Prolog Arc II
Negeri yang tak pernah Terlihat
Mata biru kusam itu terlihat memandangi api perapian yang berkobar pelan seolah menari dalam menyinari malam di tengah hutan belantara.
Ada begitu banyak hal terlintas pada pikirannya yang saat ini tengah menemaninya. Tentang hal yang membuatnya merenung dan perasaan campur aduk akan bisakah dia kembali ke tempatnya berada seharusnya sejenak kembali terbayang. Tentang sudah berapa lamanya dia ada pada dunia ini hingga sekarang dan terus menerus merasa terjebak akan realita yang bukan miliknya.
Tapi apa daya, mau terus berfikir apapun, jalan yang ditemuinya saat ini telah buntu dan hanya sang kawan yang masih tertidur di dalam tubuhnya yang bisa memecah kebuntuan yang dia hadapi.
Dia hanya berharap kawannya segera terbangun dan dia juga berharap dunia Elemental masih berada pada waktu yang sama ketika di kembali nanti untuk mengalahkan dewi kelinci; Kaguya Ootsuki untuk selamanya. Sementara itu, saat ini yang sekarang dia lakukan hanyalah tinggal menunggu karena semua persiapan untuknya kembali ke dunia Elemental sudah dia persiapkan dengan sebaik-baiknya.
Mata birunya kini beralih menuju ke seorang gadis yang tengah tertidur pada sebuah tempat sederhana yang dia buat menggunakan Jutsu Doton. Seorang gadis yang memegang janjinya untuk diantarkan pulang ke tempatnya seharusnya berada karena dia nyatanya telah lepas dari perbudakan yang menjeratnya. Gadis Elf yang harus diantarkannya pulang ke desa Elf yang berada pada hutan Rumanitia; tempat dimana Elf hutan mendirikan kerajaannya sendiri.
Perjalanan menuju kesana cukup memakan waktu dengan hanya berjalan kali atau sesekali ikut para pedagang yang memiliki arah yang hampir sama menuju ke hutan Rumanitia. Setidaknya Naruto dan Sakura; gadis Elf yang bersamanya sudah ikut dua pedagang sebelum turun di desa Sybil yang merupakan perbatasan dengan hutan Ruminitia. Dari desa itu pula Naruto kemudian harus berjalan kaki menuju ke kerajaan Elf yang notabene letaknya berada pada tengah hutan Ruminitia.
Hutan Ruminitia sendiri bukanlah hutan biasa melainkan hutan yang lebat dengan berbagai macam hewan yang berada didalamnya. Ada beberapa hewan jenis baru yang tak pernah terlihat sekalipun olehnya dan itu cukup menyegarkan untuk matanya. Beberapa terlihat jinak namun ada juga yang terlihat buas meskipun Naruto kemudian mengusir mereka dengan aura membunuh miliknya yang dia arahkan secara khusus kepada hewan-hewan buas hutan yang langsung menyingkir ketika tahu siapa predator yang sebenanya di hadapan mereka. Harusnya kerajaan Elf sendiri sudah dekat dan Naruto bisa merasakan bahwa hewan-hewan semakin jarang dia temui saat dia masuk lebih dalam ke dalam hutan ini. Tak ada peta yang bisa menunjukkan secara pasti kerajaan Elf hanya saja memang letaknya di tengah hutan dari informasi yang dia dapatkan.
Naruto kemudian menerawang kembali apa yang akan dia lakukan ketika dia sudah selesai mengantar gadis Elf; Sakura ini pulang. Apakah dia akan kembali ke kerajaan Camelot ataukah dia ingin mencoba untuk berpergian sebentar mengingat bahwa tidak ada sesuatu di dunia ini yang mengekang dirinya. Lagipula dengan segala perasaan dan pikiran campur aduknya dan lelahnya dia, Naruto hanya bisa merasa cemas setiap harinya dimana perasaan tanggung jawabnya akan dunia Elemental terasa semakin menyiksanya.
