Bab 12: Kado-Kado Berharga
Ketika dia masuk ke dalam rumah, kedua orangtua dan kakak lelakinya sudah berkumpul di ruang keluarga.
"Naru-chan, kenapa kau pulang telat?" tanya Kushina.
"Aku ada Rapat OSIS," jawabnya.
"Mandilah dulu dan setelah itu kita tiup lilin," ujar Ibunya. Naruto mengangguk. Di ruang keluarga, Minato dan Kurama tampak sedang berdiskusi tentang pekerjaan. Hanya dengan mendengarnya sekilas, Naruto merasa terasing dari kedua lelaki lainnya di rumah ini. Namun, dia tidak peduli pada itu semua saat ini. Dia masih merasakan seluruh otot di wajahnya belum lelah menyunggingkan senyuman karena Sasuke. Rupanya lelaki itu bisa juga bersikap manis jika dia menginginkannya.
Di kamar, dia menaruh tasnya, membuka kemejanya dan menggantungnya seperti biasa. Dia mandi tanpa berendam, lalu memakai baju kaos berwarna jingga dan celana training panjang. Sejujurnya, dia ingin langsung membuka hadiah yang diberikan oleh Sasuke, tapi Kushina sudah menyuruhnya turun karena kue sudah disiapkan dan akan segera tiup lilin. Naruto mengurungkan niat membuka kado Sasuke. Dia turun ke bawah.
Kue ulang tahunnya sudah dihiasi dengan tulisan 'Selamat Ulang Tahun Naru-chan' dan lilin dengan angka 18 yang menyala. Ada 4 tumpuk piring kecil dan garpu kue di sebelahnya. Kurama sudah memasang kamera DSLR dan tripod-nya. Malam itu, Keluarga Uzumaki berkumpul untuk merayakan ulang tahun si bungsu.
Lagu selamat ulang tahun dinyanyikan secara serempak, sampai Naruto merasa canggung. Dia meniup lilin dan memotong kue. Masing-masing orang mendapat satu potong kue dan kakaknya, Kurama, menghampirinya. "Selamat ultah, Bocah." Dia mengacak-acak rambut Naruto.
Naruto menyodorkan tangannya. "Mana kado untukku?" tanyanya.
Kurama mendengus. "Kehadiranku itu adalah kadomu. Jadi berterima kasihlah dan berikan semua sisa kue itu untukku bawa ke mansion-ku."
"Aniki, kau menjijikan," kata Naruto sambil pura-pura muntah. "Aku mau kadoku!" katanya lagi.
"Tidak ada potongan kue untukmu lagi, Kurama. Kau jarang sekali pulang," Kushina ikut mengomel.
Kurama menghela napas. "Aku sibuk. S-I-B-U-K. Aku kan masih jadi dokter junior, jadi sering menggantikan on call."
"Ibu, itu alasan saja. Aku tahu," kata Naruto mencoba mengompori Ibunya.
Kushina mendengus. "Memang. Datang ke sini hanya mengambil makanan saja."
"Kau menyebalkan ya," kata Kurama sambil mencubit pipi adiknya.
"Aku mau kadokuuuuu!" seru Naruto. Dia mencolek krim kue dan mengotori wajah Kurama.
"Ah sialan!"
"Jangan mengumpat di rumah ini!" tegur Kushina galak. Kalau kedua saudara itu sudah berkumpul, rumahnya pasti jadi ramai dan ribut.
"Wajahku lengket!" seru Kurama. Dia mengambil krim kue dan mengejar Naruto. Naruto lari dari kakaknya, berusaha bersembunyi.
"Jangan lari-lari di dalam rumah!" tegur Kushina lagi, tapi kedua putranya jelas tidak mendengar.
"Aku baru selesai mandi!" kata Naruto sambil berusaha menghindar dari tangan Kurama yang penuh dengan krim.
"Kau pikir aku tidak mandi? Sini kau!" Kurama masih mengejar adiknya.
