Di sudut desa kecil, ada seorang gadis kecil bernama Robin yang hanya tinggal berdua dengan Ibunya, dan yang Robin ingat mereka hanya berdua sejak Ia mulai bisa mengingat.
Robin menyukai hidupnya, menyukai hidup yang diberikan Ibunya dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri, menyukai hal-hal sederhana yang sering mereka lakukan bersama, serta donggeng-donggeng menyenangkan yg sering ibunya ceritakan.
Ia begitu mencintai Ibunya, teramat dan sangat. terlalu banyak cinta yang Ia miliki untuk Ibunya, karna seumur hidup yang Ia tahu Ia hanya punya Ibu, dan begitu saja hingga akhirnya Ia mengetahui fakta kalau Ia tidak hanya terlahir dari Ibu sendiri.
Hari itu untuk pertama kalinya, Robin bermain rumah-rumahan dengan teman sebayanya. dan ada satu konsep asing dikepalanya soal satu laki-laki yang ikut tinggal dirumah.
Dengan perasaan binggung Ia pun bertanya kepada salah satu temannya tentang apa peran laki-laki tadi dirumah, lalu temannya pun menjawab "Ayah" katanya, dilanjutkan dengan pertanyan "Memangnya dirumah mu tidak ada ya?"
Robin kecil hanya menggeleng, lalu tiba-tiba saja teman-temannya yang lain Ikut berkumpul dan membicarakan konsep Ayah yang tak pernah Ia tahu sebelumnya.
Mereka membicarakan hal itu sampai petang, lalu kembali kerumah masing-masing dengan berbagai macam perasaan. dan Robin sendiri pulang dengan membawa pertanyaan yang menggema dikepalanya, "Memangnya dirumahmu tidak ada ya?"
Seharusnya ada sosok Ayah dirumah kecil mereka. harusnya ada lakilaki yang tidur bersama Ibunya tiap malam, harusnya ada laki-laki yang menggendongnya saat Ia terlelap ditempat yang tidak sesuai. seharusnya begitu, seperti kata teman-temannya tadi.
Saat Ia tengah tenggelam dalam pemikirannya sendiri, Ibunya datang dengan nafas terengah-enggah dan langsung memeluknya "Ibu nyariin daritadi" yang hanya dijawab Robin dengan cengiran khas anak-anak.
Mereka mandi dan makan bersama, lalu memutuskan untuk tidur lebih awal, saat mata Ibu sebentar lagi akan terpejam Robin tiba-tiba bertanya, "Ibu apa Aku punya Ayah?" yang sontak membuat Ibunya membeku dalam kurun waktu yang lama.
"Punya" jawab Ibu sembari menghela nafas,
"dimana?" tanya Robin dengan raut binggung, "kenapa Ia tak disini" lanjutnya. Ibu diam, seperskian menit ganjil dia mulai merasa kesal karna pertanyaannya tak kunjung mendapatkan jawaban.
"dimana Ayahku" kata Robin, suaranya lantang menandakan bahwasanya Ia butuh jawaban.
"hilang" kata Ibu dengan suara sengau, Robin kebingunggan.
"hilang dimana dan kapan?" pertanyan bertubi-tubi datang dari Robin kecil yang memiliki keingin tahuan sebesar samudra.
Ibu menatap mata Robin lamat-lamat, Robin fikir Ia akan menerima jawaban detik itu juga, namun sayang yang keluar dari mulut Ibunya adalah titah yang harus Ia laksanakan "tidurlah Robin" lalu Ia akhirnya tertidur pulas dengan rasa penasaran.
Pagi hari saat Ia terbangun, Ibu sudah pergi kerja. dan hari itu bagi Robin mungkin adalah hari terlama yang pernah Ia habiskan untuk menunggu Ibu pulang.
Saat Ibu pulang Robin mulai menanyakan soal itu lagi. raut ibu terlihat pucat, Ia meminta Robin duduk duluan dimeja makan, Ia akan menyusul, katanya.
Dimata Robin, Ibu kelihatan seperti seseorang yang ingin memberitahukan kabar duka, dan dengan raut aneh yang tak bisa Robin jelaskan, Ibunya mulai berbicara.
"Ayahmu pergi Robin" kata Ibu dengan suara menahan tangis.
"pergi kemana?, tapi tadi malam Ibu hanya bilang Ayah hilang" jawab Robin
"Ayahmu pergi lalu hilang" kata Ibu, lagi bersamaan dengan tangis pilunya yang baru kali ini Robin dengar
Robin yang berada sebrang Ibu sontak pindah menjadi disamping Ibu, "kenapa Ibu menangis" tanyanya.
Ibu memeluknya lama, sampai tangisnya mereda lalu Ia bilang "Ayahmu hilang Robin. pertama pergi kepelukan perempuan lain, lalu setelahnya hilang tersapu ombak"
Robin kecil seolah tersihir saat mendengarnya, ada bagian disudut hatinya yang merasa terluka, tapi ada juga perasaan bahagia karna Ia akhirnya tau cerita Ayah dan Ibunya meski dalam versi menyedihkan.
Ia memeluk Ibunya erat, seolah menjelaskan kalau Ia ada disini dan Ibunya tidak sendirian. mereka berpelukan lama sekali, sampai akhirnya tertidur dipelukan masing-masing.
Besoknya saat Robin terbangun dari tidurnya, setumpukan album telah ada didepannya lalu Ibu pun berkata "bukalah, disitu ada Ayahmu" jelas Ibu.
Robin pun mulai membuka album itu, saat foto laki-laki asing muncul Ia terpaku untuk beberapa saat, "ini Ayah?" tanyanya ragu, Ibu hanya mengangguk dengan senyuman .
"tampan ya bu" kata Robin sembari terkekeh, lama sekali Robin dan Ibunya terfokus pada album yang banyak foto Ayah, lalu setelahnya pindah kealbum pernikahan yang baru Robin liat, karena sebelumnya album itu disembunyikan oleh Ibu.
Sampul depannya bertulis nama mereka , perasaan Robin mulai menghangat saat melihatnya. lalu setelahnya perasaan Robin seolah ditumbuhi bunga-bunga saat Ia melihat foto-foto mesra kedua orang tuanya, 'mereka pernah saling mencintai, dan Aku terlahir karna cinta mereka' begitu fikirnya.
Setelah mereka selesai dengan albumnya, Ibu berkata "nanti kapan kapan kita kelaut ya"
"untuk apa bu?" tanya Robin binggung yang langsung dijawab Ibu dengan "menyapa Ayahmu"
yang langsung diangguki Robin dengan senang, lalu hari berakhir dengan Robin yang terlelap dipelukan Ibu dengan raut bahagia sebab tak sabar menantikan hari dimana Ia akan pergi untuk menyapa Ayahnya, meski dalam bentuk samudra yang luas.