Angin malam kemudian berhembus, menggoyangkan api yang menyala didepan Naruto dan pemuda itu mengalihkan lagi perhatiannya ke atas. Bintang-bintang yang berada di atas sana seakan menjadi saksi betapa berat hal dia pikul.
Nafas pelan kemudian keluar.
Tatapan biru itu mulai mengosongkan dirinya.
Dan gumaman kecil keluar.
Untuk jiwa yang telah melalui banyak hal.
Bukankah kau butuh waktumu beristirahat dan bercerita akan keluh kesahmu?
Namun sebuah pertanyaan menggelitik dirimu.
Akan kepada siapakah engkau bisa bersandar beristirahat dan bercerita sekarang?
Hingga hanya sebuah gumaman yang engkau sampaikan kepada dirimu sendiri dan bintang-bintang yang kau pandang.
"Kurama..."
Dirimu...
"...aku lelah."
Api... Kabut hitam yang pekat... Suara teriakan yang terdengar.
Itu adalah apa yang terlihat pada iris ungu miliknya yang menyaksikan betapa hancurnya desa tempatnya tinggal. Suara tawa dari monster-monster yang terlihat kejam disertai dengan seringai ganas mereka membuat Sakura tak bisa untuk berkata apapun. Tubuhnya membeku dan hanya sebuah tarikan dari seseorang yang membuatnya tersadar bahwa dia seharusnya sudah pergi dari sana.
"Jangan diam saja! Ayo lari!" Suara dari orang; Elf remaja yang menarik dirinya untuk ikut lari membuatnya melihat siapa yang membawanya pergi.
''Kak Fii?.."
"Sudah jangan banyak bicara! Gerakkan saja kakimu!" Sakura melihat Fii terus mencengkram erat tangannya dan membawanya lari memasuki hutan. Desa Elf mereka berada paling luar dari kerajaan Elf dan siapa yang menyangka bahwa monster-monster iblis akan menyerang desa mereka.
Sakura hanya bisa berlari mengikuti Fii yang membawanya masuk menuju hutan untuk mencari tempat persembunyian. Sayang sekali ada beberapa monster iblis yang menyadari bahwa ada yang masih hidup dan kemudian bergerak mengejar.
Kedua Elf yang masih muda itu sempat menoleh ke belakang dan mendapati bahwa mereka dikejar. Perasaan takut dan gelisah membuat adrenalin mereka menjadi tenaga untuk mereka lebih cepat berlari menyelamatkan diri.
"Cepat Sakura!" Fii berteriak sembari membawa mereka menembus gelapnya malam. Fii sendiri dalam malam hanya mengandalkan penglihatan sihirnya yang mampu membuat malam sekalipun terlihat terang seperti siang hari pada pandangannya. Lari mereka mulai melambat ketika rasa lelah mulai menyerang dan Fii— Elf yang sedikit lebih tua dari Sakura memutuskan sesuatu pada akhirnya.
Mereka berdua tidak mungkin bisa selamat semua dari sini dan harus ada yang dikorbankan agar bisa selamat salah satu dengan menjadi umpan agar yang lain bisa melarikan diri. Maka dari itu, Fii kemudian memutuskan untuk mengarahkan mereka ke pinggir jurang.
Di bawah jurang itu ada sebuah sungai yang mengalir dan karena tahu Sakura setidaknya bisa berenang, Fii kemudian menarik Sakura dan merapalkan sebuah mantra sihir kepada Sakura.
Waktunya tidak banyak karena monster-monster iblis itu semakin mendekat.
Sihir ini akan membuat Sakura terus terapung ke atas dan tidak akan tenggelam ke dalam air. Sihir perlindungan dari roh air— sang Peri air— Undine.
"Kak Fii apa yang kau laku-!"
"Jangan banyak bertanya dan menurutlah Sakura!" Fii— Elf berambut pirang itu berteriak pada Sakura. Bukan bermaksud untuk memarahi melainkan dia tahu waktu tak berpihak padanya apalagi ketika Fii kemudian menoleh ke belakang dan dua binatang monster iblis sudah berada disana.
