Chapter 26

Welcome back.

Senang bisa menulis kembali, dan tentunya senang juga bisa kembali menuangkan imaginasi dalam tulisan. Semoga semua reader sehat selalu.

Yosh. Lets begin the wild.

Latihan Bersama.

Naruto memandang kearah pasukan di hadapannya.

Dia tengah melepaskan topeng, menggantungkannya di leher. Mereka sedang berada dalam HQ anbu. Tidak jauh darinya, seseorang berambut cokelat berdiri; orang itu mengenakan topeng tupai. Dia mendatangi Naruto sambil membawa tombak-mengacungkannya kearah Naruto.

"kita akan berlatih kelincahan hari ini."ujar orang itu. "apa kau siap?"

Naruto mengangguk. Bola matanya seketika berubah menjadi sharingan. Memang benar, di markas Anbu dia sedikit lebih jarang masuk ke dalam mode 'mengaktifkan sharingannya terus-menerus' seperti kalau sedang berada dalam markas NE. Entah bagaimana itu lambat laun menjadi sesuatu yang ia lakukan.

"wow-wow.. kau langsung serius ne."ujar Anbu itu sambil tersenyum kecil. "permulaan yang bagus. Kita akan melakukannya masing-masing dalam 4 repetisi. Jadi setelah ini kau juga akan ganti menjadi pihak penyergap."

Naruto mengangguk "baiklah. Jadi apa yang harus kulakukan?"

Pria tadi aka Raido Namiashi tersenyum, kemudian menyerahkan tombak tadi ke Naruto. "kau lihat tebing bangunan disana?"ucapnya sambil menunjuk kearah seberang ruangan. Jaraknya kurang lebih 100 meter dari tempat mereka berdiri. "pada dinding itu aku meletakkan sebuah sasaran. Nah kau harus menancapkan tombak ini di sasaran itu."

Naruto mengerenyit. 'itu tebing 90 derajat yang cukup tinggi. Dan cukup.. jauh.' Pikirnya analistis sambil melirik kearah pasukan di hadapannya. 'dan aku yakin orang-orang ini tidak akan membuatnya menjadi mudah.'

Raido memiringkan kepalanya. Dia memandangi pria dihadapannya serius. "apa ada masalah?"

Naruto menggeleng. "apa ada peraturan lain?"

Raido berpikir sejenak. "kurasa tidak. Ayo mulai!"setelah berucap begitu, Raido menghilang, dia mengambil posisi sebagai pengamat dan tidak ikutan berlatih bersama peletonnya; bergabung bersama Hokage ketiga yang berdiri tidak jauh dari training ground dalam ruangan itu dengan 2 pengawalnya.

"apa semuanya berjalan dengan baik Raido?"sapa Hokage ketiga. Mata pria itu menyorot ke arah si Uchiha yang saat ini menggenggam tombak di dalam areal training ground di bawah mereka. Dia mengerutkan dahi.

"apa dia selalu mengaktifkan sharingannya?"tanyanya penasaran pada Raido mengingat saat ini ketua peleton itu adalah Raido si Anbu tupai.

"tidak Sandaime-sama. Setidaknya menurut pengamatanku, dia mulai berubah setelah 3 bulan pertama sedikitpun tidak pernah menonaktifkan sharingannya di kawasan markas."

'sebelas… dua belas…' sandaime menghitung dalam hati. Berarti sudah satu tahunan lebih semenjak kejadian di lembah pelatihan. Entah bagaimana waktu berjalan begitu saja sementara ia yang sudah tua ini masih harus mengurusi permasalahan desa yang tidak ada habisnya.

Sandaime menghisap rokoknya dalam-dalam. "menurutmu orang seperti apa Ookami ini?"tanyanya pelan.

Raido kelihatan bertepekur sejenak.

"ne, dia bukan seseorang yang suka bercengkrama. Aku tidak tahu apa dia pernah berbincang cukup banyak dengan orang di luar kesatuan.. bukan orang yang ribet dan bisa diandalkan. Sejauh ini dia selalu melakukan apapun yang diperintahkan padanya dengan baik. Melakukan penangkapan dengan sangat baik, walaupun sedikit memiliki masalah dengan hal-hal sentimental. Dia seperti tidak terlatih untuk memikirkan rekannya, walaupun dia tidak begitu bermasalah bila diperintah untuk memikirkan rekannya."

Sandaime mendesah, "jadi maksudmu dia sedikit lebih mirip seperti.. robot?"

Raido mengangguk. "dia tidak begitu kaku, tetapi memang dia kurang memikirkan rekannya. Aku khawatir kalau memang ini terjadi seperti dugaan anda."

Sandaime menghembuskan napasnya ke udara. Matanya tidak lepas dari mengamati proses pelatihan team-work seorang Anbu di markas Anbu. Tentu tidak terlalu tegang, dan memang sangat cocok untuk mewujudkan ikatan antar team. Hanya saja, dia agak sedikit berfokus dengan seorang pria muda di bawah sana yang gesture tubuhnya malah tidak rileks; ya kelihatan sekali dalam perspektif Sandaime hokage bahwa Naruto Uchiha tidak terlihat rileks, sangat defensive dan agresif.

"gesturenya memang menunjukkan bahwa dia terlatih untuk bertarung habis-habisan disetiap misi yang diperintahkan padanya. Terlepas dari sesederhana apapun misi/perintah itu. Kurasa.. ini sudah memberikan jawabannya. Ini mirip sekali dengan yang selalu terjadi sebelumnya."gumam Raido menambahkan.

Sandaime menangkap maksud tersembunyi itu. Iya, 'sebelumnya' mengacu kepada semua ninja NE yang kemudian insaf, diinsafkan, terpaksa insaf dan masuk kedalam kesatuan ANBU Hokage. Tapi kasus Naruto sedikit berbeda karena ini masih sebatas 80 persen dugaan, hanya berupa spekulasi.

Spekulasi yang.. hampir pasti benar walaupun itu.. sangat subjektif. Tidak bisa divalidasi. Tidak bisa karena Minato Namikaze sendiri yang memasukkan Naruto dalam divisi keanbuan dibawah perintah divisi 13. Jadi Naruto tidak mungkin seorang agen ganda. Bahkan kalaupun dia seorang agen ganda, Konoha masih membutuhkannya. NE dan ANBU mau bagaimanapun ceritanya tetaplah pelindung bagi Konoha yang satu.

"kupikir.. dia mengalami trauma di masa kecilnya."gumam Sandaime perlahan. "aku merasakan bahwa orang ini belumlah matang. Kita masih bisa terus mengarahkannya menjadi pribadi yang lebih baik."

Raido mengangguk. "aku setuju dengan hal itu sandaime."

"baiklah Raido.. mari lihat bagaimana Uchiha-san ini menyelesaikan misi-nya."

Keduanya kemudian memandangi Training Ground dihadapannya dengan serius.

. . . . . .

Bersama Naruto

Saat ini Naruto yang menggenggam tombak pendek pemberian Raido serta merta langsung mengangkat tangan membuat handseal.

