Bab 10: Notifikasi Ulang Tahun

Pengumuman kemenangan tim lomba debat diumumkan pada hari Senin keesokan harinya. Senju Tsunade yang mengumumkannya ketika mereka apel di lapangan basket indoor. Ketiga orang dari tim debat dipanggil maju ke panggung dan semua orang bertepuk tangan. Tsunade menyelamati mereka, menjabat tangan mereka dan mengatakan semua hal yang bagus-bagus. Para murid dan guru bertepuk tangan sekali lagi sebelum ketiga murid tersebut turun dari panggung. Selanjutnya, Kepala Sekolah mengumumkan hal-hal seperti ujian, nilai dan untuk kelas tiga, segera menyelesaikan semua berkas yang berkaitan dengan Ujian Masuk Universitas. Setelah 45 menit, mereka dibubarkan dan menuju kelas masing-masing.

Hari itu berjalan seperti biasa. Mereka masuk ke kelas, guru mata pelajaran mengajar sesuai jam pelajaran, istirahat, lalu kembali belajar. Yang membedakan, bahwa kini Sakura sudah tidak lagi menjalani dispensasi, sehingga kursi di sebelah Ketua OSIS sudah tidak lagi kosong. Jika ada pekerjaan kelompok dengan teman sebangku, Sasuke tidak bisa lagi bekerja sama dengan Naruto.

Angin musim gugur sudah mulai berhembus di pertengahan bulan Oktober, sekarang semua siswa sudah mulai memakai seragam musim gugur, dengan kemeja lengan panjang serta sweater. Langit juga sudah mulai kelabu sepanjang hari, serta daun-daun mulai menguning dan berguguran di atas jalanan, membuat jalan tampak kotor akibat guguran daun, tetapi bagi sebagain orang terlihat estetik.

Sasuke mengingat-ingat janji mereka kemarin, bahwa hari ini Naruto akan mengerjakan tugas sejarah mereka. Sejujurnya, Sasuke tidak peduli sama sekali dengan tugas itu. Dia hanya tidak senang mengetahui fakta bahwa Naruto menghabiskan satu hari penuh untuk menemani pacarnya lomba debat dan baru pulang di malam hari. Jadi, jika untuk waktu sebentar dia bisa menjauhkan mereka berdua, Sasuke pikir kenapa tidak.

Pasti ada yang salah dengan otaknya, karena tidak biasanya dia tertarik dengan hubungan oang lain. Bahkan, dulu Sasuke tidak tertarik dengan apapun selain dirinya sendiri dan kemarahannya. Sekarang, dia uring-uringan karena Naruto memprioritaskan kekasihnya dibandingkan… apa? Adu mulut dengan Sasuke? Apa yang sebenarnya Sasuke coba buktikan?

Di jam istirahat, teman-teman berkumpul di sekitar meja Naruto dan Sakura, mereka menggabungkan meja dan mulai makan bersama. Lalu, pikiran seperti dia ingin menginterupsi kelompok itu dan menarik Naruto menjauh menjadi semakin nyata. Rasanya, dia mampu melakukan hal itu. Namun, jika dia benar-benar melakukan hal itu, maka Naruto akan sangat marah dan emosinya meledak. Sasuke tidak keberatan menyaksikan luapan emosi itu. Tapi itu artinya bahwa Naruto lepas kendali di depan banyak orang. Dia tidak akan pernah memaafkan Sasuke.

Sejak kapan aku memikirkan apa pendapatnya? tanya Sasuke tidak mengerti pada dirinya sendiri.

Sasuke baru akan membangunkan Shikamaru yang sedang mengorok ketika seorang perempuan blasteran dengan rambut pirang panjang masuk ke kelas mereka. Wajahnya sangat cantik dan tubuhnya tinggi. Sasuke seperti mengenalinya, tapi lupa melihatnya dimana.

