Title : Salah Paham

Piring : Fang x Boboiboy

Genre : Romantis

Rating : M

Disclaimer : Monsta studio

OFM : Ichadray

.

.

Ada yang salah, sesuatu seperti ada yang terlewat dan telah terjadi tanpa disadari. Boboiboy terdiam dalam keheningan, pikirannya berkecamuk, beberapa asumsi dan peralihan dari pikiran yang acak. Boboiboy mengingat sesuatu, tapi tidak begitu yakin dengan kemampuan untuk menyimpulkan sebuah anggapan yang menurutnya masih semu. Beberapa hari berlalu dan Boboiboy entah mengapa telah memendam rasa bingung di benaknya begitu lama sampai ia mengira kepalanya terlalu banyak memikirkan kemungkinan.

Oke, jadi Boboiboy mengingat sudah hampir satu bulan ini Fang seperti menjaga jarak dengannya. Itu adalah perasaan samar dari dua minggu Boboiboy menyadari untuk bisa lebih peka terhadap sekitar. Dan jika ia bisa membuat inti dari apa yang dikatakan teman-temannya tentang hubungan yang merenggang, Boboiboy menghitung bahwa ia dan kekasih tampannya itu mulai membatasi ruang sejak satu bulan yang lalu.

Bukan tanpa alasan Boboiboy berpikir demikian, ia tahu bahwa Fang memang sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang pimpinan perusahaan, tapi sangat jarang terjadi saat pria yang sudah cukup lama menjalin hubungan dengannya itu beberapa kali melakukan kesalahan. Boboiboy mengulas bagaimana pertama kali ia sadar akan hal itu.

Saat itu adalah libur tahun baru, Boboiboy bersama teman-temannya, Ying, Yaya dan Gopal telah merencanakan untuk melihat tempat wisata yang baru saja dibuka tak jauh dari tempat tinggal mereka. Berapa jam perjalanan dan mereka benar-benar berencana memesan resort di sebuah pulau kecil selama tiga hari. Tempatnya sangat bagus, resort berdekorasi alam yang nyaman nan elegan untuk liburan tambahan dengan hamparan pasir putih dan air laut yang indah, di bingkai dengan sunset menawan yang bersinar menembus cakrawala. Boboiboy tidak bisa tidak kagum, beruntung mereka semua mendapatkan hari libur dari sibuknya kegiatan juga pekerjaan masing-masing.

Boboiboy tersenyum senang, mereka telah sepakat dengan rencana itu dan ia akan memberikan kejutan kepada kekasihnya setelah Fang pulang dari kerja. Boboiboy telah menyusun meja, menatanya sebaik mungkin untuk menyambut sang kekasih dari sebalik pintu masuk yang masih tertutup. Boboiboy berdebar juga merasa malu mengakui jika ia sungguh berani memakai setelan lingerie berwarna oranye yang sempat Fang berikan, walau saat itu Boboiboy benar-benar bersikeras tidak akan pernah menggunakannya, tidak sampai Fang berada di ruang angkasa sekalipun.

Namun, kali ini entah kenapa Boboiboy tergoda oleh sedikit renda dan modelnya yang sangat panas saat ia memeriksa lemari di sudut ruangan kamar. Boboiboy tak mengingat ia menyimpannya di dalam kotak kardus yang terikat sebagus itu. Dengan keterkejutan rona merah, Boboiboy memikirkan bagaimana reaksi sang pemuda berkacamata oleh kejutan liburan dan pakaiannya yang cukup mengundang di sebalik jaket favoritnya. Fang mungkin akan terkejut setelah makan malam bersama, dan tidak akan butuh waktu lama sampai kekasih mesumnya itu menyadari arti dari apa yang ia siapkan. Seringai tampan bersama renguhan lengan kuat yang membawanya ke dalam ruang yang di isi oleh mereka berdua. Boboiboy ingin menyangkal bahwa ia sungguh menantikannya, anggapan tentang pemahaman mesum meragukan dirinya siapa yang sebenarnya memulai, Fang dan pesona menawan yang menyebalkan. Boboiboy merona merah oleh pikirannya sendiri.

