Bumble Trouble 09

by

acyanokouji

.

Summary: Usia segini memang sedang gencar-gencarnya merasa kesepian. Darah muda yang haus perhatian. Sana-sini mencari kenalan. Kalau pada akhirnya hanya akan dilupakan, mengapa malah memulai sentuhan?

"Hi, boleh kenalan?"

"Tolol. Kau masih percaya aplikasi kencan begitu?"

"Kenapa tidak menerima orang yang sudah jelas ada di depan matamu?"

.

All Naruto's characters are belong to Masashi Kishimoto.

Warning: OOC, typo(s), crack couple(s), plot hole(s)!

.

.

.

Iris mereka masih bertubrukan selama beberapa saat hingga Hinata memutuskan untuk mengalihkan pandangan lebih dulu. Tangan Hinata masih terhenti, belum selesai memotong ujung kue strawberry yang hendak disantapnya. Sedikit melirik ke kanan, Hinata bisa melihat seorang anak kecil perempuan yang menatap lugu pada kedua orang tuanya. Lalu, Hinata menarik napas agak dalam dan menoleh. "Ya," katanya.

Sekilas Hinata bisa melihat Sasuke yang membetulkan duduknya, membuang napas yang ditahan entah berapa lama. "Siapa?" tanya Sasuke. Meski lelaki itu terlihat lebih santai sambil meminum ice americano -nya, nada bicaranya masih dingin seperti minuman yang diteguknya.

"Apa aku harus memberitahu namanya? Kukira Sasuke-san pun pasti paham bagaimana kerja aplikasi kencan, 'kan?" Hinata meletakkan garpu yang digenggamnya. "Menurutku aplikasi kencan adalah tempat untuk mengenal banyak orang. Bertemu dengan beberapa orang sebagai bentuk seleksi –mungkin? Sasuke-san pun begitu, 'kan?"

"Tidak."

Hinata terdiam. Karena jawaban Sasuke, juga karena ia tidak tahu mengapa ia harus menjelaskan hal seperti ini pada Sasuke. Dari cerita teman-temannya di kampus dulu, ia kira seperti ini cara melakukannya.

Trak. Sasuke menaruh gelas minumnya ke atas meja. "Baiklah, aku akan mengganti pertanyaanku. Berapa orang yang mendekatimu?"

"Dua." Hinata memberi jeda. "Tidak termasuk Sasuke-san?" sebenarnya Hinata sedikit bingung dengan Sasuke. Tidak seperti Gaara yang sangat terlihat mendekatinya, atau Sai yang tiap hari rutin mengiriminya pesan. Sasuke jarang mengabarinya, jarang juga mengajaknya pergi. Jadi, wajar saja ia sedikit merasa tidak didekati kan?

"Baiklah." Sasuke tak banyak bicara lagi setelahnya. Hinata berusaha mengalihkan pembicaraan dengan membahas keponakan Sasuke, kerjaannya atau hal-hal random yang terjadi di sekeliling. Tetapi, pria itu menanggapi acuh tak acuh. Sedikit banyak Hinata mengutuk pembicaraan canggung yang terjadi bahkan sebelum Hinata menyentuh makanannya. Apa tidak bisa menunggu selesai makan?

Malam itu Hinata pulang bahkan belum sampai di pergantian hari. Kurang dari satu jam, tapi rasanya waktu sangat lambat. Hinata dan Sasuke berpisah tanpa banyak bicara. Lelaki itu bahkan tak mengiriminya pesan saat sampai rumah atau hari-hari setelahnya. Hinata tahu, mungkin hubungannya dan Sasuke akan berakhir begitu saja.

Ting. Hinata buru-buru mengalihkan perhatian dari lemari bajunya yang terbuka. "Hai Hinata. Mau bertemu nanti malam?" satu pesan masuk dari Sai. Hatinya merasa kecewa. Entah karena mengharap pesan dari siapa. Dari Sasuke yang sejak semalam tak kunjung menghubunginya atau dari Gaara yang bahkan tak ada kabar sejak hari rabu.

