Disclaimer : Naruto Masashi Kishimoto

As you wish Elevtron

Rating : T

Genre : Adventure, Tragedy

Warning : Unsur kekerasan, Update tidak menentu, Typo, Bahasa tidak baku, Etc.

Pairing : Coming Soon

.

Summary : Naruto seorang siswa biasa terjebak bersama teman-temannya di dalam sebuah permainan yang dimulai oleh makhluk yang tidak diketahui asal-usulnya. Mampukah Naruto dan teman-temannya bertahan? Atau permainan ini adalah akhir dunia?

.

.

.

Chapter 28 : [Sebuah Tekad]

.

"Shino-senpai jangan memaksakan diri" Ujar Matsuri

"Tidak perlu khawatir kepadaku Matsuri. Kita harus bergegas untuk mencari rekan kita, justru aku merasa tidak enak telah merepotkan kalian" Balas Shino dengan nada sendu di akhir kalimat

"Berhenti berbicara seperti itu. Baik aku maupun Matsuri sama sekali tidak keberatan"

Gaara sedikit meremas pergelangan tangan Shino mencoba menyalurkan semangat kepada temannya ini. Baik Gaara maupun Matsuri secara bergantian membantu Shino agar tidak menabrak saat berjalan dengan cara menuntunnya. Shino sendiri menyadari bahwa kedua bola matanya telah rusak akibat luka yang diterimanya. Meskipun begitu, teman-teman yang selalu memberinya semangat membuat Shino sangat bersyukur.

"Gaara-senpai, kau dengar?" Pertanyaan Matsuri membuat pria bersurai merah tersebut menajamkan pendengarannya

"Ada seseorang yang menangis" Justru Shino yang menjawab pertanyaan Matsuri, sepertinya kehilangan penglihatan telah menguatkan 4 indera lain yang masih dimiliknya

Selepas ucapan Shino, mereka bertiga mempercepat langkah untuk menuju sumber suara. Saat mendekati tujuan mereka Matsuri sontak berlari dan menghambur ke arah orang yang sedang menangis.

"Sara-senpai!" Teriak Matsuri

Sara yang mendengar suara yang familiar ditelinganya lekas menoleh. Air mata semakin deras mengalir saat melihat ketiga rekannya berhasil selamat dan menemukan dirinya. Dirinya tidak menolak saat Matsuri yang juga berlinangan air mata memeluk dirinya.

"Ka-kalian semua, Karin dia..." Sara semakin terisak di pelukan Matsuri

"Kami paham Sara, ini semua bukan salahmu. Kita harus tetap hidup dan berjuang demi Karin" Gaara berucap bijak untuk menenangkan hati Sara

Sara mengangguk pelan sebagai respon atas ucapan Gaara. Mereka berempat menatap sendu dan haru kearah jasad Karin. Meskipun masih dirundung duka, berdiam diri bukanlah pilihan. Oleh karena itu, bersama dengan Sara, mereka semua melanjutkan perjalanan untuk mencari rekan yang lain serta tempat berlindung yang aman.

"Nii-san...hiks...hiks" Hinata masih menangis didepan gundukan tanah yang menjadi tempat bersemayam seorang Hyuga Neji

Lee ikut menangis meskipun tidak terisak seperti Hinata. Sebagai laki-laki dia harus kuat dan mencontoh guru Gai. Sementara Hinata masih mengingat dengan jelas setelah ledakan yang membuat mereka terpencara Neji menjadi hilang kesadaran. Tubuh Neji yang semakin dingin dan akhirnya menghirup nafas terakhir akibat pendarahan yang tidak kunjung berhenti.

Setelah itu, dalam rasa kehilangan yang masih besar Lee menguburkan Neji dengan cara menggali tanah menggunakan serpihan batu bangunan ataupun alat lain yang bisa dipakai. Arus keringat yang membanjiri tubuh pria itu seakan tidak ada apa-apanya dibanding air mata yang keluar karena rasa kehilangan.

