Hanyalah jejak samar yang berada pada ambang sirna tersisa. Kendati dihantui oleh bayang-bayang, meneriaki tuk segera enyah dan berhenti. Aku tak lagi peduli. Kompas yang kupunya hanyalah utas rapuh, terikat pada titik akhir yang belum jua kusua. Selama napas masih kuhela, perjalanan ini takkan kubiarkan kembali pada titik semula.
Cipta dan Sirna
By: Koyuki17
Boboiboy © Monsta Studio
Chapter 21: Jejak
Posko mereka terlalu sempit untuk membicarakan sesuatu tanpa menarik perhatian satu dengan yang lain. Gema yang tak teredam oleh dinding gua jelaslah tak membantu sama sekali. Di saat seperti inilah Boboiboy sangat mengharapkan deru badai salju menjadi kamuflase.
Boboiboy menghembuskan napas dengan teratur, mencoba meredam irama jantungnya yang masih berdegup kencang. Begitu Ying memanggil, pemuda itu langsung terperanjat, diambilnya ranting-ranting dan bertukar menjadi Blaze. Tak lama pendar cahaya api memecah suhu beku. Kedua manik kuning-jingga itu terpaku pada bunga-bunga api yang muncul bersama derak ranting.
Pemuda bertopi itu tak tahu harus berbuat, jika musuh mereka justru kawan seperjuangannya. Apakah ia harus mengalahkan penjaga berwujud anak kecil itu? Apakah dengan begitu, pengaruhnya akan benar-benar hilang?
"Hei, Blaze!" Gopal menampar punggung sobatnya tanpa ampun. Sontak membuat lidah-lidah api tak terkontrol nyaris mengenai tangan Gopal.
"Dey, hati-hati dong!" Gopal meringis sembari mengibas-ngibas tangannya.
"Sori-sori," melepaskan kekuatan apinya, Boboiboy pun memaksakan lekuk senyum di bibirnya. "Jadi, kita sekarang sarapan apa?"
Boboiboy melirik Yaya dan Ying, mereka berdua tengah membereskan tempat tidur dan barang-barang yang berserakan. Untungnya teriakan histeris Gopal tak mengusik mereka. Boboiboy berdiri, mendekati Fang yang sedari tadi sibuk mengotak-atik bawaan dalam tas.
"Fang, bantuin juga bikin sarapannya, dong!" Boboiboy sengaja membelakangi ketiga kawannya itu. Menyembunyikan dua kata yang keluar tanpa suara, yang hanya boleh Fang ketahui.
Arlojiku diincar.
.
.
.
Semua pertentangan di antara mereka karena musuh yang mempengaruhi akal sehat seolah belum cukup. Begitu mereka kembali menuju Pilar pertama Matra, mereka langsung lupa bagaimana caranya berkedip.
"Mustahil! Kita semua kemarin setidaknya sudah menghancurkan sepertiga diameternya kan?" seru Ying panik.
"Ya, pegal-pegal badanku juga belum hilang!" Gopal menggerutu. Ia yang serangan kekuatannya tak mempan. Pentungan buatan Gempa menjadi satu-satunya senjatanya untuk menyerang. Pemuda itu lebih banyak mengeluarkan tenaga secara fisik dibandingkan mengandalkan kekuatan arloji.
"Dari pada terus merengek, lebih baik mulai serang lagi pilarnya!" Fang memungkas segala lenguh dari keempat temanya. "Kita sekarang harus memastikan sampai pilar ini benar-benar runtuh."
"Kita tampaknya harus lebih serius, ya." Boboiboy meregangangkan otot-otot sebagai persuapan. Ia menyentuh arloji dan mulai berpecah menjadi ketiga elementalnya: Blaze, Halilintar dan Gempa.
"Ayo semua!" teriakan lantang Gempa mengawali gempuran mereka hari ini.
Selanjutnya hanyalah kepalan tangan, tendangan, dan semua serangan dari kekuatan masing-masing yang berbicara.
-CdS-
Tak banyak perbedaan dari kukuhnya pilar, butuh setengah hari sampai mereka membuat sepertiga bangunan itu retak. Mereka nyaris tak berhenti menyerang, hanya beristirahat untuk makan siang yang disiapkan ala kadarnya. Setiap napas mereka kini menjadi kabut yang semakin pekat. Langit di atas sana
"Semuanya! Stop dulu!"
Suara lantang dari Boboiboy membuat baik Fang dan Ying berhenti. Mereka menjadi dua orang terakhir yang masih gigih menyerbu pilar. Fang menggerutu selagi berjalan dengan enggan untuk berkumpul dengan keempat rekannya.
"Sepertinya, kita sudah mencapai batas untuk hari ini." Boboiboy telah menyadari pergerakan mereka semakin lambat, dan bibir mereka nyaris membiru.
"Kau benar. Aku juga hampir nggak merasakan dingin lagi." Yaya menatap telapak tangannya, menyadari gerakan lamban dari jemarinya saat ini.
Berjam-jam berada di udara terbuka dan melancarkan serangan nyaris non-stop, lalu apa hasilnya? Boboiboy bahkan tak sanggup untuk melihat beberapa retakan tambahan pada Pilar yang masih saja keras kepala. Target mereka masih menjulang dengan segala keangkuhannya. Awan kelam sebentar lagi menyergap.
Siang semakin pendek dan badai selalu membayang-bayangi mereka hingga tepat sejengkal di belakang. Menampar punggung mereka dengan embus angin sebagai tanda presensi.
"Jadi... bagaimana?" Ying melempar sebuah pertanyaan bersama dengan guliran bola mata enggan. Ia berselonjor di sebuah batu besar yang sedari tadi menjadi tempat mereka beristirahat sejenak.
"Kita kembali ke posko. Lanjut besok saja." Boboiboy mengeratkan kepalan tangan, rahangnya mengeras. Tak lama Boboiboy berujar dengan murung. Memangnya apa yang masih salah?
