Disclaimer : Masashi Kishimoto.

By : Mr. Battosai.

Author note :

Filler chapter adalah chapter request dari para reader yang menginginkan scene Naruto-Kushina lebih banyak. Semoga terhibur.

--

--

--

Filler Chapter.

Kushina memandangi Menma Namikaze yang saat ini sedang berlatih untuk melempar kunai ke atas target. Wanita itu berdiri beberapa Langkah di belakang Menma, mengawasinya sambil bersedekap. Rambut panjangnya diikat ponyt8ail, dengan anak rambut di sebelah kiri dan kanan di biarkan menjuntai membingkai pipi.

"kau membuat banyak perkembangan Menma-chan."gumamnya berkomentar, saat melihat anaknya itu beberapa kali mampu mengenai bulls eye, walaupun masih lebih banyak yang melenceng keluar target.

"hai.. aku ingin jadi ninja hebat seperti Tou-chan!"ucap anak itu riang. "aku akan bisa melakukannya kan Kaa-chan?"

Mata anak itu terlihat berbinar, benar-benar riang. Kushina yang melihat ini hanya tersenyum kecil, dia bergerak mendekat ke arah anak itu, kemudian mengelus puncak kepalanya. Mata violet Wanita itu kemudian melihat langit, sementara angin bertiup cukup pelan memberi suasana santai, pikirannya terbang, entah kemana itu yang jelas tidak di training ground nomor 27 itu.

'kau akan menyukai anak kita.. Minato..'pikirnya sejenak, sebelum kemudian wajah pria blonde bermata biru laut itu menghilang digantikan dengan wajah seorang pria berambut hitam dengan senyum kecil yang cool.

'Naruto-kun.. kurasa.. kita sudah jarang sekali bertemu..'pikirnya yang entah bagaimana malah menghilangkan suffix dalam panggilan mendiang suaminya; tetapi memberikan suffix kepada si Anbu Serigala yang sudah cukup lama menjadi pengawal, teman, dan seperti keluarga baginya.

'keluarga ya..'pikirnya lucu. 'tapi ini tidak terasa seperti ayah, kakak, atau adik.. tidak mungkin juga aku berpikir bahwa dia adalah anakku..'Kushina menggeleng pelan, merasa lucu dengan pikirannya sendiri. Dia tersenyum kecil membayangkan betapa konyolnya menerka-nerka tentang hubungannya yang cukup 'dekat' dengan Anbu bertopeng serigala itu.

"Kaa-chan.."kali ini suara Menma menarik perhatiannya. "apa Tou-chan akan pulang?"

Ingatan Kushina Kembali ke tahun-tahun awal dimana Menma mulai bisa berbicara. Ia masih sangat ingat tentang bagaimana anak itu dengan suara cadel dan rasa ingin tahu yang tinggi selalu bertanya kepadanya mengenai hal-hal.. orang-orang.. dan terutama tentang ayahnya.

Menma Namikaze bahkan sampai di usianya yang ke 5 tahun ini selalu mengenal Naruto Uchiha sebagai ayahnya. Bukan Yondaime.. dan bukan pula Minato Namikaze. Kushina sangat paham itu adalah salah kaprah, tetapi mau bagaimana lagi, kadang dengan mempertimbangkan betapa berbahayanya nama Namikaze itu sendiri, Kushina sampai harus berpikir untuk memanggil dan mengenalkan Menma dengan nama clannya, yaitu Uzumaki Menma.

Ini bukan perihal Kushina takut tidak bisa melindungi Menma, tetapi murni lebih kepada mencegah musuh Yondaime yang sangat banyak dan brutal pasca perang dunia ke-3, menyerbu anak yang sangat belum dewasa, dan belum bisa melindungi diri itu.

Atau ya, bahkan musuh Kushina Uzumaki selaku Jounin elite Konoha juga cukup banyak, walaupun tidak sebanyak Yondaime, tetapi itu sudah cukup menjadi tanda nyata bahwa nama Namikaze belum siap di sandang anak itu. Hanya perlu diketahuinya, tetapi bukan untuk dipakai berinteraksi dengan orang lain.

'Menma bisa selalu mengambil nama Namikaze Ketika dia sudah lebih kuat dan dewasa.'pikir Kushina sederhana. Mata Wanita itu memandang ke arah bocah blonde di hadapannya.

"eto.. Kaa-chan tidak tahu. Tou-chan mungkin akan pulang hari ini, mungkin juga tidak. Misinya sedang begitu.. banyak."jelasnya sambil tersenyum.

Anak di hadapannya mengangguk, tetapi kelihatan murung. Menma begitu mirip dengan Yondaime versi chibi, kecuali whisker yang ia miliki sebagai pembeda.

