Chapter 4
.
.
.
Setelah bersusah payah menaiki ratusan anak tangga, mereka akhirnya tiba didepan sebuah Goa yang gelap. Mirabel pernah menyusup kedalam ruangan ini untuk menemukan rahasia menghilangnya tío Bruno. Hal terakhir yang Mirabel lakukan adalah ketika ia menemukan kepingan-kepingan hijau yang begitu mencolok sebagai petunjuk untuk mencari jawaban apa yang akan terjadi pada Casita.
Karena Casita sudah diperbaharui, harusnya ruangan ajaib mereka ikut berubah, tapi entah mengapa kamar tío Bruno tidak mengalami perubahan sama sekali kecuali ratusan anak tangga yang ada.
Dan inilah, tujuan mereka.
"Uuuggrrhhhhhh!" Mirabel akhirnya tersungkur ke tanah, napasnya terengah-engah.
"Mira, kau baik-baik saja?" tanya Luisa cemas, langsung memegangi bahu adiknya.
"Apakah kau tidak berniat membuat katrol untuk naik keatas daripada menaiki tangga, tío Bruno?" tanya Mirabel.
Bruno tertawa kecil sambil mengangkat bahu. "Haha! Yah, aku sebenarnya juga membenci kamarku. Terlebih, aku sudah terbiasa hidup di balik dinding bersama tikus-tikus dan drama telenovelaku," ujarnya dengan nada ceria, mencoba meringankan suasana.
"Ya lalu bagaimana kita bisa melewati celah besar itu?" tanya Luisa, jarinya menunjuk ke arah celah yang memisahkan tangga menuju sebuah Goa.
Bruno menggaruk-garuk kepalanya. "Ehhhh kalian tahu? aku biasanya langsung melompat ke arah Goa karena tempat ini tidak memiliki jembatan. Dulu memang ada, tapi sekarang tidak semenjak aku bersembunyi dibalik tembok."
Luisa sedikit terkejut, matanya melirik lagi ke celah tersebut dan langsung menoleh ke Bruno. "Jadi kita harus benar-benar melompat?"
"Tidak perlu melompat." sahut Mirabel, dia langsung berdiri membersihkan sisa-sisa butiran pasir di roknya. "Aku pernah masuk kesini dan langsung menggunakan tali untuk menyebrangi celah mengerikan ini."
"Tunggu, apa? kau pernah masuk ke ruanganku?" tanya Bruno.
Mirabel hanya tersenyum gugup dan mengangkat bahu. "Kau tahu.. dulu aku sangat penasaran mengapa kau menghilang dan mengapa semua orang tidak ingin membicarakanmu. Jadi aku harus memasuki ruangan ini untuk mencari kebenaran."
Bruno menghela nafas dengan dramatis. "Ayolah! aku bahkan tidak menyangka kau berani masuk kedalam menara ruanganku. maksudku.. bahkan Pepa dan Julietta tidak akan sanggup menaiki ratusan anak tangga yang rapuh seperti itu."
Luisa langsung mengambil tali dan melemparnya keatas sudut pintu Goa. Kemudian, Mirabel dan Bruno langsung berpegangan pada dirinya karena mereka akan segera berayun.
"Oke, ini dia... satu.. dua...tigaaaaaaaaaaaaaaa!"
"aaaaaaaaaa!"
Mereka berteriak, berayun melewati celah jurang yang sangat dalam, Mirabel bahkan tidak berani melihat kebawah saking dalamnya, tetapi beruntung bagi Luisa yang berhasil mendarat dengan sempurna tepat didepan Goa.
"Woahh..! aku bersumpah yang tadi sangat mengerikan!" ucap Bruno.
"Baiklah, bisa kita bergegas masuk kedalam? karena malam hari semakin larut!"
Dan ketiganya langsung masuk kedalam Goa.
Bruno mulai mempersiapkan alat-alat ritualnya. Ia melempar garam dan gula, lalu mengambil guci berisi butiran pasir dan berjalan membentuk pola lingkaran. Cahaya lilin dari tangan Mirabel menari-nari di dinding goa, menambah kesan magis pada ritual tersebut.
