya. Dia mengetuk pintu 3 kali, dan menunggu dengan sabar.

Kriiiiet.

"Touchan!"

Bukanlah sesosok berambut merah yang nampak, tetapi sosok lain. Berambut pirang terang dengan warna mata shappire muncul dari balik pintu dengan tangan menggapai-gapai kearahnya dari gendongan Kushina Uzumaki. Naruto memandangi ini tidak lagi dengan berjengit, tetapi sebaliknya ia menyambut tangan bocah itu dengan pandangan lembut.

"halo.. Menma-gaki."

Bocah itu menggeliat dalam gendongan Kushina yang tersenyum nerves. Tubuhnya diulurkan panjang-panjang kearah ANBU serigala di hadapannya.

"mungkin sebaiknya kau membersihkan diri dulu.. Naruto-kun. Hey tenanglah Menma-chan.. Naruto-kun tidak akan kemana-mana."

Naruto menggaruk belakang kepala nya pelan. Kemudian masuk dan melepaskan topengnya, dilain hal Menma tetap menggeliat dalam gendongan Kushina Uzumaki. Dia menggumamkan kata 'Touchan' berkali-kali.

"he-eh, mungkin sebaiknya aku menggendongnya dulu Kushina-san."gumam Naruto bingung, dia mengulurkan tangannya kearah Menma yang disambut dengan antusias bocah itu. "Touchan! Touchan!"

Kushina tertawa kecil mendengarkan putranya yang cadel berbicara. Dia masih memeluk Menma dengan erat, "tidak. Kau mandilah dan gantilah baju. Menma bisa menunggu."titahnya pada Naruto serius. Kushina menenangkan Menma dengan menggendongnya sambil menggerak-gerakkan bocah itu ke kiri dan ke kanan. Berharap bocah itu mau tidur, tetapi seorang bocah tetaplah bocah yang kalau keinginannya tidak diruti menjadi rewel.

"Touchan! Touchan!"

Naruto menaikan alisnya, ia melirik bocah blonde itu sebentar, sesuatu yang dibalas dengan antusiasme yang tidak berkurang dari si bocah. "Touchan!"

Naruto menggeleng pelan, "aku akan membersihkan diri sebelum menggendongmu gaki."

Kushina mengangguk. "aku akan menyiapkan makanan."gumamnya sambil melangkah ke dapur, Menma menggeliat menggapai-gapaikan tangan kearah Naruto saat ibunya membawanya menjauh dari ANBU serigala itu.

'gaki..'pikir Naruto dalam diam dan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. 'Menma-gaki..'

Flash back.

20 hari telah berlalu sejak hari dimana Naruto resmi mendapatkan armor ANBU-Hokage-nya. Dan 25 hari setelah kejadian nahas di lembah batu. Konoha mulai berbenah, memperbaiki apa yang bisa diperbaiki, sekaligus memastikan bahwa informasi mengenai kekacauan hari itu tidak tercium sampai ke elemental nation. ROOT melakukan tugasnya dengan baik dalam hal itu, sedangkan untuk Uchiha clan yang paling banyak menjadi korban, orang-orang membuatkannya sebuah monument lain, diberisikan disana daftar ninja yang gugur dalam 'Invasi Lembah Batu' hari itu. Orang-orang berduka, dan terdapat pergeseran formasi besar-besaran dalam tubuh kepolisian Konoha akibat tewasnya setengah dari personelnya.

Naruto baru saja melaksanakan misi pertamanya bersama tim dari ANBU Hokage. Dan saat ini mereka tengah melapor kepada Hokage mengenai keberlangsungan misi yang dilaksanakan. Naruto hanya diam saja di sepanjang waktu, sesuatu yang tak luput dari perhatian Sandaime Hiruzen Sarutobi. Pria itu mengisyaratkan padanya untuk tinggal saat 2 personel lain mohon diri. Walaupun begitu, Naruto tetap menunduk, menampakkan sikap tidak bergairah sedikitpun dengan titah sang Hokage, dia tetap berdiam diri mencoba bersikap sopan pada superior dihadapannya.

"aku tahu kau masih berduka mengenai apa yang terjadi atas clanmu, Ookami."

Naruto diam saja. Dia memutuskan bahwa tidak ada yang perlu ditanggapi. Mendapat respon yang nihil, Hiruzen Sarutobi berdehem, pria itu mengepulkan asap cerutunya ke udara lalu tersenyum simpul.

"kita harus kuat karna kitalah pelindung Konoha. Aku dan semua ninja termasuk dirimu tentu tahu bahwa kematian adalah harga yang pasti untuk sebuah kedamaian. Kematian dan kepercayaan.."imbuhnya di akhir sambil memandangi ANBU di hadapannya dengan intens.

