Bokuto Kotaro X Ogasawara Sachiko
Takane No Hana
Chapter 2
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Bokuto benar-benar kelelahan hari ini.
Ini bukan soal fisik. Dari kecil dia hampir tidak pernah kehabisan energi untuk menggerakkan tubuh. Apalagi waktu sekolah dulu, dia aktif mengikuti kegiatan olahraga - klub bola voli - hingga diangkat menjadi kapten dan menjadi salah satu tim yang mengukir sejarah di masanya.
Secara kasat mata, dia terlihat tangguh. Tubuh tinggi dan atletis, langkah ringan seperti tidak ada beban. Angkat beban berat? Bokuto pernah mencetak rekor membawa ban mobil sebanyak dua buah - beratnya hampir 40 kg - hanya dengan satu lengan. Hampir tidak ada yang ditakuti oleh Bokuto.
Atau begitu kurang lebih pendapat orang.
Jujur saja, kekuatan mental Bokuto tidak sejalan dengan kekuatan fisiknya.
Dihitung - hitung, sudah hampir sepuluh hari terakhir Bokuto tidak benar - benar libur. Showroom sedang ramai, deadline pekerjaan seperti tidak ada habisnya. Belum lagi, pekerjaan sampingannya sebagai pelatih klub - yang biasanya hanya di hari Sabtu dan Minggu - sekarang jadi hampir setiap hari, karena mereka akan mengikuti pertandingan antar sekolah. Sebisa mungkin Bokuto menyempatkan diri untuk hadir selesai ia bekerja dari showroom.
Bokuto senang saja sebetulnya. Semakin ia sibuk, semakin banyak bertemu orang, hidupnya lebih terasa menantang.
Meski kadang, ia tidak sadar kalau sudah kelelahan.
Entahlah. Akhir - akhir ini dia merasa seperti ada yang kurang.
Bokuto menyeka peluh yang bertengger di pelipis. Percika oli dan berbagai pelumas kendaraan yang menempel di sarung tangan kini ikut menodai pelipisnya. Sudah biasa.
Hari ini showroom terasa lebih panas dari biasanya. Padahal mesin penstabil udara masih bekerja dengan baik.
"Akaashi," panggilnya kepada junior yang sejak tadi membantunya untuk mengganti sparepart mobil pick up yang kendor, "kalau yang di sana sudah, tolong cek mesin. Aku mau cuci muka sebentar."
Juniornya hanya memberikan aba-aba jempol, yang dibalas dengan acungan balik Bokuto.
.
.
.
.
.
Percikan air mengalir dari kran membasahi wastafel putih yang sedikit ternoda oleh oli. Bokuto membasuh wajah yang sudah tidak tahu seberapa tebal debu dan minyak yang menempel di sana. Segar.
Belum dirasa cukup, Bokuto membungkukan badan dan memposisikan kepala di bawah kran, mencari sejuk dari dinginnya air segar yang mengalir.
Setelah beberapa detik, Bokuto mengangkat kepala, merasa jauh lebih baik dari sebelumnya. Handuk kecil yang sudah ditenggerkan di bahu menahan tetesan air dari helaian rambut yang biasanya jabrik, kini jatuh menutupi sebagian telinga dan mata.
'Yakitori dan highball. Butuh banyak.' pikirnya untuk menu makan malam ini sembari menyeka seluruh bagian kepala dengan handuk.
Trrrr. Trrrrrr…
Getaran di saku celana mengalihkan perhatian Bokuto. Segera ia meraih ponsel pintar berwarna hitamnya dengan tangan kanan, selagi tangan lainnya masih menyeka rambut yang basah.
Kuroo Tetsuro
Bokuto menyeringai ketika nama teman garis miring rival seumur hidupnya yang sudah lama tidak terdengar kabar muncul di layar sentuh ponselnya. Tanpa membiarkan ia menunggu lebih lama, segera Bokuto menggeser layar.
"Oy, Kuroo," panggilnya dengan nada yang tak sengaja meninggi, mendadak bersemangat, "sudah dipecat dari asosiasi? Sayang sekali showroom belum butuh pegawai tambahan."
Dari seberang jalur, Bokuto bisa mendengar tawa sinis rival yang entah bagaimana masih menjadi bagian dari sirkel sosialnya selama hampir 14 tahun. Kalau dipikir lagi malah, Kuroo salah satu yang paling sering bertemu dengannya.
'Sayangnya, kenaikan jabatan sebagai kepala divisi akan membuatku lebih lama lagi di sini,' tangkasnya dengan nada mencemooh yang tidak kalah. Mereka memang memiliki dinamika yang sejalan.
"Che, kalau cuma kepala tim, aku sudah lebih dulu satu tahun dibandingkan kau," seringai Bokuto, "jadi, ada kejadian apa sampai kau ingat rivalmu?"
'Tiba-tiba teringat saja, tadi Terushima menghubungiku mengajak bertemu di Ginza, Oikawa dan Atsumu juga ikut,' Bokuto masih mendengarkan Kuroo selagi mengacak rambutnya yang mulai kering, jabrik lagi, 'kalau kau oke, nanti kukirimkan alamat tempat kumpul.'
Semangat Bokuto semakin bertambah, mana mungkin dia melewatkan acara bersama perkumpulan mantan rival, yang kini menjadi sirkel paling eratnya, "Jam 8 aku sudah sampai sana, kirimkan saja alamatnya. Jangan lupa traktir."
Suara tawa yang lebih lepas terdengar dari Kuroo, 'Bisa kuatur,' jawabnya santai, 'Terushima juga mengajak Momo-chan dan Miyabi-chan. Mereka mau mengenalkan beberapa teman baru.'
