Bokuto Kotaro X Ogasawara Sachiko

Takane No Hana

Chapter 1

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Otsukaresama deshita!"

Seruan lantang menjadi tanda berakhirnya aktivitas di workshop yang menjadi salah satu sumber penghasilannya selama hampir enam tahun terakhir. Tingginya suhu ruangan akibat mesin dan aroma khas oli sudah terasa familiar.

Setelah menerima laporan pengecekan terakhir dari salah satu anggota tim, Bokuto Kotaro hendak beranjak ke ruang ganti. Tak sabar ingin segera melepas seragam kerja dan berganti pakaian yang lebih nyaman.

"Bokuto-san,"

Langkahnya terjeda ketika panggilan terdengar, Bokuto menoleh ke arah sumber suara yang tengah berjalan agak cepat menuju posisinya berdiri.

"Yo, Akashi." sapanya pada sang junior yang sudah dikenal sejak masa sekolah dulu. Tak disangka pertemanan mereka berlanjut bahkan hingga hampir empat belas tahun Bokuto meninggalkan bangku SMA.

"Otsukaresama deshita," Akaashi Keiji, si junior yang tidak bisa melepas formalitas bahkan setelah sekian lama ia mengenal Bokuto. "apa setelah ini Bokuto-san ada acara?"

Sembari melanjutkan langkah menuju ruang ganti, diikuti langkah oleh Akaashi, Bokuto mengibaskan tangan, "Paling mampir dulu ke izakaya sebelum pulang. Aku masih lapar. Makan malam tadi mana cukup untuk lembur."

"Sou desuka," timpalnya sembari berganti seragam kerja dan menggantinya dengan pakaian bersih yang pagi tadi dikenakannya saat berangkat dari rumah, "Tadinya aku mau menawarkan Bokuto-san ikut ke teater di daerah Ginza. Ada pertunjukan Rakugo pukul 10 malam ini."

Bokuto menaikkan sebelah alis, tangan kanannya menutup kembali loker pakaian miliknya, "Rakugo? Aku baru tahu kau punya hobi menonton pertunjukan itu."

Akaashi menggeleng, "Aku sendiri belum pernah melihat Rakugo secara langsung. Bokuto-san ingat Anahori? Dia mengundangku dan beberapa alumni Fukurodani untuk melihat pertunjukannya malam ini. Dia salah satu aktor di teater Ginza."

"Aah, Anahori. Hebat juga dia," sahut Bokuto, menggali memori rupa juniornya saat di tim voli saat SMA dulu. "Tunggu, kenapa kau dan yang lain diundang, sedangkan aku belum dapat kabar apa-apa?"

Akaashi menghela nafas singkat, sifat dramatis mantan kapten tim voli-nya kumat.

"Anahori tidak punya nomor kontak Bokuto-san, makanya begitu dia tahu aku bekerja di tempat yang sama dengan Bokuto-san, dia memintaku untuk mengajak juga."

Bokuto membulatkan mulut, tanda paham. "Kalau begitu, ayo berangkat. Setelah pertunjukan selesai, ajak yang lain untuk kumpul sekalian reuni." ungkapnya mendadak bersemangat, "bilang yang lain, ini perintah kapten."

Akaashi menghela nafas lagi, diiringi senyum tipis, "Wakarimashita."

.

.

.

.

.

Bokuto tiba di tempat yang diinfokan Akaashi 5 menit sebelum pukul 10 malam. Keduanya sepakat untuk berangkat dengan kendaraan masing-masing dan bertemu lagi di teater saja. Meski agak kesulitan menemukan tempat parkir untuk motor besarnya, Bokuto masih sempat tiba sebelum pertunjukan dimulai.

Gedung teater itu tidak terlalu besar, hanya dua lantai. Sedikit lebih redup juga dibandingkan klub dan restoran yang ada di sisi kiri dan kanannya.

Bokuto memperhatikan poster yang terpampang di pintu masuk. Merasa secercah kebanggaan ketika melihat foto yang familiar di halamannya.

'Anahori akan jadi aktor besar,' pikirnya. Mendadak bersemangat dan tak sabar melihat pertunjukan yang dia sendiri tidak familiar.

"-sudah habis sama sekali?"

Langkah Bokuto terjeda ketika beranjak mendekati pintu masuk. Ia beralih ke sumber suara, arahnya dari loket penjualan tiket yang bersebelahan dengan pintu masuk.