Hinata menolak ajakan Sai. Usai mengirim pesan penolakan, ia kembali ke depan lemarinya yang masih terbuka. Mengambil sweater untuk menutupi kaosnya, Hinata terlihat siap untuk pergi keluar.

Tok Tok Tok

Suara ketukan pintu terdengar. Setelah menutup lemari, mengambil gawai, dan mematikan AC ruangan, Hinata pergi membuka pintu. "Hey." Sebuah sapaan terdengar. Di depannya berdiri Toneri yang menatap ragu-ragu. "Bagaimana kabarmu, Hinata?" Toneri memerhatikan penampilan Hinata. Perempuan itu memakai sweater hijau dan tas selempangnya. "Kau mau pergi keluar?"

"Ya. Aku akan mencari makan." Hinata keluar dari dalam flatnya. Menutup dan mengunci pintu. "Mau aku antar?"

.

.

Toneri memang berinisiatif menawarkan bantuan pada Hinata. Upaya untuk minta maaf, pikirnya. Tapi, Toneri tidak mengira jika suasananya akan secanggung ini. Tiba di sebuah food court tak jauh dari Universitas Tokyo, Toneri dan Hinata memesan lalu duduk di sudut.

"Kukira kau mencari makan?" Toneri melirik Hinata yang membeli satu porsi okonomiyaki. "Ya. Ini makanan, 'kan?" Hinata menatap Toneri singkat.

"Iya. Tapi, aku pikir kau akan makan berat." Hinata mengedikkan bahu. "Aku sedang ingin makan okonomiyaki." Ditatapnya nasi bento yang dipesan Toneri. "Selamat makan."

Mereka makan dalam diam selama beberapa saat. Toneri bingung mau bilang dari mana. Sedang Hinata juga masih enggan bicara banyak. "Maaf." Sebuah bisikan kecil terdengar, membuat Hinata melirik Toneri sembari menyuap.

"Maafkan aku, Hinata. Aku sudah keterlaluan minggu lalu." Toneri mengalihkan pandangan setelah bicara. Bentonya baru dimakan beberapa suap. Setelah beberapa saat menunggu, terdengar suara dari seberangnya. "Tidak papa. Toh sudah berlalu."

Toneri mengangkat kepalanya, menatap Hinata yang ternyata juga tengah menatapnya. "Kau memaafkanku?" Matanya bertubrukan dengan mata bulat Hinata. "Tidak ada kata maaf dalam pertemanan, 'kan?" sebuah senyuman mulai terukir, dari Hinata dan menular pada Toneri. Mereka saling bertukar senyum selama beberapa saat, sebelum kembali meneruskan makan.

"Aku... hanya sedikit bingung." Toneri kembali memulai bicara saat mereka sudah kembali makan. "Kukira kau lanjut dengan temanku." Suara dehaman terdengar dari Hinata. "Siapa?" tanya Hinata tanpa menatap Toneri. "Shino, temanku yang kukenalkan di acara perpisahan panitia."

"Shino Aburame?" Hinata menghentikan makannya dan menatap Toneri sebentar. "Tidak. Dia agak membosankan dan juga... dia temannya Kiba."

"Hah?! Benar?!"

"Iya. Aku pernah bertemu saat ikut Kiba ke acara reuni teman SD-nya. Memang aku tidak tahu namanya tapi aku ingat wajahnya. Dia juga mengingatku. Jadi, saat kau membuat janji untuk kami bertemu tahun lalu, aku sudah tidak pernah menghubunginya lagi."

"Oh." Toneri berkomentar singkat. Entah kenapa ada sedikit perasaan lega di hatinya. "Masih mau beli takoyaki dan taiyaki?" pria beriris biru itu menatap bingung Hinata yang memesan makanan setelah mereka selesai makan.