"bangkitlah dan lihat aku Naruto Uchiha."

Naruto berdiri dari lututnya, masih tetap diam dan memandangi Sandaime, aka pemimpinnya dengan pandangan kosong. Hiruzen yang melihat ini menghela napasnya ringan.

"kau akan membaik seiring dengan waktu. Aku percaya itu.. Gaki."gumam Sandaime sambil mengulurkan sebuah kertas misi.

"sebelum aku memberimu misi ini, ada yang harus kuberitahu padamu. Sesuatu yang aku yakin kau sudah mengetahuinya."mata hitam itu memandangnya tegas. "Kushina Uzumaki mengalami trauma dan krisis kepercayaan.. berulang kali menyerang ANBU yang menjaganya."

Naruto menaikkan alisnya dari balik topeng, "aku tidak mengetahui ini Sandaime-sama."

Sandaime tersenyum kecil meihat Naruto memberikan respon.

"aku tahu kau tidak mengetahuinya. Namun kau tentu tahu alasan mengapa dia mengalami trauma dan krisis kepercayaan. Aku melihatnya dengan jelas bahwa dia hampir tidak mempercayai siapapun kecuali aku.. dan rekan setimnya dulu. Tambahan baru, dia hanya mempercayai kau."Sandaime memandangi Naruto spekulatif. "statusnya tetaplah Jinchuriiki Naruto, tapi lebih daripada itu aku memandangnya sebagai seorang Kunoichi yang kuhormati. Seperti anakku sendiri."

Naruto tetap diam, ini membuat Sandaime meneruskan ucapannya.

"dia sedang mengalami trauma berat, menolak untuk dikawal siapapun.. sejauh ini tak da satupun orang pilihanku yang dipercayainya. Dia menjadi agresif, belum lagi dengan posisinya sebagai ibu muda atas putranya yang baru menginjak umur belum genap 1 bulan. Satu elemental nation memang tidak mengetahui kisruh yang terjadi, tapi satu elemental nation mengetahui bahwa Kushina Uzumaki sedang tidak berada dalam kondisi terkuatnya saat ini."

Berbicara mengenai taktik, Naruto sedikit banyak sangat paham bahwa ini adalah masalah mengenai Jinchuriiki. Walau Sandaime hokage mengungkapkannya dengan berbelit-belit, dia yang terlatih di ROOT tentu bisa membuatnya menjadi lebih mudah : Jinchuriiki bisa diculik kapan saja saat ini.

Sandaime memandangi Naruto tenang.

"kami membereskan banyak berkas Yondaime, memantau semua list misi yang diberikan dimasanya, dan menemukan bahwa namamu terdapat dalam jajaran atas misi tingkat tinggi di eranya."Sandaime mengangkat daftar misi era Yondaime ditangannya. "dia menempatkanmu dalam misi tingkat-S, yaitu mengawal sang Jinchuriiki."

'dan lebih dari itu aku tahu.. Minato mempercayakan istrinya berada dalam pengawasanmu.'imbuh Sandaime dalam hati.

Jika tidak memakai topeng pastilah ekspresi kosong Naruto terlihat linglung sekarang. Sandaime kembali melanjutkan narasinya.

"aku tahu kau bukan orang bodoh Naruto Uchiha, kau tentu tahu maksud dari semua penjelasan tadi bukan.."Sandaime menaikkan alisnya, mengundang Naruto untuk memberi respon. Pemuda itu mengangguk mantap.

"anda ingin aku mengawal Kushina Uzumaki.. sebagaimana misi terakhir yang diperintahkan atasku. Misi ini lebih terkait pada kepercayaan dibandingkan dengan skill yang kumiliki."

Sandaime tersenyum kecil, dia membalikkan kursi Hokagenya untuk memandang gunung kage.

'pemuda yang selalu berterus terang..'pikir Sandaime analistis. Padahal pendidikan ANBU tidak akan membentuk seseorang sampai menjadi jujur dengan kejujuran sebrutal itu. Itu membuatnya ingat akan seseorang yang dengan cepat segera ditepisnya.

"misi ini milikmu. Awasi dia dan lanjutkan tugas yang telah diamanatkan padamu oleh Yondaime."tukas Sandaime setelah beberapa saat. Dilain hal, Naruto Uchiha memandanginya kali ini, pandangan yang tidak lagi intens tapi seperti linglung.

"aku tentu memiliki misi lain selain ini bukan? Bagaimana aku harus mengawasinya Sandaime-sama?"

Sandaime tertawa kecil.