"Baiklah! Ini dia. Aku harap kalian siap melihat apa yang terjadi dalam visiku. Tapi... aku agak sedikit khawatir. Jika kau berkata bahwa lilin keluarga menghitam, apa yang akan terjadi?" tanya Bruno lagi, sedikit cemas, matanya memandang kedua keponakannya dengan serius.
"Familia kita akan menjadi jahat, tío. Itulah yang aku khawatirkan sekarang. Terlebih, aku dan Luisa menemukan ada yang aneh dengan Isabela," kata Mirabel, sambil membuka karung yang berisi tanaman hitam berduri.
Bruno berkedip heran, mengamati tanaman hitam itu dengan raut ngeri. Duri-durinya tampak lebih tajam daripada bunga mawar biasa. "Oh... itu mengerikan," Bruno bergidik ngeri, sedikit menjauh dari tanaman itu.
Luisa mengangguk pelan. "Benar, tío. Kau mendengarnya sendiri saat makan malam tadi, Isabela menjelaskan bahwa ada eksperimen tanamannya yang gagal. Salah satunya ini, kami menemukannya di ladang saat mengumpulkan keledai. Dan... aku khawatir, jika terjadi sesuatu pada kakak..."
"Tenang, kita akan menemukan petunjuknya," kata Bruno, menenangkan Luisa, tangannya menyentuh bahunya dengan lembut.
Mereka bertiga duduk saling berhadapan dan menggenggam tangan, membentuk lingkaran yang kuat.
"Baiklah... bersiaplah, ini dia," kata Bruno, menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
Sekeliling mereka perlahan membentuk pusaran kecil yang semakin membesar seperti badai. Pusaran itu terus berputar hingga debu pasir seolah menyala menjadi hijau. Ini adalah gift milik Bruno, kemampuan untuk melihat masa depan. Mirabel dan Luisa menatap tío mereka dengan raut cemas, sementara Bruno berusaha tetap tenang, meskipun ketegangan jelas terlihat di matanya.
Kedua matanya menjadi hijau, tanda gift-nya mulai aktif.
"A-apa kita akan menemukan jawabannya?!" tanya Luisa, suaranya hampir tak terdengar karena pusaran angin di sekelilingnya.
"Serahkan pada tío Bruno! Dia akan melihatnya!" teriak Mirabel, berusaha agar pasir tidak masuk ke mulutnya.
Pusaran angin semakin kuat, Mirabel dan Luisa hampir terhempas tetapi mereka terus berpegangan pada tangan Bruno.
"Itu dia! Perhatikan yang di atas!" perintah Bruno. Mirabel dan Luisa melihat ke atas, ada sesuatu yang mulai membentuk visi Bruno.
Mereka melihat lilin milik Abuela, masih bercahaya.
"Itu lilin Abuela!" kata Luisa.
Mirabel memperhatikannya lagi. Lilin milik Abuela yang tadinya bercahaya seketika berubah menghitam.
"Oh tidak, lilinnya menghitam, kau benar Mira! Ini seperti yang tak bisa kuduga!" kata Bruno, suaranya bergetar dengan kekhawatiran.
"Teruskan tío! Kita masih harus menemukan jawabannya!" ujar Mirabel dengan tekad bulat.
"Apa kalian yakin?! Ini mungkin tidak berjalan baik!"
Kedua sobrina-nya mengangguk cepat. "Benar! Teruskan tío Bruno!"
"Baiklah! Masih ada yang bisa kuperlihatkan!"
Kemudian, Visi berganti ketika struktur rumah Casita berubah, tidak lagi penuh warna cerah melainkan lebih gelap dan kusam, seperti rumah kosong yang telah lama ditinggal. Mirabel sulit mempercayai apa yang dilihatnya, apa yang akan terjadi pada rumah mereka?
Lalu visi berpindah lagi, menampilkan warga Encanto berbondong-bondong melarikan diri dari sesuatu. Kemudian muncul sebuah bunga raksasa yang hampir mencelakai mereka.
"Ah! Itu... bunganya Isabela!" kata Luisa panik.
