Disclaimer : Masashi Kishimoto
Author : Mr. Battosai
Warning : Rada Lemon di bagian akhir. Baca atau skip.
Chapter 28
Misi dan Kuchiyose.
. . . . . . . . .
Tap!
Tap!
Tap!
Keempat pria itu berlari melintasi hutan-hutan Konoha yang vegetasinya mulai berubah menjadi banyak rerumputan, pohon-pohon bambu, dan beberapa kali pohon berbentuk jamur atau memang jamur raksasa kelihatan. Kecepatan anbu-anbu itu mungkin sekaliber dengan jounin; cepat, tetapi tidak secepat sebelumnya mengingat jarak yang telah ditempuh dari Konoha menuju tepian Kusagakure. Perjalanan masih akan dilanjutkan meskipun langit telah berubah menjadi orange pudar, yang menandakan malam sudah mau menyapa mereka, sebelum akhirnya si kapten aka Anbu bertopeng rusa mulai bersuara.
"Ookami!"
Anbu yang dimaksud hanya melirik kearah belakang tanpa berhenti berlari. "ada sesuatu?"
Shika menggeleng, "cari tempat istirahat. Kita bisa mengambil jeda sebentar di areal ini."
Naruto aka Ookami mengangguk ringan. Mata sharingannya yang sedari awal memang terus menyala menyisir kearah depan dan sekitarnya, mencari tanda-tanda jejak chakra asing lain.
"30 meter ke depan kita berhenti."ucap Naruto pada rombongan. Ia menggunakan kemampuan teleportasinya untuk memangkas jarak itu dalam kedipan mata, sesuatu yang tidak luput dari pengamatan Anbu Shika.
"dia cepat."ucap Kuma sedikit terkejut. "kenapa dia tidak menggunakan shunshin dari tadi?"lanjutnya bingung.
"masalah chakra kah?"sahut Hato ikut bertepekur.
Shika menyeringai, "yare.. ayo kita beristirahat sebentar sebelum Kembali melanjutkan perjalanan."
Tap..
Tap..
Keempatnya duduk, di tengah-tengah mereka telah diletakkan kayu bakar oleh Ookami, pria itu dengan sigap langsung mengarahkan jutsu katon mininya untuk membakar kayu-kayu itu. Menjadikan suasana petang itu seperti acara kemah kecil yang cukup meriah.
Pria serigala itu menonaktifkan mata sharingannya.
"kau yakin ini aman?"kali ini Kuma yang bersuara. Maklum, ada begitu banyak rasa penasaran dikepalanya mengenai sosok pria serigala dihadapannya ini.
Naruto mengangkat bahunya kecil. "sharinganku tidak melihat jejak chakra di radius sekitar, ini cukup aman."
Kuma melirik kearah Shika, mendapati pria itu hanya memandanginya dengan pandangan.. geli?
"aku tidak sedang meragukanmu Ookami, tapi.. bukankah ini terlalu menarik perhatian musuh? Aku tidak ingat pernah melakukan misi dan menghidupkan api unggun."komen Kuma bingung dan aneh. "Apa aku melewatkan sesuatu?"
Hato duduk mendekat kearah api unggun itu, dia mengangkat tangannya mendekat kearah api kecil yang hangat itu.
"seranggaku bilang tidak menemukan apapun dalam radius 100 Mil. Ini aman, Kuma."
Kuma berjalan mendekat kearah lingkaran api unggun itu. Meskipun dia masih memiliki banyak pertanyaan, tapi perutnya kelihatan kurang singkron dengan perasaan bingungnya. Jadi dia mengambil scroll logistics, membentangnya dan mengeluarkan banyak sekali sosis, mie instan, buah-buahan, dan cips.
"kuharap kau tidak keberatan aku bertanya, Ookami. Ini benar-benar baru untukku dipimpin oleh orang yang tidak kukenal."ucapnya dengan muka sedikit bersalah sambil mulai menancapkan sosis ke besi pemanggang yang dibawanya sekaligus dengan peralatan logisticsnya. Topeng yang ia kenakan juga sudah menggantung di leher, maklum, ini adalah prosesi sakral bagi clan Akimichi : Makan.
Dan dia cukup merasa aman dengan rekan setim nya untuk melakukan itu.
Ookami hanya duduk, diam sambil memandangi api. Matanya kelihatan kosong, hanya terpaku pada api tersebut. Dia melirik Kuma sekilas, kemudian melanjutkan acara menatap api unggun-nya.
"tidak masalah, itu tidak menggangguku."komennya pelan.
Kali ini Hato yang memandanginya, berusaha membuka pembicaraan terkait misi mereka.
"berapa kali kau melakukan misi ke Iwagakure?"ujar Hato sopan. Khas Aburame, sangat praktis dan sopan. Naruto melirik kearahnya, menimbang-nimbang sejenak.
"kupikir akan jadi 4 kali dengan yang ini."
"apa kau selalu membuat api unggun dan berkemah?"kali ini sambil memakan sosisnya, Kuma mulai berbicara lagi. Dia menawarkan makanan itu pada rekan-rekannya 1 per 1 yang hanya dijawab gelengan, atau anggukan.
