Happy reading
My little Family
ICHADRAY

.
.

Pria manis dengan senyum tulus itu memasang celemek dengan pin kedai cokelat Tok Aba, merasa masih pas di tubuhnya bahkan setelah ditinggal begitu lama. Boboiboy dengan semangat membantu Tok Aba membawa barang, menyusun semua persediaan cokelat di tempat yang seharusnya berada.

Mereka telah memutuskan jika hari ini akan menemani sang Kakek menjaga kedai cokelatnya yang terkenal. Puas pada hasil susunan yang sempurna, Boboiboy menarik senyuman hangat, mengalihkan perhatiannya kepada anak-anak yang kini menyusul bersama Ochobot di belakang seraya memanggilnya.

"Mom..!" Langkah kecil dan tawa manis memanggil sang Ibu itu sungguh menggemaskan.

Boboiboy dan Ochobot telah mendandani semua kembaran dengan setelan kaos dan celana panjang santai dengan warna favorit masing-masing si kembar. Membuat tampilan imut yang benar-benar bisa mengalihkan mata semua orang.

Halilintar berjalan santai bersama Solar, Ice dan juga Ochobot yang memantau. Sedangkan kembaran lainnya tampak berlarian mencoba meraih sang Ibunda duluan. Itu terlihat seperti lima kembaran lainnya tengah melakukan sebuah kompetisi, Boboiboy menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa meninggalkan senyuman menyadari bahwa Gempa, Taufan, Blaze dan Thorn kini mendekat semangat.

"Blaze duluan! Kedai Atok!" Blaze berteriak sambil tertawa, melompat-lompat kecil di dalam kedai yang terbuka.

"Curang! Tidak ada yang menang! Aku yang duluan!" Taufan menyahuti, cemberut lalu membalas hal yang sama ke arah Blaze yang menjulurkan lidah mengejek.

"Kita semua kalah, Mommy yang pertama kali sampai." Gempa menengahi, tertawa pelan saat Taufan dan Blaze bersama-sama cemberut ke arahnya.

Boboiboy tertawa, mengusap puncak kepala anak-anaknya yang manis.
"Jadi, Mom yang menang hm? Apa hadiahnya?" Sang Ibu berjongkok, mencubit lembut pipi gembul Thorn yang tertawa memeluk bahunya.

"Ciuman untuk Mommy!"
Jawab mereka serempak, tiba-tiba beralih menerjang Boboiboy yang semakin tertawa geli merasakan wajahnya dicium penuh kasih oleh anak-anaknya. Mereka tertawa bersama.

.

.

Ochobot memakaikan Boboiboy cilik itu sebuah apron kecil, bersama pin nama khusus yang cantik, para elemental itu kini terlihat sungguh menggemaskan. Tok Aba pasti sengaja membelikan mereka semua, mengingat terakhir kali mereka berkunjung adalah saat Gempa dan Thorn meminta apron yang sama.

Sedikit membenahi setelan terakhir Ice, Ochobot dan Boboiboy memulai hari begitu para pelanggan mulai berdatangan. Sang Ibu menyarankan agar tugas para si kembar dibagi berbeda, Karena tak mungkin melayani para pelanggan di tempat yang sama dengan kembaran cilik yang aktif.

"Mom! Boleh Taufan membantu? Boleh?" Si kecil Taufan mendekat manis, menarik baju Boboiboy yang tengah duduk menunggu.

"Mom! Apa yang bisa Blaze lakukan?" Blaze bertanya, dengan semangat memamerkan cengiran lebarnya, manik oranye membara itu bersinar.

"Mom! Ada pelanggan." Ice menyahuti kalem, ia duduk sambil menguap sebelum menatap beberapa remaja yang baru sampai.

"Mommy, apa pertama? Susu atau gula?" Solar menimpali, menggeser kursi agar ia bisa naik dan menjangkau counter, mengangkat sekaleng susu bubuk dan gula.

"Pertama adalah bubuk cokelat." Gempa menjawab pelan, membantu si bungsu Solar menyiapkan alat-alat. Tampak juga Halilintar yang menuangkan air.

