Disclaimer: All characters and cover are not mine but this fic is mine :')

Cerita ini murni hasil imajinasi belaka, terinspirasi dari manga berjudul When Sato-kun Died.. by Yamagata Aona (recommended banget bagi pecinta genre tragedi).

Notes: Menggunakan bahasa campur-campur, banyak flashback yang mungkin sulit dimengerti (?)


-Kaito POV-

"Len-kun telah berpulang kemarin lusa."

Dua hari setelah liburan semester ganjil terakhirku selaku siswa akademi berakhir, aku mendapatkan kabar kematian teman sekamarku. Ia mengalami pendarahan otak akibat terpeleset di kamar mandi. Sungguh kematian yang teramat sangat konyol. Benar-benar aku tak habis pikir, begitu mudahnya satu nyawa melayang hanya karena sebotol sampo limited edition.

"Kau mendengarkan penjelasanku tidak si."

Kulirik sekilas kepala pengurus asrama di seberang mejanya. Entah apa yang ia ocehkan sedari tadi, aku tak menyimaknya lagi selepas mengetahui penyebab kematian Len.

"Ya ya, aku dengar kok."

"Kau tidak mendengarku. Aku akan menjelaskan-"

"Aku sudah paham, kau tak perlu menjelaskannya ulang."

"Kaito!"

Tak menghiraukan panggilan Gakupo, aku beranjak meninggalkan ruang rapat para pengurus asrama.

Kulewati koridor terbengkalai di samping halaman belakang asrama. Di tengah-tengah kesunyian koridor, aku menjumpai sesosok makhluk yang sedang berdiri menghadap ke luar jendela, makhluk yang dulunya kukenal dengan sangat baik.

Makhluk tersebut memiliki rambut lebat, pipi bulat, dan bibir kecil khas seseorang. Tanpa perlu kutanyakan pada Gakupo, makhluk ini sudah pasti merupakan sosok mayat hidup Len. Secara umum, tidak kutemukan perubahan signifikan dari karakteristik fisiknya kecuali di bagian matanya. Mata bobanya kini tergantikan oleh mata sayu yang menyiratkan tiadanya tanda-tanda kehidupan. Kendati demikian, ia tampak memusatkan pandangannya terhadap suatu objek di luar jendela.

Kutelusuri pandangan kosongnya itu yang ternyata tertuju ke arah sebuah rumah pohon tua, tempat tersimpannya sejumlah kenangan di antara kami berdua.

Sedikit Flashback

"Kaito-senpai, mengapa kau jadi suka sekali mengunjungi rumah pohon ini?"

Pertanyaan seekor tupai lucu penunggu pohon tua di halaman belakang asrama sedikit menggelitik perutku. Pasalnya, terhitung tiga bulan waktu luang telah kami habiskan bersama di tempat ini. Dan, ia baru menanyakannya sekarang.

"Kau sendiri mengapa selalu menyediri di sini?"

"Aku tidak biasa berbaur dengan teman-teman yang lain."

"Bilang saja kau tidak bisa, bukan tidak biasa."

Tupai lucu itu terdiam sejenak. Ia perlahan menekuk wajahnya, mungkin kesal gara-gara perkataanku yang tepat sasaran.

"Yeah begitulah. Entah mengapa aku tak cocok dengan selera ataupun topik pembicaraan mereka."

"Hmmm. Kau pasti kesepian, makanya aku menemanimu di sini. Aku mencintaimu, Len."

"Senpai-"

"Itu kan jawaban yang ingin kau dengar?"

"Senpai! Kau mengerjaiku!"

"Hahahahaha."

Tawaku kian pecah seiring bertambah merahnya kedua sisi pipi Len. Memang aku sangat menyukai ekspresi marah bercampur malu menggemaskannya.

"Tunggu pembalasanku nanti, Kaito-senpai!"

Present

Sekelebat memori tiba-tiba terlintas dalam benakku. Sial, mataku berkaca-kaca. Sadarlah, Kaito. Kau tak punya waktu buat mengenang masa lalu.

Eh. Ke mana perginya zombi itu. Aku buru-buru mengitari sekelilingku, mencari-cari keberadaan Len hingga kutemukan figurnya yang berkeliaran di sekitar rumah pohon. Ia terlihat bersusah payah memanjat pohon meskipun terdapat jaring panjat di dekatnya.