"Ya. Aku takut lapar tengah malam."

Untunglah Hinata percaya pada instingnya. Ketika tiba di depan flatnya, ia punya alasan untuk menghabiskan makanan yang dibelinya. "Ibu?" Hinata menatap heran ibunya yang tiba-tiba berdiri di depan pintu flat dengan satu tas ransel di sampingnya. "Kenapa Ibu ada di sini?"

Hinata mendekat, memberi pelukan pada ibunya singkat. "Kenapa katamu?" Ibu Hinata berbicara. "Memangnya salah jika Ibu mengunjungi anak Ibu sendiri?"

"Bukan begitu. Hanya saja..." Hinata terdiam. "Aku akan membuka pintu."

"Halo, Bibi." Toneri yang ada di belakangnya pun ikut menyapa Ibu Hinata. Membantu membawakan ransel ke dalam flat Hinata dan pergi setelah berbincang-bincang singkat. Membiarkan Ibu Hinata beristirahat setelah jauh-jauh datang ke Tokyo.

Hinata menatap lekat-lekat ibunya yang tengah meminum jus jeruk. Alisnya sedikit mengerut, memikirkan sesuatu. "Ibu datang dengan siapa?" tanya Hinata setelah melihat ibunya selesai minum. "Sendiri."

"Naik apa?"

"Kereta, dan taksi. Ibu sudah menghubungimu untuk menjemput, tapi kau tidak menjawab telepon." Oh, Hinata ingat menyalakan mode hening di gawainya. Tapi bukan itu yang terpenting. "Ibu... tidak sedang ribut dengan Ayah, 'kan?"

"Apa?! Tentu saja. Ibu dan Ayahmu baik-baik saja." Ibu Hinata berdecak. "Ayahmu sedang ada urusan dan kau tahu adikmu tidak bisa diganggu untuk persiapan lomba. Jadi, Ibu datang sendirian."

Hinata menghela napas lega mendengar penjelasan ibunya. "Bagaimana tugas akhirmu, Hinata?" sebelum kembali menahan napasnya. "Baik." Hinata menjawab singkat sembari membuka bungkusan makanan yang tadi dibelinya. "Ibu sudah makan? Aku membeli tayokayi dan taiyaki tadi," tawarnya.

"Hinata," panggilan ibunya yang lembut membuat Hinata menoleh. "Ibu tahu, pasti tidak mudah. Ayah dan Ibu juga tidak memaksamu untuk buru-buru menyelesaikan studimu. Tapi, bukankah akan lebih melegakan kalau kau segera menyelesaikannya?"

"Kau masih bekerja bersama temanmu Ino itu?" Hinata mengangguk. "Apa tidak lebih baik kau berhenti bekerja dulu? Uang dari Ibu dan Ayah tidak cukup?"

"Bukan begitu, Bu. Aku hanya... ingin punya kesibukan." Hinata menggigit bibir bawahnya. Merasa gusar dan sedikit bersalah. "Yasudah, Ibu tidak akan memaksa. Tapi, Ibu ingin meminta hal lain. Kau sudah punya kekasih?"

Hinata mengenyit. Tumben sekali ibunya ingin tahu masalah asmaranya. "Belum?" Hinata menjawab ragu tetapi sebuah kelegaan terlihat dari wajah ibunya. "Syukurlah."

"Ibu ingin mengenalkanmu dengan anak teman ibu. Sebenarnya ibu mengenalnya karena kakekmu dan ayah teman ibu itu bersahabat. Ibu dengar anaknya sedang mencari pasangan dan tinggal di Tokyo juga." Ibunya tersenyum, meski Hinata sudah berwajah datar.

"Memang sih anaknya cukup lebih tua darimu. Tapi dari cerita sepertinya kalian akan cocok. Bagaimana? Kau mau coba berkenalan dengannya?"