"aku sudah lama tidak bertemu dengan Tou-chan.. apa Tou-chan tidak rindu padaku?"tanya Menma sedih. Mata biru-nya memandangi Kushina dengan penuh harap.

"bagaimana kalau nanti Ketika Tou-chan pulang.. Kaa-chan akan bilang padanya bahwa Menma-chan rindu padanya?"

Anak itu melebarkan matanya dengan raut muka senang. Dia mendekati Kushina Uzumaki dan langsung memeluknya.

"A-arigatou Kaa-chan!"ucapnya riang. Sementara Kushina hanya tertawa kecil dan mengelus kepala blonde putranya.

'Naruto-kun..'pikirnya jauh. 'apa kau juga merindukan Menma? Anak ini begitu dekat denganmu.'

Di tengah lamunan Kushina, Menma Namikaze melepaskan pelukannya ke Wanita itu. Kali ini dia duduk di sebelah kaki Kushina, mukanya begitu imut, tetapi bibirnya kelihatan mengerucut, karena merajuk.

"apa Tou-chan tidak rindu padaku?"ucapnya lesu, lagi-lagi pertanyaan yang sama. Dia duduk sambil meluruskan kakinya ke depan, kelihatan masih murung dan uring-uringan.

"dia pasti rindu padamu, Menma-chan. Mana mungkin dia tidak rindu? Dia hanya sedang memiliki banyak pekerjaan."ucap Kushina sambil duduk di sebelah Menma. Wanita itu merangkul anaknya dengan sayang.

"tapi.. Tou-chan sudah lama tidak pulang.. aku ingin jalan-jalan dengan Tou-chan."kata anak itu menunduk tidak bersemangat. Ini sudah jelas sangat terkait dengan pemandangan yang sering dilihat Menma di jalanan Konoha dimana banyak sekali anak-anak bepergian dengan ayah mereka.

Jadi seperti lumrahnya anak-anak.. bocah itu juga cemburu.

Kushina tertawa kecil, cukup kecil tetapi tidak sampai terdengar oleh Menma Namikaze/Uzumaki Menma. Wanita itu mendesah pelan, kemudian berdiri dari posisi duduknya.

"bagaimana kalau ikut Kaa-chan melihat pasar? Kau bisa bertemu dengan banyak anak seusiamu disana."bujuknya pada Menma, mata mereka saling beradu pandang untuk beberapa saat.

"baiklah Kaa-chan.. tapi tolong belikan aku es krim?"ucap si bocah lugu. Kushina menggeleng atas ide ini.

"kau tidak boleh terlalu banyak makan es krim, Menma-chan.. itu tidak baik bagi gigi-mu."

Bocah itu menundukkan wajahnya murung, tidak kelihatan bersemangat.

"tapi Kaa-chan.. sekali ini saja. Es krim itu enak sekali."

Kushina menggeleng tegas. "kalau Tou-chan pulang, kau boleh minta padanya. Kau baru makan Es krim kemarin -ttebane. Tidak ada es krim sampai Tou-chan pulang."

Dalam hati Kushina memperhitungkan kemungkinan Naruto Uchiha akan pulang ke Uzumaki Compound dalam waktu dekat. Sudah jelas, dalam 4 tahunan ini saja, Naruto hanya beberapa kali pulang. Jadi pasti hampir tidak mungkin Naruto akan pulang dalam waktu dekat.

Jadi Menma tidak perlu makan es krim terlalu banyak yang tidak baik bagi gigi-nya. Gampang saja.

Menma mengangguk-angguk agak kurang bersemangat. Dia sendiri sudah lama tidak melihat Tou-channya.

"kau tidak boleh lupa janjimu Kaa-chan.. aku akan mencari Tou-chan nanti!"Mereka kemudian berkejaran menuju Uzumaki Compound yang letaknya tidak jauh dari Training Ground Nomor 27 itu.

Training Ground Nomor 27 adalah salah satu Training Ground dalam areal Uzumaki Compound yang diberikan hokage bagi clan Uzumaki terlepas pada berapa orang jumlah clan Uzumaki yang ada di Konoha. Di Training Ground itu pula Kushina sering berlatih dengan mendiang Uzumaki Mito dulu. Belum lagi fakta bahwa Tobirama Senju dan Hashirama juga pernah menggunakan tempat yang sama untuk berlatih. Tempat ini benar-benar melegenda dengan akses nya luar biasa ke air terjun Konoha.

'tempat legenda.. dengan ninja-ninja legenda yang juga turut berlatih di tempat itu. Sandaime memang benar-benar bermurah hati pada clan Uzumaki.'pikir Kushina bersyukur. Mata nya melirik anaknya, kemudian senyum kecil terlukis di wajahnya.