Sosok yang pertama ia tangkap seorang wanita, tengah berdiri di depan loket sembari memeluk lengannya yang berlindung di balik mantel coklat muda sepanjang lutut. Rambut hitam panjang dibiarkan bebas terurai, nampak halus. Wajahnya samar terlihat karena sedikit tertutupi oleh topi bundar berwarna hitam, apalagi sekeliling mereka redup cahaya.

"Oji-san yakin tidak ada tiket yang tersisa? Setahu saya, teater ini hampir tidak pernah kehabisan tiket."

Meski suaranya terdengar lembut, Bokuto bisa merasakan wanita itu bersikeras, setengah memaksa penjaga loket yang dari sisi kaca terlihat sedikit sosoknya. Pria paruh baya dengan kumis tipis.

"Pertunjukan malam ini sudah disewa untuk acara pribadi." sanggah paman penjaga loket, raut wajahnya terlihat netral meski jawabannya terdengar tegas. Mungkin mereka sudah bergumul sejak sebelum Bokuto tiba.

"Siapa yang mengadakan acara pribadi di teater Rakugo?" gumam wanita itu, nadanya mulai terlihat mengalah meski masih tersirat sedikit kekesalan.

Bokuto menghampiri loket tanpa sengaja membiarkan kehadirannya samar, ia berdiri di samping si wanita, membungkuk sedikit agar sudut pandangnya bertemu dengan jendela loket, "Permisi, oji-san."

Wanita itu nampak tersentak, tak menyadari kehadiran Bokuto di sebelahnya. Aneh juga, jika melihat sosok tinggi besar Bokuto sampai tidak awas dari pandangannya.

Bokuto mengangguk sedikit ke arah paman penjaga loket, "Wanita ini datang bersamaku. Aku dapat undangan pertunjukan malam ini dari Anahori. Dia juniorku di SMA."

Mata bertameng kacamata yang lensanya sudah sedikit terlihat berkabut mendelik, menatap curiga, "SMA mana?".

"Fukurodani."

Ia bergumam sedikit, sebelum mengangguk. "Harusnya kau bilang dari tadi, ojo-san," kali ini giliran paman paruh baya yang mengalah, "pertunjukan sudah mau mulai. Masuklah."

Bokuto tersenyum puas, menggumamkan terima kasih sebelum memberikan aba-aba untuk masuk kepada wanita yang kini malah terlihat bingung.

"Saya tidak-"

Sebelum ia sempat menyelesaikan kalimat, Bokuto menyentuh lengan si wanita dan segera menggiringnya menuju pintu masuk.

"Jangan sampai paman itu tahu."

Secepatnya wanita itu melepaskan lengan dari sentuhan Bokuto, meski ia tidak bersuara kembali.

Bokuto menutup pintu masuk setelah mereka tiba di dalam. Merasakan kecanggungan setelah wanita itu menarik kembali lengannya.

"Maaf, aku hanya bermaksud membantu," menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal, "tapi memang betul, aktor yang tampil malam ini juniorku. Kurasa, kau juga harus melihat pertunjukannya. Dia hebat."

Wanita itu melihat penuh ke arah Bokuto. Perangainya kini nampak jelas.

Wajahnya kecil dengan kulit yang putih dan bersih. Pipinya sedikit merona, mungkin akibat suhu yang dingin. Posturnya tinggi dan langsing, meski dibandingkan Bokuto, wanita ini hanya sebatas bahunya.

Dia cantik.

"Terima kasih," suara yang lembutnya terdengar sinis, "tapi saya tidak kenal anda. Dan saya juga tidak meminta tolong."

Tanpa basa-basi, wanita itu membungkuk sapa ke arah Bokuto, sebelum meninggalkannya ke dalam ruang pertunjukan.

Bokuto mengerjapkan mata, sebelum akhirnya menyusul si wanita yang entah mengambil posisi duduk dimana.

.

.

.

.

.

Jam sudah menunjukan pukul 12.30 tengah malam, namun restoran tempat mereka berkumpul sekarang terasa ramai. Bukan hanya mereka berenam yang sedang menjamu di sana, ada juga grup lain dan pengunjung sendiri tengah menikmati makanan dan sekedar mampir untuk minum-minum.

"Siapa sangka pemain voli bisa menjadi aktor Rakugo," ucap Konoha Akinori di sela menikmati bir dinginnya, "kau hebat, Anahori."

Onaga mengangguk semangat, "Benar, senpai. Aku sudah pernah beberapa kali melihat Rakugo, bisa kulihat pertunjukan Anahori cukup bagus meski masih terlihat amatir. Cara membawakan ceritamu tidak membosankan."