Kushina menghela napas lelah setiap melihat kelakuan dua bersaudara itu. Setiap mereka bertemu, selalu saja bermain kejar-kejaran seperti anjing dan kucing, membuat rumah berantakan dan ribut. Namun, Minato memilih untuk duduk dan memakan kuenya dengan tenang. Lagipula, istrinya sudah berseru-seru, jadi dia tidak akan membuang energi untuk mengurusi dua putranya. Toh mereka tidak akan mendengarkan kata-katanya juga.
Wajah Naruto sudah lengket dengan krim dan kaos Kurama sudah harus diganti karena berisikan krim kue. Barulah, mereka berhenti dan Kurama setengah melempar kadonya.
"Terima kasih Aniki!" seru Naruto. Dengan semangat, dia membuka kado yang diberikan oleh Kurama. Di kardus depannya ada tulisan Nintendo 3DS XL keluaran tahun 2014. Naruto menjerit senang ketika melihatnya.
"Kau memang terbaik, Aniki!" serunya sambil membuka kardus Nintendo tersebut. Konsol Game tersebut dipegang Naruto dengan hati-hati. Wajahnya terasa panas oleh adrenalin dan ekstasi. Dia tertawa terbahak-bahak sambil menyalakan konsol game tersebut.
Kushina dan Minato menyusul ke Ruang Keluarga.
"Kau ini, sudah tahu adikmu mau Ujian Masuk Universitas, malah kau berikan Nintendo," protes Kushina. Naruto dengan protektif melindungi Nintendo yang baru didapatnya, takut sewaktu-waktu Ibunya akan merebutnya dan menyembunyikannya di antah berantah (pernah kejadian ketika SMP).
"Aku juga tetap belajar Bu," protes Naruto defensif.
"Kebanyakan belajar nanti kau jadi gila," kata Kurama sambil mengacak-acak rambut Naruto. Naruto mengangguk setuju.
"Tidak apa kan," kata Minato. Dia membawa kamera yang sudah dipasangi tripod. "Wajar kalau anak remaja punya hobi main game." Dia menyetel ulang tripod-nya. "Ayo kita foto dulu, tadi belum sempat terfoto."
Masih sambil menggenggam Nintendo-nya, mereka mengambil posisi. Naruto diapit oleh kedua orangtuanya, sementara Kurama di samping Minato. "Apa sudah di-setting menjadi timer?" tanya Kurama.
Minato menggeleng. "Ayah tidak tahu."
Kurama mendengus. Dia berjalan menuju kamera dan mengutak-atiknya sebentar. Setelah itu, dia kembali berdiri di samping Minato. "10 detik ya. Berpose semuanya!" katanya. Tak berselang lama, suara kamera berbunyi, tanda foto telah diambil.
Setelah mereka membereskan kekacauan di lantai bawah (maksudnya: krim kue, remah-remah kue, dan robekan bungkus kado Kurama), Naruto mencuci muka sekali lagi karena seluruh wajahnya berbau krim dan dia menggosok gigi. Nintendo dan kardusnya dibawa ke dalam kamarnya. Dia menyimpan kardus Nintendo di atas lemari, sementara Nintendo-nya sendiri diletakkan di meja belajar. Dia masih memegang Nintendo baru itu hingga teringat bahwa dia belum memasukkan buku-buku untuk pelajaran besok.
Dia mengeluarkan isi tasnya dan teringat ada dua buah kado yang belum dibukanya. Satu diberikan oleh Sakura, satu lagi dari Sasuke. Naruto menjajarkan kedua kado itu di meja belajarnya, di samping Nintendo pemberian Kurama. Rasanya hari ini benar-benar sempurna. Apakah tahun lalu dia merasakan hal serupa? Ulang tahun yang dirayakan oleh anggota keluarga, pacar yang perhatian, semua itu sama seperti tahun lalu. Hanya saja, kali ini Naruto mendapat satu buah kado lagi, dari orang yang dia kira tidak akan pernah masuk ke dalam hidupnya.
Pertama, dia membuka kado dari Sakura. Gadis itu memberikan sebuah sweater tebal berbahan wol. Warnanya abu-abu dan ukurannya besar. Ada sebuah kartu ucapan selamat ulang tahun yang ditulis tangan oleh Sakura.