'ya legenda.. kuharap suatu hari nanti kau akan jadi satu.. Menma-chan.'

. . . . . . . . .

Tap!

Tap!

Kedua Uzumaki itu berjalan ke arah pasar. Yang satu, si blonde kecil memakai celana pendek warna hitam, dengan kaos berlogo Uzumaki warna putih. Sedangkan si Wanita mengenakan kaos jounin warna gelap tanpa lengan dengan celana warna senada. Mereka terlihat menikmati waktu mereka di Pasar Konoha sore itu.

"Menma!"serombongan bocah muncul dari ujung gang. Sudah jelas, itu adalah Shikamaru, Chouji, dan Kiba. Mereka melambai kearah Menma, si blonde dengan semangat. Kushina masih ingat mengenalkan mereka saat Menma berusia 4 tahunan dan diajak ke taman Konoha pertama kali.

Bocah bermata biru aka Menma Uzumaki/Namikaze itu mengangguk semangat melihat teman-temannya.

"Yo! Minna!"ia menghampiri anak-anak seusianya itu, setelah sebelumnya memandangi Kushina Uzumaki dengan mata memelas. "Kaa-chan?"ucapnya penuh harap.

Kushina hanya tersenyum kecil memandangi Menma dengan muka melasnya itu. "pergilah."ucapnya pelan, sambil melambai kearah teman putranya itu. "aku akan menjemputmu sebelum petang!"ujarnya cukup keras untuk didengar Menma dan teman-temannya.

Mata violet Wanita itu mengekori putranya yang menghilang di ujung jalan, sementara dia sendiri berkeliling Konoha untuk kebutuhan sehari-hari mereka.

'perasaan ini..'pikir Kushina sendu. 'bukankah seharusnya kita melakukannya Bersama-sama?'pikirnya sambil membayangkan sesosok lelaki berambut pirang dengan senyum hangat yang selalu ditujukan untuknya.

. . . . . . . . .

Konoha pukul 5.30 Petang.

Seperti biasa, di taman bermain Konoha itu, anak-anak bermain dengan leluasa. Bermain sepak kaleng, sebagaimana yang lazimnya dilakukan anak-anak. Disana tidak kurang 8 anak terbagi menjadi 2 regu saling bertanding berebutan kaleng untuk ditendang kearah gawang masing-masing team.

Menma, salah satu bocah disitu, berlarian kesana kemari Bersama bocah yang lain bermain sepak kaleng. Mereka kelihatan menikmati waktu mereka, bercanda, dan tertawa. Ya.. inilah dunia anak-anak, memang seharusnya demikian.. tidak diisi dengan ego dari para petinggi pemerintahan, tidak pula diisi dengan perang, pembunuhan, dan pertarungan.

Anak-anak ya.. harusnya bersikap seperti anak-anak : menikmati masa pertumbuhannya dengan baik.

"kau sedang berpikir apa, Ookami?"suara bariton itu membuat Anbu bertopeng serigala dihadapannya melirik ke samping, untuk mendapati 2 meter dari tempatnya bertengger; yaitu sebuah dahan pohon besar yang tinggi—seorang lelaki dengan wajah matang, memandanginya sambil bersedekap.

Lelaki itu berpakaian Uchiha, berambut spikey pendek, dengan memakai rompi khas guna membawa tantonya. Gestur tubuhnya kelihatan santai.

"anak-anak Konoha.. mereka suka sekali berlarian."kata Anbu serigala itu kalem. "bermain petak umpet, lempar batu, sepak kaleng.. apa kau menghabiskan masa kecilmu dengan itu.. sensei?"

Kagami ikutan memandang kearah pandangan Anbu serigala itu.

"masa kecilku adalah masa peperangan antar clan, masa perang dunia 1, dan pasca perang dunia 1. Aku tidak mengalami apa yang anak-anak itu alami."komennya datar. "apa kau mau melakukan apa yang mereka lakukan.. sekarang?"

Naruto mengerutkan kening dibalik topengnya.

"humormu lucu sekali sensei.. hal-hal seperti itu tidak membuatku tertarik."

Kagami Uchiha tersenyum kecil, dia menyisir rambutnya sebentar menggunakan jari.

'kau memang berbeda, Ookami.'batinnya penuh pengertian. Matanya tidak lepas dari memandangi wajah bocah mungil berambut pirang yang saat ini berhasil mencetak gol ke gawang lawannya. Anak itu berlari kearah rekan satu timnya dan melakukan tos tangan.

Lagi-lagi Kagami tersenyum kecil, dia menghembuskan napasnya pelan dan.. merasa lucu.