Sebelah alis Bokuto naik, meski seringaian belum meninggalkan raut wajah, "Oya, oya? Kuingat terakhir kita bertemu, Oikawa bawa perempuan yang katanya 'terakhir'?"
Lagi, Kuroo hanya mendenguskan tawa usil, 'Memang apa yang akan terjadi?' timpal Kuroo, meski mereka sama-sama tahu jalan akhir cerita hari ini, 'ini cuma kumpul - kumpul biasa, Bokuto - kun. Kau tahu, menjalin pertemanan baru.'
Bokuto menaikkan bahu, "Yah, cepat kirim saja alamatnya. Jangan berani kalian mulai sebelum aku datang."
Panggilan diakhiri dengan gumaman 'Oke' dari Kuroo.
Akhirnya malam ini akan ada kabar baik. Bokuto tidak sabar untuk kumpul dengan para mantan rival.
Entah sejak kapan mereka berteman seerat ini, tapi berjalan alami saja. Karena dasarnya, mereka memiliki sifat yang mirip. Kata - kata sinis, adu tenaga, sudah seperti candaan untuk mereka. Saking eratnya.
Satu kali getaran muncul dari ponsel Bokuto, yang ia yakini pesan dari Kuroo.
'Spirits bar. Shinjuku 2 Chome. Jam 8 malam.'
Bokuto mengingat cepat. Dia niatkan selesaikan pekerjaan malam ini supaya tidak ketinggalan berkumpul. Akhirnya, lelahnya beberapa hari ini terbayar.
Matanya beralih sejenak ketika ia mengembalikan layar pada daftar pesan.
Kuroo Tetsuro
Hinata Shoyo
Akaashi Keiji
Momo-chan
Oikawa Toru
Ogasawara Sachiko
Ia berhenti di satu nama yang baru beberapa hari ini masuk menjadi daftar kontak.
Jarinya menyentuh layar tepat di atas nama kontak baru itu.
'Ojo-sama, ini hari Senin, teater tidak buka. Mungkin malam ini sebaiknya kau menonton Rakugo di rumah saja.' - Bokuto Kotaro
Bokuto baru mendapat balasan kira - kira 33 jam setelah pesan itu terkirim.
'Bagaimana lukamu?' - Ogasawara Sachiko
Bokuto ingat betapa adrenalinnya mendadak terpacu ketika pesan balasan itu masuk, sampai murid Fukurodani yang tengah ia latih terkejut mendengar teriakannya.
'Sudah kering, sapu tanganmu ajaib, ojo-sama. Atau mungkin karena kau yang mengobati, jadi cepat sembuh.' - Bokuto Kotaro
'Syukurlah. Tolong hati-hati jangan sampai terluka lagi.' - Ogasawara Sachiko
Balasan itu lebih cepat diterima kali ini. Dari keterangan jam, hanya beda enam jam dari waktu Bokuto membalas pesan sebelumnya.
Bahkan, Bokuto tidak mempermasalahkan meski ia segera membalas pesan dengan cepat.
Persetan dengan ego.
Dadanya tak akan merasa tenang sebelum ia mendengar kabar lagi dari wanita yang wajah teduhnya masih teringat jelas. Sesuatu yang jarang ia lakukan mengingat kapasitas otaknya yang diakui tidak seberapa dibandingkan Kuroo.
'Siap. Jangan khawatir ojo-sama. Badanku siap melindungi ojo-sama dari apapun.
Akhir pekan ini, kalau ojo-sama mau menonton Rakugo, Bokuto siap menjaga. Bagaimana?' - Bokuto Kotaro
Balon pesan berakhir sampai di situ. Terhitung genap tujuh hari dari pesan terakhir.
Bokuto menghela nafas, mengacak kasar rambutnya yang kini sudah jabrik seperti semula.
'Apa - apaan,' jengkelnya dalam hati, 'memangnya kau bocah? Bersemangat karena perempuan.'
Bokuto tak habis mengutuk dirinya sendiri jika mengingat pesan itu.
'Lemah.'
.
.
.
.
.
"Bokkun!"
Sahut riang dan niat memeluk Oikawa ditangkis tanpa sempat terlaksana. Bokuto menyingkir dan dengan cepat melingkarkan lengan yang sedikit lebih kekar dibanding Oikawa. Mengunci setengah leher mantan kapten dan setter Aoba Johsai yang kini bekerja sebagai fotografer untuk salah satu majalah olahraga.
"Kelihatannya kau lebih kurus, Oikawa. Baru putus dengan pacarmu, hmm?"
Nada canda Bokuto diiringi dengan kuncian leher yang semakin mengerat, yang dibalas dengan cengkraman keras tangan Oikawa, berusaha melepaskan diri.
"BOKKUN! STOP-SIAL KAU!" racau Oikawa, nafasnya terengal. Satu tangannya berganti mencengkram rambut dan menjambak keras, membuat Bokuto terjatuh dan melepaskan lilitan leher Oikawa.
"Dasar brengsek," timpal Bokuto yang langsung menerima uluran tangan Oikawa, membantunya bangkit, "suatu hari salah satu perempuan itu akan membunuhmu baru kau kapok."
"Sebelum aku mati, kupastikan aku akan mengajakmu ke surga juga, Bokkun." tangkisnya sebelum merangkul bahu Bokuto.
Ketiga temannya yang sudah lebih dulu tiba hanya menggeleng kepala.
"Simpan kelebihan tenaga kalian, kita bisa diusir sebelum mulai minum." ceramah Atsumu, "maaf sudah membuat gaduh, master. Dua orang ini tidak pernah habis bodohnya."
Bokuto mengambil posisi duduk di sebelah Oikawa, berhadapan dengan Atsumu, "Kau hanya beruntung lulus SMA dengan nilai pas-pasan, Atsumu."