Hinata berkedip beberapa kali. "Ibu ke sini untuk bicara begitu? Kenapa tidak menelepon saja? Dan ya, aku tidak mau. Apalagi dengan om-om." Ketus Hinata. Perempuan itu tiba-tiba sebal. Hidupnya sedang kacau dan permintaan ibunya seperti menambah kekacauan yang akan terjadi.

"Bukan om-om, Hinata. Dia hanya beberapa tahun lebih tua darimu. Satu? Dua? Tiga... Empat?" Ibu Hinata mengingat-ingat. "Usia tidak terlalu penting. Dia sudah hidup mandiri. Dari fotonya juga dia terlihat tampan."

"Tidak, Bu. Aku belum mau berkenalan dengan orang baru." Hinata menjauh sedikit. "Ibu tidur di kasur saja. Aku akan tidur di sofa." Hinata bangkit. Masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih sebelum tidur di sofa dengan hati yang sedikit dongkol.

.

.

Dari sabtu malam sampai rabu malam, Ibu Hinata berencana tinggal di Tokyo selama hampir seminggu. Menyiapkan sarapan untuk Hinata setiap pagi dan menghibur hati putrinya yang entah kenapa sedang tidak baik-baik saja.

"Hai, Hinata. Ibu memasak kari hari ini. Kau mau makan sekarang?" Ibu Hinata bertanya saat putrinya keluar dari kamar mandi di pagi rabu. Dengan rambut yang masih basah, Hinata berjalan menuju sofa. "Ya, Bu. Boleh."

Memeriksa beberapa pemberitahuan di gawainya, Hinata menghapus pemberitahuan-pemberitahun tidak penting. Seperti tanda ia memilik match baru yang ia pun bahkan lupa kapan terakhir kali berselancar di aplikasi kuning itu.

"Hyuuga, bisa bimbingan hari ini? Sudah seminggu. Saya tunggu di kampus jam 10."

"Oh, sialan!" Hinata menghentikan gerakan tangannya mengeringkan rambut. Seketika panik karena ia lupa dengan tugas utamanya. "Bodoh! Bodoh! Bodoh! Bagaimana aku bisa lupa?!"

Sembari menyajikan makanan di atas meja makan, Ibu Hinata melihat anaknya yang fokus berkutat dengan gawai di sudut ruangan. Beberapa kali terdengar kata umpatan samar yang membuatnya bertanya keadaan Hinata. Tapi, putrinya hanya bilang ia akan pergi ke kampus usai sarapan. Dengan rambut yang setengah basah, Hinata berangkat berbekal alasan untuk berkilah pada dosennya.

"Kau belum dapat datanya karena pihak perusahaan belum membalasmu? Tapi, bagaimana ini, Hyuuga? Saya tidak janji kau bisa lulus semester depan. Jadi, saya sarankan kau berusaha mengejarnya sebelum tahun ketujuhmu berakhir."

Tentu saja Hinata tahu konsekuensi dari keteledorannya. Ibunya sedang ada di Tokyo dan Hinata malu untuk mengabari hal ini. Sembari berjalan keluar ruangan dosennya, Hinata menghela napas sembari menahan tangis.

Melewati gedung fakultas, Hinata bisa melihat adik-adik tingkatnya yang sedang ramai bersiap menyambut ujian akhir semester. Enaknya masa muda... Hinata menghela napas saat keluar gedung, tepat ketika gawainya bergetar.

"hinata kau di rumah? kujemput makan siang?"

Hinata terdiam membaca pesan yang masuk. Perasaannya cukup campur aduk. Kaget, senang, bingung, kesal. Sudah satu minggu, apa ini langkah baru untuk hubungannya dengan Gaara?

Semestinya Hinata tidak banyak berharap, meski sudah terlanjur ia lakukan. Siang ini ia dijemput Gaara di kampus untuk pertama kalinya. Tentu saja Hinata semangat. Tapi rasanya, mungkin hanya ia yang merasa demikian. Rasa-rasanya sikap Gaara sedikit... berbeda.

