Aku iri pada cermin di kamar mandi, dan di dalam tasmu, juga di kamarmu.
.
.
.
Karakter dalam cerita sepenuhnya milik Tadatoshi Fujimaki. Tidak ada keuntungan materi yang diambil dari fanfiksi ini.
Aku iri pada cermin di kamar mandi, dan di dalam tasmu, juga di kamarmu. Barangkali aku iri kepada semua cermin yang kamu pandangi. Mereka yang kerjanya hanya diam saja bisa menatap wajah manismu sesuka hati. Sedangkan aku? Aku harus menunggu bel pulang sekolah berbunyi. Itu pun tidak setiap hari kita punya sisa waktu. Alhasil, aku harus menunggu lagi sampai hari libur tiba. Uh, rasanya waktu berputar lebih lama. Aku tidak suka.
"Hari ini kamu manis banget."
"Kamu sudah sering bilang begitu." Kamu masih fokus menulis sesuatu di buku entah apa namanya itu.
"Eh, tapi beneran. Kamu itu manis banget." Aku merogoh isi tas. "Lihat, cermin saja sampai malu, lho!"
Kamu tergelak. "Iya, iya. Terima kasih atas pujiannya."
Kamu melanjutkan kegiatan menulis yang tadi terhenti. Lihat, bahkan tulisanmu sama manisnya! Beda sekali denganku yang mirip cakar ayam.
"Aku jadi iri." Kumasukkan kembali cermin kecilku ke dalam tas.
"Hm, iri sama siapa?" Kulirik sekilas raut bingung di wajahmu.
"Cermin."
Aku melempar pandang ke potret kota di luar jendela. Pedestrian bebas berlalu-lalang di tepi trotoar. Mobil dan motor beradu kecepatan secara tidak langsung di jalan utama. Roda-roda mereka melindas serpihan salju yang turun dari langit beku. Sayang sekali, siapa tahu ada kristal cantik terselip di sana.
"Mereka bisa lihat wajah manismu sesuka hati."
Hening. Telingaku hanya menangkap denting cangkir dari balik kasir serta berisik mesin pendingin ruangan tepat di atas kepala kita.
Aku menoleh. Bosan memandang potret sama dalam waktu lama. Lebih baik aku pandang saja wajahmu yang ma—
Sebentar.
Kudapati jemarimu tidak lagi menari di atas kertas. Mereka menjadi tumpuan bagi kedua pipimu yang bersemu. Parahnya, kamu menatapku sambil tersenyum, tidak kamu palingkan sedikitpun.
Bahaya, jantungku berdegup kencang.
"Sekarang kamu bisa lihat wajahku sepuasnya." Tampak deret gigi dari senyummu yang kian melebar.
Bagaimana bisa kamu berkata enteng seperti itu?
Jantungku seperti berada dalam pacuan kuda, bahkan kelelahan setelah main basket tidak mampu membuat jantungku berdegup lebih cepat dari ini.
"Kok kamu tidak menatapku? Katanya kamu iri pada cermin."
"Tapi tiba-tiba banget?!"
"Eh, tidak mau? Ya sudah."
"Jangan!" Aku menghela napas panjang. Prioritas saat ini adalah meredam detak jantungku yang tidak beraturan. Mungkin jika dilihat dengan kardiograf, jarak tiap satu getaran detak jantungku sangat kecil.
Aku mengumpulkan keberanian. Ayolah, kesempatan seperti ini tidak datang dua kali. Aku tidak mau penyesalan menghantuiku setiap malam jika melewatkan ini.
Akhirnya, aku menatapmu. Kedua mataku bertemu denganmu—bulat, lentik, warna irisnya cokelat kayu. Hidungmu mancung. Bibirmu ranum seperti jambu di kebun Ibu. Tidak lupa pipimu yang masih bersemu layaknya musim semi menambah kadar kemanisan di wajahmu.
"Sudah puas? Atau mau lagi?" Aku tidak tahu kamu sedang bertanya atau justru menggodaku, atau mungkin keduanya.
"Sudah, ini sudah cukup." Aku membenamkan kepala di atas meja. Wajahku seketika panas setelah mengamati tiap senti dari wajahmu. Masih terbayang gambaran dirimu yang semanis gula-gula di benakku.
"Terima kasih."
Sayup-sayup kudengar tawa kecil. "Kamu lucu, deh, kalau lagi malu."
Aku jadi senang dan tertawa sendiri mengingat itu.
Ah, tetapi itu sudah lama sekali, ya.
Sekarang, aku enggak iri. Aku enggak iri pada cermin di kamar mandi, dan di dalam tasmu, juga di kamarmu. Barangkali aku sudah enggak iri kepada semua cermin yang telah kamu pandangi. Keren, kan? Kamu juga enggak perlu habiskan waktu cuma-cuma hanya untuk memandang wajahku dan mendengar semua keluh kesahku tentang lambatnya waktu, ketidakadilan dalam hidup, juga wajah manismu yang melebihi gula-gula.
Soalnya kamu pergi dan enggak bisa menatap cermin lagi.