Selesai meletakkan makanan terakhir, Boboiboy tersenyum lebar, melirik jam dinding yang menggantung menunjukkan itu adalah waktu Fang pulang. Ia memeriksa lagi, meja kecil dengan vas bunga mawar di tengah yang ia siapkan cukup cantik, Boboiboy juga memilih makanan spaghetti yang ia setel semenarik mungkin untuk dilihat, dan ia menyembunyikan tiket keberangkatan mereka di sebalik saku jaketnya yang menutupi pakaian aslinya yang mengundang.

Merasa semuanya telah lengkap, Boboiboy memperbaiki rambut berantakannya sedikit sebelum membuka pintu, tersenyum menyambut kekasih hati yang berdiri lelah sambil menenteng sebuah tas kerja.

"Fang.." Boboiboy mengambil tasnya, merasa hangat oleh pelukan, harap cemas jika prianya menyadari terlalu cepat apa yang ada di sebalik piama dan jaketnya. Namun, saat Fang melepaskan pelukan dan hanya mencium pipinya lalu pergi, Boboiboy mengedipkan matanya bingung, biasanya akan ada cukup waktu untuk kekasihnya itu mencuri perhatian dengan menciumnya penuh gairah, dan itu akan terus berlanjut sampai Boboiboy menghentikan tangan-tangan yang berkeliaran di sekitar tubuhnya.

Memilih mengabaikan, Boboiboy mengerti mungkin Fang lelah dengan pekerjaannya. Menghibur kekasihnya bukanlah ide yang buruk.

"Fang, apa kau ingin makan malam atau mandi terlebih dahulu?" Tanya Boboiboy pelan, tangannya tergerak mengambil jas yang dilepaskan, meninggalkan kemeja putih elegan di tubuh tegap Fang.

"Mandi dulu. Tidak apa-apa untuk makan duluan, Boboiboy.. aku akan mengerjakan beberapa pekerjaan yang tertinggal setelah ini." Ucap Fang menarik senyum, mengecup sekali lagi pipi merona kekasih manisnya sebelum pergi ke kamar.

"Ah, baiklah. Aku akan meletakkan makanamu di atas meja kerja." Balas Boboiboy pelan, mencoba untuk tidak terlihat sedikit kecewa dengan menampilkan senyum hangat. Ia beralih mengembalikan barang-barang yang ia siapkan, meletakkan makan malam Fang di ruang kerja dan menyalakan televisi.

Malam itu rencananya gagal, dan Boboiboy pada akhirnya pergi sendiri bersama teman-temannya untuk liburan tanpa Fang. Ia mengerti, Fang sangat sibuk dam Boboiboy tak ingin membebani kekasihnya dengan cara membuat sebuah peralihan hingga pekerjaan Fang semakin menumpuk.

Itu yang pertama. Yang kedua adalah saat mereka benar-benar ada waktu seharian tanpa ada gangguan dari pekerjaan dan hal lainnya. Saat itu adalah akhir pekan, Fang mengambil hari liburnya dan Boboiboy mendapatkan izin dari Tok Aba untuk menjauhi kedai, ambil hari libur lalu bersenang-senanglah.

Boboiboy senang akan perhatian Tok Aba, seolah Kakeknya tahu bahwa ia ingin menghabiskan hari bersama Fang di akhir pekan. Jadi Boboiboy mengunjungi rumah sang kekasih, membawa biskuit dan minuman cokelat spesial untuk mereka ke dalam rumah hanya untuk menemukan Fang yang tengah membaca buku, duduk bersandar di sofa terlihat serius, lengkap dengan kacamata modifikasi yang terpasang hingga lipatan kaki yang santai. Boboiboy merona, tampilan itu sangat tampan.