Suasananya cukup canggung, tapi cukup hangat.
Naruto aka Ookami memandangi pria Akimichi tadi lagi, memastikan bahwa dia memang benar-benar ingin menjawab pertanyaan pria itu atau hanya membiarkannya menggantung.
"kadang aku berhenti, kadang tidak. Kadang makan, kadang juga tidak."
Kuma melebarkan matanya mendengar ini, dia tentu tidak pernah mengalami yang Namanya misi luar negara tanpa acara makan.
"kau sungguh pernah melaksanakan misi tanpa makan?"tanyanya sedikit tidak percaya. "kau yakin?"
Naruto balas memandanginya untuk beberapa saat, "aku terbiasa bekerja dengan logistics minim."
"itu tidak terdengar seperti sesuatu yang membuatku bersemangat."disela-sela kegiatan 'makan'nya Kuma berkomentar. Pria Akimichi itu makan dengan cepat dan lahap. Khas Akimichi sekali.
'Akimichi adalah clan yang jutsunya terkait dengan pembakaran lemak..'pikir Naruto mengingat Kembali isi buku tentang clan Konoha yang ia baca. 'haruskah aku bertanya mengenai ini padanya?'dia berpikir sebentar.
"kau tentu mengetahui bahwa spesialisasi Akimichi adalah kekkai-genkai pembakaran lemaknya, bukan?"kali ini tanpa Ookami sadari, Shika sudah duduk didekatnya. Pria itu memberinya lirikan kilat.
"apa itu yang kau pikirkan?"lanjut pria itu ramah.
Naruto bisa bilang bahwa pria itu sedang berusaha membuka percakapan diantara mereka. Sesuatu yang pernah dilakukan mereka… beberapa tahun lalu di Gedung kepolisian Uchiha.
"aku tidak menyangka kita akan bertemu di divisi yang sama."Naruto memandang kearah pria bercode 'Shika' itu sebentar.
Orang yang dimaksud mungkin menyeringai?
Atau tertawa?
Ekspresinya tersembunyi dibalik topeng yang ia kenakan, tapi Naruto cukup yakin kalau itu ekspresi yang ramah.
"kau tidak mengunjungiku setelah hari itu."balas pria itu santai.
Naruto mengerutkan keningnya sedikit. "kau benar-benar mengundangku? Kukira itu hanya ramah-tamah."
Shika mendesah. "merepotkan, tapi kukira kau bisa menjadi rekan main shogiku atau apa."
Kuma berhenti sejenak dari prosesi makannya, pria itu sedang memakan ramen bowl keduanya, dia memandangi Anbu Serigala dihadapannya dengan pandangan spekulatif.
"banyak yang tidak mengenalimu Ookami. Aku sendiri tidak benar-benar percaya dengan pendapat orang-orang. Kau harus menghabiskan waktu dengan yang lain kalau tidak mau stress karena pekerjaan, Ookami."ujarnya dengan suara gema-nya yang khas. "teman, walaupun kadang merepotkan, tetapi bisa membuatmu tetap waras."
Hato, mau sedisiplin apapun juga, tetap manusia yang butuh makan, pria itu mengambil satu apel dari logistics yang dibawa Kuma, dan mulai makan dengan tenang. Topengnya sudah bergeser ke samping wajah.
"apa yang akan kau lakukan kalau tiba-tiba seseorang memergoki kita, Ookami?"tanya pria itu out of topic.
Ya.. Aburame memang salah satu clan dengan anggota yang cerdas-cerdas di Konoha. Jadi tidaklah mengherankan kalau dia menanyakan hal tersebut ke orang yang menarik perhatiannya.
Naruto mengerucutkan bibirnya sebentar, dia sedang menimbang-nimbang jawaban.
"situasional. Bagaimana denganmu?"
Hato memandangi pria itu tenang.
"orientasiku adalah misi, jadi apapun itu aku akan bertindak agar misi terlaksana dengan baik."
"souka."Komen Naruto pelan. Dia melirik kearah shika, yang kelihatannya bersiap untuk makan atau malah mengantongi logistic?
"bagaimana aturan patrolinya Taichou?"ucapnya Naruto yang menyimpulkan bahwa Shika pasti ingin agar perimeter ini aman untuk tempat istirahat mereka. Pria yang diajaknya bicara hanya memandanginya dengan pandangan menilai untuk beberapa waktu, walaupun tangannya tetap bergerak mengantongi beberapa buah-buahan.
"kita akan berpatroli memutari areal ini. Hato dan Kuma bisa beristirahat sejenak."
Kedua orang yang dimaksud mengangguk kecil, sementara Ookami berdiri, mata sharingannya Kembali menyala. Dia sudah mau bergegas sebelum Kuma yang sedang makan, melemparkan 1 apel kearahnya.
"makanlah di perjalanan. Kau kurus sekali Ookami."
"Arigatou."Naruto memasukkan buah itu dalam saku celananya. Dia memandang Shika untuk intstruksi lebih lanjut. Pria Nara itu berdiri berdekatan dengannya, kemudian memberikan instruksi patroli.