Mata merah mereka menatap nyalang. Gigi mereka saling beradu dan liur mereka menetes.
Fii dan Sakura, Elf seperti mereka adalah buruan lezat untuk dikoyak dan disantap.
Fii kemudian berbalik, dia berdiri di belakang Sakura dan mencoba melindunginya sembari mundur perlahan ke belakang semakin mendekati pinggir jurang. Monster-monster iblis ini juga sepertinya tahu kalau mangsa mereka sudah terpojok jadi mereka juga mendekat secara pelan-pelan.
Fii tahu waktunya telah tiba dan ketika dia yakin mereka berdua— dia dan Sakura telah berada sepenuhnya di pinggir jurang, Fii— Elf pirang itu berbalik dimana hal itu membuat terkejut Sakura karena secara tiba-tiba Fii mendorong Sakura untuk jatuh ke jurang.
"Eh?!"
Sakura yang melihat apa yang hanya bisa tercengang apalagi ketika dia secara perlahan melihat monster-monster iblis meloncat untuk menerkam Fii. Sakura juga melihat bagaimana Fii berbicara padanya akan sebuah hal yang akan terus menghantui dirinya selama hidup.
Tentang arti sebuah pengorbanan untuk menyelamatkan.
Wajah Elf pirang berambut panjang yang selalu tersenyum ketika bertemu dirinya.
Sakura tak kuasa menahan air matanya dan dalam keadaan jatuh tangannya mencoba terjulur untuk menggapai Elf pirang yang justru semakin jauh untuk dijangkaunya.
" Hei Sakura... teruslah hidup untukku."
Sakura menjerit sekerasnya. Dia semakin menjauh, semakin jatuh menuju ke arah sungai.
Senyuman terakhir dan ingatan yang bercampur itu tanpa sadar membuatnya berteriak lebih jauh.
"Kak Fii!!!!"
Seharusnya negara Elf itu sudah sangat dekat sekali. Naruto bisa merasakannya apalagi ketika dia merasa dirinya dan Sakura jelas diawasi dari kejauhan oleh banyak orang. Naruto tahu itu namun Naruto masih mengabaikannya karena mereka hanya masih mengawasi dan bukan menyerangnya.
Lagipula Naruto tahu dari aura mereka sama dengan aura gadis yang ada disebelahnya dimana semua yang mengawasi Naruto adalah Elf dan mereka menggunakan sesuatu untuk menutupi wujud mereka agar tidak terlihat meskipun kehadiran mereka bisa dirasakan.
Naruto dan Sakura kembali menemui jalan yang sama. Tanda yang ditinggalkan Naruto untuk menandai jalan kembali terlihat di matanya dan Naruto kini berpikir bahwa ini bukan kebetulan karena Naruto sudah dua kali menemui tanda yang sama.
Mereka berdua telah disesatkan secara paksa dan hal tersebut membuat Naruto menghela nafasnya perlahan, menenangkan dirinya.
Dia hanya ingin memulangkan Sakura tapi sepertinya negeri Elf ini seperti menolaknya. Apakah mereka yang mengawasi dirinya dan Sakura tidak tahu bahwa Sakura ini juga Elf? Apakah mereka tidak bisa merasakannya? Ataukah karena mereka berdua terlihat mencurigakan mengingat Naruto dan Sakura masing masing mengenakan penutup setengah wajah untuk melindungi diri mereka dari serangga berbahaya?
Masa bodohlah dengan itu. Naruto sudah berjanji untuk memulangkan Elf ini ke tempatnya berada dan ketika dia dihalangi maka dia hanya perlu menerobos penghalang tersebut.
Maka matanya kemudian terpejam, Naruto kemudian merasakan sekitarnya.
Sakura yang menyaksikan Naruto dia memejamkan mata setelah melihat lagi tanda dimana tanda itu dibuat sebagai penanda perjalanan harus mundur beberapa langkah ke belakang ketika Naruto— orang yang telah melepaskannya dari perbudakan, memberikan apa yang disebut kebaikan padanya kemudian mengeluarkan aura kebiruan tenang dan menyebar dengan cepat ke sekitar.