"Tapi, perasaanku saja atau Pilar ini malah semakin keras?" Ying berceloteh dengan tak sabar. Kedua kakinya sampai lemas dan tak sanggup menopang tubuhnya berdiri. Imbas dari seharian menerjang pilar itu.
"Mungkin ada mekanisme khusus?" Yaya masih menyapu permukaan pilar dengan tangannya. Namun ia tak menemukan petunjuk apapun di sana. "Sayang sekali Ochobot tak bisa dihubungi."
Mereka sama sekali tak bisa terhubung dengan Ochobot seperti kemarin. Padahal di saat seperti inilah, petunjuk dari robot kuning amat sangat diperlukan. Walau seharusnya mereka pantang berkeluh kesah, dua hari berakhir dengan hasil mendekati nihil memaksa mereka menelan pil pahit.
Kesempatan untuk istirahat dengan layak sudah raib sejak malam pertama. Musuh begitu licin hingga tak satupun serangan sampai dan justru keinginan mereka terbelah menjadi dua. Badai semakin memburuk, dan garis batas mereka telah berada di depan mata.
"Kalau seperti ini, sulit untuk melanjutkan." Tiba-tiba Yaya memberikan penekanan pada maksud "Jadi, bagaimana kalau kita mundur dulu dan merancang ulang strategi?"
Sekali lagi pembicaraan mereka kembali pada sudut persegi yang sama seperti semalam. Boboiboy seketika melotot seraya melirik Fang, berharap tidak menyaksikan amukan berikut teriakan penuh amarah itu lagi. Namun, Fang hanya menyahut sekadarnya sambil berdiri, "Kita bicarakan lagi setelah makan malam."
Fang meninggalkan kedua orang remaja putri yang terbelalak mendengar jawaban barusan. Mereka lantas mengelus dada masing-masing sembari menyeka air mata yang meleleh. Boboiboy tertegun sejenak, perlu sepuluh detik pikirannya memproses sebelum berlari terbirit-birit mengejar Fang.
Apakah argumen Yaya kini tak bisa dipatahkan? Fang benar-benar jauh melunak dibandingkan kemarin malam. Yang manapun bukan pertanda bagus menurut Boboiboy.
"Fang! Kita benar-benar pulang, nih?" tanya Boboiboy memastikan.
Berada persis di samping Fang, Boboiboy baru menyadari bagaimana rahang Fang mengeras. Kabut putih mengepul semakin banyak setiap kali Fang mengambil napas pendek-pendek. Ketika ia membuka mulut, suara yang berat itu menandakan bahwa Fang jelas membantah. "Kita akan menyerang habis-habisan malam ini."
"Ya, aku pun berpikir semakin cepat semakin baik." Boboiboy mempunyai kekuatan Blaze dan Gempa. Malam badai sebenarnya bisa diatasi dengan keduanya, tetapi Yaya dan Ying memprotes. Mereka tetap butuh istirahat.
"Kita berdua saja yang akan melanjutkan misi."
"Bagaimana caranya?" Boboiboy menerutkan kening. Kedua kawan mereka tentu sangat teliti dan tak akan semudah itu menyelinap.
"Kau bisa berjanji satu hal, Boboiboy?" pertanyaan tiba-tiba itu membuat Boboiboy terkejut. "Apapun yang kulakukan nanti, jangan mengacau."
-CdS-
Tak ada pergerakan yang tak biasa dari Fang, tetapi Boboiboy nyaris tak bisa menyembunyikan kegelisahannya. Ia bahkan mulai mengira-ngira apakah yang dicatat oleh Fang sekarang adalah sebuah siasat atau kamuflase belaka. Boboiboy lantas menepis pemikiran barusan dan lanjut menyeka mangkuk dan sendok. Senandung agak sumbang Gopal yang masih mengaduk sup di sampingnya sukses membuat Boboiboy sejenak lupa hal lain.
Apakah Fang akan berbuat sesuatu waktu makan malam?
Namun mereka menyantap sup dan roti dengan biasanya. Boboiboy mulai waswas dan melirik Yaya maupun Ying. Keduanya jelas akan menagih ucapan Fang tadi. Masih melamun, tahu-tahu Gopal menyodorkan segelas cokelat panas dengan sengaja ke telapak tangan Boboiboy. Sensasi panas dari cangkir berbahan logam itu sukses membuat Boboiboy mengaduh. Yang mengerjai hanya tertawa-tawa.
Gopal mengambil dua cangkir sisa untuk Yaya dan Ying. "Ini persediaan terakhir, nih!" ringis Gopal.
"Terima kasih Gopal!" Ying tersenyum riang sembari menghirup aroma cokelat yang merebak dari minuman dalam genggaman tangannya kini.
Kelima orang itu menyeruput cokelat panas sebelum dingin mengambil alih. Rutinitas yang mereka senangi di tengah udara yang beku, walaupun sebagai gantinya mereka harus kehabisan stok saat ini.
"Kita bawa lagi bungkusan cokelat dari kakekmu lebih banyak saat pulang nanti." Perkataan Yaya sudah bukan lagi isyarat terselubung. Seolah mereka akan pulang dalam waktu dekat.
"Ah, kalau Tok Aba nanti tak keberatan..." Boboiboy tertawa canggung. Entah apakah ketika mereka benar-benar pulang, apa Tok Aba akan mengingatnya lagi.
"Jadi, bagaimana rencana kita selanjutnya?" pertanyaan Yaya langsung mengarah pada
Sekonyong-konyong ucapan Yaya berhenti. Alis Boboiboy nyaris bertautan, tak menangkap apa yang menyebabkan Yaya bungkam seketika. Kala tubuh gadis itu tiba-tiba saja terhuyung dan jatuh ke samping, seketika pupil mata Boboiboy menyempit.
'Yaya! Ada a-" Ying baru berniat mengguncang badan sahabatnya itu, tiba-tiba saja kepalanya terasa berat.