"bagaimana kalau nanti setelah pulang kita bermain shogi?"tanya Shika sesaat sebelum keduanya berpisah untuk melakukan patroli. Ookami dengan sharingannya hanya memberi pria itu lirikan sopan, sebentar.
"kalau kau memberiku uang, mungkin saja."
Shika menaikkan alisnya bingung. "merepotkan.. apa kau sematerialistik itu?"
Naruto tertawa, tetapi tidak menanggapi apapun. Pria itu meninggalkan Shika yang saat ini memandangi punggungnya dengan pikiran penuh asumsi.
'aku yakin kau tidak sedangkal itu.. Ookami.'batin Shika sebelum berlari di jalur patrolinya.
Dunia memang penuh hal yang tidak terduga dan tidak diketahui kan?
. . . . . . . . .
Meanwhile
Di tengah hutan yang tidak diketahui, terlihat ada 4 orang yang tergeletak di tanah. Tidak jauh dari mayat-mayat tersebut, terlihat seorang remaja lelaki bertopeng anjing, bersurai abu-abu dengan sebelah mata sharingan dan sebelah mata yang lainnya berselaput merah.
Remaja itu berjalan menuju kearah kegelapan hutan, meninggalkan 4 orang yang telah dibunuhnya, dengan Langkah gontai dan kelihatan seperti tidak peduli. Sementara itu 4 orang tadi tidak lain adalah 4 ninja Konoha berseragam Chunnin dan Jounin yang masing-masing dibunuh dengan sayatan di leher.
Entah apa yang sedang terjadi, tapi kelihatannya Anbu remaja lelaki itu membunuh tanpa merasakan emosi sedikitpun. Semua kejadian itu diperhatikan oleh gagak hitam yang tidak jauh bertengger di salah satu dahan. Burung itu memandangi bangkai-bangkai dihadapannya dengan pandangan seksama, tetapi bukan untuk makan, dia malah mengepakkan sayapnya, dan memilih pergi terbang menunju ke arah Konoha untuk menemui tuannya.
"ayo kita lihat.. bagaimana dia melewati ini."ucap si Pemilik gagak sambil memandangi awan malam di Konoha malam hari itu. Pria itu melanjutkan patrolinya di perimeter selatan desa Konoha, diiringi dengan bulan yang kelihatan terang benderang menyinari siluet hitamnya.
'apa kau akan bertindak dengan baik di keadaan mendesak.. Ookami?'batinnya sambil lalu.
. . . . . . . . .
Pesisir Kusagakure 9 PM.
"roger. Pesisir Selatan clear."
Suara Anbu shika bergema dari alat komunikasi yang terpasang di telinga Ookami. Pria itu melompati tiap dahan pepohonan dengan kecepatan standar. Tidak lagi terburu-buru, dan tidak juga terlalu santai. Dia menikmati patroli yang ia lakukan.
"roger. Posisi Barat clear."
Hening.
Dan begitulah, mereka terus berpatroli dalam diam untuk beberapa waktu. Kurang lebih sudah berjalan sekitar 2 jam lebih sedikit, sudah hampir memasuki fase ganti patroli, untuk istirahat 3 jam mereka, saat tiba-tiba Shika bersuara lagi.
"Apa kau sudah mengantuk, Ookami?"
"belum. Ada apa?"
Pria yang diajak berbicara, walaupun agak ngantuk dan Lelah, tetap bersikap professional. Shika tau sekali sebenarnya Anbu itu sudah ada di posisi.. siap beristirahat? Hanya orang bodoh yang akan bilang perjalanan beratus mil tidak melelahkan.
"aku melihat sesuatu yang menarik di perimeter timur. Mau datang?"
Ookami berhenti sejenak di salah satu dahan. Kemudian tangannya menyentuh serangga cukup besar, sebesar serangga yang suka berbunyi di hutan saat musim panas akan tiba, yang dari tadi bertengger di atas punggungnya.
Dia meletakkan serangga itu diatas telapak tangannya dan mengelus kepala serangga itu sebentar. "kabari Hato kalau dia harus stand by."gumamnya pelan sesaat sebelum serangga itu pergi, seolah-olah mengerti apa yang diucapkan olehnya.
Shika, di HT, yang sayup-sayup mendengarkan percakapan itu berdehem. Dia menyeringai saat Ookami menanyakan kenapa dia terbatuk-batuk seperti itu.
"kau sakit Taichou?"tanya pria setinggi 180 cm itu via HT.
"merepotkan.. Aburame mana yang pernah menjalankan misi denganmu?"
Naruto berpikir sebentar. Dia sudah bersiap memutar Haluan menuju perimeter yang dimaksud oleh Shika.
"kau harus menjelaskan misimu dulu, baru aku akan melakukan hal yang sama, Taichou."
Shika mendesah.
"kau adalah pria yang sulit, Ookami."
"kata buku yang kubaca, seorang Anbu haruslah memiliki pribadi yang sulit, Taichou. Apa menurutmu buku itu salah?"
Untuk beberapa waktu yang terdengar hanya bunyi angin, dan suara tapak kaki Shika yang menjejak di pepohonan. Sejenak percakapan HT itu Kembali hening dimana kedua Anbu Konoha itu larut dalam pikiran masing-masing.
