Disclaimer: All characters and cover are not mine but this fic is mine :')
Cerita ini murni hasil imajinasi belaka, terinspirasi dari vibe lagu 2PM - Heartbeat.
"Kyaaaa!"
"Tolong-"
Teriakan memilukan seluruh tamu undangan menjejal ruang resepsi pernikahan mempelai pria bermarga Kagamine. Entah apa yang mereka harapkan dengan menghadiri resepsi pernikahan tersebut selain menemui ajalnya masing-masing. Keluarga segila apa yang mengizinkan anggotanya melangsungkan pernikahan di saat dunia tengah dilanda wabah mayat hidup? Ya, keluarga kedua belah pihak mempelai beserta para tamu undangan sudah menyerah dalam melanjutkan hidup mereka.
Sekejap mata, tersisa satu manusia yang terkepung sekawanan zombi. Jujur saja, ia tidak setuju dengan pola pikir keluarganya, ia ingin melanjutkan hidup demi menepati janji bertemu kawan lama. Tapi, bila Tuhan berkehendak menjemputnya detik ini juga, maka ia menerima takdir sepenuhnya.
"Kaa-san, Tou-san, Nii-san... sambut aku di alam baka-"
Crash.
Cipratan merah pekat mengenai gaun putih yang dikenakan manusia tersebut. Bukan darahnya, melainkan darah zombi yang nyaris menerkamnya. Di pantulan netra sang manusia, sesosok zombi laki-laki dewasa sedang menyerang, menggerogoti, dan mencabik-cabik badan sesama zombi.
Selesai mencabut nyawa semua kawanan makhluk sejenisnya, zombi berlumuran darah itu menatap kosong satu-satunya manusia yang berada di dalam ruangan.
"Te-terima kasih telah menyelamatkanku."
"Aaakh... aakh..." Desisan tak jelas dilontarkannya, seolah-olah menimpali ucapan terima kasih manusia berjenis kelamin perempuan itu.
"Se-selamat tinggal."
Gadis beriris aquamarine memaksakan kaki yang masih bergetar, membawa raga menuju antah-berantah, menjauhi jangkauan tangan mayat-mayat hidup. Kekacauan kota dan tumpukan mayat membanjiri pandangan, bau anyir menusuk penciuman. Ia mengendap-endap melewati ratusan zombi di jalanan, mengabaikan segala hal termasuk jeritan permintaan tolong manusia lain.
"Berhentilah mengikutiku!" Si gadis berbisik dengan volume suara sangat kecil.
Zombi yang dimaksud tak mengindahkan larangannya, ia tetap mengikuti manusia itu sampai ke taman kota. Tiba-tiba tangan zombi keluar dari bawah tanah, mencengkeram kaki sang gadis. Beruntung, ia segera ditolong oleh zombi yang membuntutinya.
"Kau- kau berniat melindungiku rupanya."
Ungkapan tak percaya mengundang minat zombi di sekeliling mereka. Manusia bersurai honey itu menarik tangan zombi yang telah menolongnya dua kali, bersama-sama melarikan diri dari kejaran kerumunan zombi. Mereka terus berlari hingga menemukan sebuah toko kelontong yang terbilang aman menurutnya. Sang gadis langsung mengganjal pintu menggunakan benda berat apa pun yang mampu diangkatnya seorang diri. Merasa ganjalan tersebut sudah cukup kuat buat menahan desakan zombi di luar sana, ia terduduk lemas sembari mencermati sosok teman barunya.
Kulit wajah terkelupas, pakaian compang-camping, darah melekat di sekujur tubuh, penampilan mayat hidup pada umumnya. Di balik sobekan kaus zombi itu, tersibak kalung liontin berbentuk kucing di lehernya, liontin yang tak asing dalam memori gadis tersebut.
"Um, siapa namamu?" Ia menepuk keningnya sendiri, tersadarkan akan sesuatu. "Ah. Bodohnya aku. Zombi mana bisa berbicara normal."