"Oh tidak, ini buruk," Bruno mulai menunjukkan tanda-tanda kekhawatiran. Mirabel masih mengamati setiap visi tentang apa yang terjadi pada Casita dan familia-nya.
Visi berlanjut menampilkan cuaca di Encanto yang tak menentu, masyarakat yang keracunan makanan, dijahili habis-habisan, dan akhirnya kota menjadi sunyi. Satu scene terakhir menunjukkan sebuah pintu misterius yang belum pernah dilihat oleh keluarga Madrigal. Pintu itu tanpa corak, berwarna hitam seakan warnanya dapat menghisap segalanya.
"Ini gawat..." gumam Mirabel cemas.
Seketika, Bruno menghentikan kekuatannya. Pusaran angin perlahan melambat, menyisakan butiran debu yang masih berterbangan.
"tío Bruno! Kenapa berhenti?" tanya Mirabel.
"Maaf, aku tak bisa memprediksi lebih jauh. Hanya bingkai ini yang menangkap salah satu gambaran masa depannya, sebuah pintu hitam." ucap Bruno, membersihkan sisa pasir dari bingkai hasil gift-nya.
"Jadi penyebabnya pintu misterius itu?" tanya Mirabel.
"Jika karena pintu tersebut lantas mengapa Casita tidak memberitahu kita?" tanya Luisa lagi.
Bruno menggaruk kepalanya dengan ekspresi bimbang. "Ehhh... entahlah. Aku yakin Casita tidak pernah mempunyai pintu ini. Aku penasaran dimana pintu hitam ini muncul."
"Ga-gawat, apakah aku akan menjadi jahat? Itu tadi tidak ada di masa depan, kan?! Iya kan?!" Luisa mulai panik.
Bruno berusaha menenangkan sobrina-nya, mengetahui Luisa sangat mudah mengalami panic attack. "Luisa! Tenang, oke? Tenang. Itu tak terjadi padamu."
"Tapi bagaimana kalau iya?!" tanya Luisa lagi sambil memegangi kepalanya, benar-benar panik.
"Selama kita bisa mencegahnya dari sekarang, aku yakin hal itu takkan terjadi. Apa kalian tadi memastikan lilin tetap menyala?" tanya Bruno.
Luisa dan Mirabel mengangguk cepat.
"Benar tío, lilin milik Abuela masih menyala seperti biasanya. Aku berusaha mencari tahu apa yang menyebabkan hal itu terjadi. Ini adalah rahasia kita bertiga, jangan pernah memberitahu keluarga sampai kita bisa mencegah inti permasalahannya," jawab Mirabel dengan serius.
"Ehhh sebenarnya aku setuju dengan idemu, Mira. Tapi kita tak bisa merahasiakannya dari keluarga," kata Bruno, matanya menyiratkan kebimbangan.
Mirabel menghela napas berat. "Aku tahu, tío. Aku tahu. Tapi... aku tak ingin membuat keluarga kita jadi khawatir. Aku mohon, untuk kali ini kita harus menjaga rahasia sebisa mungkin. Meskipun nanti mereka akan mengetahui ada kejanggalan, kita harus menutupinya. Aku sangat memohon bantuanmu, kita harus menyelamatkan familia apapun yang terjadi."
Bruno tertegun, memejamkan mata sembari menghela napas berat. Memang benar, memiliki rahasia dari keluarga bukanlah hal yang baik, tetapi ia juga mencintai keluarganya.
"Baiklah," Bruno mengangguk. "Kita akan mencari penyebab masalah ini sebelum semuanya terjadi. Luisa, Mira, pastikan familia tidak mengetahui ini ya. Aku harap Dolores juga tak mendengar apa yang kita lakukan di sini."
"Ehhh, ruanganmu ini kedap suara kan?" tanya Luisa.
"Pendengaran Dolores memang sangat tajam, tapi aku bisa memastikan kamarku aman dari jangkauannya. Kalau begitu, ayo keluar dan cari pintu misterius itu."
Mereka pun sepakat dan memutuskan untuk tidak tidur. Dengan tekad bulat, mereka keluar dari goa, memasuki kegelapan malam yang penuh misteri, berharap menemukan jawaban sebelum semuanya terlambat.