Di sisi lain, Madara telah berada di bekas pertarungan Sasuke dan Shisui. Teleportasi yang dilakukan membuat dirinya kini telah berada di samping jasad Shisui dan tubuh Sasuke. Pria itu masih memasang ekspresi dingin dan angkuh khas klan Uchiha. Meski tangannya telah mengambil bola mata Shisui dan mencangkokkannya ke mata Sasuke yang mengalami kebutaan, ekspresi pria itu masih tetap sama.

"Dia masih pingsan setelah kucangkokkan matanya. Dia terlalu berlebihan saat memakai Sharingan untuk pertama kali" Gumam Madara

Merasa tidak mempunyai cara lain, Madara memilih menunggu Sasuke sadar dari pingsannya. Lagipula dirinya bukanlah pria yang bertindak secara terburu-buru tanpa pertimbangan. Sambil mengisi waktu dirinya berteleportasi ke tempat lain sembari membopong tubuh Sasuke di pundaknya.

"Kenapa kau tidak segera menemuiku, Obito?" Pertanyaan terlontar dari mulut Madara saat melihat tubuh renta milik Obito yang sedang duduk santai di pinggir jalan

"Kurasa kau sudah mengerti Madara-sama" Obito sedikit melirik saat Madara membaringkan tubuh Sasuke di permukaan tanah

"Aku turut prihatin dengan nasib malangmu" Madara memberikan ekspresi datar, sangat jauh berbanding terbalik dengan yang dikatakan olehnya

"Bukan itu" Ucapan Obito membuat Madara sedikit menaikkan alis

"Aku ingin kekuatan Jubi"

Obito segera menggeser tubuhnya sehingga Madara dapat melihat sebuah boneka menyeramkan dengan satu mata dan sepuluh ekor. Boneka yang muncul saat sembilan biju berhasil dipersatukan dan menjadi puncak untuk menyelesaikan tahap Izanagi. Tahap Izanami yang baru saja selesai sendiri baru bisa berakhir saat salah satu ksatria mengalami kematian.

Sayangnya, akibat ksatria hitam justru dibunuh oleh orang lain sehingga batas antara Izanami dan Mugen Tsukoyomi menjadi hancur.

"Terserah kau saja, yang penting Mugen Tsukoyomi dapat terwujud"

Jawaban Madara sedikit membuat Obito terkejut, awalnya dirinya berfikir bahwa Madara akan menolak keinginannya. Tanpa menunggu lebih lama dan berjaga-jaga jika Madara berubah fikiran, Obito segera meletakkan tangannya di boneka Jubi dan seketika benda itu menghilang. Obito yang telah menyerap kekuatan Jubi mulai merasakan perubahan dalam dirinya. Perlahan-lahan tubuh nya kembali muda dan warna kulitnya menjadi abu-abu. Rambut putih berubannya kini cenderung menjadi keperakan, lengkap dengan sebuah tongkat hitam dengan ujung berbentuk lingkaran dan beberapa ring kecil di genggamannya. Obito telah berhasil menyerap dan mengendalikan kekuatan Jubi.

"Kita selesaikan permainan ini"

Bersamaan dengan itu Madara telah mengeluarkan perfect Susano'o miliknya. Sementara Obito telah memanggil raksasa berekor sepuluh. Madara berada di kepala perfect Susano'o nya bersama dengan Sasuke yang masih pingsan sementara Obito berada di atas kepala Jubi. Mereka berdua segera bersiap untuk menjalankan rencana puncak yang telah mereka persiapkan selama bertahun-tahun.

WUSHHHH

Shion menyilangkan kedua lengannya sejajar dengan kepala untuk menghalau debu dari kedua matanya. Surai pirang pucatnya menjadi kotor dan kusut akibat hembusan angin yang tercipta sesaat setelah Obito memanggil Jubi. Dengan wajah pucat dan kusam, Shion hanya bisa terduduk lesu.