Dalam hitungan detik, Ying ikut ambruk di samping Yaya. Hanyalah Boboiboy dan Gopal yang benar-benar terguncang bukan main.
"Eh! Ada apa ini?!" Gopal, sebagai orang yang meracik dan menyodorkan minuman itu seketika berteriak panik sekaligus kebingungan.
"Fang! Jangan bilang kau...!" Boboiboy nyaris tersedak dan tak kuasa melanjutkan ucapannya barusan.
"Kau yang buat ini, Fang?" Gopal semakin panik. "Kau taruh racun, ya?!"
"Mana mungkin lah! Mereka hanya tertidur." Fang membenarkan posisi Ying dan memindahkan gadis itu ke sleeping bag. "Aku menambahkan obat dengan dosis yang aman, kok."
Boboiboy sementara itu membopong Yaya dan melakukan hal yang sama seperti Fang. Setelah dilihat lagi, kedua teman mereka tak mengeluarkan buih ataupun apapun seperti orang yang habis keracunan. Yaya dan Ying hanya dibuat tidur, Boboiboy masih gemetar hebat, ia masih belum pulih dari pikirannya yang mengembara ke mana-mana barusan.
"Kenapa kau berbuat seperti itu, Fang?!" Sebagai pihak yang paling tak tahu apa-apa, jelas Gopal meminta penjelasan.
"Tak ada waktu. Gopal. Kau jaga Yaya dan Ying di sini." Tanpa basa basi, Fang bersiap-siap dan mengambil jaket dan sepatu bot.
"Hah, nggak bisa begitu dong! Gimana kalau... musuh datang?! Lagian di luar masih badai, kan!" Gopal dengan terbata-bata mengeluarkan berbagai dalih. "Kalian mau mati membeku di luar sana?!"
"Gopal, tidak ada waktu lagi. Cukup aku dan Fang saja yang meneruskan." Kali ini Boboiboy yang menimpali. "Kalau besok dan seterusnya pilar itu kembali mulus lagi, semua akan sama saja."
"Tanpa Yaya dan Ying? Kalian yakin?" Gopal masih menawar-nawar.
"Kau lihat sendiri bukan? mereka sudah terpengaruh oleh penjaga. Mereka memaksa untuk pulang!" Fang nyaris saja membentak. Sudah berulang kali ia harus menjelaskan hal-hal semacam ini. "Kalau kita tunggu sampai besok, pilar itu akan pulih kembali."
"Ya terus kenapa kita tidak pulang dulu saja, dey!" Gopal bersikeras.
"Kesempatannya hanya satu kali. Kalau nanti di pilar berikutnya, kita tersudut dan tak bisa kembali, bagaimana? Habislah kita!" gertakan Fang tak lagi terbantahkan. Gopal memberengut, ia jelas tak suka ke arah mana pembicaraan mereka sekarang.
Boboiboy beranjak hingga berada tepat di depan Gopal. Kedua tangan Boboiboy menepuk kedua pundak sahabatnya itu. Sepasang manik hazel tertuju pada Gopal, mengisyaratkan satu permohonan. Sebagai seseorang yang bisa diandalkan untuk sekarang.
"Jaga Yaya dan Ying, Gopal!" ucap Boboiboy dengan lugas. "Hanya sampai malam ini! Aku janji!"
Merka harus keluar dari dimensi pilar beku ini secepat mungkin. Sebelum mereka semua semakin terpojok oleh cuaca, waktu, dan ambang batas dari tubuh mereka di dimensi beku.
-CdS-
Tak ada orang dengan akal sehat akan menembus badai salju dengan terpaan angin yang bisa membekukan segala sesuatu dalam sekejap. Boboiboy dan Fang memakai jaket berlapis, sarung tangan, hingga masker untuk menghindari udara ekstem di luar sana. Badai di sekitar mereka sayangnya meredam segala suara lemah dari jaringan komunikasi mereka dengan Ochobot.
"Pastikan kau nggak ketiduran!" Fang berlari mendahului Boboiboy dan sampai di depan pilar.
"Sama juga untukmu, Fang!" Boboiboy mendumel. Siapa juga yang berniat lengah saat waktu benar-benar dipertaruhkan?
Fang mengeluarkan tiga beruang bayangnya, serangan habis-habisan dari detik pertama menyentuh pilar. Ia juga mengeluarkan tangan bayangnya dan ikut menyerang pilar. Tak mau kalah, Boboiboy mengacungkan tangan berikut arloji yang mulai bersinar.
"Boboiboy kuasa tiga!"
"Yooooo! Mari mengamuk lagi!" Blaze begitu kegirangan.
"Ini harus menjadi serangan kita yang terakhir di sini, bukan?" Halilintar memanggil kedua bilah pedang ke genggaman erat tangan.
"Kita harus akhiri semua ini sekarang juga!" Gempa membenturkan kedua kepalan tangan ke tanah, getaran hebat menggoyahkan tumpuan kaki seiring perisai Gempa mengoyak permukaan tanah.
Gempa mengguncang permukan dan menyerang pilar dengan hujaman tanah, Blaze menembakkan bola-bola api dari kejauhan. Halilintar dengan gerakan kilatnya menebas Pilar itu berulang kali dalam satu menit. Langsung menggempur dengan kekuatan penuh, selagi mencoba menghiraukan beku. Harus terus bergerak. Sekarang berjuang hingga usai, ataukah menjelang esok di mana napas semakin tercekik.
Mereka tak punya banyak pilihan.
.
.
.
Di sisi lain, Gopal benar-benar tak pernah merasa terdesak hingga ia tak bisa tertidur dan kantuk yang biasanya lenyap tak bersisa. Ia menumpuk semua barang di mulut gua sebagai tameng pertahanan. Di belakangnya, Yaya dan Ying masih tertidur. Satu-satunya yang bisa bertarung saat ini hanyalah ia seorang.
Suara langkah kaki yang sedikit terperosok di atas salju membuat Gopal terperanjat hingga nyaris melompat.