Pemilik bar yang sekaligus penyaji hanya terkekeh maklum dari balik meja bartender. Beliau sudah lama kenal dengan Atsumu, yang merupakan salah satu pelanggan setianya.
"Setidaknya, nilai akhirku lebih baik dibandingkan Terushima, yang harus mengulang ujian supaya bisa lulus."
Terushima yang sejak tadi tenang menikmati sake-nya tersedak, "Oy, jangan bawa - bawa aku untuk pertengkaran kekanakan kalian."
Kuroo terkekeh mendengar kelakuan temannya, mengangkat gelas whiskey yang baru ditenggak beberapa mililiter, "Bersyukur kalian punya aku yang bisa membantu kalian belajar untuk ujian akhir, bukan?"
Keempat pria kekar yang teraniaya kompak menengok sinis pada Kuroo, yang dengan santai tertawa puas.
"Heeeh, terserahlah," usai Bokuto, rasa laparnya mulai mengingatkan tujuan ia datang, "Master, apa ada yakitori? Aku mau lima tusuk, daging dan kulit. Highball juga."
Master menerima pesanan Bokuto dengan sahutan 'Segera'.
Terushima yang menenggak sake sekali lagi dengan lebih santai, menyambung pembicaraan, "Jadi, benar kau sudah putus, Oikawa? Berarti tidak ada lagi setelah yang 'terakhir' kemarin?"
Kali ini pusat perhatian kembali tertuju pada Oikawa. Topik pembuka Terushima segera terdengar menarik.
Si pusat perhatian hanya mengangkat bahu, menjawab santai, "Yaah, setelah terakhir, biasanya ada prolog, bukan?" tangkis ringkas Oikawa, berusaha santai meski dalamnya menangis, teman-temannya sudah hafal, tapi mereka cuek saja, "lalu ada musim kedua, musim ketiga dan seterusnya."
Keplakan dari arah belakang kepala Oikawa membuatnya terpelanting, yang dibalas dengan sahutan "Ow, apa - apaan, Kuroo!"
Pelaku hanya menyeringai sinis, "Epilog," sanggah Kuroo, mengoreksi kesalahan Oikawa, "entah bagaimana lagi yang kau cari?"
Oikawa memajukan bibir, menopangkan dagu pada kepalan tangannya, "Siapa sangka kalau ternyata dia mantan pacar Daichi?" gumamnya, bernostalgia, "salahku juga membawa dia pada kumpul awal tahun lalu. Sebulan kemudian, dia minta putus karena mau berhubungan lagi dengan Daichi."
Bokuto menenggak highball yang menjadi minuman pembuka, "Maksudmu Sawamura? Karasuno?"
Oikawa mengangguk, "Daichi mana lagi yang kita kenal?" helanya.
Atsumu terkekeh ringan, menepuk bahu Oikawa, "Aku turut berduka," simpatinya, "tapi dilihat dari manapun, gadis itu akan lebih aman bersama Sawamura dibandingkan denganmu."
Bokuto dan Terushima tertawa puas di depan Oikawa, sementara Kuroo hanya terkekeh sambil menepuk bahu Oikawa.
"Setidaknya, waktu hidupmu lebih panjang, sebelum gadis itu sempat membunuhmu." tambah Atsumu.
Kali ini keempatnya tertawa lebih puas bersamaan.
"Kalian benar - benar brengsek," umpat Oikawa, seringaiannya bertolak dengan ucapannya yang kasar.
Entahlah, candaan mereka justru lebih bisa menghibur dibandingkan apapun untuk Oikawa saat ini.
Suara lonceng pintu tidak menghentikan gurauan di antara mereka. Kecuali Terushima yang kebetulan duduk mengarah dengan pintu.
"Miyabi-chan, Momo-chan. Sini." panggil Terushima sambil mengangkat tangan.
Kehadiran dua wanita yang sama - sama mereka kenal mengalihkan perhatian. Oikawa hanya membalikkan setengah badan, Bokuto melirik sekilas sebelum melanjutkan kegiatan menyantap yakitori-nya, sementara Kuroo berdiri dari duduknya, menyambut salah satu gadis yang berambut coklat yang ikal sepanjang punggung.
"Selamat malam, Miyabi-chan," sapa Kuroo, menangkap tangan halus si wanita dan membimbingnya untuk duduk di kursi yang tadi ia tempati, sebelum mengambil kursi lain di sebelahnya. "kulihat kau membawa teman baru?"
Wanita yang diketahui bernama Miyabi tersenyum manis, "Perkenalkan, ini teman baruku, Ayaka dan Yoshi. Mereka hostess baru di bar-ku. Sedangkan Chie teman kerja baru Momo di salon."
Atsumu melambaikan tangan, tersenyum pada teman baru mereka, "Halo, gadis - gadis. Kalian pasti lelah jalan tadi. Silakan duduk bersama kami."
Mereka mengambil tempat di masing-masing sisi kelima pria yang hampir sama tinggi dan perangainya. Di antara mereka berlima, wanita itu jadi terlihat mungil.
Bokuto yang sejak tadi tak terlalu memperhatikan dan lebih memilih memuaskan rasa laparnya, terjeda saat ada satu tangan ramping muncul dari balik punggungnya, mengambil salah satu tusuk yakitori yang masih utuh.
Bokuto menengok ke arah si pemilik tangan, "Hei, Momo-chan," tegurnya, meski tetap terdengar santai, "duduk sini. Kita berbagi yakitori. Master, minta lima tusuk lagi. Dan tambah satu gelas highball."
Wanita yang bertubuh lebih berisi dibandingkan Miyabi, namun tetap proporsional melenggang ringan, memposisikan duduk di samping Bokuto, "Kau tidak membalas pesanku, Ko-chan," gumamnya, manja, "kupikir kau sudah mati."