"Kuberi kau nama Len. Panggil aku Rin hahahaha... bicara apa aku ini..." Terbawa perasaan, ia mengucurkan air mata, berharap namanya dipanggil meskipun zombi di hadapannya mustahil memanggil namanya... lagi.
Terhitung lima hari telah berlalu sejak Rin bersembunyi di dalam toko kelontong. Sisa-sisa persediaan makanan layak konsumsi kian menipis, Rin sadar, ia tidak bisa mendiami toko itu selamanya. Di tengah situasi yang menekan sekaligus mencekam, Rin sungguh mensyukuri keadaannya karena ia tidak sendirian menghadapi kekejaman dunia, Len ada di sisinya. Ia menganggap Len sebagai sahabat walaupun Len hanya mendesiskan setiap keluh kesahnya. Bahkan, Rin menurunkan kewaspadaan hingga ke titik terendah saking percayanya ia pada teman zombinya, ia percaya bahwa Len tak akan pernah memangsanya.
Malam ini pun, Rin memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan Len menjaganya dari serangan zombi yang bisa saja menerobos masuk ke tempat persembunyian mereka sewaktu-waktu ia terlelap.
"Growl..."
Rin lantas terjaga ketika kupingnya menangkap bunyi menggeram khas mayat hidup di dekatnya. Ia mengedipkan mata, melihat Len yang berpijak di samping meja kasir.
"Len...? Ada apa?" Didekatinya Len yang melenyapkan diri ke dalam kegelapan. "Len! Kau mau ke mana?"
Tak dapat dihindarinya, Len melompat ke arahnya, menindih tubuh munggilnya.
"Aaaaa!!!" Rin berteriak, terkejut mendapati perilaku agresif temannya. Raut muka Len tampak ganas, mirip seperti makhluk tak waras di luar sana. Kendati demikian, Len masih mengenali manusia di bawahnya, ia tak serta-merta menggigit Rin yang sedang tertindih tak berdaya.
"Len, ini aku Rin..."
"Aaaakh growl."
Kalung Len terjuntai ke bawah, di belakang liontin kucingnya terukir dua huruf inisial nama. Butiran air asin membasuh pipi Rin, kini ia meyakini identitas zombi di atas tubuhnya.
"Len! Apa kau tidak mengenaliku, sahabat karibmu, Rin?" Sang gadis menelusuri wajah zombi berambut senada dengannya. Gumpalan lemak busuk yang tersentuh telapak tangan tidak menggoyahkan tekad untuk mencurahkan kerinduan terhadap kawan lama.
"Aaaaakkkh... aakaakh..."
Tiada rasa takut terinfeksi virus zombi, kedua tangan Rin terulur melingkupi tubuh Len seutuhnya. "Tidak apa-apa, Len. Kau tidak menyakitiku."
Hembusan napas Len, giginya yang berjarak sekian milimeter dari tengkuk Rin, tak memercikkan kecemasan di dada, malah menimbulkan kelegaan tersendiri.
"Len, aku mencintaimu."
Janji sepasang soulmate ditepati secara sepihak oleh sosok yang lebih tua di tahun ketujuh semenjak hari perpisahan mereka.
["Rin, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kunyatakan padamu. Kamu bersedia menungguku, kan?"
"Pasti kutunggu, Len. Aku juga ingin menyampaikan sesuatu padamu."
"Kalau begitu, janji ya, kelak kita akan mengatakannya berbarengan." ]
Butuh persiapan mental serta keperluan yang memadai sebelum Rin memberanikan diri meninggalkan tempat persembunyiannya, sebelum ia berani melibatkan diri dengan kisah zombie apocalypse ini. Namun, itu bukan lagi masalahnya. Asalkan bersama Len, Rin yakin, ia sanggup melalui berbagai macam rintangan di masa mendatang.
Selama keduanya menyusuri jalanan di sekitar toko kelontong, tiada satu pun zombi yang menghalangi perjalanan mereka. Zombi-zombi di daerah itu seakan telah dibantai habis oleh sekelompok survivor yang menguasai daerah tersebut.