"tidak rindu pada putramu?"ucap pria head clan Uchiha itu lagi setelah beberapa saat. Kali ini, Naruto yang tadinya berada dalam posisi berjongkok, meluruskan kakinya, membiarkannya menggantung di atas pohon.

"itu putra Yondaime."jawab Naruto simple. "Kushina-san dan aku hanya membiarkannya memanggilku tou-chan karena dia masih kecil."

Kagami Uchiha menyandarkan dirinya ke pohon. Masih dalam posisi tubuh menghadap kearah si Anbu serigala.

"apa kau pernah merasakan rasanya punya Tousan.. Ookami?"

Naruto memberinya pandangan aneh, sebelum akhirnya menggelengkan kepala. "Ibu tidak memiliki suami."

Cukup lama, sebelum akhirnya Kagami memutuskan untuk bersuara Kembali.

"kau pernah melihat bagaimana anak-anak bepergian dengan ayah mereka?"

Meskipun menggunakan topeng, Kagami yakin sekali kali ini Naruto mengerucutkan bibir, kebiasannya kalau berpikir keras.

"ada banyak di Konoha. Atau Di luar Konoha."jawabnya kemudian. Entah apa yang dipikirkan oleh Anbu itu, Kagami mengangguk mendengar respon tersebut. Pria itu memejamkan matanya sejenak menikmati angin sambil menyandarkan tubuhnya ke pohon.

"ada hal-hal indah di dunia ini.. Ookami. Hal-hal seperti kebahagiaan anak-anak saat bermain, saat mereka berjalan-jalan dengan ayah atau ibu mereka. Saat mereka mendapat pelukan dari seorang ibu atau ayah.. saat mereka merayakan ulang tahun, bahkan yang paling sederhana.."ucapnya menggantung. Naruto aka Ookami melirik kearahnya secara instingtif.

Matahari memang sudah mulai menunjukkan rona merah, pertanda bahwa mau diakui atau tidak mereka sudah cukup lama berada disitu, hanya untuk memandangi anak-anak Konoha bermain.

Atau lebih tepatnya.. si bocah blonde bermain.

"ya?"gumam Naruto kemudian, tau bahwa senseinya sengaja menunda ucapannya. Pria dihadapannya kemudian membuka mata, mengarahkan atensi Naruto Uchiha aka Ookami Kembali kearah lapangan tempat anak-anak Konoha itu bermain.

"lihat."pria itu mengangkat tangannya cukup tinggi untuk menunjuk kearah pinggir lapangan bermain anak-anak itu. Terlihat satu per satu anak lelaki itu, didatangi oleh ayahnya, baik itu yang civilian biasa atau dari keluarga ninja.

Dari clan Inuzuka..

Clan Akimichi..

Clan Nara..

Dan lainnya.. bergiliran satu per satu melambai kearah anaknya, yang langsung disambut riang oleh anak-anak kecil itu dengan melompat-lompat, tawa, maupun lambaian perpisahan kearah temannya yang lain.

Apa mau dikata, anak lelaki sangat suka menghabiskan waktu dengan anak lelaki lainnya. Dan akan lebih suka lagi, kalau harus berjalan-jalan dengan ayahnya.

"peran ibu memang penting Ookami.. tapi dalam masa pertumbuhan.. peran ayah juga tidak kalah penting. Secara tidak langsung, aku yakin kau mendapatkan perhatian itu dari pastur lelaki tua di panti.. kalau kau masih ingat."gumam Kagami Uchiha akhirnya.

Suara angin begitu mendamaikan suasana hangat sore itu. Ditambah dengan siluet merah matahari. Suasana yang cantik, dan harusnya.. membahagiakan bagi keluarga dan anak-anak. Ya.. cuaca cerah.. kondisi negara stabil dan damai.. keluarga mana yang tidak menyukainya?

"souka.."Ookami menundukkan pandangannya sedikit, memandangi dedauan pohon kecil dihadapannya. Ia paling tidak bisa mengerti.. bahwa setidak-tidaknya.. dia pernah tumbuh dengan siluet 'ayah' walaupun tidak terlalu kental di masa kecilnya.

'walaupun aku tidak terlalu mengenal pastur tua itu.. tapi memang keberadaannya sudah seperti pemberi arahan.. pengayom.. pelindung bagi anak-anak.. secara tidak langsung.. itu adalah arti kata ayah.. bukan?'batin Naruto berusaha memahami ucapan Kagami Uchiha yang saat ini kelihatan tersenyum kecil. Entah apa yang dipikirkan oleh pria itu.

Pandangan mereka Kembali beralih pada bocah blonde yang saat ini hanya tinggal ditemani oleh satu-satunya teman, seorang lelaki kecil, berambut mangkok yang kelihatan berwajah jenaka.