Boboiboy tersenyum, sedikit kualahan oleh ocehan anak-anak yang aktif. Ia meminta Ochobot untuk membuatkan pesanan selagi ia menghadap para elemental yang telah ia panggil untuk dekat bersamanya. Kembaran manis itu sangat menggemaskan, tanpa ada kemungkinan bahwa Boboiboy meminta bantuan, anak-anaknya antusias mengganggu untuk sekedar membuat tangan mereka bisa bergerak. Bukan artinya Boboiboy memerlukan tenaga para si cilik, tapi melihat semangat mereka yang menggebu untuk membantu, ia tak bisa menolaknya. Ia membuat layanan untuk membagi rata apa yang akan dilakukan si kembar, baru permulaan mereka berniat membantu dan Boboiboy berasumsi beberapa menit yang akan datang para elemental akan teralihkan oleh apapun yang menarik perhatian. Selagi itu masih belum jelas, Boboiboy mulai menjelaskan.

"Sayang.. akan ada banyak pelanggan, Mom dan Ochobot juga Tok Aba akan ada di dalam kedai, bagaimana jika kita membagi tugas?" Boboiboy mengalihkan, dengan naluri Ibu ia mengecup pelipis Ice yang tidur duduk di pangkuannya.

Melihat anak kembarnya yang mengedip setuju, sang Ibu tersenyum lembut. Ia mulai membagi,
"Taufan, Blaze dan Gempa, bertanya juga mencatat pesanan di meja luar. Sedangkan Hali, Thorn dan Solar, membantu jika Atok dan Ochobot membutuhkan bantuan di sekitar, seperti mengelap meja atau gelas. Bagaimana?"

Manik Indah berbeda warna itu melebar, cerah untuk membuktikan jika mereka setuju hingga tak bisa mengatakan apa yang lebih baik. Perasaan hangat dan tertata oleh sang Ibu membuat elemental mantap sayang.

"Mencatat pesanan?! Di luar? Cool.." Taufan tersenyum lebar, terburu-buru mengambil nota yang ada di atas meja. Celemek mungil itu telah dilepaskan.

"Itu sangat keren! Blaze mauuuu!" Blaze melompat senang, melepaskan celemek di tubuhnya sebelum berlarian mengikuti Taufan.

"Sayang.. pelan-pelan, oke! Kalian bisa terjatuh," Boboiboy menggeleng-gelengkan kepalanya maklum, tersenyum lembut saat dua kembaran hiperaktif itu berbalik ingin mencium pipinya.

"Okey, Mom!" Blaze dan Taufan berucap serempak, terkikik geli merasakan balasan cubitan gemas sang Ibu.

"Gempa, Mom mengandalkan mu!" Boboiboy berbisik, mengedipkan sebelah mata jenaka. Ia tahu Gempa akan menjaga para adik kembarnya, Kakak nomor dua itu selalu membuat sang Ibu tersenyum hangat akan tindakan bijaksana yang Gempa lakukan.

"Believe me, Mom!" Balas Gempa juga menarik senyuman hangat duplikat Ibunya. Boboiboy mengangguk, tertawa gemas mengecup singkat surai berantakan Gempa sebelum anaknya itu menyusul Blaze dan Taufan.

Pria tujuh anak itu beralih pada Halilintar, Thorn dan Solar yang melangkah kaki kecil mereka ke arah Ochobot. Merasa Halilintar bisa menjadi contoh adik-adiknya, Boboiboy melirik ke arah Ice di dalam pelukannya. Tersenyum gemas melihat kembar lima serba biru muda yang tidur nyenyak tak terganggu.

"Ice.. Tidur di rumah ya, sayang.." Boboiboy mengguncang tubuh mungil Ice, melepaskan apron baru mereka. Ia mengangkatnya untuk di gendong, terkekeh kecil menyadari pergerakan si tukang tidur yang meringkuk.

"Mum? Cookies.." Ice bergumam, memeluk kedua bahu Boboiboy sambil terpejam menikmati aroma cokelat sang Ibu yang menggelitik hidung mungilnya.