"Hiii! Siapa di sana?!" Gopal memekik dengan ngeri. Ia mengacungkan pistol jarinya, senjata satu-satunya yang ia punya.
Tentu saja tak ada sahutan dari luar sana. Hening yang malah membuat Gopal semakin bergidik. Kakinya gemetar hebat, tetapi masih bisa dipaksakan untuk tetap menggeser sendi pergelangannya.
Seorang anak kecil berdiri di depan mulut gua, tangan kurus menarik jatuh tudung yang menutupi wajahnya.
"Kamu ... kamu..." mulut Gopal komat-kamit, pandangan matanya menyapu pipi tirus, mata sipit, dan wajah bulat. "Siapa?"
Tiba-tiba saja anak itu berlari dan menyeruduk Gopal. Tinggi sang anak hanya sampai pinggang Gopal, tetapi cengkraman tangan kecil membuatnya mengernyit. Anak itu terisak, mendongakkan kepala dan menatap Gopal. Terpampang di sana wajah mengiba laiknya anak kecil asli. "Kak, antar aku pulang..."
"Jangan dekat-dekat, anak aneh!" Gopal refleks mendorong anak itu sekuat tenaga hingga terjungkal.
"Kakak... nggak kepingin pulang?" anak itu nampak kebingungan.
"Hah?! Tentu saja aku kepengen balik lagi, lah!" seru Gopal. Sejak awal mereka menginjakkan kaki ke sini, tentunya ia merindukan rumahnya. "Hei, jangan dekat-dekat sama kita bertiga!"
Gopal mengibaskan tangan, mencoba mengusir anak itu seolah ia adalah kucing liar. Beberapa langkah lagi sebelum ia mencapai Yaya.
Anak itu mendadak tertunduk lesu. "Padahal kakak-kakak ini baik padaku. Tapi kakak jahat!"
"Hah... apa kamu bilang barusan?" Gopal semakin was-was. Jangan-jangan Yaya dan Ying jadi kacau karena ulah anak ini.
"Harusnya kakak menuruti kata-kataku. Tapi terpengaruh saja tidak."
Gopal menelan ludah. "Te...tentu saja aku ingin pulang! Siapa juga yang mau di sini!"
Sungguh, Gopal berharap ia terhipnotis anak sialan ini dibandingkan harus melawannya.
Anak itu tiba-tiba saja mengulurkan tangan. Sebuah tombak besar muncul dari kenihilan, bunga-bunga es berhamburan dan membuat api unggun padam. Suhu di dalam gua itu menukik turun. Gopal setengah mati menahan jeritan melengking oleh bekapan tangan sendiri.
Anak itu mulai tertawa cekikikan, bulu kuduk Gopal berdiri. "Lebih baik tidur saja, kak! Aku yang akan membuat kalian pulang sekarang."
Tombak diayunkan, secepat kilat juga Gopal menarik Yaya yang menjadi sasaran pertama. Ujung tombak menancap pada permukaan tanah.
"Kalau nggak berguna lagi, sebaiknya enyah saja, kak!" Anak itu menarik tombaknya dan hendak menusuk, tetapi sekali lagi ia kalah tangkas.
"Tukaran makanan!" tombak pun berubah menjadi stik permen yang hancur begitu membentur dinding gua.
Lari! Dia harus lari! Dalam satu detik berikutnya, tanpa berpikir dua kali, Gopal mengangkat Yaya ke atas bahu kanannya. Lalu ia menghampiri Ying, mengerahkan sisa tenaga dan satu tangan untuk memanggul sang gadis. Kaki Gopal sempat goyah sejenak, tetapi adrenalin mengambil alih dan menjadi tumpuan tambahab.
"Kenapa aku harus ngalamin semua ini, sih?!" Gopal berteriak histeris.
Tanpa bisa menyentuh handsfree dan memanggil bantuan, berlari menerobos badai menjadi satu-satunya kesempatan untuk selamat. Setidaknya ia tak menanggalkan semua set musim dingin dan baik Yaya maupun Ying aman dan terlindungi seperti kepompong.
"Mau ke mana, kak? Ayo kita pulang!" teriakan anak itu samar di belakang, tetapi masih mengikuti.
Gopal tak berminat untuk mengecek ke belakang, terlebih beban yang ditumpu oleh kedua lutut dan kaki memperlambat mobilisasi. Di saat itulah suara tembakan dan debuman dari arah lembah menarik perhatian. Pilar! Dia harus menyusul ke pilar!
-CdS-
Badai semakin menggila, begitupun akal sehat yang semakin terkuras hingga sampai pada titik penghujung. Walau kelopak mata mulai penuh oleh bulir es, ketiga elemental Boboiboy memelototi pilar yang masih saja berdiri angkuh. Asumsi mereka bahwa bangunan itu lebih rapuh saat badai terbantahkan dengan telah.
"Pilar sialan ini nggak berubah,dong!" Blaze mengarahkan bola api raksasanya kembali, tetapi sekali lagi hanyalah uap pekat yang muncul lalu tak ada tambahan retak pada bangunan menjulang itu.
"Terus saja serang!" Fang menunggu hingga uap hilang dan dua beruang bayangnya menerkam pilar dengan tinggi sekitar dua meter. Walau sekali lagi, berakhir dengan terpentalnya hewan bayang tersebut.
Blaze mendarat di permukaan dengan geram, saking tak fokus, ia terpeleset dan jatuh telentang tak jauh dari pilar. Sejenak, ia memandangi angkasa sana, lalu matanya tiba-tiba berkilat. Ia melompat bangun dan bersiap kembali untuk mengerahkan serangan.
"Perasaan, atau aku mendengar lolongan hewan yang mirip suara Gopal?" Halilintar mendarat di samping Gempa, iris rubi itu menelisik sisi demi sisi horizon pandangannya.
"Kau pasti mulai berhalusinasi, tuh." Fang mendengus kesal, ia memusatkan bayangannya untuk membuat hewan yang lebih besar lagi.