"Aku membawa biskuit dan minuman cokelat," ucap Boboiboy mendekat, duduk di samping Fang yang menurunkan buku dan menatapnya hangat.

"Aku berencana menjemputmu di kedai setelah ini, terima kasih." Fang menjawab, melupakan bukunya lalu menarik Boboiboy ke pelukannya.

"Tok Aba mengizinkan." Balas Boboiboy terkekeh kecil, menggeser tubuhnya agar lebih dekat pada kehangatan yang diberikan sang kekasih, ia bisa mencium aroma mint segar di antara mereka.

Hari itu tampaknya berlalu cepat, Fang dan Boboiboy menghabiskan seharian dengan menonton sebuah film aksi, lengkap dengan dua sekuel bagiannya. Boboiboy menikmati cemilan juga kebersamaan bersama Fang, dan ia tidak berhenti merona saat kekasih rambut keunguannya itu selalu menciumnya saat ada kesempatan.

Yang membuat Boboiboy heran adalah kenapa Fang bahkan belum membawanya lebih jauh di antara berlangsungnya film yang menampilkan beberapa adegan dewasa. Bukan artinya Boboiboy berkeinginan terlepas dari film yang mereka tonton cukup bagus untuk menyelesaikannya tanpa ada potongan. Tapi, biasanya tidak butuh waktu lama sampai Fang bosan hingga akhirnya Boboiboy menemukan diri sendiri telah berada di atas tempat tidur dalam keadaan terbuka. Mendapati kekasihnya itu terus fokus dan tidak melakukan apapun selain menciumnya singkat membuat Boboiboy menaikan alisnya bertanya.

Sampai pada sore Boboiboy berharap bisa tinggal lebih lama bersama sang kekasih, Fang tidak melakukan tindakan yang berarti. Cukup dengan ucapan selamat malam, Boboiboy dan Fang tidur tidak lebih dari sekedar berpelukan. Malam itu terasa kosong dan terlalu damai hingga Boboiboy seperti merasa sendirian.

Selanjutnya adalah saat ia melompati Fang di ruang kerjanya di dalam rumah, mengejutkan sang kekasih untuk mendapatkan atensi dengan memeluk kedua bahu kokoh sang pemuda. Boboiboy mengingat jika Fang menyukai tindakannya sebelumnya, sebuah peralihan aktivitas dari pekerjaan yang berat di laptop yang menyala.

Dengan menekan rasa malu hingga wajah yang tersipu, Boboiboy duduk di pangkuan, menghadap wajah tampan Fang yang bersinar diiring senyuman. Mereka sudah lama tidak melakukannya dan Boboiboy benci mengakui bahwa ia merindukan sentuhan Fang terhadapnya.

Mereka berciuman, Boboiboy memancing Fang dengan sedikit godaan yang membuat mereka mengeluh bersamaan. Boboiboy hampir selesai dengan kancing terakhir saat dering ponsel dan beberapa email masuk menginterupsi mereka. Ia mengira Fang akan mengabaikan hal itu seperti yang selalu dia lakukan, tapi sang kekasih menghentikan jemari tangannya dan tersenyum. Fang menurunkannya setelah mencium hidungnya, menunjukkan secara tidak langsung jika ia menolak untuk melanjutkan dengan mengangkat telpon dan berjalan keluar.

Boboiboy mengedip bingung bersama pakaian teracak, biasanya tidak seperti ini, tidak sampai Boboiboy sendirilah yang memaksa Fang untuk menghentikannya. Terlebih, saat ia yang menginginkannya duluan, Fang bersikap seolah apa yang Boboiboy lakukan terlihat mengganggu. Hari itu berlalu lagi dan lagi tanpa ada interaksi intim dan beberapa sentuhan samar. Boboiboy membutuhkan tiga hari kemudian untuk menyadari sebulan sudah berlalu pada kesimpulan Fang berkemungkinan besar tidak tertarik lagi padanya.