Pria manis tertawa, mengecup pipi gembul di depannya. "Tidur di rumah hm... Ada Dad di sana, Ice bisa menyusul ke kedai jika bosan." Ucap Boboiboy lembut, ia tahu Ice mungkin akan tidur lebih lama. Membawa Ice yang tidur ke kedai akan merepotkan orang-orang yang ingin memesan tempat, meskipun bukan artinya ia tidak bisa membuat Ice lebih baik di sana. Keram tubuh dan takutnya ada gangguan karena tidur di kedai bukanlah pilihan yang bagus.

Boboiboy mengingat Fang masih di rumah Tok Aba, beberapa file yang masuk sejak pagi hingga telpon adanya permasalahan anak magang di kantor membuat suaminya itu ingin menyelesaikan secepat mungkin. Boboiboy memaklumi, sekeras apapun ia mencoba agar Ayah dari anak-anaknya itu tidak perlu khawatir dan tetap mengerjakan pekerjaannya sebentar, Fang benar-benar merasa kesal oleh siapapun yang mengganggu liburan mereka. Sang Istri menyerah membuat Fang tidak perlu memikirkan liburan jika itu adalah pekerjaan penting, cukup pada perkataan yang diucapkan bawah Fang tak ingin mendengar alasan apapun saat liburannya bersama keluarga terganggu.

Meminta pemahaman Ochobot yang bekerja, Boboiboy berjalan ke rumah sembari menggendong Ice yang masih memeluknya manja. Menahan kekehan geli begitu berpapasan dengan Tok Aba yang membawa satu kardus cokelat menuju kedai.

"Ice, tidur?" Tok Aba tertawa pelan, menggeleng mengerti bahwa jam mungkin sudah cukup siang untuk para elemental tidur, dan jika kembaran lainnya tidur di jam yang sama, tak heran kalau menemukan Ice bahkan sudah ada di tempat tidur duluan. Waktu bermain semalam dan kelelahan dari perjalanan yang panjang pasti membuat si kecil pemalas yang imut dan menggemaskan itu benar-benar kehilangan minat terjaga.

"Cookies.." Ice kembali bergumam, membuat Tok Aba dan Boboiboy terkikik lucu. Tak akan ada yang bisa memisahkan si kecil Ice dengan cookies favoritnya.

.

My Little Family

ICHADRAY

.

.

Ochobot kembali menyusun beberapa kaleng cokelat yang dibawa Tok Aba, tertawa gemas melihat Taufan, Blaze dan Gempa yang bercakap-cakap manis dari kejauhan. Ochobot telah meminta Halilintar mengelap meja counter, dan Solar yang juga mengelap gelas membantu.

"Ochobot! Atok.. Bagaimana cara membuat minuman cokelat?! Apakah kita mencampurnya dengan bunga dan tanah? Lalu memberikan semprotan parfum agar harum?" Thorn bertanya semangat, kedipan emerald polos itu bersinar menatap bubuk cokelat yang beraroma sangat enak. Menarik kursi dan memperhatikan Tok Aba meracik salah satu pesanan.

Tok Aba terkekeh, di iringi beberapa orang yang duduk memesan juga tertawa gemas. Pria tua menghentikan tangannya saat menakar cokelat di atas meja, mengacak rambut yang terdapat helaian putih di sisinya, cicit bersetelan hijau dan hitam itu bertanya dengan kepolosan menghibur. Bahkan Ochobot terbahak di belakang, bersama Halilintar dan Solar yang menghentikan kegiatannya hanya untuk melihat Thorn mengedip bingung.

"Bukan seperti itu, dan bahannya bukan terbuat dari bunga dan tanah, tak terkecuali parfum. Tok Aba punya resep rahasia, dan yang paling penting adalah cokelat yang diminum itu hasil olahan final dari pohon bernama cokelat." Ochobot menjelaskan, masih menahan dirinya agar tidak tertawa berlebihan memikirkan Thorn, mungkin bertanya seperti itu setelah melihat tampilan yang sama saat mereka bermain tentang lab campur cairan di belakang halaman.

"Cokelat dari pohon cokelat? Wow, benarkah?! Apa nama ilmiahnya Tok?" Solar berbinar-binar dengan apa yang baru ia ketahui, bertanya semangat dan mendekatkan diri di sebelah Thorn yang menganggukkan kepalanya paham.