Kagami menghembuskan napasnya Panjang dan dalam.

"apa.. kau tidak berniat untuk mengantarnya pulang.. Ookami?"ucap pria itu lambat dan dalam. Anbu serigala itu seketika menaikkan alis matanya sebelah dibalik topeng.

"apa hal semacam itu diperbolehkan? Hokage memberiku misi untuk berpatroli hari ini. Sementara mengantarkannya pulang.. berarti aku harus keluar dengan melepaskan topeng. Apa itu bukan pelanggaran?"ucapnya serius. Sesuatu yang dibalas dengan senyuman kecil Kagami Uchiha.

"dan mengawal Jinchuriiki beserta putranya juga ada dalam misimu."komen Kagami pendek. "kau tau.. kau bisa selalu mengalahkan ketatnya aturan Ookami.. jadi disiplin itu baik, tetapi menjadi robot.. kau jauh lebih baik dari ini."

Untuk beberapa saat, Ookami hanya memandangi pria dihadapannya, tidak bergerak maupun memberikan reaksi apa-apa. Walaupun begitu, Kagami Uchiha cukup yakin.. anak itu memahami apa yang ia maksudkan.. mungkin 5% dari kata-katanya.. begitulah.

"bagaimana dengan pos-ku.. sensei?"ujar Naruto akhirnya. "aku tidak bisa mengambil resiko membahayakan Konoha."

Kagami menggeleng kecil.

"serahkan padaku kali ini. Sekarang pergilah. Putramu.. lebih membutuhkanmu saat ini. Aku bisa menjaga Konoha untukmu sebagai gantinya."

Naruto tidak langsung menyambut ucapan Kagami itu dengan sorak-sorai. Meskipun, kenyataannya dia hampir tidak memiliki hari libur kecuali beberapa bulan sekali, yang ini terjadi dengan dalih.. 'latihan ketabahan' versi Kagami Uchiha.

Tapi robot serigala ROOT itu memang mengikuti perintah dan tidak melakukan protes sedikitpun.

"ambilah cuti Ookami.. aku akan bilang pada Hokage-sama untuk memberimu istirahat selama 3 hari di Uzumaki Compound. Untuk itu, istirahatkan pikiranmu.. tubuhmu.. Cuti dan datanglah lagi nanti dengan semangat yang penuh untuk menjadi pelindung bagi Konoha kita."

Kalimat itu klise sekali. Tapi Naruto Uchiha aka Ookami hanya memandangi Kagami Uchiha tanpa mengeluarkan satu kata pun. Kelihatannya dia masih berusaha mencerna apakah pria itu bercanda atau tidak.

"kau tidak sedang ingin menghukumku setelah ini semua kan?"tanyanya akhirnya. Sesuatu yang dijawab dengan senyum kecil sang kepala clan Uchiha.

"ayolah Ookami.. dimana serunya kalau kau menjadi penakut akan tantangan?"ucapnya sarkastik. "urusan besok biarlah besok. Atau, apa kau mau bilang kau sudah berubah jadi Uchiha yang lembek dan takut rasa sakit?"

Naruto mendengus.

"kau benar-benar menyebalkan sensei."ucapnya sambil menghilang dari dahan pohon tempat ia bertengger menyisakan Kagami Uchiha yang memandang kearah lapangan tempat bermain anak-anak nun jauh itu. Perlahan-lahan tubuhnya memecah menjadi bentuk gagak yang berterbangan jauh menyambut senja.

. . . . . . . . .

Hari sudah kian sore, tersisa di lapangan bermain itu hanya 2 anak. Menma Uzumaki, dan yang satu lagi seorang bocah lelaki berambut mangkok, Rock lee. Keduanya duduk dekat dengan pintu masuk taman bermain Konoha itu, dekat dengan tangga-tangga-nya. Meluruskan kaki, dan hanya memandang tidak bersemangat kearah matahari sore.

"nee.. apa kau tidak dijemput.. Lee?"Menma si bocah blonde memandangi rekannya. "semua orang sudah pulang. Apa kau tidak mau pulang?"

Bocah berambut mangkok beralis tebal itu menggeleng. "aku.. tidak bisa meninggalkanmu sendirian. Rumahku tidak jauh dari sini, jadi mudah saja untuk pulang."

Menma mengerucutkan bibirnya.

"ibuku mungkin akan terlambat menjemputku hari ini."ucapnya lesu. Sedangkan bocah dihadapannya mengacungkan kepalan tangan ke langit dengan semangat.

"yosh! Mari menunggunya sampai dia tiba!"

Menma yang awalnya memasang muka lesu, sedikit bersemangat mendengar itu. Dia kemudian mengajak Lee melakukan tos tangan, sesuatu yang disambut dengan semangat oleh Lee.

