Bonus Chapter 28: 1st
Harry tersenyum puas melihat Draco yang sudah keluar untuk kedua kalinya pagi ini. Ia tidak pernah menduga akan semudah ini menggoda seseorang untuk melakukan morning sex. Draco benar-benar terlalu mudah. Dengan satu lirikan saja, Harry sudah bisa membuat Draco tidak mau melepaskannya.
Begitu suka dengan keberadaan Draco di dalamnya, Harry merentangkan tangannya. Ia meminta Draco untuk memeluknya. Saat kekasihnya itu langsung menjatuhnya tubuhnya, Harry segera memeluknya dengan erat. Harry terkekeh geli karena Draco terus saja mencium lehernya. Ciuman-ciuman itu terus diberikan Draco hingga ia mendaratkan ciuman di bibir Harry.
Sebuah desahan kecil meluncur dari bibir Harry setelah Draco menciumnya. Ia menatap manik kelabu yang juga menatapnya. Betapa ia suka setiap kali Draco menatapnya penuh kasih sayang.
Draco baru saja akan kembali mencium Harry sebelum dering ponselnya menginterupsi. Mendecak kesal, Draco pun beranjak mengambil ponselnya. Tentu saja Draco sudah menarik keluar miliknya, meskipun ia sangat ingin berlama-lama di dalam sana.
"It's Father," ucap Draco begitu melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Draco pun turun dari ranjang dan mulai berbicara dengan ayahnya. Ia sedikit menjauh dari Harry karena tidak mau mengganggu.
Harry sama sekali tidak penasaran. Dari awal, ia memang tidak keberatan jika Draco menelepon orang lain dan menjauh darinya. Karena setelah selesai, Draco pasti akan menjelaskan siapa yang menelepon dan apa yang mereka obrolkan. Sekali lagi, Harry tidak pernah menduga jika Draco Malfoy ternyata adalah tipe pacar yang selalu memastikan jika pasangannya tidak akan salah paham.
Harry selalu menyukainya. Semua sisi tidak terduga yang ia temukan selama berkencan dengan Draco setahun ini. Ya, satu tahun. Tepat hari ini, mereka resmi berkencan selama satu tahun.
Mata Harry terkunci pada Draco yang masih mengobrol dengan ayahnya. Harry sama sekali tidak berharap ada sebuah perayaan hari jadi. Harry tidak tahu, apakah ia memang orang yang tidak suka merayakan anniversary, atau itu semua hanya karena ia tidak pernah merayakan anniversary saat masih bersama Cedric.
Harry juga tidak mau ambil pusing dengan Draco. Kalau seandainya Draco mau merayakannya, maka mereka akan merayakannya. Tapi, jika Draco merasa jika hal itu tidak perlu, maka mereka tidak perlu melakukannya. Walaupun, sedikit saja, Harry berharap jika Draco adalah orang yang merayakan hal kecil seperti hari jadi seperti ini.
"Ada apa?" tanya Harry pada Draco yang sudah selesai menelepon. Ia sebenarnya tidak mau terlalu ikut campur, tapi raut wajah Draco yang kesal membuatnya ingin bertanya.
"Father ingin aku ikut berkumpul dengan kerabat keluarga yang lain. Hanya mengobrol dan bermain, sebenarnya. Pokoknya sebuah formalitas agar hubungan keluarga besar tetap harmonis." Draco menghela napas panjang.
"Ya sudah, kau pergi saja sana," balas Harry santai. Begitu santai hingga membuat alis Draco menekuk. Harry selalu suka setiap kali berhasil membuat Draco kesal.
"Kau mengatakannya karena tidak tahu apa yang ada di sana," ucapnya jengkel. "Basa-basi palsu, bermain hanya untuk formalitas, dan minum hanya untuk menghilangkan kecanggungan. Aku tidak pernah suka acara keluarga yang lebih seperti pesta kaum elite begitu."