Malam semakin larut...
La familia Madrigal sudah terlelap dalam tidur mereka kecuali Luisa, Mirabel dan Bruno. Mereka memang sengaja untuk tidak tidur karena ingin mencari penyebab dari segala masalah yang akan terjadi dimasa depan.
Ketiganya berada di dapur untuk menyiapkan lilin. Mirabel sedari tadi sudah mengacak-acak isi laci sampai ia harus mengeluarkan sebagian bahan masakan untuk sarapan pagi hanya untuk mencari korek. Ahhh mama... maaf, Mirabel bergumam. dia tak bermaksud membuka laci favorit ibunya ini secara sembarangan.
"Baiklah, aku suda menemukan koreknya, kita nyalakan lilin ini. ada lagi yang dibutuhkan?" tanya Mirabel.
Sambil mengamati sekeliling diluar dapur, Luisa pun menggeleng. "Tidak Mira, itu sudah cukup"
"Dan perrmen!" ucap Bruno.
"Permen?" Mirabel menaikkan sebelah alisnya.
"Itu mencegah rasa kantuk, jika memakan permen, aku bisa fokus." Bruno langsung mengunyah tiga permen, kemudian dia membuat gelembung permen hingga pecah.
"Baiklah, tapi jangan bilang pada mama kalau permennya kau yang makan ya." kata Mirabel.
Bruno mengangguk setuju. "Baik, itu cukup. sekarang kita bisa mulai memeriksanya dari lantai dasar. dan kemudian ke lantai dua. Pastikan kalian mengendap-endap dengan baik."
Kemudian Bruno memberi gestur tangan pada kedua sobrina-nya untuk keluar dari dapur.
Dan Mereka bertiga langsung berjalan menelusuri setiap deretan pintu didalam Casita.
Semenjak Casita runtuh, La Madrigal Familia dan warga Encanto bersama-sama membangunnya kembali dan membuat arsitektur bentuknya mirip dengan Casita yang dulu. Sebagai informasi, Casita akan membesar dengan sendirinya menyesuaikan jumlah anggota keluarga Madrigal yang mungkin akan semakin bertambah.
Mereka berjalan sebisa mungkin tanpa menimbulkan suara. Luisa memperhatikan dari sisi lorong kanan Casita, sementara Mirabel yang sebelah kiri. Misi 'rahasia' mereka berjalan cukup baik di 5 menit pertama sebelum-
Crack!
Bruno tak sengaja menginjak ranting kayu.
Luisa dan Mirabel memberinya tatapan tajam. Bruno hanya terkekeh bodoh sambil menaikkan bahu.
Mereka mengelilingi lantai dasar Casita tanpa adanya gangguan, berjalan melewati bawah tangga, melewati deretan jendela dan terakhir, Mirabel berhenti didepan sebuah gudang yang letaknya paling ujung didalam Casita. Seingatnya, pintu gudang ini berisi barang-barang bekas yang pernah dipakai orang tuanya. Bahkan sepeda lama milik papa-nya masih tersimpan didalam sini. Terakhir tia Pepa membuka pintu ini untuk menyimpan laci lamanya yang sudah lapuk.
"Kita ke lantai dua." jawab Mirabel.
Kemudian, mereka bertiga naik ke lantai dua.
Tidak ada yang berbeda dari suasana lantai dua kecuali lilin Abuela yang masih menyala dengan jelas diatas sana. Luisa dan Mirabel berpencar untuk mencari pintu hitam, sementara Bruno berjalan melewati kamar Antonio. Saat dia masih sibuk mencari pintu hitam, Mirabel tidak sengaja bertemu dengan burung Tukan peliharaan Antonio.
"Eh?"
Burung Tukan tersebut mengerjapkan matanya, kemudian hendak membuka mulut sebelum Bruno berhasil menutup paruh besarnya, dia berharap hewan ini bisa menjaga rahasianya dari Antonio.
"Sshh, dengar. aku minta padamu jangan beritahukan apapun pada Tonito, kau mengerti?" desis Bruno pada burung tersebut.