Selamat ulang tahun, Naruto! Semoga seluruh cita-citamu tercapai.
xxx Sakura
ps: jangan lupa memakai sweater ini ketika ujian nanti. Aku dengar dari penjualnya, sweater ini bisa jadi jimat keberuntungan
Naruto tertawa membaca kalimat ucapan tersebut. Sakura memang tipe perempuan yang tidak banyak berbasa-basi dalam mengucapkan selamat. Tidak perlu kata-kata pembuka, langsung ke inti pembicaraan. Naruto mencoba memakai sweater tersebut dan melihat tampilannya di cermin lemari di kamarnya. Sebagaimana sweater pada umumnya, ukurannya dibuat lebih besar, tetapi hangat dan nyaman. Wol yang digunakan untuk bahan rajutannya tidak membuat kulit gatal dan gampang berkeringat, tidak juga menggesek di kulit dan membuat iritasi. Naruto menyimpan sweater itu dengan baik di lemarinya, beserta kartu ucapan dari Sakura.
Naruto mengambil ponselnya dan mengetik pesan.
Naruto: Hei, terima kasih untuk sweater-nya, Manis!
Sakura: Jangan lupa memakainya ketika Ujian Masuk, oke?
Naruto: Apa kau membelinya di toko gipsi? Atau di kuil?
Sakura: Aku membelinya di suku Afrika. Ps: itu barang seludupan
Naruto: Aku akan tulis wasiat kalau besok aku berubah menjadi seekor monyet
Sakura: Kau pasti lucu kalau jadi monyet
Naruto: mengirimkan stiker
Lalu, Naruto lebih bersemangat lagi ketika akan membuka kado dari Sasuke. Dia sama sekali tidak punya gambaran tentang apa yang diberikan oleh Sasuke. Tabung kecil yang diberikan pita, sungguh Naruto tidak tahu kira-kira apa di dalamnya. Dia sempat mengocok-kocok tabung tersebut untuk mendengar kira-kira apa yang ada di dalamnya, tetapi tidak ada bunyi khas. Akhirnya, Naruto memutuskan untuk membuka tutup tabung tersebut.
Di dalamnya, ada sebuah kertas yang digulung. Naruto mengeluarkan kertas putih tersebut. Jenis kertasnya tebal, tidak seperti kertas untuk menulis pada umumnya. Kemungkinan besar kertas kanvas. Gulungan kertas itu dibuka secara perlahan dan napas Naruto tercekat ketika melihat isinya.
Di dalam kertas canvas ukuran A3, terdapat portrait Naruto yang digambar dengan menggunakan pensil dengan metode arsiran memenuhi satu kertas. Arsirannya begitu hati-hati dan tampak begitu hidup, seolah ada perasaan yang menggerakkannya. Naruto tidak tahu bagaimana Sasuke bisa melukis portrait-nya dengan begitu sempurna.
Naruto menyentuh portrait diri itu dengan setengah sadar. Dia melihat wajahnya sendiri yang tampak begitu bersinar ketika dilukis oleh Sasuke. Sebuah bakat yang tidak Naruto sangka, sebuah kado yang tidak pernah dibayangkannya. Kedua matanya yang berwarna biru muda tampak sangat terang dilukisan tersebut. Apakah mata Naruto seindah yang dilukis oleh Sasuke? Rambut pirangnya yang tampak acak-acakan yang sangat dibenci Naruto setiap pagi, tapi dilukis dengan begitu indah dan pas, lalu wajahnya. Wajah lukisan itu…
"Oi Bocah, aku pinjam charger ponselmu!" Kurama membuka pintu kamar Naruto begitu saja, membuat si pirang terlonjak kaget. Lukisan itu hampir dijatuhkan olehnya.
"Ketuk dulu pintu kamarku!" seru Naruto kesal.
Kurama masuk sambil mendengus. "Memangnya kau sedang manstrubasi atau menonton film porno? Jangan berlebihan," katanya tidak peduli.
"Tetap saja, itu privasi. .SI."