Harry terkekeh pelan. "Tapi Ayahmu yang meminta. Sebaiknya kau pergi saja. Kalau kau tetap di sini, bisa-bisa Ayahmu mengira bahwa akulah yang mengurungmu di sini."
"Aku dengan senang hati mau kau kurung."
Harry melemparkan bantal tepat ke wajah Draco.
"Acara-acara seperti ini akan selalu ditutup dengan makan malam." Draco melanjutkan, "Kau tidak keberatan makan malam sendirian hari ini?"
Harry mengangguk. Sebenarnya ia sudah biasa makan malam sendirian meskipun sedang punya pacar. Tapi ketika Draco lah yang menjadi pacarnya, saat itulah semuanya menjadi terasa aneh. Harry sedikit merasa sedih karena hal seperti itu. Tapi Harry merasa lebih sedih karena ternyata mereka memang tidak akan merayakan hari jadi satu tahun hubungan mereka.
Satu setengah jam berlalu, dan Harry kini sendirian di rumahnya. Satu hal lagi yang membuat perbedaan saat ia berkencan dengan Cedric. Ketika ia berkencan dengan Cedric, Harry tidak pernah merasa kesepian di rumahnya yang kosong. Bahkan ia tidak pernah merasa kesepian saat Cedric tidak pernah menelepon ataupun mengiriminya pesan. Tapi, setelah berkencan dengan Draco, Harry merasakan perbedaan yang sangat besar saat kekasihnya itu ada bersamanya dan saat tidak ada.
Sekarang saja Harry sudah merasa bosan karena tidak ada suara menyebalkan Draco yang memanggil namanya. Tapi Harry tidak akan memaksa Draco untuk tetap bersamanya setiap menit. Draco punya urusannya sendiri yang tidak bisa Harry ambil alih. Dan Harry juga tidak merasa perlu untuk menahan Draco karena Draco selalu mencoba untuk menghabiskan waktu berdua sebanyak-banyaknya.
Di tengah kebosanannya, Harry kembali teringat tanggal hari ini. Apa perlu ia merayakan hari jadi mereka? Mereka bisa merayakannya setelah Draco pulang. Tapi apa yang bisa dilakukan?
Draco sudah mengatakan jika ia tidak bisa pulang sebelum makan malam, maka percuma Harry menyiapkan dinner romantis untuk mereka. Sebuah hadiah? Apa yang bisa Harry berikan? Harry tidak bisa memikirkan hadiah apa pun karena Draco sendiri tidak menginginkan sesuatu. Lagi pula, jika memang menginginkan sesuatu, Draco pasti sudah membelinya.
Menghela napas, Harry menutup mata. "Sudahlah, lupakan saja. Tidak ada yang istimewa dari sebuah anniversary. Siapa juga yang menjamin kalau dia ingat."
.
Seperti yang sudah dikatakan Draco sebelumnya, ia belum pulang bahkan setelah jam makan malam. Harry sudah selesai makan malam, sendirian. Ia juga sudah selesai mencuci piring dan membersihkan meja makan. Sekarang Harry hanya menghabiskan malam di atas sofa sambil menonton televisi. Sebuah acara yang membosankan hingga membuatnya mengantuk.
Harry melirik jam dinding. Sudah lewat jam sebelas malam. Draco tadi sempat menelepon, mengatakan bahwa ia akan pulang ke apartemen Harry. Tapi, mengingat jika Draco tahu sandi apartemennya, tidak apa jika Harry tidur duluan kan? Lagi pula, Harry yakin jika Draco akan sangat kelelahan begitu sampai, dan langsung pergi menuju kamar.
Memutuskan untuk tidur duluan, Harry mematikan televisi dan bangkit dari sofa. Ia baru saja akan membuka pintu kamar, sebelum terdengar suara seseorang membuka pintu. Rasa kantuk Harry seketika hilang dan ia langsung pergi menuju pintu depan.