"Oke dengarkan semuanya!" dia berseru dengan percaya diri dari depan kelas. Semua mata tertarik memandangnya. Dia memang tipe orang yang cantik dan tidak membosankan. Matanya berkilat-kilat. "Aku mengadakan pesta di rumahku untuk merayakan kemenangan si Jidat ini! Jangan lupa datang di malam minggu ini, OKE?"

Satu kelas berseru-seru. Saking ramainya, Shikamaru sampai tersentak bangun, membuat Sasuke sedikit kasihan dengan pemalas satu itu. Melihat Shikamaru yang sedang meregangkan badan, dia menunjuk ke arah mereka berdua. "Kijang pemalas di situ juga wajib datang! Paham!"

Shikamaru mengerjap sebelum memberikan jari tengah kepada gadis blasteran itu. "Jangan mengganggu tidur siangku."

Gadis itu membalas dengan memberikan jari tengah juga. Setelah itu dia keluar dari kelas mereka. Melihat dari gayanya dan cara undangannya, sudah jelas dia sering membuat pesta-pesta anak muda seperti itu. Artinya, gadis blasteran itu pernah terpapar budaya Amerika Serikat, karena jarang Sasuke menemukan undangan pesta terbuka seperti itu di Jepang.

"Ah, kepalaku pusing karena bangun." Shikamaru memegang kepalanya.

"Siapa perempuan tadi?" tanya Sasuke.

Shikamaru hanya meliriknya. "Orang yang merepotkan."

Sia-sia bertanya pada Shikamaru. Melihat gelagatnya, dia lebih malas daripada biasanya, apalagi tidurnya terganggu. Jadi, Sasuke memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh karena dia tahu bahwa dia tidak akan mendapatkan jawaban yang diinginkannya. Akhirnya, Sasuke memutuskan untuk menghabiskan waktu istirahatnya di balkon sekolah hingga bel masuk berbunyi. Dia keluar dari pintu belakang kelas, sehingga dia tidak berhadapan lagi dengan Naruto.

Namun, yang dia tidak tahu, ketika kursi Sasuke bergeser, pemuda berambut pirang itu menoleh ke belakang, matanya mengikuti gerakan Sasuke yang keluar kelas sendirian.

"Ada apa?" tanya Sakura.

Naruto menggeleng. "Tidak ada."

.

Siang itu perasaan Sasuke membaik karena Naruto mengajaknya pulang bersama. Setelah menjelaskan kondisinya pada Sakura (tidak penting, omong-omong), mereka berjalan bersama menuju perumahan.

"Aku sudah mencari papan tripleks untuk alas Peta Buta," kata Naruto. "Aku sudah meminta untuk diamplas supaya tidak tajam dan permukaannya rata, jadi kita sudah bisa membuat sketsa-nya."

"Apa sedari dulu kau selalu perfeksionis seperti itu?" tanya Sasuke.

Naruto menatapnya dengan kesal. "Yang harusnya kau katakan adalah 'Terima kasih Uzumaki-kun'. Dan aku akan mengatakan 'Sama-sama Uchiha'."

"Terserahlah," dengus Sasuke.

"Jadi, kita akan mengerjakan tugas dimana? Rumahku atau rumahmu?" tanya Naruto.

"Kamarku masih berantakan karena barang-barang belum dibereskan semuanya. Di rumahmu saja," ujar Sasuke berbohong. Tentu saja barang-barang pindahan itu sudah selesai dirapikan. Ini sudah masuk minggu ketiga Sasuke bersekolah di SMA Konohagakure, rekor terbaiknya, apalagi hingga saat ini tidak ada telepon panggilan yang membuat Ibunya harus minta maaf ke Guru BK dan memohon agar Sasuke tidak dikeluarkan.

Alasan Sasuke mengatakan hal itu agar dia punya alasan untuk melihat kamar Naruto, supaya dia bisa tahu lebih banyak mengenai pemuda itu. Dia ingin tahu seperti apa isi kamar dari seorang pemuda paling sempurna di SMA Konohagakure? Kamar seseorang bisa menjelaskan isi hati dan kepribadian dari orang tersebut, jadi Sasuke sangat penasaran.