Dor.
Peluru yang ditujukan ke tengkorak Len meleset, menerjang mobil di depannya. Rin sontak menoleh ke arah dua orang survivor yang berdiri beberapa jengkal di belakang mereka.
"Apa yang hendak kau lakukan?" Rin memasang badan, membelakangi sahabatnya. "Jangan menembakinya, Len adalah temanku!"
"Sadarlah. Makhluk itu bukan manusia, temanmu itu mayat hidup." Seorang pria berpostur jangkung berancang-ancang menembakkan peluru pistol revolver-nya.
"Aku sadar, aku sangat menyadarinya. Kalian pasti menyadarinya, Len berbeda dengan zombi lainnya. Dia tidak berbahaya bagi manusia."
"Tidak berbahaya? Apa kau dapat menjaminnya? Apa kau yakin zombi yang kau lindungi ini tidak akan pernah menyerangmu suatu hari nanti?"
Rin hanya bisa menggigit ujung bibirnya, ia tak dapat menjawab pertanyaan survivor itu.
"Kelihatannya kau tidak yakin. Biar kutebak, dia pernah kehilangan kendalinya dan hampir memangsamu, benar?"
"Bagaimana kami mengetahui hal itu, hm?" Rekan survivor itu membaca ekspresi muka Rin. "Salah satu teman kami bernasib sama sepertinya, mereka merupakan anomali."
"Ke mana perginya teman kalian itu?"
"Dia beristirahat di tempat indah yang jauh dari sini, temanmu akan menyusulnya ke sana sekarang." Survivor berpostur jangkung melepaskan pelatuk pistolnya.
Dor.
"Hei-"
Pelurunya lagi-lagi meleset, kali ini menyerempet lengan Rin yang ia angkat mendadak guna menutupi target tembakan. "Ukh... ja-jangan sakiti Len!"
"Aku bakal bertanggung jawab penuh apabila Len melukai manusia!" tandas Rin.
Kesungguhan hati Rin tersampaikan kepada dua orang survivor itu. Mereka memahami posisi gadis tersebut, bagaimanapun juga mereka sempat mengalami posisi serupa.
"Oke. Kuhargai keberanianmu. Namaku Kaito." Survivor berpostur jangkung menyodorkan tangannya.
"Gakupo." Survivor satunya turut menyodorkan tangannya, "Bergabunglah dengan kelompok kami agar kami dapat mengawasi pergerakan temanmu itu."
Belum genap satu bulan Rin bergabung ke dalam kelompok survivor Kaito dan Gakupo, kabar mengenai bom yang akan dijatuhkan ke kota mereka datang dari mantan anggota sebelumnya.
Mulanya, kelompok mereka terdiri atas puluhan orang. Lantaran perbedaan pendapat terkait zombi anomali seorang anggota, kelompok mereka tercerai berai, menyisakan Kaito, Gakupo, beserta istri ketua kelompok. Tak lama setelah perpecahan tersebut, sang istri menyerang anggota kelompok survivor lain sehingga Kaito terpaksa mengakhiri penderitaan istri tercintanya.
Diskusi ketiga anggota kelompok berjalan alot. Ketua dan wakilnya sepakat untuk tidak mengikutsertakan Len dalam perjalanan mereka mengarungi samudera. Pasalnya, Len memerlukan asupan daging mentah supaya ia bisa mengendalikan hasrat memakan daging manusia hidup. Biasanya, ia mengonsumsi daging mayat manusia terinfeksi yang gagal bermutasi menjadi zombi. Sesekali, mereka memberikan daging ikan mentah kepada Len bila tak memungkinkan bagi mereka buat mencari mayat manusia.
"Paling tidak izinkan Len berlayar bersama kalian. Sesampainya di pulau terpencil mana pun, aku janji... aku bakal menembak Len dengan tanganku sendiri." Rin bertekuk lutut di hadapan ketua dan wakil kelompoknya. "Kumohon... aku ingin menguburkan Len dengan layak di tempat yang layak pula..."