Bruk. Suara hantaman tubuhnya begitu keras sampai-sampai membuatku spontan berlari kencang menghampirinya.

"Hei, apa kau terluka?"

Tidak memberikan tanggapan sedikit pun, ia terbaring kaku dengan satu tangan dan kaki terlepas dari tubuhnya, bagaikan korban pembunuhan.

Jangankan berpindah tempat, kondisinya ini bahkan tak memungkinkannya untuk bangkit berdiri. Mau tak mau, terpaksa kugendong dia ke UKS asrama.

Di sepanjang perjalanan menuju UKS, beberapa siswa menatapku tak percaya sebab aku berjalan sambil membawa sesosok zombi disertai potongan anggota tubuhnya. Tetapi ada pula beberapa siswa lain yang tidak menunjukkan reaksi berlebihan ketika mereka tak sengaja berpapasan denganku.

Reaksi yang sangat wajar kuterima mengingat fenomena mayat hidup telah terjadi sejak puluhan tahun silam. Lantaran para ilmuwan tak kunjung mendapatkan alasan logis di balik peristiwa ini, opini masyarakat luas pun terpecah belah. Sebagian menyebut fenomena ini sebagai sebuah keajaiban, sebagiannya lagi menyebutnya sebagai sebuah kutukan.

Bagiku, Len yang kembali hidup tentu saja adalah sebuah keajaiban. Persetan akan sifat manusianya yang menghilang. Len tetaplah Len, tak peduli dalam wujud apa ia hidup kembali.

Sesampainya di UKS, aku langsung mendudukkan Len ke atas kasur terdekat. Kuambil sekotak alat jahit dan kupindahkan kursi pasien ke depan Len lalu mendudukinya.

"Kemarikan lenganmu," pintaku seraya menarik lengan kanannya.

Kusambungkan tangan Len terlebih dahulu secara hati-hati supaya tidak semakin menghancurkan kulit rapuhnya. Selesai menjahit tangannya, aku lanjut menyambungkan kakinya tanpa kenal kata istirahat.

Tak kusangka, menjahit anggota tubuh kayak gini dapat memakan waktu cukup lama. Pantas dokter bedah suka menghabiskan waktu berjam-jam di ruang operasi.

"Fuh. Akhirnya beres juga."

Tinggal kusamarkan bekas jahitannya menggunakan kain kasa.

"Kalau penampilanmu begini, kau kelihatan selayaknya manusia sungguhan," pujiku sembari merapikan surai honey lemon-nya.

Selama kami berada di UKS, Len sama sekali tidak bergerak apa lagi bersuara. Berdasarkan ingatanku terkait salah satu pembahasan di pelajaran biologi, kebiasaan, ketakutan beserta kesukaan ketika hidup sebagai manusia akan terbawa saat terlahir kembali menjadi zombi. Semasa hidupnya, Len takut pada ketinggian. Masuk akal jika ia masih trauma akibat terjatuh dari pohon sebelumnya.

"Tak usah khawatir, Len. Aku akan menjauhkanmu dari segala hal menakutkan di dunia ini."

Setidaknya itulah sumpahku hingga kau menuntaskan tujuan akhirmu.


Sedikit Flashback

"Bangun, bangun! Bangun, Kaito-senpai!"

Sedikit demi sedikit, kuperoleh kesadaranku berkat ulah iseng seseorang.

Kutolehkan kepalaku ke arah sumber cahaya. Sesuai dugaan, jendela kamar terbuka lebar. Terpantau teman sekamarku berpijak di sana.

"Hngh... tutup tirainya, Len. Sinarnya menyilaukan mataku."

"Justru sinar pagi hari bagus tau." Seekor tupai lucu mengembangkan seutas senyum tak berdosa dalam balutan cahaya hangat mentari. "Sinar matahari pagi itu menyehatkan, bukan?"

Tidak di minggu pagi juga, dasa maniak. Percuma kuajak berdebat, ujungnya bakal kalah telak.

Aku menutupi wajahku dengan bantal, berniat melanjutkan tidurku tanpa mengacuhkan pernyataan Len. "Seharusnya aku meminta Gakupo untuk mengganti teman sekamarku."