Bokuto hanya tertawa ringan, menenggak highball yang masih tersisa setengah, "Aku belum akan mati sampai usia 130 tahun. Kita masih bisa bertemu 98 tahun lagi."
"Begitu ya?" ia menyodorkan tusuk yakitori yang masih tersisa satu potong, mengisyaratkan Bokuto untuk mengambilnya, yang dipatuhi oleh mulut Bokuto dengan cepat, "untuk sekarang, malam ini saja sudah cukup."
Entah berapa lama waktu yang mereka habiskan di sana. Bersenda gurau, berbagi cerita tentang pengalaman hidup selama mereka tidak bertemu.
Malam yang baik untuk mengobati rasa lelah Bokuto.
.
.
.
.
.
"Bokuto, bahaya kalau kau mengendarai motor sekarang," peringat Kuroo ketika menyadari wajah Bokuto yang sudah memerah hingga ke telinga, "menginap saja dulu di tempat Momo-chan. Dekat dari sini kan?"
Bokuto yang pandangannya mulai berkabut, tak jelas kemana arah berpikirnya, menyanggah sembari bersuara setengah bercanda, "Aah, kau pikir aku selemah itu? Aku bisa."
Kuroo hanya bergumam. Ia memindai cepat kondisi teman-teman yang kondisinya tak jauh berbeda dengan Bokuto. Terushima malah sudah mulai terlihat akan tertidur kapan saja.
Kuroo sendiri sudah mulai mabuk sepertinya.
"Kita akhiri dulu saja untuk malam ini," rangkum Kuroo, "Aku akan panggilkan taksi untuk Oikawa dan Terushima. Atsumu dan aku akan kembali ke hotel untuk tidur. Miyabi-chan dan Chie-chan bagaimana?"
Miyabi, yang sudah menyandarkan kepalanya pada bahu bidang Kuroo, menatap setengah mengantuk, "Ikut." gumamnya pelan.
Kuroo tersenyum tumpul, mengelus punggung yang tertutup oleh rambut halus, "Baiklah."
Wanita yang sedari tadi duduk di samping Bokuto setengah berdiri, tangannya mengelus kepala Bokuto yang sudah bersandar di kursi, "Master, di depan ada motor besar warna hitam. Boleh kami titip dulu di sini? Dia mabuk."
Si pemilik bar hanya mengacungkan jempol, maklum dengan kondisi yang sering ia jumpai.
"Ayo, Ko-chan," pandu Momo, sembari merapikan bawaannya ke dalam tas tangan, "tempatku tidak jauh dari sini. Hanya berapa menit jalan kaki. Masih bisa jalan kan?"
Bokuto menggeliat sebentar, mengangkat kedua lengan kekar dan meregangkan kaki jenjangnya, sebelum berdiri, "Oke."
"Kami duluan, teman - teman. Sampai ketemu lagi."
Pamit mereka disambut dengan jawaban ala kadarnya dari tim yang masih sadar. Kecuali Terushima dan Oikawa tentunya.
.
.
.
.
.
Bokuto melepaskan hoodie dan meletakkannya di sofa ruang tengah apartemen mungil milik Momo. Tempat tinggal wanita itu tidak lebih besar dari apartemen yang Bokuto sewa, namun lebih rapi dan bernuansa pastel.
Tubuhnya dihempaskan ke atas sofa, merentangkan lengan yang masih terbalut kaos lengan panjang pada tubuh sofa, menyamankan duduk pada bantalan empuk.
"Aah," helanya lega, "badanku pegal."
Kesendirian Bokuto di atas sofa hanya berlangsung beberapa detik, sebelum disusul oleh tubuh ramping berisi yang ikut menyamankan diri di sebelahnya, menumpukan kepala pada lengan Bokuto yang masih terbentang.
"Pekerjaan berat ya?" tanyanya lembut, menenangkan di telinga Bokuto.
Bokuto hanya terkekeh pasrah, "Yah, melakukan dua pekerjaan sekaligus bukan hal yang mudah," jawabnya, "untung aku menyukai keduanya."
"Hmm," tubuhnya kini bergeser, lebih mendekat pada torso Bokuto, mencari kehangatan dari tubuhnya yang lebih kokoh dan keras, hasil dari menekuni olahraga, "pantas saja kamu susah dihubungi."
Perlahan, kaki jenjang ikut bertumpu di atas paha Bokuto, menyamankan diri di sana.
Rasa kantuk Bokuto perlahan memudar, ada gairah lain yang pelan - pelan mendominasi. Tangan lain yang tidak digunakan untuk kepala si wanita bertumpu beralih, mengelus pelan paha mulus ramping yang beristirahat di atas pahanya sendiri.
"Banyak hal yang membuatku harus fokus," suara beratnya tak kalah mengalun dari si wanita, tanpa sadar saling mendekatkan kepala, "dan akhir - akhir ini, terasa tak pernah selesai."
Jemari lentik si wanita ikut bermain, membelai perlahan pada dada bidang Bokuto, "Malam ini, akulah fokusmu."
Aah, malam yang memabukkan.
.
.
.
.
.
Bokuto berusaha mengatur nafasnya yang sedikit memburu, dadanya berdegup dalam tempo yang lebih cepat, tubuhnya semakin terasa hangat. Ia semakin menikmati permainan kecil yang dilakukan teman wanitanya.
Masih dalam lokasi yang sama, Bokuto duduk bersandar di atas sofa, sementara si wanita sudah berganti posisi. Terduduk di lantai beralas karpet berbulu, kepalanya memposisikan diri di antara kedua paha Bokuto.
Entah kemana perginya celana jins hitam panjang yang tadi masih ia kenakan, meski celana dalam boxernya masih melindungi bagian tubuh.