Kedua orang di hadapannya saling bertukar pandang. Mereka menganggukkan kepala, menuruti kemauan Rin.
Keesokan harinya, kelompok mereka mendatangi pelabuhan terdekat, tempat Kaito memarkirkan speed boat curiannya.
"Lho, Len...?" Rin terlambat menyadari temannya yang berhenti melangkah di garis perbatasan antara dermaga dan daratan. "Gakupo-san! Kenapa kau menyalakan mesin kapalnya?! Len belum naik ke atas kapal!"
Untuk pertama kalinya Len menunjukkan senyumannya pada Rin, senyuman yang sudah teramat lama tidak dilihat oleh Rin, senyuman yang selalu dinantikannya, senyuman lembut milik... pemuda yang dicintainya.
Tugas terakhir berhasil ia rampungkan. Len membalikkan badannya, kembali memasuki kabut lebat perkotaan, siap menjumpai takdir yang tertunda.
"Len. Lepaskan aku, Kaito-san!! LEEENNN!" Rin memberontak sekuat tenaga. Ia ingin menyelamatkan orang yang sangat berarti dalam hidupnya, tetapi dirinya tak dapat mengalahkan kekuatan otot si ketua.
Boom!
Ledakan dahsyat meluluhlantakkan kota yang tadinya ramai ditinggali umat manusia.
Lutut Rin menabrak dek kapal, tak kuasa menyaksikan tujuan hidupnya yang kini berakhir. "...tidak...! LEEEENNNN!!!"
Asap menyelimuti langit kelabu, puing-puing bangunan mengotori air laut. Rangkaian kata pilu tenggelam bersamaan dengan isakan tangis di dasar lautan kepedihan.
["Len... i love you... too much that my heart's still beating for you."
"I'm coming Len, i'm coming..."
"RIN!! Len ingin kau terus hidup!"
"Ah. The son of a b*tch, take care of this f*cking world."]
Secuil Omake
"Jajaakkkh... gakkkh... ssssshh... Rrrrriiinnnn."
"...kau ingin aku menjaga Rin?"
Zombi itu perlahan menganggutkan kepala.
"Kau kan bisa menjaganya sendiri."
Gelengan sangat pelan diberikannya.
"Aaakh... uukkkkkh... ttiiiikkkkk... aaak... nggggghh... aall."
"Duh... aku tak paham apa yang kau katakan barusan."
"Jaaaaakkk... gakkkh... Rrrrriiiinnnn..."
"Okeoke, aku paham. Aku akan menjaga Rin."
.
.
.
Kaito teringat akan percakapannya dengan Len di malam hari selepas diskusi alot mereka, menambahkan beban yang harus dipikulnya.
"Kenapa? Kau menyesali keputusanmu?"
"Aku tidak tahu... kupikir yang kulakukan ini sudah tepat tapi ternyata tidak demikian." Kaito berujar lirih.
"Zombi itu... dia yang menentukan takdirnya sendiri. He just wanna make sure, his important goal was accomplished before he left his dearest one forever." Ia menjeda kalimatnya. "And then, Rin keeps trying to end her own life... i'm afraid i'll fail to fulfill his last wish. I feel guilty."
"No one's at fault here. Len's fine and happy, always remain in Rin's heart."
"Yeah, like my Miku in our hearts."
How Important You Are to Him - FIN
Author's Note
Ciaossu! Terima kasih kawan-kawan yang udah mampir bahkan membaca cerita ini hingga akhir author's note.
Bagi yang fujoshi dan sering menyelam fanfic di ao3 apalagi penumpang kapal Minsung, mungkin mengenali kisah ini XD. Yaps! Cerita ini kutulis ulang dengan karakter vocaloid. Dan ternyata menghasilkan vibe berbeda, makanya kupost di fandom ini hahaha.
Semoga feelnya dapat tersampaikan deh meskipun sedikit tehehe. Stay safe dan jangan lupa bahagia! Adios!