Boboiboy telah memesan meja di kedai, menceritakan semuanya kepada teman-teman yang dekat dengannya. Ying sampai menggeram kesal dan mengatakan akan memukul Fang jika pemuda berkacamata itu ternyata selingkuh saat telah mendapatkan hati tulus Boboiboy. Meski begitu, Yaya setidaknya membantu berpikir positif jika memang ada waktu tertentu di mana seseorang membutuhkan mood untuk bertindak.

Boboiboy meninggalkan Gopal yang tidak mengerti apapun selain pada traktiran minuman cokelatnya.

"Apakah Fang benar-benar melakukannya?! Mengabaikan dirimu, Boboiboy?!" Ying mengepalkan tangannya, tampak kesal.

"Yah.. sebenarnya tidak benar-benar mengabaikan. Tapi lebih kepada kemungkinan aku yang salah tempat." Jelas Boboiboy menenangkan, berpikir apakah tidak apa-apa menceritakan hal ini pada Ying saat ia tahu sahabat sipitnya itu cukup protektif.

"Apa kau sudah bertanya, Boboiboy?" Yaya menimpali, tampak khawatir di antara wajah lembutnya.

"Aku.. maksudku itu memalukan, aku tidak cukup berani menanyakan hal seperti itu." Boboiboy menjawab, tersipu memikirkan ia bertanya kepada Fang mengapa pemuda tinggi itu tidak ingin berhubungan seks dengannya.

"Maksudnya tentang pekerjaannya, apa kau tidak bertanya kemungkinan Fang sibuk dan membutuhkan waktu menyelesaikan tugas?" Yaya menjelaskan pertanyaannya sembari memakan biskuit cokelat, membuat Boboiboy menunduk menyembunyikan wajahnya yang merah sepenuhnya.

"Aku tidak bertanya karena tahu Fang pasti sibuk seperti yang terlihat, tapi jika benar, biasanya pun juga Fang tidak akan menolak." Balas Boboiboy menghela napas, menyeruput minumannya malas.

"Awas saja jika landak itu selingkuh! Aku akan memukulnya sampai kau tidak mungkin mengenalinya lagi Boboiboy, tenang saja.." Ying berkedut marah, meremas biskuit di genggamannya sampai hancur lebur seperti perempuan berkuncir dua itu siap melakukan pengeboman jika memungkinkan.

Boboiboy speechless, membatin agar Fang tidak menyulut kemarahan seorang seperti Ying terlepas dari apa yang ia ceritakan.

"Mungkin.. mungkin aku melakukan kesalahan tanpa disadari dan Fang pasti kesal karena itu," Boboiboy bergumam sendiri, manik almond miliknya meredup sedih.

Ying dan Yaya saling menoleh.

"Tenang saja, Boboiboy. Aku akan menendang dan menyeret lalu mencekik Fang sekuat tenaga untuk meminta maaf padamu!" Ying mengepalkan tangannya, api kemarahan membara di balik kacamata bulatnya.

"Tidak Ying, bukan seperti itu... Maksudku, mungkin ini hal sepele. Fang tidak pantas mendapatkan tendanganmu." Alih Boboiboy cepat sebelum Ying benar-benar melakukannya. Ia terkekeh membayangkannya.

"Bagaimana jika begini saja. Coba abaikan Fang dan lihat satu minggu ini apakah dia masih seperti itu," Yaya memberikan pendapat, tersenyum menenangkan dengan wajah ramahnya, membuat Boboiboy bernapas lega menyadari setidaknya ada satu temannya yang tidak bertindak berlebihan seperti apa yang dikatakan Ying.

"Dan jika Fang tetap seperti itu, aku bersumpah akan menunjukkan gerakan latihan karate yang sudah aku pelajari selama lima tahun." Lanjut Yaya memicing tajam.

Boboiboy merinding, dua sahabat perempuannya sama saja.

.

...

...