"Jangan dong. Senpai dan aku kan sepaket, kita adalah sepasang belahan jiwa. Hehehe."

Len mengakuiku sebagai belahan jiwanya... kusadari secara penuh, dua sudut bibirku terangkat, membentuk sebuah lengkungan bulan sabit.

"Oleh karena itu... cepat bangun, Senpai! Temani aku nonton bioskop!" Tidak pakai aba-aba, Len merampas kasar selimutku.

"O-oi, Len!" Tak sempat mempertahankan selimutku, aku hanya bisa mendengus jengkel. "Kau ingin menonton film apa si."

Ia memamerkan deretan gigi putih bersihnya, "Film zombi."

Present

"Senpai, bangun! Lihat, cuacanya lagi cerah banget!"

Ukh... sinar matahari pagi ini sangat menyilaukan...

"...sinar matahari...!"

Aku terbangun karena cahaya matahari berlebihan yang masuk ke dalam kamar. Kulihat jendela terbuka lebar dan... mayat hidup Len menumpukan dua tangannya pada kusen jendela.

Ia menjemurkan dirinya di sana, mengikuti rutinitas yang selalu dilakukan Len setiap pagi di kala ia masih hidup.

Kuamati lekat-lekat 'sosok baru' teman sekamarku. Ia memejamkan matanya, seakan-akan tengah menikmati kehangatan sinar mentari pagi kesukaannya.

Oh. Ia telah mengenakan seragam beratribut lengkap. Aku pun harus bersiap-siap buat berangkat ke gedung akademi.

Kubiarkan Len berjemur sendirian selagi aku mempersiapkan diri. Selang berapa puluh menit kemudian, aku turut berjemur di sampingnya sambil menyantap sepotong roti lapis. Kurasakan tatapannya yang teralihkan ke arah objek di tangan kiriku.

"Kau mau?" Aku menawarkannya jus pisang yang kubeli kemarin malam.

Ia bergeming, sorot matanya terus diarahkan ke jus pisang favoritnya. Mungkin Len tak memahami maksud ucapanku. Aku lantas membantunya menggenggam jus pisang yang belum kuminum itu.

"Untukmu." Kudekapkan jus pisang tersebut ke dadanya.

Sekilas, aku menangkap senyuman tipis terpajang di wajah pucatnya. Bisa jadi halusinasiku semata. Namun, aku memilih untuk memercayai keyakinan egoisku bahwa masih tersisa sifat manusiawi yang dapat Len rasakan walaupun cuma sebatas singgahan sementara.


Kurang lebih dua minggu telah berlalu semenjak hari kematian teman sekamarku. Mayat hidup Len melakukan seluruh aktivitas kesehariannya termasuk menghabiskan waktu luang bersamaku dengan sangat terperinci. Saking rincinya, rasanya seperti melihat Len asli versi manusia yang melakukan kesehariannya.

"Len. Pergilah duluan ke rumah pohon, aku ada urusan sebentar."

Tak bersuara seperti biasanya, ia berjalan pelan menuju rumah pohon, menuruti perintahku.

Kulangkahkan kakiku ke ruang rapat para penggurus asrama, mengindahkan pengumuman Gakupo pas jam istirahat tadi siang. Tanpa mengetuk pintu, aku langsung memasuki ruangan tersebut.

"Kaito. Kudengar, sosok zombi Len-kun belum menghilang." Gakupo menyambutku dengan pernyataan yang amat membingungkanku.

"Maksudmu?

"Ayolah. Kau mengerti maksudku."

Keseriusan raut muka Gakupo mengetuk ingatanku perihal tugasku mencari alasan Len hidup kembali sebagai zombi. Aish. Aku mengabaikan tugasku itu gara-gara terlalu sibuk memahami 'sosok baru' Len.

"Haaa... kau pasti melupakan tugasmu." Gakupo melayangkan tatapan tajam andalannya ke arahku. "Apa kau ingin Len-kun menghilang sebelum ia mencapai tujuan akhirnya?"

Menghilang...! Kenapa aku baru tersadarkan sekarang...