"Oke," kata Naruto. Sebelum mereka ke perumahan, Naruto mampir ke sebuah toko kelontong untuk membeli berbagai jenis ukuran dan warna spidol, gunting, dan lem cair. Setelah itu barulah mereka menuju Kediaman Uzumaki.

Kushina menyambut mereka berdua di dalam rumah dan Naruto bilang makan siang mereka nanti setelah selesai mengerjakan tugas. Sasuke sudah pernah ke rumah Naruto ketika makan malam bersama keluarganya di hari pertama dia pindah ke Tokyo. Namun, itu hanya sebatas ruang tamu dan ruang makan saja.

Interior rumah itu tidak berubah, persis sama seperti yang ada di ingatan Sasuke. Ruang tamu yang sederhana tapi menampilkan kesan mewah, ada rak berisi beberapa patung dari berbagai negara, serta portrait keluarga. Dua dari tiga laki-laki di dalam foto memakai jas putih dokter, sementara Naruto memakai jas hitam biasa. Kushina memakai gaun berwarna merah. Portrait keluarga yang luar biasa. Sasuke mengenali Minato sebagai salah satu pria yang memakai jas dokter, satu pria lagi tidak pernah ditemuinya, tetapi beberapa kali disinggung dalam percakapan ketika mereka sedang makan bersama.

Anak pertama dari Keluarga Uzumaki, Kurama Uzumaki. Seingat Sasuke, dia juga seorang dokter yang baru selesai pendidikan. Sisanya, Sasuke tidak memperhatikan cerita dari Kushina. Bentuk wajah Naruto berbeda dengan kakaknya. Wajah milik Kurama terkesan lebih tegas, galak, dan penuh perhitungan. Rambutnya diwarisi dari Ibunya, semerah darah dengan bola mata yang berkilat seperti pisau yang baru saja diasah.

Mungkin seusia dengan Itachi, batin Sasuke ketika dia melihat foto keluarga itu lagi.

Mereka naik ke lantai dua dan Naruto membuka pintu kamarnya. Kamar Naruto menyegarkan dan rapi seperti pemiliknya. Jendela dibuka setengah, membuat suasana di kamar sejuk dan gorden putih sedikit melambai ditiup angin musim gugur. Tempat tidurnya tidak kusut, selimutnya terlipat rapi dan seprainya tidak lepas dari kasur. Di meja belajarnya, jajaran buku pelajaran tersusun rapi. Di belakang pintu, ada hanger baju, tempat Naruto menggantung kemejanya untuk dipakai keesokan harinya. Tripleks yang lumayan panjang itu ada di sudut kamar Naruto, sudah diamplas sehingga ujung-ujungnya tidak lagi tajam.

Di dindingnya terdapat beberapa foto yang dipajang. Foto dari masa kecil Naruto yang sedang berada di Disneyland sambil memakai bandana Mickey Mouse, hingga foto liburan ke luar negeri seperti London (karena dia berfoto dengan latar belakang Big Ben) dan Paris (latar belakangnya Menara Eifel). Sasuke menebak pasti masih banyak lagi foto-foto dari Naruto, tapi hanya beberapa yang dicetak dan dipajang. Sisanya mungkin dimasukkan ke dalam album foto.

"Sudah selesai inspeksinya?" tanya Naruto. Dia telah menaruh tasnya di bawah meja belajarnya dan mengambil tripleks itu untuk diletakkan di tengah-tengah ruangan.

"Masih ada sedikit debu. Aku tidak yakin akan meloloskannya sebagai uji kualifikasi," jawab Sasuke.