"Maaf karena aku pulang terlalu larut," sesal Draco begitu ia sudah berada di depan Harry. Wajahnya begitu menyesal, tapi ia tetap mencoba untuk tersenyum.
Harry tidak masalah jika Draco pulang terlalu larut, ia tidak marah. Malah, Harry sekarang bingung dan terkejut. Ia bingung karena sebuah buket bunga di tangan Draco. Harry sampai tidak sempat bertanya apa yang di bawa oleh Draco, karena kekasihnya itu langsung memberikan buket itu padanya.
"Happy anniversary, my dear."
Harry bahkan tidak sadar jika sedari tadi ia tidak berkedip. Dan mungkin karena itulah matanya terasa perih. Mungkin karena itulah matanya menjadi basah sekarang.
Sedangkan Draco malah tersenyum dan mendengus kecil. Ia semakin mendekat kepada Harry dan menyerahkan buket itu kepada kekasihnya. Kemudian tangannya berpindah untuk mengusap pipi Harry. "Diberikan bunga saat anniversary saja kau menangis. Bagaimana nanti saat aku berikan cincin untuk melamarmu."
Harry buru-buru menghapus air mata yang entah kenapa bisa keluar. Ia memukul Draco pelan, menyuruhnya untuk diam. Namun Harry langsung tersenyum, memeluk Draco dengan erat. Ia membenamkan wajahnya di pundak Draco. Harry juga tidak lupa untuk memberikan ciuman setelah melepaskan pelukannya.
"Ah... Apa yang harus kulakukan?" Harry berseru. "Aku bahkan tidak menyiapkan hadiah apa-apa untukmu. Maaf, aku tidak mengira jika kau akan ingat."
Draco sama sekali tidak terlihat kecewa. Sebaliknya, Draco malah kembali memeluk Harry dengan sangat erat. Ia bahkan menggendong dan membawanya ke sofa. Draco menyingkirkan buket yang ia berikan untuk sementara. Kemudian Draco langsung menghujani Harry dengan ciuman-ciuman manis.
"I don't need any gifts," ucap Draco sambil melepaskan kacamata Harry. Ia memandang manik hijau yang juga menatapnya. Selalu. Draco selalu suka perasaan tersesat di padang rumput nan luas itu. Draco pun menurunkan tubuhnya dan mencium Harry sekali lagi, sebelum kembali bicara. "I need you."
Harry tidak bisa menahan tawanya. Entah karena perkataan norak kekasihnya, atau karena rasa bahagia yang meluap-luap di dalam dirinya. Yang jelas, Harry ingin kembali mencium Draco. Dan Harry tidak akan membiarkan ciuman kali ini berakhir singkat seperti sebelumnya.
Perubahan tiba-tiba pada ciuman ini membuat Draco tidak bisa menahan kekehannya. Draco pun segera memindahkan Harry ke pangkuannya. Ia membalas ciuman Harry dengan membawanya lebih dekat. Draco benar-benar tidak bisa untuk tidak tertawa.
Tentu saja Harry bingung dan merasa terganggu dengan tawa Draco. Tidak ada yang salah dengan ciuman yang diselingi tawa, tapi yang satu ini agak membuat Harry kesal. Jelas sekali jika Draco ingin tertawa lepas. Dan benar saja, begitu Harry melepaskan ciuman mereka, Draco tertawa begitu kencang.
"Apanya yang lucu?" tanya Harry bingung. Ia sampai berpikir untuk menampar Draco kalau sampai kekasihnya itu belum juga mau berhenti tertawa.
Beruntung Draco sudah berhenti tertawa sebelum Harry sempat menggerakkan tangannya. Draco memasang senyum lebar di wajahnya. "Kau benar-benar membuatku gila," ucapnya sambil menyisir rambut hitam Harry. "Kaulah yang duluan memulai ciuman panas ini. Tanganmu juga yang dengan seenaknya menyentuh milikku, menyuruhnya untuk makan. Tapi kenapa teman-temanmu itu selalu berpikir jika akulah orang mesumnya di sini?"
