Disclaimer: Aoyama Gosho

Pairing: Heiji Hattori, Kazuha Toyama, OC

Rating: T

Genre: Romance

Warning: Alternative Universe, OOC, mistype, dll.

I don't take any advantages of this fanfiction.

Don't like, don't read.

Ditaditya's presenting, a lil' fluff story for Heiji's Birthday.

Teka-teki

"Jadi bisa beri tahu aku kenapa kita berada disini?" Gadis itu menyilangkan kedua lengannya. Ia tidak masalah ketika Heiji mengajaknya keluar. Tapi masalahnya adalah, Heiji sama sekali tidak menjelaskan apapun tentang tempat yang akan di datangi mereka. Dan disinilah ia, di depan pintu sebuah rumah besar yang -benar terpencil karena berada di tengah hutan. Benar, tengah hutan.

"Err itu, sebenarnya aku tidak bermaksud untuk menyembunyikannya, namun karena membutuhkan waktu untuk menjelaskannya, jadi kupikir datang saja dulu." jawabnya sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. Bisa Heiji lihat mata gadis di hadapannya membulat kaget. Untung saja pintu rumah itu terbuka sebelum Kazuha melayangkan pukulannya.

"Kalian sudah datang?" Kazuha dan Heiji sontak mengalihkan pandangannya pada sumber suara. Seorang pemuda yang sepertinya berusia tujuh belas atau mungkin lebih. Matanya bulat bersinar, pipinya bulat seperti bola coklat, kulitnya sedikit gelap walaupun tidak segelap Heiji. Namun sepertinya bukan orang Jepang.

"Perkenalkan namaku Satoshi. Aku akan menjelaskan terkait hal ganjal yang aku alami di rumah ini di dalam." pemuda itu membuka pintu lebih lebar, mempersilakan mereka masuk.

"Silakan masuk." Mata Heiji berkeliling memperhatikan interior rumah besar itu. Ini tentu bukan rumah ala Jepang, ini jelas rumah bergaya Eropa tua.

"Apakah Satoshi-san sendirian di rumah ini?" mulai Heiji.

"Ya, orang tuaku bekerja di luar negeri dan karena aku masih harus melanjutkan kuliahku, maka aku tinggal disini sampai aku lulus." Mata Kazuha dan Heiji membulat kaget.

"Kau sudah kuliah?!" tanya mereka bersamaan. Sedangkan yang ditanya hanya terkekeh.

"Kalian pasangan yang lucu. Dan ya, benar. Aku masih kuliah, saat ini tahun ketigaku"

"Apa aku terlihat tua?" tanya Satoshi.

"Ah tidak, kami kira kau masih sekolah. Wajahmu terlihat lebih muda." Satoshi tersenyum kecil.

"Kalau boleh tahu orang tuamu dimana saat ini?" tanya Heiji kembali.

"Saat ini mereka sedang mengembangkan bisnis di Korea Selatan. Dan inilah awalnya." Heiji memfokuskan pandangannya, berbeda dengan Kazuha yang masih menikmati interior indah rumah Satoshi.

"Sebelum ibu dan ayahku berangkat ke Korea, mereka mengatakan bahwa aku harus menemukan misteri yang tersembunyi di rumah ini sebelum orang tuaku datang. Sudah berlangsung selama dua tahun dan sampai saat ini aku belum menemukan apapun. Aku tidak mendapat petunjuk apapun." Ia menyugar rambutnya kasar.

"Masalahnya adalah orang tuaku akan pulang bulan depan. Maka dari itu, aku meminta kalian untuk membantuku. Aku dengar kalian adalah detektif yang hebat." Jelas Satoshi.

"Satu pertanyaan, apakah disini ada hantu?" pertanyaan itu membuat alis kedua pemuda di hadapannya naik. Kebingungan.

"Hmm, selama aku tinggal di rumah ini, aku tidak pernah bertemu atau menemukan hantu." jawab Satoshi.

"Kau benar-benar sendirian disini?" tanya Kazuha lagi. Kebingungan masih tercetak di wajah Heiji dan Satoshi.

"Iya, aku tinggal sendirian."

"Kau lihat apa sih?" tanya Heiji penasaran.

"Aku tadi meliha–" teriakan Kazuha terdengar sebelum ia melanjutkan kalimatnya. Lampu rumah Satoshi mati.

"Ah mati lagi. Aku akan menyalakan lilin disini. Kalian bisa menunggu di ruangan ini dulu, aku akan mengecek saklar di ruangan bawah. Tenang saja, ini adalah hal yang biasa terjadi." jelas Satoshi.

Walaupun temaram, Heiji masih bisa melihat bagaimana Kazuha memeluk lengannya erat. Mau tidak mau kedua sudut bibirnya naik. Bolehkah ia berharap mati lampu ini sedikit lebih lama?

"Heiji." panggil Kazuha yang hanya dibalas gumaman Heiji.

"Disini tidak ada hantu kan?" tanyanya.

"Kau sudah dengar tadi Satoshi bilang disini tidak ada hant–" suara teriakan kembali terdengar. Sekarang Satoshi yang berteriak.

Satoshi menghilang. Tidak ada siapa-siapa ketika mereka sampai di ruangan bawah. Apa itu artinya mereka harus memeriksa rumah ini tanpa si empunya rumah? Terdengar tidak sopan memang, namun mereka harus segera menemukan Satoshi. Khawatir sesuatu yang buruk terjadi.

"Heiji, Satoshi itu tampan ya." memuji laki-laki lain di hadapan laki-laki? Apalagi di situasi seperti ini. Ayolah. Heiji tahu bahwa Satoshi itu menarik, tapi jangan juga Kazuha yang tertarik. Ia tidak mau menambah saingan.