"Jangan mengada-ada," balas Naruto. Naruto melepaskan blazer-nya yang langsung digantung di hanger (sesuai perkiraan Sasuke) serta dasinya. "Aku ganti baju dulu," kata Naruto sambil membuka kemejanya juga, menyisakan sebuah singlet putih sebagai dalaman. Dengan hati-hati, dia meletakkan kemeja tersebut di hanger lain dan mengambil satu kaos berwarna abu-abu dari lemarinya. Setelah itu, dia mengambil laptop dari meja belajarnya dan membuka sebuah gambar dari google. Gambar peta dunia.

"Pertama, kita harus menyalin peta ini ke tripleks ini," kata Naruto. Lalu dia terdiam. Mungkin dia sedang berpikir bagaimana caranya melukiskan gambar dari google ke sebuah tripleks yang ukurannya puluhan kali lebih besar dari layar laptop.

"Aku akan menggambarnya," kata Sasuke. Naruto menatapnya, bingung harus merespon apa. Sasuke melanjutkan, "kau fokus saja dengan makalahnya. Supaya kita cepat selesai."

Namun, Sasuke tidak mau cepat-cepat selesai.

"Ya sudah, aku akan mencoba menyusun makalahnya. Aku akan mencetak gambar ini dulu," katanya dan dia keluar dari kamarnya. Laptop ditinggalkan di samping Sasuke. Layarnya menampilkan gambar peta dunia yang berwarna warni dari Google Image. Lalu, sebuah notifikasi Facebook masuk, bertuliskan: Reminder, October 16, your birthday!

Sasuke mengecek tanggal di layar laptop Naruto setelah notifikasi dari Facebook itu hilang, 13 Oktober 2014. 3 hari lagi adalah ulangtahun Naruto, memikirkan hal itu saja membuat perutnya sedikit bergolak. Cepat-cepat dia mengenyahkan sensasi itu. Kenapa jika Naruto ulang tahun 3 hari lagi? Toh, Sasuke bisa berpura-pura tidak tahu, mengingat dia hanya anak baru di kelasnya.

Pintu kamar Naruto kembali dibuka dan si pemilik kamar masuk ke dalam kamar dengan memegang satu lembar kertas HVS yang sudah berisikan gambar peta dunia.

"Kau mencetak dimana?" tanya Sasuke.

"Di Ruang Kerja Ayahku. Satu-satunya printer di rumah ini hanya di sana," jawab Naruto sambil menyerahkan kertas itu pada Sasuke. Lalu, dia mengambil laptop-nya dan menaruhnya di atas meja. "Kau butuh pensil?" tanya Naruto sambil meraih tempat pensil yang memang ada di meja belajarnya. Dia menyerahkan pensil dan penghapus pada Sasuke.

Sasuke ingin bertanya apakah benar 3 hari lagi Naruto berulangtahun, tetapi kata-kata itu terasa tidak tepat di mulutnya. Ketika mereka mulai bekerja, suasana hening mendominasi. Pemuda Uchiha itu bahkan bisa mendengar suara desau angin di musim gugur yang masuk lewat jendela kamar Naruto yang setengah dibuka. Sasuke menggambar secara pelan setiap lekuk-lekuk dari peta dunia di atas tripleks. Karena Naruto sudah mengamplas permukaan dan keempat sisinya, Sasuke tidak takut lagi jika tangannya akan terluka karena serbuk kayu.

Menggambar seperti bagian dari hidup, bagi Sasuke. Dia sudah menyenangi seni seperti itu sedari kecil, ketika Ibunya memberikan buku gambar A4 beserta pensil warna sebagai hadiah ulangtahunnya yang ke 7 tahun. Namun, bagi keluarga Uchiha, menggambar hanya bisa dijadikan sebagai hobi, tidak untuk didalami apalagi dijadikan mata pencaharian. Uchiha memiliki Perusahaan Farmasi yang besar di Jepang, jadi sudah pasti dia akan mengurus bisnis itu cepat atau lambat. Namun, Sasuke jelas sebuah pengecualian. Ayahnya mungkin sudah putus harapan karena dia tidak bisa menjadi sempurna seperti Itachi.