'oke. Mari coba ini.'batinnya serius. '5 orang akan menyergapku dari arah kiri. 3 dari kanan…'

"Shuriken Kage Bunshin no Jutsu!"gumamnya sangat pelan sambil melemparkan kunai kearah depan. Seketika kunai itu berubah menjadi puluhan kunai yang menghujani training ground dihadapannya. Beberapa Anbu yang melihat ini berinisiatif menghindarinya dengan menangkis kunai tersebut, sambil terus berlari untuk menyergap Naruto.

"Kena kau!"ujar seorang Anbu bertopeng rubah. Ia sudah sangat dekat sekali dengan Naruto, sudah hampir menyentuh tombak di tangan pemuda itu dan..

Pooft!

Naruto seketika menghilang.

2 rekan Anbu rubah tadi langsung mengedarkan pandangan berkeliling, mencari keberadaan Naruto.

. . . . . . .

'3 lewat.'batin Naruto focus. Matanya memandang kedepan menyipit, dia sudah melewati 3 Anbu penyergap tadi dan sekarang tengah berlari kedepan. Tidak jauh darinya seseorang mengejar, bukan lain adalah Anbu bertopeng kucing hutan.

Syuut! Syuut!

Anbu tadi melemparkan kunai nya kearah Naruto, sementara lagi dan lagi, Naruto menghilang dalam kepulan asap putih.

Pooft!

. . . . . . .

Naruto muncul lagi 10 meter dari tempat tadi. Berlari dengan sigap menuju kearah titik sasaran seperti yang diarahkan oleh Raido Namiashi si kepala peleton. Dia begitu cepat sampai seketika itu juga 2 orang menyergapnya dari arah dan kiri.

Naruto melompat ke atas, kemudian Kembali menghilang dalam kepulan asap. Tidak kurang akal, 2 Anbu penyergap nya tadi langsung melemparkan shuriken ke dalam asap yang masih mengepul.

Syuut! Syuuut!

"Shuriken kage bunshin!"ucap si Anbu bertopeng kelinci. Tetapi amat disayangkan, bahkan setelah asap yang mengepul tadi menghilang, tetap saja keberadaan Naruto Uchiha tidak terdeteksi.

"N-Nani?!"

. . . . . . .

Dikejauhan, berdiri dalam jarak 3 meter dari tebing curam tempat sasaran tombak itu berdiri sudah menunggu 4 orang penyergap. Masing-masing dari mereka memandang ke arah training ground, berusaha untuk mendeteksi dari arah mana Anbu Ookami muncul untuk menancapkan tombak misi nya.

"dari mana menurutmu?"ujar Anbu bertopeng Banteng. 3 orang rekannya masing-masing menganalisis, sambil menggenggam erat kunai di tangan.

"bawah?"usul yang satu. Yang lain memandangi atap. "atas?"

"depan?"imbuh yang lain lagi.

Anbu bertopeng Rusa aka Shika yang kebetulan bermarga Nara, menyipitkan mata memandang kearah depan, keningnya mengerut.

'dia tidak menyerang dan memilih menghilang, masalahnya, kemana dia melakukan shunshin?'batinnya spekulatif. Jujur dia belum pernah berhadapan satu lawan satu dengan Anbu ini baik dalam sparing ataupun melihatnya bertarung; ini sudah jelas karena Anbu Ookami baru bergabung dengan divisinya dan selama ini juga Namanya kurang terkenal dalam kesatuan.

Rumor mengatakan bahwa Anbu ini seperti hantu. Yang lain mengatakan bahwa ia seperti ular. Atau kucing hutan.

'souka.. ular karena licin sekali. Kucing hutan karena gerakannya mantap dan tidak terburu-buru.'pikirnya sambil mengawasi dari kejauhan betapa rekannya sebanyak 18 orang itu hanya diajak bermain hilang-asap-timbul-hilang-asap.

"apa menurutmu dia memakai tehnik sejenis hiraishin?"ujar Anbu bertopeng Merpati aka Hato serius. "aku benar-benar tidak familiar dengan tehnik yang dia gunakan."

Mata keempat Anbu tadi makin menyipit saat mendapati bahwa 3 rekannya nun jauh di depan kembali kehilangan Naruto Uchiha yang lagi-lagi menghilang jadi asap. Itu sudah dalam jarak 25 meter dari mereka berdiri.

"merepotkan."gumam Anbu Shika menyeringai."orang ini benar-benar-.."

Saat mereka melihat Anbu Ookami aka Naruto Uchiha berlari dalam jarak 25 Meter kearah mereka, otomatis reaksi mereka adalah memasang pose defensive. Namun alih-alih melihat Naruto Uchiha menerjang mereka, pria itu memilih menghindari kontak lagi dengan jurus pertama seperti yang tadi ia gunakan.

"Shurikken kage bunshin!"ujarnya pelan sambil melemparkan kunai yang serta merta berubah menjadi puluhan kunai kearah 4 Anbu penyergap yang menjaga sasaran tombak Naruto.

Otomatis, dengan refleks akibat pengalaman bertarung misi demi misi, Anbu tadi meresponnya dengan berbagai macam metode, mulai dari menangkisnya, atau malah melompat menghindar, mata mereka masih terpancang kearah depan, kearah tempat Naruto Uchiha yang tiba-tiba menghilang, lagi.

"Cih! Kemana dia?!"

'dia pasti akan menghilang dan muncul lagi kan.. jadi-'belum selesai asumsi Shika aka Anbu Nara, dibelakang mereka telah berbunyi hentakan tombak ke target yang mereka jaga. Begitu tegas dan keras.

Dug!

"selesai."Ucap Naruto sambil berjongkok sejajar dengan sasaran yang diletakkan pada dinding 90 derajat itu.

Semua orang memandang ke arahnya dengan pandangan tidak percaya.

"bagaimana mungkin?!"sontak seru mereka bersamaan. Dilain hal, Anbu Rusa aka Shika hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil mengerenyit.

'Ookami no Shinobi.. atau Ikiryou no Uchiha.. kau memang benar-benar seperti hantu.'pikirnya tersenyum kecil. Shika bertepuk tangan kecil, menginterupsi kekagetan rekan-rekan setimnya.

"selamat datang di divisi 7 Ikiryou No Uchiha."ujarnya ramah.

. . . . . . . .

Beberapa saat sebelumnya di tempat Sandaime Hokage.

"apa kau mengenali jutsu yang digunakannya Raido?"tanya Sandaime analistis. "itu jutsu yang menarik."

Raido menggeleng pelan. "ini kali pertama divisiku berlatih dengannya. Seperti yang anda tahu, dia bergonta-ganti tempat penugasan semenjak resmi menjadi bagian dari Ansatsu. Aku bisa bilang itu sebuah shunshin, karena menggunakan handseal, tetapi aku tidak yakin, apa tehnik yang ia gunakan."

Sandaime menghisap cerutunya sambil membuang napasnya pelan.

"kau benar.. bukankah Konoha ini.. penuh kejutan ne.."ujarnya ringan. "aku bahkan tidak tahu Konoha memiliki ninja hantu seperti ini. Selain mungkin Dan Kato.. Minato Namikaze.. atau Madara Uchiha tergantung tentang bagaimana kau mau menafsirkan kata 'hantu' itu sendiri."

Kelopak mata Raido membesar, ia terlihat penasaran. "Hantu.. Sandaime?"tanyanya bingung. Sandaime yang melihat ini mengangguk, sambil menghembuskan asap cerutunya ke udara.

