FLASHBACK

"Tipe pria yang Hinata sukai?" Naruto bahkan tidak mau menghabiskan dua detik untuk memikirkan pertanyaan Toneri. Dia berucap apa saja yang melintasi benaknya. "Hinata suka pria baik ...?"

"Err maksudku yang lebih spesifik?" Ekpresi wajah Toneri ketus. "Semua orang suka orang baik, itu adalah standar."

Naruto berpikir sejenak, kemudian memberi jawaban mengecewakan seperti yang sudah-sudah. "Aku tidak tahu. Hinata tak punya tipe."

"Aku punya," kata Hinata. "Aku sudah memberitahunya lima ribu kali dan entah bagaimana dia selalu kembali pada aku tidak pernah mengatakan apa pun." Hinata bisa meluapkan kejengkelan hanya ketika Naruto tidak ada di antara mereka. Pria itu pergi karena kantor tempatnya bekerja menelepon mendadak, karena itu dia terpaksa meninggalkan Toneri dan Hinata yang datang satu jam lalu. Tentu Hinata ingin ikut di saat Naruto berkata dia akan pergi tapi Naruto menahannya dengan alasan dia tidak akan lama.

"Aku bilang padanya, aku pikir sudah sampai mulutku berbuih. Aku suka pria manis yang pandai berbicara lembut. Aku suka pria yang selalu tersenyum setiap kali aku menatapnya dan tentu, pria yang sangat menyayangiku. Itu klasik tapi ya aku suka pria seperti itu."

"Ah ..." Toneri mengangguk paham. "Seperti aku?" guyonnya tanpa meninggalkan senyum manisnya. "Aku manis dan lembut, aku juga murah senyum lohhh."

Hinata terkekeh dibuat betapa manja Toneri berlagak. "Aku terkadang sangat ingin dimanja, kau tahu. Aku sesekali berharap Naruto memaksa dan menbujuk aku ketika aku ngambek dan mengangkatku ketika aku menolak untuk pergi karena ngambek tapi dia tidak pernah melakukan apa pun dan menyerah begitu saja. Aku pikir itu karena dia tidak romantis tapi sungguh aku ingin dimanja seperti itu."

FLASHBACK END

Hinata ingin tahu rasanya dipaksa kerena cinta, berpikir itu akan sangat manis dan romantis tapi Toneri bukan pria yang dia cintai. Namun, mengapa kedekatan mereka membuat wajahnya bersemu merah dan terasa seperti terbakar?

'Ini tidak benar!' Hinata masih sempat mengingatkan dirinya bahwa apa pun yang dia rasakan adalah tidak benar. Dia memang pernah sangat menyukai Toneri karena sikapnya yang terasa pas tapi suka berbeda dari cinta. Hinata tak seharusnya kesulitan mengendalikan emosi.

Semakin dekat Toneri, semakin erat Hinata memejamkan mata. Jantungnya berdetak kian kencang dan perasaan cemas nan takut kian mengila dan semuanya pudar dikala Toneri memeluknya.

Peringatan akan bahaya di dalam otak Hinata lenyap membuat kaku punggungnya mencair. Toneri berkata, "kau bersikap seolah aku adalah pembunuh."

Hinata tak merespon. Dia membeku di tempat dengan otak ngeblank, masih berusaha mencerna apa yang sedang terjadi. "Kyaaah!" Tiba-tiba Toneri mengangkatnya bak karung beras di pundak. "Lepaskan aku!" rontaknya tapi Toneri tidak mendengarkan dan membawanya keluar dari kamar.

"Aku bilang kita harus pergi sekarang."

"Aku bilang lepaskan aku, Toneri!"

.

.

.

Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

Treat You Better

by Authors03

.

.

Chapter 11

.

.

.

Hinata duduk di bagian belakang mobil bersama Toneri sementara seorang pria tak dikenalnya menjadi supir. Hinata duduk menempel di pintu mobil, menjauhi Toneri. Dia menopang kepala yang berat, matanya menatap kosong keluar jendela.

Iyap, dia dipaksa pergi dan tengah berada di jalan raya menuju bandara. "Omong-omong kau ambil hp aku?" Hinata berbicara tanpa tenaga, seolah setengah jiwanya terperangkap di suatu tempat.

"Sudah aku letakkan di naskas," jawab Toneri.