"kau tau.. kau tidak perlu se-kaku itu setiap waktu, Ookami. Itu akan menjauhkan orang-orang dari niatan untuk menjadi temanmu."
Tap!
Tap!
Hening sejenak. Shika mulai bertanya-tanya dalam hati apakah pria serigala itu mendengarnya dengan baik atau tidak.
Atau apakah terjadi sesuatu?
"apa aku menyinggungmu atau kau tidak mendengarkan?"tanyanya akhirnya setelah beberapa menit menunggu jawaban dari Ookami tetapi yang didapatnya nihil.
Pria itu seperti angin saja. Bahkan suara tapak kakinya pun jarang terdengar. Entah lari macam apa yang dilakukan oleh Ookami No Shinobi. Itu mengingatkannya pada mendiang Yondaime yang bisa melakukan lari hantu tanpa suara tapak kaki seperti itu.
"apa kau baik-baik saja Ookami? Atau-"Naruto langsung memotong ucapan pria bermarga Nara itu sebelum kepanikannya menyebar kemana-mana.
"aku mendengarmu. Dan aku tidak tersinggung."
Shika menaikkan alisnya. "kenapa kau tidak langsung menjawabnya?"
Naruto lagi-lagi diam sejenak, seperti biasa, berhasil membuat lawan bicaranya jadi tidak sabaran.
"entahlah. Mungkin kalau kau mau membayar untuk respon yang lebih cepat, aku akan melakukannya."
Shika mendecih.
"apa semua Uchiha sepertimu? Kau suka sekali pada uang Ookami."
Naruto tersenyum, yang tentu saja tidak diketahui oleh rekannya itu. Dia sudah mendekati perimeternya si Anbu Rusa. Bersiap untuk bergabung dengan pria itu untuk memantau 'objek menarik' yang dikatakan oleh si kapten.
"tidak masalah bukan, kalau aku suka uang?"
Shika tersentak saat mendapati pria bertopeng serigala itu ada disebelahnya. Lebih jeleknya lagi, tanpa suara, dan tanpa terdeteksi olehnya.
'apa orang ini selalu secepat ini?'batinnya kaget. Kalau melihat tentang jam terbang sebagai Anbu, Shika kadang merasa bahwa dia mungkin lebih berpengalaman dibandingkan dengan rekan mudanya ini. Tapi.. bukankah orang ini selalu bisa mengejutkannya?
"apa kau terkejut?"
Shika menggelengkan kepalanya pelan, mengabaikan Ookami. Walaupun jawabannya tentu saja 'iya'. Ookami tau jelas tentang hal itu.
"apa kau melihat apa yang terjadi disana?"
Atensi Ookami beralih dari Shika menuju kearah yang ditunjuk pria itu, yaitu ke sebuah rumah yang berada di areal lapang, di tengah jurang. Terlihat ada tanda-tanda kehidupan disekitar sana, terbukti dengan lampu terang yang mencolok ditengah kegelapan malam dan 2 orang lelaki yang berjaga di depan pintu rumah itu.
Rumahnya besar untuk skala rumah di tengah hutan, dipinggiran desa. Sesuatu yang menarik pastilah ada disana.
"kita bisa menyelinap kesana."Naruto akhirnya bersuara. "kau terlihat cukup terganggu dengan aktifitas dibawah sana, Taichou."
"itu bisa saja rumah bandit yang bersembunyi dari patroli keamanan Iwa No Kunni dan Hi No Kunni. Ini bukan tujuan utama misi kita, tapi kupikir penting bagi kita untuk tau apa yang ada di dalam sana."
Bukankah sudah menjadi tugas seorang Anbu untuk mendapatkan informasi/menghabisi setiap ancaman yang muncul dan berpotensi membahayakan warga desa/negaranya? Dan itulah mereka. Eksekutor itu. Para Anbu.
"baiklah. Jadi instruksimu?"gumam Naruto akhirnya, menyadarkan Shika dari fase berpikirnya.
Anbu Shika memandangi lokasi rumah itu untuk beberapa saat. Kembali lagi, meskipun dia juga tidak tau pasti apa yang ada di dalam sana, kelihatannya memang.. mereka benar-benar akan melakukan eksekusi.
Dengan catatan bahwa dia memang tau bahwa yang ada di bawah sana adalah ancaman bagi desa tentunya.
"ayo cari tau apakah kita perlu melakukan intervensi atau tidak."
Naruto mengangguk "dimengerti."
Keduanya menghilang dalam sunshin menuju tempat yang ditargetkan setelahnya.
. . . . . . . . . .
"Henge no Jutsu!"gumam pelan Naruto sambil menyamar menjadi seekor tikus dan masuk ke dalam ruangan dalam rumah besar itu via memanjat tiang rumah.
Naruto berjalan di tiang rangka atap rumah itu. Rumahnya lapang dan banyak orang berada disana. Ramai sekali, ada perempuan dan laki-laki; orang-orang berpakaian bandit, orang-orang berpakaian samurai; orang-orang dengan pakaian civilians, dan beberapa kelihatan lebih glamor dibandingkan yang lain.