'Sudah berakhir' Ucap Shion dalam hati

Melihat kondisi dimana Obito telah berhasil menyatukan semua biju dan fakta dimana Madara berhasil masuk ke area pertarungan membuat mimpi buruk Shion menjadi kenyataan. Dalam kondisi seperti ini kesempatan untuk menghentikan Mugen Tsukoyomi telah pupus. Satu-satunya kesempatan ialah...

"Sasuke"

Mata Shion melirik cepat ke arah pemuda Uchiha yang tengah terbaring lemas di atas kepala Susano'o Madara. Sudah Shion duga bahwa Madara tidak akan membunuh ksatria miliknya. Leluhur Uchiha itu pasti lebih memilih opsi untuk memanipulasi Sasuke. Demi keberlangsungan dunia Shion tidak boleh membiarkan hal itu terjadi.

"Aku harus mencari yang lain"

Dalam sekejap Shion telah berlari dengan kencang untuk mencari rekan-rekannya. Dirinya sempat bersyukur terlempar tidak terlalu jauh dari posisi dimana Sasuke dan Obito bertarung. Sementara itu, Madara dan Obito mencoba menyisir wilayah Konoha Gakuen untuk mencari keberadaan para manusia yang berpotensi menghalangi rencana manusia.

FLASHBACK ON

Tangisan senantiasa menemani langkah kaki Shion yang hendak pulang menuju apartemen miliknya. Perkelahian antara Naruto dan Sasuke cukup berdampak bagi psikologisnya. Air mata yang masih mengalir di pipi putihnya bukan disebabkan oleh penolakan Naruto ataupun rusaknya jalinan persahabatan. Hal yang membuat Shion menjadi terluka ialah kenyataan dimana pengorbanannya menjalani ritual terlarang supaya Naruto tetap dapat kembali hidup. Tetapi justru keberhasilannya lolos dari Izanagi membuat pria itu menjadi menderita dalam hidupnya.

"Enghh, ke-kepalaku"

Rasa pusing mendadak menyerang kepala Shion, gadis itu sampai harus berjongkok akibat tidak kuasa menahan rasa sakit. Hal ini sebenarnya terus terjadi semenjak dirinya berhasil lolos dari Izanagi. Dugaan awal Shion mengatakan bahwa Izanagi berhubungan dengan rasa sakit yang menyerang kepalanya belakangan ini. Segala hipotesa itu memperburuk kondisi Shion sehingga pandangannya menggelap

"Di-dimana aku" Shion bernada dengan nada heran saat dirinya tiba-tiba terbangun di dalam suatu dimensi serba hitam

"Masih ingat kepadaku" Suara bariton yang mendadak terdengar membuat Shion membelalakkan mata

"Madara!!" Seketika gadis itu menoleh ke asal suara, disana ia melihat seorang pria yang tengah berdiri angkuh dengan senyum sombong andalannya

"Sudah kubilang, sebelum menyelesaikan Izanagi. Kau tidak akan lolos dariku"

Shion meneguk ludah kasar, sungguh pria ini telah meninggalkan rasa trauma yang mendalam pada dirinya. Segala teror dan permainan mematikan yang ia alami di tahap Izanagi adalah tanggung jawab dari Madara selaku pelaku. Masih dengan tubuh menggigil ketakutan, ruangan dimensi tempat Shion berada mendadak berubah kondisi menjadi serba putih. Bersamaan dengan itu sesosok wanita dengan surai putih mendadak muncul di depannya. Posisi wanita itu yang membelakangi Shion membuat gadis bersurai pucat itu hanya bisa melihat punggung dari sosok yang tiba-tiba saja muncul. Akan tetapi, Shion tetap dapat merasakan aura agung yang terpancar dari wanita di hadapannya.

"Kaguya Otsutsuki" Gumam Madara

Kaguya hanya menatap datar dan berbalik badan sehingga kini matanya dapat melihat Shion yang tengah menunduk ketakutan.