"Mana charger-mu?" tanya Kurama. "Apa sih yang sedang kau pegang?" tanyanya lagi dengan penasaran. Kurama ikut melihat lukisan tersebut.
"Wah, aku tidak tahu si Haruno itu bisa menggambar. Apa itu kado darinya?" tanya Kurama sambil mengamati portrait tersebut. Naruto menggeleng singkat. Matanya masih belum lepas dari lukisan Sasuke.
"Si bocah Nara?"
Naruto menggeleng lagi.
Kurama mendengus kesal. "Kau ini sok berahasia, menyebalkan. Mana charger ponselmu?"
"Kenapa kau tidak memakai charger-mu sendiri?"
"Kalau aku bawa, apa mungkin aku meminjam barangmu?" retorik Kurama.
Dengan menggerutu, Naruto mengambil charger ponsel di laci mejanya. Dia menyerahkannya pada Kurama. "Jangan lupa kembalikan besok pagi."
"Cerewet sekali kau," kata Kurama lagi. Dia kembali melihat lukisan tersebut dan berceletuk, "U.S, inisial siapa itu?"
Naruto baru sadar ada inisial nama Sasuke di bawahnya. Namun, dia tidak menjawab Kurama. Dia malah berkata, "kenapa Aniki masih di sini?"
Kurama memutar bola matanya. "Ya ampun, kau ini seperti sedang jatuh cinta saja! Dasar anak muda dan hormon-hormon mereka." Kurama keluar dari kamarnya setelah mendapat charger. Namun, sebelum dia benar-benar keluar, dia menatap Naruto lagi. "Kurasa kau harus memajang lukisan itu. Sayang jika tidak dipajang." Lalu, dia keluar dari kamar Naruto.
"Tutup pintunya!" seru Naruto kesal karena Kurama pergi begitu saja tanpa menutup pintu kamarnya, membuat si pemilik kamar jadi harus bangun dari kursi dan menutup pintu kamarnya.
Dia memikirkan apa yang harus dilakukan dengan lukisan itu. Benar kata Kurama, terlalu bagus hanya untuk dimasukkan lagi ke dalam tabung pelindungnya. Namun, Naruto tidak punya bingkai untuk memajang lukisan tersebut. Jadi, mau tidak mau dia menggulung lagi lukisan tersebut dan memasukkannya ke tabungnya. Mungkin besok dia harus mencari-cari bingkai ukuran A3.
Dia meraih ponselnya dan membuka percakapan dengan Sasuke.
Naruto: Hei pelukis professional. Terima kasih untuk lukisannya
Uchiha calling…
Naruto terlonjak kaget karena tiba-tiba Sasuke meneleponnya. Dia tidak siap untuk menerima panggilan telepon tersebut. Mereka hanya bertukar pesan, tapi tidak pernah saling menelepon. Ini pertama kalinya. Kenapa Sasuke meneleponnya?
Namun, akhirnya Naruto mengangkat telepon tersebut.
"Hei," kata suara Sasuke di ujung panggilan.
"Hei," kata Naruto. Dia berharap suaranya tidak aneh ataupun nyaring. Suara Sasuke terdengar lebih dekat ketika di telepon. "Aku sudah lihat lukisannya. Jadi itu kegiatanmu selama menungguku rapat tadi sore?"
Naruto bisa mendengar dengusan Sasuke. "Tingkat kepercayaan dirimu tinggi setelah berulangtahun ya."
"Ha ha. Kau masih sangat lucu, Uchiha."
Naruto mematikan lampu di meja belajarnya dan menuju tempat tidurnya. "Wow, aku sudah melukis dengan bagus dan aku hanya dapat sarkasme? Sangat mengharukan."
Naruto tertawa. "Sejak kapan kau melukis, Uchiha?" tanya Naruto. Melihat hasil kerja Sasuke, Naruto tahu bahwa pemuda Uchiha itu pasti sudah melukis sejak lama, mungkin lebih lama dari yang Naruto kira.
"Kalau aku menjawabnya, apa kau mau menjawab pertanyaanku tadi sore?" tanya Sasuke.