"dia sedikit mengingatkanku pada Minato.. bertarung dengan cerdik dan mengacaukan lawannya sebagai pengalih untuk kemudian melakukan tugasnya dengan efektif."Sandaime menarik napas dalam-dalam.

"bedanya Hiraishin Minato menjadikannya sebagai dewa petir blonde dibandingkan dengan menjadikannya sebagai hantu."

Raido mengangguk pelan.

"e-eto.. kenapa hantu Sandaime?"tanyanya bingung. Memang benar, Naruto kurang lebih hilang timbul seperti Minato Namikaze saat memakai Hiraishin, tetapi mengapa julukannya berbeda?

Sandaime tersenyum kecil dan mengalihkan pandangannya lagi dari memandang Raido kearah areal Training Ground di bawah mereka. Disana, di sebelah sasaran tombak pada dinding 90 derajat itu telah berlutut Naruto bersejajar dengan target tadi-tentu dengan sebelumnya telah menancapkan tombak tugasnya pada bagian bulls sasaran.

"souka.. kau ingin tahu mengapa aku menyebutnya sebagai hantu?"Sandaime berujar ringan. Masih terus memandang kearah Anbu Uchiha itu. Raido otomatis mengangguk mendengar itu. Jarang sekali julukan hantu disematkan pada seorang shinobi dalam konotasi baik. Itu sebabnya ia bingung kenapa Sandaime memilih kata itu untuk disematkan pada ninja serigala itu.

"apa.. karena dia tidak bisa ditebak?"tebak Raido.

Sandaime mengangguk. "kau tidak bisa membaca siapa dia, tidak mengenali dia, dan dia hanya menjadikan kalian seperti kejar-kejaran dengan pikiran kalian sendiri."

"Sumimasen Sandaime-sama.. tapi aku masih belum mengerti.. hantu?"tanya bingung Raido. Dia masih belum paham kenapa seseorang bisa masuk dalam klasifikasi ninja.. hantu?

Sandaime tertawa kecil. "rasa cakranya. Coba tanyakan pada ninja sensormu, apa kau merasa cakranya hangat? Menurutku tidak. Cakranya dingin. Itu bukan rasa cakra Yondaime.. tidak juga rasa cakraku.. itu rasa cakra yang mirip dengan rasa cakra.. orang mati? Bagaimana menurutmu ne.."

Sandaime mengisyaratkan tangannya kearah depan—kearah Training Ground tempat para Anbu berlatih di bawah sana. Raido yang mendengar ini masih merenung, sampai suara tepuk tangan singkat menginterupsi lamunannya.

Prok.

Prok.

Suara itu berasal dari bawah, sementara itu mata Sandaime yang masih sangat tajam menyorot kearah sumber suara. Pria itu mendesah pelan, menyaksikan bagaimana seorang anggota Anbu divisi 7 itu menghampiri si Anbu robot aka Uchiha Naruto untuk mengajaknya bersalaman. Keduanya kelihatan berbicara satu sama lain. Sandaime yang melihat ini memejamkan matanya sejenak, baru melihat Kembali kearah Raido yang memandanginya menunggu.

"kuharap kalian bisa bekerjasama dengan baik nantinya."ucap pelan Sandaime hangat. Entah bagaimana ia mengingat sosok Namikaze Minato saat melihat Naruto Uchiha.

'aku berharap besar padamu Naruto Uchiha. Konoha membutuhkan ninja kuat baru sebagai penerus tekad apinya.'batin pria itu penuh harap.

. . . . . . .

Bersama Kushina Uzumaki

Wanita berambut merah itu tengah pergi ke pasar sambil menggendong putranya, aka Menma Namikaze. Wajahnya seperti biasa terlihat cantik, dan sikap Wanita itu lambat laun berubah menjadi sedikit lebih tenang. Ia terlihat begitu anggun dalam balutan baju kimono tanpa lengan warna hijau tua, dipadukan dengan celana jounin warna biru tua dan sepatu shinobi warna hitam.

Ia tengah memilih sayur-sayuran, tapi sedikit kerepotan dengan kehadiran Menma Namikaze yang masih belum bisa berjalan. Memilah dan memilih sayuran bukan hal yang begitu gampang untuk dilakukan kalau tanganmu harus menggendong bocah bukan? Jadi itu membuatnya perlu memakan waktu sedikit lebih lama dari semestinya.

"Menma sudah cukup besar ternyata."kata si pemilik kios sayur. Dia memandangi bayi itu hangat. "aku yakin dia akan menjadi seperti ayahnya nanti. Sehebat itu."

Kushina tersenyum kecil. "kuharap begitu, jisan."

Pria berkumis tadi keluar dari balik kounternya. Dia membantu Kushina Uzumaki memilih sayuran.

"bagaimanapun aku masih berduka atas kehilangan hari itu. Tapi hidup masih harus terus berjalan. Aku harap anda akan menemukan kebahagiaan anda lagi, Kushina-sama."ujarnya sambil memasukkan sayuran segar kedalam kantong kertas belanjaan Kushina.

Kushina menghela napas dalam-dalam. "terima kasih, Jisan. Aku menghargai bantuannya."

Pria tadi mengangguk ringan. Dia sedikit tersipu sambil memandangi wajah cantik Kushina Uzumaki dari samping. Tangannya baru mulai akan menyenggol tangan Wanita itu, sampai tiba-tiba seorang pria muda berambut hitam dengan tinggi 174 cm berdiri membayangi keduanya.

Pria itu berdehem pelan.

"tanganmu, jisan."ujar pria itu datar. Mata hitamnya memandangi pedagang tadi lurus-lurus, dimana ia yang entah dari mana datangnya ternyata memang memiliki tubuh yang cenderung lebih tinggi dari kebanyakan pria Konoha waktu itu dengan gampangnya mengintimidasi orang-orang disekitarnya.

"tolong jangan seperti ini lain kali."gumamnya lagi memperingatkan.

"e-eh ka-kau.."si pedagang agak terbata karena takut memandangi pria yang memandanginya balik dengan serius itu. "k-kau siapa..? dan a-apa hubunganmu dengan Kushina-sama?"

Naruto masih memandang datar orang itu, belum sempat dia membuka mulut untuk menanggapi, Kushina Uzumaki sudah berinisiatif untuk menjawab pertanyaan pria tadi. Senyum kecilnya mengembang, hangat dan setengah geli.

"baiklah Jisan, aku ingin membayar ini. Berapa semuanya?"ucapnya praktis, sambil masih menahan senyum.

Naruto menahan napasnya sambil mengamati transaksi yang keduanya lakukan. Mereka kemudian berjalan meninggalkan kios sayuran itu, dimana Kushina mengambil peran sebagai penunjuk jalan dan Naruto menggendong belanjaannya.

Tawa Wanita itu pecah sesaat setelah beberapa meter mereka menjauh meninggalkan pria yang sedikit kikuk karena teguran Naruto tadi.

"ne.. apa harus seserius itu Naruto-kun?"gumam Wanita itu cerah. "kau membuatnya takut."

Naruto mengerucutkan bibirnya, tidak lepas dari pengamatan ekor mata Kushina.