"Tadi aku melihat sesuatu yang putih di depan." ujar Heiji asal. Pelukan di lengannya mengerat. Senyum Heiji terbit, ia sengaja melakukannya.

"Menggemaskan." Suaranya kecil. Seperti bisikan halus namun masih terdengar oleh Kazuha walau samar.

"Kau bilang apa?" tanya Kazuha bingung.

"Aku bilang kau bodoh. Bodoh karena takut pada sesuatu yang tidak pernah ada." Heiji dan gengsinya yang mungkin jauh lebih besar dibanding gunung Fuji.

"Heiji, kita sudah berkeliling dan masih tidak bisa menemukan Satoshi." Kazuha benar. Mereka sudah berkeliling dan hampir mengahbiskan lilinnya. Listriknya juga belum bisa menyala entah karena apa.

"Tinggal di rumah sebesar ini sendirian pasti sepi dan menakutkan ya Heiji?" Kazuha menyandarkan badannya di tembok. Sama sepertinya. Bedanya Heiji menghadap Kazuha. Dengan penerangan yang terbatas dan temaram, ia tidak dapat mengalihkan pandangannya pada Kazuha. Harus ia akui, ia menyukai gadis itu. Dari dulu bahkan. Bukannya ia tidak mau menyatakan perasaannya, tapi ia ingin membuatnya berkesan. Anggap saja ia tidak mau kalah dari Shinichi.

Lamunannya terhenti ketika mendengar derit pintu. Ia mencari asal suaranya. Heiji langsung menarik Kazuha ke pelukannya. Heiji sudah siap dengan kuda-kudanya, tidak peduli Kazuha memeluknya erat. Cahaya dari ruangan di depannya semakin terang, la melihat siluet seseorang. Hampir saja ia melemparkan sesuatu di tangannya. Tidak sampai ia mendengar suaranya. Itu Satoshi.

"Kau darimana saja? Kami mencarimu!" itu suara Kazuha. Heiji memandang tidak suka, apalagi ketika Kazuha melepaskan pelukannya. Rasanya ada yang hilang.

"Kalian harus lihat ini." Satoshi memimpin di depan, sedangkan Kazuha dan Heiji mengikuti di belakang. Pintu kembali tertutup dan ruangannya menjadi gelap. Tapi tidak lama, cahaya-cahaya kecil di langit-langit ruangan. Mata mereka membulat. Sebuah planetarium yang indah.

"Bagaimana kau bisa menemukannya?" tanya Heiji ketika sudah selesai dengan rasa kagetnya.

"Aku tidak sengaja. Saat akan membetulkan saklar, sepertinya aku menekan tombol yang salah, yang mana membuka jalan ke tempat ini."

"Jadi ini adalah misteri yang dikatakan oleh orang tuamu itu" tanya Kazuha masih tidak percaya.

"Sepertinya iya. Mereka tahu bahwa aku sangat menyukai astronomi. Tapi aku benar-benar tidak menyangka bahwa mereka membuatkanku planetarium di rumah. Rasanya terharu sekali." Mereka bertiga kembali menikmati pemandangan yang tersaji. Indah.

"Ngomong-ngomong, bagaimana caranya kau keluar dari ruangan tadi?" tanya Heiji ketika mereka sudah keluar dari planetarium. Dan disinilah mereka. Di meja makan dengan keadaan lampu yang sudah kembali menyala.

"Ada sebuah teka-teki yang sudah disiapkan oleh orang tuaku. Mereka tahu bahwa aku suka teka-teki tapi aku tidak menyangka mereka akan menggunakan hal tersebut." jawab Satoshi sambil terkekeh kecil.

"Sepertinya kedatangan kami sia-sia ya." Ujar Heiji.

"Tentu tidak. Entahlah, aku merasa seperti semua ini sudah direncanakan oleh orang tuaku. Termasuk kalian. Mungkin mereka ingin agar anaknya mempunyai teman."

"Apalagi aku bisa bertemu dengan Kazuha yang cantik." Heiji mengalihkan padangannya cepat. Ia bisa melihat semburat merah di pipi Kazuha. Tiba-tiba ia merasa kesal. Tidak seharusnya gadis itu tersipu karena pujian dari laki-laki lain. Tapi ia bisa apa.

Obrolan mereka harus dihentikan karena Heiji dan Kazuha yang haraus segera pergi. Tentu saja tidak lupa saling bertukar kontak.

"Kami pamit ya Satoshi." Pamit Kazuha yang dibalas lambaian tangan oleh Satoshi.

"Heiji." Panggil Satoshi.

"Tenang saja. Aku hanya menggodamu saja. Aku tahu kau menyukainya. Lagipula aku sudah punya pacar. Tapi saranku, lebih baik segera nyatakan. Kazuha terlalu imut untuk dibiarkan sendiri." Sial, ternyata Satoshi tahu. Apa perasaannya ini sebegitunya terlihat? Tapi kenapa Kazuha tidak pernah sadar? Ah perempuan bodoh itu.

"Tidak usah memberitahuku." Satoshi terkekeh melihat semburat merah di pipi Heiji. Mereka pasangan yang menggemaskan.

FIN

Author's note: Kado ulang tahun yang telat karena keadaan yang tidak memungkinkan. Tapi tidak apa. Satoshi itu nggak pernah ada di cerita Detective Conan ya. Itu murni original character yang sengaja dibuat demi kepentingan cerita. Doanya masih sama, semoga Aoyama sensei berbaik hati membuat mereka canon