Bab 11: 16 Oktober 2014
"Selamat ulang tahun Naru-chan!"
Kushina memeluk Naruto dengan erat sambil menciumi seluruh pipi Naruto begitu Naruto turun dari lantai dua untuk sarapan.
"Terima kasih Bu," kata Naruto sambil memeluk Kushina. Mereka berjalan sambil berangkulan menuju meja makan.
"Selamat ulang tahun, Nak," kata Minato sambil menepuk pundak Naruto dengan pelan.
"Ibu sudah menelepon Kurama, dia bilang akan pulang malam ini. Kita akan tiup lilin setelah kakakmu pulang ya," kata Kushina. Naruto mengangguk. Dia sebenarnya tidak masalah jika tidak dirayakan, tapi sudah tradisi keluarga Uzumaki untuk merayakan ulang tahun dengan anggota keluarga yang lengkap. Lagipula, Kushina sudah bersemangat memasak mie goreng untuk sarapan pagi ini sebagai simbol panjang umur. Naruto tidak mau merusaknya.
Mereka bertiga sarapan dengan mie goreng buatan Kushina sebelum akhirnya Naruto pamit pergi ke sekolah dan Minato pergi ke Rumah Sakit. Rumah Sakit tempat Minato bekerja tidak satu arah dengan sekolah Naruto, sehingga dia jarang diantar oleh Ayahnya. Lagipula, Naruto memang lebih suka berangkat sendiri.
Tadi pagi, dia sudah mendapat pesan dari Sakura dan beberapa temannya yang mengucapkan Selamat Ulang Tahun dan notifikasi Facebook-nya berdering tanpa henti karena hampir semua teman dan saudara mengucapkan Selamat Ulang Tahun dan menandainya di Facebook. Naruto belum berkesempatan membalas dan mengucapkan terima kasih untuk semua ucapan yang dia terima.
Naruto berhenti sebentar di persimpangan jalan tempat biasa Sasuke sudah berdiri untuk menunggunya. Namun, kali ini si Uchiha muda sama sekali belum kelihatan. Biasanya, dia sudah bersandar di tiang Listrik dengan muka mengantuk dan kemeja acak-acakan. Apakah dia belum bangun? Belakangan ini Naruto terbiasa berjalan bersama Sasuke sambil mendengarkan semua omong kosongnya selama di perjalanan.
Naruto mengambil ponselnya dan melihat percakapan terakhirnya dengan Sasuke. Uchiha itu belum mengabarinya apapun dan biasanya dia selalu memulai percakapan.
Naruto: Apa kau belum bangun?
Hanya itu yang dikirim Naruto sebelum dia memasukkan lagi ponsel ke saku celananya. Dia bimbang, dia ingin mengunjungi rumah Sasuke, bertanya apakah Sasuke sudah berangkat lebih dulu tanpa menunggunya atau dia belum bangun. Namun, Naruto menimbang-nimbang apakah terkesan aneh jika dia mendatangi rumah Sasuke hanya karena penasaran. Dia memutuskan bahwa hal itu terlalu aneh untuk dilakukan.
Naruto memutuskan untuk melangkah menuju sekolahnya sebelum bahunya ditepuk dari belakang. Sasuke baru saja sampai. Bajunya masih tidak serapi milik Naruto dan dasinya longgar, tapi setidaknya atributnya lengkap.
"Oh…" Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Naruto.
Sasuke menyeringai dengan cara yang menyebalkan. "Kau menungguku, Ketua OSIS?" tanyanya sambil berjalan sambil merangkul pundak Naruto.
Naruto menepis tangan Sasuke yang melingkari pundaknya. "Jangan mengada-ada. Aku hanya kebetulan lewat."
"Benar sekali. Aku kira tadi aku melihat anak hilang," ujar Sasuke sambil terkekeh ringan.
Perut Naruto tergelitik ketika mendengar tawa singkat itu. Sasuke jarang sekali tersenyum, apalagi tertawa. Tawa yang jarang keluar itu seperti sebuah nada langka yang membuat Naruto bertanya-tanya sudah berapa banyak Sasuke tertawa seperti itu. Di depan siapa saja dia tertawa seperti itu? Siapa yang mampu membuat Sasuke tertawa seperti itu?
"Apalah," dengus Naruto. Dia berusaha berjalan lebih dulu supaya Sasuke tidak melihat wajahnya yang tampak aneh atau karena Naruto ingin mengenyahkan sensasi melilit di perutnya. Namun, Sasuke mengejarnya dan menyamakan langkah kaki mereka.