"aku tidak suka dia mendekatimu dengan cara seperti itu."gumam Naruto akhirnya. "pria seperti itu bukanlah pria yang baik Kushina-san."

Kushina tersenyum. Senyum tulus karena dia merasa hatinya hangat tiap kali berinteraksi dengan pemuda di sebelahnya ini.

"beritahu aku.. bagaimana pria yang baik itu menurutmu?"

Naruto mendesah.

"dia adalah pria kuat.. cukup kuat dan lebih dari kuat untuk melindungimu dan Menma. Dia harus baik dan tampan. Pria pekerja keras dan seorang yang pemberani."

Kushina menarik napasnya dalam-dalam karena ucapan Naruto itu membuatnya Kembali teringat dengan mendiang Minato Namikaze. Bagaimanapun tidak semudah itu untuk lupa pada suaminya. Dadanya masih terasa berdarah kalau teringat dengan tragedy kelahiran Menma waktu itu.

Naruto memandangi Kushina dari samping. Dia tahu Wanita itu masih bersedih atas tragedy yang menimpa keluarganya. Tapi mau bagaimanapun, dia hanya mengucapkan sesuatu yang menurutnya benar dan jujur.

"maafkan aku.. aku hanya menginginkan yang terbaik untuk anda Kushina-sama."ucapnya lagi saat melihat raut sedih yang terpancar di wajah Kushina Uzumaki.

Kushina tersenyum kecil. "kenapa Kembali memanggilku dengan -sama?"

Naruto memandang lurus ke depan. Sengaja mengalihkan tatapannya dari wajah sedih Kushina Uzumaki. "eto.. aku menghormatimu seperti itu. Bahwa kau adalah Wanita yang terhormat, dan akan selalu begitu dimataku."

Kushina menyikut lengan Naruto pelan. "aku menghargainya, tapi menghormati tidak selalu berarti dengan kau memanggilku dengan -sama. Aku sudah menganggapmu bagian dari keluargaku."

"Tou-chan! Tou-chan!"gema Menma memanggil-manggil Naruto yang baru kelihatan olehnya. Anak itu memang sedari tadi sudah agak mengantuk, dan keberadaan banyak orang membuat si bocah sedikit tidak menyadari kehadiran si Anbu Serigala itu.

Naruto mengelus kepala anak itu lembut.

"hallo, jagoan kecil."

Ditengah hiruk-pikuk pasar, Kushina Uzumaki tertawa kecil. Di satu sisi dia terharu dengan bagaimana Naruto dan Menma Namikaze berinteraksi, di sisi lain, dia juga menyadari satu hal. Sesuatu yang akhir-akhir ini agak sering dipertanyakannya ke dirinya sendiri.

Tentang bagaimana hubungannya dengan Naruto Uchiha. Apakah iya memang hanya sebatas atasan dan bawahan? Anbu dan seorang Nyonya mendiang Hokage?

Apa hanya sebatas misi? Atau.. lebih dari itu?

Mereka berbelanja daging, buah, dan susu formula untuk Menma Namikaze, semuanya menjadi tanggung jawab Naruto Uchiha untuk memanggul belanjaan itu. Pria itu entah memang tercetak memiliki wajah datar atau entah bagaimana, tetapi memang, sepengamatan Kushina Uzumaki, Naruto tidak kelihatan rileks sama sekali kecuali waktu berbicara padanya atau sekedar untuk mengajak Menma berinteraksi.

Mereka berjalan pulang waktu matahari sudah condong ke arah barat, melintasi jembatan sungai dimana Kushina Uzumaki memutuskan untuk berhenti sejenak untuk menikmati angin sore.

Naruto dengan sekantung penuh belanjaan itu, menungguinya sambil berdiri dengan sabar.

"katakan padaku Naruto-kun.. apakah kau tidak memiliki seseorang yang kau sukai?"gumam Wanita itu membuka pembicaraan. Dia duduk di ujung jembatan kayu itu memandangi matahari senja sambil mengelus punggung Menma yang tertidur.

"sukai.. seperti apa itu?"tanya Naruto penasaran. Dia memandangi punggung Kushina yang tubuhnya menghadap kearah tenggelamnya matahari.

"suka seperti mencintai.. ingin melindungi.. merindukan dan sayang. Apa kau memiliki seseorang yang seperti itu?"kali ini Kushina menolehkan wajahnya ke arah Naruto. Dia memandangi wajah tanpa ekspresi lelaki itu.

Naruto bertepekur sejenak.

"aku hanya dekat dengan 2 orang Wanita sejauh ini."ucapnya pelan. Kushina yang memandang wajah tanpa dosa Naruto mengerenyit.

"2 orang? Apa aku mengenalnya -ttebane?" dalam hati Kushina berpikir bagaimana seorang Naruto Uchiha berpikir tentang lawan jenisnya. Bukankah 2 orang itu agak terlalu banyak untuk dicintai? Atau lelaki memang mencintai banyak Wanita dalam hidupnya?

Naruto menatapnya lurus. Ia mengangguk. "itu ibuku dan kau.. Kushina-san. Aku tidak pernah merasa dekat dengan Wanita lain selain kalian berdua."

Kushina mengerutkan keningnya lebih dalam. "benarkah?"

Naruto mengangguk kecil. "apa ada masalah dengan itu?"

'melihat bagaimana rupamu, keahlianmu, reputasi clanmu.. bagaimana mungkin aku bisa percaya kalau kau tidak pernah dekat dengan Wanita manapun Naruto-kun? Dan.. kenapa tidak?'renungnya agak tidak percaya.

Kushina masih tidak habis pikir tentang bagaimana pemuda semenarik Naruto tidak pernah dekat, didekati, atau mendekati gadis lain. Tapi memandang kearah mata hitam pekat yang kelihatan tidak menyembunyikan apa-apa itu, membuatnya yakin, bahwa kelihatannya memang lelaki itu tidak pernah terlibat urusan dengan Wanita lain selain dirinya dan.. ibunya.

"Naruto-kun.. bagaimana perasaanmu sejauh ini terhadap aku dan putraku?"tanya Kushina ingin tahu. Dia memang benar-benar ingin tahu terhadap hal ini. Tentang bagaimana Naruto Uchiha memandang ia dan putranya.. tentang semua waktu yang telah mereka lalui sejauh ini. Apa lelaki itu keberatan?

Keberatan dengan statusnya sebagai istri mendiang Hokage ke-empat.. tentang anak lelakinya yang begitu nyaman memanggil Naruto Uchiha sebagai 'ayah' yang sebenarnya bukan seperti itu.

Dia tidak ingin menjadi beban di kehidupan Naruto. Walaupun sulit juga membayangkan kalau sampai suatu hari nanti lelaki itu akhirnya menemukan kehidupan cintanya sendiri. Sampai waktu itu tiba, Kushina harus tahu bagaimana lelaki itu berpikir tentang ia dan anaknya.

Mata Kushina tidak lepas memandangi wajah tenang si Uchiha. Pria itu balas memandangnya di mata, setelah beberapa saat. Diwaktu yang bersamaan, angin meniup lembut surai hitam pria itu. Seolah-olah menambah suasana dramatis senja itu bagi Kushina.

"aku tidak sering berpikir.. tapi kalau kau ingin tahu apa yang kurasakan terhadap kalian.. kupikir aku merasa hangat disini."Naruto meraba dadanya, tepat di atas jantungnya.