"itu tugasmu untuk mencari caranya Naruto-kun. Aku tak akan membuat ketetapan-ketetapan lain. Inti dari semua ini hanyalah aku ingin kau menjaganya."

Naruto mendesah.

"hai sandaime sama. Aku akan benar-benar berusaha menjaganya."gumam tegas Naruto sambil balas memandang ke arah Sandaime. Pria Sarutobi itu serta merta membalikkan kursinya, mereka kembali berbicara berhadap-hadapan.

"dan satu lagi Ookami.."Sandaime menekukkan kedua tangannya di atas meja, dia membersihkan cerutunya. "kau tentu mengetahui mengenai Namikaze Menma bukan?"

Naruto mengangkat bahunya. "aku bersamanya di hari kelahirannya Sandaime."

Sandaime yang melihat ini mengangguk luwes. "hanya ingin mengingatkanmu bahwa Namikaze Menma adalah bagian dari misi ini, dia tak terpisahkan dari Kushina Uzumaki. Dan dia juga menjadi tanggung jawab misimu."

"hai Sandaime, aku mengingatnya."gumam Naruto sebelum keluar dari kantor Hokage.

Flash back end.

"-uto-kun! Naruto-kun!"

Naruto mengerjabkan matanya dua kali. Dihadapannya tangan kecil Menma membuka dan menutup berulang kali, mengundang untuk digendong. Serta merta Naruto mengulurkan tangannya, meletakkan bocah itu dalam dekapan yang ringkuh. Kushina tersenyum kecil memandang ini, mereka tengah berada dalam ruang makan, bersiap untuk melangsungkan makan malam.

"Touchan! Touchan!"

Bocah blonde itu menyentuh pipinya berulang kali, sedangkan Naruto tersenyum nerves. "Yo.. Gaki.. kau tidak tidur sampai selarut ini?"

Kali ini yang menjawa adalah Kushina, tentu saja karena Menma belum bisa berbicara kecuali mengucapkan Touchan berulang kali.

"dia sudah tidur sebelum kepulanganmu. Namun saat mendengar ketukan di pintu, dia bangun dan kembali bergerak-gerak seolah ingin menyambutmu."

Naruto tersenyum kecil. "kau mencariku gaki?"

Menma kembali menggumamkan 'Touchan' dan meraih anak rambut Naruto, dia memainkannya walau kadang-kadang menjambak surai si Uchiha hingga membuatnya meringis.

"bocah pintar. Apa kau tidak ingin makan bersamaku?"gumam Naruto lugu. Menma memandanginya tetap dengan semangat yang sama walau Kushina mengeluarkan tawa kecil.

"Naruto-kun, Menma tidak makan seperti kau. Dia masih bayi."

Naruto memandang Kushina polos. "apa Menma makan es krim seperti orang-orang?"

Wanita bersurai merah itu tersenyum, dia memberikan Menma jari tangannya untuk digenggam. "tidak, Menma belum bisa makan apapun yang dimakan manusia lain sampai umurnya 2 tahun."

Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya karena tidak tahu sama sekali tentang ini. Dia kembali memfokuskan perhatiannya pada Menma.

"kau harus tidur gaki. Besok kita bisa bermain lagi."gumam Naruto sambil menggerak-gerakan gendongannya ke kanan dan ke kiri dengan pelan. "tidurlah, aku disini…"

Perlahan tapi pasti suasana menadi hening, Naruto dan Kushina tidak mengeluarkan sepatah katapun dan hanya memfokuskan diri untuk menidurkan Menma dalam gendongan Naruto. Bocah itu perlahan menutup matanya, masih tetap menggenggam jari telunjuk Kushina dan tertidur pulas. Napasnya mulai teratur, dan itu adalah tanda bahwa Naruto kembali selamat melewati malam tanpa tidur. Pemuda itu perlahan tapi pasti juga mulai menutupkan matanya, sedangkan Kushina Uzumaki hanya tertawa pelan. Pelan sekali sampai hanya Naruto yang bisa mendengarnya.

"kenapa?"gumam bingung Naruto. "apa ada yang lucu?"

'memandangi kalian berdua seperti ini..'batin Kushina sendu. "kau belum memakan makan malammu Naruto-kun. Aku benar-benar minta maaf karena Menma membuatmu tidak jadi memakannya."

Naruto menarik sudut bibirnya sedikit, agak meringis. Dia baru ingat bahwa dia belum makan sama sekali.