Jadi di sinilah Boboiboy, masih dengan celemek di tubuhnya, duduk termenung menangkup dagunya di counter kedai Tok Aba. Ia telah melakukan apa yang disarankan Yaya, dan dihitung sudah enam hari ia mengabaikan Fang. Tidak ada perubahan yang signifikan seperti yang Boboiboy harapkan, ia juga sudah tiga hari ini tidak ke rumah Fang untuk sekedar menyapa kekasihnya.

Boboiboy merasa sedih, bahkan Fang tidak repot-repot berniat menemuinya di kedai. Mungkin apa yang ia pikirkan benar, Fang sudah bosan padanya dan tinggal menunggu waktu sampai pemuda tampan itu meninggalkannya. Boboiboy merasakan matanya memanas hingga akhirnya ia menangis. Tok Aba yang melihatnya menghela napas, tak bisa berbuat banyak, Tok Aba menyuruh Boboiboy pulang untuk menenangkan diri, menggantikan posisi melayani pembeli.

Mengangguk sambil memeluk Tok Aba, Boboiboy kemudian berjalan menjauh. Pikirannya acak dan ia tidak berhenti menangis.

Boboiboy mengurung diri di dalam kamarnya, menangis oleh pikirannya sendiri sampai tertidur. Boboiboy tidak menghitung sudah berapa lama ia memejamkan mata saat terdengar ketukan di pintu kamarnya.

"Boboiboy, apa kau ada di dalam?" Itu adalah suara Fang, terdengar cemas di antara ketukan.

Bangkit secara spontan, Boboiboy membuka pintu, tersenyum menemukan wajah kekasihnya setelah tiga hari mereka tidak bertemu.

"Fang.." panggilnya serak, baru sadar ia berantakan setelah Fang bergeming menatapnya.

"Boboiboy, apa yang terjadi padamu? Oh, sebentar.. biar aku jelaskan," Fang dengan cemas memeluk Boboiboy, menangkup pipi yang sembab sang kekasih, merasa bersalah.

Boboiboy melepaskan pelukan dan mundur, ia panik pada pemikirannya tentang Fang yang mungkin akan mengatakan mereka telah berakhir.

"Ak.. aku tidak ingin mendengar," ucap Boboiboy bergedik, jantungnya berdebar ketakutan.

"Boboiboy, dengar... Aku tidak bermaksud dan itu tidak seperti yang kau bayangkan." Fang mencoba menjelaskan, khawatir dan kesal pada dirinya sendiri telah membuat kekasih manisnya mengeluarkan air mata.

Fang dengan cepat memeluk Boboiboy, mereka terjebak di atas kasur.

"Kau.. akan mengatakan kita berakhir sekarang? Tapi kenapa? Apa aku melakukan kesalahan? Kenapa kau tidak bilang sama sekali?" Boboiboy menangis di antara pelukan, menyuarakan pikirannya yang teracak.

Fang tertegun, hatinya merasa sakit. Ia membawa Boboiboy ke pangkuannya, memeluk tubuh kecil itu penuh sayang. Fang menghapus air mata, mencium bibir manis kekasih cantiknya untuk peralihan atensi.

"Boboiboy, dengar... Aku minta maaf jika membuatmu berpikir demikian. Aku tidak.. maksudku, aku sedang merencanakan liburan keluar negeri untuk melamarmu! Itu dua hari yang akan datang dan aku terlalu gugup merencanakannya apakah kau akan senang untuk kejutan saat para teman-temanmu telah mengajak liburan terlebih dahulu." Fang menjelaskan, sedikit tersipu mengakuinya.

Fang begitu mencintai Boboiboy dan sungguh ia tidak menyangka tindakannya selama beberapa minggu ini akan membuat Boboiboy berpikir bahwa ia akan meninggalkan kekasih manisnya. Tidak akan pernah, bahkan jika ia diberikan apapun yang tersisa di dunia. Menemukan kekasih hatinya yang berantakan bersama wajah sembab membuat Fang ingin memukul dirinya sendiri.