"Kalau begitu, kenapa kau mengirimiku pesan ini?" tanyanya sambil menunjukkan layar Blackberry-nya. Naruto menjadi semakin malu sampai dia menyesal mengirim pesan itu. Ternyata Sasuke sangat menyebalkan. "Apa tugas Ketua OSIS membangunkanku pagi-pagi, Hm?" tanya Sasuke.
Naruto menepis tangan Sasuke, membuat ponsel itu menjauh dari wajahnya. Dia merasakan seluruh wajahnya panas, tapi Naruto tidak bisa lari seperti dulu karena Sasuke pasti akan langsung mengejarnya. Dia berusaha mempertahankan ekspresi wibawanya (yang gagal dipertahankan).
"Itu salah kirim," gerutu Naruto akhirnya.
"Oh, jadi kau harus mendampingi anak baru lain selain aku?" tanya Sasuke dengan nada merajuk yang menyebalkan. "Aku merasa diduakan."
Naruto menyikutnya. "Jangan menyebalkan di pagi hari, Uchiha."
"Jadi, kau hendak mengirim pesan ini kepada siapa?" tanya Sasuke lagi.
"Kau tidak akan berhenti menanyakan hal itu ya?"
Sasuke menggeleng. "Aku harus tahu kalau-kalau kau mendua dariku."
"Sudah kubilang jangan berkata hal menyebalkan seperti itu!" seru Naruto kesal.
"Kau terlalu tsundere," ujar Sasuke.
"Aku tidak tsundere! Berhentilah bicara yang aneh-aneh!" seru Naruto dengan wajah merah padam. Gurita yang direbus pun akan merasa malu karena kalah merah dengan wajah Naruto saat ini. Sungguh cara unik untuk melewati pagi hari menuju sekolah!
"Oke, oke. Aku akan berhenti," ujar Sasuke menyerah. "Tapi aku akan menganggap kau memang mengirimnya untukku," lanjutnya. Naruto hanya memelototinya tanpa mengatakan apapun. Mereka berjalan dalam diam menuju sekolah.
Keheningan yang biasa melingkupi mereka berdua. Naruto tidak tahu apa yang dipikirkan Sasuke karena wajahnya selalu datar. Dia tidak bisa membaca Sasuke dari wajahnya, dari tingkah lakunya ataupun dari percakapan mereka. Sasuke berubah-ubah seperti ombak di laut, tidak bisa diprediksi. Satu hari dia menatap Naruto dingin, satu waktu dia menatap Naruto dengan tatapan merendahkan, tetapi di lain waktu ada kalanya Sasuke seperti ingin menembus Naruto dengan tatapannya. Tatapan sekelam malam yang berkilat seperti pisau yang telah diasah.
Kadang, Naruto tidak berkutik di bawah tatapan seperti itu. Jika Sasuke menatapnya dengan penuh amarah, ketika di awal-awal pertemuan mereka, Naruto tahu cara menghadapinya. Namun, jika Sasuke menatapnya dengan tatapan asing yang sulit didefinisikan, Naruto kebingungan. Dia merasa hilang arah dan tidak tahu harus berbuat apa. Dia seperti mempermalukan dirinya dihadapan Sasuke.
Apakah Sasuke menertawakan ketidaktahuan Naruto ketika dia menatapnya? Apakah Sasuke melakukannya dengan sengaja, agar Naruto tidak mampu memahami lelaki itu? Seharusnya, Naruto melangkah keluar sesaat dia tahu Sasuke bermasalah, tapi ada sesuatu dalam diri Sasuke yang terus menariknya mendekat, tidak mampu untuk berpaling. Apakah karena Naruto ingin tahu alasan di balik kilatan kemarahan Sasuke? Apa yang disembunyikan di kedua oniks sekelam mimpi buruk itu?
Tadi, dia sedikit berharap bahwa Sasuke mengatakan Selamat Ulang Tahun padanya, tapi pemuda itu tidak mengatakan apapun. Namun, itu wajar saja karena Sasuke pasti tidak tahu bahwa hari ini adalah ulang tahunnya. Naruto juga tidak memberitahunya, karena nanti Sasuke mengira dia orang aneh yang terobsesi untuk diselamati. Jadi, dia menahan mulutnya rapat-rapat. Setidaknya, hari ini mereka bisa berangkat bersama, itu sudah cukup bagi Naruto.