Yah, dia hanya seekor burung. Tukan itu takkan mengerti dengan apa yang Bruno ucapkan, tapi dia langsung terbang menjauh dari area balkon kamar.
Bruno hanya menggelengkan kepalanya dan kembali melakukan misi.
Sementara itu, Luisa berjalan melewati pintu Camilo, kemudian Dolores. oh, Luisa harus sangat berhati-hati karena pendengaran Dolores sangat tajam. dia berusaha berjinjit tanpa mengeluarkan hentakan suara lantai. Dia hanya berharap kalau tubuh besarnya tidak menyenggol apapun-
Prangg!
Yap, menyenggol vas kecil.
Mirabel dan Bruno langsung menoleh ke sumber suara, melihat Luisa berusaha mengumpulkan pecahannya. Luisa sendiri membuka mulutnya dan memberi kata 'los siento..' karena tak sengaja melakukannya. Luisa bersumpah dia tidak melihat vas kecil yang diletakkan disamping kamar Dolores, sejak kapan benda itu ada disini?
Kemudian, Mirabel...
Mirabel sudah berjalan melewati deretan pintu dari kamar Antonio menuju kamar milik dirinya. dan dia tidak menemukan pintu hitam sepeti yang Bruno prediksi.
"Tidak ada pintu hitam" Mirabel bergumam.
Luisa dan Bruno berkumpul lagi didepan kamar Mirabel.
"Aku juga tidak menemukannya." sahut Bruno.
"Aku juga tidak, tapi maaf aku tidak sengaja memecahkan vas bunga milik Dolores." sambung Luisa, merasa bersalah.
Perhatian Bruno tertuju ke lilin milik Abuela yang masih menyala dengan normal. dan juga, setelah memeriksa seluruh isi Casita, tidak ada tanda-tanda yang janggal. "Pintu hitamnya mungkin sedang tidak muncul. tapi aku kalaupun ada, Casita harusnya memberitahu kita jika ada sesuatu yang aneh..."
"Benar, iya kan Casita? apa kau bisa memberitahu kami jika ada hal yang aneh disini?" tanya Mirabel, menatap langit-langit lorong.
Casita hanya merespon tanggapan tersebut dengan mengangkat potongan dua lantai kayu sebagai gestur seperti 'mengangkat bahu'.
Akhirnya, mereka bertiga bernafas dengan lega.
"Aku bersyukur kita tidak menemukan pintu itu sama sekali." kata Luisa, dia langsung bersandar ke dinding.
"Ya sudah, karena kita memeriksanya dengan detail. yang paling terpenting adalah lilin milik Abuela masih normal, dan besok pagi juga normal, begitu seterusnya semua adalah normal." ucap Mirabel, menekankan kata normal sebagai bentuk kepastian.
"Begini saja, jika kalian menemukan kejanggalan, segera beritahu aku. kita mungkin bisa melakukan patroli rutin untuk memastikan kalau pintu hitam itu tidak ada."
Luisa dan Mirabel mengangguk setuju. "Kau benar, tío Bruno."
"Bagus, sekarang kembali ke kamar masing-masing. Besok pagi familia pasti akan menanyakan kemana kalian jika terlambat ke ruang makan."
Akhirnya, Mereka memutuskan kembali ke kamar masing-masing.
Sebelum Mirabel memasuki kamarnya, dia menoleh lagi ke lilin milik Abuela. Benda itu masih bercahaya dengan normal, setidaknya untuk saat ini. meskipun Mirabel masih memiliki sedikit kekhawatiran, tapi dia berharap tidak ada hal buruk apapun yang terjadi pada familia-nya.
Tidak, tidak akan.
Mirabel memasuki kamar dan beberapa saat kemudian... pintu hitam muncul disamping kamarnya.
Pagi hari kemudian
Dolores keluar dari kamarnya dan mendapati vas bunga kecil miliknya hilang.
"Hm, kemana vas bunga milikku?" Dolores bergumam heran, padahal vas bunga itu adalah hadiah pemberitan dari Mariano seminggu yang lalu saat mereka sedang jalan-jalan di pesta panen buah.
TO BE CONTINUED