Anahori Shuichi terkekeh malu sembari menunduk, menggaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal, "Terima kasih banyak, senpai. Aku masih belum ada apa-apanya. Baru bisa tampil di teater kecil juga."

Bokuto yang sedari tadi sibuk dengan santapan tengah malamnya langsung menyanggah, "Tidak! Penampilanmu tadi terbaik. Pertunjukan terbaik yang pernah kutonton. Bahkan bisa jadi pertunjukan paling bagus se-Jepang."

Mantan anggota tim voli-nya hanya mengamini, bernostalgia dengan reaksi berlebihan kapten mereka yang tidak pernah berubah. Hanya Anahori yang masih tersenyum kegirangan mendapat pujian dari seniornya.

"Yah, Bokuto mungkin ada benarnya," sahut Washio, "ruangan pertunjukan tadi terisi lebih dari setengah kapasitas. Untuk ukuran Rakugo yang mungkin mulai mengalami penurunan peminat, jumlah penonton tadi lumayan juga."

Anahori mengibaskan tangan, "Yah, meskipun lebih dari setengahnya tamu undanganku dan pemimpin teater, selebihnya pengunjung reguler kami."

Bokuto menenggak gelas birnya, sebelum menyahut, "Penonton di sana rutin berkunjung?"

Si aktor mengangguk, "Seperti yang dikatakan Washio-senpai tadi, peminat Rakugo sekarang bisa dikatakan sedikit. Kami berusaha menampilkan yang terbaik saat ini berkat harapan dari pengunjung yang masih mau melihat pertunjukan kami. Saking rutinnya mereka berkunjung, aku sampai hafal beberapa wajah dan bisa tahu mana pengunjung baru."

"Hmm," gumam Bokuto, "di antara yang datang hari ini, ada pengunjung baru?"

Anahori berpikir sebentar, menggali ingatan suasana deret kursi penonton yang terbentang di depannya saat berada di atas panggung tadi, "Seingatku hanya para senpai dan tamu undangan pimpinan teater. Selebihnya hanya satu atau dua orang penonton baru, sisa penonton reguler."

Entah darimana rasa penasaran Bokuto perlahan muncul, "Apa penonton barumu itu wanita?"

Anahori menggeleng, "Kurasa bukan, aku hafal karena jarang ada wanita yang datang ke pertunjukan tengah malam. Penonton wanita yang datang hari ini rata-rata sudah sering datang."

Bokuto bergumam lagi, raut wajahnya beruba menjadi lebih sunyi, seperti tengah berpikir.

"Memangnya kenapa, senpai?"

Si senior hanya mengibaskan tangan, "Penasaran saja," jawabnya, "pertunjukan ada setiap hari apa?"

"Dalam satu minggu hanya tiga kali di akhir pekan. Jumat-Minggu. Hanya di pukul 10 malam."

Bokuto bergumam kembali, mengabaikan raut penasaran yang diberikan dari para anggota timnya.

'Penonton reguler, ya? Siapa sangka.' pikir mantan kapten tim voli yang kini beralih profesi sebagai mekanik mobil.

.

.

.

.

.

Beberapa hari kemudian.

Jumat, pukul 9.50 malam.

Bokuto berdiri di depan gedung teater yang baru minggu lalu ia kunjungi bersama rekan-rekannya.

Sepulang kerja tadi, ia bermaksud untuk makan malam saja di restoran ramen dekat apartemennya, lalu menghabiskan malam dengan tidur. Sudah beberapa hari ini Bokuto lembur.

Rencananya berubah di tengah perjalanan. Mengikuti pikiran, ia mengubah arah stang motor ke gedung teater yang ada di hadapannya.

'Pertunjukan ada setiap akhir pekan. Pukul 10 malam.'

Kalau ditanya, apakah Bokuto mulai tertarik untuk menonton pertunjukan Rakugo lagi, jawabannya, mungkin ya, mungkin tidak.

Tidak. Bukan karena tidak menarik, Bokuto hanya tidak familiar dengan seni, ia hanya ingin mendukung juniornya.

Ya. Karena ada hal lain yang menjadi perhatiannya.

Wanita bermantel coklat muda dan bersurai panjang halus yang ia temui malam itu.

Munafik kalau Bokuto bilang ia tertarik bukan karena kecantikannya. Laki-laki mana yang tidak tertarik pada wanita cantik. Bokuto juga sudah beberapa tahun belakangan tidak menjalani hubungan spesial dengan wanita.