Sesampainya di sekolah, beberapa teman sekelasnya mengucapkan Selamat Ulang Tahun dengan heboh, bahkan ada yang bercanda minta ditraktir. Naruto mengucapkan terima kasih sambil tertawa-tawa. Sakura sudah datang dan dia menyerahkan sebuah kado untuk Naruto.
"Terima kasih Sakura-chan," ujarnya senang. Tahun lalu, Sakura memberinya dompet kulit dan dompet itu dipakai Naruto hingga saat ini. "Akan kubuka di rumah nanti."
"Maaf malam hari nanti aku tidak bisa ikut merayakan ulang tahun dengan keluargamu," kata Sakura. "Aku harus menemani Ibuku ke dokter."
"Tidak masalah," kata Naruto, "Apa Ibumu baik-baik saja?"
Sakura mengangguk. "Hanya check-up rutin 3 tahunan."
Sasuke duduk di kursinya, tidak mengatakan apapun pada Naruto. Tidak ada yang harus dikatakan pada Naruto, tetapi Naruto bisa merasakan tatapan tajam Sasuke yang seperti menembus punggungnya. Seharusnya, saat ini Sasuke sudah tahu bahwa hari ini Naruto berulang tahun, karena hampir satu kelas menyelamatinya. Bahkan, tadi ketika mereka berjalan bersama ke kelas, beberapa teman Naruto dari kelas lain menghampirinya dan mengucapkan Selamat Ulang Tahun.
"Kau sudah dekat dengan Uchiha ya," komentar Sakura. Entah mengapa, komentar itu membuat Naruto terlonjak.
"Oh ya?" tanyanya berusaha tenang.
"Kalian selalu berangkat bersama."
Bibir Naruto kering, dia merasa seperti orang yang bersalah. "Kebetulan bertemu di jalan. Rumahnya masih di kompleks perumahanku."
Sakura mengangguk. "Benar-benar kebetulan ya, kalian juga satu kelas, satu kompleks perumahan. Kalau orang tidak tahu, pasti kalian akan disangka teman masa kecil."
"Yang benar saja," katanya. Dia menenangkan dirinya lagi. Benar, kenapa dia harus merasa bersalah. Naruto tidak melakukan apapun yang harus membuatnya merasa bersalah. Dia menjalani hari-hari seperti biasa, menjalani kehidupannya sesuai jadwal hariannya, tidak ada yang melenceng. Dia masih berada di jalur untuk masa depannya.
Sakura tersenyum tipis. "Soalnya ini pertama kalinya kau berangkat ke sekolah bersama dengan seorang teman. Aku senang jadinya."
Naruto menatap pacarnya, sedikit tidak memahami kalimatnya. Benarkah ini pertama kalinya? Sejujurnya, Naruto tidak menyadari hal itu. Selama ini, selama 3 tahun dia bersekolah di SMA ini, Naruto tidak pernah memikirkan hal remeh temeh seperti itu. Yang ada dipikirannya hanyalah OSIS, ujian, dan nilai. Dia terbiasa berangkat sendiri karena dia bisa berpikir tanpa diganggu. Namun, benarkah dia tidak pernah punya teman untuk berangkat dan pulang sekolah?
Kenapa Sasuke, yang baru dikenalnya selama 2 minggu, bisa mengubah keseharian Naruto dalam sekejab? Kenapa dia membuat Naruto bertanya-tanya hanya karena Sasuke tidak ada di tempat biasa dia menunggu Naruto setiap pagi? Padahal, seharusnya Naruto tidak peduli hal itu. Apakah itu yang dimaksud oleh Sakura? Naruto tidak memahami apa yang terjadi pada dirinya, pada perasaan di perutnya yang seperti bergolak, serta perubahan kecil di hidupnya.
"Kau Ibuku?" goda Naruto.
Sakura menyikutnya main-main. "Kau menyebalkan."
.
Hari itu berjalan tanpa adanya hambatan. Naruto melalui hari itu dengan baik. Dia berinteraksi dengan banyak orang seperti biasa, dia mendengarkan pelajaran dengan tekun seperti biasa, dan dia makan siang dengan teman-temannya seperti biasa. Tidak ada yang berubah dari kehidupan Naruto. Di sekolah, Sasuke tidak berusaha masuk ke dalam hidupnya. Seolah Sasuke membatasi dirinya untuk momen-momen tertentu. Tentu saja, bukan berarti mereka saling mendiamkan.