'oke.. ini sebuah pesta kelihatannya.'
Kelihatan ada tim Wanita penghibur dan hiburan dengan musik dalam ruangan itu untuk menyemarakkan suasana.
Mata Naruto menyapu ke sekeliling ruangan. Dia mendapati bahwa ada banyak sekali makanan, minuman alcohol, dan peti-peti yang kelihatannya berisi komoditas berharga? Ada beberapa ruangan disana, dan Naruto dalam wujud henge nya mulai berkeliling mengecek 1 per satu isi tiap kamar itu.
Ruangan pertama berisi kain-kain. Tidak ada yang special.
Ruangan kedua berisi logistics. Tidak ada yang special juga.
Ruangan ketiga berisi amunisi, senjata-senjata seperti kunai dan logam. Tidak terlalu berharga juga.
Di ruangan ke empat..
Naruto mendapati seorang pria sedang melucuti baju seorang gadis. Gadis itu kelihatan diikat, tetapi seperti tidak ada perlawanan berarti darinya. Pria itu sedang menciumi tubuh gadis itu, menyapukan tangannya hampir keseluruh bagian tubuh Wanita itu.
"ahhh.."
Naruto yang memandangi ini merasa bingung, tapi.. berusaha memahami apa yang sedang terjadi. Apa ini yang dikatakan sebagai.. kekasih yang bermesraan?
'menurut buku yang kubaca.. ini disebut sebagai suasana intim. Tapi kenapa Wanita itu diikat? Bukankah.. biasanya mereka akan berciuman atau apa?'
Tangan lelaki itu beranjak ke arah payudara gadis itu. Meremasnya sedemikian rupa seperti meremas balon. Naruto memandangi pemandangan ini dengan intens.
'apakah.. meremas payudara wanita bisa menyebabkan seseorang jadi.. mabuk?'pikirnya bingung, dan.. penasaran?
'tapi kenapa aku merasa.. aku menyukai memandangi ini?'
Lelaki itu menciumi payudara Wanita itu.. meremasnya dan menciuminya. Menjilat.. dan menyesap? Seperti bayi dewasa. Wanita itu juga tidak kalah kooperatif meskipun tubuhnya sedang dalam kondisi terikat. Tubuhnya seperti.. melengkung kearah lelaki itu…
Seperti supaya lelaki itu menyusu dengan lebih leluasa?
Tangan lelaki itu turun, mengusap-usap perut, turun ke paha, betis.. pinggul.. kemudian kearah kelamin si Wanita. Mengelusnya dari atas ke bawah berulang-ulang.
"ahh.. j-jaaangan Sato-sama.. akh.."
Suara erangan itu semakin bergema dalam ruangan. Lelaki Bernama Sato itu terus menyapukan wajah berkumisnya di tubuh Wanita itu. Terus ke bawah.. dia mulai mengendusi celana pendek yang dikenakan Wanita itu. Menciumi areal selakangannya.. mengusapkan wajah berkumisnya ke arah sana.
"ahh.. sa-satoo-sama.. akh.. ja-jangan.."
Tapi pria Bernama Sato itu kelihatan tidak peduli dan terus melanjutkan aksinya. Malah sekarang dia melepas celana yang dikenakan Wanita itu dan mulai mengendusi kemaluannya. Wanita itu mengerang semakin menjadi-jadi.
"kau akan suka ini Ara-chan.."gumamnya sambil memandangi Wanita itu dari arah kemaluannya. "aku suka sekali ini."gumamnya lagi sambil mulai mendekatkan wajahnya kearah kemaluan Wanita itu. Mulai menciumi dan menjilatinya.
"s-saaatoo-sama! Ahh.."
Naruto aka tikus yang memandangi prosesi ini hanya bisa memandangi kejadian ini dengan pandangan.. tertarik?
'tapi apa itu memang se.. memabukkan itu rasanya? Itu membuatku penasaran. Apa aku bisa bertanya tentang ini pada sensei.. hm..'
Pikiran Ookami mulai berkelana kemana-mana.
'apakah Kushina-san pernah melakukan hal ini?'
Karena Menma lahir, bukankah seharusnya jawabannya adalah : Ya?
'tapi apa Kushina-san melakukannya dengan cara yang sama? Apa ia dan Yondaime..-'
Pikiran liar Ookami keburu terpotong dengan suara HT dari Shika.
"Anbu Konoha di ujung koridor. Kelihatannya dia sedang di interogasi. Dia jadi targetmu, sementara aku akan mengumpulkan informasi."
'nani?!'
"AKHHHH!"
Naruto sebenarnya kaget dan kesal karena pikirannya diinterupsi oleh Shika, tapi kemudian, suara teriakan Wanita menarik perhatiannya. Yang walaupun hal ini tertutupi oleh suara riuh Wanita penari dan hiburan yang disugukan di ruang utama bagian depan yang tadi dilewati Naruto.
'seorang Anbu Wanita?'