Sejenak Naruto tidak paham apa maksud dari kata-kata Sasuke, tapi ketika dia ingat percakapan mereka di restoran ramen dan ketika berjalan pulang. Naruto kembali tertawa. "Apa kau serius? Kau masih ingat kata-kataku?" tanyanya tidak habis pikir.
"Tidak mudah melupakan apa yang keluar dari mulutmu, Ketua OSIS."
Naruto mendengus. "Mau sampai kapan kau memanggilku Ketua OSIS?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan. Kau jawab dulu pertanyaanku tadi sore."
Namun, Naruto tidak mau membicarakan tentang Suigetsu ataupun masa lalu Sasuke. Dia tidak mau mengingat-ingat hal itu sekarang. Naruto pikir, pasti ada suatu alasan kuat yang mengakar di dalam diri Sasuke, sehingga dia selalu diliputi kemarahan, tapi topik itu tidak ingin dibahasnya sekarang. Pun, apa yang terjadi dengan Suigetsu dan alasan Naruto melakukannya.
"Jangan merusak suasana, Uchiha," kata Naruto pelan. "Kau ini suka sekali diskusi-diskusi berat di malam hari."
"Oh, jadi kalau kita bertemu besok, kau mau mendiskusikannya?" tanya Sasuke.
"Kau tidak mudah menyerah ya," kata Naruto.
"Aku belajar dari orang yang tidak mudah menyerah."
.
Keesokan harinya, Naruto memutuskan untuk memakai sweater yang diberikan oleh Sakura. Dengan cuaca yang sudah semakin dingin dan angin yang terus menerus berhembus kencang, dia memakai pemberian Sakura. Sekali lagi, Naruto mengamati penampilannya sekali lagi sebelum berangkat sekolah.
Senyumnya semakin berkembang ketika dia melihat Sasuke sudah bersandar di tiang listrik persimpangan. Dia berlari-lari kecil menghampiri Sasuke. Sasuke memakai mantel dan syal hitam rajutannya. Dia menguap dan hidungnya sedikit memerah karena udara dingin.
"Pagi Uchiha," kata Naruto.
"Ekspresimu cerah sekali," komentar Sasuke, "aku takut akan ada orang yang jadi buta karenamu."
Naruto menendang kaki Sasuke. "Teme, ini masih pagi. Jangan menyulut emosi orang."
Mereka berjalan bersama. "Sweater baru?" tanyanya.
Naruto mengangguk. "Kado dari Sakura," jawab Naruto.
Naruto tidak menyadarinya karena dia berceloteh tentang kakaknya yang pulang ke rumah dan menginap dua hari, tapi Sasuke menjadi pendiam setelah itu. Ekspresinya sekeras batu dan dia hanya menanggapi seperlunya. Lagi-lagi, di antara mereka, ada keberadaan Sakura. Bukankah momen pergi dan pulang sekolah hanya milik Sasuke dan Naruto? Kenapa keberadaan gadis itu dimana-mana, menyelimuti Naruto?
Kemarahan yang tidak masuk akal, membuat seluruh mood Sasuke hancur. Dia tidak ingin pergi ke sekolah hanya untuk menonton dari tempat yang tidak terjangkau bahwa Naruto akan terus bersama gadis itu. Dia tahu bahwa itu bukan salah Naruto, tapi sulit mengenyahkan pikiran tidak masuk akal itu. Sasuke merasa mungkin otaknya bermasalah karena sedari dulu dia sering terkena pukul di kepala selama berkelahi. Mungkin efek sampingnya baru terasa sekarang.
"Halo, Uchiha."
Lambaian tangan Naruto di depan wajahnya membuatnya mengerjap. "Apa?"
"Aku tanya progress tugas kita. Apa kau butuh bantuan?" tanya Naruto lagi. "Aku sudah hampir rampung menyelesaikan makalahnya. Jadi, bagaimana denganmu?"
Benar juga, mereka masih punya tugas sejarah yang tidak penting itu. Sejujurnya, Sasuke belum sempat menggambar sketsanya lagi sejak terakhir kali dia bekerja kelompok di rumah Naruto. Dia sibuk menggambar portrait Naruto, menggambar ekspresi yang paling tepat menggambarkan si Ketua OSIS. Dia menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk memikirkan mata biru Naruto, rambut senada mataharinya, dan ekspresinya yang selalu penuh. Dengan kesibukan seperti itu, mana sempat lagi Sasuke menggambar peta dunia?