"Mulai saat ini, ia milikku" Ujar Kaguya masih membelakangi Madara

"Izanami lagi? Kau sudah tahu konsekuensinya jika mengambil gadis itu sebagai ksatriamu saat ini. Seluruh dunia akan berada di dalam tahap Izanagi akibat kau merekrut ksatria tanpa melewati prosedur ritual yang tepat" Madara mencoba memprovokasi wanita dihadapannya, lagipula firasatnya mengatakan bahwa membiarkan Shion hidup hanya akan membawa kerugian baginya

Kaguya sendiri tidak menghiraukan ocehan Madara dan lebih memilih menunduk hingga kepalanya dapat sejajar dengan wajah Shion. Shion yang menyadari sosok didepannya bergerak reflek mendongakkan kepala dan melihat Kaguya yang menatap teduh ke arahnya. Tangan pucat wanita itu mendarat di atas punggung tangan Shion dan seketika mereka berdua berteleportasi meninggalkan Madara yang hanya bisa tersenyum licik. Kejadian selanjutnya berlalu begitu cepat bagi Shion. Tidak terlalu sulit baginya mencerna penjelasan Kaguya tentang siapa sebenarnya dirinya, hubungan antara Kaguya, Madara dan permainan ini, dan lain-lain. Shion juga mengerti dan melihat secara langsung melalui layar proyeksi permainan saat Madara membuat klon palsu untuk menggantikan dirinya yang pada akhirnya direkayasa untuk bunuh diri.

Shion sedikit merasa bersalah saat mengetahui bahwa kini seluruh dunia berada di tahap Izanagi tanpa mereka sadari akibat dirinya. Shion juga merasa kecewa saat Naruto tidur bersama Sakura meskipun hal itu merupakan ketidak-sengajaan dan juga kedekatan antara Naruto dan Hinata yang membuatnya cemburu. Shion seketika merasa bahwa Naruto akan lebih baik tidak bersama dengannya. Akhirnya perlahan tapi pasti dirinya mulai memantapkan hati untuk mengikhlaskan Naruto pada Hinata. Lalu, hari yang ditakutkan Shion akhirnya tiba. Kaguya telah mengatakan kepadanya bahwa Madara akan membuat sebuah skenario dimana Mugen Tsukoyomi dapat terwujud. Terlebih waktu yang dimiliki pria itu cukup banyak. Hal yang tidak Shion sangka ialah Madara membiarkan teman-temannya hidup dari tragedi massal yang menewaskan seluruh penduduk dunia. Gadis itu memiliki firasat yang kurang mengenakkan tentang kebetulan yang terjadi, terlebih seiring berjalannya waktu orang-orang yang dikenalnya kehilangan nyawa dengan cara yang mengenaskan.

"Tenangkan dirimu Shion" Kaguya mencoba memberi pengertian kepada gadis didepannya

"Bagaimana aku bisa tenang? Teman-temanku dibantai di luar sana!" Bentak Shion sesaat setelah kematian Ten-ten

"Baiklah aku akan mencoba sesuatu"

Janji Kaguya terbukti benar saat akhirnya ia turut terjun ke dalam permainan yang menjadi tanda bahwa alur telah berganti menjadi Izanami. Shion bertekad dalam hati bahwa ia tidak.akan membiarkan teman-temannya mati. Meskipun pada awal kemunculannya mendapat pertentangan tapi Shion yakin bahwa dirinya akan mendapat dukungan dari rekan-rekannya kembali.