Hinata tak banyak bereaksi tapi dia stress dan kepalanya seperti akan meledak. Hinata butuh hp untuk menghubungi orangtuanya dan Naruto dan hpnya malah tertinggal. Sekarang, bagaimana caranya meloloskan diri?

Hinata bahkan tak sempat mandi atau pun cuci muka. Dia tidak membawa koper dan uang sepeser pun. Jadi, apa solusi untuknya agar bisa kabur dan pulang diam-diam? Hinata bahkan belum tahu ke mana mereka akan pergi.

"Berhenti mencuri hpku," tegur Hinata dan Toneri meresponnya dengan kekehan.

"Tidak bisa disebut mencuri karena aku mengembalikannya."

"Aku benar-benar membencimu meski aku tidak tahu bagaimana cara menunjukkannya."

"Aku tahu, kau bukan tipe pembenci."

"Karena itu kau berani menjebakku?"

"Tidak. karena aku ingin kau jadi milikku."

Hinata frustasi, tak berpikir dia bisa menang berdebat dengan Toneri. Satu helaan nafas mengalun, Hinata bertanya, "ke mana kita pergi?"

"Singapore."

Singkat jawaban itu membuat mata Hinata terbelalak. Dia menoleh brutal, berusaha memastikan. "Singa apa? Aku tak punya passport!"

"Kau punya."

"Hah???"

Hinata tak mungkin lupa orangtua Toneri adalah manusia kaya raya. Mereka bahkan punya banyak rumah di kota ini bahkan beberapa rumah itu bisa disebut mansion. Hinata terkagum-kagum dan belum melupakan keajaiban itu di saat dia berkunjung untuk pertama kalinya. Meski begitu, mereka tak sombong, buktinya mereka memilih tinggal di rumah dua lantai yang bisa disebut biasa-biasa saja.

Namun, bagaimana ceritanya Hinata yang tak punya passport bisa tiba-tiba memilikinya tanpa Hinata sendiri tahu! Untuk apa juga mereka tiba-tiba pergi ke Singapore? Hinata punya banyak pertanyaan tapi memilih untuk menyimpannya.

Tiga jam dihabiskan di perjalanan dan pertanyaan Hinata terjawab satu per satu. Pertama, ternyata orangtua Toneri juga memiliki rumah di Singapore dan di sanalah Hinata akan mengungsi--terpaksa.

Kedua, alasan mengapa Toneri pergi ke sana adalah untuk menemui ibunya yang memiliki pekerjaan di sana.

Satu lagi, tapi tidak Hinata tahu, Toneri berusaha menjauhkan Hinata dari Naruto sekaligus menghiburnya.

"Kau ingin aku bertemu ibumu? Kenapa?" Hinata yakin Toneri tidak punya alasan tapi memangnya alasan itu diperlukan?

"Hanya ingin, hehe." Toneri duduk di ruang tamu, begitu panik Hinata saat Toneri memberitahu ibunya akan segera pulang setelah pergi untuk makan siang.

"Hehe? Hehe kau bilang? Toneri kau sudah gila! Ibumu sendiri tahu aku sudah menikah. Apa yang akan dia katakan bila dia melihat aku ada di sini denganmu?" Hinata stress, panik dan takut, tapi Toneri masih saja menanggapinya enteng-entengan.

Omong-omong, Hinata jarang bertemu ibu Toneri karena dia seringkali keluar negeri untuk urusan bisnis. Sekiranya mereka hanya berbicara dua kali dan mereka bahkan tidak dekat! "Aku benar-benar akan gila dibuatmu, Toneri!"

Hinata tak bisa duduk. Dia berjalan mondar-mandir bahkan berniat bersembunyi di balik sofa. Namun, terlambat sudah. Suara kunci pintu yang terdengar membuat Hinata berhenti bernafas untuk beberapa detik. Dia memohon di dalam hati agar siapa pun itu bukan ibu Toneri, naas harapannya pupus.

Perempuan bersurai perak sepanjang pinggang itu muncul dari balik pintu dan berhenti dikala mereka tak sengaja saling bertatapan. Dahi perempuan awet muda itu mengernyit, dia menyebut, "Hinata ... ?"

Hinata memejamkan mata dikala punggung kakunya mencair dan nyawanya seperti telah meninggalkan tubuh. Dalam hati dia menjerit, "mati aku."

TO BE CONTINUE

Hi guys

Jangan lupa tinggalkan review

Bye