Saat istirahat, ujung mulutnya selalu tertahan ketika dia ingin mengajak Sasuke makan siang bersama. Namun, Sasuke biasanya sudah pergi bersama Shikamaru atau hanya sendiri. Naruto ingin tahu dia pergi kemana, tapi jika dia selalu rutin makan bersama dengan teman-teman yang lain. Jika dia merusak keseharian itu, orang-orang akan banyak bertanya. Dia tidak suka dipertanyakan dan dia tidak suka menjelaskan hal yang bukan merupakan urusan orang lain. Lagipula, sudah 3 tahun dia mempertahankan rutinitasnya. Tidak ada alasan untuk mengubahnya. Dia tidak punya jawaban jika ada yang bertanya.
Ketika bel pulang berbunyi, Naruto ke Ruang Rapat OSIS untuk membahas pemilihan Ketua OSIS baru. Pemilihan akan dilakukan di awal bulan November, sehingga tersisa waktu sekitar 2 minggu untuk memperiapkannya. Kandidat Ketua OSIS untuk tahun ini terdiri dari 2 orang dan mereka sudah dalam proyek kampanye dengan tim sukses masing-masing. Ada beberapa mading sekolah yang bisa digunakan sebagai sarana kampanye. Beberapa kali Naruto melihat tim sukses kedua kandidat sedang menempel poster untuk calon masing-masing.
"Lalu, selanjutnya untuk pemaparan visi dan misi," ujar anggota OSIS yang ditunjuk sebagai Ketua Panitia Pemilihan Ketua OSIS. "Karena pemaparan visi misi merupakan kampanye utama, maka sebaiknya dilakukan di minggu ini. Jika dilakukan di minggu depan, maka terlalu dekat dengan waktu tenang."
"Kau mau kita mengempulkan seluruh sekolah di aula hanya untuk mendengarkan Kandidat Ketua OSIS berceloteh panjang lebar? Merepotkan." Itu sudah jelas dari Shikamaru.
"Lalu apa saranmu? Bagaimana cara mereka memaparkan visi misi jika tidak ada siswa yang mendengar? Itu kan sudah termasuk kewajiban," ujar Si Ketua Panitia. "Lagipula, rencananya kami akan meminjam waktu istirahat selama 10 menit saja. Pemaparan visi misi dan tanya jawab singkat."
"Kalau aku disuruh mengorbankan waktu istirahatku selama 10 menit, aku sudah pasti akan membolos."
"Tidak semua orang seperti kau," kata Ketua Panitia kesal. "Kalau begitu kau punya saran lebih baik? Daripada kau cuma mengoceh saja."
"Shikamaru, hentikan," kata Naruto pelan.
"Kita gunakan saja saluran siaran sekolah," kata Shikamaru, "jadi semua orang tidak harus mengorbankan waktu istirahatnya."
"Apa kau serius? Memangnya kau pernah mendengarkan pengumuman dari saluran siaran sekolah?" tanya Si Ketua Panita dengan sengit. "Saranmu lebih buruk dari milikku."
"Oke tenang semuanya," akhirnya Naruto menengahi. Dia melotot pada Shikamaru yang tampak tidak peduli.
"Shion, bagaimana jika kita pakai 10 menit sebelum pulang saja?" tanya Naruto mencoba memberikan usul.
"Aku setuju, lagipula para siswa akan lebih bersemangat mengikutinya dibandingkan dilakukan di jam istirahat. Mungkin kita bisa minta kepada Senju-sensei untuk meminjam 10 menit sebelum pulang sekolah," ujar anggota lain.
Shion tampak berpikir sebelum mengangguk singkat.
"Dengan begitu kita tidak akan mengorbankan waktu isitrahat ataupun menyia-nyiakannya di saluran siaran sekolah."
Lalu, setelah satu masalah selesai, para anggota lainnya memaparkan laporan masing-masing. Tidak ada masalah berarti ataupun perdebatan yang berarti. Shikamaru diam selama rapat dan hanya bicara jika benar-benar perlu. Setelah tidak ada lagi hal yang ingin disampaikan, rapat itu berakhir. Ketika Naruto melihat jam dinding di Ruang Rapat OSIS, waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Sungguh rapat yang lama dan menguras energi. Dia tidak sabar untuk segera mencopot semua jabatan ini sebentar lagi.