Sasuke mencuri pandang lagi ke arah Naruto Uzumaki. Mungkin, salah satu alasan mengapa Sasuke tidak menyukainya ketika mereka bertemu atau alasan mengapa Sasuke selalu menyulut emosinya, karena Naruto sedikit banyak mirip dengan Itachi. Bukan dalam hal yang dapat dilihat, tetapi dari segi kesempurnaan yang mereka miliki. Sama-sama dapat diandalkan, sama-sama bisa menguasai segalanya, sama-sama mampu mengatur emosi dengan baik dan hidup penuh dikelilingi oleh orang-orang. Dan sifat-sifat seperti itu seolah mengolok-olok Sasuke yang tidak bisa apapun.

"Kau mau minum apa?"

Sasuke mendongak ketika Naruto bertanya. Si pemilik kamar sedang menatapnya dan sebuah kacamata bertengger di wajahnya.

"Kau memakai kacamata?" tanyanya secara refleks. Penampilan yang menyegarkan, pikir Sasuke.

Naruto melepaskan kacamatanya. "Kacamata anti UV, soalnya mataku gampang kering. Jadi, mau minum apa?" tanyanya lagi.

"Apa saja," ujarnya.

Naruto bangkit dari kursi dan keluar kamar. Pintu kamarnya dibiarkan terbuka. Sasuke memandang pekerjaannnya, dia baru selesai membuat sketsa benua Asia dan Eropa, belum ditambah dengan kepulauan-kepulauan di Irlandia Utara serta di Asia Tenggara. Sasuke melemaskan tangannya yang memegang pensil. Memang sulit menggambar di papan tripleks, meskipun dia sudah menggambar dengan pelan-pelan.

Naruto masuk lagi ke dalam kamar membawa nampan berisi dua jus jeruk dan satu piring yang berisi camilan. Dia meletakkan nampan itu di meja belajarnya, sementara kedua gelasnya ditaruh di lantai dan piring berisi camilan diletakkan di atas papan tripleks. Dia mengamati pekerjaan Sasuke.

"Kau jago membuat petanya," komentar Naruto.

"Kenapa kau tidak memakai kacamata ke sekolah?" tanya Sasuke.

Naruto hanya menatapnya, "Karena aku tidak membutuhkannya. Penglihatanku masih bagus."

Apa ada orang lain yang tahu bahwa kau memakai kacamata? Apa Sakura Haruno tahu? Pertanyaan yang nyaris keluar lagi dari mulutnya. Namun, sebelum mulutnya bertindak sendiri, Sasuke segera meminum jus jeruk yang ada di dekatnya. Sudah jelas sekali Sakura tahu, mereka pasangan kekasih.

"Pesta hari Minggu nanti, kau datanglah," ujarnya.

"Maksudmu, pesta si blasteran?"

Naruto mendengus. "Ino Yamanaka namanya."

"Apa kau akan datang?" tanya Sasuke.

Naruto mengangguk. "Begitulah. Lagipula Sakura juga akan datang."

Benar juga. Si gadis Yamanaka itu bilang bahwa pesta itu untuk merayakan kemenangan tim debat, jadi Sakura Haruno pasti datang. Dan, tentu saja Naruto akan datang karena dia pacar Sakura. Pacar yang suportif. Sasuke bergidik memikirkannya.

"Kenapa aku harus datang? Aku bahkan tidak kenal dengannya," kata Sasuke. Membayangkan pergi ke pesta dimana Naruto akan terus berdua dengan Sakura membuatnya malas.

"Yamanaka tidak akan peduli pada hal itu. Dia bahkan tidak ingat setengah orang yang datang ke pesta rumahnya," kata Naruto.

"Dia sering mengadakan pesta-pesta seperti itu?" tanya Sasuke.