"Belum selesai," ujarnya.
Naruto menghela napas. "Mau mengerjakannya bersama di rumahmu? Aku bisa bantu membuat titik-titik penting selama Perang Dunia Pertama sebelum kita mulai membuat Peta Buta," usul Naruto.
"Santai sedikit, Uzumaki. Aku akan menyelesaikan gambar petanya baru kita ke tahap selanjutnya," kata Sasuke. Dia membiarkan instingnya mengambil alih dan mengacak-acak rambut Naruto.
"Hei! Rambutku sudah rapi!" protes Naruto. Ketika Sasuke mengangkat tangannya, setengah rambutnya sudah acak-acakan lagi. Naruto berusaha menyisirnya sebisa mungkin. "Kau tahu tidak aku butuh waktu 15 menit untuk merapikan rambut ini? Jangan kau acak-acak lagi."
Namun, Sasuke merasa tidak ada yang aneh dengan rambut Naruto. Rambutnya lembut, kuat dan lebat. Itu adalah ciri khasnya sebagai Uzumaki. Itu salah satu yang membuatnya tidak mudah dilupakan, sama seperti matanya yang biru dan kepribadiannya yang kuat. Sasuke tidak tahu banyak tentang Naruto, apa kesukaannya, apa yang tidak disukainya, tapi dia ingin tahu.
Jika saat itu kedua orangtuanya tidak mendaftarkannya ke SMA Konohagakure, apakah Sasuke tetap akan menjadi orang yang serampangan dan penuh dengan kemarahan? Dia bertahan di sekolah itu sudah hampir 3 minggu dan Sasuke mulai kerasan, meskipun dia tidak akan mau mengakuinya kepada Naruto. Dia kerasan di sekolah ini karena Naruto, tidak lebih dan tidak kurang.
"Menurutku itu sempurna."
Naruto menatapnya. "Apa?" dia bertanya sambil berusaha menyisir kembali rambutnya. Naruto Uzumaki, yang sedang memakai sweater pemberian kekasihnya sebagai hadiah ulang tahun, menatapnya dengan mata sebiru langit, persis seperti lukisannya.
"Kita terlambat," ujar Sasuke dan mulai berlari. Dia tidak melihat ke belakang lagi, meskipun Naruto mengejarnya dan menyerukan namanya. Dia tidak mau melihat Naruto saat ini, apalagi ketika dia merasakan sesuatu yang seharusnya tidak dia rasakan.
Dia sudah punya kekasih, bisik akal sehatnya.
.
"Pagi," sapa Naruto ketika dia sampai di kelasnya. Beberapa temannya menyapanya. Sakura sudah datang lebih dulu. Dia tersenyum lebar ketika melihat Naruto memakai sweater yang diberikannya.
"Kau memakainya," kata Sakura sambil tersenyum.
"Tentu saja. Untungnya, aku tidak berubah jadi monyet pagi ini." Naruto duduk di bangkunya. Dia meletakkan tasnya. "Jadi, suku Afrika ya? Apa itu bagian dari risetmu untuk tes masuk nanti?"
Sakura tertawa. "Aku butuh jimat super ampuh soalnya."
"Bagaimana dengan tugas-tugas dispensasimu?" tanya Naruto, ke topik selanjutnya.
"Untungnya aku diberi tugas individu, jadi aku bisa mengerjakannya tanpa merasa bersalah karena masuk ke kelompok orang di tengah jalan." Dia menatap Naruto. "Kudengar kau satu kelompok dengan Uchiha untuk tugas sejarah ya?"
Naruto mengangguk.
"Bagaimana? Lancar?"
Naruto mengangguk lagi. "Yah, dia tidak seburuk yang kukira."
Sakura menatap ke bangku belakang. "Apa kalian tidak berangkat bersama hari ini?" tanyanya. Naruto menatap ke belakang dan ternyata bangku Sasuke kosong. Ada sesuatu yang mencelus dari jantungnya. Dia tidak menjawab Sakura.