Raut wajah bingung bercampur kesal milik Harry sekarang berganti dengan wajah penuh senyum. Harry bahkan juga ikut tertawa. Ia tidak akan menyangkal yang satu itu. "Itu karena kau punya wajah yang mesum."
Draco mencubit pipi Harry sebagai balasan. Ia kemudian ikut tertawa karena Harry tidak henti-hentinya tertawa. Draco sekali lagi mencium bibir Harry sekilas. "Sepertinya kita harus berlibur untuk hari jadi kita tahun depan. Aku sama sekali tidak keberatan jika kau hanya ingin berada di dalam hotel."
Harry tersenyum, bukan karena bagian tidak keluar dari hotel itu yang membuatnya gemas. "Tahun depan?" tanyanya sambil bermain dengan surai pirang Draco. "Kenapa kau yakin sekali jika kita akan tetap bersama hingga tahun depan?"
"Dan kenapa pula kita tidak bisa bertahan hingga tahun depan?" Draco balik bertanya. "Kita berhasil melewati satu tahun. Apa yang membuatmu takut tidak akan ada satu tahun berikutnya?"
Harry memberi jeda yang lama sebelum menjawab. "I don't know," jawabnya dengan suara pelan. Manik hijaunya tiba-tiba tidak ingin menatap Draco terlalu lama. "Kau bisa saja tidak mencintaiku lagi tahun depan. Bahkan, kau bisa saja kehilangan perasaanmu padaku begitu bangun pagi nanti." Suaranya menjadi semakin pelan.
Mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh Harry, Draco menampilkan senyum lembut. Jari-jarinya mengapit dagu Harry, meminta manik hijau itu menatapnya. "Jika suatu saat aku berhenti mencintaimu, bahkan hanya untuk satu menit, maka itu bukanlah aku." Draco mengelus lembut pipi Harry. "Aku, Draco Malfoy, tidak akan pernah berhenti mencintaimu, Harry. Entah itu besok pagi, tahun depan, bahkan sepuluh tahun dari sekarang, aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu."
Harry merasakan dadanya menghangat. Ia akhirnya bisa kembali tersenyum. "Kau pandai berbicara. Tapi, bagaimana kau bisa membuktikannya?"
Senyum Draco semakin mengembang. Ia memeluk Harry makin erat, membawanya mendekat. "Aku bisa membuktikannya. Selama kau mengizinkanku untuk selalu berada di sisimu. Selamanya."
Harry tahu bagaimana rasanya bahagia, dan ia sedang merasakannya sekarang. Harry segera mengalungkan lengannya di pundak Draco, memeluk kekasihnya dengan erat. Harry menyandarkan kepalanya di pundak Draco dan menghirup aroma manis dari tubuhnya. "Thanks, Draco."
Suara itu tidak lantang, hanya terdengar seperti bisikan. Tapi Draco tahu betapa tulus dan berharganya ucapan terima kasih itu. Karena itulah Draco tidak punya kata-kata yang lebih baik untuk membalas selain, "Thanks, Harry."
Dalam satu tahun ini, mereka sudah mengatakan betapa mereka mencintai satu sama lain. Dalam satu tahun ini, mereka sudah menunjukkan kasih sayang kepada satu sama lain. Dalam satu tahun ini, mereka merasakan semua kebahagiaan ketika bersama. Tapi, dalam satu tahun ini, mereka tidak merasa puas. Apa yang mereka miliki tahun ini ingin mereka miliki terus hingga tahun berikutnya, lalu berikutnya lagi, dan kemudian tahun berikutnya lagi. Mereka ingin membuktikan, bahwa selamanya benar-benar ada.
.
.
END of Bonus Chapter 28
.
.
.
.
A/N
Aku balik lagi dengan bonus chapter~ Kurang? Iya, iya... aku tambah :"
Btw, masih adakah yang hadir?
See you!
Virgo