"ap aitu perasaan yang membuatmu nyaman atau.."imbuh Kushina menggantung. Matanya masih lekat mengawasi raut muka Naruto yang kelihatan merenung.

Pria itu menutup matanya sebentar, menikmati hawa hangat Mentari sore itu baru kemudian menatap mata Kushina Uzumaki lagi.

"aku tidak pernah dekat dengan siapapun sebelumnya.. pada titik sedekat ini dimana aku bisa mengatakan bahwa kalian sudah seperti keluargaku. Seperti rumah bagiku.. tempat untuk aku pulang dan tempat untuk jadi alasan pulang dan selamat dari misi."

Raut wajah Kushina yang terkejut, membuat Naruto buru-buru menambahkan.

"apa aku membuatmu tidak nyaman dengan apa yang kukatakan?"

Kushina menggeleng. Dia Kembali memandang kearah matahari sore yang sudah hampir tenggelam.

"ne.. Naruto-kun.. kalau suatu hari nanti ada Wanita yang menyukaimu, apa yang akan kau lakukan.. dengan Menma yang memanggilmu touchan?"

'apa yang akan kau lakukan denganku.. juga?'imbuh Kushina dalam hati. Dia Kembali menatap Naruto yang berdiri 2 meter di belakangnya. Bagaimanapun kakunya Naruto.. Kushina tidak keberatan. Pria itu selalu memiliki hawa itu.. hawa yang membuatnya merasa nyaman dan aman. Yang membuatnya tau.. bahwa dia.. bisa mengandalkan pria itu.

Tidak seperti Minato yang membawa suasana hangat dan ramai dengan kebiasaannya yang konyol disekitar Kushina, Naruto Uchiha berbeda. Lelaki itu tidak banyak bicara, kaku, dan cenderung dingin. Dia juga cuek.. tetapi dia selalu hadir disaat yang dibutuhkan. Pria itu dingin.. tetapi dinginnya tidak membuatmu jadi tidak nyaman.

'ajaib bukan..?'pikir Kushina dalam hati.

Naruto memandang kearah langit yang mulai gelap, baru kemudian menatap Kushina Uzumaki lagi dimata.

"aku tidak yakin dengan yang kau maksudkan.. karna aku sudah merasa nyaman disini.. Bersamamu dan Menma.. aku tidak yakin akan ada orang yang bisa membuatku merasa hangat seperti ini lagi dengan cara yang sama seperti yang kurasakan terhadap kalian."Naruto meletakkan tangannya di atas dada kirinya lagi.

Kushina mengangguk kecil. Tidak tahu harus berkata apa. Naruto yang melihat ini memutuskan untuk Kembali bicara.

"Kushina-san bisakah aku memintamu melakukan sesuatu?"

Kushina menaikkan alisnya sebelah. "ya?"

"bisakah kau menjaga dirimu dan tidak dekat-dekat dengan pria genit lain seperti tadi?"ucap polos Naruto yang membuat Kushina mengerenyitkan dahi.

"apa maksudmu aku sudah menjadi Wanita genit -ttebane?!"tanyanya dengan nada bicara sedikit meninggi. Naruto yang melihat ini hanya ikut-ikutan mengerutkan dahi.

"tidak. Tapi aku tidak suka lelaki lain mendekatimu seperti itu."gumamnya lugas.

Muka Kushina seketika berubah, kelihatan bingung dan sangsi.

"kenapa.. kenapa kau tidak menyukainya?"

Belum sempat Naruto menjawab, segerombolan gagak muncul Bersama dengan sosok pria bertopeng gagak aka Karasu. Pria itu memandangi baik Naruto maupun Kushina secara bergantian baru memutuskan untuk bicara.

"ne.. maaf mengganggu kalian,"ucapnya membuka pembicaraan. Mata pria itu memandangi Naruto serius. "Hokage-sama menunggumu di kantor dalam 2 jam ke depan."

"Ha'i."

Kwok. Kwok. Kwok.

Pria tadi seketika bertransformasi menjadi gagak dan menghilang, menyisakan Kushina dan Naruto. Wanita itu serta merta berdiri dari posisi duduknya, ia bergegas mendekati Naruto.

"ayo pulang."kata Kushina sambil menatap Naruto yang saat ini sudah lebih tinggi darinya. Pria itu kurang lebih sudah setinggi Minato dalam segi postur, dan kelihatannya masih akan bertumbuh lagi.

Naruto tertawa kecil melihat reaksi Kushina yang kelihatan buru-buru ingin pulang karena kemunculan notifikasi misi itu. Dia sendiri kelihatan rileks dan tidak terbebani apapun.

"Kushina-san."ucapnya setelah ditinggal beberapa Langkah oleh Kushina. Wanita itu menolehkan wajah ke arah Naruto, memandanginya ingin tahu, "ya?"

"tentang pertanyaanmu, bisakah aku menjawabnya lain waktu?"

Kushina mengangguk. "souka.. tentu. Ada lagi?"

Pria bermarga Uchiha itu hanya tersenyum kecil dan memutuskan tidak menimpali apa-apa sembari mengiringi Langkah kaki Kushina Uzumaki.

. . . . . . .

Di kantor Hokage.

Sandaime seperti biasa duduk di kursinya, bedanya dia tidak mengurusi dokumen-dokumen desa yang kelihatan menggunung itu. Sebaliknya, pria itu malah menyulut rokoknya dan memandang kearah patung Hokage. Tidak jauh darinya berdiri sesosok Anbu bertopeng gagak, pria bermantel hitam itu ikut-ikutan mengikuti arah pandang sang Hokage.

"ne.. apa menurutmu keputusanku untuk membubarkan Root adalah benar, Karasu?"gumam Sandaime pada pria bertopeng gagak itu. Orang yang dimaksud tidak serta-merta menjawab pertanyaan sang Hokage. Dia mengambil jeda sebentar sebelum kemudian memutuskan untuk menanggapi pertanyaan professor Konoha itu.

"aku percaya keputusanmu tentu sudah dipertimbangkan dengan masak. Kita tentu tidak menginginkan musuh dalam selimut, terlepas dari betapa penting peran yang diambil oleh Root dalam melindungi desa."

Sandaime menghisap rokoknya dalam-dalam. Perlahan-lahan ingatannya berputar ke kejadian tahun lalu. Kejadian dimana Yondaime Hokage meninggal dalam pertempuran di lembah pelatihan. Masih jadi misteri, tapi sudah jelas melibatkan sebuah konspirasi besar yang mengarah pada agen Root.

Flashback.

"kau tidak bisa beranggapan bahwa ini melibatkan Root tanpa barang bukti, Hiruzen!"

"kau benar. Tapi bagaimana para Uchiha bisa terlibat dalam pertempuran ini tentu menjadi sebuah kejanggalan. Kau sendiri tidak memiliki barang bukti cukup untuk menjelaskan bahwa kau berada di kamarmu di hari kejadian itu!"

Danzou mendencih.

"bagaimana kau berharap orang hidup tetap berada di kamarnya Hiruzen?! Kau benar-benar tidak masuk akal!"

Hiruzen mendengus.