"Usulmu bagus tadi," kata Naruto ketika Shion sedang membereskan barang-barangnya. Anggota yang lain sibuk membereskan kursi supaya ruangan itu lebih rapi sebelum mereka meninggalkannya. "Karena sejujurnya aku juga tidak pernah mendengarkan saluran siaran sekolah."
Shion mendengus. "Terima kasih sudah memberikan jalan keluar seperti tadi. Aku ragu mau memakai jam pelajaran sebenarnya, tapi pilihan seperti itu rupanya masuk akal."
"Nara hanya bersikap menyebalkan," kata Naruto.
"Nara selalu bersikap brengsek. Aku masih tidak paham kenapa kau menunjuknya menjadi wakilmu," ujar Shion.
Naruto mengangkat bahu. "Dia bisa diandalkan saat diperlukan," jawab Naruto.
Shion menghela napas. "Terserah kau saja, Uzumaki-kun. Yang jelas, aku sudah tidak sabar mau pensiun dari ini semua."
Lalu, Shion beserta para anggota lain keluar dari Ruang Rapat, pulang ke rumah masing-masing. Naruto juga melakukan hal yang sama.
"Menghibur Shion setelah perdebatan tadi?" tanya Shikamaru.
Naruto menenangkan dirinya sebelum menjawab Shikamaru. Dia menghadap Shikamaru. "Kau harus berhenti bersikap menyebalkan seperti itu. Saran Shion tidak buruk-buruk amat."
"Jujur saja, aku tidak mau merelakan waktu istirahatku."
Bicara dengan Shikamaru belakangan ini selalu berakhir dengan kekesalan yang memuncak di ujung kepala Naruto. Temannya itu semakin lama semakin berubah menjadi orang asing yang tidak dikenal oleh Naruto lagi. Naruto selalu berusaha mempertahankan pertemanan mereka, tapi sikap Shikamaru tidak membantu.
"Apa sih masalahmu?" tanya Naruto. "Kalau kau memang tidak setuju, kau bisa mengatakannya baik-baik. Tidak perlu menyulut pertengkaran seperti itu."
"Jangan memperlakukanku seperti kau memperlakukan orang lain," kata Shikamaru dingin.
Naruto kehilangan kata-katanya. Apa masalah Shikamaru sebenarnya? Benar, mereka adalah teman masa kecil. Benar, mereka sempat menjauh karena suatu masalah, tapi setelah itu Naruto berusaha memperbaikinya. Dia berusaha melibatkan Shikamaru di dalam hidupnya lagi. Dia menempatkan Shikamaru di salah satu posisi penting, persis di sebelahnya.
Setelah mereka sempat menjauh, hubungan itu mendingin. Meskipun Naruto tetap bersama Shikamaru, tapi interaksi mereka berubah. Naruto tidak mempermasalahkannya, karena dia menganggap akan terlihat sangat aneh jika mereka masih sedekat dulu dan menempel seperti perangko. Mungkin, karena mereka sama-sama sudah remaja, sedang dalam masa pubertas dan pencarian jati diri, maka interaksi mereka terbatas. Namun, Naruto tetap menganggap Shikamaru temannya.
"Aku tidak tahu apa masalahmu, tapi sebaiknya kau bersikap lebih baik dengan orang lain," kata Naruto pada akhirnya. Dia tidak mau memperpanjang masalah yang tidak penting, apalagi bertengkar dengan Shikamaru di sekolah. Meksipun para siswa sudah pulang, bisa saja masih ada yang mendengar. Jadi, dia mengambil tasnya dan mulai berjalan keluar dari Ruang Rapat OSIS. Dia tidak menoleh ke belakang, tidak melihat Shikamaru lagi. Naruto sudah cukup bersabar menghadapinya, tapi dia tetap tidak mau lepas kendali di sekolah.
Pemuda Nara itu menjadi orang terakhir di Ruang Rapat OSIS. Dia masih menatap pintu ruangan yang terbuka setelah Naruto pergi. Dia mendudukan diri di meja sambil menghela napas. "Benar-benar merepotkan," gumamnya. "Bisa-bisanya dia bertanya apa masalahku, tapi dia sendiri tidak sadar."
Berteman dengan Naruto selama lebih dari 10 tahun membuatnya sadar bahwa perubahan adalah hal pasti dalam kehidupan. Terutama Naruto, lelaki itu selalu berubah. Bukan perubahan yang buruk, harus Shikamaru akui. Hanya saja, di dalam perubahan hidupnya, Naruto meninggalkan banyak hal yang Shikamaru kira penting. Melihatnya menjadi sosok sempurna seperti itu sejujurnya membuat Shikamaru tidak tahan dan ingin memalingkan wajah. Namun, Naruto menaruhnya di sisinya, persis di sebelahnya.