Sudah menjadi rahasia umum bahwa jangka hidup zombi tidaklah panjang, kisaran tiga sampai empat minggu. Melewati jangka hidup tersebut, tubuh mereka akan menguap seluruhnya, tak menyisakan satu pun bagian tubuh termasuk tulang. Itulah alasan mengapa sebagian masyarakat menyebutnya sebagai sebuah kutukan, mereka tidak dapat membangun makam teruntuk anggota keluarga yang telah menjadi zombi.

"Kau bilang, Len-kun itu keluargamu. Bila memang benar demikian, maka rampungkan secepatnya tugasmu selaku satu-satunya anggota keluarga Len-kun!"

"Kaito-senpai adalah keluargaku!"

Ucapan Gakupo sekejap memunculkan bayangan Len sewaktu ia mengenalkanku kepada sesama anggota pengurus asrama.

Sial, sial, sial! Keluarga macam apa aku ini! Sisa satu atau dua minggu lagi bagi Len untuk menuntaskan tujuannya. Hanya keluarganya, yaitu aku yang dapat menolongnya. Dan, jikalau aku berhasil melakukannya, tubuh Len tetap akan menguap seperti mayat hidup lainnya.

"Jangan lupakan tugasmu. Kau wajib membantu Len-kun menuntaskan tujuan akhirnya. Agar ia dapat segera beristirahat dengan tenang."

"Ck." Aku meremas kuat telapak tanganku. Aku tahu maksud Gakupo itu baik, ia jelas-jelas menunjukkan kepeduliannya pada mendiang anggota pengurus asrama. Namun, berbeda dengannya... aku belum siap merelakan kepergian Len...

"Kau boleh pergi."

Buru-buru kuangkat kakiku keluar dari ruangan tanpa mengucapkan sepatah kata. Sekuat tenaga aku membendung tangisanku yang tadinya nyaris terjatuh di depan Gakupo.

"Len, kau menungguku?" Kudapati sosok zombi Len yang sedang berpijak di lorong serupa saat pertama kali aku menjumpainya.

Hm? Kelihatannya ia lagi mengamati cuaca sejuk sore hari. Len tampak tenang mendalami hembusan angin sepoi-sepoi yang menerpanya melalui lubang pecahan kaca jendela. Rambut pirangnya berkibar-kibar tertiup angin, menjadikan rambutnya sedikit berantakan. Spontan kurentangkan tanganku guna membelai sekaligus membenahi surai lebatnya.

Wangi menyegarkan ini... aroma sampo yang tak asing di hidungku menyentil secuil memori perihal satu perbincangan kami mengenai hadiah kelulusanku.

Sedikit Flaschback

"Tahun ini kan Senpai lulus dari akademi. Senpai mau hadiah apa?"

Menghirup aroma sampo yang berbeda, sontak kudekatkan wajahku ke tengkuk Len, "Kau ganti sampo? Wanginya beda. Aku jauh lebih menyukai wangi sampomu yang dulu."

"Hohoho. Wajarlah Senpai lebih menyukai wangi sampo limited edition. Sulit menemukannya akhir-akhir ini, karenanya aku mengganti sampoku untuk sementara waktu." Len membanggakan wangi sampo favoritnya. "Apa Senpai menginginkan sampoku sebelumnya?"

"Aku tak menginginkan apa-apa."

"Tidak bisa! Aku tak mau hadir di acara kelulusan Senpai dengan tangan kosong!"

Aku puas dengan kehadiranmu di sana, Len. Bila kukatakan demikian, ia pasti masih bersikukuh menyiapkan hadiah kelulusanku.

"Baiklah, baiklah. Kalau begitu, kutunggu hadiah kelulusanku darimu."

"Yeah." Len memampangkan senyum madu andalannya. "Hadiahku tak akan mengecewakanmu, Senpai!"

Present

Di... dingin! Sensasi dingin ini berasal dari telapak tangan Len. Ia meraba semacam genangan air di bawah mataku.

Ah. Air mataku keluar rupanya... tak sanggup lagi membendung tangisanku, air mataku mengalir pelan mengenai kuku jari tangannya.

Kau rela mati demi menyelamatkan sampo favoritmu... jangan-jangan penyesalan beserta tujuan terakhirmu berhubungan dengan hadiah kelulusanku...!