"Tunggu...!" Hanyalah Gempa yang diam sejenak, mengikuti ekor suara yang nyaris tenggelam sepenuhnya oleh badai.
"BOBOIBOY! FANG!" tak salah lagi, isakan serak nan menyedihkan itu begitu dikenal di kuping. Sebuah isyarat bahwa musuh tengah mengejar teman mereka itu dan ia tak bisa melawan.
Dari arah hutan pinus di dekat pilar, suara gaduh semakin mendekat. Satu demi satu batang pohon kurus menjulang itu mulai runtuh dan bertubrukan satu sama lain, bertumpukan dengan acak sekaligus memblokade jalur menuju posko yang aman. Atau justru tak lagi aman sekarang?
"Tsk! Di saat seperti ini...!" Fang mengubah beruangnya menjadi seekor yang besar, lalu bergegas menaiki punggung hewan itu.
"Yaya dan Ying apakah aman?!" Gempa mulai panik, mengingat mereka meninggalkan keduanya bersama Gopal.
"Kau fokus saja ke pilar! Halilintar, kau ikut aku!" seru Fang. Tanpa berbalik badan lagi, pemuda itu melesat menuju arah kegaduhan di hutan pinus.
"Aku segera kembali." Halilintar mengambil ancang-ancang dan melesat menyusul.
Gempa menggigit bibir. Ia ingin ikut ke sana tetapi pergerakannya termasuk lebih lamban dibandingkan kedua yang baru saja pergi. Iris keemasan itu kembali pada pilar dan mulai kalut memikirkan apa yang harus dilakukan agar bangunan ini runtuh.
"Gempa!" Tiba-tiba saja Blaze menarik lengan dari jaket Gempa. "Kau ingin ke sana kan? Biar aku saja yang urus ini!"
"Hah? Bagaimana caranya?! Ini bukan waktunya bercanda, Blaze!"
"Aku ada ide!" Blaze mengarahkan telunjuknya ke angkasa. "Menjauh dari sini dan pastikan semua orang aman dalam perisai, percayakan semua padaku dan kalian bercantum semula!"
Gempa tak punya waktu untuk ragu. Sorot mata Blaze yang penuh percaya diri sulit untuk dianggap sebagai sebuah bualan ataupun candaan saat ini. Menyetujui berarti menumpu semua pertaruhan mereka pada Blaze seorang. Kedua tangan Gempa mengcengkram bahu Blaze dengan erat.
"Apa rencanamu?"
.
.
.
"Gopal! Tiarap!" Fang menerjang bersama dengan hantaman beruang bayang raksasa. Menyapu musuh dengan mulus karena Gopal segera menuruti arahan Fang tanpa jeda satu detik pun.
Tubuh anak kecil itu terpental sepuluh meter ke belakang. Tanpa menunggu, Halilintar lantas mengejar dan menghunuskan pedang. Namun, musuh tak kalah cekatan dan menangkis sabetan itu dengan sekali ayunan sabit. Halilintar mendecakkan lidah, tumit kaki bersiap untuk kembali menyerang. Mereka berdua kembali terhanyut dalam adu pedang dengan kecepatan kilat.
"Yaya dan Ying mana?!" tanya Fang dengan panik. "Nggak kau tinggalin, kan?"
"Nggak lah!" Gopal memprotes walaupun wajahnya masih setengah menangis. "Mana mungkin kita bakalan aman dari bocah berbahaya dan tak waras!"
Fang mengonfirmasi bahwa kedua kawan mereka aman sesuai bantahan Gopal barusan. Pemuda itu mengalihkan atensinya pada Halilintar yang bertarung dengan musuh. Ia tak bisa lama-lama di sini, pilar harus segera diruntuhkan.
"Kalau begitu aku kemba-" belum usai mulut Fang berujar, sebuah objek melesat melintasi wajahnya dan jatuh tepat di antara ia dan Gopal.
"Hiiiiiy!" Gopal memekik, ada anak panah yang nyaris mengenai kepala mereka.
Fang mulai menyadari bayangan-bayangan musuh di dahan-dahan besar pohon di sekitar. Sama seperti musuh yang pertama, sosok-sosok itu mengelabui mereka dengan Semua dari mereka disenjatai dengan crossbow. "Sial! Kita sudah dikepung...!"
Halilintar sempat panik begitu melihat Fang dan yang lainnya telah terpojok. Namun musuhnya tak mengendurkan serangan dan kembali mencoba menyabet kepala. Sang elemental petir itu tak bisa lengah beberapa detik sekalipun.
"Jadi... tujuan mereka hanya fokus pada kita. Sama sekali melindungi pilar." Fang bergumam kesal. Ia semakin ragu apakah pilar itu benar-benar bisa dihancurkan sekarang atau tidak.
Semua musuh membidik keempat remaja yang terpojok tanpa benteng perlindungan. Dalam satu siulan aba-aba, puluhan anak panah dilepaskan. Fang segera menyebar bayangan di sekitar mereka seraya berteriak. "Cocoon bayang!"
Kubah gelap melindungi semua orang dari serangan. Fang menggertakkan gigi, semua ini menguras nyaris separuh energi yang ia miliki. Ketika ia berniat menghilangkan kepompong bayang, siulan kembali terdengar. Serangan berikutnya akan tiba.
Fang mulai kewalahan, menambah ketebalan lapisan bayangannya untuk jaga-jaga. Namun, mata anak panah keperakan itu mulai tak terbendung. Suara kepompong yang mulai rusak membuat Gopal berteriak panik.
"Perisai tanah!" Guncangan keras disambung dengan munculnya benteng tanah Gempa.
"Boboiboy!" Gopal berteriak kalut.
"Hah, ngapain kau di sini?" Fang melotot, ia terseok menembus hamparan salju menghampiri elemental tanah Boboiboy itu. "Pilarnya bagaimana?!"