"tak apa.. mungkin ada baiknya membuatnya terlelap lebih dulu. Aku akan mengantarnya tidur."gumam Naruto sambil perlahan bangkit untuk meletakkan Menma dalam box bayi di kamar yang telah disediakan. Kushina tak lepas memandanginya saat ia menurunkan Menma pelan-pelan sekali karena ketakutan bahwa anak itu akan kesakitan.

"kau melakukannya dengan benar.. nanti aku bisa melihatmu bahwa kau akan menjadi ayah yang baik Naruto-kun."komen Kushina begitu Naruto kembali untuk makan. Tidak seperti harapannya, yang terbiasa melihat Minato Namikaze makan dengan riang dan banyak bercanda, Naruto Uchiha tak pernah menjawab bila ditanya saat dia sedang makan. Dia benar-benar makan dalam hening dan hanya menjawab bila selesai dengan hidangannya.

"aku menganggapnya sebagai pujian, terima kasih."ucap lugas Naruto setelah memakan hidangan yang disiapkan untuknya. Memang benar, sejak hari itu jatah makan malamnya selalu disiapkan di rumah Uzumaki ini. Dan setiap ia kembali juga selalu disambut dengan panggilan 'Touchan' oleh Menma.

Mereka berdiam diri sejenak, Naruto membereskan bekas makannya dan Kushina membereskan sisa makanan. Naruto mencuci semua bekas makanannya, tepat setelah dia makan. Kebiasaan yang tidak terlalu berbeda dengan Minato Namikaze dulu.

Itu semua tidak luput dari perhatian Kushina Uzumaki.

"kau tahu kau tidak perlu mencucinya sekarang Naruto-kun. Kau bisa membiarkan aku membereskannya nanti." Dalam hati Kushina mengingat jelas bagaimana Minato akan mencari alasan untuk membereskan bekas peralatan makan yang digunakannya di pagi hari. Dia selalu begitu setiap selesai dengan hidangan makan malam.

Naruto menggeleng. "aku harus menyelesaikannya sekarang."

Kushina membantunya, wanita itu menyusun semua mangkuk yang telah digunakan dalam lemari. Mereka bekerja dalam diam, tenang, namun tetap cepat. Naruto benar-benar terampil dalam mencuci piring.

"ada cerita dengan keharusan ini?"

Naruto membuang napasnya ringan. Keningnya berkerut sedikit.

"ya.. aku selalu mencuci piring bersama ibuku dulu. Selalu setiap malam, saat semua orang terlelap."

Kushina terdiam, "dan dimana ibumu sekarang Naruto-kun?"

Tiba-tiba Naruto mengeratkan genggaman tangannya pada pisau makan yang dicucinya. Begitu kuat hingga buku jarinya memutih dan darah keluar dari telapak tangannya. Kushina yang menyadari ini langsung panic, sebab wastafel membuat kondisi itu seolah-olah sangat parah.

"t-tanganmu Naruto-kun!"respon pertama Kushina adalah meraih tangan Naruto. Sesuatu yang dihindari pemuda itu dengan luwes. Naruto kembai menghidupkan wastafel air, lalu melanjutkan pekerjaannya seolah tak terjadi apa-apa.

"tak apa. Kita hampir selesai. Kau bisa tidur Kushina-san."

Kushina memandanginya aneh, tapi tidak memaksa. Untuk hari-hari ini entah bagaimana naluri keibuannya telah membuat ia dewasa.. dan menjadi lebih tenang. Kushina tidak lagi menjadi Habanero yang ganas dan brutal seperti dulu. Jika bisa dibilang dia lebih menyerupai Mikoto Uchiha dalam bersikap.

"aku tahu kau tidak sepenuhnya terbuka padaku Naruto-kun. Tapi ketahuilah aku benar-benar peduli atasmu."gumam pelan Kushina sambil bergerak kearah Naruto, dia tidak memaksakan kehendaknya, hanya meremas bahu pria itu pelan saat lewat.

"ceritalah saat kau siap untuk menceritakannya. Aku disini siap mendengarkan."

Naruto hanya diam, tidak menanggapi namun tidak juga bersikap memberontak. Dia membias tangannya, kemudian berjalan meninggalkan dapur dan tidur di atas sofa keluarga Uzumaki itu. Selembar selimut telah ditinggalkan untuknya disana, sesuatu yang menjadi rutinitasnya mulai saat ini adalah tidur di sofa dalam rumah kediaman Uzumaki ini.

'Ibu…'

Naruto tertawa kecil. Tawa yang tragis dan sangat pelan.

'Touchan dan Kaachan bukan? Siapa Touchan-ku ibu…'dia membatin perih.

'kau berada dimana sekarang?'tanyanya dalam hati sampai malam merenggut kesadarannya.

TBC.

RnR guys