Kugenggam tangan dinginnya yang masih terletak di pipiku, memandang nanar wajah datarnya, "Len... izinkan aku menjadi egois, izinkan aku menahanmu di sisiku sedikit lebih lama."

Mungkin karena pandanganku yang berkabut akibat tangisanku sendiri, sorot mata sayunya sedikit melembut. Ia mengusap air mataku dengan tangan satunya lagi.

Kumohon... berikanlah keajaiban supaya Len dapat terus hidup selama-lamanya. Aku terus memanjatkan doa yang sama walau kuyakin keajaiban tersebut mustahil untuk terjadi.


Setiap hari Jumat, Len pergi ke lantai teratas gedung akademi, memandangi langit sore bersamaku.

Len takut pada ketinggian tapi ia senang menghabiskan waktu di sini dan rumah pohon. Mengherankan memang. Jawabannya karena ia menyukai semilir angin yang mengingatkannya pada mendiang keluarganya.

Kuamati Len yang lagi menempelkan dagunya ke atas pagar pembatas. Melihatnya begini aku jadi teringat perjumpaan pertama kami.

Di tahun keduaku, seorang siswa baru bertubuh munggil dijadikan teman sekamarku. Kesan pertamaku tentangnya, ia anak yang pemalu. Aku duluan yang menyapanya, mencoba mengenalnya lebih jauh. Kami berdua cepat menjadi akrab lantaran kepribadian kami yang hampir mirip. Tak terasa, tiga setengah tahun kuhabiskan hari-hariku di asrama bersama teman sekamarku. Sekarang pun, aku masih menghabiskan waktu bersama sosok barumu, Len.

Akhir-akhir ini, tangan dan kaki Len mudah sekali terputus. Bekas jahitan operasi di kepalanya juga ikut terputus tak terhitung jumlahnya dalam sehari. Pertanda telah tiba waktunya ia pergi, waktunya ia menghilang dari sisiku...

Sedikit Flashback

"Bagaimana caranya terbang bebas ke angkasa ya."

Aku mengernyitkan dahiku, mencerna maksud pertanyaan aneh dari mulut teman sekamarku.

"Ada apa? Kau menanyakan sesuatu yang sangat mencurigakan."

"Aku merindukan keluargaku."

Sorot mata Len begitu sendu, seakan-akan ia siap meloncat ke bawah kapan saja di saat aku lengah.

"Len. Kau tak boleh bertindak gegabah. Aku kan keluargamu!"

Aku mencengkeram lengan Len sekuat tenaga, tak akan kubiarkan dia menyusul keluarganya secepat ini, tidak dengan cara serupa.

"Kuh- kuhahahahaha!"

Apa... apa yang terjadi...?

"Jackpot! Kau tertipu! Ahahahaha."

Len tertawa terpingkal-pingkal, mengabaikan tatapan kebingunganku.

"Bagaimana pembalasanku? Siapa suruh Senpai mengerjaiku di rumah pohon tempo hari." Ia menjulurkan lidahnya, merasa sudah menang melawan keusilanku.

Astaga. Len mengerjaiku, padahal jantungku nyaris copot gara-gara kelakuannya. Aku kesal si tapi juga lega.

"Kau tidak berniat melakukan hal bodoh, kan?" tanyaku, memastikan bahwa ucapannya tadi benar-benar cuma keisengannya semata.

Len menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Aku masih mau hidup, aku ingin menjadi dokter hebat."

Baru kali ini, aku melihat ekspresi serius Len. Ia masih amat mencintai profesi mendiang orang tuanya meskipun telah dikecewakan oleh mereka berdua.

"Aku menantikan hari di mana kau menjadi dokter hebat datang, Len."

"Oke." Len melebarkan senyumnya, memperlihatkan eye smile penuh kehangatannya. "Aku akan menjadi dokter yang lebih hebat dibandingkan dirimu, Senpai!"

Senyuman Len yang selalu kurindukan...

Present

"Emmm... mimpi..."

Sejak kapan aku ketiduran... lho... Len udah gak ada di sebelahku!

"Len!!"

Cepat-cepat aku berlari menuju tempat kenangan kami berdua. Dia tidak ada di rumah pohon. Len, ke mana perginya dirimu?