Shion merasa lega saat dirinya mengatakan kepada Hinata bahwa ia telah ikhlas melepaskan Naruto. Dengan suasana hati yang bahagia akibat telah lepas dari beban berat Shion mencoba menata kembali hatinya untuk menganggap Naruto hanyalah sekedar sahabat. Namun, takdir justru mengkhianati dirinya. Rahasia yang dirinya simpan terkait alasan Shion dan Sasuke melakukan Izanagi entah bagaimana diketahui oleh Naruto. Akibat hal itu Naruto menjadi protektif kepadanya dan membuat hati Shion menjadi tak menentu. Akhirnya gadis itu kembali terjatuh ke dalam lubang yang sama. Dirinya kembali jatuh cinta kepada Uzumaki Naruto,

Shion merasa tercubit dihatinya karena merasa telah membohongi Hinata. Namun, gadis Hyuga itu justru memberikan senyum tulus kepada Shion. Satu hal yang disadari oleh Shion ialah bahwa Hinata tidak ingin memenangkan hati Naruto dikarenakan gadis bersurai pirang pucat itu menyerah. Pada akhirnya siapapun yang dipilih oleh Naruto, pihak yang tidak dipilih akan mendoakan yang terbaik bagi pria yang mereka cintai.

Masalah tentang hati yang telah terselesaikan membuat Shion kembali bersyukur. Sayangnya hal itu tidak berlangsung lama saat satu per satu teman-temannya kehilangan nyawa di permainan ini. Segala rencana yang Shion rancang hancur berantakan sehingga mendorongnya ke titik putus asa. Rasa putus asa itu mendorongnya untuk menghentikan permainan dengan cara membunuh Naruto kemudian bunuh diri setelah berhasil melakukannya. Untungnya tindakan bodoh itu berhasil dihentikan oleh Sasuke, merasa mendapat harapan baru Shion kembali mencoba meniti asa. Tetapi, saat bertemu dengan Obito dan Shisui dirinya merasa kembali ditampar oleh kenyataan saat menyadari bahwa ksatria Madara bukanlah Naruto tapi Sasuke. Segala rencana dan proyeksi keadaan yang terlintas di dalam kepalanya dengan mudah digagalkan dan dihancurkan berulang kali oleh leluhur Uchiha itu. Oleh karena itu, kini dirinya bertekad untuk mencoba sekali lagi dengan strategi yang berbeda.

FLASHBACK OFF

"Naruto!"

Shion seketika berteriak saat melihat Naruto sedang berlindung dari terjangan angin bersama Sakura. Senyum tipis kembali terpatri di wajahnya yang sudah kusam akibat debu dan tanah.

Dengan nafas yang masih tersengal-sengal dirinya melangkah dan menghampiri Naruto dan Sakura yang memandang ke arahnya.

"Setelah permainan ini berakhir..."

Shion kini telah berada di balik tumpukan bangunan yang digunakan Naruto dan Sakura untuk berlindung. Mata miliknya menatap lurus safir biru Naruto dan mengatakan hal yang ada di pikirannya dengan senyum manis dan nada penuh semangat.

"Ayo menikah"

.

TBC

.

.

.

Author Note's : Halo guys sudah cukup lama kita tidak bertemu. Di akhir pekan ini Elevtron kembali dengan chapter terbaru dari fanfic satu ini. Bisa dibilang ini adalah salah satu flashback yang menjadi foreshadowing dari semua chapter sebelumnya, semua plothole yang masih tersisa coba Elevtron tuntaskan di chapter ini. Apabila oara readers masih merasa terdapat plothole maka kemungkinannya ada 2, yakni Eleveton keep untuk chapter-chapter selanjutnya atau Elevtron aja yang kelupaan wkwkwk. Oh iya, konklusi dari chapter ini bisa dibilang adalah seberapa besar cinta Shion kepada Naruto. Untuk membuktikannya Shion akan mati di chapter depan HAHAHAHAHAHA (ups hanya bercanda...mungkin) well nantikan saja chapter selanjutnya.

Tambahan sedikit, R.I.P Kurama semoga arwahmu tenang disisi-nya

Mohon juga kritik dan sarannya agar fanfic ini dapat lebih baik di kemudian hari.

Hope you enjoy it

Well see u in the next chapter

x

x

x