Hanya bagian terintimnya dipersilahkan oleh Bokuto untuk dimainkan si wanita.
Gerakan kombinasi antara mulut panas dan jemari lentik wanita itu memanjakannya, tanpa bosan terus berulang. Seolah ikut menikmati. Menimbulkan sensasi yang erotis dan membuat keduanya bergairah, pelan - pelan semakin meningkat.
"Momo-chan," hela Bokuto, suaranya lebih serak dibanding biasa, peluh mulai mengalir dari kening, "lebih kuat."
Wanita bersurai sepanjang bahu yang lurus jatuh itu patuh, menghisap penis Bokuto lebih kuat dan dalam, hingga air liurnya sudah tak bisa ditahan.
Bokuto menyisir helaian rambut yang ada di kepala wanita yang betah di antara selangkangannya, sesekali tak sengaja menekan kepalanya agar lebih dekat, lebih dalam menghisapnya.
Kelopak mata Bokuto terbuka setengah, nafasnya masih teratur meski mulai tersengal, ia menundukkan pandangan pada wanita yang tengah sibuk membantunya menghilangkan penat.
Seketika kedua kelopaknya melebar, jantung berdebar cepat.
Kala ia menatap perangai wanita yang ada di bawahnya, bukan berambut pendek sebahu, tapi hitam dan panjang, halus menyapu kedua pahanya. Bahunya yang telanjang terlihat putih mulus, meski redup cahaya.
Dan wajah itu, bukan Momo.
Wanita berwajah teduh dan melankolis, yang memenuhi pikirannya bahkan sejak pertama mereka bertemu.
Halusinasinya mulai menggila.
Refleks, tangan Bokuto mengepal, menarik pelan rambut yang tersangkut di antara jemarinya. Mengejutkan wanita yang sampai tadi masih menikmati fantasi liar.
"Ow, Ko-chan!"
Suara bernada lebih tinggi wanita itu menyadarkan Bokuto. Gambaran di hadapannya kini sesuai dengan kenyataan yang ada. Di hadapannya bukan wanita itu.
Bukan Ogasawara Sachiko.
Giginya tanpa sadar beradu.
Sebelum Momo sempat bereaksi, Bokuto segera membungkam mulutnya dengan mulut Bokuto sendiri. Melumat dan mengambil nafasnya. Nafasnya memburu. Pikirannya kalut.
Ia mengangkat tubuh Momo yang lebih berisi dan lebih telanjang dibandingkan dengan wanita bermantel coklat muda itu.
Membayangkan betapa bobot wanita itu akan terasa lebih ringan seperti bulu.
'Gila.'
.
.
.
.
.
"Ko-chan."
Bokuto terbangun dari tidur lelapnya. Kening dan lehernya sedikit berpeluh.
"Aah," gerungnya, mata kembali terpejam, menghalau dari silaunya matahari yang masuk dari jendela, "kepalaku berputar."
Wanita yang sejak malam tadi ditumpanginya menghela nafas, terkekeh, "Ya, pasti. Kamu minum banyak sekali tadi malam," ucapnya sembari mengusap punggung polos Bokuto, yang masih tertutup selimut sebagian, "ponselmu dari tadi bergetar. Sepertinya dari workshop."
Bokuto mengacak rambut yang sudah tak beraturan, "Ah, hari ini aku tukar shift dengan Akaashi," suaranya parau, "jam berapa sekarang?"
"Setengah dua belas siang."
Bokuto menelentangkan badan, dada bidangnya terasa sejuk terhembus suhu ruangan, telapak tangannya menutup mata, "Harus bangun."
Momo tertawa pelan, ikut membaringkan tubuhnya yang sudah terbalut kaus dan celana pendek di atas kasur, mengistirahatkan kepala di atas dada bidang dan lengannya dilingkarkan di pinggang Bokuto.
"Yuk, berangkat kerja," senandungnya riang, "semalam Ko-chan agak aneh, tapi aku senang sih."
Bokuto menoleh ke arah wanita yang wanginya harum, meski bukan aroma yang begitu Bokuto sukai, "Aneh bagaimana?"
Momo berpikir sebentar, "Kamu seperti sedang kesal di tengah seks, tapi anehnya kamu lebih lembut dari biasa. Seolah-olah kamu takut aku kesakitan. Malah kamu sempat tanya, apa aku kesakitan atau tidak. Padahal biasanya tak pernah begitu. Memang tidak pernah sakit juga, sih. Tapi kamu tidak pernah tanya."
Bokuto hanya bergumam, mengistirahatkan kembali kedua kelopak matanya. "Aku mabuk berat semalam, tak bisa kontrol tenaga juga."
Giliran Momo yang mengamini.
"Eh, Ko-chan," sambungnya, "kamu sedang kepikiran perempuan lain, ya?"
Bokuto terkejap.
"Hah?"
Teman malam wanitanya hanya terkekeh usil, "Nah, kan? Soalnya sempat juga kamu menggeleng kepala, seperti menghapus halusinasi, kacau sekali pikiranmu semalam."
Bokuto sempat terdiam sebentar, sebelum ikut terkekeh, "Mana mungkin," tangkalnya, "kalaupun ada, untuk apa aku di sini sekarang?"
Momo mencubit pipi kiri Bokuto, "Aku sudah beberapa kali bersamamu ya, tentu saja aku tahu. Biarpun kamu menyangkal," timpal Momo, "aku juga sering membayangkan orang lain kok, biarpun saat itu sedang seks bersama Kuroo atau pun Ko-chan."
'Wanita ini benar - benar.' kutuk Bokuto.
"Tadi malam kamu membayangkan siapa?" tanya Bokuto, ikut penasaran.
"Toru." jawabnya riang.
Oikawa sialan.
.
.