Seperti sebuah suara kaca yang pecah terdengar dekat dengan telinga, Sakura kemudian merasakan lingkungan sekitarnya berubah secara perlahan dimana hutan yang semula hanya ada pepohonan kini ada reruntuhan bangunan disekitar mereka dan Sakura kemudian melihat bagaimana Naruto bergerak ke arah depannya dan pandangannya terarah pada reruntuhan bangunan dimana ada seseorang disana, berdiri dengan wajah penuh kewaspadaan dan ketegasan.
"Manusia... tidak kusangka kau bisa menghancurkan sihir tipuan yang dipasang untuk menghalangi siapapun masuk ke negeri Elf." Seseorang itu, Elf wanita dengan mata biru dan rambut hitam panjang menatap tegas Naruto. Sebuah pedang panjang tersarung di pinggang dan sebuah panah berada di tangan kirinya mengangkat ke atas mengarah pada Naruto.
Busur panah tertarik dan sebuah anak panah berwarna kehijauan tercipta mengarah ke arah Naruto. Sebuah ancaman keluar.
"Katakan apa maksud kedatanganmu dan gadis Elf dibelakangmu itu sebelum anak panah ini dan yang lainnya mengincar nyawa kalian berdua jika kalian berniat jahat!"
Sakura yang diancam demikian kemudian melihat sekeliling dan dia melihat Elf lainnya berjumlah puluhan juga kini terlihat dan mengarahkan anak panah mereka pada Naruto dan Sakura yang kini terlihat sangat cemas sekali dan takut.
Tangannya menggenggam baju Naruto dan dia melihat pemuda manusia itu tetap berada dalam ketenangan luar biasa yang membuat Sakura terkagum.
Seseorang yang tak gentar akan situasi apapun.
Sakura kemudian melihat Naruto masih bertatapan dengan Elf Warrior cantik berambut hitam yang Sakura duga adalah pemimpin para Elf ini. Tatapan mereka berlangsung cukup lama dan sempat membuat jengah pemimpin Elf itu hingga kemudian Sakura melihat Naruto mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.
Naruto datang dalam damai dan dia hanya ingin Sakura bisa kembali ke tempat seharusnya dia berada. Naruto ingin itu dan dia ingin melakukannya dengan damai tanpa ada masalah apapun.
Jadi Naruto melihat Sakura dan memberikan tanda untuk menurunkan penutup setengah wajah mereka dan Sakura kemudian mengikuti apa yang Naruto pinta dimana Naruto juga menurunkan miliknya yang malah kemudian membuat kegaduhan.
Karena ketika Naruto menurunkan setengah penutup wajah miliknya, pemimpin Elf Warrior di depan tercengang dan nampak mengenalinya.
"Tu—tuan Naruto!"
Sementara Naruto yang melihat reaksi dari Elf Warrior di depannya hanya bisa menaikkan alis, melihat ke arah Sakura dan kemudian melihat kembali ke Elf Warrior itu yang terlihat kini begitu senang ketika melihatnya. Elf Warrior itu kemudian bergerak cepat turun dengan bantuan angin dan berlari ke arahnya seolah ingin segera memeluknya sementara Naruto sendiri hanya bisa berteriak di pikirannya.
"Hei... Siapa Elf ini?!!!"
To be Continue?
Hai kawan... bagaimana Kabar kalian? Apa kalian merindukanku? Kupikir sudah sangat lama sejak aku terakhir update ceritaku semua.
Maaf untuk update yang lama. Kehidupan dunia nyata lebih banyak menyitaku sekarang karena kini ada dua orang berharga yang harus kujaga dan kusayangi.
Semoga update kecil ini bisa menjadi awal untukku kembali menulis. Terimakasih banyak untuk dukungan kalian selama ini di Fanfiction sejak dulu kala kawan kawanku.
Salamku...
RiesA AfieLa.