"dari sisi Uchiha aku memanggil 3 orang untuk datang memberikan keterangan. Mereka berkata bahwa para Polisi Militer Uchiha berpatroli seperti biasa, tanpa ada kejanggalan; tidak pula ada mobilisasi ninja di lingkungan Uchiha clan, dibuktikan dengan para Anbu Uchiha yang berpatroli tetap berpatroli di tempatnya. Dan yang terpenting pengawal Uchiha untuk Yondaime dan istrinya ditemukan berada tidak jauh dari keluarga Yondaime sendiri, yang berarti tidak ada indikasi pembelotan dari Uchiha. Bagaimana kau bisa menjelaskan bahwa Root tidak terlibat dalam hal ini?!"

Suasana sidang antar para ketua clan hari itu begitu sengit. Di satu sisi insiden itu terlihat begitu terencana, tetapi disisi lain, tidak jelas siapa pembuat rencana dan pemimpin rencana dari kejadian pembunuhan Yondaime itu. Daimyou menginginkan jawaban masuk akal untuk kejadian itu, sementara keterangan saksi yang telah dikumpulkan masih tidak menjelaskan tentang motif, tujuan, dan pelaku sebenarnya dari kejadian itu.

"dimana kau saat kejadian berlangsung, Danzou-san?"ujar Nara Shikaku yang saat itu baru diangkat menjadi ketua clan Nara. Sebagai delegasi dari clan Nara yang beberapa ninjanya juga menghilang, diketemukan meninggal di lembah pelatihan, mau tidak mau dia harus turut bekerja keras untuk mengurai kasus ini terlepas dari betapa merepotkannya kasus ini.

Danzou memandangnya dingin.

"aku memiliki privasi dan urusanku sendiri. Kupikir peraturan di Konoha menjamin hak itu untuk setiap warga Konoha. Jadi kenapa kalian begitu ngawur menudingkan tangan padaku? Aku masih warga Konoha yang haknya dilindungi oleh Hokage. Atau apakah sebagai Hokage, Hiruzen akan mencabut hakku itu?"

Hiruzen menggebrak meja.

"masalahnya dalam hal ini keterangan darimu begitu penting untuk mengurai kasus ini Danzou!"

Homura, salah satu rekan Hiruzen dan Danzou kali itu menyentuh lengan sang Hokage. Berusaha menenangkannya.

"bisa jadi urusannya adalah urusan yang begitu privasi. Entah apapun itu, apakah ia minum, ke rumah bordil, kau tidak bisa memaksakan kekuasaanmu di atas hak hidup nya Hiruzen."

"merepotkan.."gumam Shikaku akhirnya. "Homura-san, masalah ini begitu urgent untuk diselesaikan. Jadi kalau Danzou-san dengan alibi tersebut dibenarkan, lantas bagaimana kita bisa mengurai kasus ini?"

Koharu mendencih.

"kau sebagai anak muda, mana mengerti mengenai hal ini. Hak hidup warga Konoha berada di atas segalanya. Peraturan yang berlaku di Konoha ini mengharuskan seorang Hokage menjamin hak tersebut dengan nyawanya sendiri. Kita tidak bisa mengingkari itu."

Mau bagaimana lagi, baik Koharu dan Homura keduanya adalah sama-sama rekan Hiruzen dan sama-sama rekan dari Danzou Shimura. Tentu mereka sedikit banyak akan membela rekan seperjuangannya tersebut; yang dalam hal ini begitu ngawur karena tidak memperbolehkan prinsip pembuktian criminal terbalik.

"apa kalian ingin Hokage menggunakan jabatannya untuk merampas hak hidup kalian semua? Ayo katakana padaku."sambung Danzou lagi. Yang tentu saja kali ini mendapat sahutan dari clan lainnya, hal ini menjadikan suasana rapat tidak lagi kondusif.

"tentu tidak ada manusia yang ingin hak-haknya di rampas oleh seorang Hokage sekalipun."ujar ketua clan Hyuuga aka Hareta Hyuuga. Pria berambut cokelat muda itu memandang kedua rekannya bergantian.

"apa kalian setuju dengan tirani seperti itu?"ujarnya pada ketua clan Akimichi aka Torifu Akimichi. Sementara pria gemuk yang dimaksud menganggukkan kepalanya setuju.

"anda tidak boleh menindas warga seperti itu, Hokage-sama."

"nah kalau begitu jangan asal tuduh Hiruzen! Kau boleh seorang Hokage, tapi bukan berarti semuanya selalu mengikuti kehendakmu!"sembur Danzou sengit.

Tersisa ketua clan Uchiha, Yamanaka, dan Inuzuka yang masih memilih diam. Terlihat di salah satu kursi tersebut, Kagami Uchiha sebagai delegasi dari clan Uchiha bertepekur sejenak, sebelum akhirnya memutuskan untuk berbicara saat melihat suasana rapat yang makin lama makin memanas.

"sebagai hokage harusnya kau ti-"kata-kata Danzou itu terputus begitu suara gebrakan meja terdengar.

Brak!

Bukan Hiruzen yang kali ini menggebrak meja rapat. Sebaliknya, Kagami Uchiha, sang ketua clan yang terkenal paling dingin diantara clan lainnya. Bagaimanapun, clan Uchiha adalah salah satu elite Konoha. Kedudukannya mengalahkan clan lainnya kecuali clan Senju, dan Uzumaki yang kedudukannya setara dalam hirarki elite di Konoha. Bahkan itu, clan sang Sandaime sendiri, Sarutobi.

"Danzou!"bentaknya sengit. "jangan berpura-pura bodoh. Kau dan aku serta beberapa orang disini sangat mengenali aturan itu. Dan kau dan aku sama-sama mengerti, bahwa siapapun berhak untuk dicurigai dalam penyelidikan peristiwa criminal. Terlebih ini menyangkut dengan kematian pemimpin Konoha itu sendiri. Ayo jangan bersikap naïve seolah-olah kau tidak pernah menginterogasi seseorang tanpa alasan dalam sebuah kejadian."ujarnya dingin.

"Tap-"Hamura kelihatan ingin membantah, tetapi Kagami Uchiha yang sudah begitu muak dengan diskusi tidak jelas itu memotongnya tajam.

"aturan Shinobi 40 : semua orang berhak dicurigai untuk kebutuhan penyelidikan pembunuhan terencana. Aturan Shinobi 56 : dalam rangka menangkap criminal, seorang ninja berhak untuk melakukan penyelidikan berdasarkan bukti dan asumsi yang mengarah. Aturan Shinobi 77 : semua orang yang dianggap menurut pertimbangan Hokage memperlambat Tindakan penyelidikan terhadap dugaan kudeta, perang sipil, pemberontakan, pembunuhan berencana, boleh dieksekusi berdasarkan perintah Hokage tanpa perlu persetujuan dari dewan clan dan Daimyo negara api."jelas Kagami dingin.

"sekarang katakan padaku, dengan asumsi bahwa semua dari kita adalah terlalu bodoh untuk memahami aturan ini, salahkah Hiruzen meminta keterangan dari Danzou?!"

Hening sejenak.

"aku setuju dengan pendapat Kagami-san. Jangan menjadi pathetic bahwa kita sebagai ninja tidak pernah melakukan interogasi dan mencurigai seseorang tanpa bukti. Kita semua melakukannya, jadi kenapa kali ini harus berbeda?"kali ini ketua clan Yamanaka aka Akiko berbicara.