"baiklah. Aku akan meminta Kaa-chan untuk mengantarmu juga nanti."ucap bocah blonde itu kemudian. "jadi kita bisa pulang Bersama-sama."

Mata Lee kelihatan berbinar haru. "eto.. kau tidak perlu melakukannya. Aku menunggumu karena kau adalah seorang teman."

Menma menggeleng.

"kau adalah temanku. Jadi itu tidak masalah."

Mata Lee kelihatan berkaca-kaca penuh haru. Bocah itu memang berteman dengan Menma Uzumaki tanpa berpikir untuk meminta apapun sebagai balasannya. Tentu senang sekali untuk mengetahui bahwa Menma menganggapnya juga sebagai teman.

"tapi.. aku takut kegelapan. Dan sebentar lagi hari akan menjadi gelap."

Ucapan Lee itu membuat Menma sadar, dan saat ini dia juga jadi gelisah. "a-apa.. Kaa-chan lupa untuk menjemputku?"ucapnya agak nerves.

Sunyi sejenak, hanya suara burung yang Kembali ke sarang mereka di senja hari, yang terdengar. Konoha meskipun indah, tetap saja kalau sangat sepi, bagi anak-anak cukup menyeramkan juga. Sebelum kedua bocah tadi bisa berpikir yang tidak-tidak, dari arah belakang mereka muncul suara tawa kecil, cukup ramah, tetapi tidak terlalu terdengar familiar.. setidaknya di telinga Lee.

"apa Menma-chan mau pulang Bersama Tou-san hari ini?"

Mendengar suara itu, kedua bocah tadi terkejut. Si blonde seketika mengalihkan wajahnya kearah belakang, sedangkan Lee melebarkan matanya karena tidak mengenali orang yang berbicara itu. Pria setinggi 180 cm, berambut hitam, bermata hitam, berkaos hitam dengan celana Anbu. Siapa dia? Belum lagi ekspresi stoic si pria..

"Menma.. k-kau kenal orang ini? D-dia..-"

Belum sempat Lee menuntaskan ucapannya, blonde dihadapannya seketika langsung melebarkan mata dan berlari ke arah pria tadi, memeluknya dengan pelukan antusias.

"Touchan!"

Dan senja hari itu terasa sangat luar biasa bagi seorang Menma Uzumaki.

. . . . . . . . . .

Sepanjang jalan, Menma tidak habis bercerita. Bocah itu digendong Naruto di punggung, sementara Lee.. meskipun agak canggung, tetapi sangat Bahagia bisa di gandeng tangannya oleh Naruto Uchiha.

"baiklah, apa ini rumahmu.. Lee?"ujar pria itu saat mengantarkan si bocah ke depan rumahnya. Rumah Konoha yang tidak berafiliasi dengan clan manapun; sederhana, tetapi masih kelihatan nyaman untuk ditinggali. Di pintu sana, seorang nenek-nenek menunggui Lee; kelihatan begitu khawatir.

"Uchiha-san! Te-terima kasih telah membawa Lee pulang dengan selamat."ucap Wanita tua itu menghampiri mereka, membungkuk hormat karena merasa sangat berterima kasih bahwa cucunya diantarkan dengan selamat sampai ke rumah.

Lee yang melihat neneknya membungkuk, ikut-ikutan membungkuk dan merasa bersalah karena membuat neneknya khawatir.

"t-terima kasih Ji-san! M-maaf karena membuatmu repot."bocah berambut mangkok itu mengikuti gestur tubuh si nenek. Sedangkan Naruto Uchiha menggeleng pelan, melihat Tindakan keduanya.

"aku tidak merasa repot.. Baasan.. dan Lee. Terima kasih karena telah bermain dengan Menma."

Melihat nenek Lee yang kelihatan berada dalam mood untuk mengomeli Lee, Naruto serta merta mengangkat sebelah tangannya, sedangkan chibi Minato aka Menma hanya mengamati kejadian dihadapannya dari punggung Naruto.

"Lee menunggui Menma dijemput. Dia adalah seorang anak dengan loyalitas yang tinggi. Aku berharap mereka berdua akan berteman baik kedepannya."senyum Naruto mengembang sedikit, "Maaf membuatmu khawatir Baasan."dia memberi gestur hormat, membungkuk sedikit.

Masih dihadapan nenek Lee, pria Uchiha dewasa itu menekuk lututnya sedikit, menyamakan tingginya dengan bocah berambut mangkok itu.

"terima kasih Lee. Sampai jumpa lagi dilain waktu."dia mengulurkan tangannya, menyalami anak kecil itu sebelum kemudian berdiri dan berpamitan dengan nenek Lee.