.
.
.
Kepalanya sudah terasa lebih ringan sekarang. Bokuto bisa mengendarai motornya tanpa kesulitan.
Karena tak ada waktu jika ia kembali ke apartemen sebelum ke workshop, jadi setelah sarapan dan mandi di tempat Momo, Bokuto langsung mengambil motor yang dititip di bar dan berangkat ke workshop dari sana.
Jalanan tidak terlalu padat, namun tetap ramai.
Pikirannya melayang selagi menunggu lampu merah.
'Kepikiran perempuan lain?'
Otak dan ingatan hanya rahasia Bokuto, yang tak perlu orang lain tahu. Pengakuan cukup untuk dirinya sendiri.
Ya. Ia kepikiran perempuan lain selain Momo.
Tepat di tengah kesibukan mereka saat saling menjamah tubuh.
Bokuto menghela nafas.
Kurang brengsek apa lagi dia. Sudah hampir setara dengan Oikawa.
Bisa-bisanya membayangkan tubuh perempuan lain, yang bahkan cuma dikenalnya beberapa menit, dan melampiaskan pada teman sendiri.
'Mungkin diakhiri saja sampai situ.'
Keputusan Bokuto final. Bertepatan dengan penunjuk waktu lampu merah yang hanya tersisa beberapa detik sebelum berganti tanda.
Pandangan mulai berfokus ke jalan di depannya.
Sampai fokus itu berganti, teralihkan lagi.
'Atau tidak…'
Ogasawara Sachiko ada di sana. Di seberang jalan, lurus di arah yang akan Bokuto lalui lima detik lagi.
Sialnya, Sachiko tengah menaiki taksi yang sudah berhenti di sisi jalan.
'Cepatlah.'
Taksi itu lepas landas di detik mundur ke-tiga.
Diikuti oleh mobil lain yang ikut mengaburkan bayangan.
Ting. Lampu berganti.
Tanpa ragu, Bokuto tancap gas.
Di saat seperti ini, ia bersyukur otaknya bisa diandalkan.
.
.
.
.
.
Sial.
Setelah kurang lebih satu setengah kilometer beradu jalan, Bokuto kali ini benar - benar kehilangan jejak.
Kendaraan sudah ramai. Ponselnya terus bergetar.
'Kalau sudah mau dihentikan, cukup sampai sini saja, Tuhan. Jangan digoda lagi.' kesal Bokuto dalam hati.
.
.
.
.
.
Bukan Tuhan yang bermaksud menggoda. Memang Bokuto saja yang masih bebal.
Hari Minggu. Selesai membimbing latihan voli SMA Fukurodani yang menjadi almamaternya, Bokuto banting setir lagi menuju Ginza, yang arahnya berlawanan dengan jalan menuju apartemennya.
Kini terpaku di depan gedung teater.
Apalagi kalau bukan teater yang menampilkan pertunjukan Rakugo.
Bokuto mengecek arloji di pergelangan kirinya. Pukul 9.40.
Ia menghela nafas berat.
Kali ini ia mengakui julukan Kuroo padanya.
Pikir pendek.
Badan bergerak lebih dulu dibanding kepala.
Bokuto mengangkat bahu, mengakhiri perdebatan dengan dirinya sendiri.
Bergerak ke arah loket penjualan tiket, Bokuto disambut wajah datar paman paruh baya berkumis tipis yang kacamatanya buram. Tak ada bedanya dengan saat pertama kali ia datang.
"Yo, oji-san," sapa Bokuto, ringan, "ada pertunjukan Anahori hari ini?"
Paman penjaga loket hanya mengetukan jemari, tepat di balik poster yang menempel di kaca. Foto aktor selain Anahori terpampang di situ.
"Ah, sayang sekali," tangkisnya, "tapi sudah terlanjur ke sini. Tiket satu orang, oji-san."
Paman itu menjulurkan selembar kertas dari sela-sela kaca, "tujuh ratus yen."
Bokuto menukar kertas itu dengan koin, tepat 700 yen.
Ia tak segera bergeser dari depan loket.
Bokuto berdeham sekali, yang membuat si paman mengalihkan pandangan dari koran yang dibacanya ke arah Bokuto, "Apa?"
Bokuto sempat gelagap, "Tidak," tangkisnya, "eee, oji-san ingat ada berapa wanita yang datang berapa hari ini?"
Si paman hanya menaikkan sebelah alis, "Aku tidak ditugaskan untuk mensurvei," jawabnya sinis, "mana kuingat ada berapa wanita yang datang."
Bokuto terkekeh canggung, "Betul juga," jawab Bokuto, "kalau penonton wanita yang sering datang ke sini, oji-san ingat?"
"Ada beberapa," jawab paman paruh baya. Telunjuknya perlahan mengangkat. Lurus ke arah Bokuto, "termasuk dia."
Bokuto tercengang, "Hah?"
Si paman mulai jengkel, "Bukan kau, minggir."
Bokuto berbalik, sadar orang yang dimaksud ada di belakang Bokuto.
Benar saja.
Kelopak mata Bokuto melebar. Kali ini, dadanya bukan berdebar, justru nyari berhenti satu ketukan.
Perempuan yang menjadi khayalannya kini nyata. Ada di hadapannya.
Tentu dengan pakaian lengkap.
Rambutnya dibiarkan bebas terurai, rapi dan tertata. Ia mengenakan blus berwarna biru muda dengan lilitan pita di bagian kerah. Dipadankan dengan celana bahan hitam semata kaki, menutupi kaki jenjangnya. Kakinya tampak anggun dengan sepasang sepatu berhak tipis. Tubuhnya dibalut mantel berwarna hitam sepanjang pinggul yang kancingnya dibiarkan terbuka.
