BoBoiBoy © Monsta Studio

Alternate Universe - Elementals as Siblings, slight OOC, not beta read, etc.


Musim kemarau nampak sudah melanda bagian tenggara bumi. Bagi Halilintar, cuaca dan hawa yang begitu panas membuat pekerjaan rumah terasa dua kali lipat lebih melelahkan untuk dikerjakan. Hal tersebut tentunya tidak membuat Halilintar lepas tanggung jawab atas pekerjaan rumah yang harus ia lakukan. Angin yang dihasilkan dari baling-baling kipas cukup membuat udara dalam rumah menjadi lebih sejuk.

Halilintar meluruskan kedua kakinya di atas sofa ruang tamu. Ia menatap puas pada seisi ruangan yang baru saja ia bersihkan. Lelahnya terbayar dengan rumah yang sudah rapih, lemari dan meja yang tidak lagi berdebu, serta lantai yang masih terasa dingin lantaran baru selesai ia pel. Merasa tidak ada lagi hal yang perlu dilakukan, Halilintar memutuskan untuk istirahat sejenak sebelum melakukan aktivitas lain sore nanti. Ia meraih remot televisi yang tergeletak di meja, lalu menyalakan televisi yang ada di depannya. Sejujurnya, Halilintar bukan orang yang gemar menghabiskan waktu luang dengan menonton televisi. Kadang, ia hanya menyalakan televisi demi mengisi kesunyian dalam rumah yang hanya berisikan dirinya dan adiknya. Sesekali ia akan memperhatikan bila yang sedang tayang di televisi adalah sebuah berita. Selebihnya, televisi akan diputar sembari Halilintar melakukan aktivitas lain yang lebih membutuhkan perhatiannya.

"Promo spesial Hari Ibu Internasional! Gunakan kode voucher MOTHERSDAY dan dapatkan potongan harga sebesar 50% untuk produk terbaru kami!"

Halilintar tersenyum tipis melihat iklan yang ditayangkan di televisi. Ia tidak mengetahui sebelumnya bahwa hari ini bertepatan dengan hari ibu internasional. Ingatannya kembali pada saat dirinya masih duduk di bangku kelas 1 SD. Saat itu ia berdiri di depan kelas, membacakan sebuah narasi yang menjelaskan betapa Halilintar kecil sangat menjadikan ibunya sebagai idola dan panutan. Ingatannya kemudian kembali membawa Halilintar menuju kenangan yang lebih dulu. Halilintar kecil yang menangis tanpa suara di dekapan sang ibu lantaran terjatuh saat belajar mengendarai sepeda.

Berbagai macam kenangan dari masa lalu yang berputar di kepalanya seolah mengantar Halilintar menuju rasa kantuk secara perlahan. Kedua pelupuk matanya terasa semakin berat, ia membiarkan rasa kantuk itu menyelimutinya, ditemani oleh sayup-sayup suara televisi yang tetap menyala tanpa adanya penonton.

"Kak Hali?"

Halilintar tersentak bangun dari mimpinya yang belum berlangsung lama. Ia mendapati adiknya tengah berdiri di samping sofa, tidak sadar akan panggilannya itu telah tak sengaja membangunkan sang kakak.

"Ada apa, Duri? Butuh bantuan?"

"Umm.. Duri mau bicara dengan Kak Hali. Apa Duri boleh duduk di samping Kak Hali?"

Halilintar bangun dari posisinya dan duduk di sofa. Ia meraih tangan sang adik, dengan perlahan ia tuntun agar duduk persis di sebelahnya. Badannya lalu sedikit ia condongkan ke arah sang adik supaya ia bisa dengan mudah membaca raut wajahnya.

"Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, Duri?"

Duri tidak langsung menjawab pertanyaan kakaknya. Ia menarik napas dalam-dalam, sebelum akhirnya berbicara dengan cepat dan suara yang agak lantang.

"Selamat hari ibu, Kak Hali tersayang!"

Halilintar bergeming mendengar apa yang baru saja dikatakan adiknya. Matanya mengerjap kebingungan, mulutnya sedikit terbuka tanpa ada suara yang keluar. Ia masih memandangi Duri yang kemudian melanjutkan berbicara.

"Duri tahu Kak Hali memang bukan seorang ibu, tapi sudah sejauh ini Kak Hali berperan sebagai kakak, teman, sekaligus orang tua bagi Duri. Terima kasih banyak ya, Kak. Duri sangat bersyukur punya kakak seperti Kak Hali!"

Duri mengakhiri kalimatnya dengan senyuman di wajahnya, sembari memegang erat tangan sang kakak. Betapa Halilintar merindukan senyuman yang lugu dan tulus itu terukir di wajah sang adik. Ia rela mengorbankan apapun itu demi menjaga senyuman itu agar selalu terlihat di wajah adik tercinta. Halilintar menarik Duri ke dalam rengkuhannya, perlahan ia elus kepala sang adik dengan tangan kanannya. Duri tidak menolak, ia balas melingkarkan lengannya di sekitar pinggang sang kakak. Meskipun Halilintar tahu adiknya tidak akan bisa melihat wajahnya, ia tetap akan menahan air mata yang sudah mulai membendung di pelupuk matanya itu.

"Duri sayang Kak Hali."

Suara sang adik hampir tidak terdengar lantaran teredam dalam dekapan sang kakak. Mereka membiarkan tentram dan sayup suara televisi mengisi ruangan.

"Aku juga menyayangimu, Duri."