Langkah yang aneh, karena Naruto seolah tidak mengenalnya di kelas, hanya berinteraksi dengannya sesuai kebutuhan, tapi dia harus ada di sisi lelaki itu. Seolah Naruto yang berhak untuk menempatkan dan menegaskan dimana posisi Shikamaru harus berdiri. Tidak di seluruh aspek kehidupannya, hanya di beberapa bagian. Tidak lebih dan tidak kurang. Mungkin itulah sumber kekesalan Shikamaru sehingga tadi dia sempat lepas kendali, mencoba melampiaskannya. Setidaknya, jika dia lepas kendali, Naruto bisa sedikit meliriknya dan berinteraksi dengannya.
"Kau tidak bisa memiliki semuanya, Naruto Uzumaki."
.
Ketika Naruto melangkah lebar-lebar karena masih kesal dengan sikap Shikamaru yang seperti anak kecil, kakinya hampir tersandung oleh kaki seseorang ketika berjalan. Ketika dia menoleh, Sasuke sedang menyandar di dinding dekat loker sepatu.
"Uchiha," katanya.
Sasuke menoleh ke arahnya. Entah mengapa, perasaannya sedikit membaik ketika melihat Sasuke. Kekesalannya pada Shikamaru menguap dan dilupakan untuk sementara.
"Apa kau menungguku selesai rapat?" tanya Naruto sambil menyengir.
"Kau besar kepala, Ketua OSIS."
Mereka mulai berjalan dari gedung sekolah. "Jadi kau memang menungguku atau kau salah menunggu seseorang?" tanyanya.
"Aku berhak berada di sekolah selama yang aku mau," kata Sasuke.
"Kau tsundere," balas Naruto. "Akui saja kau menungguku pulang."
Sasuke menatapnya, iris hitamnya berkilat. "Seperti kau mengakui bahwa kau menungguku tadi pagi?"
Naruto memalingkan wajah. Sensasi panas dingin itu melekat di seluruh tubuhnya. "Aku tidak menunggumu," katanya tidak mau kalah.
"Akui saja kita saling menunggu."
Naruto mendengus. "Terserahlah."
Angin di pertengahan bulan Oktober semakin dingin, membuat Naruto merapatkan lagi jaket yang dipakainya. Dia menatap Sasuke yang tampak tidak terganggu dengan tiupan angin.
"Mau makan yang hangat-hangat dulu?" tanya Sasuke.
Naruto mengerjap. "Apa?"
"Apa kau mau makan dulu? Sebelum kita pulang," ulang Sasuke.
Naruto mengangguk hampir tanpa berpikir. Dia terakhir makan ketika istirahat dan selama rapat, dia hanya makan satu bungkus roti coklat. Jadi, perutnya sudah sangat lapar. Rasanya dia bisa memakan apa saja saat ini. Dia baru sadar kalau dia lapar ketika Sasuke mengajaknya makan. Sedari tadi dia berfokus pada hal lain.
Sasuke mengajaknya ke restoran ramen di dekat Game Centre di pusat kota. Naruto jarang sekali ke pusat kota di hari sekolah. Biasanya dia langsung pulang ke rumah atau ke bimbel. Dia pergi ke pusat kota di hari libur atau ketika sedang berkencan saja dengan Sakura. Kehidupan Naruto rupanya sangat monoton, jika dipikir-pikir.
Udara hangat dan bau rempah-rempah begitu menggugah selera ketika mereka berdua memasuki restoran tersebut. Kaldu ramen membuat produksi saliva di mulut Naruto menjadi aktif dan perutnya seperi bersemangat untuk menyantap mie khas Jepang tersebut. Mereka berdua duduk di meja konter dan langsung memesan dua mangkok ramen. Para koki dan pelayan dapat mereka lihat langsung, karena dapur yang digunakan semi transparan.
Naruto tidak melepas jaketnya, tetapi Sasuke melepaskan syal hitamnya. Syal tersebut tampak seperti rajutan. "Apa itu rajutan?" tanya Naruto.
"Iya," kata Sasuke.
"Apa yang kau lakukan selama menungguku rapat?" tanya Naruto.
Sasuke mendengus. "Kau terlalu percaya diri."
Naruto memutar bola matanya. "Apa aku sudah bilang bahwa kau itu tsundere? Aku akan mengatakannya lagi."