"aku mohon diri, Baasan."Naruto berjalan menjauh, diiringi dengan lambaian tangan Menma ke arah Lee yang disambut dengan bocah berambut mangkok itu tidak kalah antusias.

Tap..

Tap..

Konoha rasanya begitu damai, kalau ditelusuri dengan santai, Bersama dengan orang yang kita cintai; apalagi kalau orang itu kuat, dan dia adalah ayahmu.. perasaan itu menyelimuti Menma, yang saat ini berada dalam gendongan punggung Naruto Uchiha.

Bocah itu memeluk ayahnya dengan erat, menempelkan dagunya di Pundak sang Anbu, yang terkenal dengan julukannya sebagai Anbu Serigala.

"apa Menma-chan takut.. pada sesuatu?"gumam Naruto yang merasa pelukan Menma di lehernya menguat, sedangkan chibi Blonde itu menggeleng. Dia sedang menahan tangis, sambil menguatkan pelukannya.

"A-apa.. Touchan.. tidak rindu pada M..m-enma?"ucap anak itu terbata-bata.

Naruto berhenti melangkah, sejenak. Dia membenarkan posisi tangannya yang memegangi pantat Menma agar si blonde tidak jatuh.

"aku rindu. Mana mungkin aku tidak rindu?"

Menma menggeleng, dan Naruto merasakan Gerakan itu di pundaknya.

"bukankah.. kalau Tou-chan rindu.. Tou-chan akan pulang? T-tapi.. T-Touchan tidak pulang.."ucapnya, masih dengan terbata-bata. Naruto yang merasakan ini mendesah.

'dari buku yang kubaca.. anak-anak akan merasa sangat emosional saat bertemu dengan orang tua mereka. Perasaan mereka ini bisa dilampiaskan dengan tangisan.. sikap agresif.. atau.. ketakutan?'

Naruto tidak ingat kenapa Menma bisa setakut itu, tapi yang ia asumsikan, Menma mungkin takut kalau ia akan marah saat anak itu menuduhnya mengabaikan keberadaannya. Mau bagaimana lagi, Menma menganggapnya sebagai 'ayah'nya..

'aku sudah berkali-kali melihat seorang anak ketakutan dimarahi ibu atau ayah mereka..'ingatan Naruto Kembali pada saat berpatroli dan secara tidak sengaja melihat scene seorang ayah atau ibu memarahi anak-anak mereka. Ya.. anak-anak pasti takut dimarahi.

'Oh.. Konoha..'batin Naruto tidak mengerti. Dulu dia pasti akan bingung sekali menghadapi situasi seperti ini. Tapi lambat laun.. peran ini makin membuatnya nyaman, dan tidak lagi.. dilakukannya dengan orientasi misi; tetapi lebih natural. Lebih kepada.. dia menikmati apa yang ia lakukan sampai di titik dia benar-benar tidak peduli apakah ini misi atau bukan. Dia memang peduli pada bocah blonde itu dan ibunya yang Jinchuriiki.

"nee.. Konoha membutuhkan pelindung."mulai Naruto lambat. Memastikan bahwa Menma mendengarkan dengan baik. "Menma-chan tidak bisa bermain dengan teman-teman kalau Konoha tidak terlindungi dengan baik."

Naruto merasakan bahwa bocah blonde di punggungnya mengerucutkan bibirnya.

"tapi.. ayah temanku juga seorang ninja dan dia pulang ke rumah.. bermain dengan anak mereka.. k-kenapa.. t-touchan tidak melakukan hal yang samaaa?"

Naruto mengerutkan keningnya. Sedikit bingung mau menjawab pertanyaan bocah itu dengan jawaban apa. Mau bagaimanapun dia tidak begitu mengerti mengenai urusan perasaan manusia dan hal-hal sentimental seperti ini. Salah menjawab bisa menyebabkan hal kurang baik kelihatannya.

"baiklah.. ini akan jadi rahasia kita berdua. Apa Menma-chan bisa menjaga rahasia?"ucap Naruto akhirnya.

Sejenak bocah dibelakangnya agak terkejut, tetapi kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya dengan antusias. Ini memberi Naruto ide tentang bagaimana harus menjawab pertanyaan dari bocah putra Yondaime itu.

"Ha-hai! Touchan bisa percaya padaku! J-jadi apa?"

Antusiasme bocah itu membuat Naruto tersenyum kecil. Tapi sesaat sebelum Naruto memberikan jawaban atas pertanyaan Menma Uzumaki ini, Naruto mendengar bahwa perut bocah itu berbunyi, dan di waktu yang bersamaan, Naruto merasakan hawa chakra hangat yang familiar. Rasanya seperti musim semi, dan bebungaan mendekat kearah nya. Pria itu memasang wajah kalem, saat dikejauhan, tepatnya di ujung jalan, dia melihat sesosok Wanita mengenakan kaos jounin warna gelap tanpa lengan dengan celana warna senada berdiri memandang kearah mereka.