Riasan tipis yang terlihat natural menghiasi wajah teduhnya. Menambah aura kecantikannya yang anggun.
"Aa," entah kemana hilangnya suara Bokuto, "hei."
Ogasawara Sachiko meliriknya sekilas, memberi sedikit anggukan ke arah Bokuto.
"Selamat malam, oji-san." sapanya pada paman penjaga loket, "Tolong tiket untuk satu orang."
Bokuto memperhatikan gerak gerik Sachiko.
Aneh, padahal dia hanya bergerak biasa, tapi pikiran Bokuto yang hiperbola menganggap gerakan Sachiko seperti angsa atau penari balet.
Anggun dan terlihat indah.
Terlalu lama ia memperhatikan, sampai tak sadar si pemilik sosok sudah beranjak meninggalkannya untuk masuk menuju ruangan.
Bokuto benar - benar dibuat terpaku olehnya.
.
.
.
.
.
Malam itu, ruangan pertunjukan sama sepinya seperti biasa. Kurang dari setengah ruangan terisi.
Membuat Bokuto dengan mudah menemukan dimana Sachiko duduk.
Mengingat kejadian saat pertama mereka bertemu dan kecerobohan Bokuto, membuatnya tak mau mengulangi kesalahan yang sama.
Kali ini ia harus mengambil jarak.
Meskipun hanya satu baris.
"Ojo-sama," sapanya dari belakang kursi Sachiko, "boleh aku duduk di sini?"
Sachiko tidak menoleh meski mendengar pertanyaan Bokuto.
"Kursinya bukan punyaku." gumam Sachiko pelan, nyaris tak terdengar.
Bokuto tersenyum tipis, "Bagaimana kalau di sebelahmu?"
Sachiko tidak menjawab, hanya tas tangan yang ia pindahkan dari pangkuan ke kursi di sebelahnya - yang Bokuto incar - menjadi jawaban sunyi.
Bokuto menghela nafas, miris. Sembari mengambil posisi duduk di belakang sang putri.
'Menyedihkan.'
.
.
.
.
.
Bokuto tidak sedikitpun menaruh perhatian pada pertunjukan di atas panggung.
Pikirannya sibuk menelaah setiap ekspresi yang dipancarkan dari wajah Sachiko.
Mengingat setiap perubahan raut wajahnya, yang notabene minim.
Dia lebih banyak termenung. Sesekali memejamkan kelopak mata. Bukan karena mengantuk. Entahlah, apa yang ada di pikirannya.
Sungguh, keindahan wajah Sachiko lain daripada yang sudah Bokuto terbiasa sebelumnya. Atau yang pernah sekilas ia lihat.
Belum ada yang membuat terngiang sampai selama ini.
'Perempuan yang aneh,' simpulnya, 'atau aku yang aneh. Teringat - ingat perempuan yang sifatnya bahkan tidak pernah aku pikirkan untuk dekati '
Di satu titik, Sachiko sekilas terlihat sendu. Seperti siap menitikkan air mata kapan saja.
Padahal ini acara komedi.
Apa yang bisa membuatnya sedih?
Apa yang ia pikirkan selama menonton?
Ada kalanya, pikiran Bokuto meluas hingga ke fantasi yang tak semestinya menyalip.
Halusinasi liar di malam itu, saat ia membayangkan Sachiko ada di bawahnya. Bernafas tersengal. Kulit saling menyentuh.
Bokuto buru - buru mengaburkan ingatan dan mengatur nafas. Gairah tak seharusnya lari ke arah sana untuk saat ini.
Terlepas dari roller coaster emosi yang dirasakan.
Bokuto benar - benar dibuat penasaran.
.
.
.
.
.
Satu jam kemudian pertunjukan berakhir.
Bokuto membiarkan Sachiko berjalan lebih dulu meninggalkan tempat duduknya, yang segera ia susul sebelum bayangannya hilang dari pandangan.
Bokuto bersandar pada tembok di samping pintu masuk, memperhatikan Sachiko yang masih berdiri di depan gedung, menoleh ke kiri dan kanan, seperti tengah mencari sesuatu. Mungkin ia menunggu taksi datang.
Di satu titik, Bokuto menyerah pada pengendalian dirinya untuk menjaga jarak.
"Ojo-sama," sapanya dari belakang Sachiko, yang dibalas dengan sedikit lirikan, "mau kupanggilkan taksi?"
Sachiko terdiam sesaat, sebelum menghadapkan tubuh sepenuhnya di hadapan Bokuto.
"Bisa tolong hentikan itu?" kalimat pertama yang keluar dari bibir merah mudanya.
"Hentikan apa?" tanya balik Bokuto, bingung.
Sachiko menghela nafas samar. Ekspresi wajahnya terlihat rumit.
"Berhenti untuk menungguku, aku tidak mengenalmu. Dan sejujurnya, aku tidak merasa nyaman."
Bokuto terdiam, mencerna setiap kalimat.
Tapi, dia hanya menjaga Sachiko dari jauh. Dia tidak bermaksud melakukan apa - apa selain melindungi Sachiko.
Apalagi setelah kejadian yang lalu.
"Maaf," aku Bokuto, "aku tidak bermaksud membuatmu ketakutan. Hanya dari kejadian yang lalu. Entahlah, aku merasa bertanggung jawab mengganggu kenyamananmu. Aku cuma mau memastikan kamu merasa aman saat datang ke sini. Tanpa ada gangguan lain."
Sachiko terdiam beberapa saat.
Bokuto tidak salah, kan?
"Ini bukan tanggung jawabmu," sangkal Sachiko, nada suaranya tetap lembut meski tegas, Bokuto sendiri heran bagaimana bisa seseorang mengeluarkan suara seperti itu, "dan aku akan lebih merasa nyaman tanpa ada seorangpun yang mengikuti."