"Ya ya, akan kuanggap kau tidak bicara apapun." Sasuke memasukkan syalnya ke dalam tas sekolahnya.
Naruto memperhatikan pemuda itu. Sejak Tsunade Senju pertama kali menyuruh Naruto untuk membantu Sasuke, dia sedikit penasaran dengan pemuda itu. "Apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Naruto.
"Kejutan," gumam Sasuke. "Kupikir kau tahu segalanya."
"Jangan menyebalkan teme."
"Kau harus baik-baik jika pertanyaanmu ingin kujawab," kata Sasuke.
Naruto hampir mengurungkan niatnya, tapi akhirnya dia membuka mulutnya. "Kenapa kau bermasalah di sekolah lamamu?" tanyanya. Untuk sesaat yang singkat, Naruto menyesali pertanyaan yang keluar dari mulutnya. Apalagi Sasuke tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap Naruto dengan tatapan yang lagi-lagi tidak bisa didefinisikan. Namun, Sasuke menjawabnya sebelum Naruto mengubah pertanyaannya.
"Ada anak menyebalkan yang sok jagoan. Jadi, aku hanya memberinya pelajaran. Itu saja," jawabnya singkat. Nada suaranya datar tanpa emosi, seolah Sasuke hanya membaca sebuah kalimat dari novel, seolah itu bukan ceritanya.
"Tidak mungkin hanya itu," ujar Naruto. Jika benar hanya berkelahi, Sasuke tidak akan sampai dikeluarkan dari sekolah dan pindah jauh-jauh ke Tokyo.
Sasuke mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Kurasa aku menghajarnya cukup parah sampai dia dia harus pasang pen di kakinya."
Lagi-lagi, suara yang sangat datar, seperti menceritakan ulang kisah orang lain.
Naruto terdiam untuk sesaat. Dia tidak menyangka bahwa Sasuke bisa menjadi sangat berbahaya seperti itu, sampai menyebabkan kecacatan. Namun, karena dia yang membuka topik ini untuk pertama kali, aneh rasanya jika dia berpaling begitu saja. Rasanya tidak benar.
"Apa dia… eh… baik-baik saja?" tanya Naruto pelan.
"Yah, Ayahku membayar penuh untuk operasi dan rehabilitasinya. Tapi jelas aku tidak bisa tetap di sekolah itu. Akhirnya kami pindah ke Tokyo." Dia menatap Naruto, "Jadi, apa itu menjawab pertanyaanmu?"
Naruto mengangguk tanpa mengeluarkan suara. Dia bingung mau mengatakan apa. Memang kadang mulutnya itu tidak bisa dijaga dan sekarang malah suasana di sekitar mereka terkesan aneh dan canggung. Namun, Sasuke menepuk pipinya hingga Naruto melihatnya bingung.
"Kau tidak cocok jika diam seperti itu," kata Sasuke. "Dahimu berkerut lagi," katanya.
Naruto mengeluarkan tawa pelan, "Kau mau aku bereaksi seperti apa? Aku butuh waktu memproses ceritamu."
"Hei, bukan salahku, ingat? Kau yang memintaku untuk menceritakannya."
"Aku tahu, teme."
Tak berselang lama, kedua ramen mereka datang. Kaldu yang masih hangat dan uap yang mengepul merupakan kombinasi paling sempurna. Mereka mulai memakan ramen dengan pelan.
"Hmm, ramen ini enak," komentar Naruto. "Kapan kau menemukan tempat ini?" tanyanya.
Sasuke mendengus. "Saat berjalan dan kupikir sewaktu-waktu makan di sini enak. Lagipula restoran ini dekat dengan Game Centre."
"Kau main ke Game Centre?"
"Tidak, aku mengajar Bahasa Jerman di Game Centre."
"Ha ha ha. Kau lucu sekali Uchiha."
Dari restoran ramen, dengan perut kenyang dan hangat, mereka berdua lanjut ke arah jalan pulang.
"Karena kau sudah bertanya padaku, sekarang aku yang akan bertanya padamu," kata Sasuke.
"Aku tidak tahu ada peraturan seperti itu." Naruto memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket.
"Itu peraturan tidak tertulis, Uzumaki. Kupikir kau pintar, rupanya kau tetap dobe," ejek Sasuke.
Naruto berusaha menendang kakinya. "Teme!" dengusnya. "Aku tidak mau menerima pertanyaanmu."