Tikus hitam aka Ookami itu segera meninggalkan ruangan 'kekasih bermesraan' ini menuju ujung koridor tempat suara teriakan Wanita tadi berasal. Kali ini, pikiran pria serigala itu tidak lagi mengawang-awang membayangkan hal-hal intimate seperti yang tadi disaksikannya.
'itu bisa menunggu..'batin Naruto menyemangati diri sendiri. Rasa keingintahuannya begitu tinggi dalam hal ini, tetapi dia perlu mendahulukan misi dibandingkan urusan keingintahuan ini. Begitulah ia. Begitulah Anbu seharusnya berpikir.
'siapa Anbu ini…'
Di ujung ruangan, tikus hitam itu mendapati sebuah ruangan yang cukup lapang. Ruangan itu tidaklah semarak seperti ruangan yang lain, melainkan seperti Gudang penyimpanan dengan 3 orang Wanita terikat.
2 berpakaian civilian dan yang satu ini..
Yang sedang duduk di atas kursi interogasi. Dengan tubuh sekal berbalut baju dalam Anbu dan armour yang sudah di sobek dan terjatuh di lantai.
Wanita cantik berambut ungu sepinggang.. yang dikenali Naruto sebagai Ansatsu baru di divisi Spionase.
'Yugao Uzuki?'
Tidak seperti Wanita yang tadi dilihat Naruto di ruangan lain dimana Wanita itu suka disentuh dan diciumi oleh lelakinya, Yugao kelihatan benci sekali didekati.. apalagi dielus tangannya oleh samurai dihadapannya.
Total ada 4 orang samurai yang mengelilingi Wanita itu.
Keempatnya kelihatan sedikit mabuk dan mulai bersikap.. liar?
'Apa Yugao menikmati ini?'
Pikiran Naruto Kembali ke ruangan sebelumnya dimana Wanita itu, yang kedudukannya sama-sama terikat seperti Yugao, malah mengerang.. menikmati?
Apakah dia perlu menolong atau membiarkan Yugao menikmati ini?
"kau cantik sekali. Aku tidak tau Konoha memiliki Anbu yang semenarik ini."
Seorang lelaki mulai menyapukan tangannya mulai mengelus lengan Yugao. Wanita yang saat ini terperangkap dihadapan 4 lelaki, terikat, dan mulai dirangsang dengan sentuhan itu kelihatan menjadi lebih tidak nyaman.
Dia mulai memberontak di kursinya, tetapi segera digagalkan oleh lelaki yang stand by di belakang tubuhnya. Pria itu segera menekan Kembali bahu Yugao kapanpun Wanita itu berusaha berdiri dari kursinya dan melepaskan diri.
"ayolah.. kalau kau kooperatif ini akan jadi menyenangkan untukmu! HAHAHA!"
Salah seorang lelaki menyentuh rahang Yugao, mengelusnya.
"LEMBUT SEKALI KULITNYA! AKU SUKA INI!"
"Cih!"
Naruto kaget saat melihat Yugao sebagai ganti mengerang malah meludahi lelaki itu. Yang malah dibalas dengan tawa lebih keras.
"HAHAHA! AKU SUKA PEREMPUAN SEPERTI KAU! AKAN BINAL SEKALI HAHAHA!"
Keempat pria itu kelihatan menikmati momen ini. Dimana selanjutnya salah satu dari mereka mulai mendekat, mengelus paha Yugao, walaupun belum sampai ke bagian kelaminnya.
"HENTIKAN KUMOHON! KUMOHON JANGAN SENTUH AKU!"teriakan itu bukannya menghentikan lelaki-lelaki itu malah semakin membuatnya girang. Bau alcohol begitu kuat menguar dari dalam ruangan itu, yang Naruto asumsikan bahwa.. orang-orang itu sedang mabuk dan tidak mungkin orang mabuk bisa berpikir kan?
'apa mereka akan bersenang-senang? Atau..'
"AKHH! AKU BENCI KALIAN! BUNUH SAJA AKU!"
Yugao Kembali memberontak di kursinya saat salah satu dari keempat orang itu mencium pipinya. Wanita berambut ungu itu kelihatan berusaha kabur dari posisi itu tetapi tertahan di kursi. Naruto agak bingung kenapa Yugao tidak melakukan teleportasi malah bertahan di keadaannya yang sekarang, sampai waktu dia melihat darah menetes dari perut Wanita itu dan mulai membasahi baju dalam Anbu nya.
"KALIAN SEMUA ORANG KONOHA MEMANG BEGITU KAN?! BILANG TIDAK SUKA TAPI MENIKMATI SETIAP SENTUHAN INI!"
Salah seorang lelaki mulai menggunting bagian sebelah lengan baju Yugao, membuat lengan atletis Wanita itu terekspos.
"KALIAN MEMANG SANGAT BINAL SEBENARNYA! HAHAHA! AKU SUNGGUH TIDAK SABAR UNTUK MENIKMATI TUBUH-TUBUH WANITA KONOHA!"
Entah bagaimana Naruto agak tersinggung dengan perkataan itu. Itu membuatnya kesal dan jengkel.
"APALAGI KAU TAU!? JALANG INI MEMILIKI KARAKTER YANG MIRIP DENGAN ISTRI MENDIANG YONDAIME! SEXY DAN CANTIK SEKALI! AKU SANGAT INGIN MENIDURINYA!"