"Ayahnya warga Amerika Serikat dan dia pernah tinggal beberapa tahun di Los Angeles. Kurasa dia tidak bisa melupakan gaya hidup Amerika Serikat meskipun dia menetap di Jepang. Lagipula, pesta seperti ini jarang kau datangi kan?"

Memang benar, Sasuke jarang datang ke pesta-pesta rumah seperti itu. Hidupnya terlalu penuh dengan kemarahan pada banyak orang sehingga dia tidak punya teman. Dia terlalu cepat berpindah sekolah sebelum memiliki teman.

"Kau sering datang ke pestanya?" tanya Sasuke lagi.

"Begitulah. Yamanaka itu sahabat Sakura, jadi setiap kali dia mengadakan pesta, Sakura pasti datang. Dan sudah jelas aku juga pasti akan datang bersama Sakura."

"Jadi kau lebih seperti pengawal pribadi Haruno."

Naruto mendengus. "Tidak seperti itu, teme. Aku juga menikmati pestanya. Ada baiknya juga pesta seperti itu, melepas penat sejenak."

Lalu, Sasuke teringat sesuatu. "Apa hubungannya Yamanaka dengan Nara?" tanyanya.

Naruto mengangkat bahu. "Mereka hanya orang-orang bodoh. Aku juga tidak tahu, tapi hubungan mereka merepotkan." Dia menatap Sasuke. "Kau banyak tanya hari ini."

"Wah, apa aku tidak boleh bertanya? Apa hak bertanyaku sudah habis?"

"Sialan kau. Tapi kau juga sudah mulai punya teman ya, Shika– Nara."

"Sekarang kau mengawasi lingkaran pertemananku?"

Naruto malah menyunggingkan sebuah senyum. Senyuman yang sulit dideskripsikan oleh Sasuke, karena senyum itu seperti sebuah lapisan kabut yang menyembunyikan apapun yang ada dibaliknya. "Sudah kerasan di SMA ini, Uchiha Sasuke?"

"Jangan besar kepala, Ketua OSIS."

"Temanmu, Nara, juga akan datang."

"Kau punya jadwal hariannya atau apa? Kau menakutkan sekali."

Sebuah tawa keluar dari mulut Naruto. Tawa yang sangat renyah dan sebenarnya Sasuke sering mendengarnya. Awalnya, Sasuke kira bahwa dia tidak akan pernah mendapatkan tawa itu untuk dirinya sendiri, awalnya dia kira tawa itu hanyalah salah satu dari kepura-puraan Naruto. Namun, setelah mendengarnya langsung, Sasuke tahu bahwa tawa itu asli. Meskipun Naruto milik banyak orang, Sasuke masih bisa menyimpan sesuatu dari kepingannya.

"Tidak lah! Mereka memang biasa seperti itu, tapi Nara pasti datang. Kau mau datang asal ada teman kan?"

"Aku bahkan belum bilang kalau aku mau datang ke pestanya. Tampak merepotkan."

"Baru dua minggu kau berteman dengan Nara, tapi kau sudah ketularan malasnya. Lagipula, aku juga akan datang."

Alis Sasuke naik dan dia menatap Naruto. "Percaya diri sekali kau! Kau pikir aku mau bertemu denganmu?"

Naruto mengibaskan tangannya seperti mengusir lalat. "Aku hanya berbuat baik padamu, teme."

"Aku tersanjung. Dewa pun akan malu melihatmu yang serba bisa."

Sebagai balasan, Naruto hanya mengacungkan jari tengahnya.

.

"Kau baru pulang? Apa kau mau makan malam?" tanya Mikoto ketika Sasuke membuka sepatunya di ruang tamu. Papan tripleksnya diletakkan di dekat pintu. "Apa yang kau bawa?"

"Aku sudah makan di rumah Uzumaki," katanya.

"Kau dari rumahnya?" tanya Mikoto. Dia mengikuti Sasuke masuk ke rumah.