Boboiboy mengerjap, memerah malu mendengarkan penjelasan Fang yang kini mengeluarkan tiket pesawat dan kotak kecil dari saku jaket ungunya.

"Boboiboy.. aku mencintaimu."

"Fang.. ah, maaf aku.. aku tidak bermaksud menggagalkan rencana mu.." Boboiboy tidak bisa berkata-kata, menyalahkan dirinya sendiri bertindak semena-mena dan menuduh kekasihnya. Manik almond berpendar, merasa bersalah telah berkata yang tidak-tidak. Ia melihat sepasang cincin berkilau yang Fang sodorkan, tampak sangat cantik.

Fang terkekeh, memasang cincin ke jari tangan Boboiboy yang bergetar. Ia melihat lagi kekasih manisnya akan menangis dan Fang dengan cepat menahannya. Ia meletakkan dua tiket pesawat yang ia bawa, membawa Boboiboy ke dalam pelukannya erat seolah mengatakan betapa Fang mencintainya.

Boboiboy membalas haru, memeluk kedua bahu Fang dan mencium prianya. Mereka tertawa geli oleh perasaan yang begitu kuat di antara ciuman penuh gairah yang terjalin. Merasakan kembali sentuhan yang membuat mereka mengeluh bersamaan tanpa gangguan. Merasakan keintiman dari debaran jantung menggebu akan kasih sayang dan cinta yang meluap.

Boboiboy terengah-engah, baru menyadari bahwa ia telah terlentang di kasurnya dengan Fang yang menatapnya menggoda. Ia merasakan kulitnya terbuka dan Boboiboy bertanya-tanya bagaimana Fang bisa menanggalkan jaket dan kausnya di saat bersamaan tanpa ia sadari.

Menyadari sesuatu, Boboiboy menahan wajah kekasihnya, terkejut menyadari adanya hal yang berbeda.

"Fang, ada apa dengan wajahmu?" Tanya Boboiboy serak khawatir, baru menyadari jika itu adalah sebuah lebam yang cukup jelas, tepat di pelipis dan rahang kanan Fang.

Fang sedikit meringis atas sentuhan telapak tangan Boboiboy, mengingat jika dua teman perempuan kekasihnya itulah yang menyadarkan dirinya. Fang terkejut saat akan keluar rumah untuk menemui Boboiboy tiba-tiba sudah mendapatkan pukulan kencang di antara pelipisnya. Ying mengatakan semuanya, tentang kekhawatiran Boboiboy dan hal lainnya. Bersama Yaya yang menengahi, Fang menjelaskan cepat saat akan menerima pukul lagi sampai Fang menghela napas mereka berdua akhirnya mengerti, walaupun pada akhirnya ia menerima satu pukul lagi dari Yaya begitu mereka berjalan pulang.

Bergedik mengingatnya, Fang membawa tangan yang halus menjauh dari wajahnya, berbalik menekan bibirnya untuk mencium telapak tangan halus kekasihnya. Fang terkekeh kecil oleh tatapan cemas Boboiboy sebelum membawa sebelah jemarinya menyusuri pipi merona kesukaannya.

"Ah, itu.. Kau mempunyai teman-teman yang menarik. Tapi sekarang, mari lupakan itu sejenak dan gunakan suara seksi mu dengan benar." Balas Fang sugestif, menekan tubuhnya lebih jauh.

Boboiboy merasa wajahnya terbakar mengetahui arti dari tekanan, ia bisa melihat gairah di manik keunguan Fang yang memandangnya penuh puja. Dan saat ia bahkan tidak bisa tidak mengerang, Boboiboy tahu bahwa akan lebih baik ia tidak menceritakan hal seperti ini lagi kepada sahabatnya.

Fin -

ps : book satu ini hanya untuk oneshoot, silahkan jejaknya jika berkenan..

fic ini sudah lebih dulu up di wattpaad dan AO3