'Apa maksudnya itu?!'batin Naruto tambah jengkel.
"TOLONG LEPASKAN AKU! SIAL KAU! BUNUH SAJA AKU!"
Salah seorang pria mulai berani meraba perut Yugao, mulai naik dan ingin meremas payudara Wanita itu saat kemudian sesuatu yang Naruto tidak pernah perkirakan terjadi..
Yugao Uzuki menangis.
Dan berteriak memohon untuk dibunuh saja dibandingkan menjadi pelampiasan nafsu pria mabuk itu.
"KAMI.. BUNUH SAJA AKU.. AKU TIDAK MAU INI TERJADI PADAKU.."
Naruto tidak terlalu paham sebenarnya apa yang penting, tidak penting, kurang penting, bagi seorang Yugao Uzuki atau Wanita pada umumnya. Tapi yang ia tau.. seseorang tidak mungkin menangis untuk sesuatu yang menyenangkan bukan?
'baiklah.. mari kita selesaikan ini.. Yugao.'batin Naruto akhirnya.
"OHHH MANIS SEKALI.. KAMI TIDAK AKAN MEMBUNUHMU SEBELUM MENIKMATI TUBUHMU DAN MENYUSU PADA-"
CRASH!
Satu kepala terlepas dari lehernya. Menyisakan 3 orang yang terganga melihat rekan mereka ditebas lehernya oleh seseorang bertopeng Serigala.
"k-KAU! B-BAJINGAN K-KAU-"
CRASH!
Sudah dua orang ambruk dari total 4 orang samurai yang berada disitu. Sharingan Naruto berputar dengan cepat, menghindari lemparan botol dari 2 orang yang tersisa dan membuat Gerakan merunduk, menebas kearah alat kelamin salah satu pria yang ada disana.
"AAAAAAKH!"
"MAU APA KAU!? SIAL KONOHA! HARUSNYA SUDAH KUBILANG PADA DAIMYOU UNTUK MENYINGKIRKAN KALIAN PARA ANBU SIAL-"
"kau yang sial sekali."ujar Naruto sengit sambil memiting lelaki itu. Dia menghantamkan wajah lelaki itu beberapa kali ke dinding dan menendanginya.
"BANGSAT KAU UCHIHA! KALAU BUKAN KARENA NEGARA API-"
"Kenapa kau mengincar Wanita Konoha?"
BUAGH!
Tendangan itu tidak lantas menyadarkan lelaki tadi dari fase mabuknya. Justru malah membuatnya makin berteriak tidak jelas.
"KAU TANYA AKU?! KARNA CANTIK! ANBU ITU CANTIK SEKALI! TIDAKKAH KAU INGIN MENYENTUHNYA JUGA?! AYOLAH KITA BISA-"
BUAGH!
"UHUK! SIAL KAU UCHIHA! AKU AKAN MENYURUH D-DAIMYOU UNTUK MEMBUNUH KALIAN SEMUA!"
"sungguh?"
"YA! KAU AKAN LIHAT BETAPA BESAR KEMAMPUAN DAIMYOU UNTUK MENGHABISI SEMUA BANGSAT UCHIHA SEPERTIMU DAN JALANG SEPERTI IBUMU-"
Ucapan itu terputus saat Naruto menebaskan tantonya kearah kemaluan lelaki itu, menggantikan ucapan sumpah serapahnya tadi dengan lolongan kesakitan.
"kau tau apalagi yang bangsat ini bisa lakukan?"gumam Naruto datar pada lelaki yang saat ini sedang berdarah-darah di lantai dengan teriakan melolong karena kemaluannya baru ditebas Naruto.
"tempat ini akan jadi kuburan bagimu dan teman-temanmu."
CRASH!
"AHHHH! TOLONG!"
CRASH!
"TOLOOOOOONG! TOLONG SIAL! AHHH-"
CRASH!
"AAAAH!
Prosesi itu begitu cepat, saat di menit-menit berikutnya teriakan demi teriakan terdengar nyaring membelah malam sampai-sampai yang diingat Anbu Shika via HT yang terhubung ke Ookami adalah pesta malam itu kacau balau dengan darah yang tercecer dimana-mana.
. . . . . . . . .
Pukul 4 AM, Pesisir Kusagakure.
"ada 49 orang yang hadir dalam pesta malam itu, dan kau membunuh 47 dari mereka. Sekarang katakan padaku, apa yang akan terjadi kalau 2 orang ini rupanya berasal dari Iwagakure?"
Hato dan Kuma tentu tidak tau acara bantai membantai itu, jadi keduanya hanya duduk, memandangi Shika yang saat ini berbicara dengan Ookami dengan gaya Bahasa yang tidak biasa; bahasanya berbau urgency sekali.
"kalau itu istrimu, apa kau akan melakukan yang kulakukan?"Ookami balas bertanya.
Shika menghela napasnya, Panjang-panjang.
1 meter dari lingkaran api mereka, Yugao Uzuki yang sedang diperban, tengah berbaring. Wanita itu kelihatan sedikit lebih baik daripada saat ditemukan beberapa jam yang lalu.