"aku setuju dengan ini. Tim pelacak kami bahkan menemukan bekas jutsu mokuton di areal kejadian, sementara Ketika dilakukan crosscheck dengan daftar para Anbu, tidak ditemukan satu Anbu-pun yang dapat menggunakan jutsu Mokuton. Jadi sudah cukup jelas, bahwa hampir semua bukti mengarah pada adanya pasukan tidak dikenal, dari dalam Konoha itu sendiri. Terlatih, dan tidak terdaftar."imbuh ketua clan Inuzuka, Gaku Inuzuka.

"kau tidak boleh-"ucapan Danzou seketika dipotong oleh dead glare dari Hiruzen Sarutobi. Pria itu mendesis sambil mengeluarkan KI yang tertuju kepada Danzou. Membungkam seketika pria itu sebelum bisa berkomentar lebih banyak.

"cukup Danzou. SAMPAI DIHARI YANG TIDAK BISA KUJANJIKAN, ROOT DIBEKUKAN DAN ASETNYA AKAN DIAMBIL ALIH OLEH ANBU DIBAWAH KENDALI HOKAGE. INI ADALAH KEPUTUSAN AKHIRKU, DAN SIAPAPUN YANG TIDAK SETUJU DENGAN HAL INI SILAHKAN AJUKAN DIRIMU UNTUK DIEKSEKUSI DIHADAPAN DAIMYO NEGARA API SEBAGAI YANG BERSALAH KARENA MENUTUP-NUTUPI PENYELIDIKAN ATAS KEMATIAN YONDAIME. RAPAT SELESAI."

End of flashback.

"masalah ini makin lama makin berlarut-larut saja."kata Hiruzen sambil memejamkan matanya letih. "bagaimana dengan ide mengajarmu Karasu?"

Zaman itu, memang Konoha benar-benar sedang tidak stabil. Belum lagi dengan minimnya kaderisasi diantara ninja. Jadi untuk mengantisipasi ini, guna memastikan kedepannya masih aka nada ninja Konoha yang benar-benar kuat untuk melindungi desa, kaderisasi sejak zaman Nidaime Hokage adalah keharusan. Setidak-tidaknya para ninja yang kuat, harus mengambil murid untuk dididik kepemimpinan dan skill ninja guna memastikan bahwa kekuatan yang dimilikinya tidak berakhir di dirinya sendiri, tetapi terus dilestarikan sampai generasi yang akan datang.

Ini supaya generasi ninja Konoha tidak melemah seiring berjalannya waktu. Demi Konoha, dan demi warganya itu sendiri.

"aku berencana mengambil Uchiha Naruto untuk menjadi anak didikku. Apa menurutmu itu mungkin, Hiruzen?"

Sandaime memandang kearah ninja bertopeng gagak itu serius dalam beberapa waktu. Keningnya sedikit berkerut.

"kita membutuhkan banyak elite untuk diturunkan untuk menjaga keamanan desa saat ini. Uchiha Naruto.. dia adalah salah satunya. Belum lagi dengan kenyataan bahwa dia adalah pengawal pribadi Jinchuriiki.. apa menurutmu dia belum cukup kuat sampai harus dilatih ekstra?"

Karasu mendesah.

"sejak kapan ninja jadi terlalu kuat untuk tidak dilatih Hiruzen? Kau dan aku pun masih melakukannya. Padahal usiamu sudah lebih dari muda untuk tetap dilatih."tukas Karasu ringan. Sementara Hiruzen Sarutobi hanya membuang napas panjang.

"apa yang special dari orang ini.. Karasu?"ujar Hiruzen ingin tahu. "ada banyak sekali ninja di Konoha, kenapa yang satu ini?"

Karasu mengangkat bahu. "kalau aku bertanya padamu, kenapa kau memilih untuk melatih Minato Namikaze dibandingkan ninja lainnya, kau akan menjawab apa?"

Pria bermarga Sarutobi itu menghisap rokoknya dalam-dalam.

"kau melihat apa yang tidak terlihat oleh kebanyakan orang. Dalam kasus Yondaime, semua dari kita tahu bahwa Minato adalah seorang jenius di angkatannya. Itu tentu sangat menantang untuk melihatnya berada dalam kekuatan yang maksimal. Tekad api dalam dirinya juga tidak kalah besar. Loyalitasnya tidak dipertanyakan. Jadi katakana padaku.. apa yang membuatmu sangat tertarik dengan Uchiha muda ini, Kagami?"

Semua orang juga tahu bahwa Kagami Uchiha dan Hiruzen Sarutobi adalah sahabat dekat. Yang satu bagai akar dan yang satunya bagai pohon besar Konoha. Keduanya adalah pilar penting Konoha yang sama kuatnya, sama berpengaruhnya, dan sama-sama tidak diragukan loyalitasnya.

Sama-sama jenius. Dan sama-sama menginginkan yang terbaik untuk Konoha. Tentu sangat menarik untuk mengetahui tiap alasan atas keputusan yang diambil oleh kedua sahabat itu. Sebab keduanya saling mendukung, dan sama-sama menginginkan kedamaian diatas perang yang tidak berkesudahan.

"terlepas dari kedudukanku dan dia yang berada dalam satu clan, aku melihat potensi dalam dirinya, Hiruzen. Keinginannya untuk selalu mengikuti aturan, kecepatannya dalam belajar, belum lagi ditambah sharingannya yang special, dan begitupula dengan cakranya.. aku berharap dia bisa menjadi salah satu ninja Konoha yang terbaik dari clan Uchiha kedepannya."

"special?"gumam Hiruzen penasaran. "seperti apa itu?"

Memang sudah jadi rahasia umum kalau doujutsu Sharingan sebagaimana Byakugan milik clan Hyuuga memiliki keistimewaannya sendiri, sesuatu yang sangat jarang orang diluar clan mengetahuinya. Bedanya, sharingan lebih kompleks, dimana setiap kemampuan sharingan berbeda, tidak sama seperti Byakugan.

"kemampuan teleportasi."jawab Karasu aka Kagami Uchiha singkat.

Hiruzen mengerenyit. "sejauh apa?"

Kagami menyeringai.

"ayolah, aku tahu kau ikut melihatnya berlatih di areal HQ. Jadi jangan bilang padaku bahwa kau juga terkecoh."

Sandaime hokage mendesah. "tidak ada tempat untukku lolos dari pengamatanmu ya. Jadi itu bukanlah shunshin? Tapi bagaimana dengan handseal yang digunakannya?"

"dia mengecohmu. Handseal itu tidak pernah berarti apapun, Sandaime-sama."

Sandaime Hokage menaikkan alisnya, agak geli dan kecut. "kelihatannya kemampuanku sudah menurun karena terlalu banyak mengurusi dokumen-dokumen ini."mata tuanya melirik kearah ninja bertopeng gagak itu dengan tatapan ramah.

"Dia melalui jalur 'itu' kan?"ujar Hiruzen Sarutobi lagi.

Kagami Uchiha memandangnya ingin tahu. Sampai pria Sarutobi itu menggeser duduknya mendekati meja, menarik lacinya dan mengambil dokumen berisi data ninja yang lulus dari akademi ninja. Dia meletakkan buku itu di atas meja, dan membukanya di hadapan sang Anbu.