"Theobroma cacao, tapi biasanya disebut kokao." Jawab Tok Aba tersenyum. Memuai kilau mata yang haus akan pengetahuan. Orang-orang di kedai terkiki gemas, merasa lucu oleh pesona para kembaran yang jarang mereka temukan.

"Lalu, apakah ada yang tahu jika asal tanaman cocao itu berasal dari Amerika Selatan?" Beberapa orang mulai tertarik ke arah percakapan dua kembar manis yang saling menoleh sebelum menggeleng. Percakapan berlanjut antusias dan Tok Aba tersenyum bangga melihat para elemental cilik yang menggemaskan.

..

..

"Ocho, letakan ke mana cangkirnya?" Halilintar mendongak, menatap sang pengasuh yang baru saja menutup telpon pemesanan. Wajah yang tampan dan manis dengan tambahan bola mata berwarna ruby memikat, meskipun ekspresi datar itu benar-benar menurun dari Fang.

"Di dekat kaleng susu, Hali.. terima kasih sudah membantu," Ochobot tersenyum hangat, berterima kasih atas bantuan kecil yang kembaran pertama itu lakukan. Langkah kecil hingga setelan merah dan hitam itu sangat menawan.

.

.

.

"Aku mencatat pesanan!"

"Apa yang kalian inginkan?!"

"Perkenalkan, namaku Taufan!"

"Oh, namaku Blaze! B.L.A.Z.E.. pakai Z bukan S!"

Dua kembaran aktif itu mulai mendekati para orang-orang yang singgah berniat memesan. Berucap terlalu semangat namun juga manis. Orang-orang yang melihatnya terpekik gemas, memuji bagaimana tiga kembar identik itu sangat lucu.

"Kalian yang mencatat pesanannya?" Salah seorang remaja bertanya penuh senyum, berjongkok agar lebih jelas melihat kembar cilik yang membawa nota dan pulpen siap menulis.

"Yes! Katakan apa saja!" Taufan berdiri tegak, menunjukkan senyum lebarnya yang manis.

"Oh, Blaze menyarankan hot chocolate special..!" Blaze menyahuti, berbinar-binar pada menu yang tertampil di atas meja.

.
"Cookies Atok juga enak!" Taufan menimpali.

"Es cokelat juga enak! Blaze suka! Oh dan itu..- "

"Permisi, kami akan mencatat pesanan." Gempa memotong, memulai dengan senyuman hangatnya, memberikan satu contoh kepada Taufan dan Blaze agar tidak berteriak pada pelanggan tentang kesukaan mereka. Sang Kakak hanya memaklumi cengiran Taufan dan Blaze yang cengengesan.

Para pelanggan tertawa, merasa terhibur oleh para kembar cilik yang bertingkah imut juga menghibur. Beberapa orang bahkan ada yang merekam karena terlalu gemas.

Mendapatkan pelajaran dari Gempa tentang bersikap baik, Taufan dan Blaze mulai mencatat, tersenyum bangga mengetahui para pelanggan menyukai mereka.

..

"Ochobot! Ini pesanan meja nomor satu dan dua!" Taufan berucap semangat, menyerahkan nota yang sudah ia tulisi menggunakan pulpen.

"Ocho! Ocho! Blaze juga dapat pesanan banyak! Ada empat!" Blaze juga menyerahkannya antusias, melompat kecil karena senang.

"Taufan, Blaze... nanti, Ochobot sedang mengambil bubuk cokelat." Gempa menghela napas, menjauhkan dua adik kembarnya yang kelebihan energi merecoki Ochobot yang cukup sibuk.

"Oh, banyak sekali pelanggan hari ini. Aku akan mengambilnya, terima kasih bantuannya." Ochobot mengambil nota yang disodorkan Gempa, mengucapkan terima kasih lalu dihadiahi dengan pelukan di kakinya sebelum tiga kembaran itu pergi mencatat lagi. Ia manarik senyum gemas melihat nota yang ada di tangannya, agak berantakan memang, tapi masih bisa dibaca. Ia tidak keberatan, elemental sekarang sudah bisa menulis dan membaca.