"Golem tanah!" Gempa tak menggubris dan ia meminta golemnya itu menyodorkan tangannya di depan Yaya, Ying, dan Gopal "Ayo semua! Cepat menjauh dari sini!"
"Hah?! Gimana?" Gopal ikut kebingungan, tetapi golem terlebih dulu meraihnya dengan hati-hati dan meletakkan ia dan kedua kawannya di atas telapak tangan kiri.
"Fang! Ikut naik!" Gempa menarik punggung Fang dan nyaris melemparnya ke atas golem.
Halilintar di sisi lain menarik napas lega, ia kini bisa fokus pada musuhnya itu sekarang. Ia memunculkan kembali kedua bilah pedang baru. Kilat-kilat merah mendesis di antara udara beku.
"Cukup menghalau mereka sebentar kan? Gempa ... Blaze."
Baru beberapa menit yang lalu Gempa menyusulnya dan menyampaikan satu pesan singkat. Tak perlu lama untuk Halilintar menyadari bahwa Blaze telah mulai bergerak dan memusatkan kekuatan apinya di bawah telapak kaki. Layaknya roket, sang elemental api itu telah berada di angkasa.
Hanya inilah ide yang terbersit untuk mengakhiri misi dan menghancurkan pilar yang nyaris mustahil itu.
"Datanglah ke sini!" Blaze memusatkan seluruh energinya pada tangan kanannya yang teracung. Perlahan tapi pasti, sesuatu mulai berubah di angkasa sana. Menyadari rencana mereka dimulai, golem menurunkan semua penumpangnya dengan tergesa.
"Fang! Buat cocoon bayangmu itu sekuat mungkin!" perintah Gempa. Ia sendiri bersiap untuk mendirikan perisai berlapis sebagai garda pertahanan terdepan mereka. "Aku akan membangun perisai setebal yang aku bisa!"
"Memangnya kalian mau ngapain?" Fang nyaris kehilangan kesabaran.
"Lihat itu!" Gopal menjadi yang pertama kali menyadari sesuatu yang mendekat dari atas.
"Cepat! Nggak ada waktu lagi!" Gempa memaksa.
Fang memelototi angkasa, seketika berteriak kencang. "Astaga! Dia sudah gila apa?!"
Langit seolah terbelah, sesuatu menyembul menembus gumul awan kelabu. Cahaya dan gemuruh mengawali munculnya objek yang meluncur bebas dari angkasa. Gopal mengucek matanya sebelum melihat pada benda yang melesat turun sekitar puluhan meter di atas kepala.
"Itu... METEOR?!" Gopal nyaris tersedak ludahnya sendiri. Kedua matanya seketika berbinar-binar, rasa antusias menjalari seluruh tubuh yang mendadak merinding bukan main.
"Tsk! Kalau sampai malah berbalik arahkekuatannya-!" Fang menggertakkan gigi, ia sudah memperingatkan apa yang bisa saja terjadi tas tindakan gegabah semacam. Karena Matra bukanlah sebuah dimensi realitas, bukan berarti tidak ada batas untuk kekuatan mereka.
"Maju Boboiboy! Hancurkan itu pilar!" meninju udara di atas kepala, Gopal mendadak riuh bak penonton sepak bola di tribun.
"Lakukan sekarang!" Gempa menghentakkan kaki dan meninju tanah sekuat tenaga. Guncangan hebat kembali diikuti oleh munculnya kubah tanah dan bebatuan sepadat mungkin.
"Ck! Terserah kau lah!" Fang menambah lapisan perlindungan di bagian dalam kubah.
"Oke, tunggu di sini dan jangan ke mana-mana!" Gempa berikut Halilintar di luar sana seketika lenyap dalam satu sekon.
Anak secil itu, si penjaga cilik itu kebingungan. Tetapi begitu ia berbalik, semua sudah terlambat untuknya yang hanya berjarak beberapa puluh meter dari pilar.
Hamparan kelabu awan kian terburai, sementara suara gesekan udara dengan meteor mendominasi kuping semua orang. Blaze menjadi satu-satunya yang berada dalam radius seratus meter dari pilar. Tangannya memegang kendali dari meteor yang tinggal beberapa belas meter lagi menumbuk permukaan tanah.
"HANCURLAH KAU, MENARA MENYEBALKAN!" teriak Blaze.
Dentuman memecah kuping melengkapi kilat cahaya membutakan. Hanya hitungan beberapa detik hingga pilar yang sudah separuh diameternya hancur. Retakan menjalar semakin tinggi, disusul oleh terbentuknya puing-puing berwarna biru es. Daratan berguncang hebat, dan empasan angin mendesak segala sesuatu dari pusat tabrakan dahsyat.
Bunyi retakan Matra yang familier akhirnya kembali terdengar. Pertanda bahwa dimensi pilar pertama hanya berusia sebentar lagi.
-CdS-
Gravitasi seolah menarik tubuh Boboiboy, tepat setelah energinya terkuras habis dan pendar cahaya pada arlojinya sirna. Sesuai dengan ucapan Ochobot kala itu, sisa pilar menjadi portal hitam menganga. Boboiboy tak bisa bergerak, pasrah begitu kegelapan menelannya bulat-bulat.
Ia yang pertama kali mencapai dimensi pilar kedua. Alih-alih udara, Boboiboy tercekat karena air yang masuk ke dalam tenggorokan. Matanya yang berat dipaksa untuk membuka. Hanya ada kekosongan di antara air dan biru gelap warnanya.
Boboiboy menggerakkan tangannya dengan panik, berusaha memegang pada apapun itu yang bisa diraih. Oksigen mulai menyusut dari darah dan Boboiboy yang semakin linglung tak bisa mengenali mana yang atas maupun bawah. Ia harus ke permukaan, tetapi sebuah beban seolah diborgol pada kedua kaki dan menyeretnya semakin jauh.
'Semuanya... apa semuanya selamat?'
Sesak semakin menyiksa dan Boboiboy semakin panik.