"ia tidak pernah mengikuti kegiatan akademi, dibuktikan dengan banyaknya orang yang tidak mengenali kehadirannya; dan.. dia juga tidak memiliki reputasi tersendiri sebagai bukti bahwa dia pernah menjadi yang terbaik di akademi atau setidaknya rookie, tim genin ataupun semisalnya, padahal kita semua tahu, Naruto Uchiha tidak sedangkal itu. Belum lagi fakta bahwa Namanya tidak tercatut disini, padahal siapapun itu sekalipun Anbu, tidak boleh disingkirkan arsipnya dari buku ini."

Sandaime menarik napas dalam-dalam.

"begitupun divisinya, divisi 13 adalah divisi siluman. Kukira Danzou merekomendasikannya dari Pendidikan Root untuk menjadi bagian dari kesatuan Anbu dibawah perintah Hokage."

Kagami tersenyum kecil. "apa mau dikata, gelar the professor memang layak untukmu Hiruzen. Ya, itu adalah aturanmu yang mengharuskan Danzou untuk turut serta memberi sumbangan bagi Anbu dibawah perintah Hokage. Dan benar seperti perkiraanmu, dia memang 'seperti yang sudah-sudah.'"

Sandaime tersenyum kecut.

"bagaimana dia.. Karasu?"

Kagami Uchiha tahu, yang dimaksud oleh Sandaime Hokage adalah tentang mentalitas dan loyalitas ninja yang dimaksud terhadap Konoha. Pria itu meletakkan tangannya di Pundak sang hokage.

"Naruto Uchiha itu adalah pria yang baik. Dia hanya tidak memiliki tujuan hidup, dia tidak memiliki ambisi dan alasan berjuang kecuali uang. Dia tidak memiliki keluarga, salah satu orang yang paling bersih pikirannya, tetapi terlatih untuk menjadi robot. Sebagai tambahan, dia sangat patuh terhadap perintahmu sebagai Hokage. Percayalah, kalau dia berpikiran buruk tentu aku sendiri yang akan melenyapkannya."

"souka.. apa ada yang kau inginkan terkait hal ini?"

Karasu mengangguk.

"tentunya. Aku ingin meminjam beberapa scroll, sebuah batu, dan izin membawa Naruto Uchiha berpatroli perbatasan bersamaku. Apa kau keberatan?"

Sandaime menatap Komandan Anbu nya itu serius. "kau meminta banyak sekali, Karasu. Siapa yang akan menjaga Jinchuriiki nantinya?"

Anbu gagak itu menghembuskan napas Panjang.

"Kushina akan baik-baik saja. Percayalah, Konoha tidak boleh menunggu terlalu lama. Begitupun Uchiha, kami kehilangan banyak sekali ninja. Keadaan desa juga sedang tidak baik-baik saja, bagaimanapun aku tidak mungkin membiarkan Jinchuriiki dalam bahaya, tapi kaderisasi ninja adalah keharusan. Kau lebih mengerti tentang urgensi ini dibandingkan aku, Hiruzen."

Hiruzen mengerutkan kening. "bagaimana kau seyakin itu kalau Jinchuriiki akan baik-baik saja?"

Karasu hanya mengangkat bahu sedikit.

"mataku tidak buta dalam patroli Hiruzen. Semuanya akan baik-baik saja."

Malam itu begitu tenang di Konohagakure. Bintang begitu banyak, dan bulan sedang indah-indahnya mengambang di langit. Disaat semua warga terlelap, para shinobi yang bertugas untuk patroli menjaga desa Konoha. Siang dan malam bergiliran, begitulah realita dunia ninja.

'akar dan pohon ya, Kagami..'batin Sandaime merenung. Tidak lama dari itu, seseorang mengetuk pintu kantor Hokage. Menarik perhatian dari kedua veteran perang dunia shinobi 3 kali itu.

"masuk!"

Pintu terbuka dan sesosok berambut hitam spikey Uchiha muncul, mengenakan seragam Anbu, lengkap dengan topeng serigala bercorak merah khasnya. Pria setinggi 174 cm itu berlutut, seperti khasnya para Anbu yang siap menerima perintah.

"Ookami menghadap, siap diberi perintah, Sandaime-sama."gumamnya tegas.

Sandaime mengangguk ringan.

"aku telah melihat catatan karirmu selama setahun ini, Ookami. Semuanya baik."Sandaime memulai. "tetapi sebagai pemimpin desa aku tentu berharap untuk mempersiapkan yang terbaik untuk Konoha. Maka dari itu aku memanggilmu kemari, karena kupikir sudah saatnya kau memperoleh pelatihan intensif dari seorang ninja yang kupercaya bisa menjadi sensei terbaik untukmu. Anbu Karasu."

Naruto bergeming. Ini membuat Sandaime melanjutkan pidato reviewnya.

"kau juga ditugaskan atas permintaan ketua clan Uchiha, untuk turut berpatroli bersamanya, guna mengamankan Konoha dan Uchiha compound sekaligus. Apa kau keberatan?"

"tidak. Sandaime. Aku menerimanya."ujar Naruto pendek.

Mata Sandaime tidak lepas mengamati pria dihadapannya. Pria itu kelihatan tenang dan cenderung seperti.. tidak peduli?

"apa ada yang ingin kau tanyakan, Ookami?"ucap Sandaime akhirnya.

Naruto mengangkat kepalanya, wajahnya memandang langsung kearah pimpinan desa Konoha itu. "Sandaime.. bagaimana dengan misi pengawalan terhadap Kushina Uzumaki?"

Sandaime menghela napasnya dalam-dalam.

"apa kau keberatan untuk melakukannya?"

Anbu serigala itu menggeleng kecil. "permasalahannya ada pada efektifitas. Bisakah anda menambah penjagaan disekitarnya sampai setidaknya Menma Namikaze menjadi batita?"

Pria pemegang summoning contract berupa monkey king itu menggeleng. "permasalahannya terletak pada apakah Kushina Uzumaki percaya pada pengawalnya atau tidak. Dan kita semua tahu jawabannya, Ookami."

"kalau begitu, biarkan aku mencoba memberinya pengertian, Sandaime-sama."ucap Naruto lugas.

Hiruzen Sarutobi mengangguk. "terkait misi ini, apa kau ingin Kembali tinggal di Uchiha compound?"

"kurasa tidak Sandaime. Lebih efektif untuk melakukannya kalau kami berada dalam rumah yang sama."

"aku juga berpikir demikian."sahut Sandaime lugas. "kalau begitu kau bisa mulai berpatroli dengan Karasu, Ookami."

"hai Sandaime-sama."

Keduanya pun menghilang menggunakan shunshin masing-masing menyambut malam yang begitu benderang meninggalkan kantor Kage Konoha No Sato yang tersohor itu. Sementara Hiruzen yang tersisa di dalam kantor hanya mampu memandangi pahatan patung kepala Kage nun jauh disana yang kelihatan dari jendela kaca kantornya.

"Konoha ya.."ujarnya entah pada siapa. 'banyak harga yang harus dibayar untuk desa ini.'

. . . . . . .

RnR yo!