"Apa pekerjaanmu sedang cukup banyak?"

"Hm?" Gaara berdeham dan melirik Hinata di sela kegiatannya melihat gawai. Makan di restoran dekat kampus Hinata, sepertinya Gaara bahkan lupa jika ia yang mengajak.

"Kalau kau sibuk, kau tidak perlu mengajakku bertemu." Hinata bicara lagi setelah beberapa saat tak kunjung mendengar sahutan dari seberang. Memakan spageti dengan perasaan dongkol, Hinata bahkan tak menutupi kekesalannya.

"Maaf. Hanya sedikit... sibuk?" Gaara menaruh gawainya di atas meja. Mulai kembali menyentuh makan siangnya hingga gawainya berbunyi yang membuatnya kembali melirik layar gawai berkali-kali. "Apa kau sudah punya perempuan lain?"

Oh. Hampir saja Hinata kelepasan bicara. Ia bahkan harus mengeraskan rahang dan menggenggam garpu dengan erat untuk menahannya.

"Kau baik, Hinata?"

Sebelah alisnya terangkat. Hinata pikir, bagaimana bisa ia dan Gaara menjadi secanggung ini? Padahal mereka sudah sedekat itu. "Ya. Hanya saja mungkin aku belum bisa lulus dalam waktu dekat."

"Oh, begitu? Tidak papa... Hinata... Kau hanya... harus menyelesaikannya. Saat kau siap."

Gaara bicara terputus-putus. Ia melirik gawainya tiap denting notifikasi terdengar. Hinata benar-benar merasa marah. Ia bahkan mematikan bunyi notifikasi gawainya setiap mereka bersama. "Apa kau masih menyukaiku?" dan Hinata mengutarakan pikirannya kali ini. Dengan berani menatap iris jade yang kini juga fokus padanya.

"Ya." Cukup lama hingga akhirnya Gaara menjawab. "Kenapa?"

"Tidak papa."

"Sebentar, aku balas pesan dulu." Gaara meraih gawainya dan membalas saat pesan masuk kembali diterimanya. "Mau nonton film setelah ini?" tawarnya sembari mengetik.

"Ya. Boleh." Hinata menjawab tanpa memutus pandangannya pada Gaara. Pikirannya sangat penuh tapi ia lebih banyak diam hari ini. Bahkan ketika Gaara membatalkan ajakannya di tengah jalan karena pesan yang entah keberapa diterimanya, Hinata tidak banyak bertanya. Pun karena lelaki itu tidak banyak menjelaskan, atau sekadar bertanya pendapatnya.

"Terima kasih atas makan siangnya, Gaara."

Perpisahan mereka siang itu sama seperti minggu lalu. Atau lebih buruk? Atau mungkin lebih baik karena mereka tidak bertengkar? Entahlah. Hinata hanya merasa dipermainkan. Ia pikir Gaara memang orang yang seperti itu. Bersikap berlebihan karena peduli padanya. Ia memang merasa beberapa kali ditarik-ulur, tetapi harusnya mereka kembali dekat setelahnya.

Dibuat jatuh hati, hubungannya sejak bertemu dengan Gaara benar-benar rumit. Meskipun Gaara menjawab demikian, Hinata sudah tidak tahu lagi. Bagaimana bisa semuanya berubah hanya dalam satu minggu?

"Hinata? Sudah pulang? Mau Ibu hangatkan makan siang?"

Suara helaan napas berkali-kali terdengar meski pelan. Putri sulungnya belum berbalik sejak masuk flat. Kedua tangan Hinata terkepal sebelum berpindah memegang ujung tali tas selempangnya. Tak lama Hinata berbalik. Dengan mata sedikit berair, menatap ibunya. "Aku mau berkenalan dengan lelaki yang Ibu sarankan."