Tapi, Rakugo? Tengah malam?

Wanita itu terlihat seperti putri dari keluarga baik-baik. Jelas terlihat dari cara berpakaian dan bahasa yang digunakan.

Dia juga wanita yang galak.

Menambah rasa penasaran Bokuto.

.

.

.

.

.

"Senpai, terima kasih sudah datang berkunjung lagi," ucap riang dari junior yang akan tampil malam ini, "ternyata senpai mulai tertarik dengan pesona Rakugo."

Bokuto menyeringai.

Ia menyempatkan diri untuk mampir ke belakang panggung, setelah meminta izin dari staf teater.

"Aku datang karena ingin mendukungmu saja."

Setengah bohong. Dua hari berturut-turut sebelumnya, Bokuto juga datang. Namun, Anahori mendapat giliran tampil di hari Minggu. Kali ini, Bokuto benar-benar memiliki tujuan untuk mendukung Anahori. Atau lebih tepatnya, salah satu tujuan.

"Tampilkan yang terbaik, aku tunggu dari kursi penonton." ucapnya menyemangati, sebelum beranjak menuju ruang pertunjukan.

Benar kata Anahori, pengunjung tidak seramai minggu lalu, saat ada rombongan tim voli dan undangan lain. Hari ini hanya penonton reguler saja. Tak sampai setengah jumlah kursi penonton terisi.

Bokuto memilih untuk duduk di kursi bagian belakang, posisinya lebih tinggi dibandingkan deret kursi lain. Dari sini dia bisa melihat seisi ruangan dengan jelas.

Sambil menyamankan duduknya, memori Bokuto kembali berputar di malam itu.

Hari itu, perhatian Bokuto terbagi antara menonton juniornya dan si wanita bermantel coklat tua. Rupanya, wanita itu memilih untuk duduk di antara deret kursi yang kosong, menyendiri dari rumpunan penonton lain.

Selama pertunjukan, Bokuto menangkap reaksi wanita itu.

Ia hanya sesekali tersenyum, tanpa ada tawa lepas selayaknya penonton lain.

Beberapa kali Bokuto juga menangkapnya menghela nafas, seperti menahan emosi yang tak mau ia keluarkan.

Rakugo seharusnya menjadi tontonan sukacita, bukan? Lalu kenapa wanita itu malah terlihat merenung?

Rangkaian pikir Bokuto terhenti ketika tirai panggung terbuka, menandakan pertunjukan akan dimulai.

'Tak datang lagikah hari ini?' pikirnya lesu.

Yah, sudahlah. Mungkin setelah ini, Bokuto akan mengajak Anahori untuk mampir ke izakaya langganannya saja. Buat apa juga buang waktu untuk hal yang tidak pasti.

Bokuto menepuk tangan perlahan ketika juniornya muncul di atas panggung. Sedikit merasa terobati.

Ia menggerakan sedikit lehernya yang kaku. Efek terlalu banyak mengangkat beban berat beberapa hari ke belakang. Truk muatan yang sedang diperbaikinya sekarang memerlukan banyak onderdil baru, dan beratnya tidak ringan.

Bokuto menoleh ke kanan, bermaksud melemaskan otot leher.

Niatnya terlupakan ketika sudut matanya menangkap satu sosok.

Itu dia.

Wanita yang ditunggu kehadirannya baru tiba. Ia berjalan perlahan melewati deret kursi dan mengambil posisi duduk dua baris di bawah Bokuto.

Meski redup cahaya, Bokuto bisa melihatnya dengan jelas.

'Dia cantik.' pikirnya, sebelum beranjak dari kursi yang ditempatinya sekarang, menuju dua baris di bawahnya.

.

.

.

.

.

"Selamat malam," sapanya pelan, tidak mengambil resiko agar penonton lain tidak merasa terganggu dengan suaranya, "terima kasih sudah datang menonton pertunjukan juniorku."

Wanita yang duduk di sebelahnya bergeming, meski Bokuto tahu suaranya cukup jelas terdengar sampai telinga si wanita.

"Juniorku bilang, tidak banyak wanita yang tertarik untuk menonton Rakugo tengah malam. Kamu punya selera yang bagus."

Wanita itu masih belum menanggapi.

"Aku menghargai apresiasimu terhadap seni, tapi bukankah berbahaya untuk seorang wanita datang sendiri, tengah malam begini?"

Mendadak, wanita itu berdiri dari kursinya. Ia beranjak tanpa sekalipun menanggapi atau bahkan menoleh ke arah Bokuto.