Kalimat jelas Sachiko menyambungkan ketidakserasian antara pikirannya dengan Bokuto.
"Kamu lebih suka dibiarkan sendiri?"
Sachiko menundukkan pandangan.
"Sudah jelas, bukan?"
Ada sesuatu yang menggores dada Bokuto. Ringan, tapi agak perih.
"Begitukah?" gumam Bokuto.
Sachiko tidak menjawab.
Memang benar, Bokuto yang bebal.
Mungkin sebaiknya-
Groowlll…
Bokuto menjeda pikirannya. Mencari sumber suara yang samar, tapi cukup jelas di telinga.
Dan tak lain datang dari perut Sachiko, yang pipinya kini lebih merona daripada garis bibir.
Ia menyentuh perutnya, mengalihkan pandangan ke arah selain Bokuto.
Saksi yang ada di hadapannya tertawa dalam hati, "Lapar?" tuduh Bokuto.
Wajahnya semakin merona, ekspresi yang baru pertama dilihat selain merenung dan sinis.
Ia terlihat jengkel tapi juga malu.
Bokuto semakin gemas dibuatnya.
"Ngomong - ngomong, aku juga belum makan malam, mungkin suara tadi dari perutku," sangkalnya, yang jelas - jelas mereka berdua tahu itu bohong, "ojo-sama suka ramen? Dekat sini ada restoran ramen enak. Tidak semahal yang biasa kau kunjungi, tapi tak kalah enak."
Sachiko masih belum menatap balik ke arah Bokuto.
Membuatnya harus mendekat dan melambaikan tangan di depan wajah Sachiko, yang terkejut olehnya.
"Ayo, sebagai permintaan maafku juga, kutraktir."
Ia menimbang sebentar.
Namun nampaknya, gengsi Sachiko malam ini kalah oleh rasa malunya. Membuatnya mau tak mau mengikuti ajakan Bokuto.
Bukan main girangnya pria lajang di hadapannya.
Baterainya kini terisi penuh.
Keganjilan tanpa sebab yang Bokuto rasakan selama beberapa hari ini seperti hilang begitu saja.
.
.
.
.
.
Bokuto menumpu dagunya dengan satu telapak tangan, memperhatikan dengan seksama perempuan yang duduk di sebelahnya, tangah menikmati ramen. Seolah - olah baru pertama kali ia cicip. Bokuto sendiri sudah menghabiskan porsinya.
Rona wajah Sachiko jauh lebih baik dibandingkan tadi, yang terlihat agak pucat.
"Enak?" tanya Bokuto lembut, suara beratnya sedikit terasa serak.
Sachiko menutup sejenak mulutnya untuk menelan, kemudian menoleh ke arah Bokuto sambil mengangguk.
"Syukurlah," sahutnya lega, "pelan-pelan saja."
Siapa sangka.
Kalimat itu disambut dengan senyum tumpul dari wajah cantiknya.
"Terima kasih."
Beberapa helai rambut panjang Sachiko jatuh dari bahu, yang dengan refleks tangan Bokuto menyingkirkan untuk diselipkan di balik bahu Sachiko.
Gerakan yang membuat Sachiko terkejut dan kembali menoleh ke arah Bokuto. Ia segera memegang rambut yang tadi disentuh.
Kemudian berbalik mengalihkan pandangan, meneruskan kegiatan makannya.
Jelas Bokuto tahu, jenis ronanya kali ini.
Ia tersipu.
Oh, betapa Bokuto akan mengingat malam ini seumur hidup.
.
.
.
.
.
"Sudah lewat tengah malam," Bokuto berkata seperti pembawa berita, "kau pasti lelah."
Mereka berdiri di sisi jalan utama, hanya berjarak beberapa meter dari restoran ramen. Bokuto menemani Sachiko untuk memanggil taksi.
Sachiko mengangguk sekali.
"Ramen tadi enak," aku Sachiko, "gyoza-nya juga. Sayang, aku tidak sanggup menghabiskannya."
Bokuto tersenyum tipis, "Makan saja semampumu, biar aku yang habiskan," bujuknya, menyiratkan akan ada kesempatan lain, "aku mantan atlet, makanku banyak."
Sachiko tersenyum simpul. Raut wajahnya kini sudah lebih rileks.
Bokuto melambaikan tangan, mengisyaratkan taksi yang menghampiri sisi jalan agar berhenti.
"Ja, ojo-sama, sekali lagi," simpulnya, bersiap mengakhiri malam yang dirasa tidak akan pernah cukup jika bersamanya, "hati - hati."
Sachiko mengangguk, namun terdiam sesaat, seperti sedang menimbang sesuatu.
"Boleh kamu hentikan panggilan itu? Aku sudah menuliskan namaku, bukan?" tanyanya ragu.
Bokuto mana mungkin lupa.
"Kalau begitu, hati - hati," senyumnya terasa sangat natural, "Sachiko."
Sachiko menatap Bokuto beberapa saat, ada kilasan raut yang tak bisa diartikan.
"Sampai nanti," ia berjeda sebentar, sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih ragu,"umm…"
Bokuto menangkap keraguannya, "Kotaro saja cukup." bimbingnya.
Wanita cantik itu kembali terdiam, sebelum mengembangkan senyum tipis, "Kotaro - san."
Bokuto mengangguk.
Penuh, dadanya terasa penuh.
"Hubungi aku kalau kau mau ke sini. Tidak, hubungi aku kapan saja kau mau."
Jawaban Sachiko malam itu menyempurnakan malam Bokuto.
"Baik."
Bokuto siap menghadapi pekerjaan plus lembur selama satu bulan ke depan. Selama wanita ini hadir untuk menghiasi harinya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc
With love
Dinda308
