Beberapa hari telah berlalu sejak kecelakaan kecil yang melibatkan Bennett di Mondstadt. Seperti gelarnya, Pengembara, petualangan Lumine pun berlanjut.
Cerahnya langit biru menghias cakrawala di atas daerah Fontaine. Sebuah pagi yang sempurna untuk memulai petualangan baru, walaupun sebetulnya daerah Fontaine sudah tidak asing lagi. Nyanyian kicau burung Flatcrest Fulmar menyambut perahu Waverider yang ditumpangi Lumine dan kawan-kawan tiba di pantai dekat Poisson.
Selayaknya petualang, Lumine tidak menyia-nyiakan kesempatan. Sebuah lirikan dan anggukkan menjadi sebuah isyarat. Suara desingan anak panah melesat menyusul terdengar membelah udara. Kurang dari satu detik kemudian burung Flatcrest Fulmar yang sedari tadi bernyanyi mendadak diam saat sebuah anak panah tepat mengena. Tidak hanya sampai disitu saja, sebuah topi besar berisikan monster kucing hitam muncul dan jatuh di atas burung yang tertembak.
"Uh, Lyney, kenapa sampai kamu keluarkan Grin-Malkin Cat-mu?" tanya Lumine sambil meneguk ludah. Dia menyaksikan monster kucing dalam topi ciptaan Lyney itu meledak.
Si tertuduh, Lyney tersenyum-senyum kecil. "Maaf, kelepasan ... daripada burungnya kabur."
Di kanan dan kiri Lyney berdiri pula dua remaja pengendali elemen pyro. Seorang bersenjatakan pedang greatsword dan yang satu lagi pedang biasa.
Selain Lyney, pagi itu Lumine didampingi pula oleh Gaming dan Bennett.
"Setidaknya masih layak dimakan," celetuk Gaming sambil mengedikkan kedua bahu. Dia melirik ke arah Bennett yang mulai berjalan mendekati daging unggas hasil buruan Lyney. "Hati-hati, Benny, awas meledak lagi."
Bennett tidak terlalu yakin apakah ucapan Gaming yang terakhir itu adalah cemoohan atau peringatan. Berpikir positif, Bennett menganggap apa yang diucap si kawan dari Liyue itu adalah peringatan. Lagipula, bukan tipe Gaming untuk mencemooh kawan sepetualangan.
Ada sesuatu yang membuat langkah Bennett terhenti. Dari kejauhan dia melambaikan tangan ke arah Lumine, Lyney dan Gaming. Perkataan Bennett tidak terlalu jelas terdengar namun pastinya terdengar sesuatu tentang peti dan harta karun.
"Tunggu kita! Jangan dibuka!" teriak Gaming ketika dia beserta Lumine dan Lyney berlari menghampiri Bennett.
Betul saja, Bennett menemukan sebuah peti harta karun. Letaknya di dekat titik dimana burung yang ditembak Lyney.
Tentu saja Bennett bingung. Dia menggaruk-garuk kepalanya yang sebetulnya tidak terasa gatal. "Ada apa memangnya?" Dia lanjut bertanya saat kawan-kawannya sudah dekat.
"Jangan kamu yang buka," ucap Lyney
"Nanti isinya cuma wortel atau cuma kubis doang," sambung Gaming.
Sepertinya Lyney dan Gaming sudah tahu mengenai apesnya Bennett yang legendaris.
Lumine langsung turun tangan. "Hey, sudahlah. Bennett yang menemukan, biar dia yang membuka."
Lyney dan Gaming saling berpandangan sebelum tatapan keduanya bergulir ke arah Bennett. Nyaris bersamaan pula keduanya menarik napas panjang.
"Yah, terserah kamu sih, Lumine," ucap Lyney, "yakin ngga 'nyesal nanti?"
Lumine menjawab dengan gelengan kepala. Dia tetap kukuh pada keputusannya. "Biar Bennet yang buka."
Walaupun sudah memutuskan, tetap saja Lumine merasa cemas. Postur tubuhnya kaku sementara tiada senyuman di wajah gadis berambut pirang itu. Sama seperti Lyney dan Gaming, Lumine menahan napas saat Bennet mulai membuka peti harta.
Serempak kelopak mata semua orang membelalak lebar saat peti harta karun dibuka oleh Bennett. Tidak hanya kelopak mata, rahang mereka pun menganga tercengang.
"P-PRIMOGEM?!"
Lumine, Lyney, Gaming bahkan Bennett mengucek-ngucek mata. Isi dari peti harta karun itu sungguh diluar dugaan mereka. Ratusan, tidak, sepertinya bahkan ribuan Primogem memenuhi peti itu. Tidak hanya Primogem, terlihat pula kepingan-kepingan Mora diantara tumpukan Primogem.
Kedua tangan Lumine gemetaran saat menghitung Primogem dan Mora di dalam peti harta karun.
"Be-belum pernah terjadi sebelumnya. Ti-tiga ribu Primogem ... dua juta Mora," cicit Lumine saat selesai melakukan penghitungan.
Bennett sendiri? Dia tertawa cengengesan sambil menggaruk-garuk kepala. "Waaah, aku sedang beruntung ... Tapi jangan-jangan keberuntungan seumur hidupku habis semua?"
Barulah Lumine sadar dengan peristiwa beberapa hari lalu. Perlahan sebuah senyuman mengulas di wajah si Pengembara sebelum dia berdiri. "Kalau begitu, ini obatnya."
Gaming tercengang melongo sementara Lyney pucat pasi ketika keduanya menyaksikan Lumine mendaratkan sebuah kecupan ringan pada bibir Bennett.
Lumine langsung menggandeng tangan Bennett dan menarik remaja berambut putih itu menjauh dari kedua kawan mereka. "Sepertinya ide Venti manjur juga. Semoga kamu beruntung terus, Benny."
Tidak seperti pengalaman pertama, kini Bennett tersenyum lepas sambil menanggapi gandengan Lumine. "Terima kasih 'Mine."
Lyney dan Gaming?
"Wah, mereka jadian juga ya akhirnya?" Gantian, kini Gaminglah yang garuk-garuk kepala.
"Cu-curang!" ketus Lyney cemberut. Kini dia berjongkok sambil mengorek-ngorek tanah dengan jari. Jangan lupakan wajah murung nan suram.
"Iyeep, Rizz Lord dikalahkan telak." Gaming tertawa terbahak-bahak sambil berlalu mengikuti Lumine dan Bennett.
.
.
.
Tamat, for real.