Bokuto hanya terpaku melihat reaksi si wanita.

'Terlalu agresif,' kutuknya dalam hati.

.

.

.

.

.

Wanita bersurai panjang itu berjalan cepat meninggalkan gedung teater. Tak tahu mau kemana arahnya, ia hanya ingin meninggalkan kekesalan.

Tempat yang seharusnya menjadi penenang, kini sudah tidak terasa nyaman lagi.

'Dasar pria mesum.'

Ia menghiraukan panggilan dari pegawai-pegawai pub dan bar yang mengajaknya mampir. Terlalu sibuk dengan pikirannya, ia hanya berjalan mengikuti arah kemana kakinya melangkah.

Bahkan tak sadar sudah ada dimana.

Langkahnya perlahan berhenti, ketika pikirannya sudah mulai tenang. Yang akhirnya membawa penyadaran bahwa ia jalan sudah lumayan jauh dari tempat asalnya.

'Sembarangan.'

Ia kini berada di blok jalan yang lebih sepi dibandingkan sebelumnya. Beberapa kios sudah terlihat tutup. Hanya satu atau dua orang yang berlalu.

Menghela nafas, ia bergerak kembali menelusuri jalan yang samar diingat.

Niatnya berhenti, ketika tak jauh di depannya, dua laki-laki sudah berjalan mendekati posisinya.

Ia mulai merasa tidak nyaman.

Belum sempat, ia berbalik arah, salah satu laki-laki itu menahan lengannya. Menahan untuk pergi lebih jauh.

"Ojo-san mau kemana?" racaunya, mendekatkan diri ke arah tubuhnya. Tangannya mencengkram erat meski berusaha dilepas. Sepertinya dia mabuk.

"Lepaskan atau aku teriak." ancaman itu tak bisa menyembunyikan ketakutan dari suaranya.

Tangan lain berusaha menahan wajahnya, memaksa untuk menatap.

"Teriak saja," tantang laki-laki yang bertubuh lebih kurus dari pemabuk yang menahan tangannya, "itu membuatku semakin bergairah."

Ketakutannya sudah memuncak, ia baru akan membuka mulut sebelum dengan keras dibungkam.

Wanita itu melawan dengan segenap tenaga yang ia punya. Dua laki-laki lawan satu wanita tentu saja tidak semudah itu.

Ia mengginggit tangan yang membungkam mulutnya, yang kemudian refleks menjauhkannya, memberikan kesempatan untuk berteriak, "TOLONG-"

Tak sampai satu detik, laki-laki yang tadi membungkamnya terhempas jauh, seperti kilat, atau angin kencang, melemparkan tubuhnya hingga terdengar suara bantingan keras.

Selanjutnya, genggaman tangan yang menyakitinya juga terlepas, sebelum terdengar suara rintihan datang dari arah belakang, si pemabuk yang tadi menahannya.

Semuanya begitu cepat.

Belum sempat ia bereaksi apapun, ada sosok lain yang merangkul, jauh lebih lembut. Seolah takut dirinya patah.

"Ini maksudku," suara berat terngiang di telinga, familiar. "menonton Rakugo di rumah jauh lebih baik."

Bokuto menggiring wanita bersurai panjang itu menjauhi lokasi, memindai cepat untuk mencari tas tangan si wanita yang terjatuh tak jauh dari mereka. Sebelumnya membimbing tangan si wanita untuk menggenggam tasnya erat.

Bahunya masih terangkul dengan lembut.

"OY!"

Baru beberapa langkah mereka berjalan, teriakan itu sempat mengalihkan perhatian Bokuto, tapi ia putuskan untuk abaikan saja. Mengeratkan rangkulan pada wanita yang setengah menggigil di rangkumannya.

"KURANG AJAR!"

Suara langkah cepat membuat Bokuto menoleh kembali, sudut matanya melebar ketika kilau benda tajam tertangkap pandangan.

Refleksnya bergerak cepat, menahan tikaman pisau yang ditujukan pada tubuhnya. Si wanita dia sembunyikan di balik punggungnya.

Tekanan pada pisau yang tak seberapa kuat menggores tangan, mengalirkan warna merah segar dari telapak.

Bokuto merebut pisau dari tangan si pemabuk, melemparnya jauh, sebelum meraih tubuh yang agak gempal dan membantingnya ke tanah. Membuatnya tak berkutik.

"Kau yang brengsek." ucapnya singkat, tak menaruh perhatian lama sebelum mengalihkan fokus kembali pada si wanita.