Pemuda manis mulai mengambil pesanan, persepsi yang masuk akal pesanan mereka ada begitu banyak karena sekarang adalah akhir pekan dan semuanya libur. Manik tosca cantik itu melirik Halilintar yang mengernyit terganggu oleh ocehan Solar dan Thorn yang bertanya apapun pada Tok Aba sampai menyahuti pelanggan yang gemas oleh rasa ingin tahu mereka.

"Hali, bisa bantu ambilkan beberapa kaleng susu?" Ochobot mengalihkan, memberikan tanggung jawab pada si kecil Hali yang tanpa pikir panjang melakukan dengan wajah yang benar-benar tanpa senyuman. Ochobot berpikir bahwa Halilintar mungkin akan menjadi Kakak yang dienggani oleh Kharismanya.

...

..

.

My little Family
ICHADRAY

.

..

...

Boboiboy membawa masuk Ice yang tidur di gendongannya, melepaskan sepatu mungil yang membalut kaki si kecil dengan perlahan. Ia melangkah santai, tak terkejut menemukan Fang yang masih fokus ke arah laptop yang terbuka di atas meja.

Fang menghentikan ketikan saat pintu terbuka, memandang sang Istri yang menggendong salah satu putra kembar mereka. Ia tersenyum dan mendekat, kerutan kesal di dahinya hilang begitu melihat Boboiboy terkekeh geli mengeratkan pelukan di tubuh si kecil Ice.

"Kenapa?" Tanya Fang menunduk untuk melihat wajah Ice yang nyenyak, tampak nyaman oleh pelukan.

"Hanya tidur, Ice akan terganggu jika dibiarkan tidur di kedai, aku akan membawanya ke kamar." Balas Boboiboy terkekeh kecil, merasa hangat saat Fang mengecup pelipis sang anak. Ia tak bisa tidak tersenyum sebal begitu suami tampannya berbalik mencium pipinya yang merona, ungkapan kasih sayang Fang untuk menghasilkan Ice yang merengek terganggu.

Boboiboy mendengus, mengabaikan Ayah dari anak-anaknya itu tertawa pelan. Ia membawa Ice ke kamar mereka dan menidurkannya, tak lupa meletakkan cookies kegemaran si kecil di samping kamar, tepat di atas lemari kecil agar Ice tidak kesulitan mengambilnya setelah bangun. Anak mereka yang satu itu sangat suka tidur.

Keluar dengan pintu yang di tutup perlahan, Boboiboy mendekati sang Suami yang sudah kembali pada laptopnya.

"Masih ada masalah?" Tanya Boboiboy cemas, duduk di sebelah Fang, mencoba untuk mengerti arti dari grafik yang ada di layar.

"Hampir selesai, para anak magang itu hanya salah memeriksa sistem." Fang menaikan kacamatanya, menarik Boboiboy agar lebih dekat untuk dipeluk. Ini sungguh melelahkan dan bersantai sebentar bersama istrinya terdengar bagus.

Boboiboy membiarkan dirinya dipeluk dari samping, ia membalas senyum menenangkan, merasa dicintai saat Fang membawa dagunya ke arah sang pria untuk sebuah ciuman di bibir. Manik almond hangat itu menutup, menikmati kecupan sayang suaminya, Boboiboy berpegang pada dua bahu kokoh begitu menyadari dirinya ternyata telah duduk di pangkuan Fang.

Fang menyeringai, menyesap wangi manis sang istri. Ia melepaskan ciuman hanya untuk menemukan wajah Boboiboy yang memerah mendelik padanya. Terengah-engah di pelukannya yang erat dan menggoda, sejenak Fang teralihkan dari laptopnya yang menyala. Bola mata keunguan berpendar, ia begitu mencintai Ibu dari anak-anaknya.

"Fang, selesaikan.. Elemental ada di kedai." Boboiboy cemberut, turun dari pangkuan Fang yang protes. Ia bisa melihat suaminya yang mencoba meraihnya kembali, dan Boboiboy kini mulai merencanakan agar ia bisa menjadikan tubuhnya kuat saat bahkan ia kembali terjebak oleh pria yang sudah menjadi seorang Ayah. Terhempas pelan ke sofa dan di kurung oleh tangan berotot bersama seringai yang selalu ia temukan saat mereka berada di kamar sendirian. Suaminya itu benar-benar..

.

.

TBC

Silahkan jejaknya jika berkenan..