Kumohon, jangan menghilang seperti ini!

"Len!"

Di tengah-tengah halaman belakang asrama, aku menemukan Len yang berjalan menghampiriku dari arah koridor terbengkalai asrama.

"Kau habis ke mana!? Apa kau tahu betapa khawatirnya aku?"

Ia menyodorkan sebotol sampo favoritnya, sampo yang menjadi penyebab kematiannya.

"Sampo limited edition...?" Sepucuk kartu ucapan tertempel di botolnya.

'Happy Graduation, Kaito-senpai! Aku pasti menyusul ke rumah sakit tempat Senpai menjadi dokter residen. Kelak, mari kita buktikan siapa dokter terhebat di antara kita. I love you!'

Sampo limited edition... hadiah kelulusanku. Kau mati karena hadiah kelulusanku...!

"...Len bodoh, Len ultra bodoh!"

Tidak. Akulah yang bodoh. Seharusnya kukatakan setegas mungkin bahwa sesungguhnya hadiah yang kuinginkan darimu hanyalah kehadiranmu di upacara kelulusanku!

Aku tahu, cepat atau lambat Len bakal mengingat tujuan akhir yang membuatnya hidup kembali sebagai zombi.

Aku tahu, ketika tujuan akhirnya berhasil tercapai, Len akan pergi menghilangkan diri selamanya.

Aku tahu, suatu hari nanti, aku harus siap merelakan kepergian teman sekamarku- keluargaku- belahan jiwaku...

Aku tahu, tapi- mengapa rasanya sememilukan ini? Bagaikan terlilit rantai di sekujur tubuhku, rasa pedihnya kehilangan sosok mayat hidupmu melampaui kepedihan saat aku kehilangan sosok manusiamu, Len.

"Maaf... Len... maafkan keegoisanku, Len!" Kudekap tubuh Len erat-erat, pelukan perpisahan kami, pelukan terakhir kami...

Sesuatu menyentuh pundakku. Tangannya...! Tangan Len melingkupi pundakku, seolah-olah ia sedang membalas pelukanku. Mayat hidup tidak dapat memahami maupun merasakan apa pun, mereka bilang. Lalu kenapa, rasanya ia memahami perasaan yang tengah melandaku sekarang ini.

"Saatnya kau beristirahat, Len. Farewell."

Aku tak rela melepaskanmu, jangan pergi, Len!

Ucapan di mulutku berbanding terbalik dengan kata hatiku. Terlepas dari keinginan egoisku, mayat hidup Len membalikkan tubuhnya, membawa pergi raganya yang perlahan menguap entah ke mana, tanpa menoleh ke belakang satu kali pun.

"Len!! Huaah!!!!"

Tangisanku kian pecah ketika wujud zombi Len tak lagi terlihat dalam pandanganku. Kenanganku bersama Len terus-menerus terputar bagai potongan film zombi yang pernah kami tonton bersama.

Tiada henti-hentinya kutangisi kepergian teman sekamarku, meski air mataku kering dibuatnya, bahkan jika mataku bengkak sekalipun, ataupun jika keterpurukanku disaksikan oleh anak asrama lainnya, aku tidak peduli. Sebab, aku telah kehilangan seseorang yang amat berharga melebihi diriku sendiri.

Jam terus berdetak maju, kegelapan semakin merebak di sekelilingku, hawa dingin mulai menusuk kulitku. Kubiarkan isak tangisku menghiasi halaman terbengkalai asrama hingga entah kapan air mataku dapat berhenti terjatuh.

The Memoirs of You - FIN


Author's Note

Ciaossu! Makasih wankawan yang udah mampir buat membaca fiksi ini bahkan sampai ke author's note-nya :')

Fyi, seharusnya ini jadi cerita di fandom lain tapi karena suatu sebab dan lain hal, ane ubah ke KaitoLen deh ahaha. Perasaan Kaito ke Len udah pasti platonic tetapi apakah mengarah ke romance atau ke family? Silakan interpretasikan sendiri :3

Semoga feel kisahnya bisa tersampaikan walaupun sedikit tehehe. Stay safe dan jangan lupa bahagia. Adios!