"oke aku tidak paham apa yang terjadi. Taichou.. ada apa ini?"ujar Kuma akhirnya. "apa yang terjadi?"ulangnya lagi.
Shika mengelus rambutnya sebentar.
Dan melakukannya lagi.
Dan lagi.
Itu kebiasannya kalau sedang berpikir keras akhir-akhir ini.
Hato berdehem, berusaha membantu Shika. Meskipun tidak hadir disitu, dia cukup jelas menangkap apa yang diutarakan Shika pada Ookami tadi.
Belum lagi bau darah yang tercium dari tubuh pria itu.
Hanya orang bodoh yang tidak bisa mengingat detail seperti itu.
"Ookami melakukan pembantaian, Kuma. Tapi aku tidak tau apa yang menyebabkan dia berbuat begitu."
Kuma melebarkan matanya, terkejut.
"k-kenapa?"
Dalam hati Kuma, menyelesaikan misi ini saja sudah tidak boleh cacat. Jadi apalagi ini? Apa mereka diserbu tanpa mereka sadari dan Ookami membantai mereka? Tapi darimana asal muasal Anbu Wanita yang terluka itu?
"itu cerita untuk nanti, Kuma. Yang terpenting saat ini, bagaimana kita menjaga Yugao Uzuki sampai kita Kembali ke Konoha. Karena dia adalah ninja Konoha, dan kita melindungi semua ninja Konoha."tegas Shika mencegah pertanyaan tidak berujung dari rekan se-timnya itu.
Ketiga orang tersebut masih menimbang-nimbang tentang siapa yang diwajibkan untuk menjaga Yugao selama misi, atau malah mengantarkannya pulang dengan selamat sampai ke Konoha.
"apa chakramu terkuras habis?"
Suara bariton Naruto memecah keheningan, dia mendekati Yugao untuk melihat lebih dekat ke luka di areal perut Wanita itu. Tentu saja yang memerban luka itu adalah Shika karena Ookami tidak memiliki keterampilan medis yang baik.
"sebenarnya permasalahannya ada pada tubuhku. Aku memiliki chakra tapi tubuhku terluka."
Naruto mengangguk, "apa kau bisa membuat genjutsu sederhana?"
Kali ini Yugao yang mengangguk. "aku menguasai Kenjutsu, Genjutsu, dan Taijutsu."
Pria serigala itu kelihatan menimbang-nimbang sejenak.
"kalau begitu mari lakukan ini."Naruto menatap Yugao tepat di mata. "kami sedang dalam perjalanan misi yang krusial. Karena misi ini sangat penting, maka kami tidak bisa menjagamu atau mengantarmu pulang ke Konoha. Jadi aku ingin kau bersembunyi dan menaruh genjutsu di pintu masuk persembunyianmu."
Yugao melebarkan matanya terkejut dan merasa bersalah, "yurusei, aku tidak bermaksud merepotkan kalian. Tapi bagaimana kalau genjutsu itu tidak terlalu kuat sementara aku tidak dalam kondisi fit untuk melawan?"
"aku akan membuatkan fuinjutsu barrier untukmu. Kau hanya perlu menunggu tidak lebih dari 2 hari."
Keduanya bertatapan cukup lama.
"dimana menurutmu aku harus bersembunyi Ookami?"ucap Yugao akhirnya. Tau, bahwa mau tidak mau dia harus bersikap professional dalam misi. Dia memang muda, tapi dalam ANBU tidak ada istilah muda atau tua; yang ada hanya prinsip, pengalaman, dan pengetahuan.
Naruto melirik kearah Shika sejenak, tau kalau salah satu permasalahan utama mereka setidaknya telah selesai. Dia mendapat lirikan lega dari lelaki itu, walaupun Naruto yakin, kening Shika berkerut-kerut dibelakang topengnya.
"aku akan mengantarmu ke bivak rahasia milik Konoha. Tapi sebelum itu, Shika.. apa rencanamu setelah ini?"
Anbu Rusa itu memandanginya dengan pandangan ingin tau.
"ada apa?"
Ookami mengangkat bahunya ringan. Dia segera berdiri, mengaktifkan sharingannya dan menyiramkan api ke api unggun mereka.
"seseorang bergerak menuju kemari dari arah Konoha. Kecepatan lambat tetapi mengarah kemari."
Kali ini Kuma yang menyahut Ookami, pria itu kelihatan bingung dan penasaran. "bagaimana kau.. tau? Kau bukanlah sensorik kan?"
Ookami tidak menjawab dan hanya mengangkat bahunya sedikit.
"Kau tau.. kau bisa menunggu validasi dari Hato dalam hal ini. Tapi aku perlu mengamankan Yugao terlebih dahulu."
Shika yang mengamati kepergian Ookami memberi kode kearah Hato dan Kuma.
"bersiap untuk siapapun itu yang datang."ujarnya mantap.
'kau benar-benar penuh kejutan ya Ookami..'batin Shika sambil mengekor pada lelaki Uchiha yang menggendong Yugao Uzuki itu.
TBC.
RNR brother. hahaha