Angin memang tau kapan waktunya untuk berhembus dan memainkan rambut orang-orang.

'aku bahkan hampir berpikir yang tidak-tidak.. entah bagaimana.. Uchiha satu ini selalu tau kapan harus muncul dan mengambil peran.'pikir Kushina dalam diam. Di ujung jalan, dia melihat putranya, si blonde kecil berada dalam gendongan seorang lelaki dewasa.

Pria yang sama yang ada waktu prosesi kelahiran anak itu.

Dan untuk alasan yang rancu, selalu berkaitan dengan kehidupannya sejak hari itu. Kushina tidak bodoh untuk menyadari bahwa alasan awal Naruto berada disekitarnya adalah untuk menjalankan misi yang diberikan oleh Hokage, tetapi lambat laun, semuanya mulai berubah menjadi natural.

Semuanya.. super natural. Dia tidak pernah merasakan adanya protocol misi dijalankan oleh Anbu serigala yang menurutnya ditugaskan untuk 'mengawalnya' itu. Di awal-awal dulu.. ya, hal itu sangat-sangat terasa. Tetapi makin kesini..

Bahkan Kushina tidak yakin kalau Hokage yang memerintahkan Naruto untuk mengambil peran sebagai ayah bagi Menma Uzumaki, putranya. Mana ada protocol misi seperti itu. Dia sangat tau kalau Hokage tidak akan mencabut hak-hak pribadi dari ninja yang dipimpinnya, tetapi apa kabar dengan Tindakan dan interaksi yang dilakukannya dengan ninja bermarga Uchiha itu?

Temankah? Mereka bahkan tidak berasal dari Angkatan yang sama.

Rekan? Tapi Kushina bukan Anbu dan tidak pernah menjalankan misi dengan lelaki itu.

Tidak ada yang bisa menjelaskan hal itu lebih baik dari bagaimana lelaki itu memperlakukan Kushina dan putranya. Dari cara lelaki itu menatap kearah putranya..

"maaf membuatmu khawatir."

Suara lelaki itu menyadarkan Kushina dari pikirannya. Tanpa ia sadari, lelaki Uchiha itu sudah sampai dihadapannya; tidak terkecuali, anak lelakinya yang berada dalam gendongan lelaki itu.

Mereka berpandangan untuk beberapa waktu, Kushina mengerjabkan matanya beberapa kali.

'dia bahkan sudah lebih tinggi dari Minato.'batin Kushina dalam diam. Matanya masih memandangi pria bermarga Uchiha itu lekat-lekat.

"tidak masalah.. Maaf sedikit terlambat untuk datang, aku sedikit kerepotan dalam berbelanja."ucap Kushina garing. Dia merasa canggung tentunya berbicara ke Naruto lagi setelah beberapa waktu mereka bahkan tidak ketemu atau berbicara satu sama lain.

Seperti yang kita tau, Naruto dalam prosesnya berlatih bahkan hampir tidak pernah pulang ke Uzumaki Compound lagi; hanya sekali 2 kali dalam setahun dan itupun.. untuk kemudian pergi lagi. 4 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk bisa dianggap biasa saja.

"Kaachan.. apa Kaa-chan Sudah masak? Aku.. lapar sekali."suara bocah itu menginterupsi pikiran Kushina, membawanya Kembali ke kesadaran bahwa mereka belum bergerak dari jalanan itu untuk pulang.

Kushina menggeleng. "Kaachan belum masak Menma-chan. Apa kau ingin makan sesuatu? Kita bisa membelinya ke kedai makanan terdekat."

Menma kelihatan berpikir sejenak.

"apa touchan mau makan?"

Pertanyaan polos duren kecil itu membuat Naruto tersenyum; lagi.

"tentu. Tapi aku lebih suka makan dirumah dibandingkan di kedai makan."

Menma kecil mengangguk-angguk. Dia memandang wajah ibunya dengan pandangan sangat polos dan bersemangat.

"kalau begitu mari pulang. Biarkan kaachan yang memasak untuk touchan!"

Suara tinggi khas anak-anak yang Bahagia itu membuat Kushina tersenyum, dia mengalihkan pandangannya dari Menma, memandang kearah pria dihadapannya sebagai gantinya.

'aku mungkin tidak mengatakannya.. tapi denganmu.. kupikir aku merindukanmu.. Naruto-kun.'pikir Wanita itu sebelum ketiganya pulang diiringi dengan celotehan Menma Uzumaki disepanjang jalan.

TBC.

RnR yo.