Naruto hendak mencari Sasuke, karena untuk pertama kalinya selama 3 minggu, Sasuke bolos kelas. Hanya saja, bel masuk kelas telah berbunyi dan Naruto otomatis duduk lagi di tempatnya. Sebelum guru yang mengajar masuk, dia mengirim pesan kepada Sasuke.
Naruto: Kau ada dimana? Apa kau membolos?
Namun, Sasuke tidak membalas pesannya.
.
Balkon gedung sekolah bukanlah tempat yang asyik untuk membolos di musim gugur. Anginnya sangat kencang dan juga tidak ada penghalang ataupun kanopi untuk melindungi siapapun yang ada di sana. Kebanyakan para siswa memilih berlindung di dalam kelas atau makan di taman sekolah selama musim gugur. Biasanya balkon mulai dipenuhi orang-orang ketika sudah memasuki musim semi dan musim panas.
Bagi Sasuke, ketidakadaan orang membuat semuanya menjadi jauh lebih tenang. Dia ingin suasana tenang untuk mengartikan semua keanehan yang dirasakannya. Apakah perasaan yang saat ini dimilikinya memiliki nama? Apakah dia harus meng-klaim perasaan itu, mengingat bahwa hal abstrak itu tidak pernah dirasakan sebelumnya? Sasuke tidak pernah memikirkan hal-hal merepotkan seperti itu dan sejujurnya dia tidak ingin melakukannya. Hanya saja, pikiran-pikiran itu muncul hilang timbul, terutama ketika dia bersama Naruto.
Semua yang dilakukannya bersama Naruto itu terjadi secara impulsif. Setengah tindakannya dilakukan tanpa berpikir matang, seperti menunggunya untuk berangkat bersama, melukisnya, meneleponnya di malam hari, semuanya.
Sasuke memang bukan orang paling suci di dunia, tapi dia tahu aturan dasar dari berteman, yaitu jangan mengacaukan hubungan orang. Naruto sudah menjalin hubungan dengan Sakura selama 2 tahun, jauh sebelum Sasuke masuk ke kehidupannya. Mereka pasti telah melewati banyak hal bersama-sama, entah itu hal membahagiakan maupun menyedihkan. Ada alasan mengapa hubungan mereka awet, dan Sasuke yang baru saja masuk ke tengah-tengah kehidupan SMA Konohagakure tidaklah berhak menyelinap seperti parasit.
Dia tidak tahu apa-apa tentang Naruto, Sakura, ataupun alasan mereka berkencan. Naruto juga tampaknya hanya menganggap Sasuke sebagai seorang teman sekelas biasa yang pergi dan pulang bersama. Tidak lebih dan tidak kurang. Bahkan, sebelum itu, Sasuke masih ingat ekspresi enggan di wajah Naruto ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya.
Seharusnya saat itu aku langsung melangkah menjauh, pikir Sasuke.
Seharusnya dia terus saja bersikap brengsek dan membuat Naruto membencinya. Namun, yang ada Sasuke malah tertarik untuk mendekat dan kini dia terjebak dalam jaring laba-laba yang tidak diperkirakannya. Kini, dia tidak tahu caranya membebaskan diri. Mungkin lebih baik jika Naruto tetap membencinya, tetap memandangnya penuh sangsi dan sebegai pengganggu. Lelaki itu malah merespon dengan baik ketika Sasuke mendekat. Jadi, Sasuke semakin terjebak di dalam jaring laba-laba itu.
Memikirkan hal-hal yang rumit membuat seluruh mulut Sasuke terasa pahit dan dia ingin sekali merokok. Mungkin, jika dia merokok sekarang, ada kemungkinan dia akan ketahuan dan akhirnya dikeluarkan dari sekolah. Jika dia keluar dari sekolah, akan lebih mudah membebaskan diri dari jaring laba-laba yang saat ini mencekiknya. Namun, itu artinya dia tidak akan pernah lagi bertemu Naruto. Mungkin, Naruto akan terus bersama Sakura, bertukar kado di saat Natal dan berciuman di Tahun Baru. Memikirkannya saja membuat perutnya bergolak dalam rasa amarah yang berbeda.