Sasuke mengabaikannya. "Apa rumor itu benar? Tentang kau mengendalikan Suigetsu seperti anjing?" tanyanya.
Naruto menatap Sasuke, sama sekali tidak menyangka pertanyaan seperti itu akan keluar dari mulutnya. Namun, Sasuke juga pasti tidak menyangka bahwa Naruto bertanya tentang tragedi di sekolah lamanya. Cukup adil.
"Dari mana kau dengar rumor sampah seperti itu? Abaikan saja," jawab Naruto.
"Aku punya sumberku sendiri," ujar Sasuke.
Kemungkinan besar Shikamaru yang bercerita kepada Sasuke. Naruto tidak mau memikirkan apa yang direncanakan oleh temannya itu, tapi karena Sasuke tadi menjawab pertanyaannya dengan jelas, Naruto berutang itu padanya.
"Pertama, rumor itu terlalu berlebihan. Aku tidak tahu mereka menggunakan istilah mengendalikan seperti itu, rasanya seperti mafia saja. Tapi, kuakui bahwa aku memang membuat beberapa perjanjian dengan Suigetsu," jawab Naruto.
Mengingat si berandal sekolah saja dia sudah malas. Sejak perjanjian itu, Suigetsu sudah tidak lagi menampakkan wajahnya di hadapan Naruto. Kemungkinan besar karena dia takut, tapi Naruto juga sebenarnya muak melihat wajahnya. Kalau dia tidak ingat posisinya, waktu itu rencananya dia ingin menghajar Suigetsu sampai seluruh giginya rontok. Namun, ada hal yang lebih efektif daripada tinju.
"Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Sasuke.
"Aku tidak ingat bertanya dua kali, Uchiha," jawab Naruto. Dia menikmati kilatan penasaran di wajah Sasuke ketika dia menjawab pertanyaan pertama Sasuke.
"Sekarang siapa yang bersikap menyebalkan?" dengus Sasuke kesal. Naruto tertawa melihatnya seperti itu. Rupanya Sasuke pun memiliki rasa penasaran padanya. Naruto merasa ada yang bergerak di dalam perutnya, mulai bersiap untuk beterbangan. Dia hanya menjulurkan lidahnya untuk meledek Sasuke. Sasuke mengacungkan jari tengahnya.
Mereka sampai di jalanan perumahan. Lagi-lagi, Sasuke mengikutinya sampai ke rumahnya. "Apa kau sedang bersikap manis supaya aku menjawab pertanyaanmu?" tanya Naruto sambil bersenandung. "Aku beritahu, itu tidak akan berhasil."
"Aku akan menagih jawabanmu kapan-kapan, Uzumaki. Tenang saja," kata Sasuke.
Naruto melambaikan tangannya santai. "Terserahlah." Dia membuka pagar rumahnya. Mobil milik Kurama sudah terparkir di garasi.
"Uzumaki tunggu."
Naruto berhenti. Dia berbalik menatap Sasuke. Pemuda Uchiha itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah tabung seperti pipa berdiameter 5 cm dengan panjang 40 cm. Ada sebuah pita berwarna biru tua yang tampak sangat kontras, menghiasinya. "Untukmu," katanya.
Naruto menatap pemberian itu bingung. "Untuk apa?"
"Untuk ulang tahunmu," jawab Sasuke singkat.
Bagaimana mendeskripsikan perasaan Naruto saat ini? Seluruh kupu-kupu di perutnya yang sedari tadi siap beterbangan, kini secara serempak terbang, mengaduk-aduk seluruh perasaan Naruto. Dia tersenyum lebar sambil mengamati kado pemberian Sasuke ini, apalagi mengingat fakta bahwa Sasuke tahu hari ini ulang tahunnya. Entah dari mana pemuda itu tahu, Naruto tidak peduli. "Jadi, ramen tadi itu mie ulang tahunku?" tanyanya.
Sasuke memalingkan wajah, tapi eskipun matahari sudah tenggelam, dia mampu melihat semburat merah di kedua pipi Sasuke, menjalar hingga ke telinganya. "Jangan berasumsi macam-macam. Aku sedang lapar saja."
Naruto tertawa lepas, dia sangat menikmati ekspresi Sasuke seperti ini. "Iya iya, dasar tsundere!" Dia mengamati lagi tabung tersebut dan menatap Sasuke. "Terima kasih Uchiha," katanya penuh dengan senyuman.
"Tidak masalah."
.
BERSAMBUNG