"Mengerjakan tugas sejarah," jawab Sasuke singkat sambil menunjuk ke arah papan tripleks yang masih berisi sketsa benua Asia dan Eropa.

"KAU MENGERJAKAN TUGAS? Jadi kau tidak membolos," seruan histeris Mikoto membuat Sasuke hampir terpeleset di tangga.

"Ibu bilang aku harus berusaha di SMA baru kan?" gerutu Sasuke.

Punggungnya ditubruk dan ternyata Mikoto memeluknya dengan erat. Sasuke hampir kehabisan napas karena dia tidak ingat kapan terakhir kali Ibunya memeluknya dengan begitu bersemangat. "Sesak Bu," keluh Sasuke dengan wajah panas di pelukan Mikoto. "Aku mau masuk kamar."

"Ah ya! Ibu terlalu bersemangat!" Mikoto melepaskan pelukannya dan kembali ke ruang keluarga sambil bersenandung. "Aku akan memberitahu Fugaku-san mengenai hal ini~" ujarnya senang.

Sasuke hanya melengos dan masuk ke dalam kamarnya. Di kamar, dia meletakkan tas sekolahnya sembarangan, meletakkan papan tripleks itu di dekat meja belajarnya dan membuka kemejanya. Dia tidak terorganisir seperti Naruto, jadi kemeja itu hanya digantung asal di kursi belajarnya. Sasuke merebahkan diri di atas kasurnya yang sudah dibersihkan Mikoto tadi pagi.

Pikirannya melayang pada tanggal yang dia lihat di notifikasi Facebook Naruto. Tanggal 16 Oktober adalah hari ulang tahun pemuda Uzumaki itu dan entah mengapa Sasuke kepikiran. Dia meraih laptop yang ditaruh sembarangan di atas meja belajarnya dan menyalakannya. Tak berselang lama, dia membuka Facebook dan mengetik nama Naruto Uzumaki. Profil Naruto muncul di pencarian paling atas. Sasuke mulai melihat profilnya.

Foto profil yang dipakai adalah ketika Naruto sedang berada di sebuah Pegunungan di Switzerland. Landscape khas yang masih alami dan sangat menyejukkan mata yang memandang. Dia tersenyum lima jari di tengah padang rumput dengan pegunungan es di belakangnya. Langit di atasnya sangat cerah, menyaingi warna bola mata Naruto.

Naruto Uzumaki is in relationship with Sakura Haruno, begitu tulisan status pasangannya. Sasuke mendengus membacanya. Tidak perlu diberitahu seluruh dunia juga tahu, pikirnya sinis. Namun, dia kembali melihat foto-foto kegiatan yang diunggah Naruto di Facebook.

Ada foto kegiatan OSIS, ada kegiatan olahraga, dan ada juga foto-fotonya dengan teman sekelas. Sasuke mengenali wajah-wajah teman satu kelas mereka. Dan, ada Sakura di sebelah Naruto. Gadis dengan rambut sewarna kelopak Sakura itu selalu menempel seperti perangko. Benar-benar pasangan idaman semua orang. Lalu, lebih banyak lagi foto-foto liburan keluarga Uzumaki. Ada di Kaki Gunung Fuji, ada di Hakodate, sampai foto ketika Naruto menyelam di laut Okinawa. Ada foto-foto terumbu karang yang cantik-cantik dan anemone laut selama dia menyelam.

Lalu, ada foto keluarga Uzumaki di depan salah satu kampus terbaik di dunia, Cambridge. Mereka berempat berfoto dengan Kurama yang mengenakan toga khas milik Cambridge. Sekali melihatnya Sasuke tahu, karena Itachi juga merupakan lulusan Cambridge. Rupanya foto itu diunggah oleh Kurama dan Naruto ditandai.