Sasuke mengeluarkan sebatang rokok dari tasnya dan hendak membakar ujungnya dengan pemantik, sebelum rokok itu ditarik secara paksa. Otomatis, Sasuke mendongak dan matanya bersibobok dengan iris sebiru langit milik Naruto. Ekspresi Naruto datar, tapi ada kilatan kemarahan di dalamnya.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya Sasuke.
"Aku boleh berada di mana saja saat jam istirahat, Uchiha." Dia mengambil tempat di sebelah Sasuke dan duduk bersila. Satu batang rokok yang belum dinyalakan itu masih di tangannya. "Kupikir kau bolos untuk ke Game Centre, tapi rupanya kau malah melakukan sesuatu yang bodoh dan membosankan." Dia mengembalikan rokok itu ke Sasuke.
Sasuke mendengus. "Jadi kau lebih memilih aku membolos ke Game Centre?"
Namun, Naruto tidak menjawab. Dia menatap ke satu titik di langit yang kelabu. "Aku sudah yakin bahwa kau kerasan di sekolah ini, tapi kau masih bisa mengejutkanku." Dia beralih menatap Sasuke. "Apa kau sebegitu inginnya dikeluarkan dari SMA ini?"
Tidak, itu adalah jawaban spontan yang diberikan langsung oleh otaknya. Dia tidak ingin dikeluarkan dari sekolah. Dia ingin berada di tempat yang sama dengan Naruto berada. Jika dia pergi, bagaimana caranya Sasuke melanjutkan hidup? Dia akan tetap menjadi anak yang tidak berguna hingga akhirnya dia akan dikirim ke luar negeri oleh orangtuanya.
"Aku mengancam Suigetsu," kata Naruto. "Ketika aku sedang mencari-cari informasi tentang kehidupan pribadinya, aku tidak sengaja menemukan sebuah rahasia yang bisa menghancurkannya dan juga keluarganya. Kugunakan hal itu untuk mengancam Suigetsu agar dia tidak berulah di sekolah, setidaknya selama masa jabatanku. Sejak saat itu dia tidak berulah lagi, tapi aku tidak bangga dengan apa yang aku lakukan."
Sasuke menatapnya tanpa berpikir apapun.
"Itu jawaban dari pertanyaanmu kemarin, Sasuke Uchiha."
Barulah Sasuke mengangguk. Dia tidak perlu bertanya rahasia macam apa yang ditemukan oleh Naruto, karena jawaban itu cukup bagi Sasuke. Dengan jawaban itu, dia merasa mengenal Naruto lebih dalam lagi, mengenal alasan-alasannya, mengenal sisi baik buruknya, mengenal semuanya.
"Siapa yang tahu tentang hal ini?" tanya Sasuke.
Naruto menggeleng. "Tidak ada. Aku tidak pernah bicara mengenai isi ancaman itu kepada siapapun. Namun, aku juga tidak bisa mencegah rumor yang beredar. Menurutku, selama rumor itu tidak merugikan siapapun, aku tidak peduli."
"Bahkan Haruno tidak tahu?" tanya Sasuke.
Naruto menggeleng lagi. "Sakura juga tidak tahu." Dia menatap Sasuke. "Kau orang pertama yang kuberitahu mengenai masalah ini."
Jawaban itu membuat sebuah tawa kecil lolos dari mulut Sasuke. Dia merasa lega dan senang. Dia mengetahui sesuatu hal yang tidak diketahui oleh Sakura mengenai Naruto. Namun, Naruto kira Sasuke tertawa karena alasan konyol, jadi Naruto juga ikut tertawa. Dia tertawa karena jika dia ingat kembali kejadian itu, rasanya tampak tidak masuk akal. Naruto yang berusia 7 tahun tidak akan pernah menyangka bahwa Naruto yang berusia 18 tahun bisa mengancam orang.
"Kau benar-benar di luar dugaan."
.
BERSAMBUNG