'Aku harus pergi dari sini...'
Di antara sadar dan tidak, Boboiboy merasakan ada sesuatu yang menyeret tubuhnya naik. Tak berselang lama, ia terbatuk keras begitu permukaan air telah terlampaui dan udara kembali masuk melalui hidung. Ia terbatuk keras dan memuntahkan semua air yang sempat tertelan. Tenggorokannya perih, napasnya masih tak beraturan.
Mata hazel itu mencoba menafsirkan bayang-bayang buram karena banjir air mata. Sepertinya, ia baru saja diseret ke tepian oleh orang asing. Seseorang berjongkok tak jauh dari tempatnya berbaring.
Siluet orang asing itu sama sekali tak bisa ia lihat dengan jelas, terlebih karena cahaya benderang matahari di belakang kepala. Boboiboy akhirnya bisa bernapas tanpa tersedak, tetapi kelelahan luar biasa menaklukan kesadaran. Dunia dalam matanya kembali meredup.
Apakah hanya bayangannya saja, atau tangan orang itu mulai mengusapi wajahnya?
.
.
.
Sebuah kamar yang kosong tiba-tiba disihir menjadi lautan gemintang. Potret antariksa yang selama ini dikagumi. Celotehan riang keluar begitu saja dari mulut mungil itu. Menunjuk dan menyebutkan satu demi satu gugus bintang yang diketahuinya dari sang ibu.
Boboiboy langsung memutuskan bahwa semua itu adalah hadiah terhebat yang pernah didapatkan sepanjang usia yang masih belia.
"Kau suka kan, Oboi?" bersama suara itu dan dari belakang, tangan besar mengusapi helai rambutnya yang lebat dan berantakan. "Nanti kau akan melihatnya lagi. Lebih besar dan lebih hebat dari ini!"
Boboiboy menoleh, nama panggilan barusan telah lama tak ia dengar. Tetapi tahu-tahu ia digendong dan dipeluk oleh pria itu. Lamat pikirannya menerka-nerka, siapa gerangan orang yang menggendong dan memeluknya sekarang.
"Tapi sementara ini, Oboi menunggu dengan Tok Aba ya."
"Boboiboy ingin sama Ayah!" rengekan itu keluar begitu saja, spontan tanpa bisa Boboiboy kendalikan.
Seketika Boboiboy tersentak. Orang yang mengelusi punggunya kini adalah seseorang yang ingin ditemuinya. Lalu seharusnya ia berada di tengah misi dalam Matra. Sekarang, ada di mana?
Apakah ia masih berada dalam tipu muslihat bocah penjaga pilar itu? Boboiboy ingin memalingkan muka, tak sudi kiranya melihat sosok sang ayah jika hanya ilusi belaka. Kendati demikian, tangan itu setengah mati tak ingin melepaskan.
Pelukan itu usai, dan Tok Aba memanggilnya. Boboiboy kini dipangku oleh sang kakek. Tubuh mungil sang anak gemetar, tangannya mencengkeram bahu sang Atok dengan kencang. Akhirnya ia melihat kembali bagaimana rupa sang ayah. Wajah berjanggut tipis yang selalu menggelitik setiap kali menciumi pipi.
"Boboiboy..." Bola mata yang berwarna sama dengannya, kini sejajar dengan kedua miliknya. Mereka sama-sama memiliki sejumput rambut putih di kepala.
Kelambu yang selama ini menyelimuti bagaimana rupa sebenarnya sang ayah akhirnya tersibak. Figur yang sering tenggelam dalam kesibukan kerja dan seringkali membuatnya kesepian. Tetapi sosok yang selalu ditunggui saat pulang, bersama dengan berbagai permainan dan keisengannya.
"Nanti, Ayah akan pulang dengan Bunda. Oboi jadi anak yang baik ya bersama Atok?" dengan nada sabar, kalimat itu diulang oleh sang ayah.
Boboiboy mengulurkan kedua tangan, enggan untuk berpisah. Rengekannya kembali pecah, tetapi uluran tangannya tak menggapai yang dituju. Ayahnya telah berbalik pergi, dan yang Boboiboy ketahui, hingga saat ini pun mereka belum bertemu kembali.
-CdS-
Sesuatu, atau mungkin seekor hewan antah berantah mematuki ubun-ubun kepala. Cubitan kecil nan sakit di dahi membuat Boboiboy tersentak bangun. Kepakan sayap ribut di wajahnya membuat Boboiboy mengibaskan tangan dengan panik. Burung berbulu kelabu itu kabur ke angkasa berwarna biru pucat. Matahari baru saja melewati titik puncaknya.
Boboiboy memaksakan diri untuk duduk. Ditengoklah kanan dan kiri, tangannya menggaruk kepala. "Ini... di mana?"
Sebuah gazebo terbengkalai, itulah yang bisa Boboiboy tangkap sekarang. Ia tidur beralaskan tikar dan berselimut kain tipis yang sedikit lusuh. Di sekitarnya hanya ada hamparan rumput dan pepohonan rindang berbaris dari bukit yang mengepung area luas di sekitarnya. Di belahan dunia manakah ini?
"Akhirnya bangun juga, kau." Sapaan datar dari Fang entah kenapa membuat Boboiboy tersentak sekaligus merinding.
"Fang! jangan bikin kaget dong!" protes Boboiboy, masih dengan suara yang serak.
Fang tak menyahut, hanya meletakkan tumpukan ranting kering yang dia ikat satu dengan tali di depan Boboiboy. Ia pun berjongkok di depan kawannya itu.
"Kau pulas sekali sampai sehari semalam," ujar Fang.
"Selama itu?!" barulah Boboiboy mengingat peristiwa terakhir sebelum ia tak sadarkan diri. "Yang lain bagaimana?!"
"Cari apapun yang bisa digunakan. Kita nggak membawa satupun barang dari dimensi pilar kemarin. Dan hanya sedikit yang ikut tersedot oleh portal." Fang secara tidak langsung mengisyaratkan bahwa ketiga teman mereka aman-aman saja.