Lalu, Sasuke melihat-lihat semakin ke bawah. Ada beberapa foto kencan Naruto dan Sakura yang diunggah, tapi kebanyakan foto-foto liburan atau foto-foto berkelompok. Sasuke juga melihat dari unggahan tahun lalu ketika Naruto berulangtahun, keluarganya merayakan dengan pesta dan kue, bahkan Sakura ada di dalam foto tersebut. Foto-foto ulangtahun itu dilihat baik-baik oleh Sasuke karena dia ingin melihat apa saja yang diberikan oleh orang-orang untuk kado.

Sakura Haruno pasti tahu kado apa yang hendak diberikannya, bisik pikiran Sasuke.

Berisik, balasnya sengit.

Sasuke lebih baik menembak kepalanya sendiri daripada berinteraksi dengan gadis itu. Padahal, Sakura saja tidak pernah bertegur sapa dengan Sasuke, tapi Sasuke sudah tidak suka dengan gadis itu. Otaknya memang aneh.

Matanya tidak lepas dari foto-foto milik Naruto dan tangannya terus menerus membawanya ke foto-foto yang lebih lama. Ada pula foto-foto dari Pesta Rumah Yamanaka. Penerangannya redup, persis seperti pesta rumah pada umumnya. Ada beberapa orang yang tertangkap kamera dan Ino berpose paling cantik di antara semuanya. Harus Sasuke akui, gadis blasteran itu memang mencuri perhatian. Kecantikan khas yang jarang dimiliki wanita Jepang, gen tingginya menambah poin dirinya. Rambut pirang pucatnya yang panjang dan lebat, dan matanya yang selalu bersinar. Pakaian yang dipakainya selalu modis dan trendy.

Ada beberapa foto yang diunggah hari itu, semuanya dari pesta rumah. Ada foto dimana Ino dan Sakura yang berfoto saja, ada beberapa anak lelaki yang difoto secara candid, dan ada foto Naruto yang menatap ke kamera sambil menyengir sementara Sakura mencium pipinya. Mata biru milik Naruto di dalam foto itu seperti langsung tersenyum kepada Sasuke, mengatakan bahwa dia sangat menikmati pesta tersebut.

Mata Sasuke perih ketika dia memutuskan untuk menyudahi melihat-lihat profil Naruto. Semua yang diunggah di Facebook adalah semua momen-momen terbaik dalam hidup Naruto, menjadikannya manusia yang semakin sempurna bagi Sasuke. Dia bahkan tidak bisa menemukan inspirasi apapun untuk ulangtahun Naruto nanti.

Tunggu, memangnya kenapa jika Naruto sebentar lagi berulangtahun? Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, pasti pemuda itu merayakan ulangtahunnya bersama dengan kedua orangtuanya serta kekasihnya, Sakura. Dia akan dikelilingi oleh orang-orang yang menyukainya, diberi hadiah sesuai dengan keinginannya dan kebutuhannya. Tidak ada tempat untuk Sasuke masuk ke dalamnya.

Dengan sedikit frustasi, Sasuke menutup laptop-nya hingga berbunyi. Dia meletakkan benda itu begitu saja di tempat tidur, sementara Sasuke hanya memandang langit-langit kamarnya yang suram. Kamarnya suram, tidak seperti kamar Naruto yang tampak segar. Tanpa bantuan Kushina, Sasuke yakin Naruto membersihkannya hingga tidak ada noda apapun yang menempel. Semua tentang Naruto Uzumaki terlalu sempurna dan menyilaukan. Sasuke bingung kenapa belum ada orang yang buta karena terlalu lama berada di sisinya.

Dia mengubah posisi tidurnya hingga matanya menatap ke sebuah buku canvas A3 yang dulu dibelinya untuk menghabiskan waktu luang. Namun, sejak Sasuke pindah dari Kyoto dan bersekolah di SMA Konohagakure, dia belum ada menyentuh buku canvas tersebut. Sasuke berusaha mengalihkan pandangannya, tapi dia tidak bisa.

Aku pasti sudah gila, batinnya sebelum bangkit dari kasur dan mengambil buku tersebut.

.

BERSAMBUNG