"Jangan jauh-jauh dariku." ia kembali merangkul bahu si wanita dan membawanya pergi dari sana.

.

.

.

.

.

Mata Bokuto terpatri pada wajah teduh yang tengah menyibukan diri membalut luka di telapak tangannya.

Mereka kini berada di taman tak jauh dari gedung teater.

Bokuto sudah menawarkan diri untuk memanggilkan wanita itu taksi yang akan mengantarnya pulang, tapi ia menolak. Justru menarik Bokuto ke tempat yang lebih hening tak jauh dari sana. Wanita itu memaksa Bokuto untuk duduk di salah satu bangku di taman, sedang si wanita sibuk mengeluarkan sapu tangan yang digunakan untuk membasuh luka dengan menggunakan air yang ada di kran taman.

"Kamu tidak perlu repot-repot," ucapnya pelan, "nanti sembuh sendiri."

Wanita itu tetap membisu, dengan apik melilit luka Bokuto dengan sapu tangan yang cukup untuk menutup luka agar darah tidak semakin mengalir.

Bokuto membalas keheningan wanita itu, membiarkannya melakukan apa yang dia mau.

"Bokuto Kotaro," tak betah dengan keheningan, ia sebut saja namanya, "maaf aku sudah mengganggu di teater."

Jemari wanita itu mengikat ujung sapu tangan. Berharap lembaran kain kecil itu mampu menutup sementara luka.

"Kamu harus ke rumah sakit, lukanya cukup dalam," ucap halus dari bibir merona wanita itu, "berikan aku nomor telfonmu, akan kutanggung biaya pengobatannya."

Bokuto mendelik.

Kesempatan ini seharusnya dia gunakan, toh memang itu tujuan awal Bokuto sampai rela berhari-hari kembali untuk menemui wanita bersurai hitam panjang yang membuatnya kepikiran.

Tapi bukan begini, harga dirinya sebagai lali-laki ikut tergores.

"Tak perlu," sanggahnya lembut, namun tegas, "sebaiknya kau segera pulang. Ini sudah lewat tengah malam."

Wanita itu hanya bergeming.

Merasa canggung, namun tak kalah gengsi dengan Bokuto.

"Kamu tidak perlu memberitahuku," suara lembutnya tak kalah tegas dari Bokuto, membuatnya entah kenapa melunak, "sebagian ini juga terjadi karena aku terganggu olehmu."

Pang. Kartu berbalik.

Bokuto bertambah melunak, ia bangkit dari bangku, membungkuk tepat di hadapan wanita yang kini mengenakan mantel hitam, bukan lagi coklat muda seperti lalu.

"Maaf aku sudah membuatmu tidak nyaman," ucapnya sungguh-sungguh, sebelum sedikit menegak dan menatap wajah cantiknya, "sekarang, sudah mau pulang?"

Ia mengulum bibirnya sesaat, sampai akhirnya mengangguk pelan. "Bantu aku untuk memanggil taksi."

Bokuto mengacungkan jempol kanannya yang tidak terbalut sapu tangan, "Siap, kapten."

.

.

.

.

.

"Tolong antarkan ojo-sama sampai pintu rumahnya dengan selamat, oji-san," ucap Bokuto sembari membungkuk, mencuri pandangnpada wanita yang sudah terduduk di kursi belakang taksi, "aku bisa gila kalau sampai sesuatu terjadi padanya."

Supir taksi hanya terkekeh, menangkap candaan Bokuto.

"Ja, ojo-sama," sapanya beralih kepada si wanita, "sampai nanti."

Sebelum sempat Bokuto menutup pintu taksi, tangan lentik dan halus wanita itu menahannya.

"Tunggu," ucapnya sebelum cepat merogoh isi tas, mengeluarkan secarik kertas dan bolpen lalu menulis setengah terburu-buru.

"Kabari aku kalau kau mau ke rumah sakit," ucapnya sedikit lebih lembut dibandingkan nada sebelumnya, "aku serius."

Ia menyerahkan secarik kertas yang dituliskan tadi kepada Bokuto, sebelum menutup pintu taksi dan lepas landas.

Sumringah muncul di kedua sisi bibir Bokuto, pandangan belum lepas dari bayangan taksi yang membawa sang putri kembali ke istananya.

"Ogasawara Sachiko," gumamnya pelan, memindai cepat dan berusaha mengingat nama serta deretan nomor yang tercantum di bawahnya, "salam kenal."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tbc

Withlove,

Dinda308