Terlihat masih kurang puas dengan jawaban barusan, Fang menghela napas dan mulai menjelaskan bagaimana mereka berempat selamat dalam kepompong bayang Fang, walau terombang ambing sampai memasuki portal.
"Lalu, kami menemukan kamu pingsan di tepian dekat tanggul. Di sana itu!" Fang menunjuk ke arah utara, di mana hamparan air berikut bangunan tanggul baru saja Boboiboy sadari. Nyaris tersembunyi karena lebih rendah dari posisinya sekarang. "Untunglah kau masih bisa menyelamatkan diri sebelum kami sampai."
Pernyataan terakhir membuat dahi Boboiboy berkerut, tangannya menopang dagu. "Rasanya ada seseorang yang menarikku ke tepian."
"Musuh?" Fang ikut bingung. Ia memikirkan bahwa hanya ada mereka dan musuh dalam dimensi pilar ini.
"Bukan, dia..." Boboiboy hendak meneruskan, tetapi akhirnya hanya bungkam saja. Ia melirik topi kesayangannya, bertanya-tanya bagaimana benda ini tak terbawa oleh air. Apakah kebetulan, bahwa setelah itu, dia bermimpi tentang ayahnya?
"Oiya, pilar sepertinya ada di arah selatan. Kita harus berangkat secepatnya." Fang mengalihkan topik, terutama ketika kata musuh itu baru saja membuatnya ingat lagi misi. "Tentu kalau kau sudah bugar."
"Oke, sepertinya aku bisa mengikuti, kok." Selain sedikit lelah yang tersisa, Boboiboy tak merasakan luka apapun yang mengganggunya. Ia menyibakkan selimut dan berniat untuk bangun.
"Iya sih, tapi lihat dulu arlojimu bagaimana."
Buru-buru Boboiboy mengangkat pergelangan tangan dan memekik panik karena layar arloji padam dengan sempurna. "Arlojiku! Nggak mungkin rusak kan?!"
"Kau memaksakan kekuatanmu sampai lewat batas. Makannya sampai dua hari ke depan, sepertinya dia nggak akan menyala."
"Dua hari! Bagaimana kalau-" Boboiboy tak habis pikir bahwa sekarang dia sama sekali tak punya kekuatan dari arlojinya itu.
"Makannya pikir-pikir dulu sebelum kau melakukan sesuatu yang beresiko seperti kemarin!" Fang bangkit dan menarik tangan Boboiboy -hingga berdiri- dengan gemas. "Sekarang sih hanya kehilangan kekuatan sementara, tapi kalau lebih dari itu?"
"..." Boboiboy terdiam. Ia menepis tangan Fang dan dengan ragu memilah kata-kata. "Aku akan ingat itu, tapi kemarin kan darurat."
Arloji Fang berbunyi, sebuah panggilan dari Yaya masuk. Fang sengaja tak memasang handsfree dan menyetel speaker dari arloji itu lebih keras dari biasanya.
"Fang! Kami menemukan sesuatu di sini!"
.
.
.
"Boboiboy! Syukurlah kau sudah bangun!"
"Maafkan kami waktu itu nggak berbuat banyak! Sampai terperdaya lagi..."
Mereka semua larut dalam obrolan seperti biasa. Boboiboy mengingat situasi familier saat mereka berhasil menggagalkan distorsi Matra dulu. Melihat ketiga temannya baik-baik saja, walaupun wajah mereka sama sepertinya yang masih letih. Ada satu rasa haru bagaimana mereka berhasil melewati dimensi pilar pertama.
"Lalu, apa yang kalian temukan?" Fang terpaksa menyudahi obrolan santai mereka.
"Ah iya! Coba kita turun ke sana!" kaki lincah Ying menjadi yang pertama melompat dan berlari-lari kecil mendahului siapapun di sana.
Ying menjadi penunjuk jalan dan mereka turun ke bagian di balik dinding tanggul. Satu-satunya area untuk aliran air yang kini kering. Boboiboy langsung tertarik pada balok-balok batu atau mungkin beton yang dicor ke bagian dasar. Namun yang aneh adalah bagian atas balok itu, pelat-pelat berwarna tembaga berada di sana.
"Tunggu, ini..." Jari-jari Fang menyapu ukiran huruf di sana seraya membacanya."Nama-nama siapa?"
"Ya kan? Aneh sekali ada di sini!" celoteh Ying penuh semangat.
"Padahal ini semacam pemecah arus kan ya? kalau tanggul ini dibuka." Yaya masih menatapi nama-nama yang tak dikenalinya itu. "Tapi rasanya... mirip seperti apa ya?"
"Kalian merinding nggak sih?" Gopal mengelus tengkuknya dengan tak nyaman.
Boboiboy memisahkan diri dan menelusuri deretan balok paling belakang. Tak lupa ia membaca nama demi nama tanpa tahu siapa persisnya mereka. Langkahnya terhenti begitu menemukan bunga-bunga layu pada satu pelat tembaga.
Seseorang seolah-olah datang ke sini kemarin dan meletakkan bunga-bunga itu. Apakah sebagai ungkapan berkabung untuk nama-nama yang tertulis di sana? Mungkinkah mereka ada kaitannya dengan Matra?
Empasan angin saat ini tak sedingin dimensi beku tempo hari. Namun Boboiboy masih membeku di sana. Bukan karena suhu yang ekstrem tentunya. Benaknya terus dibanjiri berbagai asumsi yang belum pasti.
.
.
Berlanjut pada chapter 22: Lesap
A/N:
Akhirnya bisa selangkah maju lagi menuju chapter-chapter terakhir. Bulan-bulan ini sungguh luar biasa!
Karena sudah mendekati klimaks, saya ingin mulai lebih menyempatkan diri untuk menulis kelanjutannya.
Terima kasih dan sampai jumpa~
